cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Edukasi : Jurnal Bimbingan Konseling
ISSN : 24604917     EISSN : 24605794     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal EDUKASI (Media Kajian Bimbingan Konseling) is a peer-reviewed open-access scholarly journal managed and published by Program Studi Bimbingan Konseling Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. The journal publishes various researches and literary reviews in the field of Education science and Educational Counceling providing reviewed scholarly articles that suggest new concepts and best practices for teachers, lecturers, researchers, and education counceling practitioners in various places. This journal was established and initiated by a group of experts in Education Science and Education Counceling in Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. This journal is published biannually in January and July.
Arjuna Subject : -
Articles 99 Documents
Konseling Dalam Pendidikan Manusia Menurut Konsep Islam Muslima Muslima
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.317

Abstract

Islam is very attentive to the human growth and development from the time of birth until death. Islam is the only religion that gives a thorough explanation for the behavior of the people, began to look for life partner, marital promiscuity procedures for mandapatkan descent, attention to the child when it was born, when he was a teenager, old age until death and after death has been set in the Al -Qur`an. Al- Quran with the methods applied are appropriate and in line with human life in general and special. Islam sangat menaruh perhatian pada pertumbuhan dan perkembangan manusia mulai dari saat dilahirkan hingga meninggal dunia. Islam adalah satu- satunya agama yang member penjelasan menyeluruh atas prilaku manusia, baik dari sisi mulai mencari pendamping hidup, tatacara pergaulan suami istri untuk mandapat keturunan, perhatian kepada anak ketika dilahirkan, ketika anak remaja, masa tua sampai kematian dan setelah kematian sudah diatur dalam Al-Quranur Karim. Al- Quran sarat dengan metode-metode yang aplikatif yang sesuai dan sejalan dengan kehidupan manusia secara umum dan khusus. Kata Kunci: Konseling dan Pendidikan
Pola Pengasuhan Orang Tua Dan Moral Remaja Dalam Islam Miftahul Jannah
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.318

Abstract

Style of parenting can`t be separated by moral behavior in educating children, how to have morals in life, especially in the family environment and parents this sekolah.Dewasa many difficulties and problems in educating children, from academics, intellectuals, state officials moreover from lower socioeconomic circles who have no education and mature economies. The problem lies in the failure of parents to educate generations obedient to Allah and will understand Islamic values. Various problems occur for example brawl, free sex, lack incapacity to control children in the associate, drugs, and various other criminal. Events and these events often occur in big cities but now shifts to all levels of society, both in rural and metropolitan cities. The teenagers went along with all the negative behavior without thinking about the impact of the negative impacts that will be experienced both for himself and his parents have failed to maintain the good name of both parents in the world and in the presence of Allah, for failing to do good deeds as an eternal charity before Allah Swt. Our country is far backward from the Islamic civilization since leaving the values of Islam, the developed world have left their ignorance and are following Islamic law that is believed to be true in the welfare of the ummah. Generani Islamic Ummah and Islam must educate by parents who have the foundation of Islam in the household so that kusesesan begins within the family nucleus and then continues into the school environment and the community. Abstrak: gaya pengasuhan orang tua tidak terlepas dengan moral dalam mendidik perilaku anak, bagaimana agar memiliki moral dalam kehidupan, terutama di lingkungan keluarga dan sekolah.Dewasa ini orang tua banyak mengalami kesulitan dan permasalahan dalam mendidik anak, b aik dari kalangan akademisi, intelektual, petinggi negara apalagi dari kalangan sosial ekonomi bawah yang tidak memiliki pendidikan dan ekonomi yang matang. Permasalahan orang tua terletak pada gagalnya mendidik generasi yang taat pada Allah Swt dan paham akan nilai-nilai keislaman. Berbagai masalah terjadi misalnya tawuran, free sex, ketidak sanggupan mengontrol anak dalam bergaul, narkoba, dan berbagai macam kriminal lainnya. Kejadian dan peristiwa ini sering terjadi di kota besar namun sekarang bergeser ke semua tingkatan masyarakat baik di desa, dan kota metropolitan. Para remaja ikut - ikutan dengan segala dampak perilaku negatif tanpa memikirkan dampak negatif yang akan dialami baik untuk dirinya dan orang tuanya telah gagal menjaga nama baik orang tua baik di dunia dan di hadapan Allah Swt, karena gagal dalam beramal shalih sebagai amal yang kekal di hadapan Allah Swt. Negara kita jauh mundur ke belakang dari peradaban Islam karena meninggalkan nilai-nilai islam, dunia maju telah meninggalkan kejahilan mereka dan sedang mengikuti syariat islam yang diyakini kebenarannya dalam mensejahterakan ummat. Ummat islam dan generani Islam harus didik oleh orang tua yang memiliki landasan keislaman dalam rumah tangga sehingga kusesesan di mulai dalam keluarga inti kemudian berlanjut ke dalam lingkungan sekolah dan masyarakat Kata kunci: Pola Pengasuhan orang tua, moral dan remaja
Kontribusi Peran Orangtua Dan Guru Mata Pelajaran Terhadap Pengembangan Kreativitas Siswa Qurrata A’yuna
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.314

