cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Al-Jami´ah: Journal of Islamic Studies
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Religion,
Al-Jamiah, a journal of Islamic Studies published by Al-Jami'ah Research Centre of State Islamic University Sunan Kalijaga Yogyakarta since 1962, can be said as the oldest academic journal dealing with the theme in South East Asia. The subject covers textual and fieldwork studies with various perspectives of law, philosophy, mysticism, history, art, theology, and many more. In the beginning the journal only served as a scholarly forum for the lecturers and professors at the State Institute of Islamic Studies. However, due to the later development with a broader readership, the journal has successfully invited scholars and researchers outside the Institute to contribute. Thus, Indonesian and non-Indonesian scholars have enriched the studies published in the journal. Although not from the beginning Al-Jamiah presents highly qualified scholarly articles, improvement—in terms format, style, and academic quality—never ceases. Now with articles written in Arabic and English and with the fair procedure of peer-review, Al-Jamiah continues publishing researches and studies pertinent to Islamic studies with various dimensions and approaches.
Arjuna Subject : -
Articles 20 Documents
Search results for , issue "Vol 53, No 2 (2015)" : 20 Documents clear
Popular Religiosity in Indonesia Today: The Next Step after ‘Islam Kultural’? Noor, Farish A.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.283-302

Abstract

The phenomenon of popular Islam is seen everywhere in the Muslim world today, and expresses itself via a host of means ranging from fashion to architecture as well as new cultural norms that are deemed Islamic. In the case of Indonesia, the expansive growth of the ‘halal market’--pioneered by Islamic fashion and cosmetics-- has been a powerful variable factor, accounting for the emergence of a new Indonesian Muslim middle-class that has aspirations for upward social mobility as well as social capital. This paper locates the phenomenon of Indonesian pop Islam in the longer and broader history of Indonesia since the time of Suharto to the post-reformasi era of the present, and argues that pop Islam in Indonesia is a serious phenomenon worthy of study; as well as a good indicator of the trajectory of social development in the country. Though not everything that comes under this category may be classified as truly or wholly Islamic, the phenomenon nonetheless points to a growing sense of religious consciousness among the new urban Muslim middle-classes who see themselves as agents of change as well as religio-economic entrepreneurs.[Fenomena Islam popular terlihat di mana-mana di dunia Islam saat ini, dan itu diekspresikan lewat berbagai media seperti tata busana sampai arsitektur, juga termasuk aturan-aturan yang dianggap Islami. Pada kasus Indonesia, perkembangan trend halal-haram yang dimotori oleh dunia tata busana dan kosmetik menyebabkan munculnya kelas menengah baru yang membawa aspirasi itu ke atas sebagai modal. Makalah ini menempatkan Islam popular di Indonesia pada jangka panjang dan luas sebagai fenomena yang layak dijadikan bahan studi; begitu juga arah perkembangan di negara itu. Namun tidak semua di bawah kategori ini masuk dalam wilayah Islamis, namun tetap saja menunjukkan kesadaran keagamaan baru di perkotaan pada kelas menengah yang menganggap dirinya sebagai agen perubahan dan juga penggiat ekonomi agamis].
Sectarian Translation of the Qur’an in Indonesia: The Case of the Ahmadiyya Burhani, Ahmad Najib
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.251-282

