cover
Contact Name
Sujarwo
Contact Email
sujarwo@ub.ac.id
Phone
+62341-551665
Journal Mail Official
agrise@ub.ac.id
Editorial Address
Socio-Economics/Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya, Jl. Veteran Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRISE
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 14121425     EISSN : 22526757     DOI : 10.21776/ub.agrise
AGRISE adalah Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian yang berada di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait. Jurnal ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 oleh Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FPUB. Pada tahun 2011, Jurnal Agrise bekerjasama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penerbitan. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Agrise diterbitkan tiga kali setahun (bulan Januari, Mei, dan Agustus). Frekuensi penerbitan akan ditambah bila diperlukan. ISSN cetak : 1412-1425 ISSN Elektronik : 2252-6757
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 3 (2010)" : 7 Documents clear
Pengaruh Nilai Tukar Terhadap Harga Perdagangan Besar Tanaman Pangan Utama Di Beberapa Propinsi Indonesia Nuhfil Hanani; Irma Audiah Fachrista
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.955 KB)

Abstract

Padi, jagung dan kedelai merupakan tiga komoditas pangan utama yang berfungsi sebagai bahan pangan dan sebagai bahan baku Industri. Penerapan sistem nilai tukar rupiah mengambang bebas, menyebabkan nilai rupiah berdasarkan permintaan dan penawaran terhadap USD. Perubahan nilai tukar akan mempengaruhi harga domestik. Hal ini terkait dengan input pertanian seperti pupuk anorganik, pestisida kimiawi dan saprodi yang bahan bakunya masih tergantung dari impor. Berfluktuasinya nilai tukar ini menyebabkan berfluktuasinya harga produk pertanian termasuk harga di tingkat perdagangan besar (wholesale price) atau yang biasa disebut dengan harga perdagangan besar (HPB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah nilai tukar berpengaruh terhadap HPB padi, jagung dan kedelai di beberapa propinsi di Indonesia Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan tentang “Analisis Pengaruh Nilai Tukar terhadap HPB Tanaman Pangan Utama di Beberapa Propinsi Indonesia” maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1). Nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap harga perdagangan besar padi di Nangroe Aceh Darussalam, Sumatera Barat, Jogjakarta, Jawa Timur, Kalimantan Timur dan Sulawesi Selata tetapi tidak berpengaruh terhadap harga perdagangan besar padi di Jawa Barat dan Jawa Timur. (2). Nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap harga perdagangan besar jagung di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan tetapi tidak berpengaruh terhadap harga perdagangan besar jagung di Sulawesi Tenggara. (3). Nilai tukar rupiah berpengaruh terhadap harga perdagangan besar kedelai di Nangroe Aceh Darussalam, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Kalimantan Barat dan Sulawesi Selatan tetapi tidak berpengaruh terhadap harga perdagangan besar kedelai di Sumatera Utara dan di Jawa Timur.   Kata Kunci: nilai tukar, pedagang besar, tanaman pangan utama
Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Anggur Prabu Bestari Silvana Maulidah; Destyana Ellingga Pratiwi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.82 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: (1) menganalisis biaya produksi, pendapatan, dan penerimaan usahatani anggur Prabu Bestari; (2) menganalisis kelayakan finansial usahatani anggur Prabu Bestari berdasarkan BC rasio, NPV, IRR, dan payback period; dan (3) menganalisis kepekaan/sensitivitas usahatani anggur Prabu Bestari terhadap perubahan biaya produksi, harga produk, dan jumlah produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) biaya produksi rata-rata dari usahatani ini sebesar Rp. 33.235.153,18/Ha/tahun; penerimaan rata-rata usahatani sebesar Rp. 50.781.645,09/Ha/tahun; dan pendapatan rata-rata yang diperoleh petani sebesar Rp. 17.526.036,91/Ha/tahun. (2) Pada tingkat suku bunga bank 14%, adalah bahwa usahatani tersebut layak dikembangkan, dengan nilai BC rasio sebesar 1,85; NPV sebesar Rp. 54.192,293,-; IRR sebesar 28,67%; dan payback period selama 5 tahun 4 bulan. (3) Analisis sensitivitas terhadap kenaikan biaya produksi 10% mengakibatkan perubahan nilai BC rasio menjadi 1,49; NPV sebesar Rp. 34.737.561,31; IRR sebesar 23,09%, dan payback period menjadi 5 tahun 9 bulan sehingga usaha tersebut masih layak dikembangkan. Pada penurunan harga produk 15% usahatani tersebut juga masih layak dikembangkan, dengan nilai Net B/C sebesar 1,25; nilai NPV sebesar Rp. 16.881.351,32; IRR sebesar 17,93% dengan payback period selama 6 tahun 1 bulan. Kepekaan terhadap penurunan produktivitas 25% menghasilkan nilai Net B/C sebesar 0,88, NPV -Rp. 7.992.610,01, IRR diperoleh sebesar 10,01%. dan jangka waktu pengembalian modalnya selama 6 tahun 9 bulan. Hasil-hasil tersebut menunjukkan bahwa usahatani anggur Prabu Bestari tidak layak dilakukan jika produktivitasnya turun hinga 25%. Kata kunci: usahatani anggur, varietas Prabu Bestari, biaya, pendapatan, penerimaan, kelayakan finansial, analisis sensitivitas.
Analisis Preferensi Petani Jagung Terhadap Insektisida Seed Treatment Riyanti Isaskar; Resty Afriana
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (317.528 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan : 1) Untuk menganalisis faktor-faktor dominan apa saja yang dipertimbangkan petani dalam memilih produk insektisida seed treatment, 2) Untuk menganalisis preferensi petani terhadap produk insektisida seed treatment di Desa Kedungmalang, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri. Analisis faktor  yang digunakan untuk menganalisis faktor-faktor dominan apa saja yang dipertimbangkan petani dalam memilih produk insektisida seed treatment dan modus rangking preferensi yang digunakan untuk menganalisis preferensi petani terhadap produk insektisida seed treatment. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa petani di Desa Kedungmalang mempertimbangkan secara bersama-sama faktor-faktor dominan seperti merek, mutu, harga, sifat produk dan kemasan dalam memilih produk insektisida seed treatment. Dimana terdapat 4 faktor yang terbentuk, yaitu faktor merek, mutu dan sifat produk dengan persentase sebesar  32,624%, faktor sifat produk dan kemasan sebesar 17,011%, faktor mutu dan harga sebesar 12,188%, dan faktor merek sebesar 9,633%. Selain itu, merek insektisida seed treatment yang lebih disukai petani di Desa Kedungmalang adalah Cruiser 350 FS dibandingkan merek Regent Red 50 SC dan Marshal 25 ST. Kata kunci : produk insektisida, analisis faktor, dan preferensi konsumen
Integrasi Pasar Dalam Sistem Pemasaran Bawang Merah Rosihan Asmara; Ruri Ardhiani
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.594 KB)

