cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Arjuna Subject : -
Articles 1,063 Documents
Determining Hazard Area Wijatmiko, Indradi
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1613.004 KB)

Abstract

It has been known that Kyushu island is valnurable against tsunami, therefore several strategies need to be cleared in order to protect against casualities.
PENGARUH VARIASI PANJANG LAPISAN DAN JARAK VERTIKAL ANTAR GEOTEKSTIL TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI MENERUS PADA PEMODELAN LERENG PASIR KEPADATAN RELATIF 74% Suroso, Yosephine Diajeng Janur Prasasti, As’ad Munawir,; Munawir, As’ad; Suroso, Suroso
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (529.401 KB)

Abstract

Dewasa ini, dengan tuntutan pembangunan yang semakin bertambah dan harus terus berjalan seiring dengan perkembangan jaman, menyebabkan penggunaan tanah yang kurang baik pun mulai dilakukan. Salah satunya adalah penggunaan lahan lereng yang digunakan untuk bangunan tempat tinggal penduduk. Oleh karena itu, perlu diadakan suatu inovasi secara signifikan dalam suatu teknologi konstruksi terutama yang dapat meningkatkan daya dukung tanah secara signifikan. Salah satunya adalah dengan diadakan perkuatan tanah (reinforced soil dengan menggunakan perkuatan geosintetik dengan salah satu jenisnya, yaitu geotekstil. Pada penelitian ini dipakai model test dengan ukuran panjang 1,50 m, lebar 1,0 m dan tinggi 1,0 m. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui lokasi pemasangan geotekstil yang maksimum pada saat jarak pondasi ke tepi lereng 12 cm dengan jumlah geotekstil 3 buah, dimana panjang lapisan geotekstil dipasang dengan tiga variasi berbeda dan dengan melakukan variasi jarak vertikal antarlapis geotekstil dengan tiga variasi berbeda pula. Hasil dari penambahan perkuatan geotekstil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa model lereng mengalami peningkatan daya dukung secara signifikan. Dimana lokasi terbaik perkuatan geotekstil adalah pada pemasangan panjang dengan rasio L/H 0,59 dan Sv/H 0,15. Berdasarkan pengujian ini dapat disimpulkan bahwa semakin rapat jarak antar geotekstil, maka penambahan daya dukung semakin
ANALISIS KEAMANAN JEMBATAN RANGKA BAJA SOEKARNO – HATTA MALANG DITINJAU DARI ASPEK KESEHATAN, TEGANGAN PELAT BUHUL, DAN SIMULASI KEBAKARAN Sugeng P. Budio, Roland Martin S., Maulana Derry Imansyah, Faris Haqqul Anwar,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.109 KB)

Abstract

Salah satu jalur pergerakan transportasi yang patut menjadi perhatian di Kota Malang adalah Jembatan Rangka Baja Soekarno-Hatta, yang merupakan akses utama pengguna jalan menuju ke area pendidikan dan ke arah kota wisata Batu. Jembatan ini dirasa telah mengalami penurunan kualitas. Dalam penelitian ini, pembahasan dalam difokuskan kepada analisis kesehatan jembatan, kondisi pelat buhul akibat distribusi tegangan yang terjadi, dan kondisi jembatan akibat beban termal. Setelah dilakukan uji Rebound Hammer didapatkan nilai karakteristik sebesar 277,66 kg/cm² dan nilai rebound sebesar 46,79. UPV menunjukkan kualitas beton yang rendah (kecepatan gelombang 1633,6 m/s < 3000 m/s). Pada analisis tegangan pelat buhul, perbedaan antara kondisi ideal dan eksisting sangat jelas. Konsentrasi tegangan pada kondisi ideal tidak melebihi tegangan leleh, sedangkan pada kondisi eksisting konsentrasi tegangan melebihi tegangan leleh. Pada analisis kebakaran di atas jembatan, ketika terjadi kebakaran di tengah bentang, total waktu yang dibutuhkan sampai tegangan batang diagonal mencapai leleh adalah setelah menit ke 18.90 (1134 s) dan mencapai titik putus pada menit ke 19.23 (1154 s). Sedangkan, ketika terjadi kebakaran pada bagian pinggir bentang, waktu yang dibutuhkan jembatan untuk mencapai leleh adalah setelah menit ke 15.81 (949 s), dan pada menit ke 17.95 (1077 s) tegangan batang diagonal mencapai titik putus. Kata Kunci: Jembatan Soekarno-Hatta Malang, Keamanan, Kesehatan, Tegangan Pelat Buhul, Analisis Kebakaran.
ANALISIS KEMAMPUAN LAYAN JEMBATAN RANGKA BAJA SOEKARNO – HATTA MALANG DITINJAU DARI ASPEK GETARAN, LENDUTAN DAN USIA FATIK Ari Wibowo, Indradi Wijatmiko, Sarjono Anwar Ardhi, Tri Cahyo Utomo,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.57 KB)

