cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 13 Documents
Search results for , issue "Vol 37, No 63 (1999)" : 13 Documents clear
The Idea of Tajdīd In The Seventeenth Century India: A Reconsideration of the Backround of Religious Life Achmad Jainuri
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.77-92

Abstract

Ide tentang tajdid dan munculnya mujaddid setiap satu abad sebagaimana disebut dalam satu hadis Nabi merupakan satu faham yang dianut secara meluas, termasuk kalangan masyarakal Islam di lndia. Salah seorang yang dipandang sebagai mujadid untuk milinium kedua adalah Syeh Ahmad Sirhindi. Menurut sebagian besar, jika tidak semua, karya-karya tentang Sirhindi, gerakan tajdid tersebut terutama disebabkan oleh praktek keagamaan masyarakal lndia yang dipandang telah jauh dari ajaran lslam yang sebenarnya; masyarakat setempat dipandang sering kali melakukan praktek-praktek bid'ah dan khurafat bahkan tidak jarang melakukan sesuatu yang justru cenderung menghancurkan Islam. Semua praktek tersebut semakin subur terutama sejak naiknya Akbar ke tahta Kerajaan Mughal, sehingga melahirkan pandangan bahwa Akbar telah keluar dari Islam. Yang menarik, makalah berikut mempertanyakan kembali tesis yang sudah mengakar itu. Dengan menelusuri data-data sejarah yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan pada masa Akbar dan Sirhindi, penulis makalah sampai pada kesimpulan bahwa tesis tersebut tidak bisa diterima, paling tidak masih memerlukan penelitian lebih jauh. Untuk mendukung tesisnya Penulis menujukkan bahwa perbedaan antara Akbar di satu sisi dan Sirhindi di sisi yang lain lebih banyak disebabkan oleh pertentangan elit yang lebih terorientasi politik dan bukan persoalan keagamaan; atau bukan pertentangan antara pandangan non-Muslim (Akbar) dan Muslim (Sirhindi) tapi lebih antara satu pemahaman dengan pemahaman yang lain tentang ajaran Islam' Akibat tulisan berikut cukup serius: klaim bahwa Sirhindi merupakan mujaddid pada milinium kedua adalah kurang didukung oleh data sejarah yang bisa diterima sebagian besar, jika tidak semua sejarawan. 
Dirāsa al-Qur’ān bi Ṭarīqa Satīlistīkiyya Syihabuddin Q
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.167-185

Abstract

Many people admire and interested in the Qur'ān, but they don't know the reason. According to the author, there is an internal factor that make people interested in the Qur'ān not mainly based on the dogmatic reason. The present paper discusses the so called "internal factor" which is stylistic or uṣlūb (Arabic). This approach is quite different from balāghah and literary criticism. Stylistics discusses the characteristics of language without any judgement. In this context, the stylistical approach to the Qur'ān is to analyse the characteristics of language used by the Qur'ān. [Banyak orang kagum dan tertarik dengan al-Qur'an tanpa dapat menerangkan mengapa demikian. Sebenarnya ada faktor internal dalam al-Qur'an itu sendiri yang menyebabkan orang kagum dan tertarik dengan al-Qur'an, bukan hanya karena dogma teologis. 'Tulisan ini menganalisis aspek internal tersebut dengan metode stilistika yang dalam literatur Arab disebut uṣlūb,mencakup pembahasan tentang fonologi, preferensi penggunaan lafal dan kalimat, juga deviasi yakni penyimpangan dari kaidah-kaidah yang konvensional. Berbeda dengan balagah dan kritik sastra, stilistika membahas karakteristik kebahasaan dari suatu karya tanpa ada unsur penilaian atau "penghakiman". Balagah menilai kesesuaian suatu karya dengan kaidah-kaidahnya yang sudah baku, sedangkan kritik sastra "menghakimi" dan mengungkapkan kembali suatu karya. Dengan demikian, menganalisis al-Qur'an dengan metode stilistika adalah menganalisis karakteristik kebahasaannya.
Reorientasi Kajian Ushul Fiqh Akh. Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.12-28

Abstract

Basically, uṣūl al-fiqh is understood as a methodology to understand Islamic teaching, not only tools to understand Islamic Law as it is perceived by common people. Uṣūl al-fiqh grows and develops throughout Islamic history. It has significant position since its inception. It has been produced many scholars who later formulate formulas that exist even today. Eventhough the science of uṣūl al-fiqh plays an important role in Islamic studies, but not all of Muslim scholars pay full attention to it. Even, there is a critical notion that the science of uṣūl al-fiqh is no longer compatible to solve the problems of Islamic community. Based on this frame of thought, the present author tries to investigate the historical aspect of uṣūl al-fiqh and seek the cause of its stagnancy. The author finds that there are two kinds of approaches recognized in uṣūl al-fiqh: doctrinal normative-deductive and empirical-historical-inductive. These two approaches cannot be separated. However, in the practical level, certain scholars usually apply one approach and disregard another. As a result, their product tend to be more idealistic than touching to the real problem. Finally, the author suggests to combine both methods with respect to other disciplines, particularly social sciences and their methodology. 
Feminisme Dalam Pemikiran Riffat Hassan Abdul Mustaqim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.93-110

