cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Etika Respons
ISSN : 08528639     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Social,
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016" : 6 Documents clear
Pendidikan Moral sebagai Metode dalam Proyek Etika Immanuel Kant A. Puspo Kuntjoro
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.577 KB)

Abstract

Kant’s theory of education is clearly written in Metaphysics of Morals especially in the article of “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue”. Based on the frst principle of the doctrine of virtue Kant developes his ideas on the Doctrine of the Method of Ethics whick consists of ethical teaching and ascetics. According to Kant, ethics is an obligation coming from within. Tis obligation is not ascribed but achieved by the subject who is consistent in following practical reason. Tis is why moral virtue, according to Kant, can be taught.Education, metaphysics, virtue, duty, and natureTeori pendidikan I. Kant secara jelas ditulis dalam Metaphysics of Morals khususnya bagian tentang “Metaphysical First Principles of the Doctrine of Virtue.” Prinsip pertama doktrin keutamaan, Kant mengembangkan apa yang disebutnya Doctrine of the Method of Ethics yang terdiri dari dua bagian yaitu, pengajaran dan askese etis. Menurut Kant, etika merupakan doktrin mengenai kewajiban moral yang tidak diturunkan dari hukum ataupun peraturan dari luar. Kewajiban tidak bersifat kodrat melainkan pencapaian subjek bertindak mengikuti akal budi. Mengikuti akal budi adalah kewajiban moral dan bukan kecenderungan kodrat. Inilah alasannya mengapa keutamaan moral dapat diajarkan.Pendidikan, metafsika, keutamaan, kewajiban, dan kodrat
Krisis Humaniora Alex Seran
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (78.731 KB)

Abstract

Ada berbagai pembicaraan tentang krisis dalam media massa. Krisis yang masih segar dalam ingatan kita adalah krisis fnansial 1997-98 yang telah ikut memicu rontoknya kekuasaan Orde Baru (1966-1998). Ini bukanlah satu-satunya krisis karena sudah mendahului krisis fnansial tersebut adalah krisis religiusitas, krisis masyarakat, krisis bahan bakar minyak (BBM), krisis perumahan bagi rakyat miskin, krisis pendidikan, krisis keluarga, krisis etika, krisis lingkungan hidup dan seterusnya dan seterusnya.
Pendekatan Integratif Dalam Pendidikan Karakter Yeremias Jena
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (687.233 KB)

Abstract

The aim of this paper is to defend a philosophy of education which is based on morality and personality. Rather than learning about morality and personality education should integrate morality and personality into practice that can be universally justifed by ethical principles.Education, morality, personality, practice, and ethical principles.Paper ini dimaksudkan untuk mempertahankan pandangan mengenai pendidikan yang berbasis moralitas dan karakter/ keperibadian. Dewasa ini, pendidikan membutuhkan lebih dari belajar tentang moralitas dan karakter sejatinya adalah pengintegrasioan moralitas dan karakter dalam perilaku yang dapat dibenarkan menurut prinsip-prinsip moral universal.Pendidikan, moralitas, karakter/kepribadian, perilaku, dan prinsipprinsip etika.
Pendidikan Sebagai Pembelajaran Dan Pemberadaban: Belajar Dari Drijarkara Alois A. Nugroho
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.367 KB)

