cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 43, No 1 (2005)" : 14 Documents clear
Bediuzzaman Said Nursi and The Sufi Tradition Machasin, M.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.1-21

Abstract

Berbicara tentang pribadi dan pemikiran Bediuzzaman Said Nursi, artikel ini dimaksudkan untuk mengungkap jati diri tokoh sufi modern dari Turki ini. Analisis diawali dengan melihat ajaran dasar sang tokoh bahwa sufisme di satu sisi masih merupakan sesuatu yang penting bagi seorang muslim, tetapi di sisi lain juga sangat mudah menjadikan keimanan seseorang mengarah pada titik yang salah. Meskipun tidak semuanya, ada beberapa praktek dan tradisi sufisme yang tidak benar dan tidak lagi cocok untuk diamalkan pada masa Said Nursi hidup, bahkan mungkin juga pada masa sekarang. Terkait dengan hal ini, Nursi menawarkan satu alternatif yang menurutnya didasarkan pada al-Quran dalam meniti jalan sufisme, tanpa menafikan adanya cara-cara yang lainnya. Alternatif yang disebutnya sebagai Haqiqa, cara a la Risalat al-Nur, ini terdiri dari empat langkah, bukan tujuh atau pun sepuluh langkah sebagaimana umumnya dalam ajaran sufisme: al-` ajz, al-faqr, al-shafaqa, dan al-tafakkur. Di samping itu bagi Nursi, Sufisme harus dipraktekkan dalam bingkai dan tanpa meninggalkan shari`a karena shar`a bukanlah sisi luar dari Islam, tetapi merupakan satu sistem utuh yang mencakup inner dan sekaligus outer aspect dari Islam. Artikel ini juga melihat jejak-jejak pengaruh pemikiran tokoh-tokoh besar sufi dalam pemikiran Nursi, seperti Abu Hamidal-Ghazali, Abd al-Qadir al-Jilani, dan Ahmad Rabbani al-Sirhindi.
The Re-actualization of Islamic Law: Munawir Sjadzali and the Politics of Islamic Legal Interpretation under the New Order Indonesia Sembodo, Cipto
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.99-129

Abstract

Artikel ini mendiskusikan reaktualiasi hukum Islam di Indonesia, gagasan, posisi, dan peran sosial politik Munawir Sjadzali dalam perpolitikan Orde Baru, serta pengaruhnya terhadap bentuk dan isi hukum Islam. Setelah deskripsi tentang latar belakang kehidupan, karier serta pencarian intelektual Munawir, didiskusikan gagasan reaktualisasi dan polemik yang menyertainya. Penulis berargumen bahwa persoalan metodologilah yang sesungguhnya menyulut perdebatan. Keberatan banyak pihak tertuju pada lemahnya dasar metodologis gagasan reaktualisasi yang ingin melampaui batasan tafsir teks tradisional. Di samping itu, debat publik ini juga menggambarkan adanya perubahan dan penyebaran otoritas keagamaan dalam hukum Islam. Sebagai akibatnya, hukum Islam tidak lagi menjadi monopoli kaum agamawan yang secara tradisional disebut ulama. Kini, ia direformulasi oleh organ-organ negara melalui legislasi aturan-aturan Islam, para hakim dan institusi peradilannya.
Editorial: Re-actualization in Needs
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.vii

Abstract

It seems that redefinition of Islamic fields is a must. This is due to the fact that the Islamic fields require re-actualization, so that they will be beneficial not only for Muslim themselves, but also for non- Muslim. The former group can exercise it for their recent needs, meanwhile the latter may benefit from their re-actualized spirit for their own purposes. However, the efforts of the redefinition are not without barriers. It is often that its doers are claimed as liberal or even as apostate Muslims, although they based their redefinitions on reliable Islamic references. Nevertheless, destructive criticism has not weakened their spirit to deal with it. They have even been more eager to conduct it.
Kritik terhadap Eksistensialisme Ateistik tentang Penolakan Eksistensi Tuhan Roswantoro, Alim
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.207-239