Abstract

This paper discusses analytically Riffat Hassan's thoughts concerning gender issues. Hassan's ideas on the women creation, the gender equality, and the systems of polygamy and purdah are the main subjects studied therein. Mustaqim tries to find out not only what Hassan views the subjects, but also why she differs in those issues from the majority of Islamic scholars. Using a literary analysis and a historical approach, he concludes that she reinterprets several Qur'anic and hadith texts mentioning the above matters in a way differs from that of conservative 'ulamā’ in order to support feminist propaganda, and that in doing so. Riffat is very influenced by her historical settings.
Naẓarīyya al-Nabawi ‘Inda al-Fārābīy Amal Fathullah Zarkasyi
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.186-209

Abstract

After the spread of Islam in a wide area, and the concept of monotheism had been known by most people, another teaching emerged. The teaching was against the principles of monotheism. The teaching that emerged in the second century of Hijra, called for polytheism and was influenced by Hinduistic teaching especially that of reincarnation. One of its teaching was refusal of revelation and prophecy. Since then, the debate on this issue emerged between its supporters and its opponents. At this condition al-Farabi came and try to combine between religion and philosophy. Al-Farabi's concept on prophecy was much influenced by Aristoteles concept of dream. Even though, Al-Farabi raised a different thought from that of Aristoteles. According to Aristoteles, dream cannot be part of revelation While al-Farabi saw that human being with his or her imagination could relate to the "heaven", and could uncover the concealed curtain. Furthermore, he saw that a dream could explain prophecy as well as revelation in the far limit. He also saw that prophet had a divine power as result of the revelation he received. From his point of view, it may be concluded that Al-Farabi put himself in the middle position, between reason and revelation and between philosophy and religion. [Setelah Islam (dengan ajaran tauhidnya) tersebar di wilayah yang luas, ajaran tauhid yang dibawanya banyak dianut orang, muncul pemikiran-pemikiran dan ajaran-ajaran yang menentang prinsip-prinsip ajaran tauhid. Ajaran-ajaran tersebut muncul pada abad ke II Hijrah yang mengajak kepada politheisme. Ajaran-ajaran ini muncul terutama di Persi dengan membawa warna Hindu yaitu ajaran reinkamasi. Salah satu pokok ajarannya adalah penolakan terhadap wahyu dan kenabian, Dari sini muncullah pendekatan-pendekatan antara pendukung dan penolak wahyu dan kenabian. Dalam situasi yang penuh dengan perdebatan dan pertentangan ini muncullah Al-farabi yang berusaha mencari jalan tengah antara filsafat dan agama. Pandangan Al-Farabi tentang kenabian banyak dipengaruhi oleh pandangan Aristoteles tentang mimpi. Meskipun demikian ada perbedaan asasi antara Al-Farabi dan Aristoteles. Aristoteles berpandangan bahwa mimpi tidak mungkin menjadi bagian dari wahyu llahi. Sementara itu Al-Farabi berpendapat bahwa manusia dengan daya imajinasinya dapat berhubungan dengan "alam yang tinggi" serta dapat menyingkap tabir gaib. Selanjutnya dia berpendapat bahwa mimpi dapat menjelaskan kenabian dan wahyu sampai batas yang jauh. Al-Farabi juga berpandangan bahwa seorang nabi mempunyai kekuatan Ilahiyah yang merupakan hasil dari wahyu yang diterima. Dari pandangan-pandangan yang dimunculkan, dapat disimpulkan bahwa  Al-Farabi menempatkan dirinya di posisi tengah antara akal dan wahyu atau antara agama dan filsafat. Dari sini dia telah memberikan dalil-dalil ahli tentang kenabian.
Politik Hukum: Perbedaan Konsepsi Antara Hukum Barat dan Hukum Islam Moh. Mahfud MD
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.29-49

Abstract

Efforts to promote Islamic Law in the life of Indonesian Community always appear throughout history. However, the concept of Islamic Law itself has been debated among the Muslims. For that reason, the present author tries to compare the concept of Western Law and Islamic Law. The comparison will be based on JND. Anderson's Islamic Law and the Modem World and Mawdudi's Teori Politik Islam. The author finds that the product of Law was influenced by political configuration. If the political configuration was democratic, the law will be responsive, but, if its political configuration was authoritarian, the product will be conservative. In this context, if the Indonesian Muslims want all products of law influenced by Islamic Law, the Muslims themselves should take part dominantly in the government, but also in the government beurocracy
The Idea of Qurbā In Early Sufism: A Preliminary Observation Ahmad Nur Fuad
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.111-127

