cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 6 Documents clear
Unsur-Unsur Budaya Lokal dalam Karya Animasi Indonesia Periode Tahun 2014-2018 Andrian Wikayanto; Banung Grahita; Ruly Darmawan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3003

Abstract

Identitas budaya lokal pada suatu negara mempengaruhi bagaimana bentuk dari karya animasi di negara tersebut. Jepang sendiri memiliki 14 kategori budaya dan Malaysia memiliki 13 kategori pada karya animasi mereka. Hal tersebut membuat karya animasi mereka memiliki ciri khas dimata penonton animasi. Di Indonesia sendiri hal tersebut masih belum terpetakan secara mendetail hingga saat ini. Oleh karena itu pada penelitian ini meneliti seperti apa unsur-unsur budaya lokal yang ada pada karya animasi Indonesia. Metode yang digunakan adalah menggunakan analisis isi dengan pendekatan budaya sebagai landasan teorinya. Hasil yang didapatkan adalah 17 katagori budaya termasuk 5 kategori yang tidak ada pada kategori budaya pada animasi Jepang dan Malaysia. 17 kategori tersebut tersebar kedalam 375 bentuk-bentuk identitas budaya yang merepresentasikan ciri khas budaya Indonesia.
Implementasi Animasi 2D pada Iklan Layanan Masyarakat sebagai Sosialisasi Penyakit DBD Ratih Suryani; Herlambang Saputra; Adi Sutrisman
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3330

Abstract

Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu penyakit menular dan berbahaya. Maka dari itu, dengan dibuatnya skripsi tentang Penerapan Animasi 2D pada Iklan Layanan Masyarakat tentang Upaya Pencegahan DBD ini, penulis memiliki tujuan untuk menyadarkan masyarakat Kota Palembang tentang upaya mencegah serta menanggulangi DBD. Pada iklan layanan masyarakat ini, upaya yang akan disosialisasikan dikemas dengan cerita fiktif yang diperankan oleh tokoh karakter 2D sehingga menjadi lebih menarik untuk diketahui. Selain itu juga dilakukan penelitian terhadap keberhasilan iklan layanan masyarakat ini melalui 2 aspek, yaitu aspek daya Tarik iklan yang dinilai oleh para ahli bidang animasi, serta aspek kualitas pesan iklan yang dinilai oleh masyarakat. Pendekatan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan teknik kuesioner. Responden dalam penelitian ini berjumlah 10 orang ahli dan 30 orang masyarakat, yang didapatkan dari penyebaran kuesioner online. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa sikap 10 orang responden ahli mengenai Iklan Layanan Masyarakat ini sebesar 85,6% dan berada di kategori “Sangat Baik” dan sikap 30 orang responden masyarakat umum sebesar 92,8% dan berada di kategori “Sangat Setuju”.
Sinematografi Wayang: Persoalan Transmedia Seni Pertunjukan Tradisional dalam Program Tayangan Televisi Arif Eko Suprihono
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3355

Abstract

ABSTRAKMerujuk pada proses penelitian delapan tahun terakhir, dan melihat hasil kerja Penelitian Hibah Bersaing, Penelitian Produk Terapan, terungkap kompleksitas pengelolaan kegiatan seni pertunjukan tradisional di masyarakat. Berkait erat dengan budaya industri televisi, terbentang peluang sekaligus ancaman serius bagi eksistensi seni tradisi. Hasil  kerja penelitian dalam rencana makro, disarankan urgensi tindakan konstruktif dan sistematis kepada para pekerja seni untuk mengantisipasi benturan kepentingan industri pertelevisian Indonesia dengan pengelolaan seni pertunjukan tradisional. Persoalan cinematography seni  tradisional  membahas proses dialektika kreatif mengarah pada pemikiran, tindakan, dan produk budaya dengan menyadari kerangka perubahan dan penyesuaian kultural. Diyakini, bahwa kesenian tradisi memiliki nilai luhur, kearifan lokal, identitas karakter masyarakat, menunjuk pada kebhinnekaan dan keunggulan, kekhasan suku bangsa Indonesia, berbeda dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Referring to the research process of the last eight years, and looking at the work of the Competitive Grant Research, Applied Product Research, revealed the complexity of managing traditional performing arts activities in the community. Closely related to the culture of the television industry, opportunities and serious threats lie for the existence of traditional arts. The results of research work, suggest the urgency of constructive and systematic action to the arts workers to anticipate the conflicting interests of the Indonesian television with the management of traditional performing arts. The issue of traditional art cinematography refers to the process of creative dialectics leading to thoughts, actions, and cultural products by being aware of cultural change and adjustment frameworks. It is believed, that traditional arts have noble values, local wisdom, the identity of the character of the community, pointing to diversity and excellence, the uniqueness of Indonesian from other nations in the world.
Konsep Fantasi dalam Film Danissa Dyah Oktaviani
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3356

