cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 12 Documents
Search results for , issue "Vol 39, No 2 (2001)" : 12 Documents clear
Gender and Religion: An Islamic Perspective Syarif Hidayatullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.324-340

Abstract

Membincang persoalan jender merupakan suatu trend baru yang saat ini tengah menjadi fenomena yang meluas dan cukup menyerap perhatian dan sorotan banyak kalangan. Dari mulai aktivis perempuan, akademisi, intelektual, ulama, kaum profesional, dan,bahkan, hingga kaum lelaki dan masyarakapt ada umumnya. seiring dengan semakin majunya cara berpikir dan prilaku manusia, maka semakin menggema dan dahsyatnya suara-suara yang menggugat berbagai ketidak adilan jender yang dialami kaum perempuan selama ini,.baik dalam sektor domestik maupun sektor publiknya. Ironisnnaya, yang paling disoroti dan dituding banyak orang sebagai biang dari ketidakadilan tersebut adalah eksistensi agama. Agama selain ini dijadikan sebagaai alat untuk mengabsahkan ketimpangan jender perempuan terhadap laki-laki. Padahal, agama pula yang menyuarakan tentang prinsip-prinsip universal, semacam keadilan dan kesetaraan derajat manusia. Karena itu, pada perkembangan kontemporer muncullah  suara-suara dan spirit baru dari sebagian agamawan dan kaum feminis untuk mereformasi cara memahami agamanya. Dari cara konvensional yang sarat dengan nuansa patriarkhalnya kepada cara baru yang lebih membebaskan dan mensterilkan diri dari tradisi lama tersebut. Di sinilah letak signifikansinya tulisan ini yang berupaya memberikan suatu kontribusi untuk mengkaji bagaimana umat Islam harus membangun kesadaran jender dalam melihat tradisi keagamaannya. Dari kajian ini terungkap bahwa pada paruh kedua abad 19 Masehi mulai tumbuh kesadaran. jender di kalangan umat Islam. Feminis Muslim menyuarakan penolakan atas ketidaksetaraan kontruksi jender dan dominasi laki-laki terhadap perempuan. Sebab itu, mereka melakukan berbagai ijtihad dalam mengartikuiasikan prinsip egalitarianism Islam yang semestinya. Dalam konteksi ni, menurut mereka,perlu dilakukan pembedaan secara demarkatis antara Islam sebagai agama dan Islam sebagai budaya.
Sejarah Perkembangan Konsep Qaṭ’i-Zannī: Perdebatan Ulama Tentang Anggapan Kepastiaan dan Ketidakpastian Dalil Syari’at Muhyar Fannani
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.436-460

Abstract

The concept of certainty (qat’i) and uncertainty (ẓannī) of shari'ah argumentation (dalil) in the Islamic Legal Theory has played a big role to help a jurist in taking ijtihad or not, related to the shari'ah argumentation. This paper discusses this concept from historical perspective. Based on the historical proof, apparently, the concept of certainly and uncertainty, for a long time was understood based on the textualism principle and not on the substantial idea.  As a consequence, qaṭ'i was Qur’anic of Hadith texts that have one meaning although that meaning was not a substantial and universal one,  such as inheritance and robbing verses. On the contrary, the text that has substantial and universal meaning such as the verses that talk about egalitarianism, justice, equality before the law, tolerance, etc, were not considered as qat'i. Finally, Islamic law became rigid and stiff because the local and temporal meaning was forced to be universal one.  The historical journey of this concept indicated that the Origen of this concept emerged since the big ṣahābi era. Then, this concept was sparked officially by ash-Shāfi'ii (w.204H/820M), although he didn't have final term for it. This concept, then, was improved by muslim  scholars after ash-Shāfi'i and became mature concept on the hand to Imam Haramain (w. 478H/1085M). Qaṭl-zānni as a technical term was popularized by the later uslul scholars scah as Abd.'Aziz al-Bukhari ( w.730/7330) and Kamāl b . Humam  (w. 861/1475).  In the modem era, the demand for reconception for the old qaṭ'i-zānni concept urged to be done because of the new challenge for the Islamic law.  The most relevant of the reconception was the reconception that can accommodate precisely the demand of law flexibility in the one hand and law firmness in the other hand. Such reconception can be achieved, if the qaṭ'i-zānni concept was not understood based on textualism anymore, but refers to substantial and universal idea. Thus, qaṭ'i is the verses that contain the universal meaning, and zānni is the verses that contain local and temporal meaning
Islamic Calligraphy in Batik Medium Contemporary of the Indonesian Islamic Fine Art Amri Yahya
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.341-358