Abstract

Ahmadiyya’s translations of the Quran have some distinctive characteristics compared to the translations from Sunni Muslims. However, these translations, particularly Soedowo-Dutch translation of Muhammad Ali’s The Holy Quran, have been influential in Indonesian Sunni community in the first half of the 20th century. Against the opposition from the Muhammadiyah and the fatwa from Muhammad Rashid Rida of Egypt, which prohibited the use of Ahmadiyya’s translation, the Soedewo-Dutch translation was widely used by Dutch-educated intelligentsia as a main source to know about Islam. This article specifically answers the following questions: Why did Ahmadiyya’s translations of the Quran have a significant place in Indonesia? What was the appeal of these translations to Indonesian intelligentsia? What is the contribution of these translations to the study of the Quran in this country? This paper argues that the success of Ahmadiyya’s translation, particularly the Dutch version, during the revolution era is based on three reasons: language (Dutch is the language of intelligentsia), content (which fit with the need of intelligentsia who seek a harmonious understanding between religie and wetenschap), and form (the only available rendering of the Quran in modern form of publication). In the context of ideology, the reception of Muslim intelligentsia was mainly for their contribution in defending Islam against the penetration of Christian mission and the coming of anti-religion ideologies, particularly materialism and atheism, by strongly challenging their doctrines. [Terjemah al-Quran versi Ahmadiyah memiliki beberapa karakteristik yang berbeda jika dibandingkan dengan terjemah versi Islam sunni pada umumnya.  Namun demikian, terjemah seperti di atas, khususnya terjemah al-Quran dalam bahasa Belanda --yang dialih-bahasakan dari The Holy Qur’ān karya Muhammad Ali oleh Soedowo-- cukup berpengaruh di masyarakat muslim Indonesia pada paruh pertama abad ke-20. Bertentagan dengan fatwa dari Muhammadiyah maupun dari Muhammad Rashid Rida yang melarang penggunaan terjemah versi Ahmadiyyah, terjemha Soedewo ini justru menjadi rujukan bagi kalangan terdidik untuk memahami Islam. Tulisan ini secara khusus menjawab pertanyaan: mengapa terjemah al-Quran versi Ahmadiyyah ini cukup berpengaruh di Indonesia, apa yang menarik dari tterjemah ini bagi mereka, serta apa sumbangan pemikiran terjemah ini pada perkembangan keilmuan al-Quran di negeri ini. Menurut penulis, terjemah versi Ahmadiyyah, khususnya yang berbahasa Belanda, mengalami kesuksesan pada masa revolusi dipengaruhi oleh tiga hal: (1) bahasa Belanda  yyang dipakai adalah bahasa kalangan terdidik, (2) isinya sesuai dengan kebutuhan kalangan terpelajar yang ingin mencari pemahaman yang harmonis antara agama dan ilmu pengetahuan, dan (3) terjemah ini merupakan satu-satunya bentuk publikasi modern dari terjemah al-Quran yang ada pada masa itu. Dalam konteks ideologi, penerimaan kaum intelektual ini terutama terkait dengan upaya perlawanan Islam terhadap tekanan misi Kristen dan masuknya ideologi-ideologi anti agama, khususnya materialisme dan atheisme.]
New Frontiers of The Islamic Studies in Indonesia Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies, Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.ix-x

Abstract

Lazismu and Remaking the Muhammadiyah’s New Way of Philanthropy Baidhawy, Zakiyuddin
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.387-412

