cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 30 Documents
Search results for , issue "Vol 43, No 2 (2005)" : 30 Documents clear
Fikih Kiri: Revitalisasi Usul al-Fiqh untuk Revolusi Sosial Nugroho, Anjar
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.425-454

Abstract

Classical fiqh, which is based on classical Usul al-Fiqh, has often been considered out of date and no longer has its effectiveness at handling new problems. The article is a study critically addressed to the classical theory of Usul al-fiqh, which is commonly accused as a factor that made fiqh static and has nothing to do with reality. The writer proposes, then, how to develop a new model of fiqh that is more sensitive to the real issues of society, left fiqh. The left fiqh is fiqh that takes side with oppressed, impoverished people (mustad‘afin) and demands criticism to a hegemonic power. This is an antithesis to mainstream fiqh, which tends to be used to protect people with the power. It is expected that left fiqh may colourize both the process and the result of ijtihad of Muslim scholars. Fiqh that is not sensitive to human problems will merely legitimate illegal collusion. If fiqh does not insist on handling and overcoming human problems, it will experience two problems: first, fiqh will indulge in its settled condition as a well established doctrine and will be always considered unnecessary. Second, fiqh will progressively narrow its role merely focused on ritual and make its self powerless at solving daily human problems.
Contending Identity In The Islamic Ritual: the Slametan among Surinamese Javanese Muslims in The Netherlands Khusen, Moh.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.283-308

Abstract

Wacana tentang slametan dalam masyarakat Muslim Surinam keturunan Jawa di Belanda sesungguhnya, di satu sisi, merepresentasikan sebuah pertarungan identitas kultural keagamaan di antara mereka dan, di sisi lain, menunjukkan sebuah hubungan yang kompleks antara Islam ‘resmi’ dengan tradisi Jawa. Tulisan ini membuktikan bahwa praktek slametan dalam masyarakat Muslim Surinam keturunan Jawa di Belanda ternyata hampir tidak mengalami perubahan. Perubahan yang ada hanya berkaitan dengan aksesoris upacara sebagai akibat dari penyesuaian terhadap kondisi geografis dan iklim setempat. Hal ini tidak ada artinya dibandingkan dengan antusiasme yang sangat besar --khususnya bagi kelompok masyarakat Muslim Kejawen untuk melestarikan semua warisan budaya dari pendahulu mereka yang adalah orang Jawa. Tulisan ini pada akhirnya menunjukkan adanya pertarungan identitas antara kelompok Muslim Kejawen yang bangga dengan “agama jawa”-nya dan kelompok moderat dan reformis yang ingin menjadi Muslim yang sebenarnya.
Legalitas Agama Menurut Ibn ‘Arabi Mukhlis, M.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.455-474

Abstract

In connection with the issues of religious pluralism, it is often that people have improper opinion on Ibn ‘Arabi. This article shows the thought of this prominent figure in religious pluralism, especially his concept in the parameter of religion, which he conceived in the construct of al-amr al-takwini and al-amr al-taklifi. In adition, the writer discusses Ibn ‘Arabi’s view on the superiority of Muhammad’s Islam among other religions, in spite of his pluralistic ideas.
Resolving Religious Conflicts Through Expanding Inter-Religious Communication: Issues and Challenges Suwarno, Peter
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.209-325

Abstract

Konflik yang terkait dengan isu keagamaan sering timbul dengan sangat mudah. Tanpa menafikan hadirnya oknum provokator, konflik ini biasanya muncul karena rendahnya sikap saling pengertian dan terbatasnya komunikasi antar agama. Dalam artikel ini, penulis berpandangan bahwa mediasi –sebagai salah satu jalan keluar yang popular untuk mengatasi konflik keagamaan, yang lebih menekankan terwujudnya kesepakatan damai antar pemeluk agama– kurang cocok untuk kondisi di Indonesia. Berdasarkan analisis atas usaha untuk resolusi konflik keagamaan di Indonesia, upaya yang lebih cocok untuk dilakukan adalah yang mengarah pada upaya saling memahami antar kelompok agama yang berbeda-beda. Hal itu dapat diusahakan melalui peningkatan komunikasi antar pemeluk agama, termasuk melalui jalur pendidikan formal, dialog antar agama, hingga memperluas ruang publik untuk pengembangan tradisi peace building.
Lukisan Peleburan Cinta yang Erotik: Puisi Sufi di antara Estetika dan Etika Cinta Ilahiyah Wachid B.S., Abdul
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.475-499

Abstract

The ecstatic experience of a Sufi often drives him or her to producing such unusual sayings ordinarily called as shathiyya, which are sometimes problematic for common people. This is due to the fact that the expressions are not in common language; they are articulated in “the language of heart”, which is figurative and symbolic, since they state conative experiences. In this regard, love poems with their erotic expressions are chosen as a media for a Sufi’s reflection. In addition, the writer discusses the rationale of Sufis in connection with their erotic-love poetic illustrations. Some poems of Sufi Poets, such as those of Sana’i, Rabi‘a al-Adawiyya, Sa‘di, Jami‘,and Amir Hamzah, are elaborated for a further appreciation of the Sufis’ shathiyya.
Pesantren, Peace Building, and Empowerment: A Study of Community Based Peace Building Initiatives Sholeh, Badrus
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.327-347

