cover
Contact Name
Andri Kurniawan
Contact Email
jurnalkomunike@uinmataram.ac.id
Phone
+6281917772381
Journal Mail Official
jurnalkomunike@uinmataram.ac.id
Editorial Address
Jl. gajah Mada Nomor 100 Jempong, Mataram - NTB
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
KOMUNIKE: Jurnal Komunikasi Penyiaran Islam
ISSN : 20863349     EISSN : 25979310     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Komunike focuses on publishing articles of Islamic Communication Public Relations and Islamic Brodcasting Jurnalism Dakwah and Social Science Islamic Dakwah Studies include field research and conceptual study research All articles will be blind peer reviewed by experts in the fields to maintain a high scholarly level
Articles 54 Documents
STRATEGI KOMUNIKASI PONDOK PESANTREN DARUN NAJAH DUMAN DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS MASYARAKAT DI DESA DUMAN KEC. LINGSAR KAB. LOMBOK BARAT Syukri, Muhammad; Abidin, Zaenal
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.135 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2287

Abstract

Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam yang sekurang-kurangnya mempunyai tiga ciri umum yaitu kyai sebagai figur sentral, asrama sebagai tempat tinggal para santri, masjid sebagai pusat kegiatan. Apapun ciri khususnya adalah adanya pemimpin yang kharismatik dan suasana keagamaan yang mendalam. Sebagai lembaga pendidikan, pesantren mempunyai misi sangat luas dan komplek, yang paling mendasar adalah pemahaman terhadap agama dan dakwah islamiyah. Pondok Pesantren Darun Najah Duman merupakan salah satu pondok pesantren yang ada di LombokBarat dan satu-satunya pondok pesantren yang ada di desa Duman Kec. Lingsar. Alamsyah Ratu Perwiranegara mengemukakan beberapa pola umum yang khas dalam pendidikan Islam tradisional pesantren sebagai berikut: Independen, Kepemimpinan Tunggal, Kebersamaan dalam hidup yang merefleksikan kerukunan, Kegotong-royongan, Motivasi yang terarah dan padaumumnya mengarah pada peningkatan kehidupan beragama. Itulah beberapa ajaran yang disampaikan pesantren dalam rangka religiusitas untuk kehidupan masyarakat ke depannya. Dampak positif strategi komunikasi pondok peantren Darun Najah dalam meningkatkan religiusitas masyarakat di desa Duman adalah: a. terjalinnya komunikasi antar lembaga/Internal pesantren. b.terciptanya hubungan religious antara masyarakat. c. terciptanya keharmonisan di desa Duman.
PENETRASI SOSIAL HUBUNGAN ANTAR BUDAYA WARGA RUMAH SUSUN (Study Komunikasi Interpersonal di Mandalika, Kota Mataram) Fathoni, Muhammad; Wahyuni, Sri Devi
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (245.994 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2285

Abstract

Penelitian ini menjelaskan tentang bagaimana proses komunikasi antarbudaya yang terjalin antar penghuni rusunawa Mandalika di lingkungan Montong Are secara interpersonal. Serta bagaimana faktorfaktor yang mempengaruhi perilaku komunikasi dalam kerukunan penghuni. Penelitian ini menggunakan metode fenomenologi untuk mengurai dan mendeskripsikan bagaimana perilaku dan proses komunikasi antarbudaya dalam kerukunan penghuni rumah susun warga di lingkungan Montong Are dalam sudut pandang pengalaman komunikasi penghuninya. Tekhnik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan observasi,wawancaradan dokumentasi. Proses pengumpulan data dengan tekhnik snowball sampling/chain sampling sebanyak 10 orang informan. Hasil penelitian yang ditemukan perkembangan hubungan kerukunan di rusunawa Mandalika dipengaruhi oleh perilaku komunikasi antarbudayamasing-masing penghuninya secara interpersonal melalui tahapan personality structure dalam bentuk memahami konsep diri sebagai penghuni.Kedua yaitu closnessself disclosure dalam bentuk keterbukaan antar sesama. Ketiga yaitu the depth and breadth of self-disclosure dalam bentuk pemahaman, dan keempat ialah regulating closeness dalam bentuk kepercayaan antar sesame penghuni. Faktor yang mempengaruhi kerukunan perilaku komunikasi antarbudaya terhadap penghuni rusunawa Mandalika ialah para penghuni memiliki rasa kekerabatan dan kekeluargaan terhadap sesama dan solidaritas tinggi, juga terbiasa akan heterogenitas budaya satu sama lain sehingga terciptanya komunikasi yang efektif.
PEMIKIRAN QAḌĀ’-QADAR JAMĀL AD-DĪN AL-AFĠĀNĪDAN IMPLIKASINYATERHADAP PEMIKIRAN DAKWAH ‘AQLĀNIYAH Muhyiddin, Ahmad Shofi; Badi’ati, Alfi Qonita
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.848 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2286