Abstract

This study is aimed to analyze the new way of philanthropy by special reference to Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Muhammadiyah (Muhammadiyah Philanthropic Board: hereafter Lazismu); explore the measures taken by Lazismu to promote empowerment and social justice movements by combining charity and entrepreneurship; and understand the motive of the new philanthropy movement initiated by Lazismu. Through the ‘third way’ approach and analysis, this study found that: first, Muhammadiyah, as a non-profit social-religious organization, admits its role as an agent of transformation vis-à-vis the State. Lazismu is able to show its flexibility to adapt to new trends in philanthropy. Lazismu is also able to initiate breakthrough in management of Zakat, Infaq, and Sadaqah and move them beyond charity activities to productive and redistributive activities to promote social justice and equity. Second, Lazismu shows creativity and sophisticated programs exceeding the expectations of muzakki (alms payer), benefactor, and donors. Realization of philanthropy programs developed by Lazismu extends from education development, agriculture development, youth entrepreneurship, and women empowerment, to Masjid based community empowerment. Third, Lazismu combines theology of love, generosity, and voluntarism to produce transformative philanthropy that is successful to alter charity oriented generosity to creative and innovative good deeds.[Kajian ini dimaksudkan untuk melihat model filantropi baru pada Lazismu (Lembaga Amil Zakat Infak dan Sadaqah Muhammadiyah); mengungkapkan langkah-langkah yang diambil oleh Lazismu untuk melakukan pemberdayaan dan keadilan sosial; dan untuk memahami tujuan filantropi baru yang digagas oleh Lazismu. Menggunakan pendekatan dan analisis “Jalan Ketiga”, makalah ini menemukan bahwa Muhammadiyah,  sebagai organisasi non-profit, mengakui perannya sebagai agen perubahan vis-a-vis Negara. Lazismu mampu menujukkan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan mode-mode filantropi baru. Lazismu juga mampu menemukan terobosan-terobosan dalam manajemen zakat, infak, dan sedekah. Lazismu mengelolanya dari sekedar kegiatan kedermawanan menjadi kegiatan-kegiatan produktif dan redistributif untuk mewujdukan kesetaraan dan keadilan sosial. Kedua, Lazismu menunjukkan kreatifitas dan program-program canggih melampaui harapan muzakki, donor, dan penerima. Wujud program filantropi yang dikembangkan oleh Lazismu meliputi pengembangan pendidikan, pembangunan pertanian, kewirausahaan pemuda, dan pemberdayaan perempuan, sampai dengan pemberdayaan masyarakat berbasis masjid. Ketiga, Lazismu mengkombinasikan teologi kasih, kebajikan, dan kerelawanan, untuk mewujudkan filantropi transformatif yang berhasil mengubah kebajikan berorientasi amal menjadi program-program kreatif dan inovatif.]
Islam in Indonesia’s Foreign Policy, 1945-1949 Fogg, Kevin W.
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.303-305

Abstract

Although most policy studies argue there has been no influence of Islam on Indonesias foreign policy, the foreign relations of the Republic of Indonesia during the revolution for independence provide a counter-example. Because of the greater role for society in conducting, rather than just influencing, foreign relations, Islam was used as a key element in Indonesias diplomatic efforts in the Arab world between 1945 and 1949. This led to several key, early successes for Indonesia on the world stage, but changing circumstances meant that relations with the Arab world and thus the place of Islam in foreign policy were no longer prominent from 1948.[Meskipun sebagian besar studi mengenai kebijakan luar negeri Indonesia menyatakan tidak adanya pengaruh Islam dalam hal tersebut, kebijakan pada zaman revolusi kemerdekaan memperlihatkan adanya pengaruh itu. Karena adanya peran yang lebih besar bagi masyarakat dalam membentuk dan menjalankan kebijakan pada saat itu, Islam digunakan sebagai sebuah elemen pokok dalam menjalankan hubungan diplomatik Indonesia dengan dunia Arab dari tahun 1945 hingga 1949. Hal ini mengarah ke beberapa keberhasilan awal yang menonjol bagi Indonesia di pentas internasional. Namun, sesuai dengan perubahan keadaan dunia sesudah tahun 1948, hubungan dengan dunia Arab menjadi tidak sepenting sebelumnya serta peranan Islam semakin memudar dan tidak lagi menjadi elemen kebijakan luar negeri.]
Academic Study of Indonesian Islam: A Biographical Account, 1970-2014 Steenbrink, Karel A
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.337-365

