cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Kimia dan Kemasan
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol. 42 No. 2 Oktober 2020" : 11 Documents clear
Cover Vol.42 No.2 Oktober 2020 JKK Editor
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6586

Abstract

EKSTRAKSI DAN KARAKTERISASI MIKROSELULOSA DARI RUMPUT LAUT COKLAT SARGASSUM SP. SEBAGAI BAHAN PENGUAT BIOPLASTIK FILM Dwinna Rahmi; Mangala Tua Marpaung; Riska Dwi Aulia; Sofiani Eka Putri; Novi Nur Aidha; Rochmi Widjajanti
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6401

Abstract

Sargassum sp. merupakan rumput laut coklat yang banyak tumbuh disepanjang pantai Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah mengekstraksi mikroselulosa dari rumput laut coklat Sargassum sp. yang diambil dipantai daerah Banten. Selulosa dan mikroselulosa diekstraksi melalui dua tahapan yaitu proses alkalinisasi dengan kalium hidroksida (KOH) dan dilanjutkan proses hidrolisis dengan asam sulfat (H2SO4). Variable konsentrasi optimal KOH untuk menghasilkan selulosa adalah 0,1%, 0,7% dan 1,3% (b/v), dengan karakterisasi gugus fungsi produk menggunakan Fourier-Transform Infra Red (FTIR). Hasilnya menunjukkan bahwa pola spektrum FTIR selulosa dengan alkalinisasi pada konsentrasi KOH 0,1%  dan 0,7%, (b/v) berbeda dengan pola spektrum selulosa dengan konsentrasi KOH 1,3% b/v Optimalisasi proses hidrolisis untuk menghasilkan mikroselulosa dilakukan dalam H2SO4 1 M dengan variabel kecepatan pengadukan 1000 rpm, 1500 rpm, dan 2000 rpm serta variabel waktu proses 30 menit dan 90 menit. Spektrum FTIR mikroselulosa dari semua variabel menunjukkan pola yang sama. Bentuk permukaan selulosa hasil foto Scanning Electron Microscope (SEM) dengan pembesaran 100.000 kali  terlihat seperti bulatan, sedangkan mikroselulosa berbentuk garis panjang. Penambahan mikroselulosa pada bioplastik pati tapioka/kitosan menghasilkan bioplastik yang lebih tahan terhadap air dibuktikan dengan sisa bioplastik lebih panjang dibanding blanko setelah direndam selama 8 hari.    
SINTESA KOMPOSIT BIOPLASTIK PATI KULIT SINGKONG-PARTIKEL NANOSILIKA DAN KARAKTERISASINYA Endang Warsiki; Iwan Setiawan; Hoerudin Hoerudin
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.3535

Abstract

Pada penelitian ini diproduksi bioplastik komposit dari pati kuit singkong yang ditambahkan dengan nanosilika sebagai kemasan plastik biodegradable. Secara umum bioplastik berbasis pati masih memiliki beberapa kelemahan dari segi karakteristik fisis dan mekanis sehingga penggunaan komersial bioplastik ini masih terbatas. Berbagai usaha telah dilakukan untuk memperbaiki kelemahan sifat bioplastik ini. salah satunya dengan penambahan bahan penguat/reinforce seperti nanosilika. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penambahan nanosilika terhadap karakteristik bioplastik. Metode yang digunakan dalam pembuatan bioplastik adalah dengan teknik casting (cetak). Konsentrasi nanopartikel silika yang ditambahkan ke dalam larutan bioplastik yaitu 0%, 2%, 4%, 6%, dan 8% (b nanosilika/b pati). Penambahan nanosilika pada komposit bioplastik mampu meningkatkan ketebalan dan kuat tarik secara signifikan dari        0,20 mm (0% nanosilika) menjadi 0,31 mm (8% nanosilika) dan dari 1,6 Mpa (0% nanosilika) menjadi 3,5 MPa (4% nanosilika). Sedangkan peningkatan nilai densitas, elongasi, dan laju transmisi uap air tidak memperlihatkan perbedaan nyata secara statistik. Berdasarkan sifat fisik dan mekanis tersebut diperoleh bahwa perlakuan terbaik pada penelitian ini adalah penambahan nanosilika dengan konsentrasi 4%. Film bioplastik hasil perlakuan terbaik dianalisis bentuk morfologi permukaan menggunakan Scanning Electron Microscopy (SEM) dan tingkat kristalinitas menggunakan X-Ray Diffraction (XRD). Hasil SEM menunjukkan bioplastik memiliki permukaan yang kasar dan hasil XRD menjelaskan struktur penyusun komposit bioplastik lebih didominasi oleh jenis amorf daripada kristalin. Dengan demikian, penambahan nanosilika dalam pembuatan bioplastik ini telah membuktikan dapat memperbaiki sifat fisis dan mekanis film sehingga mempunyai peluang baik dalam penggunaan bioplastik komposit ini sebagai kemasan komersial di masa yang akan datang
SIFAT MEKANIS DAN FISIS BIOPLASTIK DARI LIMBAH KULIT PISANG: PENGARUH JENIS DAN KONSENTRASI PEMLASTIS Aprilina Purbasari; Anissa Ardanti Wulandari; Fikri Mudzakir Marasabessy
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.5872