Abstract

Dalam perencanaan berdasarkan batas layan (PBL), beberapa hal yang perlu dievaluasi untuk mengetahui tingkat batas layan Jembatan Soekarno-Hatta: deformasi permanen dari komponen struktur jembatan, vibrasi yang terjadi sehingga menimbulkan instabilitas struktural, bahaya permanen termasuk korosi dan fatik yang mengurangi kekuatan struktur dan umur layan jembatan. Ditinjau dari aspek getaran, dari penelitian didapatkan frekuensi natural aktual jembatan sebesar 2,184 Hz pada mode pertama, dan 3,325 Hz pada mode kedua , sedangkan frekuensi natural teoritis jembatan sebesar 3,479 Hz pada mode pertama dengan tingkat partisipasi sebesar 78,2 % arah sumbu y. Dari nilai frekuensi natural tersebut, kondisi jembatan dapat dievaluasi dalam 2 penilaian. Penilaian pertama berdasarkan besar penurunan kapasitas jembatan dengan kesimpulan bahwa Jembatan Soekarno-Hatta bentang 60 meter tergolong pada nilai kondisi buruk dengan jenis kerusakan berat/struktural (Drel: 37,22%; Dkap: 60,58%), pada penilaian kedua berdasarkan nilai perbedaan frekuensi ∆f alami terukur dengan frekuensi alami teoritis, jembatan tergolong pada kondisi kurang dimana telah terjadi retak struktural (∆f: 1,295 Hz). Ditinjau dari aspek lendutan, jembatan sudah tidak memenuhi syarat. Karena lendutan statis atau lendutan yang terjadi dari kondisi awal jembatan setelah selesai dibangun hingga saat penelitian terakhir telah jauh melebihi syarat batas lendutan sebesar 6 cm dan telah terjadi lendutan permanen (∆: 20,8 cm). Ditinjau dari aspek usia fatik, sisa usia fatik jembatan adalah 14,206  tahun, dan sudah jauh melewati batas usia fatiknya yang direncanakan hanya 25 tahun.   Kata Kunci : Jembatan Soekarno-Hatta Malang, Batas Layan, Getaran, Lendutan, Usia Fatik.
PENGARUH POSISI DAN BESAR BEBAN TERHADAP DEFLEKSI DAN REGANGAN PADA GELAGAR INDUK RANGKA JEMBATAN BETON TULANGAN BAMBU Sri Murni Dewi, Sugeng P. Budio, Dara Zam Chairyah,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.538 KB)

Abstract

Saat ini telah banyak penelitian yang dilakukan mengenai potensi bambu sebagai salah satu alternatif pengganti tulangan baja dimana bambu juga memiliki kuat tarik yang cukup tinggi. Oleh karena itu penulis mencoba menggunakan bambu sebagai tulangan pada jembatan beton. Untuk mengertahui pengaruh posisi beban dan besar beban terhadap defleksi dan regangan pada gelagar induk rangka jembatan beton dengan tulangan bambu dilakukan pengujian pada jembatan. Pada penelitian ini, digunakan sebuah benda uji berupa jembatan beton tulangan bambu dengan gelagar induk berupa rangka. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap defleksi dan regangan pada rangka, dilakukan pemasangan LVDT pada 2 titik buhul pada salah satu rangka dan dilakukan pula pemasangan strain gauge yang sebelumnya telah ditanam pada tulangan bambu pada 3 buah batang rangka. Pemberian beban dilakukan secara bertahap yaitu diawali dengan beban 50kg/m, 100kg/m kemudian 150 kg/m. Pada setiap pembebanan, beban diletakkkan secara bertahap pada 5 posisi  yang telah ditentukan pada bentang jembatan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi terhadap defleksi dan regangan yang terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang terjadi akibat besar dan posisi beban terhadap defleksi dan regangan yang terjadi pada gelagar induk rangka jembatan beton tulangan bambu. Kata Kunci: Posisi Beban, Besar Beban, Defleksi, Regangan, Rangka
PENGARUH BESAR DAN POSISI BEBAN TERHADAP MOMEN, DEFLEKSI DAN REGANGAN PADA BALOK MELINTANG JEMBATAN KOMPOSIT BAMBU Sri Murni Dewi, Hendro Suseno, Tatang Fendy Harianto,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (589.125 KB)

