cover
Contact Name
Filsa Bioresita
Contact Email
filsa_b@geodesy.its.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
redaktur.geoid@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Geoid - Journal of Geodesy and Geomatics
ISSN : 18582281     EISSN : 24423998     DOI : -
Core Subject : Science,
The journal is published biannual in February and August by the Department of Geomatics Engineering, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). It is open access to all scientist, researchers, student and other scholars. The goal of this journal is to provide a platform for scientists and academicians to promote, share, exchange and discuss various issues and developments in different areas of Geodesy and Geomatics.
Arjuna Subject : -
Articles 425 Documents
ANALISIS KENAIKAN MUKA AIR LAUT INDONESIA TAHUN 1993-2018 MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI Eko Yuli Handoko; Yuwono .; Reny Ariani
Geoid Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v15i1.3958

Abstract

Kenaikan muka air laut (sea level rise) merupakan konsekuensi dari perubahan iklim yang memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan infrastruktur, serta ancaman tenggelamnya kawasan pesisir Indonesia yang ditinggali oleh 60% penduduknya. Sejak akhir abad ke-19, perubahan kedudukan air laut diamati dari stasiun pasang surut di sepanjang garis pantai. Namun, pengamatan stasiun pasang surut memiliki keterbatasan dalam jumlah, distribusi, dan jangkauannya, serta adanya pengaruh land subsidence. Oleh karena itu, penelitian ini menganalisis tren kenaikan muka air laut Indonesia menggunakan data pengamatan misi referensi satelit altimetri, yaitu Topex/Poseidon, Jason 1, Jason 2, dan Jason 3. Setelah dilakukan least square intercalibrated dan a-seasonal-trend decomposition procedure based on loess diketahui bahwa laju sea level rise di Indonesia +4,5 mm/tahun pada periode tahun 1993-2018. Tren linier bernilai positif ini menunjukkan bahwa ketinggian muka laut di Indonesia akan terus meningkat dengan persamaan y = 4,6x - 9133,5 mm, dimana y adalah sea level anomaly dan x adalah waktu. Sehingga berdasarkan hasil tersebut dapat dilakukan perencanaan pra-kejadian terhadap dampak dari sea level rise yang akan mendatang.
ANALISA PERUBAHAN GARIS PANTAI MUARA MERICAN DAN TANJUNG LANTERA DI DESA RANTEREIJO KABUPATEN PEKALONGAN PROPINSI JAWA TENGAH Ho Putra Setiawan
Geoid Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v4i2.7305

Abstract

Kabupaten Pekalongan adalah sebuah Kabupaten di Propinsi Jawa Tengah Ibu Kotanya adalah Kanjen. Kabupaten Pekalongan terdiri dari 19 Kecamatan yang dibagi lagi atas sejumlah 270 desa, dan 13 Kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Kanjen. Luas Kabupaten Pekalongan adalah 836,13 km2, jumlah penduduk 891,442, serta Kepadatan Penduduk 979 jiwa / km2. Sedimentasi  juga dapat dilihat di Rantereijo (terutama di Muara Merican dan di Tanjung Lantera ) sejauh 1,4 Km. Kontur dasar laut dan kontur daratan sekitar Muara Merican dan Tanjung Lantera terdapat kelandaian pantai sampai pada jarak 50 meter dari garis pantai bagian utara pulau mempunyai kedalaman 1,0 – 1,5 meter, sedangkan kedalaman perairan yang agak jauh dari garis pantai yaitu sekitar 100 sampai 110 meter, kedalaman perairannya mencapai 10 – 11 meter. Semakain ke Timur kondisi garis pantai semakin landai dimana kedalaman perairan tersebut dicapai pada jarak yang semakin jauh dari garis pantai. Angin dominan berhembus dari arah barat sebesar 19.226 kali atau sebesar 23,76% dengan kecepatan 0-7 knot dan dari arah Utara sebanyak 16.3756 kali  atau sebesar 18,47%. Perhitungan tinggi dan durasi gelombang  Hs = 0,01616 UA . F1/2 dan Ts = 0,6238 (UA . F)1/3 didapat tinggi gelombang (H) arah Barat 1,61 meter dengan durasi (T) 6,31 detik dan (H) arah Utara 2,72 meter dengan durasi (T) 5,85 detik. Dari pengamatan peta (1997 dan 2002) didapatkan hasil berupa perubahan garis pantai (setelah 5 tahun) dengan angka yang terjadi erosi (arah gelombang Barat) yaitu pada titik pias  6 (-4,556) maksimal dan titik pias 7 (-3,152) minimal, adapun sedimentasi terjadi pada titik pias 51 (90,990) maksimal dan titik pias 18 (22,778) minimal. Sedangkan erosi (arah gelombang Utara) yaitu pada titik pias 72 (-14,403) maksimal dan titik pias 67 (-0,375) minimal, serta sedimentasi terjadi pada titik pias 15 (17,750) maksimal dan titik pias 8 (0,044) minimal. Akan tetapi juga terdapat garis pantai yang tidak mengalami perubahan yaitu pada titik pias 15 (arah gelombang Barat). Berdasarkan data-data dan hasil analisa yang telah diperoleh maka pada daerah pantai Muara Merican dan Muara Tanjung Lantera di pilih bangunan pelindung pantai dapat berupa kombinasi antara Jetty maupun Groin.
ANALISIS ZONA NILAI TANAH TERHADAP RENCANA TATA RUANG WILAYAH RUNGKUT UNTUK MENINGKATKAN PENDAPATAN DAERAH DI SURABAYA Udiana Wahyu Deviantari; Andi Nurul W. P.; Andy Dediyono
Geoid Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v15i1.6687