Abstract

Analisis integrasi pasar merupakan salah satu indikator untuk mengetahui efisiensi pasar. Pasar efisien merupakan faktor penting untuk pembangunan pertanian. Pengetahuan tentang integrasi pasar akan dapat bermanfaat untuk mengetahui kecepatan respon pelaku pasar terhadap perubahan harga sehingga dapat dilakukan pengambilan keputusan secara tepat dan tepat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat integrasi pasar bawang merah baik secara vertikal maupun horisontal dan juga didukung dengan analisis terhadap struktur pasar bawang merah sehingga didapatkan gambaran efisiensi sistem pemasaran bawang merah. Pendekatan Error Correction Model digunakan untuk dapat menangkap dinamika proses penyesuaian harga baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasar bawang merah terintegrasi lemah baik dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Hal tersebut menunjukkan bahwa alur informasi harga berjalan lambat. Hasil analisis tersebut juga didukung dengan hasil analisis struktur pasar yang menunjukkan bahwa struktur pasar bawang merah tidak sempurna (oligopsoni), adanya keterikatan petani dengan pedagang (kontrak), serta tingkat pengetahuan pasar yang terbatas pada informasi di sekitarnya saja. Hal ini menyebabkan alur informasi pasar tidak berjalan dengan sempurna.   Kata Kunci: integrasi pasar, bawang merah
Potensi Agroindustri Berdasarkan Kinerja Usaha Dan Strategi Pengembangannya Heru Santoso; Rahman Hartono; Shanty Lina Savitri
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.395 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis kinerja agroindustri tempe dan keripik tempe berdasarkan tingkat keuntungan, efisiensi usaha dan nilai tambah. Kemudian menganalisis kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman yang dihadapi agroindustri serta merumuskan strategi yang tepat untuk mengembangkan agroindustri berdasarkan kondisi internal dan eksternal perusahaan. Data analisis diperoleh dari 40 responden agroindustri tempe dan 43 responden keripik tempe di Dusun Sanan, kota Malang. Analisis data terdiri dari analisis keuntungan, efisiensi usaha (R/C rasio), nilai tambah, analisis lingkungan internal dan eksternal, analisis matrik Grand Strategy, dan analisis matrik SWOT. Hasil dari analisis keuntungan didapatkan bahwa agroindustri tempe dan keripik tempe memiliki tingkat keuntungan yang tidak berbeda nyata. Keuntungan agroindustri tempe sebesar Rp. 145.125,03 untuk satu kali produksi, sedangkan keuntungan yang diperoleh agroindustri keripik tempe sebesar Rp. 207.915,89. Sedangkan nilai R/C rasio dan nilai tambah agroindustri keripik tempe lebih besar daripada agroindustri tempe. Nilai R/C rasio sebesar 1,57 pada agroindustri keripik tempe dan 1,26 pada agroindustri tempe. Rasio nilai tambah pada agroindustri keripik tempe sebesar 46,10%, dan 24,63% pada agroindustri tempe. Berdasarkan hasil identifikasi lingkungan internal dan eksternal dan pemetaan matrik Grand Strategy dapat diketahui bahwa agroindustri tempe dan keripik tempe terletak pada kuadran I, sehingga strategi yang dapat diterapkan adalah mendukung kebijakan pertumbuhan Aggresive. Strategi yang dapat digunakan seperti mempertahankan kualitas, efisiensi proses produksi, dan diversifikasi produk.   Kata kunci : agroindustri, keuntungan, efisiensi, nilai tambah, strategi pengembangan
Strategi Pengembangan Agroindustri Tapioka Pada Skala Usaha Kecil Abdul Wahib Muhaimin; Ratna Prawiyanti
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.065 KB)

