cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
jpptp06@yahoo.com
Editorial Address
Jalan Tentara Pelajar No. 10 Bogor, Indonesia
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian
Published by Kementerian Pertanian
ISSN : 1410959x     EISSN : 25280791     DOI : -
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian (JPPTP) adalah media ilmiah penyebaran hasil penelitian/pengkajian inovasi pertanian untuk menunjang pembangunan pertanian wilayah.Jurnal ini memuat hasil penelitian/pengkajian primer inovasi pertanian, khususnya yang bernuansa spesifik lokasi. Jurnal diterbitkan secara periodik tiga kali dalam satu tahun.
Arjuna Subject : -
Articles 634 Documents
ANALISA FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEBERLANJUTAN PELAKU USAHA UMKM DI PEDESAAN DAN PERKOTAAN PROVINSI JAWA BARAT vera agustina yanti
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p137-148

Abstract

ABSTRACT Factors Influence the Sustainability of Small Medium Micro Enterprises in Bandung and Bogor. Small Medium Micro Enterprises (SMEs) provide a huge contribution on economic. In line with the global economic, the competitiveness among enterprises rises. SMEs have low competitiveness caused by low quality, limited innovation and technological mastery. To have the competitiveness and business sustainability, SMEs are required to respond rapid technological innovations, focus on long-term interests, produce environmentally friendly products and strive for natural resource conservation as well as efficient use of technology. Factors supporting business sustainability need to be improved on business activities to support the sustainability of SMEs. This study aimed to analyze the profile factor, external environmental support, utilization of ICT facilities and competence that affect the sustainability of the business. This study used survey design with sampling technique disproportioned stratified random sampling to 358 respondents in four research sites. Data were collected through data collection questionnaire and done in 2017. Data was analyzed using descriptive techniques and Structural Equation Models (SEM). The results showed the level of MSME sustainability in urban areas was higher than in the district. City of Bandung and City of Bogor with sub variable income and business growth had score percentage higher than Bandung District and Bogor Dictrict. This is shown in product quality as well as better innovation. Factors affecting business sustainability are the perceptions of SMEs and ICT utilization factors, which directly affected business sustainability. One variable of ICT utilization is more effective to increase ICT adoption among SMEs business actors.Keywords: business sustainability, utilization of ICT facilities, perception of UMKM business actors ABSTRAK Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memberikan kontribusi besar pada perekonomian. Seiring perkembangan ekonomi global, persaingan usaha semakin kompetitif. Usaha Mikro Kecil Menengah memiliki daya saing rendah, salah satu penyebab adalah: mutu yang rendah, inovasi rendah, dan keterbatasan penguasaan teknologi (TIK). Untuk memiliki daya saing dan keberlanjutan usaha, UMKM harus merespon perubahan inovasi teknologi yang cepat, fokus pada kepentingan jangka panjang, menghasilkan produk ramah lingkungan dan mengupayakan pelestarian SDA, serta efisiensi penggunaan teknologi. Faktor-faktor pendukung keberlanjutan usaha perlu ditingkatkan pada aktivitas usaha untuk mendukung keberlanjutan usaha UMKM. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor profil, dukungan lingkungan ekternal, pemanfaatan sarana TIK, dan kompetensi yang mempengaruhi keberlanjutan usaha. Penelitian ini menggunakan desain survei dengan teknik pengambilan sampel dispropotioned stratied random sampling kepada 358 responden di empat lokasi penelitian. Data dikumpulkan melalui kuesioner pengumpulan data pada tahun 2017. Pengolahan data menggunakan teknik deskriptif dan Struktural Equation Models (SEM). Hasil penelitian menunjukkan tingkat keberlanjutan UMKM pada wilayah perkotaan lebih tinggi dibandingkan pada wilayah kabupaten. Kota Bandung dan Kota Bogor dengan sub peubah pendapatan dan pertumbuhan usaha memiliki skor persentase lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor. Hal ini ditunjukkan pada kualitas produk, serta inovasi yang lebih baik. Faktor-faktor yang berpengaruh pada keberlanjutan usaha adalah faktor persepsi pelaku UMKM dan faktor pemanfaatan sarana TIK secara langsung berpengaruh pada keberlanjutan usaha, satu peubah pemanfaatan TIK tersebut lebih efektif untuk meningkatkan adopsi TIK di kalangan pelaku usaha UMKM.Kata kunci: keberlanjutan usaha, pemanfaatan sarana TIK, persepsi pelaku usaha UMKM
KELAYAKAN USAHATANI VARIETAS UNGGUL KACANG TANAH DI KABUPATEN HALMAHERA UTARA Bayu Suwitono
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p127-136

