cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 23, No 01 (2018): Respons" : 6 Documents clear
Altruisme Sebagai Dasar Tindakan Etis Menurut Peter Singer Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.131 KB)

Abstract

ABSTRAK: Diskusi seputar altruisme sebagai motivasi bagi tindakan moral menjadi sangat populer sejak abad kedua puluh. Salah satunya terpusat pada pemikiran Peter Singer yang memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasi bagi tindakan moral. Penulis paper ini mencoba menunjukkan sumbangan Peter Singer dalam memosisikan altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakan moral, pertama-tama dengan memosisikan etika sebagai realitas biologis dari tindakan manusia. Sumbangan pemikiran Peter Singer yang terpenting dalam mendiskusikan tema altruisme sebagai dasar dan motivasi tindakan moral adalah pembelaannya terhadap kapasitas nalar manusia dalam melampaui dasar biologis moralitas manusia. Dengan cara itu, altruisme mengalami pemurnian oleh akal budi dan memperluas lingkarang etika sampai melingkupi semua makhluk makhluk hidup.KATA KUNCI: Altruisme, altruisme marga, altruisme timbal-balik, Peter Singer, tindakan moralABSTRACT: The debates on altruism as a motivation for moral action has become very popular since the twentieth century. One of them focuses on Peter Singer's thought of positioning altruism as the basis and motivation for moral action. The author of this paper tries to show Peter Singer's contribution in positioning altruism as the basis and motivation of moral action, first by showing the biological basis of moral action. Peter Singer's most important contribution in discussing the theme of altruism as the basis and motivation of moral action is his defense of the human reasoning capacity in transcending the biological foundations of human morality. In that way, altruism undergoes purification by reason and extends the ethical circle until it encompasses all sentient beings.KEY WORDS: Altruism, kin altruism, reciprocal altruism, Peter Singer, moral action
Merawat Kemanusiaan dengan Pendekatan Kritis terhadap Teknologi Modern Antonius Puspo Kuntjoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.323 KB)

Abstract

ABSTRAK: Berita bohong (hoax) dan ujaran kebencian (hate speech) telah menjadi fenomena yang cukup sering menyebar di dunia maya terutama media sosial. Khususnya dalam periode kontestasi politik di Indonesia, hal ini berkembang menjadi sesuatu yang sangat mengkhawatirkan. Pengalaman telah menunjukkan bahwa polarisasi dan konflik tajam yang diakibatkannya dalam masyarakat telah menggerus rasa persatuan dan persaudaraan bangsa kita yang majemuk. Lebih daripada itu, fenomena ini dapat berkembang menjadi krisis kemanusiaan Indonesia, kemanusiaan yang ramah, toleran, terbuka, adil dan beradab terhadap sesamanya.Teknologi modern jelas punya andil besar dalam memunculkan persoalan ini, khususnya teknologi informasi yang berkembang super cepat. Hoax dan hate speech, misalnya, menjadi mudah tersebar luas dan cepat karena dimungkinkan oleh media sosial dan algoritmanya. Sejumlah kajian filosofis terhadap teknologi memperlihatkan bahwa teknologi modern bukanlah sekadar alat yang netral. Teknologi modern membentuk dan mengubah cara pandang serta cara hidup manusia di dunia. Di samping pendekatan hukum dengan penerapan Undang-undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) yang tanpa kompromi, pendekatan yang kritis terhadap teknologi modern diperlukan untuk melindungi persatuan dan kemanusiaan Indonesia dari potensi-potensi negatif yang menyertai teknologi modern. KATA KUNCI: hoax, hate speech, politik identitas, globalisasi, persatuan, kemanusiaan Indonesia, teknologi modern, enframing, challenging-forth, mediasi teknologi, detox teknologi, moralising technology. ABSTRACT: Hoax and hate speech have become phenomena which often spread in cyberspace, especially in social media. Particularly during the period of political contestation in Indonesia, this has developed into something very alarming. Experience has shown that the polarization and the sharp conflicts which result from it in society have eroded our nation's sense of unity and brotherhood. Moreover, this phenomenon can develop into humanity crisis in Indonesia, humanity that is friendly, tolerant, open, just and civilized towards each other. Modern technology clearly has a big role in engendering this problem, especially information technology that develops super fast. Hoax and hate speech, for example, become easily and quickly widespread because they are made possible by social media and its algorithms. A number of philosophical studies of technology show that modern technology is not just a neutral tool. Modern technology shapes and changes people’s perspectives and ways of life in the world. In addition to the legal approach via the uncompromising application of the ITE (Electronic Information & Transaction) Law, a critical approach to modern technology is needed to protect Indonesia's unity and humanity from the negative potential which accompanies modern technology. KEY WORDS: hoax, hate speech, identity politics, globalization, unity, Indonesian humanity, modern technology, enframing, challenging-forth, technology mediation, technology detox, moralising technology.
Mencari Kemungkinan Solidaritas Tanpa Dasar Universal: Telaah atas Pemikiran Etika Sosial Richard Rorty Fristian Hadinata
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.159 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini merupakan sebuah kajian pustaka yang membahas tentang pemikiran etika Richard Rorty. Dalam konteks ini, pemikiran filsuf tersebut dinilai memberikan kemungkinan konseptual dalam mengonstruksi solidaritas tanpa dasar universal. Hal ini mempunyai urgensi tersendiri di dalam kehidupan keberagaman dikarenakan lebih memungkinkan untuk membentuk kekitaan yang baru, di mana hal itu jauh lebih bisa bermanfaat secara praktis. Di samping itu, tulisan ini juga memberikan jawaban atas kritik terhadap pemikiran etika Richard Rorty yang dinilai mempromosikan etnosentrisme. Kesimpulan tulisan ini menegaskan bahwa solidaritas tidak dapat dibangun di atas fondasi kategoris tentang kemanusiaan universal. Solidaritas harus mulai dari mana kita berasal, yaitu realitas konkret dan kenyataan hidup yang jadi bagian dari pergulatan kita sehari-hari.Kata kunci: solidaritas, kemanusiaan, kita, keberagaman, kontingen
Kritik Amartya Sen atas Teori Keadilan John Rawls: Kritik Pendekatan Komparatif atas Pendekatan Institusionalisme Sunaryo Hasan
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.541 KB)