Abstract

Artikel ini difokuskan pada pemikiran Jamāl ad-Dīn tentang qaḍā’-qadar dan implikasinya terhadap pemikiran dakwah aqlāniyah. Artikel ini berupa kajian literatureyang datanya diperoleh dari studi kepustakaan. Kemudian data yang diperoleh selanjutnya diolah dan dianalisa dengan menggunakan pendekatan sosio-historis dengan metode historik elektifeliminatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa Jamāl ad-Dīn sangat menekankan pentingnya akal dan kebebasan manusia dalam pemikiran teologinya. Manusia, menurutnya, melalui akalnya mampu mempertimbangkan baik dan buruknya suatu perbuatan, kemudian dengan kehendaknya sendiri ia mengambil suatu keputusan, selanjutnya dengan daya yang demikian ia wujudkan dalam perbuatannyata. Manusia mempunyai kemauan sendiri atau irādah yang bebas, dengan tidak melupakan hubungan kebebasan pribadi itu dalam lingkungan kebebasan Allah SWT., dengan ungkapan lain bahwa qaḍā’-qadar kecil yang ada pada manusia tetap berada dalam lingkup qaḍā’- qadar besar pada Allah SWT. Qaḍā’-qadar dalam pemikiran Jamāl adDīn lebih mengarah pada sunnatullāh (hukum alam). Artinya qaḍā’- qadar adalah hukum alam yang mengatur perjalanan alam dengan sebab dan akibatnya (silsilah al-asbāb). Pemikiran ini selanjutnya berimplikasi terhadap pemikiran dakwah aqlāniyah, yaitu seruan atau ajakan kepada manusia untuk mengobarkan semangat tajdid/pembaharuan agar tidak terjebak dalam taklid sehingga akal tidak tunduk pada otoritas manapun. Konsep dakwah ‘aqlāniyah Jamāl ad-Dīn ini mendapatkan sambutan yang cukup luas dan hampir menyebar ke seluruh dunia Islam. Pemikiran dakwah ‘aqlāniyah bisa diimplementasikan melalui dua cara: pertama, melalui nalar dan intuisi. Dan kedua, melalui pengamatan. Pengetahuan sensual ini bergantung kepada pengetahuan aktual. Karena itu, menurut Jamāl ad-Dīn, manusia harus menghindari taklid dan mengoptimalkan akalnya untuk mengamati dan membaca atau meneliti ayat-ayat atau fenomenafenomena yang telah tersirat dan tersurat untuk mencapai kebenaran pengetahuan.
PANDANGAN TOKOH AGAMA TERHADAP PEMBAGIAN KERJA LAKI-LAKI DENGAN PEREMPUAN (Studi Kesetaraan Gender di Desa Terong Tawah, Labuapi - Lombok Barat) Pratama, Muazin; Zaelani, Zaelani
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.964 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2284