Abstract

ABSTRACT Feasibility Of Peanut Farming Of The New Superior Varieties Of Bean In North Halmahera Regency,Peanut farming in North Maluku is mainly grown in dry land with low level of productivity due to some factors. One of them is due to the low adoption of high-yielding varieties of seeds. Indonesian Agency for Agricultural Research and Development (IAARD) has developed superior varieties for peanut commodities. The objective of the research was to identify adaptive high yielding varieties of peanuts with high production potential and to analyze the feasibility of peanut farming in North Maluku. Research was conducted in Tiowor Village, North Halmahera District, from February to November 2014. Four high yielding varieties of peanuts namely Hipoma, Talam, Bima, and Tuban and one local variety were cultivated by applying the integrated crop management (ICM) technology. Results showed that the high yielding varieties tested had high level of adaptation.  Bima peanuts was the most adaptive variety producing 3.79 ton/ha. Peanut variety Bima and peanut local variety were the most feasible varieties to be developed. The R/C ratios of peanut farming using these two varieties were 4.35 and 4.57, respectively.Keywords: Peanut, High yielding variety, farming, feasibility, adaptive. ABSTRAK Usahatani kacang tanah di Maluku Utara dominan di lahan kering dengan tingkat produktivitas yang masih rendah. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor di antaranya rendahnya penggunaan benih varietas unggul. Di sisi lain, Balitbangtan mempunyai banyak varietas unggul untuk komoditas kacang tanah. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan Varietas Unggul kacang tanah yang adaptif dengan produksi tinggi dan menganalisa kelayakan usahatani  kacang tanah. Penelitian dilakukan di Desa Tiowor Kabupaten Halmahera Utara pada bulan Februari sampai November 2014. Empat varietas unggul kacang tanah yang terdiri atas Hipoma, Talam, Bima dan Tuban serta satu varietas lokal ditanam dengan pendekatan Pengelolaan Tanaman Terpadu (PTT). Hasil penelitian menunjukan bahwa varietas unggul yang diuji memiliki tingkat adaptasi yang tinggi di lokasi kajian.  Kacang tanah Bima merupakan varietas yang paling adaptif dengan produksi 3,79 ton/ha. Secara finansial  Kacang tanah varietas Bima dan  lokal paling layak dikembangkan dengan R/C ratio sebesar 4,35 dan 4,57. Kata kunci: Kacang tanah, Varietas unggul, Usahatani, kelayakan, Adaptif
PERAN PERTANIAN PERKOTAAN TERHADAP PENDAPATAN RUMAH TANGGA TANI DI DKI JAKARTA Chery Soraya Ammatillah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p177-187

Abstract

ABSTRACT The Role of Urban Farming on Household Income in DKI Jakarta. Cultivating agriculture is still attractive for some people in DKI Jakarta although it is constrained by limited land and resources. Economic factor that contributes to household income is the factor influencing society to keep cultivate agriculture in urban area. The purpose of this study was to analyze the income of urban agriculture in Jakarta, to analyze the total household income and to analyze the role of urban agriculture on total household income. The study was conducted in five districts of DKI Jakarta with a total of 60 respondents. Farm and non-farm income were analyzed using income analysis. Household income was analyzed using household income analysis. The role of urban agriculture was analyzed using income contribution analysis. The result of analysis showed that the average of urban agricultural income based on total costs per year in 2017 was 24,431,176 IDR. The average household income based on total costs was 38,948,226 IDR. The contribution of urban agriculture to total household income was 62.7% on income based on total costs, thus urban agriculture have a role as the main source of household income in DKI Jakarta. Keywords: vegetable, contribution, urban agriculture, household ABSTRAK Usaha pertanian masih menjadi daya tarik bagi sebagian masyarakat Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, meskipun terkendala dengan lahan dan sumberdaya yang terbatas. Faktor ekonomi yang berkontribusi terhadap pendapatan rumah tangga adalah faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk tetap melakukan usaha pertanian di perkotaan. Tujuan penelitian untuk menganalisis pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta, menganalisis total pendapatan rumah tangga yang diperoleh, dan menganalisis peran usaha pertanian di perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga. Penelitian dilakukan di lima wilayah kota administratif DKI Jakarta dengan total 60 responden pada tahun 2017. Pendapatan rumah tangga dianalisis menggunakan analisis pendapatan rumah tangga sedangkan untuk menganalisis peran pertanian perkotaan dilakukan analisis kontribusi pendapatan dari pertanian terhadap total pendapatan rumah tangga. Hasil analisis menunjukkan rata-rata pendapatan usaha pertanian perkotaan di DKI Jakarta sebesar Rp.24.431.176/tahun, sedangkan rata-rata pendapatan rumah tangganya sebesar Rp.38.948.226/tahun. Kontribusi yang diberikan dari usaha pertanian perkotaan terhadap total pendapatan rumah tangga sebesar 62,7%, dengan demikian pertanian perkotaan berperan sebagai sumber utama pendapatan rumah tangga tani di DKI Jakarta. Kata kunci: sayuran kontribusi, pertanian perkotaan, rumah tangga
FORMULASI PEMBENAH TANAH UNTUK MENINGKATKAN HASIL PADI DI LAHAN SAWAH KABUPATEN SIJUNJUNG SUMATERA BARAT Ismon Lenin; Widia Siska
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p113-126

