cover
Contact Name
Aditya Mahatidanar Hidayat
Contact Email
adityamahatidanar@gmail.com
Phone
+6281379843467
Journal Mail Official
tekniksipil@ubl.ac.id
Editorial Address
Jl. Z.A. Pagar Alam No 26, Labuhan Ratu, Bandar Lampung
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal Teknik Sipil
ISSN : 20872860     EISSN : 27456110     DOI : http://dx.doi.org/10.36448/jts.v14i1
Core Subject : Engineering,
Jurnal Teknik Sipil ini memberikan para peneliti dan praktisi di bidang teknik struktural dan sipil dengan forum unik untuk menyebarkan ide dan teknik baru dengan dampak potensial yang signifikan. Jurnal Teknik Sipil mengundang pengajuan makalah asli, empiris, dan teoretis serta studi kasus dan resensi buku yang mencakup berbagai bidang Teknik Sipil yang terdaftar (namun tidak terbatas pada) sebagai berikut: 1. Konstruksi dan Bahan Bangunan 2. Rekayasa Struktur dan Gempa 3. Mekanika Batuan dan Rekayasa Geoteknik 4. Teknik Lingkungan 5. Ilmu dan Teknik Air 6. Rekayasa Transportasi 7. Teknik Kelautan dan Kelautan
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 8, No 1 (2017): April" : 5 Documents clear
Pengaruh Penambahan Kapur dan Lama Waktu Pemeraman Pada Tanah Pasir Berlempung Terhadap Kekuatan Tanah (California Bearing Ratio) Sugito SUGITO
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (480.005 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.927

Abstract

Pada penelitian ini akan dicoba masalah yang dititik beratkan pada pengaruh penambahan kapur pada tanah lempung berpasir serta lama waktu pemeraman sebagai bahan campuran guna meningkatkan stabilitas tanah pada lapisan tanah yang kurang baik. Pada umumnya tanah lempung tidak memenuhi syarat sebagai tanah yang baik, Pada penelitian ini dicoba agar kita dapat mengetahui seberapa besar pasir dan kapur meningkatkan kekuatan tanah tersebut, sehingga nilai CBR nya dapat diketahui. Untuk membuat alternative bahan campuran tanah lempung berpasir yang dapat meningkatkan stabilitas tanah tersebut, yaitu dengan memanfaatkan kapur sebagai bahan pencampur. Dari analisa dan pembahasan terhadap hasil-hasil pengujian maka dapat disimpulkan sebagai berikut: Hasil Pengujian berat jenis, mengalami penurunan dari 2,27 pada kadar prosentase campuran kapur 0% menjadi 2,16 pada kadar prosentase campuran kapur 15%. Dari hasil pengujian pemadatan, nilai kadar air optimum naik dari 8,00 pada kadar prosentase campuran kapur 0% menjadi 11,00 pada kadar prosentase campuran kapur 15%, sedangkan untuk berat isi kering mengalami penurunan pada kadar prosentase campuran kapur 0% dari 1,500 gr/cm3 menjadi 1,380 gr/cm3 pada kadar prosentase campuran kapur 15%. Hasil pengujian CBR, mengalami peningkatan dari 15% pada kadar prosentase campuran kapur 0% menjadi 87% pada kadar prosentase campuran kapur 15% dengan waktu pemeraman 7 hari. Mengalami peningkatan dari 27% pada kadar prosentase campuran kapur 0% menjadi 89% pada kadar prosentase campuran kapur 15% dengan waktu pemeraman 14 hari. Dan mengalami peningkatan dari 30% pada kadar prosentase campuran kapur 0% menjadi 110% pada kadar prosentase campuran kapur 15% dengan waktu pemeraman 28 hari. Dari hasil pemeraman tanah lempung berpasir dengan campuran kapur 0%, 5%, 10%, dan 15%. Kekuatan tanah mengalami peningkatan akibat pengaruh proses pemeraman selama 7 hari, 14 hari, dan 28 hari.
Optimasi Waktu Pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi dengan Metode Jalur Kritis Menggunakan Software Microsoft Project Susilowati SUSILOWATI
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1103.002 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.928

