cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 36, No 62 (1998)" : 11 Documents clear
Al-Qawā’id Al-Fiqhiyyah dalam Persepektif Hukum Islam Said Aqil. H Al-Munawwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.95-114

Abstract

As can be seen from the title, this article is trying to disclose al-qawā'id al-fiqhiyyah (legal maxims) as a means to ease the process of legal finding in Islamic law. By using both linguistic and legal approaches, Muslim jurists, at the outset were trying to build certain legal thinking framework which can be used as a basis for creating law for new cases whose solution cannot be found directly in the primary sources of Islamic law. It is here that those legal foundations then being developed as legal maxims used commonly by all disciples of each school of law. Although the Sunnī jurists are not unanimous concerning the role of qawā'id al-fiqhiyyah as a source of law, they all seem to realize the importance of the maxim in giving the solution toward many new legal problems arose in everyday life. Thus, we see that all four schools of Islamic law accepted the legal maxims as an argument in the process of law-making, especially in the new cases left unanswered by Qur'ān and Sunnah.
Cultural Acculturation of Javanese Islam: A Critical Study of the Slametan Ritual Masdar Hilmy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.14-32

Abstract

Upacara slametan merupakan topik perdebatan klasik di kalangan kaum muslimin. Masalah pokoknya terletak pada pertanyaan apakah praktek slametan itu islami atau tidak. Meskipun perdebatan mengenai slametan ini sempat terhenti, tetapi ia masih mendatangkan problem teologi yang bersifat inklusif. Di kalangan para sarjana asing, sebagaimana dibahas dalam tulisan ini, slametan mampu menarik perhatian dan mengundang penelitian yang menimbulkan kontroversi lebih jauh. Setidak-tidaknya, kontroversi itu sendiri berasal dari tiga faktor pokok yang terkait. Pertama, faktor perbedaan dasar teoritik yang dipakai oleh para ilmuwan dalam pengamatan mereka. Sebaliknya perbedaan dasar teoritik itu sendiri membawa pada faktor yang wajar, yaitu perspektif satu sisi; dan faktor terakhir adalah konteks historis dimana dan kapan penelitian dilakukan. Tulisan ini dimaksudkan untuk menjadi “Jembatan akademik" antara posisi-posisi tersebut. Dalam membicarakan pokok permasalahan, analisis campuran, perspektif antropologi dan teologi akan ditawarkan. Paduan antara kedua analisis itu dimaksudkan agar ada keseimbangan dalam melakukan analisis. Persoalan apakah secara teologis slametan itu sendiri segaris dengan ajaran Islam, bukanlah merupakan perhatian tulisan ini. Tetapi tulisan ini memiliki dua tujuan: pertama melakukan analisis singkat dua teori mayor tentang slametan dari Geertz dan Woodward. Kedua, memaparkan unsur-unsur slametan mana yang berasal dari Islam dan mana yang lebih dipengaruhi oleh budaya Jawa lokal.
Pandangan Al-Qur’an Terhadap Bigetisme Yahudi dan Kristen Hamim Ilyas
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.115-138

Abstract

The Qur'ān criticizes ahl al-kitāb--Jews and Christians--in many verses. One of the subjects being criticized by the Qur'ān is the idea of begetism -God begets children. The Qur'an teaches us that the Jews and the Christians regard 'Uzayr and 'Isa respectively as the sons of God. For some scholars, the Qur'ānic statement is equivocal, and thus becomes a controversial issue in the theological discourse. The current essay is devoted to debate the idea of begetism, and identifies the followers of begetism among the Jews and Christians who are being criticized by the Qur'ān. In order to carry through the purpose, the author employs exegetical approaches to analyze the issue thematically. In the end, the author concludes that the Qur'ānic criticism toward begetism is some sort of warning (indhār) to the Jews and Christians- as recipients of previous revelations.
The Concept of Muḥaddathūn In the Shī’ī and Sunnī Traditions: a Preliminary Comparative Study Siti Syamsiyatun
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.33-53