Abstract

In the humanities, including religious studies, personal factors often play a role in the selection of topic and methodology of research. This autobiographical sketch gives an overview of a long career in the study of religion in Indonesia, from the selection of the topic for doctoral research, through various jobs and academic projects until some work written in a period of retirement. The author’s background of liberal Catholicism with much interest in non-official popular religiosity, has influenced an approach in Islamic Studies and a selective attention for the boundaries between official and more popular religiosity, for literary and artistic expressions rather than for rigid doctrinal traditions. This history is told from field work to pesantren education in the early 1970s, the variety of Islamic history of Indonesia in the 1980s, until a major work in three volumes on the Catholic traditions of Indonesia in the period 1990-2010.[Dalam ilmu humaniora, termasuk studi keagamaan, faktor-faktor pribadi sering mempengaruhi pemilihan topik dan metodologi penelitian. Uraian biografis ringkas ini menggambarkan perjalanan panjang sebagai peneliti agama di Indonesia, mulai dari pemilihan topik riset disertasi, melewati beragam pekerjaan dan proyek-proyek akademik, sampai dengan beberapa karya yang ditulis sesudah pensiun. Latar belakang penulis sebagai penganut Katolik liberal dan banyak tertarik pada keberagamaan populer non-resmi, mempengaruhi pendekatan dalam pengkajian Islam dan perhatian khusus pada batas-batas antara agama resmi dan agama populer, pada ungkapan-ungkapan sastrawi dan seni daripada tradisi-tradisi doktriner yang kaku. Kisah ini berangkat dari pengalaman penelitian lapangan di lingkungan pendidikan pesantren pada tahun 1970an, kemudian serpihan-serpihan sejarah Indonesia pada tahun 1980an, sampai dengan penulisan tiga jilid buku penting tentang tradisi-tradisi Katolik Indonesia pada tahun 1990-2010.]
Metrical Verse as a Rule of Qur’anic Translation: Some Reflections on R.A.A. Wiranatakoesoemah’s Soerat Al-Baqarah (1888–1965) Rohmana, Jajang A
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.439-467

Abstract

The paper aims to analyze how literary translations of the Quran can grasp the meaning of the Quran and ‘subordinate’ it to local poetry rules, using R.A.A. Wiranatakoesoema’s Soerat Al-Baqarah as the object of study. It is a Sundanese poetic translation of the Quran in the form of guguritan or dangding and as such this study is focused on the implications of canto rules to the Quranic meaning field in the translation, analyzed using intertextual studies and semantic analysis. This research shows that the use of guguritan in the translation of the Quran might cause a problem of inaccessibility of the translated meaning. There are some implications of subordination of the translation of the Quran following the rules of guguritan. This tradition affected the expansion or constriction of the meaning, which in turn caused modification within the verses (ayat) in translation, and forced the use of loan words, particularly Malay. This study is significant not merely for demonstrating a diglossic ideology on language of the Quran that has affected Sundanese literature, but also for strengthening the thesis that ‘Sundanization’ of the Quran was performed as a form of resistance against Islam and Arabness through cultural impulses—especially Sundanese literature. Wiranatakoesoema’s Soerat Al-Baqarah is a creative effort that should be appreciated, but it must be noted that literary language can never be completely satisfactorily compared and translated.[Tulisan ini menjelaskan bagaimana penerjemahan al-Quran dapat mencapai makna seutuhnya dengan ‘menurunkan’ standarnya sesuai aturan susastra lokal, yang tersirat pada pengkajian Soerat Al-Baqarah karya R.A.A Wiranatakoesoema. Terjemahan surat ini merupakan alih bahasa dalam bentuk susastra Sunda yang disebut dengan guguritan atau dangding. Tulisan ini berfokus pada implikasi aturan pupuh pada medan makna penerjemahan al-Quran dengan menggunakan analisis intertekstual dan semantik. Dalam kajian ini menunjukkan bahwa penggunaan guguritan dalam penerjemahan al-Quran dapat menyebabkan persoalan ketidaksampaian makna terjemahan. Terdapat beberapa implikasi antara lain ‘subordinasi’ pada terjemahan. Hal ini disebabkan oleh perluasan atau penyempitan makna akibat modifikasi dalam penerjemahan ayat dan pemaksaan dalam peminjaman kata, khususnya Melayu. Kajian ini penting karena tidak hanya menunjukkan konsep diglosia dalam terjemahan al-Quran akibat pengaruh bahasa Sunda, tetapi juga menguatkan pendapat bahwa ‘Sundanisasi’ merupakan usaha resistensi terhadap Islam dan Arab melalui susastra Sunda. Karya Wiranatakoesoema layak untuk diapresiasi sebagai usaha kreatif, meskipun perlu dicatat bahwa bahasa susastra tak akan cukup memuaskan untuk dibandingkan atau diterjemahkan. ]
Causal Analysis of Religious Violence, a Structural Equation Modeling Approach Munajat, M
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.413-437

