cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 22, No 02 (2017): Respons" : 7 Documents clear
Reposisi Pancasila dengan Membuka Ruang bagi Konstruksi Budaya Benyamin Molan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (170.809 KB)

Abstract

ABSTRAK: Pancasila sudah disepakati sebagai Dasar Negara Republik Indonesia oleh para pendiri bangsa. Nilai-nilai Pancasila ini oleh Bung Karno digali dari kekayaan nilai budaya Nusantara Indonesia. Artinya nilai-nilai yang dijadikan dasar negara ini sudah tertanam sejak lama dalam budaya bangsa Indonesia dan sudah merupakan pegangan hidup bagi masyarakat Indonesia. Tidak heran, Pancasila menyandang banyak peran penting, mulai dari fungsinya sebagai dasar negara, jati diri bangsa, falsafah, sampai ke etika bangsa, Weltanschauung, yang menjiwai kehidupan orang Indonesia. Namun dewasa ini, semuanya ini dilihat sebagai jargon-jargon kosong. Ini ditengarai sebagai telah terjadi semacam penyempitan ruang bagi Pancasila. Pancasila seperti kehilangan posisi dan ruangnya. Maka perlu ada upaya untuk secara cerdas menempatkan kembali Pancasila pada posisinya dan membuka kembali ruang bagi penggalian dan eksplorasi nilai-nilai Pancasila bagi kehidupan manusia dan bangsa Indonesia.KATA KUNCI: Pancasila, posisi, ruang sosial dan politik, pendidikan
Krisis Pengamalan Pancasila dan Perlunya Penguatan Ruang Publik Melalui Etika Komunikasi: Sebuah Pendekatan Etika Keutamaan Alexander Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.021 KB)

Abstract

ABSTRAK: Krisis pengamalan Pancasila dalam berbagai pemberitaan media menimbulkan salah persepsi yang cenderung menyalahkan media sebagai biang kerok. Sebaliknya pengamat dan analis sosial atas peran media menilai penguatan ruang publik politik untuk demokrasi tidak tanpa media. Menggunakan media dalam mempromosikan Pancasila adalah suatu keharusan untuk membangun citra positif tentang Pancasila representasi moralitas budi luhur yang menyatakan kehormatan dan kewibawaan sebagai bangsa berbudaya. Fungsi media sebagai sarana pencitraan harus digunakan secara bertanggung jawab untuk memproduksi insight mengenai pendidikan moral yang oleh Jean Baudrillard dinamakan sign value dari Pancasila. Pancasila yang sejatinya adalah prestise moralitas budi luhur harus digelorakan citra melalui media yang menyatakan kehormatan dan kewibawaan sebagai dasar hukum dan pandangan dunia masyarakat majemuk. Oleh sebab itu, pemeliharaannya sebagai sign value tidak tanpa penggunaan media.KATA KUNCI: Krisis, media, Pancasila, dasar hukum, moralitas, dan dunia kehidupan
Berpikir Kritis: Sebuah Tantangan dalam Generasi Digital Kasdin Sihotang
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.623 KB)

Abstract

ABSTRAK: Ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) memiliki sifat ambivalen. Di satu sisi IPTEK telah mengubah kualitas kehidupan manusia dari sisi ekonomi dan dari sisi sosial. Konkretnya, IPTEK telah mampu meningkatkan taraf kehidupan ekonomis masyarakat dan memperpendek jarak sosial. Di sisi lain, kemajuan tersebut membawa dampak negatif yang tidak sedikit seperti tumbuhnya kesesatan berpikir dalam manusia yang berorientasi hanya pada kepentingan diri dan kelompok dan menafi kan standar moral universal. Ekses semua pola pikir yang menyesatkan ini adalah degradasi humanitas sebagai makhluk rasional, makhluk sosial, dan makhluk etis berbudaya. Untuk mengurangi ekses negatif dari IPTEK, berpikir kritis perlu dikembangkan. KATA KUNCI: Berpikir kritis, keutamaan-keutamaan intelektual, eksistensi dan humanitas serta generasi digital.
Editoria Mikhael Dua
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (54.742 KB)