Abstract

Karya ilmiah dengan judul pandangan tokoh agama terhadap pembagian kerja lakilaki dengan perempuan ini bertujuan untuk .mengetahui kesetaraan gender yang yang ada di Desa Terong Tawah khususnya dalam pembagin kerja antara laki-laki dengan perempuan yang sedikit banyak pasti memiliki dampak serta untuk memperjelas ranah pekerjaan bagi seorang laki-laki dan perempuan dan juga bagaimana para ulama menyoroti keadaan tersebut. Permasalahan yang dibahas dalam karya ilmiah ini adalah: (1) memperjelas peran kerja antara laki-laki dengan perempuan. (2) mengetahui pandangan para tokoh agama terhadap pembagian kerja antara laki-laki dengan perempuan dan (3) mengetahui dampak pembagin kerja antara laki-laki dengan perempuan di desa Terong Tawah Kecamatan Labuapi Kabupaten Lombok Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, sedangkan teknik pengumpulan data menggunakan observasi Nonpartisipasi, wawancara tidak terstruktur dan teknik dokumentasi, dengan narasumber data dalam penelitian ini adalah mewawancarai tokoh agama yang paling berperan dalam masyarakat tersebut serta masyarakat Desa Terong Tawah pada umumnya , khusunya masyarakat yang telah berkeluarga dan bekerja. Hasil dari penelitian ini yaitu bahwa kesetaraan gender khusunya dalam pembagian kerja lakilaki dengan perempuan di desa Terong Tawah bisa dilihat dari banyaknya perempuan yang juga bekerja di ranah publik dengan tujuan membantu suami mengurangi beban rumah tangga dengan syarat mendapatkan izin dari pihak laki-laki. Kemudian dengan adanya pembagian kerja tersebut tidak memunculkan pendapat yang berbeda dari para tokoh agama yang telah diwawancarai yakni mereka menunjukan kesepakatan terhadap di perbolehkanya para perampuan untuk ikut bekerja di ranah pubik untuk membantu suami memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan berbekal izin tersebut, dan dengan adanya pembagian kerja yang telah terlaksana memunculkan dampak, yaitu dapak positif dan negatif. Damfak positifnya yaitu masyarakat dapat menjadi masyarakat yang mandiri dan kuat dalam hal membina rumah tangga sedangkan dampak negatifnya yakni dapat mengakibatkan kurangnya intraksi antar anggota keluarga khusunya pasangan suami istri yang dapat berujung pada ketidakharmonisan dalam keluarga bahkan menjadi awal retaknya sebuah rumah tangga sehingga munculnya dampak terbutuk yakni perceraian.
DINAMIKA MEDIA KOMUNIKASI SEBAGAI INTERAKSI POLITIK Safitri, Priska Nur
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.077 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2282

Abstract

Kekuatan media dalam komunikasi politik, menjadikan para aktor-aktor politik, dan partainya membentuk opini publik yang memmpengaruhi masyarakat. Era kecepatan informasi saat ini masyarakat dituntut untuk berfikir kritis supaya tidak terpengaruh oleh opini yang salah dan merugikan. Membangun citra untuk mendapatkan kekuasaan ditingkatkan agar dikenal positif masyarakat sebagai sarana branding. Hadirnya internet atau new media menguatkan aktor politik untuk menyebarkan konten demi popularitasnya naik. Maka sudah seharusnya ada regulasi terutama dalam ranah maya karena penyebarannya yang cepat, harus bener-benar mengawasi media. Supaya realitas dari media untuk menyampaikan informasi dalam hal ini politik tidak kehilangan esensinya.
MODERASI PENDIDIKAN PESANTREN BERBASIS PERJUMPAAN DALAM BAYANG-BAYANG RADIKALISME DI LOMBOK NUSA TENGGARA BARAT Fikri, Muhammad
KOMUNIKE Vol 11 No 2 (2019): Komunikasi dan Dinamika Sosial
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.095 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i2.2283