Abstract

The present study tries to investigate the causal model of religious violence using SEM (Structural Equation Modeling) approach. Previous quantitative research in social movements and political violence suggests that there are, at least, three factors, that caused violent collective actions, including religious violence: 1) the more fundamentalist people are, the more likely they justify violence, 2) people with lower trust in government is more likely to justify violence, and 3) opposing the second argument: only people with low trust in government and high political efficacy are more likely to justify violence. Based on the data of 343 respondents, the activists of Front Pembela Islam, Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama, this study confirms that the more fundamentalist people are, the more likely they are to justify violence regardless of their organizational affiliations. On the contrary, this study does not support the argument for the relationship between trust in government and violence. Similarly, the relationship between violence and the latent interaction of trust and political efficacy is not supported by the data. Therefore, this study suggests that fundamentalism, a type of religiosity, is a salient factor to explain religious violence.[Penelitian ini berusaha mengkaji sebab kekerasan keagamaan dengan menggunakan pendekatan Model Persamaan Struktur (SEM). Penelitian kuantitatif terdahulu dalam bidang gerakan sosial dan kekerasan politik menunjukkan bahwa setidaknya ada tiga faktor yang diduga kuat menjadi penyebab kekerasan kolektif, seperti kekerasan agama, yaitu: 1) semakin fundamentalis seseorang, maka ia akan semakin cenderung menyetujui pernggunaan cara kekerasan, 2) semakin rendah kepercayaan seseorang terhadap pemerintah, maka ia akan semakin menyetujui penggunaan kekerasan, 3) berbeda dengan pendapat ke-dua, hanya orang yang rendah kepercayaanya kepada pemerintah, namun mempunyai semangat politik tinggi, yang akan menyetujui penggunaan cara-cara kekerasan. Berdasarkan pada data yang diambil dari 343 responden dari para aktivis, Front Pembela Islam, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, penelitian ini mengkonfirmasi bahwa semakin fundamentalis seseorang, maka ia akan semakin cenderung menyetujui kekerasan, terlepas dari afiliasi organisasi mereka. Namun demikian, penelitian ini tidak mendukung hubungan antara kepercayaan terhadap pemerintah dan kekerasan. Demikian juga, hubungan antara kekerasan dan interaksi antara kepercayaan pemerintah dan semangat politik tidak dapat dibuktikan dari data dalam penelitian ini. Oleh karena itu, penelitian ini menyimpulkan bahwa fundamentalisme, sebagai salah satu bentuk keagamaan, merupakan faktor yang sangat penting dalam menjelaskan kekerasan keagamaan.]
Expiration of the Deadline in Civil Transactions: Comparing Omani and Egyptian Civil Codes in the Light of Islamic Law Jadalhaq, Iyad Mohammad
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.469-503

