cover
Contact Name
yosa fiandra
Contact Email
pichaq@telkomuniversity.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalrekam@gmail.com
Editorial Address
Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jalan Parangtritis Km 6,5 Sewon, Bantul, Yogyakarta Tlp. (62) 0274 384107, HP (62) 089649387947 Email: jurnalrekam@gmail.com
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Rekam : Jurnal, Fotografi, Televisi Animasi
ISSN : 18583997     EISSN : 27453901     DOI : 10.24821
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi is a scientific journal published by the Asosiasi Dosen Seni Media Rekam Indonesia in collaboration with the Fakultas Seni Media Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta. This journal contains articles on research results, conceptual ideas (results of thought), creation, and the results of community service in the fields of photography, television, and animation.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi" : 8 Documents clear
Film Dokumenter Potret Rhythm of Saman Pius Rino Pungkiawan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.4886

Abstract

Film dokumenter potret Rhythm of Saman ini bercerita tentang Joel Tampeng yang mencoba kembali pada kebudayaan asalnya, yaitu Saman, setelah lama merantau di Yogyakarta sebagai seorang musisi rock. Hal ini bermula dari keprihatinannya terhadap Saman yang menjadi warisan budaya tak benda yang memerlukan perlindungan mendesak (UNESCO). Warisan budaya tak benda bisa disebut dengan intangible cultural heritage, bersifat tak dapat dipegang seperti musik dan tari. Joel Tampeng membentuk komunitas Gayagayo di Yogyakarta bersama para mahasiswa dari Gayo dan mencoba untuk menggabungkan musik rock dan seni tradisi Saman yang kemudian menghasilkan komposisi Rhythm of Saman dengan misi mengenalkan kembali Saman. Metode penciptaan film dokumenter Rhythm of Saman yang digunakan adalah riset dan pengembangan, praproduksi, produksi, dan pascaproduksi yang kemudian didistribusikan melalui Youtube. Bentuk dan tema dokumenter ini bisa menjadi inspirasi bagi filmaker dan masyarakat yang lebih luas. This portrait documentary tells the story of Joel Tampeng who tries to return to his original culture, namely Saman, after a long time wandering in Yogyakarta as a rock musician. It is all initiated by his concern for Saman which is an intangible cultural heritage that requires urgent protection (UNESCO). Intangible cultural heritage can be called intangible cultural heritage because we cannot touch it , such as music, dance and so on. Joel Tampeng formed the Gayagayo community in Yogyakarta with students from Gayo and tried to combine rock music and traditional Saman art to produce the composition of Rhythm of Saman with the mission of reintroducing Saman. The method used to create the documentary film "Rhythm of Saman” was a research and its development, pre-production, production and post-production which was then distributed via Youtube. The form and theme of this documentary can be an inspiration for filmmakers and the wider community.
Analisis Wacana Kritis Sara Mills tentang Stereotipe Terhadap Perempuan dengan Profesi Ibu Rumah Tangga dalam Film Rumput Tetangga Nadia Novianti; Dahniar Th Musa; Diaz Restu Darmawan
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6893

Abstract

Film adalah media komunikasi massa yang mampu mempresentasikan dan mengonstruksi realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Film dapat menampilkan potret kenyataan dalam bentuk simbolik yang mempunyai makna, pesan, dan nilai estetikanya. Tujuan dari tulisan ini adalah mendeskripsikan status dan peran perempuan yang memilih profesi ibu rumah tangga melalui analisis tokoh perempuan yang ditampilkan dalam film Rumput Tetangga serta resepsi penonton terhadap film. Penyusunan tulisan ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan menggunakan pisau analisis wacana kritis Sara Mills.  Untuk metode pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan wawancara bersama informan sebagai validasi data. Dengan menganalisis setiap scene yang ada dalam film, tulisan ini menunjukkan bahwa masih terdapat ketimpangan sosial dan pandangan terhadap peran ibu rumah tangga baik dari budaya patriarki maupun dari sesama kaum perempuan. Film Rumput Tetangga adalah cerminan realita saat ini dan dialami oleh para perempuan di lingkungan kehidupannya. Ternyata yang lebih sering memberikan stereotipe buruk kepada peran ibu rumah tangga adalah para perempuan. Hal ini menunjukan bahwa pelaku ketidakadilan gender tidak terjadi di antara dua gender yang berbeda, tetapi dapat terjadi di sesama gender.
Roro Jonggrang: Animation of Folklore for National Cultural Education Media Nurlaila Nurlaila
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6699