Abstract

Creative abilities of children can be improved through education, because creativity is the result of interaction between the individual and his environment. Parents and teachers are seen as the two parties conducting intensive interaction with the students, therefore their role is expected to contribute to the development of student creativity. But in fact, parents tend to observe and interpret their behavior in line with expectations and desires, to overestimate the ability of children, and send children to follow a variety of extra lessons to improve learning achievement and aspirations of child neglect. Similarly, the subject teachers in schools, generally they only focus on the subject matter of completeness, memory, and logical reasoning alone. This research aims to reveal (1) contribution to the development of parenting a child's creativity, (2) the contribution of the role of subject teachers to the development of children's creativity, and (3) the contribution of the role of parents and teachers of subjects together towards the development of children's creativity. Writing using the ex post-facto. The writing sample totaled 227 students. Sampling was done by using Proportional Random Sampling. Research carried out by administering the instruments to children. The data obtained and analyzed using SPSS version 10.0. The results showed that: (1) there is a significant contribution to the development of the role of the parent amounted to 15.4% of student creativity, (2) there is a significant contribution subjects the teacher's role to the development of students' creativity by 2%, and (3) there is a significant contribution role parents and teachers of subjects together towards the development of creativity students of SMP Negeri 1 Banda Aceh by 15%. From the findings of the study it can be concluded that parents and teachers either separately or together to contribute to the development of students' creativity, then it ought established a good synergy between the two so that students creativity can be developed. Kemampuan kreatif anak dapat ditingkatkan melalui pendidikan, karena kreativitas adalah hasil dari interaksi antara individu dengan lingkungannya. Orangtua dan guru dipandang sebagai dua pihak yang melakukan interaksi yang intensif dengan siswa, oleh karena itu diperkirakan peran mereka dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan kreativitas siswa. Namun pada kenyataannya, orangtua cenderung mengamati dan menafsirkan perilaku anaknya sesuai dengan harapan dan keinginan mereka, melebih-lebihkan kemampuan anak, dan menyuruh anak mengikuti bermacam-macam pelajaran tambahan untuk meningkatkan prestasi belajar serta mengabaikan aspirasi anak. Demikian pula dengan guru mata pelajaran di sekolah, umumnya mereka hanya berpusat pada ketuntasan materi pelajaran, ingatan, dan penalaran logis semata. Penulisan ini bertujuan untuk mengungkap (1) kontribusi peran orangtua terhadap pengembangan kreativitas anak, (2) kontribusi peran guru mata pelajaran terhadap pengembangan kreativitas anak, serta (3) kontribusi peran orangtua dan guru mata pelajaran secara bersama-sama terhadap pengembangan kreativitas anak. Penulisan menggunakan metode expost-facto. Sampel penulisan ini berjumlah 227 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik Proporsional Random Sampling. Penelitian dilaksanakan dengan mengadministrasikan instrumen kepada anak. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan menggunakan SPSS versi 10.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat kontribusi yang signifikan peran orangtua terhadap pengembangan kreativitas siswa sebesar 15.4%, (2) terdapat kontribusi yang signifikan peran guru mata pelajaran terhadap pengembangan kreativitas siswa sebesar 2%, dan (3) terdapat kontribusi yang signifikan peran orangtua dan guru mata pelajaran secara bersama-sama terhadap pengembangan kreativitas siswa SMP Negeri 1 Banda Aceh sebesar 15%. Dari temuan penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa orangtua dan guru baik secara terpisah atau bersama-sama memberikan kontribusi terhadap pengembangan kreativitas siswa, maka sudah seharusnyalah terjalin sinergi yang baik antar keduanya agar kreativitas siswa dapat lebih dikembangkan. Kata Kunci: Kemampuan, Kreatifitas, Interaksi
Efektivitas Teknik Sosiodrama Untuk Meningkatkan Komunikasi Interpersonal Siswa (Penelitian Kuasi Eksperimen Kelas X di SMA Kartika Siliwangi 2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014) Evi Zuhara
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.319