Abstract

Tulisan ini mencoba mengelaborasi muḥaddathūn yang dipahami dalam lingkungan Shī'ī dan Sunnī. muḥaddathūn sesungguhnya merupakan konsep yang tidak dapat dipisahkan dari konsep tentang nubuwwah (kenabian, prophethood) dan risālah (kerasulan, messengership). Dua karya, yaitu Kitab al-Uṣūl min al-Kāfī oleh pemikir Shī’ī terkenal Muhammad bin Ya'qūb bin Ishāq al-Kulaynī dan Kitab Ṣirāt al-Awliyā oleh Muhammad bin Ali bin al-Ḥasan al-Tirmidhī yang merupakan seorang teosof Sunnī awal, menjadi sumber utama dalam makalah ini. Kedua karya tersebut menyepakati bahwa muḥaddathūn menunjuk kepada awliyā' (saints, friends of God), yang mendengar ucapan ilahiah dan mendapat inspirasi dari-Nya walaupun tanpa melihat malaikat. muḥaddathūn diberkati dengan kualitas dan kemampuan khusus (karamat) serta pengetahuan ilahiah (divine knowlage, ma'rifah) sehingga mereka dapat melaksanakan tugas mereka untuk menjaga hukum Tuhan dan Sunnah Nabi. Namun demikian, Shī'ī dan Sunnī, sebagaimana disebutkan dalam dua buku di atas, berbeda pendapat mengenai "siapa" sebenarnya yang disebut muḥaddathūn tersebut. Kaum Shī'ī  bahwa istilah muḥaddathūn itu secara jelas merujuk kepada para Imam berdasarkan atas sejumlah hadis. sebaliknya, kaum sunnī berpendapat bahwa muḥaddathūn tidak harus selalu merujuk kepada Imam kaum Shī'ī, tetapi mereka adalah pala awliyā' (walaya holders). 
Petuah Ali Haji (1809-1872) Tinjauaan tentang Thamrah al-Muhimmah Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.139-153

Abstract

Ali Haji (b. 1809) was as a prolific writer and considered to be a Malay historian of the nineteenth century Riau-Lingga. He produced many literary works, some of which have been translated into Dutch and English as well. However, his works on religions are remained untouched by European translators. One of his major works, Thamrah al-Muhimmah shows the great extent to which he mastered Islamic sciences, particularly Islamic law. It proves the position of AIi Haji as a religious scholar in contemporary Malay. The current paper is devoted to explore the significance of Thamrah al-Muhimmah. The author discovers two important points of the Thamrah al-Muhimmah: The position of religion in the context of Malay political life in the nineteenth century Riau-Lingga Kingdom, and the renewal of the traditional Malay political literature. 
Rethinking Economic Ethics In Islam: Muḥammad Rashīd Ridā’s Concept of Ribā Asep Saepudin Jahar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.54-70

Abstract

Dalam pemikiran ekonomi Islam, riba merupakan salah satu persoalan yang masih menjadi perdebatan. Hal ini mengingat bahwa Al-Qur'an, Ketika merespon praktek riba yang terjadi pada masa jahiliyah, dengan tegas melarangnya. Sementara, pada era sekarang, banyak orang melakukan transaksi pinjam-meminjam yang diduga juga mengandung unsur riba (interest). Persoalannya, apakah larangan riba sebagaimana ditegaskan Al-Qur' an juga berlaku untuk semua transaksi pinjam-meminjam uang dimana peminjam berkewajiban memberi nilai tambah dari nilai semula kepada pemberi pinjaman? Bagaimana dengan berbagai transaksi yang dipandang juga mengandung riba, seperti bunga bank, jual beli mata uang atau bahkan pembelian barang dengan sistem kedit (angsuran)? Tulisan ini mencoba memaparkan pandangan Muhammad Rasyid Ridha mengenai riba dengan argumen-argumennya, baik yang rasional maupun tekstual, dan bagaimana relevansinya dengan situasi kontemporer. Setelah menjelaskan makna riba dalam Al-Qur'an, Al-Hadis dan berbagai pandangan yang dikemukakan para ulama', termasuk Rasyid Ridha sendiri, akhirnya penulis berkesimpulan bahwa konsep Rasyid Ridha tentang riba dipandang relevan dan dapat diterapkan pada era sekarang.
Al-Khṭāb al-Dīnī fī al-Sha’ri al-Jāhilī Muhammad Muqaddas
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.154-171