Abstract

Potensi bambu sebagai salah satu material yang memiliki kuat tarik sejajar serat yang cukup tinggi, diharapkan dapat menjadi material alternatif pengganti tulangan baja. Hal tersebut membuat banyak dilakukannya penelitian terhadap material bambu. Penulis juga tertarik untuk meneliti penggunaan bambu sebagai tulangan pada struktur jembatan rangka beton. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh besar dan posisi beban terhadap momen, defleksi dan regangan pada balok melintang jembatan komposit bambu dengan melakukan pengujian langsung pada jembatan. Pada penelitian ini, digunakan sebuah benda uji berupa jembatan komposit bambu dengan gelagar induk berupa rangka. Untuk mengetahui pengaruhnya terhadap momen, defleksi dan regangan pada balok melintang, dilakukan pemasangan LVDT pada 6 titik sesuai dengan perencanaan dan pemasangan strain gauge pada tulangan bambu yang terdapat pada 2 buah balok. Pemberian beban dilakukan secara bertahap yaitu diawali dengan beban garis 50kg/m, 100kg/m kemudian 150 kg/m. Pada setiap pembebanan, beban diletakkkan secara bertahap pada 5 posisi  yang telah ditentukan pada bentang jembatan. Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh posisi terhadap momen, defleksi dan regangan yang terjadi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh yang terjadi akibat besar dan posisi beban terhadap momen, defleksi dan regangan yang terjadi pada balok melintang jembatan komposit bambu. Pemodelan struktur terhadap titik hubung antara balok melintang dan gelagar induk pada jembatan komposit bambu dapat dipertimbangkan dengan pemodelan tumpuan jepit-jepit, tetapi juga dapat dimodelkan dengan tumpuan sendi-sendi.   Kata Kunci : Balok, Pemodelan Struktur, Momen, Defleksi, dan Regangan
STUDI KOMPARASI PERENCANAAN GEDUNG TAHAN GEMPA DENGAN MENGGUNAKAN SNI 03-1726-2002 DAN SNI 03-1726-2012 Ari Wibowo , Devi Nuralinah, Desinta Nur Lailasari,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (610.502 KB)

Abstract

Beberapa tahun ini, Indonesia sering dikejutkan dengan berbagai macam bencana alam, terutama gempa. Hal ini terjadi karena Indonesia berada di kawasan Pasific Ring Of Fire. Kedatangan gempa tidak dapat diprediksi secara pasti tempat dan waktunya, oleh sebab itu, harus ada sistem pemberitahuan dini terhadap bahaya gempa dan pengantisipasian dengan pembangunan gedung tahan gempa agar tidak memakan korban jiwa. Di Indonesia terdapat standar kegempaan SNI 03-1726-2002. Seiring berjalannya waktu dan teknologi, maka dilakukan pembaharuan dengan disusunnya SNI 03-1726-2012 sebagai standar kegempaan yang baru. Dengan adanya SNI 03-1726-2012 maka dilakukan analisis perbandingan seberapa besar perubahannya dari standar kegempaan yang lama. Agar bisa mengetahui seberapa efektif dalam penggunaan standar tersebut pada perencanaan gedung tahan gempa. Tujuan  dari penulisan tugas akhir ini adalah untuk mengetahui perbedaan beban gempa antara SNI 2002 dengan SNI 2012, mengetahui perbedaan hasil analisis gempa statis linier antara SNI 2002 dengan SNI 2012, dan mengetahui perbedaan hasil analisis gempa dinamis linier antara SNI 2002 dengan SNI 2012. Proses analisis menggunakan model gedung 4 lantai untuk analisis gempa statis linier dan model gedung 10 lantai untuk analisis gempa dinamis linier. Zona wilayah gempa adalah zona kota Malang dengan jenis tanah keras. Dari hasil analisis dan komparasi dapat disimpulkan beban gempa dipengaruhi oleh faktor respons gempa. Pada SNI 2012 memiliki faktor respon gempa dan kombinasi pembebanan lebih besar daripada SNI 2002. Hasil komparasi analisis gempa statis linier dengan menggunakan analisis statik ekivalen gaya geser nominal dan simpangan antarlantai SNI 2012 lebih besar daripada SNI 2002 yaitu 13,84% dan 48,37%. Sedangkan hasil komparasi analisis gempa dinamis linier dengan menggunakan analisis spektrum respons ragam metode CQC gaya geser nominal dan simpangan antarlantai SNI 2012 lebih besar daripada SNI 2002 yaitu 48,56% dan 80,18%. Kata kunci : SNI 03-1726-2002, SNI 03-1726-2012, gaya geser nominal, simpangan antarlantai.
Pengaruh Variasi Jarak Celah Antar Elemen Bata Beton Bertulang Terhadap Kuat Lentur Dinding Bercelah Sri Murni Dewi, Ristinah Syamsudin, Alfin Suprayugo,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suatu sistem inovatif berupa dinding bercelah bata beton bertulang dengan grouting bertulang. Dinding bercelah merupakan dinding pasangan bata beton bertulang berlubang, disusun bersama mortar dengan cara digrouting dengan diberi tulangan grouting. Dinding bercelah mampu untuk mengalirkan air secara dua arah dan berfungsi sebagai dinding penahan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk memverifikasi kuat lentur dinding bercelah dengan perbedaan jarak celah siar vertikal antar elemen bata beton bertulang. Dinding bercelah dibuat dengan variasi jarak celah 1 cm, 1.5 cm dan 2 cm. Pengujian lentur diwujudkan dengan beban out-of-plane dan dilakukan dua tipe arah pembebanan, beban garis tegak lurus siar horizontal dan beban garis sejajar siar horizontal. Aspek yang dibahas dalam penelitian ini terkait dengan keseluruhan sistem dinding meliputi kuat lentur, momen, lendutan, daktilitas dan kekakuan. Juga ditinjau mengenai pola retak yang terjadi pada dinding. Hasil eksperimen mengindikasikan bahwa variasi jarak celah pada dinding bercelah tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap keseluruhan sistem dinding ketika mengalami beban garis tegak lurus siar horizontal maupun pada beban garis sejajar siar horizontal. Baik arah tegak lurus maupun sejajar siar horizontal, dinding mampu mencapai daktilitas dan kekakuan yang sangat baik. Ketiga variasi celah pada dinding, dengan pembebanan beban garis tegak lurus siar horizontal, mengalami retak diawali pada bagian bata beton tanpa retak pada koneksi antarbata. Ketiga variasi celah pada dinding, dengan pembebanan beban garis sejajar siar horizontal, mengalami retak lekatan mortar dengan bata pada siar horizontal, dan tidak didapati retak pada bata beton. Kata kunci: Dinding pasangan, bata beton bertulang, grouting bertulang, model desain, kuat lentur, out-of-plane
ENERGI FRAKTUR BETON DENGAN KERUNTUHAN KUASI-REGAS BERDASARKAN MODEL RETAK FIKTIF FUNGSI BI-LINIER Patty, Agnes H.; Sugiarti, Sugiarti
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (29.484 KB)

