cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 40, No 1 (2002)" : 10 Documents clear
Non-Muslim (Western) Scholars' Approach to Hadith. An Analytical Study on the Theory of “Common Link and Single Strand” Kamaruddin Amin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.34-55

Abstract

UIN Alauddin MakassarDalam studi hadith, ada perbedaan fundamental antara metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Muslim dengan metode yang dikembangkan oleh sarjana-sarjana Barat. Sarjana-sarjana Muslim menekankan pada penelitian tentang bagaimana memilah hadith sahih dari yang palsu, sedangkan penelitiaan hadith di barat adalah how to date a particular hadith ( bagaimana menentukan tanggal atau umur) hadith tertentu untuk menaksir asal-usulnya. Hal ini disebabkan karena Sebagian besar, untuk tidak mengatakan semuanya, sarjana-sarjana barat percaya bahwa sangat sedikit, kalaupun ada, hadith yang bisa disandarkan secara historis kepada Nabi. Oleh karena itu, penelitian tentang kapan, siapa dan dimana hadith yang sedang diteliti dibuat harus dilakukan. Untuk menjawab pertanyaan sentral tersebut sejumlah metode telah dikembangkan dalam kesarjanaan barat ( Westem scholarship). Diantara metode tersebut dikenal teori common link yang telah menelorkan sejumlah konsep seperti single strand, partial common Iink, spider, driving dll.Teoi common link  pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Schacht dalam bukunya The Origins of Muhammadan Jurisprudence (1950) yang mendapat inspirasi dari Ignaz Goldzther dalam bukunya Muhammadan Studien. Teori tersebut secara umum telah menginspirasi sariana Barat yang datang sesudahnya. Diantara yang paling setia, yang bukan hanya mengadopsi teori Schacht tapi telah mengembangkannya secara signifikan dalam skala besar, meskipun berbeda dari Schacht dalam sejumlah point penting, adalah G.H.A. Juynboll. Sebaliknya kritik tajam terhadap sejumlah premis dan methodologi Schacht dan Juynboll diartikulasikan oleh Harald Motzki dalam karya monumentalnya Die Anfange der Islamischen Jurisprudence. Ihre Entwicklung in Mekka bis zur Mitte  des 2./8. Jahrhundert 1991, meskipun kemudian dikritik oleh Irene Schneider. Polemik tentang akurasi teort common link dan implikasi metodologis yang ditimbulkannya sampai hari ini masih terus berlangsung dalam journal international studi Islam seperti Der Islam. Bagaimana teori tersebut bekerja dan sejauh mana akurasi teori tersebut dapat menyajikan taksiran historis untuk menentukan kualitas hadith akan dibahas dalam artikel ini.
Strategi Dakwah Islam dalam Pendekatan Rasional Transendental Andy Dermawan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.155-174

Abstract

This article tries to apply the transcendental rational approach to the preaching of Islam. The characteristic preaching of Islam in transcendental rational approach relies on how ratio works in catching reality in the real world empirically, and then we analyze through an intergalactic combination between "fikir" and "zikir" to answer mankind's problems based on Allah's sayings and the prophet's tradition. The author tries to offer preaching of Islam's comprehension scientifically as follow: (1). Normatif preaching i.e., preaching of Islam which is based on Al-Qur'an and Hadith and is analyzed hermeneutical, dialectical, systematically in order to seize the moral teachings integrally without doing any reductions on both sources; (2). Historic preaching i.e., preaching of Islam which develops post Rasulullah's life up to recent days which is made as consideration to understand both sources (Al-Qur'an and Hadith). Whereas the characteristic of historic preaching is always open for changes, criticism, and giving reinterpretation and comprehension toward the reality of existing preaching.
Socrates and Suhrawardi: Historical Affinities? Roxanne D. Marcotte
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.1-33

