cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Fakultas Pertanian
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Arjuna Subject : -
Articles 50 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 3 (2019)" : 50 Documents clear
PENGARUH PERBEDAAN LEVEL PEMBERIAN TEPUNG KECAMBAH TERHADAP KONSUMSI PAKAN DAN PRODUKSI TELUR AYAM KEDU Darmawan, Hariadi; Susanti, Sri; Duka, Andro Umbu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to study the effect of using flour sprouts on feed intake and eggs production of Kedu chicken. The material consisted of 16 Kedu chickens, yellow corn, pollard, meat flour, minerals, dl-methionine 2%, lysine 0.50%, tomato waste, vegetables waste, fish waste, sprouted flour. Sprouted flour was giving as much as 5-15% in the feed. The study used an experimental method, designed in a completely randomized design (CRD) with 4 treatments 4 replications. The treatments tested were P0 (Feed without sprouts), P1 (Feed + 5% flour sprouts), P2 (Feed + 10% flour sprouts), P3 (feed + 15% flour sprouts). The results showed that the addition of 5-15% sprouts to the feed had no significant effect (P>0.05) on feed intake and egg production of Kedu chicken. The addition of flour sprouts up to 15% in feed gives the same response to feed intake and egg production of Kedu chicken. It is recommended to further research about the addition of flour sprouts with levels that are more varied or higher than 15%, so that they can provide more accurate information about the potential of sprouts flour as chicken feed. Penelitian bertujuan mempelajari pengaruh penggunaan tepung kecambah dalam pakan terhadap konsumsi pakan dan produksi telur ayam Kedu. Materi yang digunakan terdiri dari 16 ekor ayam Kedu, jagung kuning, pollard, tepung daging, mineral, dl-metionin 2%, lisin 0,50%, limbah tomat, limbah sayur, limbah ikan, tepung kecambah. Penggunaan tepung kecambah sebanyak 5-15% dalam pakan. Penelitian menggunakan metode percobaan, dirancang dalam Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan 4 ulangan. Perlakuan yang diuji yaitu P0 (Pakan ransum tanpa kecamba), P1 (Pakan ransum+5% tepung kecambah), P2 (Pakan ransum + 10% tepung kecambah), P3 (pakan ransum + 15% tepung kecambah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan tepung kecambah sebanyak 5-15% pada pakan memberikan pengaruh yang tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi pakan dan produksi telur ayam Kedu. Penambahan tepung kecambah hingga 15% pada pakan memberikan respon yang sama terhadap tingkat konsumsi dan produksi telur ayam Kedu. Disarankan perlu penelitian lebih lanjut tentang penambahan tepung kecambah dengan level yang lebih bervariasi atau lebih tinggi dari 15%, sehingga dapat memberikan informasi yang lebih akurat tentang potensi tepung kecambah sebagai pakan ayam.
ADOPSI TEKNOLOGI PENGGUNAAN VARIETAS UNGGUL BARU PADA USAHATANI PADI SAWAH DI DESA PENDEM KOTA BATU Masduki, Said; Nurhananto, Dwi Asnawi; Lestari, Ria
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seed is an important factor that determines the yield of rice plants. Seeds along with other means of production such as fertilizer, water, light, climate determine the level of crop yield. Although there are sufficient other means of production available, but if low quality seeds are used, the yield will be low. High-quality seeds are obtained from superior seed varieties. The number of new superior varieties produced is not optimally applied by farmers, while the attitude of farmers is a major factor in technology adoption. Therefore, the increase in rice production must be achieved by the use of new superior varieties with integrated plant and resource management (PTT) approaches that are site-specific, adapted to the technology assemblies arranged according to the East Java Agricultural Technology Assessment Center (BPTP). This study aims to determine the adoption of technology to use new high yielding varieties in lowland rice farming. The adoption of technology for the use of new superior varieties in lowland rice farming in Pendem Village, Junrejo District, Batu City is at a low level with a percentage of 31.43%. The method of analysis in this study uses a Likert scale by analyzing questionnaire and interview data containing the method of conducting farming. The question points are adjusted to the technological assemblies of using new high yielding varieties. Benih merupakan faktor penting yang menentukan hasil tanaman padi. Benih bersama dengan sarana produksi lainnya seperti pupuk, air, cahaya, iklim menentukan tingkat hasil tanaman. Walaupun tersedia sarana produksi lain yang cukup, tetapi bila digunakan benih bermutu rendah maka hasilnya akan rendah. Benih bermutu tinggi diperoleh dari varietas benih yang unggul. Banyaknya varietas unggul baru yang dihasilkan tidak diaplikasikan secara optimal oleh petani, sedangkan sikap petani merupakan faktor utama dalam adopsi teknologi. Oleh karena itu peningkatan produksi padi harus dicapai dengan penggunaan varietas unggul baru dengan pendekatan pengelolaan tanaman dan sumber daya terpadu (PTT) yang bersifat spesifik lokasi yang disesuaikan dengan rakitan teknologi yang disusun menurut Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Timur. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adopsi teknologi penggunaan varietas unggul baru pada usahatani padi sawah. Adopsi teknologi penggunaan varietas unggul baru pada usahatani padi sawah di Desa Pendem Kecamatan Junrejo, Kota Batu berada pada level rendah dengan persentase 31,43%. Metode analisis pada penelitian ini menggunakan skala Likert dengan menganalisis data kuesioner dan wawancara yang berisikan tentang metode pelaksanaan usahatani. Poin-poin pertanyaan disesuaikan dengan rakitan teknologi penggunaan varietas unggul baru.