Abstract

Fantasy films were born from the development of fiction films that have shown existence since the beginning of its history. Fantasy films have their own charm because they can penetrate time and space compared to other genres. Fiction films develop from their creators both in terms of story and cinematography because fiction films are at the center of the poles: real and abstract. Its greatest strength lies in its ability to integrate and combine with other genres without exception and can be broadly developed unlimitedly. That is because fantasy films contain elements with different characteristics from other films where if a fantasy film has one element in the making of the film then it has been said to be a fantasy film. The elements or components that are seen are derived from the narrative and cinematic elements of filmmaking which contain ideas of stories, characters, and settings in a film. These three elements are the forming components of fantasy films that are fictitious and imaginative. The idea of the story is not based on an imaginary reality, that is a fiction that makes no sense. In the case of fantasy films, filmmakers will compete to develop and present ideas that have not been thought of before, so the audience seems to be carried away in a new world outside of real life. Character characters in fantasy films are the imagination of creators in fictitious forms, such as: animal characters, extraterrestrials, monsters, robots, and non-physical characters such as ghosts, spirits and holograms. While the background elements in fantasy films have a character setting place and time imaginative events are unique in unknown times or dimensions, can be past, present, and future with the centuries formed by the creators.
Hal-Hal yang Absen dalam Pencatatan Mengenai Film Nasional Tunggul Banjaransari
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.2046

Abstract

ABSTRAKPenulisan narasi besar mengenai Film Nasional lebih sering dilakukan daripada penulisan narasi kecil mengenai film-film di Indonesia. Seperti halnya dilakukan oleh para penulis buku berjudul Merayakan Film Nasional (yang ditulis oleh Adrian Jonathan Pasaribu, Hikmat Darmawan, dan Totot Indrarto). Tujuan yang dilakukan tentunya tidak lagi melihat Film Nasional sebatas teritorial saja, melainkan mendorong pembaca dan pembuat film untuk melepas beban-beban makna Nasional. Hingga mulai merepresentasikan bentuk-bentuk film Pascanasional melalui aspek fungsional dan relasional-nya. Tetapi, jika hanya bergantung pada narasi besar saja, upaya pemaknaan tersebut justru melanggengkan praktik imaji orientalis Barat pada film-film di Indonesia. Oleh karena itu, penulis hendak melengkapi narasi kecil yang tidak muncul pada buku Merayakan Film Nasional. Penulisan narasi kecil tersebut, dilakukan melalui tiga model analisis: 1) proses re-intepretasi mitos pada masyarakat kontemporer dalam film di Indonesia, 2) model re-intepretasi realitas sebagai sebuah aksi protes dan komikal dalam film di Indonesia, dan 3) unsur-unsur yang mendorong terjadinya hibrida teks pada film terkini, sebagai upaya mengubah wajah film di Indonesia yang lebih beragam. ABSTRACTThe writings on national Film historical in Indonesia has been going more often than the ones discussing those works on the periphery. The book titled Merayakan Film Nasional, written by Adrian Jonathan Pasaribu, Hikmat Darmawan, and Totot Indrarto, remains to focus on the first category. Instead of aim to look at Indonesia National Film based on the territory, the book encourages the readers and Indonesian filmmakers to disengage from the burden of “National”. Additonally, the book also attempts to represent the Post-Colonial Films thorugh its function and relations aspects. Nevertheless, it is problematic when the access for National Film references only open for the big ones since its limits the interpretation and perpetuates the practice of orientalism perspective on Indonesian films.In This case, I will try to complete the periphery side which didn’t exist on Merayakan Film Nasional. There are 3 methods to analyzing National Film into the periphery aspects: 1) Re-intepretation the myth of contemporary society which framed on Indonesia Film. 2) The reality-model as the based to combining between protest and comical form in Indonesian film. 3) The elements that make hybrid-text happen in contemporary film, as the way to changes the image of Indonesian film.
Perancangan Web Series Film Dokumenter sebagai Media Revitalisasi Kopi Jawa di Ngawonggo, Kaliangkrik, Magelang, Jawa Tengah Widhi Nugroho; I Putu Suhada; Latief Rakhman Hakim; Pius Rino Pungkiawan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 15, No 2 (2019): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v15i2.3577

