cover
Contact Name
Sujarwo
Contact Email
sujarwo@ub.ac.id
Phone
+62341-551665
Journal Mail Official
agrise@ub.ac.id
Editorial Address
Socio-Economics/Agribusiness, Faculty of Agriculture, University of Brawijaya, Jl. Veteran Malang, 65145
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
AGRISE
Published by Universitas Brawijaya
ISSN : 14121425     EISSN : 22526757     DOI : 10.21776/ub.agrise
AGRISE adalah Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian yang berada di lingkungan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya yang berupa hasil penelitian, studi kepustakaan maupun tulisan ilmiah terkait. Jurnal ini diterbitkan pertama kali pada tahun 2001 oleh Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian FPUB. Pada tahun 2011, Jurnal Agrise bekerjasama dengan Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas penerbitan. Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Agrise diterbitkan tiga kali setahun (bulan Januari, Mei, dan Agustus). Frekuensi penerbitan akan ditambah bila diperlukan. ISSN cetak : 1412-1425 ISSN Elektronik : 2252-6757
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2009)" : 8 Documents clear
Analisis Tingkat Daya Saing Ekspor Buah-Buahan Indonesia Nuhfil Hanani; Rachman Hartono; Luh Putu Ayu Ratnadi
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.29 KB)

Abstract

Keunggulan komparatif menjadi salah satu faktor yang membantu komoditas buah-buahan Indonesia cenderung memiliki daya saing untuk produk berdasarkan teknologi rendah dan berdasarkan sumber daya alam. Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat daya saing ekspor komoditas buah-buahan Indonesia yang meliputi jeruk, mangga, nenas, pepaya, dan pisang, menggunakan analisis RCA (Revealed Comparative Advantage) dan analisis korelasi Rank Spearman Hasil penelitian ini menemukan (1) Indonesia memiliki tingkat daya saing rendah dalam ekspor lima komoditas buah-buahan ditunjukan dengan nilai RCA total yang masih dibawah 1 (2) posisi tingkat daya saing masing-masing komoditas buah-buahan unggulan Indonesia secara berurutan dari yang terendah adalah jeruk, pepaya, mangga, nenas, dan pisang (3) Indonesia memiliki rata-rata RCA ekspor lima komoditas buah-buahan terendah dibandingkan Malaysia, Philipina, dan Thailand. RCA komoditas buah-buahan Indonesia memiliki korelasi dengan RCA Malaysia, Philipina, dan Thailand.   Kata kunci : tingkat daya saing, buah-buahan Indonesia
Manajemen Rantai Pasokan Dan Analisis Benchmark Eksternal Pada Waralaba Magfood Red Crispy Rini Dwi Astuti; Nida Mulyawaty Maarthen; Mirna Elok Anggraini
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.272 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi kemitraan berdasarkan manajemen rantai pasokan antara franchisor dan franchisee, untuk menganalisis kinerja fungsi persediaan pada usaha waralaba MRC dan melakukan analisis benchmark eksternal pada usaha waralaba MRC dengan mitra benchmarkingnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Aliran produk sebagai faktor utama fungsi persediaan lebih banyak terjadi pada tahapan awal kegiatan usaha waralaba MRC, dimana franchisee membutuhkan bantuan franchisor untuk mengirimkan barang-barang yang digunakan untuk melangsungkan usaha waralaba MRC, sementara pada tahap tindak lanjut dan tahap akhir, aliran yang lebih banyak terjadi adalah aliran informasi dan aliran uang (2) Kinerja fungsi persediaan usaha waralaba MRC adalah tingkat perputaran persediaan MRC mencapai angka 78 selama tahun 2005, meningkat menjadi 95 di tahun 2006. Artinya untuk dapat beroperasi dalam setahun, franchisee melakukan 78 kali pembelian produk bumbu makanan cepat saji MRC dan mengalami peningkatan menjadi 95 kali, seiring dengan profit yang diterima outlet MRC pada tahun 2006. Kinerja variabel tingkat perputaran persediaan meningkat sebesar +17. Kinerja persediaan MRC pada variabel suplai harian persediaan pada tahun 2005 adalah 4,25 hari, dimana franchisee membutuhkan waktu 4,25 hari agar persediaan produk jadi dapat habis terjual kepada konsumen. Pada tahun 2006, suplai harian persediaan meningkat menjadi 3,7 hari, dimana franchisee semakin cepat dalam menjual persediaan produk jadi kepada konsumen sebesar +0,55 hari. Sementara pada tingkat fill rate (pemenuhan jumlah produk setengah jadi/produk bumbu makanan cepat saji MRC yang diminta oleh franchisee kepada franchisor) mengalami peningkatan kinerja pada tahun 2006 dari fill rate 93,33% menjadi 95,83%.   (3) Mitra benchmarking memiliki kinerja persediaan yang lebih baik daripada MRC. Hal ini dapat dilihat dari data yang dikumpulkan dari internet bahwa sejak tahun 2005, tingkat perputaran persediaan mitra benchmarking MRC adalah 105,93 meningkat ke 113,33 pada tahun 2006. Suplai harian persediaan meningkat dari 0,36 menjadi 0,2 dan tingkat pemenuhan permintaan franchisee kepada franchisor meningkat dari 97% pada tahun 2005 menjadi 98,89% pada tahun 2006.   Kata kunci: Manajemen Rantai Pasok, Waralaba
