cover
Contact Name
Nia Kurniasih
Contact Email
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
sosioteknologi.jurnal@gmail.com
Editorial Address
Gedung Sosioteknologi, Labtek VII, Jalan Ganesha 10, Bandung 40132 Indonesia
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Sosioteknologi
ISSN : 18583474     EISSN : 2443258X     DOI : -
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal Sosioteknologi is a journal that focuses on articles that discuss results of an intersection of research fields of science, technology, arts, and humanities as well as the implications of science, technology, and arts on society. It is published three times a year in April, August, and December. Jurnal Sosioteknologi is a collection of articles that discuss research results, conceptual ideas, studies, application of theories, and book reviews. Jurnal Sosioteknologi has been indexed by Google Scholar and Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474 Jurnal Sosioteknologi adalah jurnal yang memfokuskan pada tulisan berupa penelitian interseksi bidang ilmu sains, teknologi, seni, dan ilmu kemanusiaan serta implikasi sains teknologi dan seni terhadap kehidupan masyarakat. Terbit tiga kali setahun pada bulan April, Agustus, dan Desember. Jurnal Sosioteknologi berisi tulisan yang diangkat dari hasil penelitian, gagasan konseptual, kajian, dan aplikasi teori, serta ulasan buku. Jurnal Sosioteknologi telah terindeks oleh Google Scholar, Citerseerx, dan Indonesian Publication Index (IPI). ISSN: 1858-3474
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 11 No. 27 (2012)" : 7 Documents clear
Tasawuf dan Tarekat (Dimensi Esoteris Ajaran Islam) Siregar, Qoriah A.
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Islam kaffah adalah Islam yang di dalamnya terpadu aspek akidah, syariah dan hakikat. Dari akidah lahir ilmu tauhid, dari syariah lahir ilmu fikih dan dari hakikat lahir ilmu tasawuf. Tasawuf tidak bisa diamalkan sendirian tanpa syariah seperti halnya syariah tidak bisa diamalkan tanpa landasan akidah. Menurut Imam Malik, sebagaimana dikutip oleh al-Gazali "Mengamalkan tasawuf tanpa fikih adalah kezindikan, juga sebaliknya berfikih tanpa tasawuf adalah kehampaan spritual yang didapatkan, memadukan antara keduanya adalah pencapaian hakikat kebenaran". Dalam buku ini Penulis menekan-kan bahwa dimensi esoteris (tasawuf) sangat dipentingkan dalam kesempurnaan pengamal-an ajaran Islam. Pembahasan tentang "Tasawuf dan Tarekat" dalam buku ini secara rinci dibahas Penulis dalam empat bab.
PENDIDIKAN ANTIKORUPSI SEBAGAI SATUAN PEMBELAJARAN BERKARAKTER DAN HUMANISTIK Manurung, Rosida Tiurma
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Era mutakhir yang modern, era global, berteknologi tinggi, serba digital, yang ditandai dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan telah mendorong manusia seperti mesin yang tidak punya hati, tidak memiliki rasa kemanusiaan, tidak memedulikan lingkungan sekitarnya, dan justru dipenuhi oleh ketidakjujuran, manipulasi, kekerasan, saling sikut, dan tidak punya hati nurani. Oleh sebab itu, pendidikan harus dikemas dengan muatan yang berperspektif integritas dan humanistik. Pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai aktivitas atau kegiatan belajar-mengajar di kelas saja. Pendidikan haruslah mengacu kepada berbagai proses dan aktivitas yang harus bersifat produktif, kreatif, pengembang skill, kepribadian, integrasi, keprimaan, sampai pengokoh moral dan spiritual. Pendidikan harus diarahkan dan dikelola dengan tujuan yang jelas, yaitu mampu mengembangkan nilai-nilai positif pada peserta didik. Melalui pendidikan, harus dapat memunculkan sosok-sosok yang memiliki karakter dan kepribadian yang kokoh dan teruji, baik dalam bidang keilmuan maupun dalam bidang kemanusiaan. Pendidikan antikorupsi sejalan dengan pendidikan yang berkarakter dan humanistik mulai gencar diwacanakan oleh pemerintah. Selain menjadi bagian dari proses pembentukan akhlak peserta didik, pendidikan antikorupsi dan humanistik diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam pembentukan jati diri yang jujur dan berparadigma Pancasila serta UUD 1945 sesuai dengan UU No. 20, Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jika pendidikan antikorupsi dan humanistik sudah menjadi orientasi dan tujuan pembelajaran, tentu sekolah akan menjadi tempat penyemaian budaya kejujuran. Bukan hanya melahirkan generasi penerus yang pandai secara intelektual, emosional, dan spiritual, tetapi juga memiliki kepribadian yang berkarakter, berintegritas, dan bertanggung jawab. Upaya