Abstract

The article describes the atheist existentialists’ concept of God, arguments of taking away God, and then tries to criticize their concepts and arguments. General account on existentialists’ concept of God, which is represented in Nietzsche’s statement on the death of God, begins the paper. The following part is about arguments in denying the existence of God, followed by some critiques of them. The criticism of Muhammad Iqbal, who is a Muslim existentialist, on atheistic existentialistic concept of God ends the thoroughly paper. The result of this research is that atheist existentialists understand God in anthropomorphic explanation; the relation between God and human is identical with that of human and human. Even though they denied the existence of God with the reason of determinism, their arguments implied a new determinism, and the freedom they struggled indicated pseudo freedom.
Bediuzzaman Said Nursi and The Sufi Tradition Machasin, M.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.1-21

Abstract

Berbicara tentang pribadi dan pemikiran Bediuzzaman Said Nursi, artikel ini dimaksudkan untuk mengungkap jati diri tokoh sufi modern dari Turki ini. Analisis diawali dengan melihat ajaran dasar sang tokoh bahwa sufisme di satu sisi masih merupakan sesuatu yang penting bagi seorang muslim, tetapi di sisi lain juga sangat mudah menjadikan keimanan seseorang mengarah pada titik yang salah. Meskipun tidak semuanya, ada beberapa praktek dan tradisi sufisme yang tidak benar dan tidak lagi cocok untuk diamalkan pada masa Said Nursi hidup, bahkan mungkin juga pada masa sekarang. Terkait dengan hal ini, Nursi menawarkan satu alternatif yang menurutnya didasarkan pada al-Quran dalam meniti jalan sufisme, tanpa menafikan adanya cara-cara yang lainnya. Alternatif yang disebutnya sebagai Haqiqa, cara a la Risalat al-Nur, ini terdiri dari empat langkah, bukan tujuh atau pun sepuluh langkah sebagaimana umumnya dalam ajaran sufisme: al-` ajz, al-faqr, al-shafaqa, dan al-tafakkur. Di samping itu bagi Nursi, Sufisme harus dipraktekkan dalam bingkai dan tanpa meninggalkan shari`a karena shar`a bukanlah sisi luar dari Islam, tetapi merupakan satu sistem utuh yang mencakup inner dan sekaligus outer aspect dari Islam. Artikel ini juga melihat jejak-jejak pengaruh pemikiran tokoh-tokoh besar sufi dalam pemikiran Nursi, seperti Abu Hamidal-Ghazali, Abd al-Qadir al-Jilani, dan Ahmad Rabbani al-Sirhindi.
Book Review: Syi‘ah dan Wacana Perubahan Mushaf al-Quran, Tahrif al-Qur’an Setiawan, M. Nur Kholis
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.241-254

Abstract

Dalam tradisi Sunni, perbincangan tentang sejarah teks al-Quran nyaris tidak menimbulkan gejolak yang berarti, mengingat historiografi dan tradisi periwayatan dalam sekte ini tidak menimbulkan persoalan serius, alias telah diresepsi sebagai sesuatu yang taken for granted. Sementara, hal yang sama tidak terjadi dalam sekte lain, khususnya Syi‘ah, bahkan keberadaan mushaf ‘Uthmānī masih tidak lepas dari kritik otentisitas serta banyak kecurigaan terhadap peran khalifah ‘Uthma>n dalam penyeragaman mushaf, meskipun sampai sekarang ini masih berlaku di mayoritas dunia muslim.
Modernization of Education in the Late Ottoman Empire Khuluq, Lathiful
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.23-55

Abstract

Artikel ini berbicara tentang fenomena modernisasi dan westernisasi pendidikan di Turki Usmani yang berpuncak pada era tanzimat pada abad ke-19. Uraian tentang kondisi pendidikan agama tradisional yang dikenal dengan istilah medrese menjelang pemberlakuan program modernisasi pendidikan mengawali tulisan ini sekaligus sebagai latar belakang tulisan ini secara keseluruhan. Bagian ini juga membahas beberapa model lembaga pendidikan tradisional. Beberapa faktor pendorong modernisasi pendidikan dibahas di bagian selanjutnya, baik yang terkait dengan kondisi keterpurukan Turki Usmani dalam bidang militer, politik, sosial, maupun pendidikan itu sendiri. Bagian terakhir berbicara tentang proses modernisasi pendidikan di Turki Usmani, yang dimulai dari sektor militer sebagai program pendidikan untuk mendukung kebutuhan pengembangan kemiliteran. Lembaga pendidikan sipil yang dibentuk pertama dalam kerangka modernisasi pendidikan antara lain adalah sekolah kesehatan dan teknik. Dalam bagian ini juga dibahas tentang hal-hal yang menyertai proses modernisasi tersebut, termasuk faktor-faktor penghambatnya.
Muslim Libraries in History Laugu, Nurdin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.57-97