Abstract

Agroindustri tapioka sebagai salah satu bentuk industri berskala  kecil yang mengolah ubi kayu menjadi tepung tapioka, memiliki peran dalam meningkatkan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan maupun menyerap tenaga kerja. Namun, keberadaan agroindustri ini masih menghadapi beberapa permasalahan baik dari lingkungan internal maupun ekternal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keuntungan, efisiensi usaha dan nilai tambah dari agroindustri tapioka, menganalisis kondisi lingkungan internal dan kondisi lingkungan eksternal pada usaha agroindustri tapioka, serta merumuskan strategi pengembangan agroindustri tapioka yang tepat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: kekuatan yang dimiliki agroindustri tapioka yaitu pengalaman usaha, keterampilan tenaga kerja serta selalu mendapatkan keuntungan. Kelemahannya: modal yang terbatas, teknologi produksi sederhana, kemampuan manajerial yang kurang, ketersediaan bahan baku tidak kontinyu serta kesulitan pembuangan limbah. Peluang meliputi pangsa pasar  luas,  hubungan baik produsen dan pemasok, kesetiaan pelanggan, dukungan Pemda dan perkembangan teknologi. Faktor ancaman adalah pesaing, pinjaman modal rumit, selera konsumen dan kebijakan pemerintah dalam menaikkan harga bahan bakar. Strategi pengembangan yang digunakan adalah strategi pertumbuhan melalui konsentrasi integrasi horizontal.   Kata kunci: keuntungan, efisiensi usaha
Analisis Kelayakan Finansial Usahatani Melati (Jasminum Sambac L) Dan Usahatani Sedap Malam (Polianthes Tuberose L) Agustina Shinta; Risqi Ainiyah
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 10, No 3 (2010)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (267.743 KB)

Abstract

Melati (Jasminum sambac L) dan sedap malam (Polianthes tuberose L) merupakan tanaman hias populer di Indonesia khususnya di Jawa Timur. Selain digunakan sebagai bunga segar dan bunga potong, keduanya banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku industri minyak atsiri. Tujuan dari penelitian  ABini adalah untuk menganalisis tingkat kelayakan finansial dan tingkat kepekaan usahatani melati dan usahatani sedap malam, dan kemudian membandingkan nilai dari keduanya. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan analisis kriteria investasi  yaitu Net Present Value (NPV), Net Benefit Cost Ratio (Net B/C), Internal Rate of Return (IRR), Payback Period serta analisis kepekaan. Hasil uji kelayakan finansial menunjukkan bahwa pada tingkat OCC (Opportunity Cost of Capital) 12% memberikan hasil NPV  sebesar Rp15.732.336 dan untuk usahatani sedap malam sebesar Rp 6.178.255. Nilai IRR untuk usahatani melati sebesar 60,5% dan untuk usahatani sedap malam sebesar 49,5%. Sedangkan untuk nilai Net B/C sebesar nilai 2,85 pada usahatani melati dan 1,99 untuk usahatani sedap malam. Usahatani melati mempunyai Payback Period selama 3 tahun 5 bulan, sedangkan sedap malam selama 1 tahun 8 bulan. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa usahatani melati dan usahatani sedap malam layak untuk dikembangkan, Hasil perhitungan analisis kepekaan menunjukkan hasil bahwa dengan meningkatkan biaya produksi dan menurunkan hasil produksi sampai sebesar 15% serta menurunkan harga produksi sampai sebesar 25%, usahatani melati dan sedap malam masih layak dikembangkan. Apabila terjadi peningkatan biaya produksi sebesar 15% yang disertai penurunan hasil produksi 15%, usahatani melati dan usahatani sedap malam sudah tidak layak lagi untuk diusahakan, karena memberikan nilai NPV negatif, IRR < OCC dan Net B/C < 1. Kata kunci: Kelayakan Finansial.

Page 1 of 1 | Total Record : 7