pemberantasan korupsi tidak dapat diselesaikan secara instan. Langkah preventif yang dapat dilakukan untuk mengurangi bahaya laten ini, hendaknya dimulai dari lembaga yang sifatnya laten pula yaitu proses pembelajaran di lembaga pendidikan. Demikian juga di satuan pendidikan tinggi, perguruan tinggi dan mahasiswa diharapkan berperan aktif mencegah korupsi dengan berperan sebagai agen perubahan dan motor penggerak utama dalam gerakan antikorupsi di masyarakat. Kata kunci: pendidikan antikorupsi, satuan pembelajaran berkarakter, humanistic The modern global era, which is equipped with high technology, digitalized and characterized by the development of science, has driven humans like heartless machines that do not have any senses of humanity, do not care of the environment, and filled with dishonesty, manipulation, violence, nudge each other, and do not have any consciences instead. Hence, education has to be packed with loads of integrity and humanistic perspective. Education should not be interpreted as an activity of teaching and learning in classroom, yet should refer to various processes and activities that are productive and creative, improve skills, personality, integrity, and fitness. It should be directed and managed with clear purposes. In addition, education should be able to spawn figures who have qualified personality, not only in the field of science but also in humanity. Anticorruption education is on the same page with the humanistic education which is started to be proclaimed by the government rapidly. Aside from being a part of the process of students' morale formation, character and humanistic education is expected to be able to be a primary foundation in the character building which is honest and has the paradigm of Pancasila and UUD 1945 according to UU No. 20 year 2003 about National Education System. If this kind of education has been an orientation and aim of the learning process, the school will definitely become a place to seed the honesty habit. It engenders the next generation who is not only smart in intellectual but also has good outlook according to the highest standard of behavior. The efforts to get the rid of corruption cannot be completed instantly. Preventive attempt done to reduce this ulterior harm should be started from the learning process in the education institution. Similarly, in units of higher education, college and university students are expected to play an active role to prevent corruption by acting as an agent of change and a major driving force in the anti-corruption movement in society. Keywords: anti-corruption education, characterized learning units, humanistic
KOSMOLOGI MEDIA INTERPRETASI MAKNA PADA ARSITEKTUR TIONGHOA TRADISIONAL Kustedja, Sugiri; Sudikno, Antariksa; Salura, Purnama
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Uraian untuk memaknai unsur-unsur arsitektur bangunan tradisional Tionghoa, seringkali dilakukan secara sebagian-sebagian saja dari seluruh komponen bangunan. Penelitian ini memaparkan pendekatan lain, bahwa konsep arsitektur bangunan vernacular Tionghoa secara integral dapat dimaknai dengan cepat dan tepat, baik global maupun detail komponennya dengan menggunakan medium analisis pemahaman kosmologi tradisional Tionghoa. Dipaparkan uraian singkat dari pokok utama falsafah dasar tradisional Tionghoa hasil pemikiran para cendekiawan kuno dalam jangkauan pengetahuan pada masanya. Menarik untuk diperhatikan bahwa hasil perenungan yang bila dibandingkan dalam konteks ilmu pengetahuan sekarang, pemikiran yang merupakan tahap konsep proto-science dapat persistent bertahan sampai kini dalam ilmu terapan seperti terlihat pada contoh yang diberikan. Penelitian ini dilakukan secara eksplorasi, eksplikasi, dan penafsiran hermeunatik. Kata kunci : kosmologi, vernacular, falsafah terapan, correlative thinking. The effort to understand the meaning of traditional Chinese vernacular architecture, most of the time was done by exploring partial components of the building. This paper shows a different approach that the whole integral Chinese vernacular building can be interpreted conveniently through understanding traditional Chinese cosmology. Short descriptions are given for each major traditional phylosophycal subjecs. It is very interesting to note that those proto-science ideas are persistently being applied to present situation as shown by some of the samples. This research is done through exploration, explanation, and interpretative hermeunatics. Keywords : cosmology, vernacular, applied philosophy, correlative thinking.