Abstract

Bangsa Arab dikenal sebagai bangsa yang kaya akan peradaban. Bangsa ini juga merupakan pusat semua agama samawi. Ada dua fase penting yang dilalui bangsa ini, yaitu: fase sebelum Islam, lebih dikenal dengan fase jāhiliyyah dan setelah Islam. Fase jāhiliyyah inilah yang akan menjadi fokus pembahasan makalah ini. Fase jāhiliyyah dalam makalah ini tidak berarti fase kebodohan secara literal, yang berarti kebalikan dari fase ilmu pengetahuan, sebab kenyataannya, sebagaimana ditulis dalam paper ini, Arab jahiliyah sudah sangat piawai menggubah puisi, di samping ilmu perbintangan, ilmu tentang cuaca dan lain sebagainya. Para penyair dan hasil-hasil karya mereka sangat dihargai oleh bangsa Arab jāhiliyyah. Maka tidaklah mengherankan bahwa puisi Arab jahiliyah bagaikan bagaikan "arsip" penyimpan data berbagai peristiwa yang terjadi, tradisi yang berlaku, dan hal-hal yang berkaitan dengan keyakinan atau agama Makalah ini mempresentasikan wacana keagamaan, yang ternyata dapat ditemukan dalam khazanah puisi Arab jāhiliyyah. Dari temuan ini diharapkan agar pandangan orang terhadap Arab jāhiliyyah lebih proporsional.[The Arabs are known for their civilization and centre for all divine religions. There are two important periods in the history of the Arabs: pre lslam and early Islamic periods; and this paper mainly focuses on the former. In the literal sense, jāhiliyyah is not identical with the foolishness as opposes to knowledgeable, because, as the author of this paper suggests, the jāhiliyyah people were well-verse in composing poetry (shi'r), exploring astronomy, and forecasting weather. These mean that they were not ignorance. The authors of the Arabic poetry as well as their works were highly respected by the Arabs. Therefore, people regard the Arabic poetry as a "filing cabinet" that preserves all data of events happened, traditions practiced, and creed followed at that time. The current article is an attempt to unveil a religious discourse found in the Arabic poetry of jāhiliyyah.It is hoped that after reading the paper, readers will get better outlook toward the jāhiliyyah of the Arabs.]
Intelectual and Academic Freedom in Islam Akh Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.vii-viii

Abstract

Filsafat Ishrāqiyyah (Iluminatif) Suhrawardī al-Maqtūl Ahmad Hasan Ridwan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.71-94

Abstract

The Ishrāqī is oriental as well as illuminative philosophy. It is to shine, for it comes from the Orient; and it is oriental, because it shines. Colored with its distinct language, this philosophy constitutes an alliance between the "speculative" philosophy (al-ḥikmah al-baḥthiyyah) which is a fusion of the Hellenistic, Persian and Islamic philosophy, and the "intuitive" one (al-ḥikmah al-dhawqiyyah) that represents mystical spiritualism and is a combination of the Islamic sūfi tradition, Zoroastrianism and Neo-Platonism. Shuhrawardī, who was accustomed with perennial Islamic philosophy (al-ḥikmah al-'atīqah), is considered not only as a great mystic, but also an Ishrāqī philosopher. His Ishrāqī thought is a synthesis of several philosophical notions which eventuated in the classical Islam. His ideas are recognized as a set of universal teachings, which is a long-lasting oriental thought and has actual significance for the modern period.
Al-Tadhkīr wa al-Ta’nīth fī al-Lughah al-Arabīyya wa al-Indūnīsīyya. Muhammad Pribadi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 36, No 62 (1998)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.1998.3662.172-192

Abstract

The present study is an attempt to compare between masculine and feminine in Arabic and Indonesian. The author applies both descriptive and comparative methods in order to discover the similarities and variances of masculine and feminine in these languages. In doing so, the author, first of all, elaborates in rather detail the general principles of masculine and feminine in Arabic, and finally, compared them to Indonesian. The essay presents some exhaustive examples and discusses them consecutively. The general principles of both masculine and feminine can be applied in teaching the two languages, particularly in translation. [Artikel ini membahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam dua bahasa: Arab dan Indonesia. Topik kajian ini menuntut digunakannya metode analisis deskriptif kontrastif, dengan cara mendeskripsikan gejala-gejala Bahasa yang dikaji dan menganilisisnya untuk mengetahui segi-segi persamaan dan perbedaan yang ada dalam dua bahasa tersebut. Apa yang diharapkan dari kajian ini adalah ditemukannya prinsip-prinsip umum yang dapat diterapkan, misalnya, dalam dunia pengajaran bahasa dan terjemah (Indonesia-Arab). Karena itu penulis, dengan metode kontrastif, berupaya mengidentifikasi titik-titik persamaan dan perbedaan antara kedua bahasa tersebut. Pertama akan dibahas masalah mudhakkar dan mu'annath dalam bahasa Arab, kemudian masalah yang sama dalam bahasa Indonesia. Kedua, melakukan kajian kontrastif antara bahasa Arab dan bahasa Indonesia untuk mengidentifikasi adanya persamaan dan perbedaan antara kedua Bahasa tersebut.]

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 60, No 1 (2022) Vol 39, No 2 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) Vol 37, No 64 (1999) Vol 37, No 63 (1999) Vol 36, No 62 (1998) Vol 36, No 61 (1998) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 1 (2001) More Issue