Abstract

Socrates (469-399 SM) dan Suhrawardi (m. 1191 M) hidup di dua dunia yang sangat berbeda, baik secara waktu, tempat, budaya maupun kepercayaan yang ada disekitar mereka. Perbedaan itu iuga mempunyai konsekuensi pada perbedaan hidup dan pemikiran mereka. Walaupun demikian, anehnya, mereka mempunyai kesamaan. Kesamaan mereka adalah pada upaya mereka untuk menyingkap hakekat sesuatu. Sedangkan kesamaan yang lain adalah bahwa hidup mereka sama-sama berakhir secara tragis. Socrates yang tidak pemah menulis apapun, terkenal dengan metode dealektikanya. Dialektika Socrates, sebagai upaya investigasi kritis, adalah sarana untuk menjangkau hakekat sesuatu di luar kepercayaan umum saat itu. Dengan dialektika, socrates berusaha untuk melawan hegemoni kaum agamawan dan masyarakat Athena saat itu yang acuh dengan kebenaran. Dengan mengenalkan penalaran induktil, Socrates mencoba menyingkap hakekat universal tentang Tuhary tentang keadilan dll. Suhrawardi, di pihak lain, mempunyai tujuan yang sama dengan socrates, tapi dengan metode yang berbeda. Misteri tentang perbedaan dalam kesamaan inilah yang akan disingkap dalam artikel ini.
Al-Miqyās al Islāmī wa al-hal al-amthal lil qadāyā al-ijmāiyaah Amroh Muhammad Qosim
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.210-236

Abstract

Problems that happened and developed in society could not be separated from human beings as the main doer. Human beings have many characteristics that contribute to its attitude in society. Two of its characteristics, and also its major Powers are its curiosity and its need of financial. However human beings would not achieve its highest curiosity unless he/she already has been fulfilled its financial need. So, the two characteristics is rather a cause-effect relationship than a complementarily relationship. These two characteristics, however, are significant to analyze some social problems. One of the problems in society is that there are a small number of rich people and the existence of an enormous quantity of the poor people. The writer assumes that the above economical gap is initiated by an unjust social order. With her framework of Islam, the writer would portray some social problems and then provide some solutions for the problems. For the writer, human beings should put everything, as it should be and as it stated in Islam, because Islam has already made an obvious pattern to reach the ultimate goal of life.[Berbagai persoalan yang muncul dan berkembang dalam masyarakat tidak bisa dilepaskan dari manusia sebagai pelaku utama. Manusia memiliki berbagai karakteristik yang menentukan sikapnya dalam bermasyarakat. Dua di antara karakteristik dan sekaligus potensi menonjol manusia adalah rasa ingin tahu dan kebutuhan akan materi. Walaupun demikian, yang disebut pertama tidak bisa optimal sebelum faktor kedua terpenuhi. Jadi, dua karakteristik itu lebih bersifat sebab-akibat dari pada bersifat komplementer. Dua karakteristik ini cukup penting untuk melihat berbagai permasalahan yang muncul di masyarakat. Di antara permasalahan yang cukup signifikan adalah adanya orang kelompok kecil masyarakat yang kaya, di satu pihak, dan kelompok besar masyarakat yang tidak mampu di pihak lain. Penulis beranggapan bahwa kesenjangan ekonomi di atas bermula dari tatanan sosial yang serba tidak adil. Dengan kacamata Islam, penulis akan memotret berbagai persoalan sosial dan kemudian menyodorkan altematif solusi. Bagi penulis, manusia harus meletakkan berbagai persoalan sesuai dengan proporsinya dalam agama Islam, karena Islam telah membuat standar yang jelas untuk mencapai tujuan hidup yang ideal.]
Al-Muqawwimāt al Fikriyyah li al-ilmanīyah Muslim Nasution
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.175-209