Abstract

Paper ini menyoroti mengenai Kaligrafi Islam dalam karya-karya batik.  Kaligrafi merupakan karya seni menulis indah bahasa Arab yang sudah ada sejak kemunculan Kerajaan Islam pertama di ]awa, Kerajaan Demak.  Kaligrafi pada masa ini dipercaya mempunyai kandungan magis. Kaligrafi berbentuk manusia seperti bentuk Semar, satu tokoh dalam pewayangan, salah satu contoh kaligrafi Islam yang mempunyai efek magis. Penerimaan umat Islam terhadap kaligrafi Arab ini memunculkan digunakannya berbagai macam alat, teknik dan jenis media kaligrafi. Namun, dalam keragaman ini ada kesamaan dalam kata-kata yang digunakan yaitu yang mempunyai kandungan keindahan spiritual, kebijaksanaan, dan keagungan' Ala dua jenis kaligiafi yaitu kaligrafi tulis tangan dan kaligrafi gambar' Kaligrafi jenis pertama merupakan ekspresi seni tulis huruf Arab yang sudah diwariskan oleh generasi-generasi pendahulu. Dalam kaligrafi ini, kebebasan hanya pada pemilihan materi dan alat tulis, tetapi harus sesuai dengan standar kaligrafi seperti naskhi, farisi, diwani, rihyani, riq'iy dan kufi.  Sedangkan kaligrafi lukis membolehkan pengembangan jenis-jenis huruf Arab secara elastis sesuai dengan ide dan imajinasi para pelukisnya. Kedua ienis kaligrafi ini juga menggunakan media dan alat yang berbeda. Lebih jauh, penulis menguraikan peran estetik kaligrafi batik. Batik tidak hanya berfungsi sebagai pakaian tetapi juga merefleksikan status sosial. Batik-batik tertentu seperti Parang Barong,Udan Liris, Cemukiran atau Parang Rusak,  menyimbolkan status yang tinggi sehingga dapat dipakai oleh para bangsawan maupun raja. Alat-alat batik juga menyimbolkan makna keagamaan. canting yaitu alat untuk melukis batik, misalnya, mempunyai arti firman-firman Tuhan. Tungku atau alat pemanas bahan batik mempunyai arti alam kecil (alam Shagir). Arang yaitu bahan untuk dibakar, mempunyai arti Kekuasaan Allah ,(Qaharullah). Sedangkan asapnya mempunyai arti Nabi Allah (Nabiullah).  Dalam paper ini juga dikemukakan Proses pembuatan Kaligrafi Batik. Selain hal-hal yang disebut diatas, perlengkapan pembuatan batik lain adalah isen vaitu untuk memperkaya tekstur batik. Sedangkan untuk memperkaya efek keindahan digunakan antara lain uwer (lingkaran), cecek (titik-titik), temukan  (pecahan), ombak, dan wajik (segitiga). Teknik yang digunakan antara lain, teknik hitam-putih dan teknik sedikit demi sedikit (step by step).
Al-Maṣārif al-Islāmiyah wa al-qānūn al-Maṣrāfī fī indūnīsīyā Syamsul Anwar
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.461-509

Abstract

This paper examines the development of syariah banking in Indonesia and the law governing the activities of such banking. It is divided into three sections, i.e. introduction, main topics and Arabic translation of some chapters of Indonesian law of Banking (Code number 7/1992 and its revition, code number 10/1988) as well as decree of Indonesian Bank Director about Conventional Bank Based on Syariah Principles. In this paper, the writer elaborates the development of ideas for establishing syariah banking system. This kind of banking had actually been developed in 1970’s. however, these banks dissolved by themselves.in 1991, two Islamic “small” banks, Dana Matdhatilla and Amal Sejahtera, has been established; and in 1992, general syariah Bank, Bank Muamalat Indonesia, has also been established. The writer then explains about the development of syariah banking system in Indonesia afterwards. Almost a decade up to august 2001, there are only 5 general syariah Banks and 81 ‘small” syariah Banks with total amount of asset and money less than 1 % of that of conventional Banks in Indonesia. This indicates the slow development of syariah banking in Indonesia compared to that of Middle East where are many Islamic banks that become high level of bank in only a decade. This slow is caused by, partly, the concept of Islamic banking is relatively new in Indonesia so that it has hardly ever been known by Indonesian community. It is also because of the lack of human and financial resources, and that of regulation especially before the revision of Code number 7/1992. In the third section of this paper, the writer explains about the law that becomes the basis of syariah banking activities. In this section, it is explained about banking structure as well as variety of business and banking ownership. It is also explained handicaps faced by syariah banking in which further legal regulation is needed.
Juristic Differences( lkhtilāf) in Islamic Law: Its Meaning Early Discussions, and Raesons (A Lesson for Contemporary Characteristics A. Qodri Azizy
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.261-291