PENGEMBANGAN MODEL PENERIMAAN BIOPESTISIDA (Studi Kasus Pada Petani Sayuran di Desa Cipada Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung Barat) Saepudin, Saepudin; Astuti, Dea Indriani
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pertanian tradisional ditandai penggunaan pestisida sintetik yang tinggi sehingga meninggalkan residu pestisida sintetik. Di lain pihak, kesadaran konsumen untuk mendapatkan produk pertanian yang bebas dari pestisida sintetik cenderung meningkat sehingga diperlukan penggunaan pestisida yang ramah lingkungan. Biopestisida merupakan pestisida yang ramah lingkungan, tetapi penggunaan oleh petani di lapangan cenderung rendah. Oleh karena itu, diperlukan suatu penelitian mengenai kesediaan petani menggunakan biopestisida dan pengembangan model penerimaan biopestisida oleh petani. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kesediaan petani sayuran di Desa Cipada untuk menggunakan biopestisida dan mengembangkan suatu model penerimaan biopestisida oleh petani sayuran. Metode penelitian menggunakan metode survei wawancara terstruktur dengan jumlah petani sayuran di Desa Cipada sebanyak 30 orang. Penerimaan biopestisida oleh petani diasumsikan dalam dua kondisi. Pada kondisi pertama, biopestisida memiliki performa yang sama dengan pestisida sintetik. Pada kondisi kedua, biopestisida memiliki performa lebih rendah 10%-20% dibandingkan dengan pestisida sintetik. Metode pengambilan sampel menggunakan metode pengambilan sampel contoh kemudahan. Analisis data menggunakan metode deskripsi dengan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi pertama 97% petani sayuran di Desa Cipada menyatakan kesediaannya menggunakan biopestisida, sedangkan 3% lainnya tidak bersedia. Faktor peningkat penerimaan biopestisida adalah tingkat pendidikan, lama pengalaman bertani, persepsi penurunan keefektivan pestisida, pengetahuan responden tentang produk biopestisida, dan luas lahan. Faktor pengurang penerimaan biopestisida adalah status kepemilikan lahan, persepsi kecenderungan serangan hama dan penyakit yang meningkat, persepsi resistensi hama, persepsi kehadiran hama baru, persepsi perubahan musim, pengetahuan responden pada bahaya pestisida, pengalaman komplikasi kesehatan setelah penggunaan pestisida, dan pendapatan dari pertanian. Faktor pengurang ini harus diperhatikan dalam proses pengenalan biopestisida. Pada kondisi kedua, persentase petani sayuran di Desa Cipada yang bersedia menggunakan biopestisida adalah 40% dan 60% lainnya menyatakan tidak bersedia. Kata kunci : biopestisida, petani sayuran, penerimaan biopestisida, pengembangan model penerimaan biopestisida. Traditional agriculture is characterized by the high use of chemical pesticide (highly) so that it leaves chemical pesticide residues. On the other hand, consumers awareness to get free of chemical pesticide agriculture product tends to increase so that the use of environmentally friendly pesticides is required. Biopesticides' are environmentally friendly pesticides, but actually the number of farmers who use it is still low. Therefore, we need to develop a biopesticides acceptance model by vegetable farmer. This research aims to measure the willingness of acceptance biopesticides by vegetable farmer in Cipada, and develop a biopesticides acceptance model. We use the structured interviews survey method with 30 respondents as the research method. Acceptance of biopesticides by the vegetable farmers in Cipada is assumed into two conditions. In the first condition, biopesticides have the same performance with chemical pesticides. In the second conditions, biopesticides have a perform ance of 10%-20% lower than chemical pesticides. Convenience sampling is used to take the samples in this research. To analyze the data, we use descriptive statistic. The results of the research show that in first condition, 97% of the respondents are willing to accept biopesticides, while 3% of the respondents are not. The increasing factors of biopesticides acceptance are education level, years of farm experience, decreasing of pesticides efectivity perseption, vegetable farmer knowledge about biopesticides, and farming area. Mean while, the decreasing factor of biopesticides acceptance are farming area ownership, increasing pest attack and plant disease perception, pest resistance perception, new pest presence perception, weather change perception, vegetable farmer knowledge about the hazard of pesticides, experience of healthy risk by using of pestisicides, and farmer income. Then in the second conditions, the percentage of respondents who are willing to use biopesticides is 40% and the others are not willing to use. Key words: biopesticides, vegetable farmers, acceptance of biopesticides, developing of biopesticides acceptance model.