Abstract

Nowadays, secular life has greatly influenced modern society. It is ordinary if secular life has swept out of Western society because, indeed, secularism was born there with the background of Christianity. However, it is different if secular life also influences Muslim societies, because it contradictory to Islamic teachings. The widespread of secularism in Muslim societies is the result of the propaganda of secularists. Even, they made a kind of academic fraud by using the Arabic word 'ilmaniyyah to legalize their thought. This article is trying to reveal the term of secularism especially in Arabic by tracing its original meaning in Greek. The writer believes that the translation of the word secularism as 'ilmaniyyah is misleading. This article is also trying to explore the early history of secularism, and various backgrounds of thoughts of that time.[Kehidupan sekuler sudah sedemikian rupa mewarnai masyarakat modern dewasa ini. Kalau kondisi seperti ini melanda masyarakat Barat adalah suatu hal yang wajar karena pemikiran sekularisme memang muncul dari sana dengan Kristen sebagai agama yang berperan melatarbelakangi munculnya pemikiran tersebut. Persoalannya menjadi lain ketika kehidupan sekuler juga melanda masyarakat muslim yang jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri. Hal ini tidak terlepas dari propaganda yang begitu gencar yang dilakukan oleh kaum sekuler, bahkan ke tingkat pembohongan akademik seperti pemakaian istilah sekuler dalam bahasa Arab dengan 'ilmaniyah dimana diambil dari kata 'ilm. Makalah ini berusaha mengungkap istilah sekularisme khususnya dalam bahasa arab, sejarah kemunculannya dan berbagai landasan pemikiran sekularisme itu sendiri.]
Demythologizing the Narratives of the Qur'a'n: Muhammad 'Abduh's and Bint al Shati"s Account of 'Ad, Thamud, and Pharaoh, Q. 89: 6-10' Al Makin Al Makin
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.80-97

Abstract

Dalam al-Qur'an terdapat banyak cerita (kisah) yang terjadi jauh sebelum al-Qur'an diturunkan seperti kisah tentang rasul-rasul dan ummatnya sejak Adam hingga Muhammad. Para mufassir klasik seperti Tabari sering menceritakan secara detail kisah-kisah tersebut yang berdasarkan tidak hanya pada al-Qur'an, tapi lebih pada riwayat-riwayat. Masing-masing kisah sering mempunyai beberapa versi lengkap sebagaimana kisah-kisah Israiliyat. Berbeda dengan mufassir klasik, para mufassir modem  cenderung tidak menceritakan secara lengkap cerita-cerita tersebut. Mereka mencoba untuk memahami bagian-bagian penting dari kisah-kisah tersebut dan menginterpretasikan nilai-nilai yang terkandung di dalam kisah tersebut dalam konteks modern ini. Artikel ini mencoba untuk melihat pendekatan dua mufassir modem, yaitu Muhammad'Abduh dan 'A'ishah 'Abd al-Rahman Bint al-Shati', dalam  Mengitepretasikan kisah kaum 'Ad, Thamud dan Fir'aun dalam al-Qur'an.
Ketika Agama Menyejarah Kamaruddin Hidayat
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.98-125

Abstract

Religions, especially Abrahamic religions, are having a great role in building human civilization in the world. History recorded that some of the greatest wonders of the world, such as pyramid in Egypt, Borobudur Temple in Indonesia, and some enormous buildings in Greece have been built under the spirit of religion. since the great role of religions nowadays religion is always attached to actual phenomena in the framework of changes in the world. This article is trying to understand religion without the border of language and culture that is local and particularistic. Abrahamic religions normatively and theologically do not share many differences. However, pragmatically and historically their differences are the big problems of the world. Most of the bloody wars that happened in some parts of the world lately are fueled by religious disagreements. Finally, pragmatically the writer explains the role of religion in the development of great civilizations in the world, including the role of religion in the democratization of Indonesia. For it, to be a democratic state, pluralism and inclusivism in understanding religion should be the heart of Indonesian society.
Sistem Belajar Cepat dan Efektif Book Review
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.237-254