PROSES PEMBUATAN BIOGAS BERBAHAN BAKU BLOTONG DENGAN STARTER RUMEN SAPI (KAJIAN DARI VARIASI KONSENTRASI AIR DAN LAMA FERMENTASI) Sasongko, Pramono; Ahmadi, Kgs; Rohim, Risqi Nur
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Blotong is one of the sugar cane mill wastes whose utilization is still very rare. One of the uses of blotong that very potential is blotong as biogas energy source. The study aimed to obtain a comparison of the best water, fermentation time and feasibility analysis in the blotong fermentation process with cow starter rumen for biogas production. This study used a split plot randomized block design with two factors, namely the ratio of raw materials with water 1: 2 and the ratio of raw materials to water 1: 3. The results showed that the best treatment was the ratio of raw material with water 1: 2 with the volume of biogas 6.40 for 25 days with pH before fermentation 5.79 and after fermentation 6.45 and the flame was blue and the results of business feasibility analysis obtained HPP value = Rp1754 / Liter, BEP = Rp. 29,090,909 liters / year, HPP (40%) = Rp. 2104 / liter and RCR = 1.19. Blotong merupakan salah satu limbah pabrik tebu yang pemanfaatannya masih sangat rendah. Salah satu pemanfaatan blotong yang potensial adalah menjadi sumber energi Biogas. Penelitian bertujuan untuk mendapatkan perbandingan air dan waktu fermentasi terbaik, serta analisis kelayakan dalam proses fermentasi blotong dengan starter rumen sapi untuk produksi biogas. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok split plot dengan dua faktor yaitu perbandingan bahan baku dengan air 1:2 dan perbandingan bahan baku dengan air 1:3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan terbaik pada perbandingan bahan baku dengan air 1:2 dengan volume biogas 6.40 selama 25 hari dengan pH sebelum fermentasi 5.79 dan sesudah fermentasi 6.45 dan nyala api berwarna biru dan hasil analisis kelayakan usaha Diperoleh nilai HPP = Rp1754/Liter, BEP = Rp. 29.090.909 liter/tahun, HPP (40%) = Rp. 2104 /liter dan RCR = 1,19.
EFISIENSI PRODUKSI USAHATANI SAWI DI DUSUN MARON SEBALUH DESA PANDESARI KECAMATAN PUJON Khoirunnisa', Ninin; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Marpaung, Jupri Johanes SM
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mustard is a vegetable that has an important role in the balance of food consumed. The consumption of mustard greens in Indonesia always increases every year. But the increase was not offset by an increase in mustard production. Possible efforts to increase mustard production are by optimizing the use of production factors in mustard farming. Production factors in mustard farming include seeds, manure, urea fertilizer, NPK fertilizer, ZA fertilizer, pesticides and labor. This research aims to analyze the efficiency of the use of production factors and analyze the level of income in farming using the census method with 35 mustard farmers in Maron Sebaluh Hamlet, Pandesari Village, Pujon District. The analysis was performed using the Cobb-Douglas function and farm income analysis. The results showed that the use of production factors was not yet technically or economically efficient. The mustard farming in Maron Sebaluh Hamlet, Pandesari Village, Pujon District is profitable with an R/C value of 2,74. Sawi adalah sayuran yang memiliki peran penting dalam keseimbangan makanan yang dikonsumsi. Konsumsi sawi di Indonesia selalu meningkat setiap tahun. Namun peningkatan itu tidak diimbangi dengan peningkatan produksi sawi. Upaya yang mungkin untuk meningkatkan produksi sawi adalah dengan mengoptimalkan penggunaan faktor-faktor produksi dalam usahatani sawi. Faktor-faktor produksi dalam usahatani sawi yaitu benih, pupuk kandang, pupuk urea, pupuk NPK, pupuk ZA, pestisida dan tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efisiensi penggunaan faktor-faktor produksi dan menganalisis tingkat pendapatan dalam usahatani sawi menggunakan metode sensus dengan 35 petani sawi di Dusun Maron Sebaluh, Desa Pandesari, Kabupaten Pujon. Analisis dilakukan dengan menggunakan fungsi Cobb-Douglas dan analisis pendapatan usahatani. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi belum efisien secara teknis maupun ekonomis. Usahatani sawi di Dusun Maron Sebaluh, Desa Pandesari, Kabupaten Pujon menguntungkan dengan nilai R/C 2,74.