Abstract

ABSTRACT Ameliorants formulation to increase rice yield in wetlands in Sijunjung District West Sumatera. The average yield of lowland rice in West Sumatra is still low due to low land fertility in the area of rice production centers. Low soil quality is characterized by low nutrient content, low organic matter, and high soil acidity. Improvement of soil quality can be done by managing soil enhancer such as providing organic materials, liming, zeolite applications, and balanced fertilization concepts. The study was conducted from June to October 2015 in Sei Langsek Village, Sijunjung District, West Sumatera. The experiments were arranged in a Two-Factor Randomized Block Design with 4 replications. As the first factor are three formulations of soil ameliorants, namely: 1) F1 (25% cow manure, 50% harzburgite, 25% zeolite, 0% dolomite); 2) F2 (50% cow manure, 25% harzburgite, 15% zeolite, 10% dolomite); 3) F3 (75% cow manure, 15% harzburgite, 5% zeolite, 5% dolomite); F4 (100% cow manure). As the second factor is the dosage of soil ameliorant, namely: 2.5; 5.0; 7.5; and 10 t/ha. Without soil ameliorant was used as a control, so the combination of treatment amounted to 17 treatments. The results showed that the highest yield (6,160 kg GKG/ha) was obtained at F3 treatment with a dose of 5 t/ha followed by F2 treatment with a dose of 2.5 t/ha (5,740 kg GKG/ha). Based on the regression analysis, a more efficient soil ameliorant formulation for low productivity paddy fields in Sijunjung district was F2 with a maximum dose of 4,391 kg/ha.Keywords: low land fertility, soil enhancer, productivity, West Sumatera ABSTRAK Hasil padi sawah di Sumatera Barat rata-rata masih rendah karena sebagian besar daerah sentra produksi padi sawah tingkat kesuburan lahannya tergolong rendah. Kualitas tanah yang rendah dicirikan oleh permasalahan kandungan hara, bahan organik, dan kemasaman tanah yang tinggi. Perbaikan kualitas tanah dapat dilakukan dengan pengelolaan bahan pembenah tanah seperti pemberian bahan organik, pengapuran, aplikasi zeolit, dan konsep pemupukan berimbang. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh beberapa formulasi dan takaran bahan pembenah tanah terhadap hasil padi sawah di Kabupaten Sijunjung. Penelitian dilaksanakan dari bulan Juni – Oktober 2015 di Desa Sei Langsek Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Percobaan disusun dalam Rancangan Acak Kelompok Dua Faktor dengan 4 kali ulangan. Faktor pertama adalah tiga formulasi bahan pembenah tanah, yaitu: 1) F1 (25% pupuk kandang sapi, 50% harzburgit, 25% zeolit, 0% dolomit); 2) F2 (50% pupuk kandang sapi, 25% harzburgit, 15% zeolit, 10% dolomit); 3) F3 (75% pupuk kandang sapi, 15% harzburgit, 5% zeolit, 5% dolomit); F4 (100% pupuk kandang sapi). Faktor kedua adalah takaran bahan pembenah tanah, yaitu: 2,5; 5,0; 7,5; dan 10 t/ha. Tanpa bahan pembenah tanah dijadikan sebagai kontrol, sehingga kombinasi perlakuan berjumlah 17 perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil tertinggi (6.160 kg GKG/ha) didapat pada perlakuan F3 dengan takaran 5 t/ha dikuti oleh perlakuan F2 dengan takaran 2,5 t/ha (5.740 kg GKG/ha). Berdasarkan uji korelasi, formulasi pembenah tanah yang lebih efisien untuk lahan sawah berproduktivitas rendah di Kabupaten Sijunjung adalah F2 dengan takaran maksimum pemberian 4.391 kg/ha.Kata kunci: kesuburan rendah, pembenah tanah, produktivitas, Sumatera Barat
PERAN KELEMBAGAAN LOKAL KEUJREUN BLANG DALAM PENGEMBANGAN USAHATANI PADI SAWAH DI KABUPATEN ACEH BESAR husaini husaini
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p159-175