Abstract

Pada penelitian ini, limbah kulit pisang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik dengan variasi jenis dan konsentrasi pemlastis. Penelitian ini terdiri dari 3 tahap, yaitu tahap awal pembuatan tepung kulit pisang, dilanjutkan dengan tahap pembuatan bioplastik, dan tahap akhir karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik yang dihasilkan. Pada pembuatan bioplastik, pemlastis yang digunakan adalah gliserol dan sorbitol dengan konsentrasi masing-masing 30%; 40%; 50%; 60%; dan 70%. Karakterisasi sifat mekanis dan fisis bioplastik meliputi: kuat tarik, perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, biodegradabilitas, dan mikrostruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi pemlastis baik gliserol maupun sorbitol dapat menurunkan kuat tarik serta meningkatkan perpanjangan putus, ketebalan, permeasi uap air, dan biodegradabilitas pada bioplastik yang dihasilkan. Berdasarkan uji mikrostruktur, bioplastik dengan pemlastis gliserol dan pemlastis sorbitol memiliki struktur yang relatif sama. Kondisi optimum pembuatan bioplastik dari tepung kulit pisang baik dengan pemlastis gliserol maupun sorbitol adalah pada konsentrasi pemlastis 40% dengan kuat tarik masing-masing 8,07 MPa dan 8,32 MPa; perpanjangan putus 27,22% dan 23,78%; ketebalan 0,1 mm dan 0,2 mm; permeasi uap air 0,00024 g/m2.s.kPa dan 0,00025 g/m2.s.kPa; dan kehilangan massa pada uji degradabilitas selama 4 minggu sebesar 25,45% dan 21,73%. 
EKSTRAKSI MINYAK BIJI JENGGER AYAM (Celosia argentea var. cristata) DAN KARAKTERISASI DAN KANDUNGANNYA Hartati Soetjipto; Novenda Pramesti Ayuningtyas; November Rianto Aminu
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6138

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh rendemen minyak biji jengger ayam (Celosia argentea var. cristata) dengan metode ekstraksi berkelanjutan menggunakan pelarut heksana serta menentukan komposisi kimia minyak biji jengger ayam menggunakan metode Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) sebelum dan setelah pemurnian. Hasil rendemen minyak biji jengger ayam sebelum dan setelah pemurnian adalah 6,79 ± 0,27% dan 1,88 ± 0,01%. Tujuh asam lemak teridentifikasi dalam minyak kasar, sedangkan empat asam lemak teridentifikasi setelah minyak dimurnikan. Asam palmitat 3,38%; skualen 89,67%; dan asam linoleat 6,58% merupakan asam lemak dominan dalam minyak biji jengger ayam hasil pemurnian.
KARAKTERISASI NANOPARTIKEL KARBON AKTIF DARI DAUN ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) BERDASARKAN VARIASI SUHU DAN WAKTU AKTIVASI Cucun Alep Riyanto; Eliana Prabalaras; Yohanes Martono
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.5633