Abstract

ABSTRAKRevitalisasi adalah proses, cara, perbuatan menghidupkan atau menggiatkan kembali. Dalam konteks ini, revitalisasi pertanian mengandung arti sebagai kesadaran untuk menempatkan kembali arti penting sektor pertanian secara proporsional dan kontekstual, dalam arti menyegarkan kembali vitalitas, memberdayakan kemampuan dan meningkatkan kinerja pertanian dalam pembangunan dengan tanpa mengabaikan sektor lainnya. Pemerintah mewujudkan hal ini dengan mendorong sektor pertanian kopi sebagai salah satu penguat daya saing Indonesia di pasar internasional. Berbicara kopi di Indonesia tidak akan pernah bisa lepas dari sejarah kopi di Jawa. Kopi Jawa (java coffee) yang kemudian sering disebut ini merupakan salah satu cikal bakal dikenalnya Indonesia sebagai salah satu negara terbesar penghasil kopi di dunia. Berdasar uraian tersebut, web series dipilih sebagai media ungkap dalam upaya peran serta memajukan para petani kopi menuju kemandirian serta kedaulatan ekonomi menuju desa berdaya melalui potensi masyarakat desa. Metode deskriptif kualitatif digunakan dalam perancangan web series ini. Hal ini dilakukan guna mendapatkan data-data penting secara substantif dalam penyusunan unsur naratif (cerita) berkenaan dengan Kopi Kaliangkrik di Desa Ngawonggo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Perancangan web series ini bertujuan mewujudkan film dokumenter sebagai salah satu media revitalisasi kopi, terutama kopi jawa. Hasil yang dicapai dalam perancangan web series ini adalah peran serta media sebagai salah satu sarana dalam upaya peningkatan nilai tambah (creating value add) produk pertanian kopi di Indonesia.    Revitalization is the process, method, act of reviving or activating it. In this context, agricultural revitalization implies awareness to place proportional and contextual importance in the agricultural sector, in the sense of refreshing vitality, empowering capabilities and improving agricultural performance in development without ignoring other sectors. The government makes this happen by encouraging the coffee agriculture sector as one of the strengthens of Indonesia's competitiveness in the international market. Talking about coffee in Indonesia can never be separated from the history of coffee in Java. Java coffee (java coffee) which is then often referred to is one of the forerunners of the recognition of Indonesia as one of the largest coffee producing countries in the world. Based on this description, the web series was chosen as a media to express in an effort to participate in advancing coffee farmers towards independence and economic sovereignty towards empowered villages through the potential of rural communities. Qualitative descriptive methods are used in designing this web series. This was done in order to obtain important data substantively in the compilation of narrative elements (stories) regarding Kaliangkrik Coffee in Ngawonggo Village, Kaliangkrik District, Magelang Regency, Central Java Province. The web series design aims to realize documentary films as one of the coffee revitalization media, especially Java coffee. The results achieved in the design of this web series are the role of the media as one of the means in an effort to increase the added value (creating value add) of coffee agricultural products in Indonesia.

Page 1 of 1 | Total Record : 6