Abstract

This research deals with the case in which the creditor claims the loan after the expiration date. It seeks to compare between the Civil Transactions Code of Oman and the Egyptian Civil Code. The paper argues that the Civil Transactions Code of Oman is influenced by the Islamic legal thought; while the Egyptian is influenced more by the Latin legal thought. The Islamic influnce in Oman can be seen at the provision that allows the legal process after the expiration date. The creditor may bring his case to the court to sue the debtor. While the Latin influnce in Egypt can be found on the rule that does not allow the legal process after the expiration date. The creditor loses his right when he does not claim the debt during the agreed period.[Penelitian ini berkaitan dengan masa kedaluwarsa bagi kreditor untuk mengklaim kredit dari debitur. Hukum Perdata Oman yang dipengaruhi oleh hukum fikih menetapkan bahwa dalam kasus ini, gugatan tidak dapat diterima dan debitur diizinkan untuk menolak gugatan terhadap dirinya oleh kreditur ketika gugatan tersebut diajukan setelah berakhirnya jangka waktu klaim. Sementara itu, Hukum Perdata Mesir yang dipengaruhi pemikiran hukum Latin, mengambil prinsip pembatasan dan pengguguran kewajiban jika kreditur tidak menagih pinjamannya dalam jangka waktu tertentu. Berdasarkan data tersebut, jelas bahwa dua undang-undang ini berbeda dalam mengatur waktu kedaluwarsanya suatu kasus hukum. Hukum yang pertama memberikan hak kepada debitur untuk menuntut bahwa pengadilan tidak perlu menerima gugatan kasus ini karena telah kedaluwarsa. Sementara itu, hukum kedua memungkinkan debitur untuk mematuhi jatuhnya hak klaim karena berakhirnya waktu dan ini bertentangan dengan prinsip hukum Islam, yang mengatur tidak adanya hak yang gugur tanpa peduli berapa lama waktunya, tetapi hanya membatasi kasus ini pada tidak perlunya menerima gugatan hak yang pemilik klaim dalam jangka waktu yang lama. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sistem yang berasal dari hukum Islam lebih baik dari sistem yang berasal dari yurisprudensi Latin dan bahwa legislator pemerintah Oman tidak mengambil semua aturan dari para ahli hukum Islam.]
A Postcolonial Biography of Sadrach: the Tragic Story of an Indigenous Missionary Singgih, Emanuel Gerrit
Al-Jamiah: Journal of Islamic Studies Vol 53, No 2 (2015)
Publisher : Al-Jamiah Research Centre

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ajis.2015.532.367-386

Abstract

Nowadays, many Indonesian Christians are fully aware that evangelic mission in Indonesian context is to be involved in the dialogue of life with one’s neighbor and share their struggles. Sadrach, an indigenous missionary who lived in 19th century, can be seen as a pioneer in this mission method. However, this method was not accepted by the foreign missionaries at that time. They accused Sadrach’s method as a form of syncretism. This work is an attempt to analyze Sadrach’s biography in the framework of postcolonial theory which argues that Indonesian Christians have to learn about their colonial past and strive to maintain equal relationships with non-Indonesian Christians. It is hoped that his achievements can be appreciated by the present generation, and they will not repeat the mistakes of the past. It is also good to be aware that resistance to Sadrach’s mission nowadays will come from some contemporary international mission-bodies which continue the old way of propagating Christian faith without regard to the context of Indonesia.[Banyak orang Kristen sekarang ini sadar bahwa misi dalam konteks Indonesia adalah melibatkan diri dalam dialog kehidupan dengan sesama dan ambil bagian dalam pergumulannya. Sadrach, seorang penginjil lokal yang hidup pada abad ke-19 dapat dianggap sebagai salah satu pelopor metode misionaris seperti ini. Akan tetapi penyebaran misi ala Sadrach ini tidak diterima oleh para misionaris asing. Upaya seperti ini dianggap sebagai sinkretisme. Tulisan ini merupakan studi biografi Sadrach dalam kerangka teori poskolonial yang bertujuan untuk menunjukkan peranan Sadrach dalam penyebaran misi Injil di Indonesia. Diharapkan generasi sekarang akan belajar dari dan tidak mengulangi kesalahan-kesalahan masa lampau. Studi ini juga untuk menyadarkan bahwa perlawanan terhadap model misi Sadrach pada masa kini akan muncul dari badan-badan misi internasional yang tetap menjadi model-model misi Kristen yang tidak memedulikan konteks Indonesia sama sekali.]

Page 1 of 2 | Total Record : 20


Filter by Year

2015 2015