PENINGKATAN KETAHANAN PANGAN DI DAERAH PERBATASAN : STUDI KASUS KABUPATEN BELU PROVINSI NUSA TENGGARA TIMUR Ernawati, Ernawati
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai salah satu daerah perbatasan di Indonesia, Kabupaten Belu berusaha untuk meningkatkan ketahanan pangan dengan menjadikan Kabupaten Belu sebagai salah satu alternatif lumbung pangan khususnya, dan Provinsi Nusa Tenggara Timur pada umumnya. Untuk menunjang hal tersebut rencana pembangunan bendung di Dusun Oetfo Desa Naekasa Kecamatan Tasifeto barat diharapkan dapat mengoptimalkan daerah irigasi seluas 500 ha. Pola tanam yang dikembangkan padi "“ palawija - palawija diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat setempat yang mayoritas adalah petani. Kata Kunci : ketahanan pangan, bendung Oetfo, daerah irigasi As one of the border areas in Indonesia, Belu regency is seeking to improve food security by making the Belu district an alternative barns in particular, and East Nusa Tenggara Province in general. To support this construction of the dam in the hamlet plan Oetfo Village West Tasifeto Naekasa District is expected to optimize the irrigation area of 500 ha. Rice cropping pattern developed- paddy - crops - crops are expected to improve the living standard of the majority of local people who are farmers. Keywords: food security, Oetfo weir, irrigation areas
PERUBAHAN CARA PANDANG DAN SIKAP MASYARAKAT KOTA BANDUNG AKIBAT PENGARUH GAYA HIDUP DIGITAL Jaelani, Jejen; Sulistianingtyas, Tri; Waskita, Dana
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perangkat digital kini telah menjadi bagian kehidupan sehari-hari masyarakat di kota besar, kota-kota kecil, dan perdesaan. Hal ini memunculkan gaya hidup yang relatif baru di Indonesia, yaitu gaya hidup digital. Masyarakat hidup dengan perangkat digital dan menjadikan perangkat digital sebagai bagian takterpisahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Gaya hidup ini telah mengubah kebiasaan masyarakat. Kini, banyak hal yang dulu dikerjakan dengan cara pergi, menghabiskan waktu dan jarak, kini dapat dilakukan dengan menekan tombol di perangkat digital saja. Gaya hidup digital ini memiliki banyak dampak, baik dampak positif maupun dampak negatifnya. Penelitian ini difokuskan kepada gaya hidup digital di masyarakat kota Bandung dan dampaknya bagi perubahan sikap, mental, dan cara pandang mereka. Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa gaya hidup digital telah menjadi bagian takterpisahkan dalam kehidupan masyarakat kota Bandung. Selain itu, gaya hidup digital juga telah banyak mengubah tatanan hidup, sikap, mental, dan cara pandang masyarakat. Kata kunci: teknologi digital, gaya hidup digital, mental, sikap, cara pandang, perangkat digital, perubahan Digital devices have now become a part of people's daily lives in big cities, small towns, and rural areas. This has triggered a relatively new way of life in Indonesia, the digital lifestyle. The community lives with digital devices and makes them inseparable parts of their daily lives. Lifestyle has changed the habits of the people. Now, a lot of things that used to be done by going, spending time and reaching distance, can now be done by pressing the button on digital devices only. The digital lifestyle has a lot of impact, either positive or negative. This study focuses on the digital lifestyle in the city of Bandung and the implications for changes in attitudes, mental, and their point of views. It was found that the digital lifestyle has become an inseparable part of people of Bandung. In addition, the digital lifestyle has also significantly changed the order of life, attitude, mental, and public perception. Keywords: digital technology, digital lifestyle, mental attitude, outlook, digital devices, change