Abstract

Adolescence is a period of social adolescence because all social relationships is becoming more obvious and very dominant. Social relationship will be established with good interpersonal communication when there is in it. Students who have difficulty in interpersonal communication will be difficult to adjust themselves, tend to be overbearing, selfish, and want to win themselves so easily involved in the dispute. The aim of this research is intended to establish the effective interventions to improve students' interpersonal communication. The main of research problem was "Is sociodrama technique effective for enhancing students’ interpersonal communication towards grade X students of Kartika Siliwangi 2 Senior High School in Bandung in academic year 2013/2014?" The research utilized quasi-experimental with Non equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. The sample comprised 8 students in experiment group and 7 students in control group. The result showed that Sociodrama technique had a good effect to enhance students’ interpersonal communication, which resulted in a significant increase in the change of interpersonal communication skills average score where the pretest was 21.50 and the posttest score was 44.60. Masa remaja merupakan masa sosial karena sepanjang masa remaja hubungan sosial semakin tampak jelas dan sangat dominan. Hubungan sosial akan terjalin dengan baik apabila terdapat komunikasi interpersonal di dalamnya. Siswa yang memiliki kesulitan dalam melakukan komunikasi interpersonal akan sulit menyesuaikan diri, cenderung memaksakan kehendak, egois, dan ingin menang sendiri sehingga mudah terlibat dalam perselisihan. Penelitian bertujuan menghasilkan rumusan intervensi yang efektif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa. Masalah utama penelitian adalah “Apakah teknik sosiodrama efektif untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa kelas X Kartika Siliwangi 2 Bandung Tahun Ajaran 2013/2014?” Metode penelitian yang digunakan yaitu kuasi eksperimen dengan Non equivalent Pretest-Posttest Control Group Design. Sampel penelitian sebanyak 15 siswa, dengan jumlah anggota kelompok eksperimen 8 siswa pada kelompok kontrol 7 siswa. Teknik sosiodrama untuk meningkatkan komunikasi interpersonal siswa yang diujikan dalam penelitian memiliki daya pengaruh yang cukup baik, yaitu menghasilkan peningkatan yang signifikan perubahan skor rata-rata kemampuan komunikasi interpersonal pada saat pretest sebesar 21,50 mengalami peningkatan menjadi 44.60 pada saat posttest. Kata Kunci: Komunikasi Interpersonal, Siswa SMA, Teknik Sosiodrama.
Peranan Orang Tua Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak Munirwan Umar
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.315

Abstract

The parents are the main responsible person in children aducation. The parents who determine the children`s future. But in acknowledge limitedness and possessed opportunity, so the parents ask for ather outsider helping to educate their children. The other outsider is the teachers at school. Nevertheless, the children have submitted at the schoo, the parent remaind to responsible to the success of their children aducation. The parents play important role in determining the success of their children education. The parent of role and responsibility among other can be realized by guiding the continuity of children learning at home according to learning program which has studied by children at school. The guiding of children learning continuity at home can be done by supervising and helping school tasks arrangement as well as completing instrument and infrastructure of children learning. Orang tua adalah orang yang bertanggung jawab utama dalam pendidikan anak-anak. Para orang tua yang menentukan masa depan anak. Namun dalam mengakui keterbatasan dan peluang yang dimiliki, sehingga orang tua meminta pihak luar lain membantu mendidik anak-anak mereka. Pihak lainnya adalah guru di sekolah. Namun demikian, setelah anak-anak dititipkan di sekolah, orang tua tetap untuk bertanggung jawab untuk keberhasilan pendidikan anak-anak mereka. Orang tua berperan penting dalam menentukan keberhasilan pendidikan anak-anak mereka. Induk peran dan tanggung jawab antara lain dapat diwujudkan dengan membimbing kelangsungan anak belajar di rumah sesuai dengan program yang telah dipelajari oleh anak-anak di sekolah belajar. Membimbing anak-anak belajar di rumah dapat dilakukan dengan mengawasi dan membantu pengaturan tugas sekolah serta menyelesaikan instrumen dan infrastruktur anak belajar. Kata kunci: Prestasi belajar, Orangtua
Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Prestasi Belajar Mahasiswa Semester Ii Bimbingan Konseling UIN Ar-Raniry Fauziah Fauziah
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.320