Abstract

Penelitian ini berawal dari keprihatinan penulis akan tontonan anak-anak pada masa kini.  Seiring berjalannya waktu mereka mengonsumsi tontonan edukasi yang semakin sedikit.  Dengan ragam tontonan tersebut, anak-anak kini mulai melupakan kebudayaan mereka, dongeng.  Dongeng merupakan salah satu kekayaan budaya dan historis dari bangsa Indonesia.  Sebagai sebuah media hiburan, seharusnya tersematkan sebuah pesan Pendidikan moral yang dapat disampaikan kepada generasi mendatang dari negeri ini. Penelitian ini bertujuan untuk menciptakan media pendidikan budaya dengan menggunakan dongeng berupa film animasi untuk menarik lebih banyak perhatian anak-anak.  Penyajian dongeng melalui film animasi adalah media yang paling disukai anak-anak sehingga penyampaiannya akan lebih mudah untuk diterima.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan sejarah yang menggunakan kejadian masa lampau sebagai sumber data dengan berlatar belakang Jawa pada abad ke-9.  Untuk bagian desainnya, animasi yang dimaksud dalam hal ini adalah dalam bentuk film animasi  2-D dengan menggunakan Bahasa setempat, yaitu Bahasa Jawa.  This research was initiated by the author’s concern for the spectacle of children today. At times, they watch fewer educational shows.  With all these spectacles, today‘s children have also begun to forget their own culture, folklore. Folklore is one of the cultural and historical treasures of the Indonesian nation. As an entertainment medium, there should be a moral education message that can be delivered to the next generation of this nation. This research aims to create a cultural education media using folklore with animated films to attract more attention from children. The form of presenting folklore through animated films is a medium favored by children so that the delivery is more readily accepted. The method used in this research is a historical approach that uses past events as a source of data by taking the background in Java in the 9th-century era. For the design, this animation is in the form of a 2D animated film using the local language, namely Javanese.
Analisis Manajemen Risiko Subsektor Fotografi dalam Konteks Pandemi Covid-19: Studi Kasus di Eternity Studio Rizqa Sari Yulia; Sugeng Santoso; Hendra Soemanto; Wahyu Kurniawan; Iqbal Zega
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6185

Abstract

Ekonomi dunia belakangan ini mengalami depresi akibat pandemi Covid-19. Hal ini berdampak sangat signifikan di beberapa sektor di antaranya sektor ekonomi kreatif, yang merupakan sektor penunjang ekonomi. Di subsektor fotografi, adanya berbagai kebijakan penguncian wilayah negara atau lockdown dan pembatasan aktivitas sosial menyebabkan munculnya rintangan baru dan terputusnya mata rantai industri. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan metode FMEA dan pendekatan kualitatif dengan informan kunci Owner Eternity Studio. FMEA merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan mengukur semua potensi kegagalan yang mungkin terjadi dalam sebuah proses. Pendekatan kuantitatif dengan metode FMEA ditambah dengan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara informan kunci digunakan untuk menelaah lebih lanjut mengenai dampak pandemi terhadap bisnis fotografi, yaitu di Eternity Studio serta memberikan strategi manajemen risiko untuk menanggapi rintangan pada pandemi ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melalui proses identifikasi, pengukuran, dan desain mitigasi risiko, risiko penularan Covid-19 dapat diminimalisasi di lingkungan kerja padat karya seperti studio fotografi.
Mood Cues dalam Film Kartini: Hubungan antara Pergerakan Kamera dan Emosi Dyah Ayu Wiwid Sintowoko
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.5898

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mood cues dalam film Kartini dengan menggunakan pendekatan teori film, pergerakan kamera, dan mood setting. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif analitis dengan pendekatan studi literatur film. Studi literatur film berupa teori teknik sinematik khususnya pergerakan kamera, yaitu long tracking shot, overhead long shot, dan zoom in yang mendominasi film ini. Hasil penelitian menunjukkan empat poin utama. Pertama, teknik pengambilan gambar long tracking shot tampak kurang menunjukkan mood cues empathy kepada penonton karena kurangnya detail ekspresi wajah tokoh utama. Hal ini menyebabkan kurangnya ambivalen pada adegan terjebaknya Kartini pada aturan Jawa yang masih mendeskreditkan posisi perempuan lebih rendah daripada laki-laki. Kedua, mood setting film Kartini tampak diciptakan dengan gabungan unsur mise-en-scene termasuk kostum, properti, set, colour, dan kombinasi musik etnis dengan setting tahun 1800-an. Ketiga, overhead long shot dengan kemiringan 90° tampak menunjukkan kesan “kebenaran”, “harapan”, sekaligus emosi yang kompleks. Keempat, zoom in tampak menunjukkan empathy kepada penonton yang didukung dengan slow motion. Narasi penolakan dan camera movement menunjukkan emosi Kartini terhadap hak perempuan. Keempat teknik tersebut mendukung ambivalen emosi yang kompleks dan menunjukkan metafora emansipasi perempuan.
Pengembangan Kreativitas dalam Berkarya Seni Rupa Melalui Teknologi Digital pada Masa Pandemi Covid-19 Oco - Santoso; Nuning Damayanti; Tisna Sanjaya; Bambang Sugiharto
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6126