Abstract

Moderasi pendidikan menjadi cita-cita semua manusia di dunia ini, karena itu yang paling dasar dalam diri manusia guna menciptakan perdamaian dalam dunia pendidikan yang tengah dibayang-bayangi oleh wacana radikalisme. Artikel ini pada dasarnya adalah penelitian lapangan dengan menggunakan teori bahasa atau komunikasi. Komunikasi atau dialog adalah bengkel tempat berlatih untuk menghilangkan permasalahan, untuk mengekspresikan kebenaran. Komunikasi atau dialog adalah institusi yang tidak bisa dihindari oleh setiap orang. Orang akan disebut sakit jika ia tidak pernah berinteraksi dengan sesama. Dalam berkomunikasi selalu ada hantaran bahasa saling kesefahaman. Begitu pentingnya bahasa dalam kehidupan kita sehari-hari hingga kita tidak menyadarinya, ia bagaikan nafas yang ketika hirup baru kita sadar akan pentingnya. Jika nafas kita sesak, maka kita tidak mampu berfikir, tidak banyak yang dapat kita perbuat karena kita hanya akan terfokus pada sesak itu sendiri. Kita cenderung tidak menghargai nafas sebelum kita merasakan sesak nafas. Pun demikian halnya dengan bahasa ketika kita berkomunikasi. Dan pendekatan penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan fenomenologi dengan melihat fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah realitas pesantren. Dari hasil penelitian yang dilakukan bahwa pesantren sebagaisaran pendidikan moderasi masih belum efektif karena masih terjadinya persainganpersaingan di semua level, dengan pola relasi dominan terbangun adalah menang atau kalah. Akibatnya ancaman perpecahan dan saling mencurigai terjadi di manamana, nyaris menjadi trend yang tak terbendungkan, terlebih dalam dunia pesantren yang nyaris dipengaruhi oleh bayang-bayang radikalisme.
PIDANA MATI MENURUT HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF DI INDONESIA ., Muhammadiah
KOMUNIKE Vol 11 No 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.023 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2280

Abstract

Kita semua sadar kematian menanti kita, persoalannya disini adalah kapan dan bagaimana kita dijemput oleh kematian itu sendiri bagi sebagian besar manusia kematian merupakan suatu peristiwa yang sangat menakutkan, namun ada juga dijemput kematian dalam keadaan tenang dan damai. Bagaimana dengan mereka yang kematiannya dipituskan oleh sesama manusia hal ini yang selalu menjadi perbedaan dikalangan masyarakat pada umumnya dan dikalangan para sarjana pada khususnya. Dari tahun ketahun bahkan sampai sekarang pembahasan mengenai pro dan kontra terhadap penjatuhan pidana mati terus menjadi pembahasan yang tidak ada habisnya. Di satu sisi, hukuman mati dianggap akan efektif membuat jera pelaku, namun bagi pihak lain pelaksanaan hukuman mati seperti merampas kewenangan pencipta. Riska Alfiyaa Sarjana Universitas Pancasila tahun angkatan 2004 mengatakan memang belum ada bukti stastisik bahwa kejahatan akan menurun jika hukuman mati diterapkan didalam suatu Negara. Sebaliknya tidak diterapkan juga belum terbukti di suatu Negara kejahatan semakin meningkat.
HUKUM ISLAM DI INDONESIA PADA MASA PENJAJAHAN BELANDA: KEBIJAKAN PEMERINTAHAN KOLONIAL, TEORI RECEPTIE IN COMPLEXU, TEORI RECEPTIE DAN TEORI TECEPTIO A CONTRARIO ATAU TEORI RECEPTIO EXIT Zaelani, Zaelani
KOMUNIKE Vol 11 No 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (532.813 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2279

Abstract

Setidaknya ada tiga corak hukum yang dapat kita jumpai dalam bagian hukum Indonesia di antaranya; hukum Islam, hukum adat dan hukum kolonial. Di jelaskan juga dalam teori lain sesuai dengan persfektif historis yakni; pertama, teori receptie in complexu “hukum Islam diterima secara penuh dan dijadikan acuan bagi persoalan yang dialami masyarakat. Kedua, teori receptie, teori ini diintroduser oleh Cornelis Van Vollenhoven “hukum yang berlaku bagi orang Islam adalah hukum adat mereka masing-masing dimana hukum Islam dapat berlaku apabila masyarakatnya menerima hukum Islam tersebut”. Ketiga, teori teceptie a contrario, teori ini diintrodusir oleh Sajuti Thalib, menyebutkan sejak tahun 1945 hingga 1975 masih ada dua kubu berpendapat beda. Satu pihak mengatakan bahwa pasal 134 ayat (2) IS (Indische Staatregeling) tidak berlaku lagi, tetapi dipihak lain demi kepastian hukum, pasal tersebut terus diberakukan. Adapun bunyi pasal tersebut “dalam hal terjadi perkara perdata antara sesama orang Islam akan diselesaikan oleh hakim agama Islam apabila keadaan tersebut telah diterima oleh hukum adat mereka dan sejauh tidak ditentukan lain oleh ordonasi”. Pada konferensi departemen kehakiman di salatiga, 1950, Hazairin menyatkan hukum Islam yang berlaku di Indonesia tidak berdasarkan pada hukum adat, dikarenakan setiap hukum yang ada di Indonesia baik hukum Islam maupun hukum adat berlaku berdasarkan sokongan perundang-undangn yang ada di Indonesia.
SISTEM DEMOKRASI DI INDONESI DALAM PERSFEKTIF HIZBUT TAHIR INDONESIA Abidin, Zaenal
KOMUNIKE Vol 11 No 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.504 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2278