Abstract

Daun eceng gondok (Eichhornia crassipes) masih terbatas dalam hal pemanfaatannya, namun daun eceng gondok (DEG) berpotensi untuk dibuat menjadi nanokarbon karena memiliki kandungan lignoselulosa yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan optimasi pembuatan nanopartikel karbon aktif DEG dengan variasi suhu dan waktu aktivasi serta melakukan karakterisasi nanopartikel karbon aktif DEG yang didapatkan. Proses pembuatan karbon dilakukan dengan metode karbonisasi pada suhu 400 °C selama 1 jam. Proses aktivasi dilakukan dengan dua cara, yaitu aktivasi fisika dengan variasi suhu (400 – 800 °C) dan waktu aktivasi (30 – 150 menit), dan aktivasi kimia dengan menggunakan H3PO4 (30%) pada rasio impregnasi 1:4 (b/b). Berdasarkan hasil spektra Fourier Transform Infrared (FTIR), suhu dan waktu aktivasi terbaik adalah pada proses aktivasi suhu 600 °C selama 60 menit dengan adanya gugus fungsi O-H, C-H, C≡C, C=C, dan C-O pada bilangan gelombang 3410,15 cm-1, 2931,80 cm-1, 2337,72 cm-1, 1573,91 cm-1, dan 1180,44  cm-1, berturut-turut. Hasil analisa X-Ray Diffraction (XRD) menunjukkan bahwa nanopartikel karbon aktif DEG memiliki dua puncak difraksi yang luas pada rentang 2θ = 23,9° – 26,6° dan 42,0° – 44,8°. Hasil analisis Transmission Electron Microscope (TEM) menunjukkan nanopartikel karbon aktif DEG memiliki ukuran nanopartikel yang berbentuk bulat dengan ukuran 22 nm – 35 nm.
Indeks JKK Vol.42 No.2 Oktober 2020 JKK Editor
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6588

Abstract

EKSTRAKSI INDIGO DARI DAUN STROBILANTHES CUSIA DAN KAJIAN PEMBENTUKAN KOMPLEKS DENGAN ION Ni2+ Cepi Kurniawan
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.5977

Abstract

Kajian ekstraksi zat warna alam indigo dari tanaman Strobilanthes cusia telah dilakukan. Ekstraksi dilakukan dengan metode fermentasi daun dan batang Strobilanthes cusia selama 48 jam diikuti oleh oksidasi dalam suasana basa. Indigo tidak dapat diperoleh secara langsung dari tanaman, melainkan sebagai senyawa glukosa indoksil. Ekstrak Strobilanthes cusia mengandung dua zat warna didalamnya yaitu indigo (biru) dan indirubin (merah). Pemisahan dilakukan dengan metode kromatografi lapis tipis dan kolom. Variasi pelarut terbaik yaitu campuran dari kloroform:n-heksana:metanol (8:5:0,5) karena menghasilkan pemisahan baik. Pemisahan ini menghasilkan nilai Rf sebesar 0,2 untuk indigo dan indirubin 0,428. 1 kg daun strobilanthes cusia menghasilkan 195 mg pewarna indigo dan 89 mg indirubin. Senyawa indigo memiliki serapan maksimum pada 600 nm. Puncak serapan pada 800 nm teramati ketika indigo dicampurkan dengan Ni2+. Keberadaan puncak ini mengindikasikan pembentukan senyawa kompleks antara indigo dengan ion Ni2+. Dari penelitian ini, diperoleh juga bahwa senyawa Ni-Indigo berpotensi sebagai pewarna pada sel surya.
PENAMBAHAN FRAKSI AMILOSA TERHADAP SIFAT FISIK DAN MEKANIS EDIBLE FILM PATI TAPIOKA Dewi Sondari; Wida Banar Kusumaningrum; Fazhar Akbar; Rahmawati Putri; Sri Fahmiati; Yulianti Sampora; Anna Muawanah
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6095