Abstract

 ABSTRACT The Role of Local Institution Keujreun Blang in Wetland Rice Farming at Aceh Besar District. The role of local institutions in wetland rice farming is needed to mobilize the farmers community in overcoming various problems, especially pest attacks that potentially provide vulnerability for farmers community. The objectives of this research were to: (1) to identify role of Keujreun Blang in paddy farmers community and (2) to assess local institutional role of farmers to adaptation on pest attack. Primary data were obtained by the survey (questionnaire) assisted with qualitative data obtained by observations and in-depth interviews key informants (key informants). Purposive sampling was obtained that counted 80 farmer respondents and 20 key informants. This research used quantitative descriptive and qualitative data. The result of the research showed that Keujreun Blang was effective in setting up the planting schedule and resolving irrigation system conflict therefore preserving the rice fields tend to decrease, in local wisdom conserve, its role in Khanduri Blang was still important yet it should be assisted tends by headman (Geuchik: i^e Achenese terminology) as well as his role in controlling pest attacks, but in demolition of rats and concurrently planting.  Keywords: rice farming, institutional, Keujreun Blang, pest attack  ABSTRAK Peran kelembagaan lokal dalam usahatani padi sawah sangat diperlukan untuk menggerakkan komunitas petani dalam mengatasi berbagai permasalahan, terutama serangan hama yang berpotensi memberikan kerentanan bagi komunitas petani. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi peran kelembagaan Keujreun blang dalam usahatani padi sawah dan melihat peran kelembagaan lokal dalam mengorganisir komunitas petani untuk dapat beradaptasi terhadap serangan hama. Data primer diperoleh dari hasil survei (kuesioner) dibantu data kualitatif yang diperoleh dari observasi, dan wawancara mendalam informan kunci (key informan). Pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling sebanyak 80 responden petani dan 20 informan kunci. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kuantitatif diperdalam dengan data kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peran Keujreun Blang tergolong efektif dalam pengaturan jadwal turun sawah, menyelesaikan sengketa di tingkat petani dan sistem pengairan, sedangkan dalam melestarikan adat (kearifan lokal) sawah cenderung berkurang. Perannya dalam melaksanakan Khanduri Blang masih tinggi, namun harus dibantu oleh kepala desa (Geuchik). Peran Keujreun Blang dalam mengorganisir komunitas petani dalam mengendalikan serangan hama cenderung berkurang, kecuali dalam melakukan geproyokan hama tikus dan melakukan tanam serentak.Kata kunci: usahatani padi, kelembagaan, Keujreun Blang, serangan hama
PENINGKATAN PRODUKTIVITAS PADI RAWA LEBAK DI KALIMANTAN BARAT Muhammad Hatta
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p101-112