Abstract

Situasi pandemi dapat disikapi sebagai salah satu tantangan untuk pengembangan kreativitas sehingga aktivitas berkesenian tetap bisa berjalan dengan baik. Salah satu di antaranya adalah dengan penerapan teknologi digital dalam berkarya seni rupa seperti yang ditunjukkan dalam pameran seni rupa yang bertajuk “Light Weekend”. Kegiatan pameran yang diselenggarakan pada saat pandemi Covid-19 ini menjadi tantangan tersendiri untuk mengembangkan kreativitas melalui penerapan teknologi digital sesuai dengan gagasan dari setiap peserta. Penerapan teknologi digital dalam berkarya seni rupa tentu tidak hanya persoalan teknik penciptaan, tetapi juga sangat berkaitan dengan problem estetika dan kompleksitas digitalisasi itu sendiri. Penulis menggunakan metode etnografi yang fokus pada kajian terhadap pengalaman proses berkarya seni rupa dalam bentuk wawancara terhadap peserta pameran guna menelusuri relasi antara potensi teknologi digital dan problem estetika yang ditawarkan. Melalui pendekatan semiotika, ditelusuri relasi antara potensi teknologi digital dengan problem estetika yang ditawarkan. Dengan demikian, kekayaan unsur estetik yang tercipta melalui teknologi digital dapat menjadi salah satu alternatif bentuk kreativitas yang dikembangkan pascapandemi Covid-19.  During the COVID-19 pandemic, activities in various fields are still being strived to continue with work patterns and governance adapted to the pandemic situation. In the field of fine arts, the pandemic situation can be considered as one of the challenges for the development of creativity so that artistic activities can still run well. One of them is the application of digital technology in creating visual art as shown in the art exhibition entitled "Light Weekend" The exhibition, which was held during the COVID-19 pandemic, was a challenge in itself to develop creativity through the application of digital technology following the ideas of each participant. The application of digital technology in creating fine art is certainly not only a matter of creation technique but is also closely related to aesthetic problems and the complexity of digitalization itself. Through an ethnographic approach, some of the works in this exhibition are exploring how the uniqueness of artistic experience and the relationship between the potential of digital technology and the aesthetic problems offered. Thus, the wealth of aesthetic elements created through digital technology can be an alternative form of creativity developed after the COVID-19 pandemic.
Realisme Magis Imaji ke Imajinasi Visual Fotografi Edial Rusli
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.6904

