cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue " Vol 7, No 2 (2019)" : 50 Documents clear
APLIKASI GA3 (GIBERELIN) DAN GANDASIL B PADA PERTUMBUHAN GENERATIF PHALAENOPSIS HIBRIDA Marini, Koleta; Astutik, Astutik; Sumiati, Astri
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Efforts to speed up generative phalaenopsis hybrids can be done with the application of hormone GA3 and Gandasil B fertilizer. The study aimed to determine the effect of the hormone GA3 and Gandasil B fertilizer on the growth of hybrid Phalaenopsis orchids. The study was conducted at Green house Jalan Tlogomas Kec. Lowokwaru, Malang City, for 5 months. The study was carried out using factorial complete randomized design (CRD) with 2 factors. Factor I: concentration of GA3 (gibirelin) consists of 3 KO levels = without GA3 (control) K1 = 100 ppm K2 = 200 ppm Factor II: Gandasil B Fertilization Frequency P1 = 1 x / week P2 = 2x / week. The variables observed include: when buds appear, leaf length, leaf width and root length. There is an interaction between GA3 concentration and Gandasil B frequency on the number of leaves (age 6 weeks), leaf length (age 2-4) and leaf width (age 8 weeks), GA3 hormone concentration affects when new shoots appear. Phalaenopsis hybrid, has an effect on GA3 100 ppm and Gandasil B fertilization 1 times / week with an increase in the number of leaves 0.94, the increase in leaf length 1.69 cm and an increase in leaf width of 1.10 cm. The results showed that there were Phalaenopsis hybrids, affecting GA3 100 ppm and Gandasil B fertilization 1 time / week. Upaya mepercepat masa generatif Phalaenopsis hibrida, dapat dilakukan dengan aplikasi hormon GA3 dan pupuk Gandasil B. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh hormon GA3 dan pupuk Gandasil B terhadap pertumbuhan anggrek Phalaenopsis hibrida. Penelitian dilaksanakan di Green house Jalan Tlogomas Kec. Lowokwaru, Kota Malang, selama 5 bulan. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) faktorial dengan 2 faktor. Faktor I: konsentrasi GA3 (gibirelin) terdiri dari 3 level KO = tanpa GA3 (kontrol) K1 = 100 ppm K2 = 200 ppm Factor II: Frekwensi Pemupukan Gandasil B P1 = 1 x / minggu P2 = 2 x / minggu. Variabel yang diamati meliputi: saat muncul tunas, panjang daun, lebar daun dan panjang akar. Terdapat interaksi antara konsentrasi GA3 dan Frekwensi Gandasil B terhadap pertambahan jumlah daun (umur 6 minggu), pertambahan panjang daun (umur 2-4) dan pertambahan lebar daun (umur 8 minggu), Konsentrasi hormon GA3 berpengaruh pada saat muncul tunas baru. Phalaenopsis hibrida, berpengaruh pada GA3 100 ppm dan pemupukan Gandasil B 1 kali/minggu dengan Pertambahan jumlah daun 0.94, pertambahanpanjang daun 1.69 cm dan pertambahan lebar daun 1.10 cm.
APLIKASI KAYU SECANG (Caesalpinia sappan L.) DAN DAUN SENGGANI (Melastoma malabathricum L.) DALAM MINUMAN CELUP Mushollaeni, Wahyu; Wika, Yuliana; Tantalu, Lorine
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dipping drinks are drinks in the form of powder or fine granules made from fruits, spices, grains or leaves which are packaged in packs in the form of a dipping bag. Dipping drinks can be served quickly by brewing with hot water. Dipping drinks are made with raw materials of secang wood and leaves are dried through the drying process using a drying oven. This study aims to obtain secang wood and senggani leaf formulations in the form of dipping drinks that have the best physical and chemical qualities, and are feasible to be developed on a home industry scale. This study used a completely randomized design (CRD) with one factor, namely the formulation of secang wood and senggani leaf as many as 5 formulations. The treatment was repeated three times to obtain 15 experimental units. The best treatment in this study is found in the formulation of 80% secang wood and 20% senggani leaf, with the parameter value of dissolved solids is 0.2, the water content is 9.77, and the ash content is 5.92. The organoleptic test showed the color preference was 3.66, the taste was 3.74, and the aroma was 3.76. Minuman celup adalah minuman yang berupa serbuk atau butiran halus dibuat dari bahan buah-buahan, rempah-rempah, biji-bijian atau daun yang dikemas dalam kemasan berupa kantong celup. Minuman celup dapat disajikan secara cepat dengan cara diseduh dengan air panas. Minuman celup salah satu dapat dibuat dengan Bahan baku kayu secang dan daun senggani dengan melalui proses pengeringan Kayu Secang Daun Senggani dilakukan dengan menggunaka oven pengering. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan formulasi Kayu Secang Dan Daun Senggani dalam bentuk minuman celup yang memiliki kualitas fisik dan kimia terbaik, serta layak diusahakan dalam skala industri rumah tangga. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu formulasi Kayu Secang Daun Senggani sebanyak 5 formulasi. Perlakuan ini diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 15 unit percobaan. Perlakuan formulasi minuman celup Kayu Secang dan Daun Senggani merupakan hasil dari perhitungan perlakuan terbaik dalam penelitian ini yaitu terdapat pada formulasi 80% Kayu Secang dan 20% Daun Senggani. Nilai rerata setiap parameter padatan terlarut 0.2, kadar air 9.77, kadar abu 5.92, uji organoleptik meliputi warna 3.66, rasa 3.74, aroma 3.76.