Abstract

Lahan rawa lebak di Kalimantan Barat luasnya 35.436  ha, sekitar  9.796 ha ditanami padi satu kali setahun dengan hasil rata-rata 1 t ha-1. Kondisi tersebut berpotensi untuk ditingkatkan produktivitasnya. Tujuan pengkajian ini adalah meningkatkan produktivitas padi di lahan rawa lebak melalui perbaikan tata air, perbaikan varietas dan perbaikan kesuburan tanah. Metode penelitian berupa analisis kesesuaian lahan dan percobaan lapang. Percobaan lapang menggunakan Rancangan Acak Kelompok diulang 5 kali dengan 4 perlakuan  paket teknologi: 1) padi lokal, pemupukan N 45 kg ha-1, P2O5 9 kg ha-1, K2O 12 kg ha-1, 2) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1 dan kapur 2 t ha-1, 3) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1 dan kapur 2 t ha-1 dan bahan organik 2 t ha-1, 4) varietas Inpago 8, pemupukan N 90 kg ha-1, P2O5 22,5 kg ha-1, K2O 60 kg ha-1, kapur 2 t ha-1 dan bahan organik 2 t ha-1, serta sistem pengairan satu arah. Hasil kajian menunjukkan bahwa paket teknologi menggunakan varietas unggul, pemupukan berimbang dan pemberian kapur dan pupuk organik masing-masing 2 t ha-1 dengan sistem pengairan satu arah dapat meningkatkan hasil 148% dari 2,3 t ha-1 menjadi 5,7 t ha-1 GKG dan memperoleh kuntungan yang paling besar yaitu Rp. 24.442.500,-  ha-1 musim-1. Kata Kunci : Rawa Lebak, pengelolaan air, ameliorasi, produktivitas, padi
PENENTUAN DOSIS PUPUK LAHAN SAWAH BERDASARKAN STATUS HARA FOSFOR DAN KALIUM DI LAHAN SAWAH KABUPATEN PANDEGLANG Muchamad Yusron; Rita Sinta Wati; Diah Setyorini; Hiriah Mutmainah
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v21n2.2018.p149-158

Abstract

 ABSTRACTGrowth and yield of rice are significantly determined by soil nutrient availability. Phosphorus and potassium  are two soil nutrients that are required in considerable amounts. The aims of this research was to investigate nutrient status of P and K in lowlandrice, which in turn could be used to set up fertilizer recommendation in Pandeglang Regency, Banten.The research was conducted in January to December 2016, consisted of three steps, namely research preparation, field survey, laboratory and data  analysis.  The result indicated that P and K status was found varying from low to high. 44,296 ha of rice field indicated high P status, which was found in 33 subdisctricts, 5,362 ha have medium P status, spread out at 21 subdistricts and  rice fields with low P status spread in 8 subdistricts covering an area of 5,110 ha. Nutrient status of paddy fields with high-K status of 36,710 ha scattered in 30 subdistricts, while the rice field with medium K status spread in 21 sub-bistrict covered of 7,616 ha and status of low-K spread across 9 subdistricts covered of area of 1,333 ha. Based on the 3 status level of P and K, it is recommended 9 packages of P and K fertilizers. Keywords: nutrient status, phosphorus, potassium, lowland rice, Pandeglang ABSTRAK Pertumbuhan dan produksi padi sangat ditentukan oleh ketersediaan hara dalam tanah. Hara P dan K merupakan dua unsur hara yang banyak dibutuhan tanaman padi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui status hara P dan K lahan sawah, yang selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk menentukan dosis pupuk rekomendasi di Kabupaten Pandeglang. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Pandeglang, Banten. Pelaksanaan kegiatan dimulai bulan Januari hingga Desember 2016. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tahap persiapan, survei lapang dan analisa laboratorium serta analisa data. Hasil menunjukkan bahwa kelas status hara P dan K lahan sawah bervariasi dari rendah sampai tinggi. Sawah dengan status hara P tinggi seluas 44.296 ha tersebar di 33 kecamatan, sawah berstatus hara P sedang seluas 5.362 ha tersebar di 21 kecamatan dan sawah berstatus P rendah menyebar di 8 kecamatan seluas 5.110 ha. Sawah dengan status hara K tinggi seluas 36.710 ha tersebar di 30 kecamatan, sedangkan sawah berstatus hara K sedang menyebar di 21 kecamatan seluas 7.616 ha dan sawah berstatus K rendah menyebar di 9 kecamatan seluas 1.333 ha. Berdasarkan variasi antara 3 status hara P tanah (rendah, sedang, dan tinggi) dan 3 status hara K tanah (rendah, sedang, dan tinggi), dihasilkan 9 paket rekomendasi pemupukan P dan K.Kata kunci: status hara, fosfor, kalium, sawah, Pandeglang
INTARAKSI BEBERAPA ISOLAT RIZOBAKTERIA DAN CENDAWAN MIKORIZA ARBUSKULA (CMA) TERHADAP HASIL TANAMAN KENTANG (Solanum tuberosum L.) Indra Dwipa Dwipa; Weni Veriani; - Warnita; Zul Irfan
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v23n2.2020.p177-185

