cover
Contact Name
Sujarwo
Contact Email
sujarwo@ub.ac.id
Phone
+62341-551665
Journal Mail Official
agrise@ub.ac.id
Editorial Address
Socio-Economics/Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya, Jl. Veteran Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRISE
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 14121425     EISSN : 22526757     DOI : 10.21776/ub.agrise
AGRISE adalah Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian yang berada di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait. Jurnal ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 oleh Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FPUB. Pada tahun 2011, Jurnal Agrise bekerjasama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penerbitan. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Agrise diterbitkan tiga kali setahun (bulan Januari, Mei, dan Agustus). Frekuensi penerbitan akan ditambah bila diperlukan. ISSN cetak : 1412-1425 ISSN Elektronik : 2252-6757
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 11, No 1 (2011)" : 7 Documents clear
Analisis Faktor Produksi Pabrik Gula Kebon Agung Malang Agustina Shinta; Andini Restu Pratiwi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.237 KB)

Abstract

Pabrik Gula Kebon Agung merupakan salah satu pabrik di Jawa Timur yang memasok kebutuhan gula nasional, dimana sekitar 90 persen teknologi yang mencakup mesin-mesin untuk produksi gula pada pabrik ini telah diperbarui. Namun, produksi gula pada PG. Kebon Agung belum mencapai optimal karena faktor-faktor produksinya seperti bahan baku, manajemen pabrik, sumberdaya manusia, serta teknologi masih belum dikelola dengan baik. Hal ini menyebabkan potensi rendemen rendah, inefisiensi tenaga kerja, dan gangguan pada kinerja mesin-mesinnya yang menyebabkan tingginya jam berhenti giling, sehingga pabrik gula tidak mampu mencapai kapasitas giling. Berdasarkan kondisi tersebut perlu dilakukan upaya peningkatan produksi gula. Dalam upaya peningkatan produksi gula tersebut, perlu diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi gula secara signifikan, yaitu dengan analisis Cobb-Douglass. Pada hasil analisis dapat diketahui bahwa faktor yang mempengaruhi produksi gula secara signifikan adalah jumlah tebu, rendemen, dan tenaga kerja. Sedangkan teknologi yang dideteksi dengan jam berhenti giling mesin menunjukkan pengaruh yang tidak signifikan. Untuk mengetahui efisiensi pabrik yang tercermin dalam efisiensi mesin-mesin produksinya, dilakukan analisis overall recovery dan dapat diketahui bahwa kinerja mesin-mesinnya masih belum efisien. Dari kondisi tersebut, perlu dilakukan upaya optimalisasi faktor produksi dan efisiensi pabrik untuk meningkatkan produksi gula. Hal ini sejalan dengan program pemerintah, yaitu program revitalisasi pabrik gula yang bertujuan meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi, dengan menekan tingkat kehilangan material mengandung gula selama pengolahan (giling), optimalisasi manajemen pabrik, meningkatkan jumlah rendemen tebu, pengelolaan tenaga kerja yang optimal dan peningkatan teknologi untuk mencapai efisiensi pabrik.   Kata kunci : Gula, Pabrik gula, Faktor Produksi, Overall Recovery
Analisis Peramalan Konsumsi Kedelai (Glycine Max L.) Di Indonesia Tahun 2010-2019 Fitria Dina Riana; Ikbal Hardiyanto
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (275.505 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah: (1) Menganalisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap konsumsi kedelai total di Indonesia. (2) Meramalkan konsumsi kedelai total di Indonesia tahun 2010-2019. Hasil Analisis Menggunakan Ordinary Least Square (OLS) menunjukan faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi kedelai di Indonesia secara signifikan adalah pendapatan penduduk dengan nilai probabilitas dan koefisien regresi sebesar 0,000 dan -381,279 dan jumlah penduduk dengan nilai probabilitas dan koefisien regresi sebesar 0,000 dan -159,046. Sedangkan faktor-faktor yang tidak berpengaruh secara signifikan terhadap konsumsi kedelai Indonesia adalah harga kedelai, harga jagung dan konsumsi kedelai sebelumnya. Hasil peramalan variabel bebas menunjukan harga kedelai meningkat dari Rp.2831,52 pada tahun 2010 menjadi Rp. 3342,33 pada tahun 2019, harga jagung meningkat dari Rp. 2608,10 pada tahun 2010 menjadi  Rp.4231,60 pada tahun 2019, pendapatan penduduk meningkat dari Rp 1.969.513  pada tahun 2010 menjadi Rp 3.276.272 pada tahun 2019, jumlah penduduk meningkat dari 240.668 ribu jiwa pada tahun 2010 menjadi 267.106 ribu jiwa pada tahun 2019. Untuk peramalan variabel konsumsi meningkat dari  2.303.320 ton pada tahun 2010 dan menjadi 2.864.840 ton pada tahun 2019. Kata kunci : Peramalan, konsumsi, kedelai
Nilai Tambah Agroindustri Belimbing Manis (Averrhoa Carambola L.) Dan Optimalisasi Output Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Silvana Maulidah; Fenny Kusumawardani
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.997 KB)