Abstract

Masalah perempuan buruh migran Indonesia belum juga tuntas diselesaikan. Selain karena beberapa di antara mereka terjerat kasus hukum, yang sering tidak mendapat perhatian serius adalah kecemasan yang mereka alami di negeri asing karena faktor bahasa, budaya, dan kedudukan sosial. Dalam banyak hal kita memang tertarik dan memberikan perhatian ketika mereka mendapat masalah hukum. Namun kegaduhan yang muncul di sekitar masalah ini sering kali tidak membawa jalan keluar yang memuaskan karena kasus hukum sebenarnya tidak lebih dari akibat dari seluruh frustrasi hidup yang dialami oleh perempuan buruh migran di luar negeri.
Tinjauan Etis Terhadap Hoax Dalam Publikasi Artikel Ilmu Sosial Johan Hasan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.228 KB)

Abstract

ABSTRAK: Esai ini membahas masalah etis atas skandal artikel ilmiah sosial yang berupa hoax yang dipublikasikan oleh jurnal-jurnal terpercaya yang sudah didukung oleh peer-reviewer. Namun, walau tulisan tidak koheren, penuh istilah absurd atau data yang dikutip sembarangan, ternyata peer-reviewer tidak mampu mengenali itu sebagai hoax dan menerimanya juga sebagai artikel ilmiah. Tulisan ini akan menimbang dari sudut tiga aspek yakni: kejujuran, dampak dari perbuatan tersebut, standar evaluasi tulisan dari institusi jurnal itu sendiri serta menjawab apa yang seharusnya dilakukan menghadapi artikel jurnal hoax seperti ini di kemudian hari.KATA KUNCI: Hoax, Sokal Aff air, Etika Penulisan, Etika Sains, Postmodernisme 
Dilema Perempuan Buruh Migran Dalam Pemenuhan Hak dan Kewajiban pada Keluarga Pinky Saptandary
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.87 KB)

Abstract

ABSTRAK: Perempuan buruh migran memberikan sumbangan yang besar bagi kesejahteraan keluarga. Namun, walaupun berhasil dalam meningkatkan kesejahteraan keluarga, ada risiko besar yang mereka hadapi. Hasil kajian menunjukkan bahwa perlindungan hukum terhadap mereka masih rendah, begitu juga akses mereka pada informasi dan bantuan dalam program pemberdayaan masyarakat.Tulisan ini bertujuan mengungkapkan beberapa permasalahan etika dan hak asasi manusia (HAM) yang dialami perempuan buruh migran. Konstruksisosial budaya dalam hegemoni patriarki menempatkan mereka tetap sebagai liyan, sebagaimana ditunjukkan oleh Simone de Beauvoir. Kebijakan Pemerintahuntuk perlindungan dan pemberdayaan perempuan buruh migran juga cenderung meliyankan mereka. Inilah permasalahan dan tantangan yang harus dikritisi agar hak perempuan buruh migran dapat terpenuhi, dan mereka tidak terjebak dalam dilema pemenuhan hak dan kewajiban terhadap keluarga. Program pemberdayaan harus berangkat dari pengalaman konkret perempuan sendiri.KATA KUNCI: hak dan kewajiban, perempuan sebagai liyan, ketahanan keluarga.
Gen Egois: Karya Richard Dawkins yang Melegenda Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 22, No 02 (2017): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (146.08 KB)

Abstract

Apa yang menonjol dalam buku ini adalah posisi radikal Richard Dawkins yang terus mempertahankan pandangannya bahwa informasi digital di dalam gen selalu bersifat abadi dan harus menjadi unit seleksi yang utama. Tidak ada unit lain yang menunjukkan ketekunan yang luar biasa seperti itu dalam proses evolusi. Bagi Dawkins, unit utama yang menunjukkan ketekunan luar biasa itu bukanlah kromosom, bukan individu, bukan kelompok, juga bukan spesies. Unit-unit yang disebutkan ini juga penting karena merekalah yang menjadi kendaraan bagi gen, mirip seperti perahu dayung yang berfungsi sebagai kendaraan bagi pendayung berbakat. 

Page 1 of 1 | Total Record : 7