Abstract

The Effect of Rhizobacteria Types and Arbuscular Mycorrhiza Fungi to Potato Yield (Solanum tuberosum L.). Production and productivity of potatoes (Solanum tuberosum L.) in Indonesia is still relatively low compared to other countries. The research aimed to study the effect of interaction between rhizobacteria types and arbuscular mycorrhiza fungi to potato yield. The research was conducted in Laboratory of Microbiology, Faculty of Agriculture, Andalas University and Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat from October 2017 to March 2018. Factorial design with 2 factors in block randomized design was used in the research. The first factor was rhizobacteria isolates (no rhizobacteria, RZ1.L2.4, RZ1.L2.1 and RZ2.L2.1). The second factor was Arbuscular mycorrhiza fungi (AMF) doses (5 g/plant, 10 g/plant and 15 g/plant). The results showed that the interaction between rhizobacteria and AMF did not affect the yield components of potato. The best rhizobacteria isolate was RZ2.L2.1 and 15 g/plant was the best AMF dose for fresh weight of tuber per plant, per plot and per hectare.Keywords: potato, Arbuscular mycorrhiza fungi, rhizobacteria, Solanum tuberosum LABSTRAKProduksi dan produktivitas kentang (Solanum tuberosum L.) di Indonesia secara nasional masih tergolong rendah dibandingkan dengan negara lain. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh interaksi antara jenis rizobakteria dan cendawan mikoriza arbuskula terhadap komponen hasil kentang. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Mikrobiologi, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Sumatera Barat dari bulan Oktober 2017 sampai Maret 2018. Rancangan faktorial dengan 2 (dua) faktor dalam Rancangan Acak Kelompok digunakan dalam penelitian. Faktor pertama adalah isolat rizobakteria (Tanpa rizobakteria, RZ1.L2.4, RZ1.L2.1 dan RZ2.L2.1). Faktor kedua adalah dosis cendawan mikoriza arbuskula (CMA) (5 g/tanaman, 10 g/tanaman dan 15 g/tanaman). Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis rhizobakteria dan dosis CMA tidak berpengaruh terhadap komponen hasil kentang. Isolat rhizobakteria terbaik adalah RZ2.L2.1 dan dosis 15 g/tanaman merupakan dosis CMA terbaik untuk bobot segar umbi per tanaman, per petak dan per hektar.Kata kunci: kentang, cendawan mikoriza arbuskula, rhizobakteria, Solanum tuberosum L
KAJIAN PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SAMPAH KOTA MAKASSAR PADA TANAMAN CABAI (Capsicum annum L) Peter Tandisau; A. Darmawidah A.; Warda ;; Idaryani ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 8, No 3 (2005): November 2005
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v8n3.2005.p%p