Abstract

Pesantren telah menjadi bagian tradisi keislaman di Indonesia, yang menggabungkan kajian dan budaya Islam Timur Tengah dengan tradisi lokal. Penggabungan tradisi ini menciptakan Islam Indonesia memiliki karakter berbeda dengan Islam di Timur Tengah. Tulisan ini melihat peran pesantren lebih dekat dengan studi kasus pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, Jawa Timur. Pesantren ini telah menjadi salah satu pesantren tertua di Indonesia, dengan peran strategis mengembangkan perdamaian dan mewarnai perjalanan peradaban di sekitarnya. Kiprah tiga pesantren menjadi perhatian utama: memediasi hubungan antar agama pasca kerusuhan Situbondo 1996, mendamaikan hubungan antara petani dan perusahaan perkebunan negara dalam pendayagunaan tanah di Bunengan dan konflik tanah di Merak. Kyai, ustadz dan santri menjadi bagian yang menyatu dengan dinamika lokal.
Book Review: Islam, Antara Negara Agama dan Negara Sipil Sujadi, S.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.501-509

Abstract

Aksi-aksi terorisme yang dilakukan oleh beberapa orang Islam radikalis yang begitu semarak dewasa ini dan gejala-gejala eksklusivisme yang dilakukan oleh beberapa orang Islam-ekstremis di berbagai belahan dunia telah menyebabkan umat Islam, terutama para pemimpin dan ulamanya, dalam keprihatinan yang mendalam. Para pemimpin agama dan ulama, terutama dari kalangan moderat, tidak tinggal diam melihat fenomena-fenomena itu. Mereka melakukan pencerahan-pencerahan dan penyadaran-penyadaran akan kekeliruan-kekeliruan mereka melalui media khotbah, media cetak, media elektronik, melalui seminar-seminar hingga pertemuan-pertemuan khusus. Fenomena di atas, salah satunya, disebabkan oleh pemahaman terhadap Islam secara parsial, tidak utuh. Islam dipahami secara sepotong-potong. Ajaran Islam diterapkan tanpa melihat lingkungan yang ada, sehingga muslim yang menerapkannya bagai alien dan tidak ramah terhadap lingkungannya, apalagi peduli.
Editorial: Globalization Toward Locality
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.vii-viii

Abstract

Seemingly, Globalization, the recent world phenomenon, will get rid of all frontiers possessed by a state. This is due to the fact that each person, whatever citizenship the person possesses, may communicate with any one else wherever he or she live, and may move to any place to which he or she would like. Accordingly, the world phenomenon will play great roles in setting particularly socio-cultural, political, educational, and legal patterns and formulations of locality. However, this locality is an exception. It is a distinctive and peculiar border. The Great Tradition, possessed by the Reflective Few, is going to be hand in hand with the Little Tradition of the Unreflective Many to shield their local properties. They won’t let outsiders, through the globalization stream, destruct their local social structures, even though such consciousness belongs more greatly to the former group rather than the latter. However, the former is used to invite the latter to cooperate in handling foreign destructive influences.
The Epistemology of Kalam of Abu Mansur al-Maturidi Nasir, Sahilun A.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.349-365

Abstract

Wacana tentang teologi al-Maturidi nampak kurang mendapat perhatian dari orang-orang Islam Indonesia. Tidak kalah krusialnya adalah bahwa karya-karyanya langka untuk ditemukan di negeri ini. Fakta ini begitu berbeda dengan teologi Asy‘ari. Padahal kedua tokoh itu merupakan penganut Ahlus-sunnah wal jama‘ah. Untuk keperluan itu, tulisan ini mengekplorasi metode teologi al-Maturidi terkait dengan sifat-sifat Allah, firman Allah, melihat Allah, dosa besar, dan aktifitas manusia. Pendekatan epistemologi, yang didukung dengan metode hermeneutik, digunakan sebagai alat pembedah untuk memperjelas metode teologinya tentang subjek-subjek tersebut. Akhirnya, tulisan ini menyimpulkan bahwa pengaruh Abu Hanifah dan Mu‘tazilah telah mmberikan kekhasan pada metode teologinya terkait dengan kelima subyek itu.
The Reliability of the Traditional Science of Hadith: A Critical Reconsideration Amin, Kamaruddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 43, No 2 (2005)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre, Sunan Kalijaga State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2005.432.255-281

Abstract

Satu hal yang begitu krusial dalam studi hadis adalah adanya fakta bahwa kodifikasi hadis dilakukan pada waktu yang cukup jauh dari peristiwa-peristiwa yang dinarasikannya. Untuk itu, tulisan ini memfokuskan pada metode-metode yang digunakan untuk menenetukan keotentikan hadis. Dengan demikian, riset ini dapat menjadi pertimbangan untuk menempatkan hadis dalam studi Islam. Riset ini menggunakan pendekatan isnad yang didukung dengan metode komparatif, pendekatan Barat dan Timur. Metode ini diperkuat dengan karya-karya dan literaturliteratur para ahli hadis Barat dan Timur. Tulisan ini akhirnya menegaskan bahwa dasar-dasar kritreria dalam menentukan keotentikan hadis dan evaluasi kritis terhadap bentuk-bentuk dalam mentransmisikan hadis merupakan hal yang fundamental untuk dipertimbangkan. Walaupun demikian, bentuk-bentuk itu tidak mudah diinvestigasi karena mereka dapat digunakan secara bergantian. Begitu juga dengan ulumul hadis yang masih perlu dipertanyakan tentang keselarasannya dengan praktek pentransmisian dan kritik terhadap hadis pada masanya.

Page 1 of 3 | Total Record : 30


Filter by Year

2005 2005