Abstract

Makalah ini membahas pemikiran para sufi mengenai terminology qurbā (kedekatan) dalam kaitannya dengan wacana walāya (ke-wali-an). Dalam literatur sufi kata-kala qurbā sering dihubunglan dengan ide mengenai cinta  (maḥabba), rindu (shauq), dan keintiman (uzs). secara spesifik makalah ini mengangkat pemikiran tiga orang sufi besar, yaitu al-Tirmidhi (w. 905), al-Niffari (w. 965) dan Ibn al-'Arabi (w.1240). Al-Tirmidhī setelah membedakan dua jenis wali; wali haqq Allah dan wali Allah, mengatakan bahwa tahapan tertinggi yang dapat dicapai oleh seorang wali haqq Allah adalah maqam yang disebut maḥall al-qurbā tempat kedekatan. Pada posisi tersebut seorang wali dapat menerima pancaran nur al- qurbā dari Allah, sehingga ia tetap dapat mengontrol hawa nafsunya. Al-Niffari menghubungkan pendapatnya mengenai ide qurbā ini dengan fase-fase pemberhentian (mawāqib) yang ia lalui sebagai seorang sufi. Menurutnya mawāqib qurbā ada pada urutan kedua, dan hanya dapat dicapai oleh mereka yang selalu menjauhkan diri dari godaan dunia (zuhd). Sedangkan Ibn al-'Arabi, pemikiran mengenai qurbā ini tidak dapat dipisahkan dengan walāya (kewalian) dan nubuwwa (kenabian). Maqām qurbā menurutnya terletak di antara kedudukan para nabi pembawa shari'at (nubuwwat al-tashri') dan para pembenar nabi yang pernah iman (ṣiddiqiya). Di tempat kedekatan ini (maḥall al-qurbā), seseorang dapat bertemu secara langsung dengan malaikat yang suci. 
The Religio-Political Attitude of The Shaykh Rashīd Ridā In Response to The French Authority In Tunisia by the Colonial Time (A case Study on the French Law of Naturalization Through Rashīd Ridā’s Fatwa Sujadi Sukarta
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.50-62

Abstract

Adalah suatu kekeliruan bila ada asumsi bahwa fatwa selalu lepas dari muatan-muatan politik. Fatwa sering terkait dengan masalah politik, misalnya di masa kolonial. Fenomena ini ditemukan pada fatwa yang dikeluarkan Rasyid Rida" seorang ulama sekaligus politikus, atas permohonan Partai Nasional Tunis pimpinan Abd Al-'Aziz As-Sa'alibi yaitu Partai Dustur, yang tidak lepas dari muatan-muatan politik. Fatwa ini merupakan respon Rasyid Rida, sekaligus sikap religious politiknya, terhadap Hukum Naturalisasi Perancis yang diberlakukan untuk mereka yang tinggal di Tunisia pada tanggal 20 Desember 1923. Fatwa ini bermuatan dakwah politik yang ditujukan kepada orang-orang Islam Tunisia. Ia menegaskan dalam fatwanya bahwa orang-orang Islam yang menerima kewarganegaraan Perancis adalah murtad. Hal ini disebabkan oleh kenyataan bahwa orang Islam yang menerima tawaran itu berarti mengutamakan Hukum Naturalisasi Perancis dari pada Hukum Allah. Maka, tentu, Rida melarang untuk menerima tawaran kewarganegaraan Perancis itu. Berkaitan dengan kepentingan orang-orang Islam Tunisia, Rida mengharuskan mereka untuk menjaga kewarganegaraan Islamnya. Hal ini semata-mata karena obsesi Rida untuk menegakkan kembali system pemerintahan khilafah, bukan sistem pemerintahan Perancis. Hal ini wajar karena ia menginginkan berlakunya syari'ah. bukan Hukurn Naturalisasi Perancis, dalam kehidupan mereka. 
Transformasi Sebuah Tradisi Intelektual: Asal Usul dan Perkembangan Pendidikan Islam M. Taufik
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.128-150

Abstract

Historians noticed that Muslim intellectuals experienced "gold age". However, in the l8tb century, it felt into deep whole. There are three reasons proposed, by historians: First, there were no social order that support Islamic modernity. Second, Because the Muslims lost their spirit. Inherited from their ancestors, Third, Because of the isolation of religious knowledge from secular intellectualism. The current article tries to explore the third reason by describing the process of intellectual transformation throughout Islamic history. The author also discusses its impact in the development of Islamic intellectualism in Indonesian educational system.
A Problem of Methodological Approaches to Islamic Law Studies Akh Minhaji
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 37, No 63 (1999)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2022.3763.iv-v

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 13


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 60, No 1 (2022) Vol 39, No 2 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) Vol 37, No 64 (1999) Vol 37, No 63 (1999) Vol 36, No 62 (1998) Vol 36, No 61 (1998) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 1 (2001) More Issue