Abstract

Negara demokrasi dikonotasikan sebagai suatu cara pandang yang memberikan kebebasan kepada setiap orang untuk berpendapat, berpikir, berkarya hatta kebebasan dalam memeluk suatu agama dan ajaran tertentu menurut keyakinan mereka masing-masing. Indonesia dalam hal ini di sebut-sebut sebagai negara yang mengadopsi paham demokrasi dalam sistem pemerintahan yang “dilakoninya”, sehingga berimbas pada pola, sistem dan ketetapan yang mampu merangkul setiap etnis, budaya, suku, agama dan kepercayaan setiap warga negaranya, sebagaiman yang diamanatkan oleh UUD 45 dan pancasila sebagai dasar Negara. Kebebasan dalam beragama berimplikasi pada “agama minoritas” dan “agama mayoritas”. Agama ‘Islam’ merupakan salah satu agama yang “digandrungi” (baca: mayoritas) di Indonesia; ajaran baku (syariat Islam) sering kali tidak sejalan (baca: berbenturan) dengan idelogi Negara. Para ‘abdi agama’ menghendaki syariat Islam sebagai rujukan dalam melaksanakan sistem pemerintahan, terutama dalam penetapan hukum sebagaimana yang “dikumandangkan” bahwa Islam adalah agama rahmatan lil alamiin. Hizbut Tahrir sebagai penggagas idiologi ini mengambil tempat dalam sistem perpolitikan di Indonesia. Idiologi yang dikembangkan bermuara pada model khilafah yang pernah diperankan oleh Nabi saw, Khulafaur Rasyidin dan khalifah-khalifah setelahnya. Gagasan Hizbut Tahrir mengenai khilafah Islamiyah atau daulah Islamiyah, meskipun masih jauh dari harapan, tetapi bermanfaat bagi pendidikan politik umat Islam.
PEMIKIRAN POLITIK ISLAM TUAN GURU KYAI HAJI MUHAMMAD ZAINUDDIN ABDUL MAJID Amry, Chaidir; Ansori, Zakaria
KOMUNIKE Vol 11 No 1 (2019): Komunikasi Politik Islam
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.068 KB) | DOI: 10.20414/jurkom.v11i1.2277

Abstract

Semangat keagamaan diwujudkan dengan bagitu banyak varian, lebih-lebih jika kepercayaan akan agama sudah mengakar di dasar hati. Agama menawarkan suatu cara pandang hidup yang mampu meng-cover setiap tindakan, perbuatan yang mengarah pada pembentukan manusia seutuhnya. Islam demikian juga, membuat aturan baku untuk setiap umatnya—yang dalam hal ini mengatur setiap sisi-sisi kehidupan baik dalam setiap aspeknya, baik sosial, budaya, hukum dan model khilafah (sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi saw). Agama dan pemerintahan (politik) dua sisi yang dianggap bersebrangan. “agama” sebagai dasar berpolitik, dalam melestarikan keyakinan yang anut terkadang mengalami hambatan, karena pemerintah menggangap sebagai salah batu sandungan yang mampu menggeser ketahanan pemerintahan. Sebagaiman aktivitas politik Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid akan terlihat jelas pasca kemerdekan dengan mengikuti partai politik dan menentukan arah bangsa Indonesia dengan mewakili kaum muslimin di Pulau Lombok. Karir politik Tuan Guru Kyai Haji Muhammad Zainuddin Abdul Majid dimulai sejak diangkat sebagai Konsulat Nahdlatul Ulama (NU) Sunda Kecil pada tahun 1950. Pada tahun 1952 beliau diangkat menjadi Ketua Badan Penasihat Partai Masyumi untuk daerah Lombok, ini disebabkan pada waktu itu Nahdlatul Ulama dan beberapa ormas lainnya tergabung dalam partai Masyumi.