Abstract

Perbedaan pendapat atau perbedaan keputusan dalam hukum Islam :di antara ulama fiqh (ikhtilāf al-fuqahā) merupakan kebiasaan sejak masa awal.  Bahkan, ketika Nabi Muhammad, saw masih hidup, perbedaan itu telah :merjadi. Yaitu, ketika sahabat Nabi terjadi perbedaan dalam memahami perintah Nabi atau dalam memahamai teks al-Qur'an, Nabi dalam beberapa hal membiarkanny. Ini pahami sebagai dibolehkannya terjadi perbedaan pendapat dalam dalam menentukan hokum Islam sejak masa awal. Ikhtilāf al-fuqahā kemudian telah didiskusikan sejak masa sahabat dan juga ditulis sejak masa yang sangat awal. Buku tentang Ikhtilāf al-fuqahā juga bertambah terus. Dalam perkembangannya itu,, saya mengelompokkan tulisan, termasuk buku, mengenai ikhtilāf al-fuqahā itu pada dua kelompok: pertama, saya sebut dengan polemical (model polemic) dan kedua desctiptive (model deskriptif). Yang pertama (polemical) bertujuan untuk melemahkan pendapat pemikiran atau ulama (madhhab yang lain.) Dimuatnya pendapat orang atau mashhab lain dengan maksud untuk menjelaskan kelemahan-kelemahan yang ada untuk dikritik dan dilemahkan yang kemudian untuk mengatakan bahwa pendapatnya sendirilah yang lebih kuat dan hebat. Yang kedua, si penulis sekedar menguraikan ada adanya tentang apa yang terjadi mengenai perbedaan pendapat dalam menentukan hukum islam itu. Si penulis tidak mempunyai target atau tujuan demi menguatakan pendapatnya. Namun semata-mata menginformasikan kepada pembaca apa yang terjadimengenai perbedaan pendapat dalam penentuaan hokum Islam. Menurut hemat saya, kini harus dilakukan studi kritis dan serius mengenai ikhtilāf al-fuqahā. Bahkan akan lebih baik jika ikhtilāf al-fuqahā itu menjadi sebuah topic atau bahkan semacam sub-disiplin keilmuan yang dibahas serius dan detail. Menurut hemat saya, kajian mengenai ikhtilāf al-fuqahā jauh lebih diperlukan dari pada kajian mengenai ijma’. Namun kini yang terjadi sebaliknya. Ijma’ dibahas banyak orang dan secara panjang lebar;sedangkan ikhtilāf sedikit sekali dibahas orang, apalagi yang bercirikan kajian kritis ini. Padahal, ijma’ itu sudah tidak lagi realistic (kalau toh ada hanya sedikit dan dalam batasan yang sangat prinsip), sementara itu ikhtilāf sangat realistic dan akan selalu terjadi sampai dengan akhir nanti. Kajian ikhtilāf pada masa klasik itu dapat kita jadikan pelajaran untuk masa kontemporere ini. Pelajaran ini8 meliputi sikap mental (way of life) para ilmuan muslim kontemporer, sehingga terjadi toleransi dalam kehidupan pluralistic dalam hal berpendapat. Dan dalam waktu bersama, juga dapat menjadi pelajaran dalam hal way of thinking, baik dalam hal metodologi maupun lainnya. Oleh karena itu, dengan menjadikan contoh-contoh kajian klasik kita membuat analogi untuk kasus-kasus kontemporer, seperti masalah-masalah politik, dan kehidupan umat secara keseluruhan. Kita dapat belajar dari para pemikir muslim klasik dalam membahas kasus-kasus yang bermunculan dimasa kini. Menurut hemat saya, bukan hanya yang berkaitan dengan hokum dalam pengertiaan khusus seperti dalam ilmu hokum namun sekaligus meliputi masalah-masalah social dan humaniora secara keseluruhan yang dalam tradisi islam dapat masuk ke dalam pembahasan hokum Islam.
Al-Ta’wīl al-‘Ilmī: Kearah Perubahan Paradigma Penafsiran Kitab Suci M. Amin Abdullah
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.359-391