PENGGUNAAN TANAMAN LULANGAN DAN BIOCHAR UNTUK REMEDIASI TANAH TERCEMAR PERIODE TANAM KEDUA Agastya, I Made Indra; Hamzah, Amir; Dapawole, Oktavianus Ama
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soil contaminated with heavy metals has an effect on the environment and human health. The aim of this research is to find out the potential of repeat plants as a phytoremediation agent in the second planting period and to find out the remediator's ability to absorb heavy metals. This research was conducted in Sumber Brantas Village, Bumiaji District, Batu City, Malang Regency. This implementation is a continuation of the second phase of implementation from November 2017 to March 2018. This study uses 1 mx 1 m beds as many as 12 plots of remediator plants and as a treatment for biochar doses and types of doses of 300 g / plot, so that the biochar dose per plot is 8,400 g / plot. Plant observations made consisted of: plant height, number of leaves, number of tillers, total wet weight and total dry weight of plants. Data on the results of the observational parameters of this study used descriptive analysis, then to compare the results of the follow-up treatment with the Least Significant Difference Test (LSD) level of 5%. The results of the study concluded that: Repeat plants contaminated by heavy metals with a marked growth of plants that are plant height, number of leaves, the number of tillers is quite good in the second planting period. Repeat plants are able to accumulate heavy metals in polluted soils with biochar type experiments reviewed from the growth of plant height of 45.56 cm, the number of leaves as much as 410.89 leaves, the number of tillers as much as 65.44 tillers, total wet weight of 112.47 g and total plant dry weight of 44.17 g, on tobacco crooked biochar + rice husk, while without biochar as a result of soil amelioration in the phytoremediation process the lowest. Tanah yang tercemar logam berat memiliki efek terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Penelitian bertujuan untu mengetahui potensi tanaman lulangan sebagai agen fitoremediasi pada periode tanam kedua dan mengetahui kemampuan remediator dalam menyerap logam berat. Penelitian ini dilaksanakan di Desa Sumber brantas, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Kabupaten Malang. Pada pelaksanaan ini merupakan lanjutan pelaksanaan tahap kedua pada bulan November 2017 sampai Maret 2018. Penelitian ini menggunakan bedengan ukuran 1 m x 1 m sebanyak 12 petak tanaman remediator dan sebagai perlakuan lulangan dan jenis biochar dosis 300 g/plot, sehingga dosis biochar per petak sebanyak 8.400 g/petak. Pengamatan tanaman yang dilakukan terdiri dari: tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan, berat basah total dan berat kering total tanaman. Data hasil parameter pengamatan penelitian ini menggunakan analisis diskriptif, Kemudian untuk membandingkan hasil perlakuan uji lanjutan dengan uji Beda Nyata Terkecil (BNT) taraf 5%. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: Tanaman lulangan tanah tercemar oleh logam berat dengan ditandakan pada pertumbuhan tanaman yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah anakan cukup baik pada periode tanam kedua .Tanaman lulangan mampu mengakumulasi logam berat dalam tanah yang tercemar dengan percobaan jenis biochar yang ditinjau dari pertumbuhan tinggi tanaman sebesar 45,56 cm, jumlah daun sebanyak 410,89 helai daun, jumlah anakan sebanyak 65,44 anakan, berat basah total 112,47 g dan berat kering total tanaman sebesar 44,17 g, pada biochar jengkok tembakau + sekam padi, sedangkan tanpa biochar sebagai hasil pembenah tanah dalam proses fitoremediasi terendah.