Pengaruh Faktor Ekonomi Dan Non Ekonomi Terhadap Diversifikasi Pangan Berdasarkan Pola Pangan Harapan (Studi Kasus Di Dusun Klagen, Desa Kepuh Kembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang) Rosihan Asmara; Nuhfil Hanani; Ika Ayu Purwaningsih
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.045 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (1) Mengetahui bagaimana kondisi diversifikasi pangan dan (2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi diversifikasi pangan di daerah tahan pangan, di Dusun Klagen, Desa Kepuh Kembeng, Kecamatan Peterongan, Kabupaten Jombang. Analisis diversifikasi pangan menggunakan perhitungan Pola Pangan Harapan dan regresi dengan metode OLS. Hasil analisis melalui perhitungan Pola Pangan Harapan menunjukkan bahwa skor PPH di daerah penelitian sebesar 52,83, dengan nilai AKE sebesar 1911,6 kkal/kap/hr. Hasil ini masih cukup jauh jika dibandingkan dengan skor PPH normatif (100) dan AKE normatif (2200). Hasil Analisis regresi menunjukkan bahwa dari 6 variabel independen yang terdapat dalam model, hanya 2 variabel yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap diversifikasi pangan yaitu pendidikan ibu rumah tangga dan jumlah anggota rumah tangga. Untuk pendidikan ibu rumah tangga berpengaruh positif terhadap skor PPH, dengan koefisien regresi sebesar 4,529. Sedangkan untuk jumlah anggota rumah tangga berpengaruh negatif dengan koefisien regresi sebesar -2,765. Saran dari penelitian adalah: (1) Perlu diadakannya sosialisasi dan penyuluhan mengenai Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS) agar masyarakat setempat lebih paham mengenai konsumsi pangan yang bergizi, beragam dan seimbang. (2) Saran untuk penelitian selanjutnya adalah menambah alat analisis diversifikasi pangan dengan AKP dan AKL agar pengukuran kuantitas dan kualitas konsumsi pangan menjadi lebih baik.   Kata kunci: Diversifikasi pangan, Pola Pangan Harapan, skor PPH
Prospek Gapoktan Dalam Kaitannya Bermitra Dengan PT. Sewu Segar Nusantara Pada Agribisnis Pisang Mas Kirana (Studi Kasus Di Wilayah Prima Tani Kabupaten Lumajang) Heru Santoso1; Harwanto Harwanto; Evi Sriwidayati
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.278 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prospek Gapoktan dalam kaitannya bermitra dengan PT.SSN pada agribisnis pisang mas kirana di wilayah Prima Tani Kabupaten Lumajang. Analisis dipergunakan untuk menentukan pendapatan usahatani pisang mas kirana, pelaksanaan pola kemitraan, dan menentukan faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap prospek Gapoktan dalam kaitannya bermitra dengan PT. SSN. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendapatan petani kemitraan lebih tinggi daripada dijual secara konvensional, pelaksanaan pola kemitraan antara Gapoktan dan PT. SSN merupakan kerjasama formal organisasi dalam bentuk clan dan melalui analisis SWOT dan matrik internal eksternal, posisi Gapoktan dalam kaitannya bermitra dengan  PT. Sewu Segar Nusantara berada pada sel I, hal ini menunjukkan bahwa Gapoktan dalam kaitannya bermitra dengan  PT. SSN memiliki prospek untuk tumbuh dan dikembangkan. Hal ini dapat memberikan masukan dan pertimbangan bagi pemerintah, sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan kebijakan dalam pengembangan pola kemitraan antara pengusaha dan petani, bagi pengusaha dan petani, sebagai bahan informasi dan pertimbangan untuk melakukan kemitraan dan menjaga stabilitas ketersediaan bahan baku pisang mas kirana di Kabupaten Lumajang.   Kata kunci : Pendapatan , Pola Kemitraan dan Prospek
Analisis Usahatani Dan Efisiensi Pemasaran Bunga Melati (Jasminum Sambac L.) Di Kelurahan Dermo Kecamatan Bangil Kabupaten Pasuruan Budi Setiawan; Abdul Wahib Muhaimin; Dedy Afrengki
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.371 KB)