Abstract

This article tries to describe al-ta'wil al-'ilmī approach as an alternative model of exegeses on text by using Hermeneutic circle which dialogize exactly between paradigms of Bayani epistemology nd paradigm of irfani epistemology.  According to the writer al-ta'wil al-'ilmī cannot be developed on either parallel or linear relation pattern. This is because parallel relation pattern cannot open newly transformable horizon, views and ideas. Each epistemology stops and remains at its own position and has difficulty in dialoging between one kind of epistemology and others. Like a railway, these three epistemologies will remain at each own track and will not meet in a convergent point. Whereas linear relation pattern that assumes that there is finality will trap someone or a group of people on exclusive-polemic-dogmatic situation. Linear relation pattern will regard other kinds of epistemology as not valid. Then, he/she will enforce one of epistemologies that has been habit of mind to be implemented at the expense of inputs from other epistemologies. Therefore, he/she is easily trapped into truth claim, i.e. to regard that it is only its own kind of epistemology that is right, while others are wrong. Contemporary approach of Islamic studies and conventional Ulumuddin is, according to the writer, can only take scholars and students of religious sciences to a choice between one of the two forms of above relation of scientific epistemology. Both forms of choices are less conducive to take to one's Islamic maturity and even to Muslim community as a group. Both are easily trapped into communalism thought, especially if they are faced to problems of socio-religious relations in a pluralistic society. For this reason, this epistemology should be complement with relation pattern of the three existing epistemologies that offer alternative new way of thinking which are reformative, re-constructive and transformable. This is regarded as circular relation, this means that each epistemology of Islamic studies used in Islamic studies can recognize its   limitation and weaknesses and at the same time, can take advantage of inventions offered by other scientific tradition as well as have ability to make up the weaknesses which embody in its own.
Uslūb al-Kināyah Kaẓāhirah Uslūbīyah Hāmah Fī al-Qur’an al-Karīm Sukamto Said
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.510-520

Abstract

One of the miracles of Qur'an is its wording. Qur'an was revealed in Arabic for the people who had a great on language aesthetics (literature) to convey the message and use various literaly styles. One of them is kinayah.  This article examines the issue of the literary style in Qur'an' kinayah, which is multipurpose. It can be used to depict either human interest or godhead. Kinayah is used, among other things, because of the restriction on language to express certain ideas. As a holy book for human that is valid forever, Qur'an uses kinayah to create new meanings, because the characteristic of kinayah is its possibility to be undersiood from "stem-meaning" (al-ma'na al malzum)point of view and from ”derivative-meaning”(al-ma,na al-lazim)  Point of view.  The derivative meaning that emerged by kinayah, everyone has distinct perceptions based on their own reagolrs. There is a plural sense here that enables the understanding on Qur'an as well as means as a symbol of Qur'anic dynamism all the time.[Salah satu kemukiizatan al-Qur'an adalah redaksi yang digunakannya. Al-Qur’an yang diturunkan  dalam bahasa Arab pada masyarakat yang mempunyai perhatian besar pada keindahan bahasa  (sastra) dalam menyampaikan Pesan-Pesannya, menggunakan gaya bahasa yang sangat variatif. Di antaranya adalah gaya bahasa kinayah. Artikel ini membicarakan fenomena gaya bahasa kinayah dalam al-Qur'an yang digunakan untuk berbagai macam tujuan, baik untuk mengungkapkan masalah-masalah kehidupan manusia, maupun masalah-masalah yang berkaitan dengan sifat ketuhanan. Gaya bahasa kinayah digunakan , antara lain, karena keterbatasan bahasa unfuk mengungkapkan gagasan-gagasan tertentu. sebagai kitab petunjuk bagi manusia yang berlaku sepanjang masa sejak diturunkan, al-Qur'an memanfaatkan gaya bahasa kinayah untuk melahirkan makna-makna baru, sebab ciri bahasa kinayah adalah kemungkinannya unfuk dapat dipahami dari sisi "arhasal" (al-ma,naalmalzum)  dan sisi "arhbaflr" (al-ma'na al-azim) sekaligus.  Tentang arti baru yang ditimbulkan oleh bahasa kinnyah ini, antara sesorang dengan yang lain dapat berbeda .atas dasar alasan masing-masing. Di sini terletak pluralitas makna yang memungkinkan perkembangan pemahaman terhadap al-qur’an, sekaligus juga merupakan tanda dinamika al-Qur'an, yang berlaku sepanjang masa, itu sendiri.
Islamic Persepective on the Nation-state: Political Islam in post-Soeharto Indonesia Azyumardi Azra
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.292-309