PENDUGAAN MASA KADALUARSA KUE PIE SUSU MENGGUNAKAN METODE ACCELARATED SHELF LIFE TESTING (ASLT) DENGAN PENDEKATAN ARRHENIUS (STUDI KASUS DI CV. TOULIP) Wirawan, Wirawan; Santosa, Budi; Sartini, Iis
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pie milk is a modern food derived from grilled dishes as a type of food pastry with various kinds of variations. The study aims to figure out the age of saving milk pie Using The Accelarated Shelf Life Testing Method With the Arrhenius approach. The milk Pie used in this research is a product obtained from CV. Toulip located at Jalan Selorejo Dau Malang Regency. The shelf Life of milk pie is determined by Using The Accelarated Shelf Life Testing Method With the arrhenius approach. The experiment was conducted at 250c, 350C, And 450C for 30 days observed every five days with the conducted FFA analysis test, water content, water activity (Aw), and organoleptic test (flavor, Aroma, and Texture). Shelf life of milk pie with the method of ASLT obtained the period of saving the milk pie at a temperature of 250C is 71 days (2.38 months), at a temperature of 350C is 44 days (1.48 months) and at 45 temperature 0 C is 28 days (0.94 months). Pie susu merupakan makanan moderen yang berasal dari hidangan panggang sebagai jenis makanan pastry dengan berbagai jenis variasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui umur simpan pie susu yang menggunakan metode Accelarated Shelf Life Testingdengan pendekatan Arrhenius. Pie susu yang digunakan pada penelitian ini merupakan produk yang diperoleh dari CV. Toulip yang berada di Jalan Selorejo Dau Kabupaten Malang. Umur simpan pie susu ditentukan dengan menggunakan metode Accelarated Shelf Life Testing dengan pendekatan Arrhenius. Percobaan dilakukan pada suhu 250C, 350C, dan 450C selama 30 hari yang diamati Setiap lima hari sekali dengan dilakukan tes analisa FFA, Kadar Air, Aktivitas Air (Aw), dan Uji Organoleptik (Rasa, Aroma, dan Tekstur). Umur simpan pie susu dengan metode ASLT diperoleh masa simpan pie susu pada suhu 250Cadalah 71 hari (2,38 bulan), pada suhu 350C adalah 44 hari (1,48 bulan) dan pada suhu 450C adalah 28 hari (0,94 bulan).
SUBTITUSI TEPUNG TERIGU DENGAN TEPUNG KELADI TERMODIFIKASI DALAM PEMBUATAN BISKUIT Wirawan, Wirawan; Ahmadi, Kgs; Lero, Nikodemus Jawu
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of taro as food is still very limited even though its potential is very broad. One of the efforts to utilize taro flour is through the use of flour as material for making biscuit. The purpose of this study was to get the proportion of wheat flour with modified taro flour in making biscuits. The experimental design used was a completely randomized design with one factor consisting of p1=substitution of flour with 20% modified taro flour, p2 substitution of wheat flour with 40% modified fluor, p3= substitution of wheat flour with 60% modified taro flour and p4= substitution of wheat flour with 80% modified taro flour. Each treatment was repeated 5 times. The research showed that in making biscuits with a combination of 80% wheat flour and 20% taro flour was the best treatment with a protein content of 7.17%, water content 4.62%, ash content 2.04%, and hardness 10.6N, preference 3.3 color (liked), Taste preference 3.4 (liked), aroma preference 3.35 (liked), and preference texture 3.65 (liked). The business feasibility analysis for the manufacture of wheat flour and taro flour in the manufacture of biscuits is feasible in the household scale due to its HPP is 15,278.49 /packaging. The packaging selling price is 17,570.27. The net profit per day obtained is IDR. 29793.06 and the BEP unit is 2,276.39, the BEP price is IDR 39,996,753.82 and the RCR is 1.15. Penggunaan keladi sebagai bahan pangan masih sangat terbatas padahal potensinya sangat luas. Salah satu upaya untuk memanfaatkan tepung keladi adalah melalui penggunaan tepung sebagai bahan untuk pembuatan biskuit. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendapatkan proporsi tepung terigu dengan tepung keladi termodifikasi dalam pembuatan biskuit. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap dengan satu faktor yang terdiri dari P1 = Substitusi tepung terigu dengan 20% tepungkeladi termodifikasi, P2 = Substitusi tepung terigu dengan 40% tepung termodifikasi, P3 = Substitusi tepung terigu dengan 60% tepung keladi termodifikasi, P4= Substitusi tepung terigu dengan 80% tepung keladi termodifikasi. Setiap perlakuan di ulang sebanyak 5 kali. Hasil penelitian menunjukan bahwa pembuatan biskuit dengan kombinasi tepung terigu 80% dan tepung keladi 20% merupakan perlakuan terbaik dengan kadar protein 7,17%, kadar Air 4,62 %, Kadar Abu 2,04 %, dan Daya Patah 10,6N, kesukaan warna 3,3 (suka), kesukaan Rasa 3,4 (suka), kesukaan Aroma 3,35 (suka), dan kesukaan Tekstur 3,65 (suka). Analisis kelayakan usaha untuk pembuatan subtitusi tepung terigu dan tepung keladi dalam pembuatan biskuit layak diusahakan dalam skala rumah tangga karena HPP 15.278,49 /kemasan. Harga jual perkemasan 17.570,27. Keuntungan bersih per hari yang diperoleh adalah Rp 29793.06dan BEPunit sebesar 2.276,39, BEP harga sebesar Rp 39.996.753,82 dan RCR sebesar 1,15.