REDESAIN KAWASAN WISATA REKREASI DI PANTAI CEPI WATU KABUPATEN MANGGARAI TIMUR, NTT Lomes, Klementinus Lodofikus; Setyabudi, Irawan; Nailufar, Balqis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Currently the development of tourism objects is increasing both natural, cultural and culinary tourism. The increasingly widespread tourism now results in local governments and local communities striving hard to use tourism potential resources. The design of recreational tourism areas is very important because it is basically an effort to increase tourist attraction. Cepi Watu Beach is one of the tourism potentials in East Manggarai Regency. But now Cepi Watu Beach is not arranged and managed optimally because on this beach there are several public facilities that have been damaged and there are no sellers of sofenir or food that can meet the needs of visitors. This study aims to study the potential and constraints in designing the recreational tourism area of Cepi Watu Beach to facilitate the activities of visitors. The method used in this study is a design method according to Simmonds (2006) which is modified. Redesign of the Cepi Watu Beach Tourism Recreation Area is a design that presents a new tourist area design based on existing potential within and outside the region both from the concept of zoning, material, circulation patterns and facilities. From the zoning concept using the concept of the traditional manggarai township which consists of natas, compang and mbaru gendang. For materials in this redesign use existing materials with the aim of minimizing material costs. The circulation pattern follows the songke motif, namely the rongong motif and the wela kaweng motif. While the form of buildings or facilities such as restaurants, gazebos and rental places follows the form of the Manggarai traditional house. Saat ini pengembangan obyek wisata semakin meningkat baik wisata alam, budaya, maupun kuliner. Semakin maraknya wisata saat ini mengakibatkan pemerintah daerah dan masyarakat setempat berupaya keras dalam pemanfaatan sumber potensi wisata. Perancangan kawasan wisata rekreasi sangat penting karena pada dasarnya merupakan upaya untuk menambah daya tarik wisatawan. Pantai Cepi Watu merupakan salah satu potensi wisata yang ada di Kabupaten Manggarai Timur namun saat ini tidak ditata dan dikelola secara optimal dikarenakan di pantai ini ada beberapa fasilitas umum yang telah rusak dan tidak terdapat penjual sofenir maupun makanan yang dapat memenuhi kebutuhan pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk mengkajian potensi serta kendala dalam meredesain kawasan wisata rekreasi Pantai Cepi Watu untuk memfasilitasi kegiatan para pengunjung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode desain menurut Simmonds (2006) yang dimodifikasikan. Redesain Kawasan Wisata Rekreasi Pantai Cepi Watu merupakan perancangan yang menghadirkan rancangan kawasan wisata yang baru berdasarkan potensi yang ada dalam maupun luar kawasan baik dari konsep zonasi, material, pola sirkulasi maupun fasilitas. Dari konsep zonasi menggunakan kosep perkampungan tradisional manggarai yang terdiri dari natas, compang dan mbaru gendang. Untuk material pada redesain ini menggunakan material yang sudah adah dengan tujuan untuk meminimalisirkan biaya material. Pada pola sirkulasi mengikuti motif kain songke yakni motif renggong dan motif wela kaweng. Sedangkan bentuk bangunan atau fasilitas seperti rumah makan, gazebo dan tempat penyewaan mengikuti bentuk dari rumah adat manggarai.