Abstract

Paper ini menyoroti hubungan antara Islam dan Negara setelah runtuhnya rejim soeharto. Masa transisiini ditandai dengan menguatnya kembali islam politik.kelompok-kelompok muslim radikal bermunculan seperti lasykar jihad, front pembela islam, hizb al-tahrir, angkatan muhajidin Indonesia dsb yang mendukung diberlakukannya system kekhalifahan islam di Indonesia. Gerakan-gerakan ini menuntut perubahan system pemerintahan sekuler dan bentuk Negara-bangsa menjadi “negara Islam” yang lebih dikenal dengan khilafah. Meski demikian, menurut penulis para pendukung system kekhalifahan ini telah gagal untuk membedakan antara kekhalifahan yang murni dan asli pada masa kekhalifahan khulafa’ al-rasyidin dan kerajaan despotic Umayyah, abbasiyah, dan Turki Usmani. Para intelektual muslim sendiri seperti Rasyid Rida dan al-Maududi berbeda pandangan mengenai system kekhalifahan. Lebih janjut, penulis menelusuri jejak sejarah hubungan islam dan Negara. Perdebatan mengenai dasar Negara Indonesia sudah diperdebatkan secara akademis menjelang dan setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Pertentangan antara kubu islam dan nasionalis sekuler mengenai hal ini berakhir dengan suatu kompromi bahwa Negara Indonesia bukanlah Negara sekuler dan juga bukan Negara agama (tidak hanya Islam) dalam kedudukan yang terhormat. Namun, kelompok muslim yang tidak puas dengan kompromi ini memanggul senjata untuk mendirikan Negara Islam. Salah satu kelompok tersebut adalah gerakan DI/TII (darul Islam/ Tentara Islam Indonesia) yang bergerilya di daerah jawa barat, Aceh dan Sulawesi selatan. Gerakan ini dapat dipadamkan oleh rejim soekarno. Sejak saat itu sampai masa rejim soeharto politik islam sangat ditekan dan dimusuhi dan tidak diberi ruang dan kesempatan untuk bangkit kembali. Kini, sering dengan keterbukaan dan kebebasan yang diperoleh bangsa Indonesia untuk melontarkan ide dan gagasannya, muncul partai-partai dan gerakan militant islam. Namun, partai islam juga telah gagal karena secara keseluruhan memperoleh kurang dari 50%, bahkan lebih kecil dari suara partai-partai islam yang diperoleh pada pemilu demokratis 1955. Penulis kemudian mengemukakan analisa mengenai penyebab kegagalan partai Islam. Nampaknya, penulis memprediksi bahwa suara untuk partai-partai islam tidak akan beranjak banyak bahkan mungkin merosot karena umat islam Indonesia cenderung melaksanakan “Islam Subtantif” daripada “islam Formalistik”. Dengan maraknya gerakan-gerakan Islam di Indonesia yang seringkali diwarnai dengan kekerasan baik antara maupun interumat, bagaimana prospek demokratisasi di Indonesia. Akankah lebih suram
Struktur Sosial Keberagaman Pemeluk Islam di Indonesia Abdul Munir Mulkhan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.392-413