PENGARUH CEKAMAN KEKERINGAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL BEBERAPA VARIETAS KEDELAI (GLYCINE MAX L. MERRILL) Hamzah, Amir; Julianto, Reza Prakoso Dwi; Nurjanah, Titik
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Soybean is one of the multipurpose plants because it can be used as food, feed, or raw materials processing industry. One of the arguments in the field is the investment problem that does not get maximum results. The method used in this study is the random group factorial design (RAKF) There are 12 repeated treatments 3 times, resulting in 36 units of trial. Each unit of trial consists of 3 polybags containing plants, where each unit of trial is taken 3 samples of plants. Each unit of experiment consisted of 3 polybags, where each unit of experiment was taken 3 plant samples. The first factor is three soybean varieties, among others: V1 (Agromulyo), V2 (Grobogan), V3 (Anjasmoro) and the second factor is the level of the Cekaman, among others: 1/4 KL, 2/4 KL, 3/4 KL, 4/4 KL). The capacity of the land is determined by the soil way of 10 kg collected in composite which has been selected and the ground is first dried. Land as much as 10 kg that has been obtained into a black polybag diameter 50 cm and then watered water until the first water droplets, pouring water until the first drop is 1.5 L as a space capacity. The observation parameters performed include: Height of the plant (cm), number of leaves (strands), the weight of fresh seed cropping (g), the weight of the dried seed cropping (g), the number of cropping beans and the leaf color. The results of the study can be concluded the interaction of the degree of treatment of some of the best soy varieties is found IN V3TCC (Anjasmoro varieties with a level of 1,125 ml). Keywords : the dryness of drought, soy. Kedelai merupakan salah satu tanaman multiguna karena bisa digunakan sebagai pangan, pakan, maupun bahan baku industri pengolahan. Salah satu kendala dilapangan adalah masalah kedelai yang diteliti tidak mendapatkan hasil yang maksimal. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok Faktorial (RAKF) Terdapat 12 perlakuan yang diulang 3 kali, sehingga 36 unit percobaan. Setiap unit percobaan terdiri dari 3 polybag, dimana setiap unit percobaan diambil 3 sampel tanaman. Faktor pertama yaitu tiga varietas kedelai antara lain: V1 (Agromulyo), V2 (Grobogan), V3 (Anjasmoro) dan faktor kedua adalah tingkat cekaman antara lain: ¼ KL, 2/4 KL, ¾ KL, 4/4 KL). Kapasitas lapang ditentukan dengan cara tanah 10 kg dikumpulkan secara komposit dilahan yang telah terpilih dan tanah terlebih dahulu dikeringkan. Tanah sebanyak 10 kg yang telah didapatkan dimasukkan kedalam polybag hitam berdiameter 50 cm kemudian disiram air sampai keluar tetesan air pertama, penuangan air sampai tetes pertama adalah 1,5 l sebagai kapasitas lapang. Parameter pengamatan yang dilakukan meliputi : Tinggi tanaman (cm), jumlah daun (helai), bobot biji segar pertanaman (g), bobot biji kering pertanaman (g), jumlah biji pertanaman dan warna daun. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Interaksi pemberian tingkat cekaman terhadap beberapa varietas kedelai perlakuan terbaik terdapat pada V3TCC (Varietas Anjasmoro dengan tingkat cekaman 1.125 ml).