Abstract

Character building is the focal point in Driyarkara’s philosophy of education. He has published his thought in various forms of writing and speech. Sukarno did the same thing about education as the process of nation and character building. Both Drijarkara and Sukarno underlined in their thoughts and speeches the wholeness of man in his/her culture which is now facing globalization as “the runaway world”. For this reason, development of a nation-state must be directed to strengthen people’s national identity.Education, character building, nation building, national identity, and integration.Pendidikan watak atau pendidikan kepribadian merupakan fokus pemikiran Drijarkara tentang pendidikan. Ia sudah menampilkan pemikiran tersebut dalam berbagai tulisan dan pembicaraan. Sukarno membicarakan pendidikan watak yang dianggapnya penting untuk membentuk rasa berbangsa dan bernegara. Demikian halnya Drijarkara, ia membicarakan pendidikan watak dengan memberi penekanan pada keutuhan manusia dalam budayanya menghadapi globalisasi. Atas dasar itulah pembangunan negara-bangsa diarahkan kepada penguatan identitas nasional manusia.Pendidikan, pembentukan watak, pembentukan rasa kebangsaan, dan integrasi
Etika Keutamaan dalam Arah Pendidikan Indonesia Kontemporer Johanis Ohoitimur
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (316.539 KB)

Abstract

Virtue ethics as developed by Aristotle focuses on self development in a sense that right or wrong will be measured by the virtue which is needed for the excellence of the human person. Tere are many virtues, but the most fundamental is phronesis. Every body who has phronesis will act according to rational judgement. It is based on what is good and what is right for the development of human beings. Tis article tries to explicate the thesis that the national system of education in elementary school and high school which focuses on the character building is in line with virtue ethics. In this afnity, knowledge and practical skill get their meaning in the frame of character building. As Aristotle convinced that both phronesis and character can be formed through habituation, it suggests that habituation is the only way to enhance the moral and value education.Character, education, phronesis, selft development, virtueEtika keutamaan, seperti yang menjadi pendirian Aristoteles, menekankan pengembangan diri. Manusia yang benar dan baik diukur menurut keutamaan yang dimiliki. Ada banyak keutamaan, tetapi yang terpokok ialah kebijaksanaan dalam arti phronēsis. Orang yang memiliki phronēsis bertindak menurut pertimbangan yang bijaksana dan berorientasi pada apa yang benar dan baik bagi manusia. Artikel ini berusaha melakukan eksplisitasi bahwa arah pendidikan nasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah menekankan dan fokus pada etika keutamaan, yaitu pembentukan karakter atau watak peserta didik. Pengetahuan (kognitif) dan keterampilan praktis (psikomotorik) mendapatkan coraknya dari karakter. Sama halnya dengan kebijaksanaan praktis (phronēsis) dalam ajaran Aristoteles, karakter hanya bisa dibentuk melalui pembiasaan bertindak atau berperilaku. Dalam konteks ini pendidikan nilai dan pendidikan moral menemukan jalannya.Etika keutamaan, pengembangan diri, phronesis, pendidikan, karakter
“Wasis Lantip Waskita” Tataran Etika Epistemik Jawa: Reinterpretasi dan Relevansi Gagasan Ki Ageng Suryomentaram Achmad Charris Zubair
Respons: Jurnal Etika Sosial Volume 21, Nomor 02, Tahun 2016
Publisher : Respons: Jurnal Etika Sosial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.858 KB)

Abstract

For Javanese Community truth is not only the problem of reason which is coped with the logical arguments. Ultimately, truth is the problem of rasa or raos/soul. Truth in this sense has a pragmatic meaning as revealed in the statement: Sejating kayu iku kayu jati which means, truth is like the core of teak wood which can be used as stick to help people walk and pursue life.Galih, life, rasa, rasionality, truthUntuk memahami kebenaran, masyarakat Jawa tidak hanya mengandalkan rasionalitas atau sekedar berpikir, tapi rasa atau raos, bahkan penggalih. Dari kata “galih” inti dari kayu. Sejatining kayu iku kayu jati, galih jati itu bagian inti dari sejatining kayu yangkeras dan kuat. Galih Jati sering dipakai untuk membuat teken atau tongkat, alat untuk membantu melangkah dan berjalan. Dengan bertongkatkan kebenaran yang dibantu dan ditemukan dengan cara menggalih, membantu dalam melangkah dan berjalan meniti kehidupan.Galih, kebenaran, kehidupan, rasa, rasionalitas

Page 1 of 1 | Total Record : 6