cover
Contact Name
Amirullah
Contact Email
amirullah8505@unm.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.pattingalloang@unm.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Pattingalloang : Jurnal Pemikiran Pendidikan dan Penelitian Kesejarahan
Jurnal Pattigalloang adalah Publikasi Karya Tulis Ilmiah dan Pemikiran Kesejarahan dan ilmu-ilmu sosial.
Articles 239 Documents
Pendudukan Jepang di Pulau Lakkang di Makassar 1942-1945 Darminto, Ardianto Raharjo; Ridha, Muhammad Rasyid; Ahmadin, Ahmadin
PATTINGALLOANG Vol. 5, No. 1, April 2018
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.867 KB)

Abstract

Tulisan ini menjelaskan tentang suatu peristiwa terkait Pendudukan Jepang di Pulau Lakkang Makassar semasa perang dunia II di kawasan Asia-Pasifik. Alasan Jepang memilih Pulau Lakkang sebagai tempat persembunyian dan basis pertahan karena wilayah ini dianggap oleh Jepang sangat strategis untuk menunjang potensi perang. Masuknya Jepang di Pulau Lakkang tidak terlepas karena perang yang semakin memanas pada Tahun 1943 dan pola pendudukan Jepang yang merupakan sandi perang Jepang terbaca oleh sekutu, sandi perang Jepang itu disebut dengan Gurita Timur yang merupakan pola pendudukan yang menunjang gerakan dimana bertujuan untuk mengepung tentara sekutu. Sebagai akibatnya Jepang yang telah berhasil menduduki Makassar dan dengan cepat membentuk pemerintahan angkatan laut agar dapat menyelenggarakan kebijakan demi untuk kepentingannya tidak mampu bertahan lama sebab sekutu melancarkan serangan bom udara secara berangsur-angsur. Pasukan Jepang mundur ke Pulau lakkang yang dianggapnya strategis, setelah berhasil menduduki Lakkang, dengan cepat Jepang mengontrol dan mengawasi gerak-gerik masyarakat dan keadaan sekitar. Semasa pendudukannya, Jepang menerapkan berbagai kebijakan yang bersifat humanis dengan cara tidak menghilangkan nilai demokrasi di tengah masyarakat. Kebijakan Jepang bagi masyarakat berdampak baik dan buruk secara politik, sosial maupun ekonomi. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian historis ( Historical Research ), yang terdiri atas beberapa tahapan yakni: (1) Heuristik, dengan melakukan wawancara terhadap warga yang masih hidup sejak pendudukan Jepang seperti, Munding, Dg.Ngona, dll. Mengumpulkan arsip di Badan Arsip dan Perpustakaan Daerah Sulawesi Selatan, Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Provinsi Sulawesi-selatan, datadata kelurahan, jurnal terkait dll. Selain itu juga digunakan buku-buku yang terkait dengan Pendudukan Jepang . ). (2) Kritik atau proses verifikasi keaslian sumber sejarah. (3) Interpretasi atau penafsiran sumber sejarah, dan (4) Historiografi, yakni tahap penulisan sejarah.
Perkembangan Kerajaan Islam di Banten Pada Masa Sultan Ageng Tirtayasa dalam Aspek Politik dan Sosial Dinda Samego Anggraheni; Haykal Attamimi; Jumardi Jumardi
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam mulai masuk dan berkembang di Banten ini membuat wilayah Banten menjadi suatu peradaban Islam baru di Nusantara. Pada abad ke 16 ketika Banten di pimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa sudah membuat suatu perubahan besar bagi Banten terlihat dari segi sosial masyarakat Banten yang makmur, kondisi politik yang cukup tertata yang dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa dan sampai bentuk peninggalan-peninggalan kesultanan Banten pada waktu itu  masih dikenal di era sekarang. Kedatangan VOC membawa dampak buruk sekaligus kemunduran Kerajaan Islam Banten. Politik adu domba sengaja dibuat untuk melemahkan kekuasaan Sultan Ageng Tirtayasa. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif, data diperoleh melalui observasi, wawancara narasumber, jurnal, dan buku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada masa Sultan Ageng Tirtayasa perkembangan aspek sosial dan budaya di Banten cukup maju.Kata Kunci: Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Politik dan Sosial. AbstractIslam began to enter and develop in Banten, making the Banten region a new Islamic civilization in the archipelago. In the 16th century when Banten was led by Sultan Ageng Tirtayasa, it had made a big change for Banten, seen from the social point of view of the prosperous Banten society, the fairly orderly political conditions carried out by Sultan Ageng Tirtayasa and to the form of Banten sultanate heritage at that time. still known in the present era. The arrival of the VOC had a bad impact as well as a setback for the Islamic Kingdom of Banten. The politics of fighting against each other was deliberately created to weaken the power of Sultan Ageng Tirtayasa. This research uses qualitative methods, data obtained through observation, interviewing informants, journals, and books. The results showed that during the Sultan Ageng Tirtayasa era, the development of social and cultural aspects in Banten was quite advanced.Keywords: Sultan Ageng Tirtayasa, Banten, Politics and Social
Pesantren At-Taqwa Bekasi: Perubahan Pola Pendidikan dari Tradisional Menuju Modern (1980-2010) Samudra Eka Cipta
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13293