Abstract

Emotional Intelligence and Learning Achievement. The purpose of this study was to determine the relationship of emotional intelligence and academic achievement second semester students Guidance konselin UIN Ar-Raniry. This type of research is an analytic description with degrees kecepercayaan 95%. The population is all second level students Major of Counseling is 78 students. These results indicate a significant relationship between emotional intelligence and academic achievement were proved with ap value of 0.001
Internalisasi Nilai-Nilai Pendidikan Perspektif Abraham Maslow (1908-1970) (Analisis Filosofis) Masbur Masbur
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 1 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) Januari 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i1.316

Abstract

Value for Maslow is the value of existence (being values), which includes among others: truth, goodness, beauty, full of energy, unique, perfection, fullness, justice, order, simplicity, rich nature, the full nature of the game and the nature of self- sufficient. These values will behave as needs and fulfillment will bear the psychological health and leads to the possibility of a peak experience. Moreover, according to Maslow value focus is on the role of human beings, human nature, and moral values. At the first show that the award of the inner potential and the human role in determining his choices. In the second explains that human nature lies in the nature that fosters inner porensi independence and responsibility on humanitarian grounds. The latter showed that moral values are values that are very important for people to develop themselves. The implication of all it is the first, the realization of development opportunities and the role of human psychological behavior-based humanistic and religious. Second, the realization of psychological behavior improvement opportunities based on the transcendental spiritual and scientific aspects. Third, the realization of development opportunities of building science concerned with the aspect of morality. Because for him, the peak experience is becoming more of yourself, realizing his ability to perfect, closer to the core of its existence, and more fully as a human being and experience the peak is at the core of religion. Nilai bagi Maslow adalah nilai keberadaan (being values), yang mencakup diantaranya adalah: kebenaran, kebaikan, keindahan, penuh energi, unik, kesempurnaan, kepenuhan, keadilan, ketertiban, kesederhanaan, sifat kaya, sifat penuh permainan dan sifat mencukupi diri. Nilai-nilai tersebut akan berprilaku seperti kebutuhan dan pemenuhannya akan melahirkan kesehatan psikologis dan membawa ke arah kemungkinan pengalaman puncak. Selain itu, fokus nilai menurut Maslow adalah pada peran manusia, hakikat manusia, dan nilai moral. Pada yang pertama menunjukkan bahwa pemberian penghargaan terhadap potensi batin dan peran manusia dalam menentukan pilihan-pilihannya. Pada yang kedua menerangkan bahwa hakikat manusia terletak pada porensi batin yang menumbuhkan sifat kemandirian dan tanggung jawab atas dasar kemanusiaan. Sedangkann yang terakhir menunjukkan bahwa nilai moral adalah nilai yang sangat penting bagi manusia untuk mengembangkan dirinya. Implikasi dari semua itu adalah pertama, terwujudnya peluang pengembangan peran manusia dan tingkah laku psikologisnya yang berbasis humanistik dan religious. Kedua, terwujudnya peluang penyempurnaan tingkahlaku psikologis yang berlandaskan pada aspek spiritual transendental dan ilmiah. Ketiga, terwujudnya peluang pengembangan bangunan ilmu yang menaruh perhatian pada aspek moralitas. Karna baginya, pengalaman puncak adalah menjadi lebih dari diri sendiri, lebih mewujudkan kemampuannya dengan sempurna, lebih dekat inti keberadaannya, dan lebih penuh sebagai manusia dan pengalaman puncak itu ada pada inti agama. Kata Kunci : Internalisasi. Nilai Pendidikan Abraham Maslow
TREATMEN DAN KONDISI PSIKOLOGIS MUALLAF Hafidz Muhdhori
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 3, No 1 (2017): JURNAL EDUKASI (JURNAL BIMBINGAN KONSELING) JANUARI 2017
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v3i1.1412

Abstract

Religious conversion is the act of conversion will be undertaken someone as a real form on the turmoil of one’s soul on a belief and trust in the new religion. When someone does a religious conversion means he has left the old religion and the move to the new religion, someone who has embraced the religion of Islam is usually often experience psychological dilemmas that require an understanding of the community. Things like this very important as a concern in the community, for a muallaf tranquility and comfort in the midst of life in society is very important, with tranquility and comfort and guidance even good reception from the public that will be it as a reinforcement of the psychological condition of a muallaf, thereby strengthening the grip and confidence in their beliefs. This article aims to find a convert and a form of psychological treatments given to the muallaf as a form of strengthening the psychological condition muallaf. The method used in this research is qualitative descriptive, with the techniques of data collection using interviews, observation, and documentation. by taking four samples of two people from Christianity Catholic and two Protestant Christians. With the result object embraced Islam willingly and there is no pressure at all from outside himself. at the beginning of their conversion find their pressure coming from family, relatives, close friends, and the community, from the start in angry, insulted, reviled, and up to physical violence. So that it resulted in the disrupt tion of psychological conditions muallaf.
INTEGRASI UNSUR HUMANISASI, LIBERASI DAN TRANSIDENSI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM Masbur Masbur
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 2, No 1 (2016): JURNAL EDUKASI (JURNAL BIMBINGAN KONSELING) JANUARI 2016
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v2i1.690