Abstract

Pengujian fraktur dilakukan terhadap balok beton polos dengan kuat tekan rencana 30 MPa, merujuk pada RILEM Technical Committee 50-FMC di bawah displacement control dengan menggunakan close-loop testing machine. Response pasca puncak yang bersifat non-linier dimodelkan menurut kurva bi-linier yang direkomendasikan oleh CEB-FIP Model Code 1990 (MC 90). Dengan mengaplikasikan prinsip J-integral pada kurva ‘Load-CMOD’, bukaan retak kritis w ditentukan. Energi fraktur yang dihasilkan secara empiris berdasarkan rekomendasi MC 90, dimana kuat tekan adalah variabelnya, bernilai sekitar 50% dari nilai yang dianalisis dengan menggunakan fungsi bi-linier, sebuah nilai yang memenuhi konsep J-integral untuk linear elastic fracture mechanics (LEFM). Verifikasi dilakukan terhadap hasil pengujian fraktur dengan pemodelan Round-Robin Test. Hasil akhir adalah, energy fraktur secara empiris berdasarkan kuat tekan adalah 184 N/m ,berdasarkan fungsi bi-linier 188 N/m, dan 194 N/m untuk Round-Robin Test.Kata kunci: mekanika fraktur, retak fiktif, J-integral
PENGARUH VARIASI PANJANG DAN JUMLAH LAPISAN GEOTEKSTIL DENGAN PERBANDINGAN JARAK PONDASI KE TEPI LERENG DAN LEBAR PONDASI 1,5 TERHADAP DAYA DUKUNG PONDASI PADA PEMODELAN FISIK LERENG PASIR KEPADATAN 74% As’ad Munawir, Widodo Suyadi, Frury Firdana Rizki,
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol 1, No 1 (2014)
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.974 KB)

Abstract

Pembangunan struktur pondasi di atas lereng mampu mengakibatkan penurunan nilai daya dukung yang notabene nilai daya dukung di lereng lebih kecil dibandingkan nilai daya dukung di tanah datar. Oleh karena itu perlu adanya perkuatan lereng berupa geotekstil untuk meningkatkan nilai daya dukung. Analisa perkuatan dilakukan pada tanah pasir dengan kepadatan 74% yang diberi variasi perkuatan satu lapis, dua lapis, dan tiga lapis serta variasi panjang perkuatan sebesar 0,45H, 0,52H, dan 0,59H. Hasil yang didapatkan semakin panjang perkuatan dan banyak jumlah lapisan maka nilai daya dukung akan semakin meningkat yang dibuktikan dengan nilai BCI(u) sebesar 2,69466. Kata kunci: perkuatan, daya dukung, BCI

Page 1 of 107 | Total Record : 1063