Abstract

Suatu proyek terdiri dari berbagai jenis pekerjaan. Antara satu jenis pekerjaan dengan jenis pekerjaan yang lain mempunyai hubungan yang sangat erat. Jenis-jenis pekerjaan itu akan menunjukkan skala besar atau tidaknya suatu proyek. Makin banyak jenis pekerjaan yang akan dilakukan maka makin besar pula skala dari proyek tersebut, demikian pula sebaliknya. Hubungan antara jenis pekerjaan yang satu dengan jenis pekerjaan yang lain pada proyek yang berskala besar akan sangat kompleks, makin kecil skalanya maka hubungan antara jenis pekerjaan akan makin sederhana. Pada beberapa proyek, seringkah terjadi keterlambatan penyelesaian pekerjaan terutama pada waktu pelaksanaan pekerjaan konstruksi. Metode jalur kritis adalah suatu metode untuk membuat jaringan kerja yang dibuat berdasarkan skala waktu untuk dapat membuat jalur kritis dari jaringan kerja untuk dapat memantau kemajuan atau kemunduran dari suatu pekerjaan sehingga keterlambatan pekerjaan dapat dihindari. Metode jalur kritis sudah merupakan jaringan kerja yang optimal sehingga keterlambatan pada jalur kritis akan mengakibatkan keterlambatan pekerjaan secara keseluruhan yang akan mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya pekerjaan. Dalam Microsoft Project dengan hanya memasukkan jenis kegiatan, durasi serta keterkaitan antar satu kegiatan dan kegiatan yang lainnya dapat dengan mudah didapatkan jalur kritisnya. Tidak perlu membuat jaringan kerja secara manual. Akumulasi waktu pekerjaan dari jalur kritis adalah waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Dalam proyek pembangunan Gedung Kantor Pertanahan Kabupaten Tanggamus didapatkan waktu total pelaksanaan proyek yang tercepat adalah 108 hari, lebih cepat 12 hari (2 minggu) dari waktu yang disediakan oleh pemilik proyek yang tercantum dalam dokumen kontrak.
Kajian Pola Tanam Daerah Irigasi Sekampung Sistem Provinsi Lampung Aprizal APRIZAL; MF. Nur Yuniar
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1612.767 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.929

Abstract

Pola tanam adalah suatu urutan pola tanam pada sebidang lahan dalam satu tahun, termasuk didalamnya masa pengolahan tanah. Pelaksanaan pola tanam dari suatu daerah irigasi teknis dalam satu tahun, biasanya dilaksanakan berdasarkan Surat Keputusan Kepala Daerah setempat. Disamping pertimbangan untuk mendukung kebijakan pangan nasonal, penentuan pola tanam tersebut juga dibuat berdasarkan faktor ketersediaan air dan aspirasi petani. Dalam penulisan ini dibahas antara lain: Data Topografi, identifikasi pola tanam yang ada, analisa kebutuhan air, perhitungan debit andalan, perhitungan kebutuhan air yang ada, analisa pola tanam optimal, analisa besarnya potensi sumber daya air, mengetahui permasyalahan yang berkaitan dengan pola tanam serta ketepatan pemilihan model pola tanam sesuai dengan ketersediaan air yang ada pada daerah irigasi Sekampung Sistem. Daerah irigasi Sekampung Sistem yang mempunyai luas fungsional 66.573 Ha memiliki potensi air cukup memadai, memiliki petani mayoritas mempunyai karakter dengan melaksanakan pola tanam, sehingga produksifitas  pertanian di daerah irigasi Sekampung Sistem dirasakan berkurang. Berdasarkan kajian sebelumnya luas potensi ± 66.574 Ha, areal yang berfungsi seluas ± 55.373 Ha = 11.201 Ha (belum berfungsi). Setelah menganalisa berdasarkan kajian luas potensi ± 66.574 Ha, areal yang berfungsi seluas ± 57.320 Ha = 9.254 Ha (belum berfungsi), hal ini berarti areal yang belum berfungsi mengalami penurunan seluas ± 1.947 Ha,atau ada kenaikan sebesar 1,23 % sehingga pada daerah irigasi Sekampung Sistem areal yang ada belum dapat dimanfaatkan  seluas ± 9.254 Ha. Pada Daerah Irigasi Sekampung Sistem diperlukan suatu bentuk pola tanam yang dapat meningkatkan produksi tanaman padi dengan pertimbangan ketersediaan air yang ada. Dalam memilih alternatif pola tanam Padi – Padi – Palawija, dipilih tanaman palawija yang yang paling sedikit membutuhkan air, agar kebutuhan debit air dapat terpenuhi. Sistem pemberian air secara bergilir harus dilakukan sesuai jadwal agar tidak ada golongan yang berlebihan dan atau kekurangan dalam memenuhi kebutuhan debit air untuk setiap areal.
Analisis Jumlah Armada Optimum Bus Damri Jurusan Tanjung Karang- Teluk Betung A Ikhsan Karim
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (869.583 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.925