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan efisiensi usahatani bunga melati meliputi hasil produksi, biaya usahatani, penerimaan dan keuntungannya. Selain itu juga menganalisis efisiensi pemasaran yang meliputi saluran dan marjin pemasaran. Penelitian ini dilakukan di kelurahan Dermo, Bangil, Pasuruan dengan dua skala, yaitu lahan sempit ≤ 0.5 dan lahan luas ≥ 0.51. Data yang dikumpulkan dari 30 responden petani melalui wawancara yaitu 9 petani dengan skala lahan luas dan 21 petani mengusahakan melati skala lahan sempit. Produksi melati lahan luas sebesar 5090,65 kg/ha/mt dan 4245,16 kg/ha/mt untuk lahan sempit. Dengan biaya Rp.36.353.820/ha/mt untuk lahan luas dan Rp.32.665.203/ha /mt untuk petani lahan sempit. Dengan penerimaan Rp.50.906.500/ha/mt lahan luas dan Rp. 42.451.600/ha/mt untuk lahan sempit. Berdasarkan uji t (uji beda rata-rata efisiensi) terdapat perbedaan yang nyata antara efisiensi usahatani melati lahan skala luas dibandingkan dengan efisiensi usahatani melati lahan skala sempit. Saluran pemasaran yang efisien berdasarkan perhitungan efisiensi marjin pemasaran adalah saluran pemasaran I dan II, berturut-turut sebesar 9,05 dan 1,89.   Kata kunci: efisiensi usahatani dan pemasaran, melati
Hubungan Faktor Sosial Ekonomi Dengan Tingkat Partisipasi Petani Dalam Program Sekolah Lapangan Pengendalian Hama Terpadu (Slpht) Padi Hamid Hidayat; Keppi Sukesi; Isromi Kusumawarni
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (252.186 KB)

Abstract

Keberhasilan program SLPHT sangat ditentukan oleh adanya partisipasi dari petani, baik dalam tahap perencanaan, pelaksanaan dan menikmati hasil. Banyak faktor yang mempengaruhi tingkat partisipasi, antara lain tingkat pendidikan, luas lahan, status sosial (pendapatan), motivasi mengikuti SLPHT, keberanian menanggung resiko dan intensitas kontak dengan penyuluh. Penelitian ini bertujuan untuk : mendeskripsikan faktor sosial ekonomi petani peserta program SLPHT padi di tempat penelitian, mendeskripsikan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi di tempat penelitian, dan menganalisis hubungan antara faktor sosial ekonomi dengan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi di tempat penelitian. Lokasi ditentukan secara purposive dan responden ditentukan secara sensus. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan analisis Chi-Square Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 1) Karakteristik sosial ekonomi responden adalah tingkat pendidikan masih rendah, luas lahan yang diusahakan relatif sedang, status sosial (pendapatan) relatif sedang, motivasi mengikuti SLPHT adalah untuk meningkatkan produksi, keberanian menanggung resiko tergolojng tinggi, dan intensitas kontak dengan penyuluh sedang/jarang dilakukan; 2) Tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi mencapai 87,19% dan termasuk dalam kategori tinggi; 3) Secara keseluruhan, tidak terdapat hubungan antara faktor-faktor sosial ekonomi dengan tingkat partisipasi petani dalam program SLPHT padi. Kata Kunci : faktor sosial ekonomi, partisipasi, SLPHT padi
Analisis Sikap Konsumen Teh Botol Sosro Berdasarkan Atribut-Atribut Produk Hari Prabowo; Rosihan Asmara
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.997 KB)