Abstract

Pati banyak digunakan dalam industri pangan, salah satunya sebagai edible film. Kualitas edible film dipengaruhi oleh rasio amilosa dan amilopektin pada pati, yang dapat dihasilkan melalui proses fraksinasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kondisi optimum dalam pembuatan edible film dari hasil fraksinasi amilosa pati tapioka. Pada proses fraksinasi dilakukan variasi konsentrasi butanol (10%, 12,5%, 15%). Analisis terhadap fraksi amilosa meliputi rendemen, kadar amilosa, kelarutan dan swelling power, kejernihan pasta serta freeze thaw stability. Identifikasi fraksi amilosa dan edible film tapioka alami dan hasil fraksinasi amilosa dilakukan menggunakan Fourier Transform Infrared (FTIR). Analisis edible film meliputi ketebalan, kuat tarik, elongasi serta sudut kontak. Fraksi amilosa hasil fraksinasi pati tapioka dengan pengaruh konsentrasi butanol terbaik adalah fraksi amilosa konsentrasi 12,5% dengan kadar amilosa tertinggi yaitu sebesar 22,19% dengan nilai kelarutan dan swelling power sebesar 18,13 dan 3,33%, kejernihan pasta sebesar 89,05%, dan persentase sineresis sebesar 82%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan fraksi amilosa hasil fraksinasi pati tapioka dengan pengaruh konsentrasi butanol 12,5% menghasilkan edible film yang mempunyai sifat fisika kimia lebih baik dari pati alaminya. Edible film pati tapioka dengan penambahan fraksi amilosa 12,5% menghasilkan edible film yang lebih baik dibandingkan edible film komposisi pati tapioka alami dengan nilai ketebalan sebesar 0,09 mm, kuat tarik sebesar 1,75 N/mm2 contact angle 57,355o  dan elongasi sebesar 11,60%.
Preface JKK Vol. 42 No.2 Oktober 2020 JKK Editor
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 42 No. 2 Oktober 2020
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v42i2.6587