Abstract

Dewasa ini sarana transportasi mempunyai peran yang sangat penting karena merupakan salah satu unsur yang turut menentukan perkembangan sosial dan ekonomi suatu wilayah perkotaan. Kemajuan dihidang transportasi meyebabkan jarak antara satu daerah dengan daerah lain atau satu tempat ke tempat lain dirasakan menjadi lebih dekat dan lebih mudah, sehingga masyarakat menempatkan sarana angkutan umum sebagai sarana vital bagi pergerakan arus lalu lintas. Tujuan dari penelitian ini mengkaji jumlah armada Bus Damri jurusan Tanjung Karang - Teluk Betung yang paling optimum, mengetahui karakteristik penumpang bus kota Damri pada jurusan Tanjung Karang - Teluk Betung. Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan data kondisi existing di lapangan diperoleh jumlah armada optimum trayek Tanjung Karang - Teluk Betung yaitu sebesar 23 kendaraan dari 19 kendaraan yang beroperasi setiap hari. Berdasarkan survei lapangan yang dilakukan diperoleh gambaran karakteristik penumpang angkutan umum bus kota adalah sebagai berikut : Sebagian besar adalah golongan usia produktif (25-50 tahun) dengan prosentase sebesar 56%, yang menimbulkan lonjakan penumpang pada jam-jam sibuk yaitu jam berangkat/pulang sekolah atau bekerja. Sebagian besar penumpang memiatakan pelayanan anekutan umum bus yang diberikan sudah cukup baik dengan prosentase sebesar 38% lebih, walaupun mereka mengharapkan peningkatan seperti fasilitas dan kondisi kendaraan yang lebih baik, pelayanan kru bus, dan waktu berhenti bus yang singkat.  Karakteristik jumlah penumpang yang melakukan perjalanan lebih besar pada hari kerja daripada hari libur atau hari akhir pekan, karena penumpang banyak melakukan aktifitasnya dengan menggunakan bus kota pada hari kerja baik untuk tujuan bekerja maupun untuk tujuan lainnya. Berdasarkan survei naik turun penumpang yang dilakukan pada masing-masing arah diperoleh sebagai berikut : Untuk arah Tanjung Karang - Teluk Betung yaitu pada zona IV (Lokasi Tanjung Karang -Ramayana - Gramedia ), zona   V (Lokasi Gramedia – PLN Rm.Begadang).dan zona VI  (Lokasi  PLN -  Marcopolo) merupakan zona yang ramai oleh penumpang. Akan tetapi yang telah memiliki halte adalah zona IV - V   dan zona VI   sudah terdapat halte (shelter). Untuk arah Teluk Betung - Tanjung Karang yaitu zona IX (Lokasi   Pasar        Bumi Waras - Psr. Kangkung), Zona X ( Lokasi Psr. Kangkung - Psr Ikan), Zona XI (Lokasi Psr. Ikan - Hotel Sriwijaya), Zona XII ( Lokasi Hotel Sriwijaya - Taman Siswa), dan Zona XIII ( Lokasi Taman Siswa - Hotel Lussy) merupakan zona ramai oleh penumpang. Zona yang telah memiliki halte adalah zona IX,X,XII dan XIII. sedangkan zona XI belum memiliki halte ( shelter).
Analisis Kemauan Membayar Dan Prediksi Pola Perjalanan Konsumen Terhadap Rencana Pelayanan Transjogja Rute Jogja - Kaliurang Aditya Mahatidanar Hidayat
Jurnal Teknik Sipil Vol 8, No 1 (2017): April
Publisher : Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1252.93 KB) | DOI: 10.36448/jts.v8i1.926

Abstract

Pada Tahun 2008, Pemerintah Daerah DIY menyelenggarakan angkutan umum Bus Transjogja. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kembali kinerja angkutan umum dan mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap angkutan umum. Penelitian yang dilakukan dengan cara survey untuk mengetahui pola perjalanan dan  kemauan konsumen dalam menentukan  tarif pelayanan transportasi dengan atribut pelayanan yang diberikan. Objek survey adalah masyarakat yang berada di sekitar Jalan Kaliurang, mulai dari Ringroad Kentungan hingga ke Objek Wisata Kaliurang. Data yang diperoleh selanjutnya di olah dengan Program software SPSS v.18. Tarif yang diberikan oleh konsumen terhadap rencana pelayanan Bus TransJogja dengan rute Jogja – Kaliurang adalah sebesar 3000 rupiah. Berdasarkan model regresi yang diperoleh maka didapatkan informasi tentang jumlah koefisien dari faktor sosial – ekonomi  dengan variabel jenis kelamin, usia, tinggal di Jalan Kaliurang, biaya transportasi per bulan sebesar 1142,663 rupiah rupiah. Untuk jumlah koefisien dari faktor atribut pelayanan yang terdiri dari kapasitas penumpang, penggunaan AC dan tarif khusus pelajar sebesar 1008,853 rupiah. Faktor sosial – ekonomi dapat mempengaruhi penentuan tarif pelayanan jasa transportasi, karena nilai koefisien dari faktor sosial – ekonomi lebih besar dari koefisien faktor atribut pelayanan jasa transportasi.  Penentuan tarif bisa dilakukan dengan memperhatikan faktor sosial – ekonomi  tetapi tetap melihat faktor atribut pelayanan jasa transportasi yang akan ditawarkan kepada pengguna angkutan tersebut. Asal perjalanan yang paling diminati yaitu nomer halte 1 dengan lokasi di Simpang 4 Kentungan, dan Tujuan perjalanan yang paling diminati yaitu nomer halte 1 dengan lokasi di Simpang 4 Kentungan.

Page 1 of 1 | Total Record : 5