Abstract

Penelitian ini mengkaji tentang bagaimana perubahan pola manajemen pendidikan di pesantren yang sebelumnya menerapkan sistem pendidikan tradisional (salafiyah) seiring dengan kebijakan pemerintah melalui Kementrian Agama pada tahun 1980-an mengubah pola pendidikan kearah modern  (khalafi). Perubahan pola pendidikan pesantren memiliki esensi untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekitar terutama bidang sosial pendidikan kegamaan. Penelitian ini diangkat sebagai penulisan tugas akhir peneliti dalam mengkaji perkembangan pola pendidikan yang meliputi beberapa aspek khususnya kurikulum yang diterapkan di Pondok Pesantren At-Taqwa Bekasi.Kata Kunci: Salafiyyah, Pesantren, At-Taqwa, KurikulumAbstractThis study examines how changes in education management patterns in pesantren that previously implemented a traditional education system (salafiyah) along with government policies through the Ministry of Religion in the 1980s changed the pattern of education towards a modern one (khalafi). Changes in the education pattern of pesantren have the essence to answer the needs of the surrounding community, especially the social sector of religious education. This research was appointed as the researcher's final assignment in assessing the development of educational patterns which includes several aspects, especially the curriculum applied at Pondok Pesantren At-Taqwa Bekasi.Keywords: Salafiyyah, Islamic Boarding School, At-Taqwa, Curriculum 
Bangunan Masjid Agung Banten sebagai Studi Sosial dan Budaya Hanifa Rizky Indriastuty; Aulia Rachman Efendi; Alwi Ibnu Saipudin
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13517

Abstract

Penelitian ini membahas tentang keunikan bangunan Masjid Agung Banten. Bangunan ini memiliki perpaduan 3 kebudayaan dan nilai-nilai sosial yang tampak dari arsitektur bangunan tersebut. Bangunan Masjid Agung Banten merupakan salah satu peninggalan Kesultanan Banten. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara narasumber, jurnal dan buku. Hasil penelitian ini membahas tentang bangunan Masjid Agung Banten sebagai studi nilai-nilai sosial dan budaya. Nilai sosial terlihat dari toleransi beragama (kerukunan) dan golongan disekitar. Hal tersebut terwujud dengan adanya bangunan Masjid Agung Banten dan Vihara Avelokitesva yang saling berdekatan. Nilai budaya yang tercermin dari arsitektur bangunan menara Masjid Agung Banten perpaduan 3 budaya yaitu Arab, China, Eropa. Tujuan dari penelitian ini adalah melihat potensi lain dari bangunan Masjid Agung Banten yang mayoritas dijadikan sebagai tempat ibadah, wisata religi, dan rekreasi. Namun bangunan masjid Agung Banten dapat dijadikan sebagai studi social budaya. 
Perubahan Pola Kehidupan Masyarakat Nelayan Desa Galesong Baru Pasca Modernisasi, 1980-2015 Resky Hidayah Nur; Najamuddin Najamuddin; Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13724

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan latar belakang terjadinya modernisasi, memberikan gambaran tentang kehidupan masyarakat nelayan pasca modernisasi, serta menguraikan dampak modernisasi terhadap kehidupan masyarakat nelayan di Desa Galesong Baru Kecamatan Galesong Kabupaten Takalar. Penulisan jurnal ini di golongkan sebagai jurnal sejarah maritim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa awal pengenalan motorisasi perahu di Desa Galesong Baru muncul dari masyarakat nelayan itu sendiri, yang diperkenalkan oleh Haji Rani. Mesin perahu pertama kali diperkenalkan dan dimiliki oleh Haji Rani pada tahun 1975. Peralihan dari penggunaan layar dan dayung ke perahu motor tidak langsung terjadi secara menyeluruh pada masyarakat nelayan. Hingga pada tahun 1980 nelayan di Desa Galesong Baru telah menggunakan mesin pada perahu dalam menjalankan usaha penangkapan ikan. Wilayah operasional yang ditempuh pun sudah cukup jauh dibandingkan dengan masa tradisional yang sebelumnya hanya mencari ikan di pinggir pantai, tapi setelah menggunakan motorisasi nelayan mencari ikan di tengah laut. Selain itu, perubahan lain yang terjadi dalam kehidupan masyarakat nelayan di Desa Galesong Baru setelah adanya modernisasi yaitu dari segi pendapatan yang telah meningkat, yang sebelumnya hanya 1 bakul tapi setelah adanya modernisasi pendapatan bias mencapai 2-3 Bakul dalam satukali melaut. Hadirnya modernisasi tentunya memberikan dampak bagi kehidupan masyarakat nelayan yaitu dampak positif dan negatif. Dampak positif yang ditimbulkan yaitu semakin meningkatnya kehidupan masyarakat nelayan dari segi pendapatan, adapun dampak negatif yang ditimbulkan yaitu pengurangan tenaga kerja nelayan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yakni: Heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber), dan historiografi (penulisan sejarah).
Aktivitas Gerombolan DI/TII dan Dampaknya Terhadap Masyarakat Sidrap 1950-1965 Eka Wulandari; Jumadi Jumadi; La Malihu
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13725