Abstract

Kotamadya Blitar memiliki potensi dalam pengembangan agroindustri olahan belimbing manis. Penelitian ini dilaksanakan di Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar yang mengolah buah belimbing menjadi berbagai macam produk olahan. Penentuan lokasi dilakukan secara purposive (sengaja). Penelitian ini bertujuan untuk Menghitung besarnya nilai tambah yang dihasilkan oleh agroindustri olahan belimbing dan menganalisis kombinasi output optimal agroindustri olahan belimbing dengan keterbatasan input yang tersedia.  Metode analisis yang digunakan adalah nilai tambah metode Hayami dan program linear (linear programming). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai tambah per kilogram belimbing manis yang diperoleh adalah sirup Rp 15.150, sari Rp 3.031, dodol pak kecil Rp 13.782, dodol pak besar Rp 11.932, dan manisan Rp 3.693. Adapun rata-rata belimbing manis yang diolah per bulan untuk sirup sebanyak 30 kg, sari 120 kg, dodol pak kecil 20 kg, dodol pak besar 100 kg, dan manisan 45 kg.  Analisis program linier menunjukkan bahwa keuntungan maksimal dapat diperoleh dengan kombinasi produk olahan yang berbeda dengan kombinasi produk yang dilakukan oleh perusahaan. Untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal, produk yang harus ditingkat jumlah produksinya adalah sari belimbing dan dodol belimbing kemasan kecil. Untuk sirup belimbing dan manisan belimbing harus diturunkan jumlah produksinya. Sedangkan untuk dodol kemasan besar disarankan untuk tidak dibuat dan dialihkan kepada dodol kemasan kecil.   Kata kunci: Nilai Tambah, Belimbing, Optimalisasi Output
Analisis Efisiensi Pemasaran Kapuk Randu (Ceiba Pentandra) (Studi Kasus Kecamatan Sukorejo Kabupaten Pasuruan) Dina Novia Priminingtyas; Herdinastiti Herdinastiti
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.187 KB)

Abstract

Kapuk randu merupakan salah satu komoditas perkebunan yang sudah sejak lama dikenal dan diperdagangkan di Indonesia sebagai salah satu sumber serat alami. Kapuk adalah bahan baku yang penting dalam perindustrian, terutama yang terjadi di Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan. Selanjutnya, proses pemasaran kapuk randu memiliki peranan yang sangat penting, dimana proses ini merupakan kegiatan di mana komoditas berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Sehingga, Untuk memahami bagaimana berlangsungnya pemasaran kapuk randu, maka peneliti melakukan penelitian dari Juni hingga Juli 2009. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efisiensi pemasaran kapuk randu di lokasi penelitian. Metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 6 saluran pemasaran, masing-masing saluran melakukan fungsi yang berbeda. Saluran pemasaran yang paling efisien adalah saluran pemasaran III dengan nilai efisiensi sebesar 0,26 jika di bandingkan dengan saluran pemasaran lainnya. Bukan hanya share petani yang masih rendah, tetapi juga fungsi penyimpanan belum efisien. Namun, fungsi transportasi telah  efisien. Kesimpulan yang dapat ditarik dari riset ini adalah pemasaran kapuk randu di daerah penelitian belum efisien. Kata kunci: efisiensi pemasaran, kapuk randu
Analisis Nilai Tambah Dan Efisiensi Usaha Agroindustri Minyak Cengkeh Rosihan Asmara; Winni Nurlita Putri
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (257.931 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk (1) Menganalisis nilai tambah dari agroindustri minyak cengkeh skala kecil di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, (2) Menganalisis kelayakan usaha dari agroindustri minyak cengkeh skala kecil di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, dan (3) Menganalisis efisiensi usaha dari agroindustri minyak cengkeh di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Penelitian dilakukan pada sentra agroindustri minyak cengkeh di Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk yakni sebanyak 21 agroindustri. Hasil perhitungan dari penelitian ini menujukkan bahwa rata-rata nilai tambah agroindustri minyak cengkeh dalam satu kali proses produksi yaitu selama 24 jam adalah sebesar Rp 904,76,- per kilogram bahan baku daun cengkeh kering atau 39,86% dari nilai produksi. Nilai R/C lebih dari 1 yakni sebesar 1,23. Namun nilai NPMx/Px alokasi bahan baku daun cengkeh kering dan tenaga kerja kurang dari 1 yakni sebesar 0,691 dan 0,943. Hal ini berarti agroindustri minyak cengkeh layak untuk dikembangkan namun penggunaan faktor produksi bahan baku dan tenaga kerja belum efisien dan keuntungan yang diperoleh belum optimal   Kata kunci : nilai tambah, efisiensi usaha, agroindustri minyak cengkeh
Analisis Efisiensi Pemasaran Jagung (Zea Mays L.) (Studi Kasus Di Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto) Sujarwo Sujarwo; Tauriza Indiah Pratiwi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.234 KB)