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG LIMBAH IKAN TERHADAP KECERNAAN BAHAN KERING BAHAN ORGANIK DAN PROTEIN KASAR PADA AYAM BROILER FASE GROWER Supartini, Nonok; Fitasari, Eka; Menezes, Isaias Maria dos Santos
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the effect of adding fish waste flour to the digestibility of dry matter, organic matter and crude protein in broiler chickens. The experimental method with Completely Randomized Design (CRD) consisting of 5 treatments each treatment unit was repeated 5 times so that there were 25 experimental units. The administration of fish meal waste did not have a significant effect from the four treatments. However, the highest digestibility of dry matter and organic matter was found in P2 treatment given 10% fish meal waste with a crude protein feed of 21.14%. Penelitian ini bertujuan untuk mengatahui pengaruh penambahan tepung limbah ikan terhadap kecernaan BK, BO dan PK pada ayam broiler. Metode percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan tiap unit perlakuan diulang 5 kali sehingga terdapat 25 unit percobaan. Pemberian limbah tepung ikan tidak memberikan pengaruh yang berbeda nyata dari ke empat perlakuan. Namun kecernaan bahan kering dan bahan organik tertinggi terdapat pada perlakuan P2 yang diberikan limbah tepung ikan sebesar 10% dengan protein kasar pakan 21,14%.
ANALISIS SALURAN PEMASARAN KOMODITAS KENTANG DI DESA NGANTRU KECAMATAN NGANTANG KABUPATEN MALANG Muljawan, Rikawanto Eko; Subaidi, Hairul; Khoirunnisa', Ninin
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted in Ngantru Village, Ngantang Subdistrict, Malang Regency, which aims to find out the channel marketing pattern, Supplementary Chain Management, the amount of costs, benefits and the large marketing margin for fresh potato commodities. Data was collected using a questionnaire, then analyzed descriptively, marketing costs, marketing benefits, and marketing margins. The results of this study indicate that there are two marketing channels. Marketing channel I partner farmers to vendors to consumers PT. Indofood Fritolay Makmur (IFM). Marketing channels II, non-partner farmers to middlemen, to retailers to end consumers. Vendor marketing costs of IDR 6,711.37/Kg, middleman traders amounted to IDR 7,057.5/Kg, and retailers were IDR 8,702.70/Kg. Vendor profits of Rp 88.6435/Kg, middleman traders, amounting to Rp 942.5/Kg, and retailers Rp 3,297.29/Kg. The marketing margin on partner farmers' marketing channel I is IDR 100/Kg and marketing channel II is non-partner farmers which is IDR 5,000/Kg. Penelitian ini dilakukan di Desa Ngantru Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang ini bertujuan untuk mengetahui pola saluran pemasaran, Suppllay Chain Management, besarnya biaya, keuntungan dan besarnya marjin pemasaran komoditas kentang segar. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner, kemudian dianalisis dengan deskriptif, biaya pemasaran, keuntungan pemasaran, dan marjin pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat dua saluran pemasaran. Saluran pemasaran I petani mitra ke vendor ke konsumen PT. Indofood Fritolay Makmur (IFM). Saluran pemasaran II petani non mitra ke pedagang tengkulak ke pedagang pengecer ke konsumen akhir. Biaya pemasaran vendor sebesar Rp 6.711,37/Kg, pedagang tengkulak sebesar Rp 7.057,5/Kg, dan pedagang pengecer yaitu sebesar Rp 8.702,70/Kg. Keuntungan vendor sebesar yaitu Rp 88,6435/Kg, pedagang tengkulak yaitu sebesar Rp 942,5/Kg, dan pedagang pengecer sebesar Rp 3.297,29/Kg. Marjin pemasaran pada saluran pemasaran I petani mitra yaitu sebesar Rp 100/Kg dan saluran pemasaran II petani non mitra yaitu sebesar Rp 5.000/Kg.