Abstract

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol. 43 No. 2 Oktober 2021 Vol. 43 No. 1 April 2021 Vol. 42 No. 2 Oktober 2020 Vol. 42 No. 1 April 2020 Vol. 41 No. 2 Oktober 2019 Vol. 41 No. 1 April 2019 Vol. 40 No. 2 Oktober 2018 Vol. 40 No. 1 April 2018 Vol. 40 No. 1 April 2018 Vol. 39 No. 2 Oktober 2017 Vol. 39 No. 1 April 2017 Vol. 39 No. 2 Oktober 2017 Vol. 39 No. 1 April 2017 Vol. 38 No. 2 Oktober 2016 Vol. 38 No. 1 April 2016 Vol. 38 No. 2 Oktober 2016 Vol. 38 No. 1 April 2016 Vol. 37 No. 2 Oktober 2015 Vol. 37 No. 1 April 2015 Vol. 37 No. 2 Oktober 2015 Vol. 37 No. 1 April 2015 Vol. 36 No. 2 Oktober 2014 Vol. 36 No. 1 April 2014 Vol. 36 No. 2 Oktober 2014 Vol. 36 No. 1 April 2014 Vol. 35 No. 2 Oktober 2013 Vol. 35 No. 1 April 2013 Vol. 35 No. 2 Oktober 2013 Vol. 35 No. 1 April 2013 Vol. 34 No. 2 Oktober 2012 Vol. 34 No. 1 April 2012 Vol. 34 No. 2 Oktober 2012 Vol. 34 No. 1 April 2012 Vol. 33 No. 2 Oktober 2011 Vol. 33 No. 1 April 2011 Vol. 33 No. 2 Oktober 2011 Vol. 33 No. 1 April 2011 Vol. 32 No. 2 Oktober 2010 Vol. 32 No. 1 April 2010 Vol. 32 No. 2 Oktober 2010 Vol. 32 No. 1 April 2010 BULLETIN PENELITIAN VOL. 28 NO. 1 APRIL 2006 BULLETIN PENELITIAN VOL. 28 NO. 1 APRIL 2006 BULLETIN PENELITIAN VOL. 27 NO. 2 DESEMBER 2005 BULLETIN PENELITIAN VOL. 27 NO. 1 APRIL 2005 BULLETIN PENELITIAN VOL. 27 NO. 2 DESEMBER 2005 BULLETIN PENELITIAN VOL. 27 NO. 1 APRIL 2005 BULLETIN PENELITIAN VOL. 26 NO. 2 DESEMBER 2004 BULLETIN PENELITIAN VOL. 26 NO. 1 APRIL 2004 Bulletin Penelitian Vol. 25 No. 3 Desember 2003 BULLETIN PENELITIAN VOL. 25 NO. 2 AGUSTUS 2003 BULLETIN PENELITIAN VOL. 25 NO. 1 APRIL 2003 Bulletin Penelitian Vol. 25 No. 3 Desember 2003 BULLETIN PENELITIAN VOL. 24 NO. 2 DESEMBER 2002 BULLETIN PENELITIAN VOL. 24 NO. 1 JUNI 2002 BULLETIN PENELITIAN VOL. 23 NO. 2 DESEMBER 2001 BULLETIN PENELITIAN VOL. 23 NO. 1 JUNI 2001 BULLETIN PENELITIAN VOL. 22 NO. 2 DESEMBER 2000 BULLETIN PENELITIAN VOL. 22 NO. 1 JUNI 2000 BULLETIN PENELITIAN VOL. XXI NO. 3 DESEMBER 1999 BULLETIN PENELITIAN VOL. XXI NO. 2 AGUSTUS 1999 BULLETIN PENELITIAN VOL. XXI NO. 1 APRIL 1999 BULLETIN PENELITIAN VOL. XX NO. 3 DESEMBER 1998 BULLETIN PENELITIAN VOL. XX NO. 2 AGUSTUS 1998 BULLETIN PENELITIAN VOL. XX NO. 1 APRIL 1998 BULLETIN PENELITIAN VOL. XIX NO. 3 DESEMBER 1997 BULLETIN PENELITIAN VOL. XIX NO. 2 AGUSTUS 1997 BULLETIN PENELITIAN VOL. XIX NO. 1 APRIL 1997 BULLETIN PENELITIAN VOL. XVIII NO. 3 DESEMBER 1996 BULLETIN PENELITIAN VOL. XVIII NO. 2 AGUSTUS 1996 BULLETIN PENELITIAN VOL. XVIII NO. 1 APRIL 1996 BULLETIN PENELITIAN VOL. XVII NO. 4 DESEMBER 1995 BULLETIN PENELITIAN VOL. XVII NO. 3 SEPTEMBER 1995 BULLETIN PENELITIAN VOL. XV NO. 46 Maret 1991 BULLETIN PENELITIAN NO.45 TRIWULAN III 1989/1990 BULLETIN PENELITIAN NO.44 TRIWULAN II 1989/1990 BULLETIN PENELITIAN NO.43 TRIWULAN I 1989/1990 BULLETIN PENELITIAN NO.38 TRIWULAN IV 1987/1988 BULLETIN PENELITIAN NO.36 TRIWULAN II 1987/1988 BULLETIN PENELITIAN NO.35 TRIWULAN I 1987/1988 BULLETIN PENELITIAN NO.34 TRIWULAN IV 1985/1986 BULLETIN PENELITIAN NO.33 TRIWULAN III 1985/1986 BULLETIN PENELITIAN NO.26 TRIWULAN IV 1983/1984 BULLETIN PENELITIAN TAHUN IV NO.15 & 16 JULI & OKTOBER 1979 BULLETIN PENELITIAN TAHUN IV NO.13 & 14 JANUARI & APRIL 1979 BULLETIN PENELITIAN TAHUN III NO.9 JANUARI 1978 BULLETIN PENELITIAN TAHUN III NO.11 & 12 JULI & OKTOBER 1978 BULLETIN PENELITIAN TAHUN III NO.10 APRIL 1978 BULLETIN PENELITIAN TAHUN II NO.8 OKTOBER 1977 BULLETIN PENELITIAN TAHUN II NO.7 JULI 1977 BULLETIN PENELITIAN TAHUN II NO.5 JANUARI 1977 BULLETIN PENELITIAN TAHUN I NO.4 OKTOBER 1976 BULLETIN PENELITIAN TAHUN I NO.3 JULI 1976 More Issue