Abstract

All religions, in accordance with their experiences, bring many religious schools and patterns of their adherents. It appears on institutional in the form of organization such as Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama (NU) with its religious patterns. By means of similar probes, the Islamic adherents in Indonesia can be differentiated into two big modes, santri and abangan. Up to now both always give character to Islamic relationship and national reality with the shape of different party. The Islamic variations are forms of the religious meaning by its adherent differently conforming with his couscous’s structure. The experience of life, education, job and family give big influence whether Islam is known, to be conscious and meant by every adherent. In social realities of its adherent, Islam gives many meanings, schools and behavioral patterns that can be opposite one another. The Islamic realities can be explained, researched and understood from its social dynamic adherent. The experts of socials sciences observe such social Islamic reality as a function of dialectic relationship of a single textual teaching and the reality of its dynamic adherent. Hence, it can be understood that the sufism develops in one area and the teaching of syariah is more accepted in other areas.Most of farmers and labors living in villages tend to follow magic known as abangan. The others are santri who obey syariah and some of them are more ethical in their religion. The understanding of Islam in its social reality is important to be developed to measure the scale of Islamic acceptance in an area. Such research can give information on Islamic elements that base way of life from most people, and elements that have not been widely acceptend. IAIN can prepare the policy of education based on Islamic social reality, while Islamic organization prepares strategy for needs of community and nation or to widen its organization.
Studi Kritis Dalam Hukum Islam (Menimbang Karya David S. Powers) Latiful Khuluq
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 39, No 2 (2001)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2001.392.521-529

Abstract

David s. Powers adalah salah seorang sarjana yang cukup dikenal dalam studi Islam (Islamisis, Orientalis). Ketika bukunya diterbitkan, yakni tahun 1986, ia berstatus sebagai Assistant Professor dalam bidang Studi Islam dan Bahasa Arab di Cornell university, sebuah perguruan tinggi di Amerika yang hingga kini dikenal sebagai tempat studi Indonesia modem terbesar di kawasan Amerika (mungkin Barat pada umumnya). Ia tergolong sarjana yang produktif (prolific), dan karya-karyanya menjadi rujukan penting bagi mereka yang menekuni hukum Islam atau Islam pada umumnya. sebagaimana karya-karya sarjana Barat lainnya, karya Powers menggunakan pendekatan historical criticism dan juga literary criticism yang berusaha menunjukkan keterkaitan sejumlah teks dan rumusan hukum Islam dengan realitas sosial, ekonomi, bahkan politik pada masanya. Barangkali agak sulit mencerna karya-karya Powers, termasuk yang sedang diresensi ini, tanpa memahami konteks studi dan pemikiran hokum Islam yang berkembang di kalangan sarjana Barat. Sebab, sejumlah pemikiran Powers dikemukakan justru dalam rangka menjawab beberapa pemikiran kontroversial dalam kajian hukum Islam. pada waktu yang sama, karya karya Powers juga bermanfaat bagi umat Islam untuk melihat ulang sejumlah rumusan hukum Islam yang ada, karena di dalam karya-karya tersebut terdapat pandangan yang berbeda bahkan bertentangan dengan pandangan yang secara umum dianut dan berkembang di kalangan umat Islam.

Page 1 of 2 | Total Record : 12


Filter by Year

2022 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 60, No 1 (2022) Vol 39, No 2 (2001) Vol 38, No 2 (2000) Vol 38, No 1 (2000) Vol 37, No 64 (1999) Vol 37, No 63 (1999) Vol 36, No 62 (1998) Vol 36, No 61 (1998) Vol 59, No 2 (2021) Vol 59, No 1 (2021) Vol 58, No 2 (2020) Vol 58, No 1 (2020) Vol 57, No 2 (2019) Vol 57, No 1 (2019) Vol 56, No 2 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 56, No 1 (2018) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 55, No 2 (2017) Vol 55, No 1 (2017) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 54, No 2 (2016) Vol 54, No 1 (2016) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 53, No 2 (2015) Vol 53, No 1 (2015) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 52, No 2 (2014) Vol 52, No 1 (2014) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 51, No 2 (2013) Vol 51, No 1 (2013) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 50, No 2 (2012) Vol 50, No 1 (2012) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 49, No 2 (2011) Vol 49, No 1 (2011) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 48, No 2 (2010) Vol 48, No 1 (2010) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 47, No 2 (2009) Vol 47, No 1 (2009) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 46, No 2 (2008) Vol 46, No 1 (2008) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 45, No 2 (2007) Vol 45, No 1 (2007) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 44, No 2 (2006) Vol 44, No 1 (2006) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 43, No 2 (2005) Vol 43, No 1 (2005) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 42, No 2 (2004) Vol 42, No 1 (2004) Vol 41, No 2 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 41, No 1 (2003) Vol 40, No 2 (2002) Vol 40, No 1 (2002) Vol 39, No 1 (2001) More Issue