Abstract

 Berbagai imaji dan imajinasi yang dialami secara pribadi adalah inspirasi yang terasa familiar dan mudah diselami dalam melahirkan suatu proses ide yang kreatif, yang dalam hal ini adalah menciptakan karya seni fotografi yang estetis.  Berawal dari pengalaman pribadi yang kala itu tumbuh di tengah kaum urban di pusat niaga Kota Yogyakarta, yaitu kawasan Malioboro dan kebetulan pada masa dewasa lalu berkecimpung di dunia fotografi, muncullah inspirasi untuk menciptakan karya fotografi seni tentang Malioboro. Tujuan dari artikel ini adalah untuk memaparkan bagaimana proses kreatif dalam menciptakan karya fotografi, yang pada akhirnya akan memberikan konstruksi makna yang baru terhadap visual fotografis.  Karya fotografi yang secara umum diakui keotentikan realitasnya, terkadang justru melebihi realitas itu sendiri.  Sebagai kerangka teoretis, realisme magis dapat melampaui dan bahkan melepaskan diri dari realitas yang ada sehingga membuka ruang pluralitas yang luas. Metode observasi, eksplorasi, dan eksperimentasi dipadukan dengan teknik digital imaging berupa visual kolase dan montase menjadikan karya fotografi tentang kawasan Malioboro bernilai seni dan estetis. Penciptaan karya ini tidak sekadar membahas tentang tataran teknis yang membentuknya, akan tetapi lebih tentang estetika dan rekonstruksi makna yang kemudian muncul. Dengan menggunakan pendekatan realisme magis dalam membuat konsep karya fotografi, hadirlah karya foto seni yang representatif dan estetis dalam menggambarkan pluralitas yang ambigu dalam keseharian di kawasan Malioboro. Various images and imaginations that are personally experienced is an inspiration that feels familiar and easy to explore in incubating a creative process of ideas, which in this case is to create aesthetic photographic artwork.  Starting from personal experiences that was raised in the middle of urban community in the commercial center of Yogyakarta, namely Malioboro area, and later when growing up happened to be engaged in the field of photography, triggered an inspiration to create art photography about Malioboro. The purpose of this article is to describe how the creative process of creating photographic works will eventually give the construction of new meaning to photographic visuals.  Photography works that are generally recognized for their authenticity of reality, sometimes even exceed reality itself. As a theoretical framework, magical realism can transcend and even break away from existing realities, thus opening up a vast space of plurality.  The methods applied were observation, exploration, and experimentation combined with digital imaging techniques in the form of visual collages and montages, in order to make photographic works about Malioboro area become valuably artistic and aesthetics. The creation of this photography work no longer speaks of the technical state that shaped it, but rather about the aesthetics and reconstruction of the meaning that exists in it.  By using magical realism as the approach in conceptualizing the photographic works, there is a representative and aesthetic work of art in describing ambiguous plurality in everyday life in Malioboro area.
Representasi Terorisme dalam Dua Adegan Film Dilan 1990 dengan Analisis Semiotika John Fiske Rizca Haqqu; Twin Agus Pramonojati
Rekam: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi Vol 18, No 1 (2022): REKAM: Jurnal Fotografi, Televisi, Animasi
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/rekam.v18i1.4762

Abstract

Dilan 1990 merupakan film yang diangkat dari novel bertajuk Dilan: Dia adalah Dilanku 1990. Film tersebut bergenre romantis yang menjadi salah satu film fenomenal tahun 2018. Di balik kepopuleran film Dilan 1990, ternyata hal ini memunculkan polemik pada warga terkait adegan kekerasan dalam film. Salah satu wujud kekerasan yang ditampilkan adalah dalam bentuk aksi teror yang dilakukan oleh geng motor. Riset ini bertujuan untuk mengenali bagaimana bentuk-bentuk aksi teror yang ada dalam film Dilan 1990 dan hubungannya dengan definisi terorisme yang ada. Guna menggapai tujuan riset ini, penulis memakai pendekatan kualitatif dengan analisis semiotika John Fiske bersumber pada tiga tingkatan, yakni tingkatan realitas, tingkatan representasi, dan tingkatan ideologi. Hasil riset menampilkan bahwa ada dua adegan dalam film Dilan 1990 yang dikategorikan sebagai adegan teror. Ciri pada tataran realitas ditunjukkan lewat kode penampilan, kostum, lingkungan, perilaku, cara berbicara, dan ekspresi. Pada tataran representasi ditunjukkan melalui kode kamera, musik, revisi, suara, narasi, kepribadian, aksi, dan konflik. Sementara itu, pada tataran ideologis, adegan teror dalam film Dilan 1990 merepresentasikan terorisme. Dilan 1990 is a film based on a novel titled Dilan: Dia adalah Dilanku 1990.  The genre of the film is romantic and it became one of the phenomenal films in 2018. Behind the popularity of Dilan 1990 film, there was a polemic in the community regarding the violence scenes in the film.  One of violence scenes is an act of terror by a motorcycle gang.  This research aims to identify how the forms of the terror act in the film Dilan 1990 are related to the existing definition of terrorism. To achieve the objectives of this research, a qualitative approach was used along with John Fiske's semiotic analysis based on three levels, namely the level of reality, the level of representation, and the level of ideology. The results of the research showed that there are two scenes in the Dilan 1990 film which are categorized as terror scenes. Characteristics at the level of reality are shown through the code of appearance, costume, environment, behavior, way of speaking, and expression. At the representation level, it is shown through camera code, music, revision, sound, narration, personality, action, and conflict. While at  the ideological level, the terror scene in the 1990 film Dilan represents terrorism.

Page 1 of 1 | Total Record : 8