Abstract

ABSTRACT: This article shows Amartya Sen’s criticism to John Rawls’ theory of justice. The main criticism is Rawls’ institutionalism approach in his theory of justice. This approach, Sen traces, is based on contractarian paradigm. By this paradigm, perspective of justice is limitted in citizenship contract. A person deserves justice as far as he is citizen. In this perspective, collective decision is only based on those which are citizen. Sen called this paradigm closed impartiality, not open impartiality. Whereas his idea of justice is much broader and beyond the limit of citizenship. If we think about justice, it is not only just for those who are bound in citizenship contract, but also for those who are not. His other criticism is about asumption in theory of justice, which is perfect justice. Sen say that comparative justice does not try to make a perfect justice in this world. What the term is trying is to make life of people less unjust than before. KEYWORDS: Institusionalisme, komparatif, hal-hal pokok, perilaku aktual, niti, nyaya, less unjust
Berwisata di Alam Filsafat Rodemeus Ristyantoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.967 KB)

Abstract

Man cannot live without philosophy, demikian pernyataan Jacob Needleman, yang terpampang dalam ‘Introduction’ dari buku Th e Heart of Philosophy. Bagi dia, pernyataan ini bukanlah sebuah kata kiasan, namun sebuah fakta yang sebenar-benarnya. Ada sebuah kerinduan dalam hati manusia, tulisnya, yang hanya dapat terpuaskan melalui fi lsafat yang riil. Filsafat adalah hidup itu sendiri. Tanpa fi lsafat manusia mati.
Konsep Keadilan Sosial dalam Kebhinekaan Menurut Karen J. Warren Bernadus Wibowo Suliantoro; Caritas Woro Murdiati Runggandini
Respons: Jurnal Etika Sosial Vol 23, No 01 (2018): Respons
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.565 KB)

Abstract

Abstrak: Keadilan sosial merupakan keadilan yang tidak hanya ditentukan oleh sikap ataupun etiket baik seseorang, melainkan lebih disebabkan oleh struktur proses politik, ekonomi, sosial maupun budaya. Struktur proses tersebut membelenggu sehingga seseorang maupun sekelompok masyarakat tidak memperoleh hak secara wajar. Karen J. Warren mengungkap akar masalah penyebab ketidakadilan sosial terletak pada kerangka kerja pemikiran yang dualistic-hierakhi dan dominasi. Kehidupan masyarakat yang plural akan  berlangsung secara  harmoni apabila setiap manusia mengembangkan kerangka kerja konseptual yang menekankan pada prinsip egalitarian (kesetaraan), keadilan dan kepedulian satu dengan lain.Kata kunci: Keadilan sosial, kesetaraan, kepedulianABSTRACT: Social justice is a justice that is not only determined by the attitude or good etiquette of a person, but rather is caused by the structure of political, economic, social, and cultural processes. The structure is shackled, so that a person or a group of people does not get the rights naturally. Karen J. Warren reveals the cause of social injustice lies in the framework of thinking that is dualistic-hierarchical and domination. The pluralistic life of society will be in a harmony if every human being develops a conceptual framework that emphasizes in the principles of legality (equality), justice and care for one another. Keywords: Social justice, equality, care

Page 1 of 1 | Total Record : 6