Abstract

Pada era globalisasi sekarang ini, banyak produk baru yang bermunculan di Indonesia. Munculnya berbagai jenis produk minuman menjadikan persaingan pasar semakin ketat. Dari satu jenis produk minuman telah ada banyak merek yang mendominasi produk tersebut. Produk minuman tersebut telah dimodifikasi dengan kemasan, rasa, dan harga yang bervariasi. Produk minuman teh  dalam kemasan botol yang paling dikenal oleh masyarakat adalah Teh Botol Sosro. Tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Mengidentifikasi karakteristik konsumen produk Teh Botol Sosro, 2) Menganalisis atribut-atribut yang dipertimbangkan konsumen dalam membeli Teh Botol Sosro, 3) Menganalisis sikap konsumen Teh Botol Sosro. Berdasarkan hasil penelitian: 1) mahasiswa yang mengkonsumsi Teh Botol Sosro sebagian besar adalah perempuan yang memiliki usia 21-22 tahun, agribisnis yang berasal dari angkatan 2005 – 2006 dan Jika dilihat dari uang saku mereka per bulan, maka  rata-rata mahasiswa memiliki uang saku Rp. 300.000 – Rp. 500.000, dan mereka mengkonsumsi Teh Botol Sosro rata-rata < 5 botol tiap minggunya; 2) Dari 15 atribut tersebut, setelah dilakukan uji Cochran maka diperoleh 6 atribut yang benar-benar dipertimbangkan konsumen untuk mengkonsumsi Teh Botol Sosro; 3) Berdasarkan keyakinan dan evalusai oleh responden maka diperoleh hasil sikap mahasiswa S1 Fakultas Pertanian Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Universitas Brawijaya lebih banyak yang netral terhadap Teh Botol Sosro.   Kata Kunci; Sikap konsumen, atribut produk
Dampak Lembaga Keuangan Mikro (Lkm) Terhadap Perubahan Sosial Ekonomi Petani Reza Safitri; Keppi Sukesi; Mufidatul Mila
Agricultural Socio-Economics Journal Vol 9, No 1 (2009)
Publisher : Socio-Economics/Agribusiness Department

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (256.18 KB)

Abstract

Setiap masyarakat hidup dalam bentuk dan dikuasai oleh lembaga-lembaga tertentu. Yang dimaksud lembaga adalah organisasi atau kaidah-kaidah, baik formal maupun informal, yang mengatur perilaku dan tindakan anggota masyarakat. (Mubyarto,1989).Kondisi para petani dan pengusaha pedesaan pada umumnya tidak bisa memenuhi ketentuan-ketentuan Bank Indonesia.Keberadaan keuangan mikro tidak dapat dipisahkan dari usaha-usaha penanggulangan kemiskinan.  Bahkan perhatian dan usaha untuk mengembangkan keuangan mikro terutama didasarkan pada motivasi untuk mempercepat usaha penanggulangan Pembangunan pertanian termasuk pula dengan adanya LKM (Lembaga Keuangan Mikro). Tujuan dari penelitian ini adalah: (1)Mendeskripsikan pelaksanaan kegiatan di Lembaga Keuangan Mikro (LKM) “Sahabat Tani”.(2).   Mendeskripsikan dampak  LKM “Sahabat Tani” terhadap perubahan sosial ekonomi petani Hasil penelitian yang diperoleh berdasarkan penelitian yang dilakukan adalah:1).Pelaksanaan kegiatan Simpan Pinjam Lembaga Keuangan Mikro LKM Sahabat Tani desa Bedali yang didirikan pada bulan September 2005 adalah organisasi lembaga keuangan yang didirikan untuk kepentingan petani/anggota dengan kegiatan utama yaitu kegiatan simpan pinjam. 2). Dengan demikian kehidupan sosial petani sebelum menjadi anggota LKM Sahabat Tani di desa Bedali yang terdiri dari nilai/norma, interaksi sosial,  sikap, pengetahuan dan ketrampilan adalah rendah. Setelah menjadi anggota LKM Sahabat Tani perubahan terhadap nilai/norma beradap pada skor 2,55 dengan presentase sebesar 85% dan kategori sedang, interaksi sosial mempunyai skor 2,45 dengan presentase sebesar 81,67% dan kategori sedang, sikap mempunyai skor 2,60 dengan presentse sebesar 86,67% beradap pada kategori sedang, pengetahuan mempunyai skor 2,70 dengan presentase sebesar 90% dan kategori sedang, untuk ketrampilan mempunyai skor 2,50 dengan presentase sebesar 83,33% dan kategori sedang. Perubahan ekonomi didapatkan sebelum menjadi anggota LKM Sahabat Tani indikator rata-rata skor jawaban  dengan presentse sebesar 66,66% dan kategori rendah. Setelah menjadi anggota LKM Sahabat Tani kehidupan ekonomi mempunyai rata-rata skor jawaban 2,57 dengan presentase sebesar 85,33% dan kategori tinggi.   Kata kunci: Dampak,Perubahan Sosial ekonomi, Petani

Page 1 of 1 | Total Record : 8