MASYARAKAT INFORMASI DAN DIGITAL: Teknologi Informasi dan Perubahan Sosial Pilliang, Yasraf Amir
Jurnal Sosioteknologi Vol. 11 No. 27 (2012)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cyberspace telah mengalihkan berbagai aktivitas manusia (politik, sosial, ekonomi, kultural, spiritual, seksual) di "ždunia nyata"Ÿ ke dalam berbagai bentuk substitusi artifisialnya, sehingga apapun yang dapat dilakukan di dunia nyata kini dapat dilakukan dalam bentuk artifisialnya di dalam cyberspace. Cyberspace menciptakan sebuah kehidupan yang dibangun sebagian besar"”mungkin nanti seluruhnya"”oleh model kehidupan yang dimediasi secara mendasar oleh teknologi, sehingga berbagai fungsi alam kini diambil alih oleh substitusi teknologisnya, yang disebut kehidupan artifisial (artificial life). Pengaruh cyberspace terhadap kehidupan sosial setidak-tidaknya tampak pada tiga tingkat: tingkat individu, antarindividu, dan komunitas. Pertama, pada tingkat individual, cyberspace telah menciptakan perubahan mendasar terhadap pemahaman kita tentang 'identitas'. Kedua, pada tingkat antar-individual, perkembangan komunitas virtual di dalam cyberspace telah menciptakan relasi-relasi sosial yang bersifat virtual di ruang-ruang virtual : virtual shopping, virtual game, virtual conference, virtual sex dan virtual mosque. Ketiga, pada tingkat komunitas, cyberspace diasumsikan dapat menciptakan satu model komunitas demokratik dan terbuka yang disebut Rheingold 'komunitas imaginer' (imaginary community). Di dalam era artifisial dewasa ini, berbagai ruang sosial yang ada di dunia nyata, kini dapat dicarikan substitusinya di dalam dunia informasi digital, dalam wujudnya yang artifisial, yaitu wujud simulasi sosial (social simulation). Cyberspace adalah sebuah ruang utama yang di dalamnya berbagai simulasi sosial menemukan tempat hidupnya. Kata kunci: cyberspace,artificial life, perubahan, simulasi sosial, komunitas imaginer, dunia maya, informasi digital Cyberspace has transferred various human activities (political, social, economic, cultural, spiritual, sexual) in the 'real world' into the various forms of artificial substitutes, and therefore anything that can be done in the real world can now be done in the form of artificial in cyberspace. Cyberspace creates a life that is, later, built mostly- perhaps entirely- by the model of life that is fundamentally mediated by technology, hence the natural functions now taken over by technological substitutes, called artificial life. The influence of cyberspace on social life is obvious at, at least, three levels: the individual, inter-individual, and communities. First, at the individual level, cyberspace has created a fundamental change to our understanding of 'identity'. Second, at the inter-individual level, the development of virtual communities in cyberspace has created social relations that are virtual in virtual spaces: virtual shopping, virtual games, virtual conferences, virtual sex and virtual mosque. Third, at the community level, cyberspace is assumed to be able to create a model of democratic and open a community that Rheingold called 'imaginary community'. In the era of artificial these days, a variety of social spaces that exist in the real world, can now be substituted in the world of digital information, in its artificial form, i.e. a form of social simulation. Cyberspace is a primary space in which a variety of social simulations find their home. Keywords: cyberspace, artificial life, change, social simulation, imaginary community, virtual world, digital information

Page 1 of 1 | Total Record : 7