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai gerakan DI/TII Abdul Qahhar Mudzakkar yang memilih mendirikan NII di Kabupaten Sidrap. Dalam penelitian ini fokus membahas apa yang menjadi latar belakang sehingga lahir gerakan DI/TII beserta aktivitas gerombolan DI/TII 1950-1965 dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat Sidrap pada kurung waktu 1950-1965. Penelitian  ini menemukan bahwa karena adanya faktor geografis antara Kabupaten Sidrap dengan Kabupaten Wajo sebagai daerah operasi dari gerombolan DI/TII yang menjadi alasan gerakan DI/TII melakukan aktivitasnya seperti perusakan jembatan, jalan, pemutusan kawat telepon, penebangan pohon dan menculik angggota yang aktif dalam pemerintahan. DI/TII dalam kurung waktu 1950-1965 memberikan dampak yang cukup nyata dirasakan oleh penganut kepercayaan Tolotang. Aktivitas gerombolan yang ingin menjadikan syariat islam sebagai dasar gerakannya, menghadapkan kelompok Tolotang berada pada situasi yang sulit. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan tahapan, yakni heuristic (pengumpulan data), kritik (verifikasi), interpretasi (penafsiran), dan historiografi (penulisan sejarah).
Dinamika Pemerintahan Soppeng Pada Masa Afdeling Bone Hingga Masa Pemerintahan Andi Wana 1905-1960 Dodi Doigo Rahmada; Patahuddin Patahuddin; Rasyid Ridha
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13726

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika dan sejarah pemerintahan Soppeng dari masa Afdeling Bone hingga Pemerintahan Daerah Tingkat II Soppeng sejak tahun 1905 sampai tahun 1960 dan dampak kebijakan Andi Wana selaku Kepala Daerah pertama Pemerintahan Daerah Tingkat II Soppeng. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik ekstern dan kritik intern), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melakukan penelitian pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Soppeng merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang pernah menggunakan beragam sistem pemerintahan, mulai dari sistem pemerintahan Tomanurung, kerajaan, Hindia Belanda, Jepang, Negara Indonesia Timur, hingga pemerintahan NKRI. Penulis mengkhususkan pengkajian, penelitian dan penulisan pada dinamika sistem pemerintahan masa hindia belanda, jepang, negara indonesia timur, hingga pembentukan derah tingkat II yang di pimpin oleh Andi Wana, dari hasil penafsiran penulis menganggap bahwa secara umum sistem yang di gunakan saat ini tidak lain merupakan warisan dari negara penjajah yang pernah mendiami indonesia. Yang berbeda hanyalah pada wilayah administrasi dimana sistem dan kebijakan yang di gunakan sekarang berdasarkan kebutuhan yang diinginkan oleh penguasa. Akhir dari penelitian ini menunjukkan bahwa Soppeng memiliki rentetan sejarah yang panjang terkait dinamika pemerintahan. Namun hasil dari sistem pemerintahan yang pernah diterapkan, pada akhirnya menjadi pintu awal  dalam media perlawanan, memobalisasi massa dalam melawan penjajah serta memajukan dan membangun  daerah. 
M. Jusuf dalam Meredam Gerakan DI/TII di Sulawesi Selatan 1957-1965 Selfi Selfi; Rasyid Ridha; La Malihu
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13727