ATRIBUT PRODUK YANG MEMPENGARUHI KONSUMEN DALAM PEMBELIAN SUSU PASTEURISASI DI GIANT EKSPRES DINOYO KOTA MALANG Santoso, Erik Priyo; Awa, Susanti Ana; Sumarno, Sumarno; Murti, Ariani Trisna
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The study was conducted on consumers who bought pasteurized milk at Giant Ekspress Dinoyo, Malang. Data collection was conducted in May - June 2018. This research The aim was to find out the attributes that affected consumers in purchasing pasteurized milk in Giant Ekspres, Dinoyo Malang. This research used a quantitative descriptive method. The type of sampling was a purposive sampling to determine the research samples with certain considerations in order to get representative data. The total population was 1000 people during the study and calculated using the Slovin formula to get 90.9 and round up to 100 respondents. The research variables used were brand, price, packaging, volume, taste and product label. The data analysis used multiple linear regression data. The regression analysis aimed to find out what attributes influence the decision to purchase pasteurized milk. The results of this study indicated that brands, prices, taste variants were the product attributes that had significant effects on the decision to purchase pasteurized milk. 1) brand, price, taste variant were the product attributes that influenced the purchasing decisions, 2) other attributes such as packaging, volume content, product labels did not affect the purchase decision of pasteurized milk in the Giant Ekspres Dinoyo Malang. Penelitian dilakukan pada konsumen yang membeli susu pasteurisasi di giant ekspress dinoyo kota malang. pengambilan data dilakukan pada bulan mei – juni 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atribut yang mempengaruhi konsumen dalam pembelian susu pasteurisasi di giant ekspres dinoyo kota malang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kuantitatif dekskriftif. pengambilan sampel adalah purposive sampling yaitu teknik untuk menentukan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang bertujuan agar data yang yang diperoleh nantinya representative, Populasi total 1000 orang selama penelitian dihitung menggunakan rumus slovin sehingga mendapatkan 90,9 dan dibulatkan menjadi 100 orang responden, Variabel penelitian adalah merek, harga, kemasan, volume isi, varian rasa, label produk. analisis data yang digunakan adalah analisis data regresi linier berganda, analisa regresi bertujuan untuk mengetahui atribut apa saja yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa merek, harga, varian rasa merupakan atribut produk yang berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi. 1)Merek, harga, varian rasa merupakan atribut produk yang berpengaruh terhadap keputusan pembelian, 2) Atribut yang lain , kemasan, volume isi, label produk tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian susu pasteurisasi di Giant Ekspres Dinoyo Kota Malang.
RESPON BOKASHI KOTORAN SAPI DAN KOTORAN KAMBING TERHADAP PERTUMBUHAN TANAMAN CABAI RAWIT (Capsicum frutenscens L.) Indawan, Edyson; Malo, Yulita; Astutik, Astutik
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of the study was to study the types of bocashi cow manure and goat manure and dosage on the interaction of the two combinations combined with the growth of cayenne pepper. The research method using factorial group experimental design consists of two factors. The first factor is the type of bokashi namely A1 Sapi A2 and the second factor is bocashi which consists of the level of empathy: B1 250 g / polybag, B2: 500 g / polybag, B3: 750 g / polybag, B3: 750 g / polybag, B4 : 1000 g / polybag. There was interaction between bocashi type and dose to the parameters of the amount of flower at the age of 9 weeks after planting. Separately bokashi extraordinary goat droppings on the number of leaves, number of branches, dry weight of plants. The best results and yield of chili plants are obtained from fertilizing bokashi 750-1000 g / polybag. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui jenis bokashi kotoran Sapi dan kotoran kambing dan dosis terhadap terhadap interaksi kedua perlakuan yang dikombinasikan terhadap pertumbuhan cabai rawit. Metode penelitian menggunakan rancangan acak kelompok Faktorial terdiri dari dua faktor. Faktor pertama adalah jenis bokashi yaitu A1 Kotoran Sapid an A2 kotoran Kambing dan faktor kedua adalah dosis bokashi yang terdiri dari empat level: B1 250 g/polybag, B2 : 500 g/polybag, B3 : 750 g/polybag, B4 : 1000 g/polybag. Terdapat interaksi jenis bokashi dan dosis terhadap parameter jumlah bunga pada umur 9 minggu setelah tanam. Secara terpisah bokashi kotoran Kambing berpengaruh nyata terhadap jumlah daun, jumlah cabang, berat kering tanaman. Pertumbuhan dan hasil tanaman cabai yang tebaik diperoleh pada pemupukan bokashi 750 – 1000 g/polybag.