Abstract

An assessment aimed to find out the benefit application at organic fertilizer from city garbage on red pepperplanting in lowland-after rice with inceptisols Bajeng-Gowa district, South Sulawesi. The study was carried out fromJune to October 2000. Assessment was set in randomized block design with nine treatments and three replications.Treatments consist to several level of organic fertilizers from city garbage and combination of inorganic and organicfertilizers. Result showed that application of landfill’s organic fertilizer (LOF) and its combination with inorganicfertilizer were useful positively in term of growth and yield improvement of red pepper, as well as increased inincome. Application of 50 kg urea + 100 kg SP-36 + 100 kg KCl + 6,0 t LOF/ha resulted the highest production of redpepper (11,872 kg/ha) with net income of Rp. 33.132.000 and VCR of 3,0. The higher rate application of landfill’sorganic fertilizer, the more benefit would be gained. Application of 10,0 t LOF gave fresh fruit production of 9,616kg/ha, higher than that recommended fertilizer of 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kg KCl / ha (8,706 kg/ha), andyielded net income of Rp. 23.990.000, and VCR of 1,8. Subsequently, application of 50 kg urea + 20 t LOF / ha stillindicated good yield, fresh fruit production reached was 7,618 kg/ha, with net income of Rp. 22.443.000 / ha, andVCR of 2,5. Recommended fertilizer on red pepper planting in low land after rice with Inceptisols Soil in Bajeng was50 kg Urea + 2-6 t OF TPA/ha.Key words : garbage, organic fertilizers, wetland, Capsicum annum L., South Sulawesi Suatu kajian yang bertujuan untuk melihat manfaat penggunaan pupuk organik sampah dari tempatpembuangan akhir (TPA) pada tanaman cabai telah dilakukan di lahan sawah sesudah padi, pada tanah InceptisolBajeng, Gowa, Sulawesi Selatan. Kajian berlangsung bulan Juni sampai dengan Oktober 2000. Kajian disusunmenurut Rancangan Acak Kelompok dengan sembilan perlakuan dan tiga ulangan (petani representatif dari ulangan).Perlakuan terdiri dari berbagai takaran pupuk organik sampah TPA dengan kombinasi pupuk anorganik dan organik.Hasil kajian menunjukkan bahwa aplikasi pupuk organik (PO) TPA dan kombinasinya dengan pupuk anorganikpositif terhadap perbaikan pertumbuhan dan hasil cabai, serta pendapatan. Penggunaan 50 kg urea + 100 kg SP-36 +100 kg KCl + 6,0 t PO TPA tunggal menghasilkan produksi cabai tertinggi (11.872 kg/ha) dengan keuntungan sebesarRp. 33.132.000 dan VCR 3,0. Aplikasi 10 t PO TPA/ha menghasilkan produksi buah segar 9.616 kg/ha, lebih tinggidaripada hasil yang diperoleh dengan penggunaan paket pupuk rekomendasi, 150 kg urea + 150 kg SP-36 + 150 kgKCl/ha (8.706 kg/ha), dengan tingkat keuntungan Rp. 23.990.000, dan nilai VCR sebesar 1,8. Selanjutnya, aplikasi 50kg urea + 2,0 t PO TPA/ha mampu memberi hasil yang cukup menggembirakan, produksi buah segar sebanyak 7.618kg/ha, keuntungan sebesar Rp. 22.443.000 /ha, dan nilai VCR 2,5. Rekomendasi pemupukan pada cabai yangdiharapkan dapat bermanfaat sebesar-besarnya bagi petani adalah 50 kg Urea + 2-6 t PO TPA/ha.Kata kunci : sampah, pupuk organik, lahan sawah, cabai, Sulawesi Selatan
STUDI PERTUMBUHAN BEBERAPA ISOLAT JAMUR TIRAM (Pleurotus spp.) PADA BERBAGAI MEDIA BERLIGNIN Achmad ;; Elis Nina Herliyana; Wartaka ;
Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian Vol 11, No 3 (2008): November 2008
Publisher : Balai Besar Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpptp.v11n3.2008.p%p