Abstract

Islam is a religion of tolerance for adherents and giving attitude to provide benefit to the nation in various dimension of life. Humanization is the planting of Islamic values towards the human nature through education. Humanization of education means the whole element in education that reflects the integrity of the human being and to help people become more humane. Liberalism as a doctrine of freedom is the right of every human being. Giving freedom is a recognition of human dignity, the basis concept of humanism. The values of freedom in Islam would not exist if it is not based on a deep feeling in one's personal, community needs, obedience to God and human values. Islamic education as a process of humanization require the principle of freedom to develop the potential of learners optimally. Liberalism as a doctrine of freedom is the right of every human being. Nobody is willing pressed or deprived of his rights. Therefore, every human being has the right to get freedom. Giving freedom is a recognition of human dignity, the basis concept of humanism. The values of freedom in Islam would not exist if it is not based on a deep feeling in one's personal, community needs, obedience to God and human values. Islamic education as a process of humanization require the principle of freedom to develop the potential of learners optimally. Implementation of education it is impossible to reach the goal or target if they do not give freedom. transcendental dimension of transcendence is to grow in culture. Such social sciences, then Muslims will be able to straighten out steps the development of science that's happening now and can dampen social unrest and other criminal acts that currently characterizes the lives of many. Islam contributes good activity, but in accordance with the Shari'a should implementation predetermined.
KONSTRUKSI DAN MODEL PRAKSIS PENDIDIKAN INKLUSIF (Suatu Analisis dengan Pendekatan Sosio-Eksploratif) Masbur Masbur
JURNAL EDUKASI: Jurnal Bimbingan Konseling Vol 1, No 2 (2015): JURNAL EDUKASI (Jurnal Bimbingan Konseling) July 2015
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/je.v1i2.602

Abstract

Pendidikan merupakan suatu proses interaksi dua arah yang bertujuan untuk memberikan pengaruh terhadap kognitif, afektif dan psikomotorik, pengaruh tersebut dapat terstimulus secara signifikan tanpa terbatas dalam memori setiap individu. Pendidikan juga tidak hanya terbatas pada individu yang sempurna lahir dan bathin saja, tetapi pendidikan itu juga dapat dirasakan oleh komponen lain yang masih kurang dari segi psikologi, mental, atau dar segi fisiologisnya. pendidikan inklusif merupakan sebuah konsep pembelajaran yang menempatkan siswa berkebutuhan khusus dan siswa biasa dalam satu ruang sosial dengan kedudukan yang sejajar. Pendidikan yang menghargai perbedaan ini didasari oleh konsep kebermaknaan perbedaan yang unik pada tiap orang dan masyarakat. Ia merupakan pendidikan yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk bersosialisasi dengan sesama yang beragam baik dari segi fisik, agama, suku, dan lain-lain. Pendidikan multikultural mengandaikan sekolah dan kelas dikelola sebagai simulasi arena kehidupan nyata yang plural, terus berkembang dan berubah. Hal ini didasari oleh adanya kepekaan dan solidaritas di antara peserta didik. Potensi transedental, intelektual, moral dan estetis dikembangkan dengan cara mengintegrasikan nuansa moralitas dan spiritual di dalam kurikulum. Pelajaran agama pun tidak sekadar merupakan penyalehan individu namun lebih dari itu, pelajaran agama yang diberikan berfungsi untuk penyalehan sosial. Sikap dan sifat yang umumnya berkembang di masyarakat plural seperti di Indonesia antara lain memiliki solidaritas buta, etnosentrisme, partikularis, eksklusif serta masalah mayoritas-minoritas yang berujung pada ketidakadilan di dalam masyarakat. Sebagai negara yang memiliki beragam etnis, religi dan budaya, Indonesia perlu menerapkan pola pendidikan yang mampu menghadapi keberagaman.

Page 1 of 10 | Total Record : 99