SELEKSI KLON-KLON UBIJALAR DENGAN KANDUNGAN BETAKAROTEN DAN KANDUNGAN PATI TINGGI Lestari, Sri Umi; Nasdeko, Gandha; Sutoyo, Sutoyo
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The aim of this study was to evaluate the beta-carotene content, starch content and % of dried tuber ingredients in several new sweet potato clones. The clones consisted of five new clones and compared to three control cultivars. A randomized block design with three replications was used in this study, carried out in an experimental unit measuring 3 m x 0.6 m in single row. Each experimental unit was planted with 25 cm long cassava cuttings, spacing in 25 cm in a row. Phonska fertilizer with a dose of 300 kg/ha is given twice, first at 7 days after planting (dap) as many as 1/3 parts and the rest given at plant age 45 days. Plants were harvested at 4 months of growh duration and were observed based on component parameters of yield, Harvest Index, total carotene and starch content. The results showed that the performance of total carotene in the five clones evaluated ranged from 0.50 - 75.26 µg/g, the starch content ranged from 9.66 - 18.52% based on fresh weight, and the dry matter content of the storage root ranged from 23.17% - 34.06%. Two new sweet potato clones (Beta 2-♀-12 and Beta 2-♂-22) had total carotene levels exceeding their control cultivars, respectively 52.83 and 75.26 µg/g; the starch content is 18.30% and 10.57% based on the wet weight of the tuber. The starch content was positively correlated (r = 0.875) with the dry matter of tuber (% dry matter); on the contrary the level of total carotene to starch content and % dry matter in all the clones had a negative correlation of -0.614 and -0565 respectively. Tujuan penelitian ini untuk mengevaluasi kandungan betakaroten, kadar pati dan % bahan kering umbi pada beberapa klon ubijalar baru. Klon yang dievaluasi terdiri lima klon baru dan dibandingkan dengan tiga kultivar kontrol. Rancangan acak kelompok dengan tiga ulangan digunakan dalam penelitian ini, dikerjakan pada unit percobaan berukuran 3 m x 0.6 m secara single row. Setiap unit percobaan ditanami stek ubijalar berukuran panjang + 25 cm, jarak tanam dalam baris 25 cm. Pupuk dasar Phonska dengan dosis pupuk 300 kg/ha diberikan dua kali, pertama pada umur 7 hari setelah tanam (hst) sebanyak 1/3 bagian dan sisanya diberikan pada umur tanaman 45 hst. Tanaman dipanen pada umur 4 bulan dan diamati berdasarkan parameter komponen hasil, Indeks Panen, kadar total karoten dan kadar pati. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keragaan kadar total karoten pada lima klon yang dievaluasi berkisar antara 0.50 – 75.26 µg/g, kadar patinya berkisar antara 9.66 – 18.52 % berdasar bobot basah umbi, dan kadar bahan kering umbinya berkisar antara 23.17 % – 34.06 %. Dua klon ubijalar baru (Beta 2-♀-12 dan Beta 2-♂-22) memiliki kadar total karoten melebihi kultivar kontrolnya, masing-masing sebesar 52.83 dan 75.26 µg/g; kadar patinya sebesar 18.30 % dan 10.57 % berdasar bobot basah umbinya. Kadar pati berkorelasi positif dengan kadar bahan kering umbi (% BK umbi) dengan nilai korelasi r = 0.875; sebaliknya kadar kadar total karoten terhadap kadar pati dan % BK umbi pada semua klon yang dievaluasi memiliki korelasi negatif masing-masing sebesar ─ 0.614 dan ─ 0565.