Abstract

The Growth Study of Some Oyster Mushroom (Pleurotus spp.) Isolates on Some Ligneous Media. Research to study the growth of some pleurotus isolates on some ligneous media were conducted at Forest Pathology Laboratory, Faculty of Forestry and Biological Science Study Center, Bogor Agricultural University in September 2004 to March 2005. Substances which used were Pleurotus sp.l, Pleurotus sp.6, and Pleurotus sp.8 from Forest Pathology laboratory collection, PDA, MEA, MPA, some natural lignin source to be added to the commercial media. Optimum media for Pleurotus sp.1 is PDA, MEA + bamboo apus dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. Pleurotus sp.6 grow best at MPA, MEA + paddy straw dust, and Glenn and Gold modification + paddy straw dust. Optimum media for Pleurotus sp.8 is MPA, MBA + paddy straw dust added media, MEA + paddy hay dust, and Glenn and Gold modification + sengon wood dust. The difference of colony growth is caused by isolate and nutrition of each growth media. Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.8 known produce lyses zone at media which contain lignin source. Lyses zone caused by existence of extrasellular enzyme which secreted by mushroom hype to degrade lignin. All mycellium dry weight of Pleurotus spp. isolat that is given wobble is higher than don't given. Mycellium dry weight from high to low showed by Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6 and Pleurotus sp.l. The difference of colony growth caused by isolat and nutrition of each growth media. Lysis zone at media with lignin source caused by extracellular enzyme activity to degradate lignin source as their nutrition. The difference of mycellium dry weight at both treatment is caused by the response to oxygen in the liquid media. Key words: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, bamboo dust, sengon wood dust, Glenn & Gold, modification. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan koloni beberapa isolat jamur tiram (Pleurotus spp.) yang dikulturkan pada berbagai media dengan sumber lignin alami, dilakukan dan bulan September 2004 sampai Maret 2005, bertempat di Laboratorium Penyakit Hutan, Fakultas Kehutanan, dan Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Studi Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Bahan yang digunakan adalah Pleurotus sp.1, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.8, MEA, MPA, PDA, dan beberapa macam sumber lignin alami yang ditambahkan pada tiga media komersial tersebut. Pleurotus sp.l tumbuh terbaik pada media PDA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk bambu apus. Pleurotus sp.6 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk jerami padi, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Isolat Pleurotus sp.8 tumbuh terbaik pada media MPA, MEA + serbuk kayu sengon, serta media modifikasi Glenn dan Gold + serbuk jerami padi. Pleurotus sp.6 dan Pleurotus sp.8 menghasilkan zona lisis berbentuk lingkaran coklat kekuningan pada media yang ditambah sumber lignin alami. Bobot kering miselia Pleurotus spp. pada media malt ekstrak cair yang ditambah serbuk jerami padi atau serbuk kayu sengon dengan diberi penggoyangan, lebih tinggi dibanding dengan Pleurotus spp. pada media yang sama tanpa diberi penggoyangan. Bobot kering miselia tertinggi sampai terendah berturut-turut ditunjukkan oleh Pleurotus sp.8, Pleurotus sp.6, dan Pleurotus sp.1 . Kata kunci: Pleurotus spp, PDA, MEA, MPA, serbuk bambu, serbuk kayu sengon, modifikasi Glenn dan Gold

Page 1 of 64 | Total Record : 634


Filter by Year

2003 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 24, No 3 (2021): Desember 2021 Vol 24, No 2 (2021): Juli 2021 Vol 24, No 1 (2021): Maret 2021 Vol 23, No 3 (2020): November 2020 Vol 23, No 2 (2020): Juli 2020 Vol 23, No 1 (2020): Maret 2020 Vol 22, No 3 (2019): November 2019 Vol 22, No 2 (2019): Juli 2019 Vol 22, No 1 (2019): Maret 2019 Vol 21, No 3 (2018): November 2018 Vol 21, No 2 (2018): Juli 2018 Vol 21, No 1 (2018): Maret 2018 Vol 20, No 3 (2017): November 2017 Vol 20, No 2 (2017): Juli 2017 Vol 20, No 1 (2017): Maret 2017 Vol 19, No 3 (2016): November 2016 Vol 19, No 2 (2016): Juli 2016 Vol 19, No 1 (2016): Maret 2016 Vol 18, No 3 (2015): November 2015 Vol 18, No 2 (2015): Juli 2015 Vol 18, No 1 (2015): Maret 2015 Vol 17, No 3 (2014): November 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 17, No 2 (2014): Juli 2014 Vol 17, No 1 (2014): Maret 2014 Vol 16, No.1 (2013): Maret 2013 Vol 16, No 3 (2013): November 2013 Vol 16, No 2 (2013): Juli 2013 Vol 15, No 2 (2012): Juli 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 15, No 1 (2012): Maret 2012 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 14, No 3 (2011): November 2011 Vol 14, No 2 (2011): Juli 2011 Vol 14, No 1 (2011): Maret 2011 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 13, No 3 (2010): November 2010 Vol 13, No 2 (2010): Juli 2010 Vol 13, No 1 (2010): Maret 2010 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 12, No 3 (2009): November 2009 Vol 12, No 2 (2009): Juli 2009 Vol 12, No 1 (2009): Maret 2009 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 11, No 3 (2008): November 2008 Vol 11, No 2 (2008): Juli 2008 Vol 11, No 1 (2008): Maret 2008 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 10, No 3 (2007): November 2007 Vol 10, No 2 (2007): Juli 2007 Vol 10, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 8, No 3 (2005): November 2005 Vol 8, No 2 (2005): Juli 2005 Vol 8, No 1 (2005): Maret 2005 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 7, No 2 (2004): Juli 2004 Vol 7, No 1 (2004): Januari 2004 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 Vol 6, No 2 (2003): Juli 2003 Vol 6, No 1 (2003): Januari 2003 More Issue