Abstract

Secara historis, perpustakaan Islam telah memberikan banyak kontribusi dalam sejarah perkembangan peradaban dan ilmu pengetahuan, khususnya di kalangan ummat Islam. Isu perpustakaan Islam yang sangat menarik dan bahkan kontroversial dalam perjalanan sejarah Islam adalah, misalnya, eksistensi dan kejayaan perpustakaan Bayt al-Hikmah di Baghdad pada abad II Hijriyyah. Selain itu, perlu dicatat bahwa fenomena semacam ini banyak ditemukan dalam literatur-literatur wacana perpustakaan Islam. Isu yang menarik pula adalah kemunculan perpustakaan Muslim telah berbasis dari awal pembentukan masyarakat Islam, misalnya penyediaan koleksi-koleksi al-Quran di masjid dan mushalla serta tempat ibadah lainnya. Tulisan ini mencoba menelusuri dan membangun tipologi perpustakaan Muslim dan menjajaki isu-isu kemunculan dan perkembangan sampai stagnasinya. Wacana pertama yang disodorkan adalah asal-usul perpustakaan Islam, yang bertujuan untuk melihat sejauh mana perpustakaan mengalami perkembangan dan kemajuan dalam masyarakat Islam. Pembahasan selanjutnya mengenai temuan-temuan dari beragam literatur tentang perpustakaan di kalangan masyarakat Islam untuk membangun tipologi perpustakaan Muslim yang dianggap merepresentasikan jenis-jenis perpustakaan Muslim dalam sejarah perkembangan Islam. Terakhir adalah wacana yang mencoba untuk mengeksplorasi proses stagnasi dan bahkan keruntuhan perpustakaan Islam.
Kritik terhadap Eksistensialisme Ateistik tentang Penolakan Eksistensi Tuhan Roswantoro, Alim
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.207-239

Abstract

The article describes the atheist existentialists’ concept of God, arguments of taking away God, and then tries to criticize their concepts and arguments. General account on existentialists’ concept of God, which is represented in Nietzsche’s statement on the death of God, begins the paper. The following part is about arguments in denying the existence of God, followed by some critiques of them. The criticism of Muhammad Iqbal, who is a Muslim existentialist, on atheistic existentialistic concept of God ends the thoroughly paper. The result of this research is that atheist existentialists understand God in anthropomorphic explanation; the relation between God and human is identical with that of human and human. Even though they denied the existence of God with the reason of determinism, their arguments implied a new determinism, and the freedom they struggled indicated pseudo freedom.
Book Review: Syi‘ah dan Wacana Perubahan Mushaf al-Quran, Tahrif al-Qur’an Setiawan, M. Nur Kholis
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 1 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.431.241-254

Abstract

Dalam tradisi Sunni, perbincangan tentang sejarah teks al-Quran nyaris tidak menimbulkan gejolak yang berarti, mengingat historiografi dan tradisi periwayatan dalam sekte ini tidak menimbulkan persoalan serius, alias telah diresepsi sebagai sesuatu yang taken for granted. Sementara, hal yang sama tidak terjadi dalam sekte lain, khususnya Syi‘ah, bahkan keberadaan mushaf ‘Uthmānī masih tidak lepas dari kritik otentisitas serta banyak kecurigaan terhadap peran khalifah ‘Uthma>n dalam penyeragaman mushaf, meskipun sampai sekarang ini masih berlaku di mayoritas dunia muslim.

Page 1 of 2 | Total Record : 14


Filter by Year

2005 2005