Abstract

Buku yang ditulis oleh Dave Meier ini muncul antara lain terinspirasi oleh pengalaman di lapangan ketika berlangsung sebuah pelatihan bagi para trainer di perusahaan semikonduktor terkemuka Amerika Serikat. Ketika itu ada salah seorang peserta pelatihan, David, yang harus meninggalkan kegiatan tersebut karena ada panggilan darurat via telpon bahwa dia harus menggantikan salah seorang pembicara yang berhalangan hadir pada prograrn orientasi satu minggu di tempat lain. Ia  dianggap sebagai orang yang paling mungkin menggantikan pembicara tersebut, padahal ia sama sekali belum punya persiapan bahan yang harus dipresentasikan, misalnya hand out  Materi yang harus dia sampaikan adalah tentang keselamatan kerja, yang merupakan materi terakhir, selama satu setengah jam. Sebagai seorang pelatih, sambil berjalan menuju ke lokasi pelatihan ia membuat rencana. Ia ingat pada salah satu prinsip dari Accelerated Learning, yakni "learning is creation not consumption. "
Pertautan Epistemologi Bayani dan Pendidikan Islam Masa Keemasan Mahmud Arif
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.126-154

Abstract

Historically, the current Islamic thought is essentially a continuation of the result of Islamic thought theorizing that peaked in the Golden ages (III - V H). As a consequence of bayaniyyun domination the product of Islamic thought in the Golden ages has succeeded to build an image that Islamic Arabic thought inherited by us currently is nothing but an "Islamic law" civilization. This can be viewed from epistemological fact; the wriggle of Islamic Arabic thought is always present at the firm hegemony of bayani reason structure attaining a supremacy momentum from Islamic humanism and scholasticism movements.Furthermore, the bayani reason structure has subsequently permeated into Islamic education as a cultural "reason" for education at that time. Then, this permeating has caused appearing of "the religious-conservative" education school that less is appreciated to every rational impact from "outside", so that tends to make marginal intellectual sciences. It was natural in its development, "intellectualism" becomes overcast from the realm of Moslem consciousness. This reality has been made worse by madrasa as a par excellence institution in the Islamic world that has changed its function as only a "wagon" mover of bayani tradition. This article tries to investigate the process of awakening of bayani epistemology and its linkage with Islamic Education in the Golden ages with Islamic education in the Golden ages.
The Framework and Practice of Islamic Insurance in Malaysia Joni Tamkin Bin Borhan
Al-Jami'ah: Journal of Islamic Studies Vol 40, No 1 (2002)
Publisher : Al-Jami'ah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2002.11.56-79

Abstract

Asuransi telah menjadi fenomena yang jamak di era modern di belahan dunia manapun. Di Malaysia, asuransi konvensional dipandang oleh Komisi Fatwa sebagai tidak Islami karena mengandung beberapa elemen seperti riba, gharar dan maysir. Permasalahan inilah yang akhimya mengundang perhatian kalangan Muslim sehingga mereka mengupayakan asuransi yang lebih sesuai dengan syariat Islam. Maraknya bisnis asuransi Islami atau takafuI inilah yang menarik perhatian saya (penulis) untuk melihat secara dekat wacana dan praktek asuransi Islam di Malaysia. Walupun banyak bisnis asuransi Islam yang muncul, namun penulis hanya akan membahas salah satunya, yaitu syarikat Takaful Malaysia Berhad (STMB) yang merupakan asuransi takaful pertama di Malaysia. Banyak permasalahan yang bisa dilihat dan didiskusikan dalam artikel ini, diantaranya adalah awal tradisi asuransi, pandangan Islam tentang praktek asuransi modern dan beberapa permasalahan yang berhubungan dengan praktek asuransi di Malaysia. Penulis akan lebih memfokuskan pada bagaimana pelaksanaan konsep takaful dalam Islam di dalam pelaksanaan asuransi ini. Apakah konsep mudharabah dan tabarru menjadi dasar dalam praktek asuransi takaful pada syarikat Thkaful Malaysia Berhad (srMB) khususnya dan asuransi takaful yang lain pada umumnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 10


Filter by Year

2002 2002