KAJIAN LANSKAP BUDAYA SUKU BOTI DI KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN-NTT Hamzah, Amir; Setyabudi, Irawan; Nubatonis, Wardy
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia's current Culture and Landscape is a combination of various diverse interactions of natural, cultural and historical heritage. The formation of this diversity is not only from the local or national cultural sense, but also from the dynamic instruction of various ethnic immigrants from various countries who bring their respective cultural trends. The formation of this diversity is not only from the local or national cultural sense, but also from the dynamic instruction of various ethnic immigrants from various countries that bring their respective cultural trends. The method used in this research is Qualitative and Quantitative Methods where the purpose of this method is in-depth understanding of a problem being studied. Based on the results of processing expert respondent data, it was found that the highest priority or highest alternative recommendation for developing the Boti landscape was preservation and the lowest priority rating was conservation The physical characteristics of the Boti tribe include the architecture of traditional houses, the use of customary lands, places of worship, land use. Cultural characteristics of the Boti tribe landscape consist of the population of the Boti tribe villagers in Kie District, Timor Tengah Selatan Regency - NTT The recommendation for tourism development in the Boti tribal region is preservation. Budaya dan Lanskap Indonesia saat ini adalah gabungan dari berbagai interaksi warisan alam, budaya, dan sejarah yang sangat beragam. Pembentuk keragaman ini tidak hanya dari akal budaya lokal atau nasional, tetapi juga dari dinamisnya instruksi beragam etnis pendatang dari berbagai negara yang membawa trend budayanya masing- masing. Tujuannya adalah mengidentifikasi kondisi fisik budaya suku Boti dalam kaitanya dengan arsitektur dan lanskapnya dan kajian lanskap budaya suku Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Kualitatif dan Kuantitatif dimana tujuan dari metode ini adalah pemahaman secara mendalam terhadap suatu permasalahan yang sedang dikaji. Berdasarkan hasil pengolahan data responden ahli diperoleh bahwa prioritas utama atau tertinggi alternatif rekomendasi pengembangan lanskap suku boti adalah preservasi dan peringkat prioritas terendah adalah konservasi Karakteristik fisik lanskap suku boti meliputi keadaan .arsitektur rumah adat, tata guna kawasan adat, tempat ibadah, tata guna lahan. Karakteristik budaya lanskap suku boti tediri dari jumlah penduduk desa suku boti Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan- NTT Rekomendasi pengembangan wisata pada kawasan suku boti adalah preservasi.
ANALISIS NILAI TAMBAH USAHA KERIPIK TEMPE DI KAWASAN HOME INDUSTRI SANAN KELURAHAN PURWANTORO KECAMATAN BLIMBING (Studi Kasus Pada Usaha Keripik Tempe Sari Rasa) Masduki, Said; Arvianti, Eri Yusnita; William, Tomas
Fakultas Pertanian Vol 7, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research has been conducted at the place of Tempe Sari Rasa Chips Business in Sanan Sanan Home Environment, for 1 month that is: 10 August to 10 September 2017. The purpose of the implementation of this research is to study and identify the analysis of Profit and Value Added to the Business of Tempe Chips. Sources of data come from primary and secondary data, primary data ob-tained directly from tempe producers and tempe chips craftsmen as well as related parties using a pre-prepared list of questions while secondary data obtained from relevant agencies such as BPS and various print media and online media. Data analysis methods used are Total Cost, Reception, Profit and Added Value Ana-lyst. Based on the results of this study, it can be concluded that the added val-ue analysis of tempe cassava flour business has gained added value. Suggestions that can be given is for the owner of Tempe Sari Rasa Chip Business is expected to increase production in order to obtain maximum profit so that it can prosper the owner of Tempe Sari Chips and his workforce and for the government is expected to pay more attention and give training on how to culti-vate tempe chips in order to get maximum profit. Penelitian telah dilaksanakan di tempat Usaha Keripik Tempe Sari Rasa di Lingkungan Home Industri Sanan, selama 1 bulan yaitu : 10 Agustus sampai 10 September 2017. Tujuan dari pelaksanaan penelitian ini adalah mempelajari dan mengidentifikasi analisis Keuntungan dan Nilai Tambah pada Usaha Keripik Tempe. Sumber data berasal dari data primer dan sekunder, data primer diperoleh langsung dari produsen tempe dan pengrajin keripik tempe serta pihak-pihak yang terkait dengan menggunakan daftar pertanyaan yang sudah disiapkan sebelumnya sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi terkait seperti BPS dan berbagai media cetak dan media online. Metode analisis data yang digunankan adalah analis Biaya Total, Penerimaan, Keuntungan dan Nilai Tambah. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa analisis nilai tambah usaha keripik tempe sari rasa sudah memperoleh nilai tambah. Saran yang dapat diberikan adalah untuk pemilik Usaha Keripik Tempe Sari Rasa diharapkan lebih meningkatkan produksi agar memperoleh keuntungan yang maksimal sehingga dapat mensejahterakan pemilik Usaha Keripik Tempe Sari Rasa dan tenaga kerjanya dan untuk pemerintah diharapkan untuk lebih memperhatikan dan memberikan pelatihan tentang cara mengusahakan keripik tempe agar mendapatkan keuntungan yang maksimal.