RESIDU DOSIS BIOCHAR DAN PEWIWILAN TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN TOMAT (SOLANUM LYCOPERSICUM L.) PADA SIKLUS TANAM KEDUA Julianto, Reza Prakoso Dwi; Widowati, Widowati; Arson, Prudensius
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The tomato is one of the commodities that include multi-use Solanum family. Biochar is able to survive long in the soil so that it still gives a residual effect on the next planting cycle. This Study aims to study the influence of the dose residues of biochar and reticulturants on growth and yield of tomato plants in the second planting cycle. This study used a randomized design group (RAK) factorial, factor I is the Residual Dose Biochar: control (a D0), 250 g tan-1 (D1), 500 g tan-1 (D2), and factor II is Pewiwilan: no Pewiwilan (P0), Pewiwilan (P1). Research results indicate that the dose of biochar residues 500 g tan-1 and pewiwilan can increase the amount of fruit of 28,9% from 22.25 became 28.67 (pewiwilan) in tomato plants (solanum lycopersicum l.) in the land of Incieptisol. Tomat merupakan salah satu komoditi yang multi guna termasuk famili Solanum. Biochar mampu bertahan lama di dalam tanah sehingga masih memberi efek residu pada siklus tanam berikutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh residu pemberian dosis biochar dan pewiwilan terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman tomat pada siklus tanam kedua. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial, faktor I adalah residu dosis biochar : kontrol (D0), 250 g tan-1 (D1), 500 g tan-1 (D2), dan faktor II adalah pewiwilan : tanpa pewiwilan (P0), pewiwilan (P1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa residu biochar 500 g tan-1 dan pewiwilan dapat meningkatkan jumlah buah sebesar 28,8% dari 22,25 menjadi 28,67 (pewiwilan) pada tanaman tomat (solanum lycopersicum l.) di Incieptisol.
ANALISIS RANTAI PASOKAN KOMODITAS CABAI MERAH BESAR DESA BOCEK KECAMATAN KARANGPLOSO KABUPATEN MALANG Khoirunnisa', Ninin; Pudjiastuti, Agnes Quartina; Toni, Toni
Fakultas Pertanian Vol 7, No 3 (2019)
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Supply Chain emerged in the 1980s as something new, an integrative philosophy for managing the total flow of goods from suppliers to end users and growing considering the integration of broad business processes along the supply chain. Supply chain or supply chain is a concept where there is a regulatory system related to product flow, information flow and financial flow (financial).This study aims to analyze the supply chain of large red chili commodities and marketing margins of large red chili commodities in Bocek Village, Karangploso District, Malang Regency. The population of red chili farmers is 50 people. The sample was determined by 33 red chili farmers, the analysis used was quantitative descriptive. The red chili commodity supply chain from the village of Supiturang, Bocek Village, is represented by 3 marketing channels: I farmers, collectors, wholesalers, retailers, consumers, II farmers, collectors, retailers, consumers, III farmers, collectors, consumers. The biggest marketing margin is in channel 1, which is Rp. 17,000. This channel has the longest channel chain in distributing red chili to consumers. Rantai Pasok muncul pada 1980-an sebagai sesuatu yang baru, filsafat integratif untuk mengelola total aliran barang dari pemasok ke pengguna akhir dan berkembang mempertimbangkan integrasi proses bisnis yang luas sepanjang rantai suplai. Rantai pasok atau supply chain merupakan suatu konsep dimana terdapat sistem pengaturan yang berkaitan dengan aliran produk, aliran informasi maupun aliran keuangan (finansial). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis rantai pasok komoditas cabai merah besar dan marjin pemasaran komoditas cabai merah besar di Desa Bocek Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang. Populasi petani cabai merah berjumlah 50 orang. Sampel ditentukan sebesar 33 petani cabai merah, Analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif. Rantai pasok komoditas cabai merah dari Dusun Supiturang Desa Bocek diwakili oleh 3 saluran pemasaran : I petani, pedagang pengumpul, pedagang besar, pedagang pengecer, konsumen, II petani, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, konsumen, III petani, pedagang pengumpul, konsumen. Margin pemasaran terbesar terdapat pada saluran 1 yaitu sebesar Rp. 17.000. Saluran ini memiliki rantai saluran yang terpanjang dalam mendistribusikan cabai merah hingga ke konsumen.