Abstract

Jagung merupakan komoditas palawija utama ditinjau dari aspek pengusahaan dan penggunaan hasilnya, yaitu sebagai bahan baku pangan dan pakan ternak. Dalam satu dekade terakhir, kebutuhan jagung cenderung meningkat, yakni 0,34% per tahun. Hal ini dikarenakan meningkatnya permintaan bahan baku pakan, sejalan dengan pesatnya perkembangan industri peternakan yang menuntut kontinuitas pasokan bahan baku. Jagung merupakan komoditi unggulan Kabupaten Mojokerto yang berlokasi di Desa Segunung, Kecamatan Dlanggu. Dalam memasarkan komoditinya, harga jual jagung di tingkat petani sangat rendah. Dengan menggunakan analisis margin pemasaran, efisiensi harga, dan efisiensi operasional didapatkan hasil bahwa total margin pemasaran terbesar ada pada saluran pemasaran II sebesar Rp 1.395,00/kg; efisiensi harga berdasarkan fungsi transportasi dan fungsi prosesing yang dilakukan oleh lembaga pemasaran cenderung sudah efisien; dan pada efisiensi operasional ada kecenderungan fungsi transportasi yang dilakukan tengkulak pada saluran pemasaran I dan II belum efisien. Sedangkan pada pedagang pengumpul dan pedagang besar pada saluran pemasaran I dan II, ada kecenderungan fungsi transportasi sudah efisien.   Kata kunci: jagung, margin pemasaran, efisiensi pemasaran.
Analisis Kinerja Koperasi Susu Segar Dengan Metoda Balance Scorecard Bambang Ali Nugroho; Dedi Dedi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 11, No 1 (2011)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.5 KB)

Abstract

Konsep Balance Scorecard menyeimbangkan pengukuran atas kinerja sebuah organisasi bisnis yang selama ini dianggap terlalu condong pada kinerja keuangan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui kinerja KUD “DAU” apabila dianalisis dengan metode Balanced Scorecard (BSC), (2) Untuk melihat seberapa jauh kinerja KUD “DAU” dalam aspek finansial dan non finansial. Penelitian dilakukan di KUD “DAU” pada 13 April hingga 10 Mei 2010. Penentuan lokasi dilakukan dengan sengaja dengan pertimbangan bahwa tempat ini merupakan salah satu koperasi yang besar di Kota Malang, dan koperasi ini adalah koperasi yang berani melakukan inovasi, hal tersebut terlihat dari banyaknya unit usaha yang ada saat ini. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Analisa data dilakukan dengan metode balanced scorecard (BSC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada perspektif keuangan, tingkat pertumbuhan SHU adalah 9,67%, tingkat pertumbuhan modal adalah 2,38% dan tingkat ROE adalah 6,70%. Pada perspektif keanggotaan, tingkat pertumbuhan anggota adalah 0,13% dan persentase SHU untuk anggota adalah 40% sesuai dengan anggaran dasar. Pada perspektif proses internal bisnis, jumlah mitra yang ada adalah tujuh badan usaha, pelaksanaan RAT dilakukan setiap bulan Maret setiap tahun dan pemilihan pengurus dilakukan dari dan oleh anggota sesuai UU No 25 tahun 1992 tentang perkoperasian. Pada perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, tingkat kepuasan karyawan adalah 83,74%, tingkat produktifitas karyawan dan pengurus adalah 95,58% dan pengembangan kualitas SDM dan sistem manajemen telah dilaksanakan dan dicantumkan dalam rencana kerja. Dari berbagai pengukuran perspektif didapatkan bahwa kinerja KUD “DAU” secara keseluruhan sebesar 75,25% dan termasuk dalam kategori baik. Dari penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan bahwa (1) kinerja KUD “DAU” secara keseluruhan termasuk dalam kategori baik, (2) Segi finansial pada pengukuran kinerja ini dinilai dari perspektif keuangan yang termasuk dalam kategori cukup baik, sedangkan segi finansial dinilai dari perspektif keanggotaan yang termasuk dalam kategori baik, perspektif proses internal bisnis yang termasuk dalam kategori baik dan perspektif pertumbuhan dan pembelajaran yang termasuk dalam kategori baik. Peningkatan efisiensi penggunaan modal harus lebih ditingkatkan untuk meningkatkan jumlah sisa hasil usaha tiap tahunnya. Tingkat pertumbuhan anggota tiap tahunnya juga lebih ditingkatkan. Selain itu penerapan analisis kinerja dengan metode BSC akan sangat baik apabila diterapkan oleh pengawas KUD “DAU”. Kata Kunci : Analisis Kinerja, Koperasi, Balance Scorecard

Page 1 of 1 | Total Record : 7