Abstract

Penelitian ini membahas mengenai bagaimana hubungan M. Jusuf dengan Qahhar Mudzakkar sebelum Gerakan DI/TII, strategi M. Jusuf dalam menumpas gerakan DI/TII dan dampak berakhirnya gerakan DI/TII. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebelum gerakan DI/TII, M. Jusuf dan Qahhar Mudzakkar memiliki hubungan yang bisa dikatakan cukup dekat. Dekat dalam hal ini berarti M. Jusuf sempat menjadi salah seorang staf kepercayaan Qahhar Mudzakkar. Begitupun dengan M. Jusuf sempat menganggap Qahhar Mudzakkar layaknya keluarga. Bahkan dalam beberapa sumber mengemukakan bahwa M. Jusuf merupakan anak emas Qahhar Mudzakkar pada masa revolusi. Tergabungnya Qahhar Mudzakkar dengan gerakan DI/TII dan masuknya M. Jusuf dalam struktur tentara regular hingga menjadi panglima di Kodam SST XIV/Hasanuddin membuat kedekatan mereka berubah. Berubah dalam hal ini tidak berarti mereka berkonflik. Hanya saja ia tak lagi bersama dalam kemiliteran. Ketika Qahhar Mudzakkar memproklamasikan gerakan D/TII nya berarti Qahhar dan M. Jusuf sudah berbeda dari segi ideologi. M. Jusuf bekerja untuk menumpas gerakan DI/TII sedangkan Qahhar Mudzakkar bergejolak dengan gerakan DI./TII nya. Hal ini dilakukan oleh M. Jusuf dilatarbelakangi oleh bakat kemiliterannya dan menjadi bukti kesetiaanya terhadap NKRI. Pasca berakhirnya gerakan DI/TII dimana setelah Abdul Qahhar Mudzakkar tertembak, difokuskanlah pembangunan di Sulawesi Selatan dalam segala bidang. Serta adanya rehabilitasi terhadap eks DI/TII. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat naratif dengan menggunakan metode penelitian history melalui tahap heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi.
Dinamika Sosial Ekonomi Pembuatan Perahu di Desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima 1970-2017 Endang Nila Hardianti; Muh. Saleh Madjid; La Malihu
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13728

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan tentang: 1) Bagaimana latar belakang adanya masyarakat pembuat perahu di desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima. 2). Bagaimana perbedaan pembuatan perahu di Desa Bugis tahun 1970-2017. 3) Bagaimana keadaan sosial ekonomi masyarakat pembuat perahu di Desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima. Dalam proses pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan metode observasi, wawancara, penelitian kepustakaan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa: 1). Awal mula masyarakat lokal membuat perahu karena kedatangan orang-orang Bugis Sulawesi yang menetap di Kecamatan Sape Kabupaten Bima. 2). Perbedaan pembuatan perahu di desa Bugis pada tahun 1970-2017 yaitu dipengaruhi oleh alat-alat teknologi permesinan dan bahan-bahan kayu yang semakin mahal. 3). Keadaan sosial ekonomi masyarakat pembuat perahu semakin meningkat karena didukung oleh kegiatan pelayaran dan perdagangan yang semakin berkembang. Kedatangan orang-orang Bugis di desa Bugis Kecamatan Sape Kabupaten Bima karena dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan penyebaran islam di Bima oleh kerajaan Gowa.
Desa Patobong Kecamatan Mattiro Sompe Kabupaten Pinrang 1991-2017 Desi Safitri; Muh. Saleh Madjid
PATTINGALLOANG Vol. 7, No. 2, Agustus 2020
Publisher : Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/jp.v7i2.13729

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui latar belakang terbentuknya Desa Patobong, perkembangan Desa Patobong, dan dampak terbentuknya Desa Patobong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa latar belakang terbentuknya Desa Patobong yang tidak terlepas dari Desa Mattombong pada awal Desa Patobong sebagai desa persiapan pada tahun 1991 dan di resmikan pada tahun 1993 secara administrasi dan geografis. Kemudian dalam perkembangannya dilihat setelah terbentuk menjadi sebuah desa dapat dilihat pada bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial keagamaan, dan bidang sosial budaya mengalami peningkatan. Keberadaan Desa Patobong membawa dampak yang signifikan bagi masyarakat. Menginngat belum ada yang menulis ataupun meneliti tentang Desa Patobong sebelumnya, hali ini yang memebuat peneliti tertarik untuk mengangkat judul ini sebagi kajian, selain itu juga peneliti bermaksud menyimpan hasil karyanya di kantor Desa Patobong sebagai salah satu sumber tentang Desa Patobong, karena melihat tidak banyak masyarakat yang tidak mengetahui proses terbentukya Desa Patobong, perkembangan Desa Patobong dan Dampak dari pembentukan Desa Patobong. Penelitian ini mengunakan metode penelitian sejarah yang terdiri dari empat tahapan yaitu, heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik sumber (kritik intern dan eksteren), interpretasi (penafsiran sumber) dan historiografi (penulisan sejarah). Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara melalukan penelitian lapangan yang terdiri dari wawancara dan mengumpulkan sumber profil serta literatur-literatur yang berhubungan dengan objek penelitian.

Page 1 of 24 | Total Record : 239