Abstract

Surabaya adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Karena itu, banyak warga yang pergi ke kota ini untuk mendapatkan pekerjaan alih-alih bekerja di kota asal mereka. Namun, karena urbanisasi yang pasif itu membuat kebutuhan masyarakat akan rumah semakin besar sementara ketersediaan lahan terbatas. Ketika permintaan tanah lebih tinggi dari tanah yang tersedia maka harga tanah akan lebih tinggi. Dua sumber pendapatan lokal adalah PBB (Pajak Bumi dan Bangunan) dan BPHTB (Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan) di mana pengimporan dasarnya adalah NJOP (Nilai Jual Objek Pajak) untuk PBB dan NPOP untuk BPHTB. Namun, dalam hal ini NPOP (Nilai Perolehan Objek Pajak) disamakan dengan NJOP karena sumber pendapatan pajak yang sama yaitu komparatif penjualan. Asesmen massa digunakan dalam penelitian ini dengan pertimbangan lokasi memiliki luas wilayah. Oleh karena itu, zona nilai tanah harus ditumpang tindih dengan rencana tata ruang terperinci untuk menghitung potensi pendapatan PBB dan BPHTB. Zona industri memiliki kesesuaian lahan tertinggi 99,22% dengan luas 857.121.718 m2. Peningkatan pendapatan lokal melalui potensi pendapatan PBB dan BPHTB menunjukkan angka positif atau peningkatan nilai di setiap zona.
STUDI PERUBAHAN KANDUNGAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI SELAT MADURA AKIBAT PEMBUANGAN LUMPUR PANAS LAPINDO Chatarina Nurjati; Hepi Hapsari Handayani
Geoid Vol 4, No 2 (2009)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v4i2.7315

Abstract

Peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran PT.  Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi sejak 27 Mei 2006. Peristiwa ini menjadi sebuah tragedi ketika lumpur panas tersebut mulai menggenangi areal persawahan, permukiman penduduk dan kawasan industri. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi beban lumpur di daratan adalah dengan membuang langsung lumpur panas tersebut ke selat Madura melalui Sungai Porong. Hal ini akan mempengaruhi kualitas perairan di Selat Madura. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk penghitungan serta analisa tentang kualitas air di Selat Madura adalah kandungan Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid ,TSS).Di dalam penelitian ini dilakukan perhitungan kandungan sedimen tersuspensi (TSS) menggunakan teknologi penginderaan jauh. Adapun citra satelit yang digunakan adalah citra ASTER multitemporal tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008. Dengan menggunakan algoritma Budiman dilakukan perhitungan kandungan sedimen tersuspensi (TSS) di perairan Delta Pororng.Berdasarkan cek lapangan dan perhitungan dari citra satelit, dapat kita simpulkan bahwa terjadi peningkatan kandungan sedimen tersuspensi yang tajam di perairan Delta Porong.  Kandungan sedimen tersuspensi di perairan Delta Porong sebesar rata-rata 1090 mg/l. Namun demikian, hasil perhitungan menggunakan citra satelit masih jauh dibandingkan dengan perhitungan hasil cek lapangan. Hal ini dikarenakan, algoritma yang dipakai kurang sesuai apabila diterapkan untuk perhitungan kandungan sedimen tersuspensi di Delta Porong.
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN POSISI HASIL PENGUKURAN GNSS DARI KOMBINASI SATELIT GPS, GLONASS, DAN BEIDOU Khomsin .; Ira Mutiara Anjasmara; Wahyu Ristanto
Geoid Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v15i1.3913

Abstract

GNSS (Global Satellite Navigation System) merupakan suatu istilah yang digunakan untuk mencakup seluruh sistem satelit navigasi global yang sudah beroperasi ataupun sedang dalam perencanaan. Sistem navigasi satelit global ini beberapa diantaranya yaitu GPS, GLONASS, dan BeiDou. Kesalahan akibat sedikitnya satelit saat pengambilan data, secara teoritis dapat teratasi dengan kemajuan teknologi receiver yang mampu menangkap berbagai sinyal satelit. Hi Target V30 adalah salah satu receiver GNSS yang mampu menangkap sinyal satelit GPS, GLONASS dan BeiDou, dengan semakin banyaknya sinyal satelit yang dapat diterima diharapkan dapat meningkatkan akurasi dari penentuan posisi. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan satelit BeiDou tidak terlalu memberi pengaruh terhadap satelit GPS, akan tetapi penggunaan satelit BeiDou menambah ketelitian dari satelit GLONASS. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penurunan nilai pada selisih koordinat dan RMS error yang dihasilkan dari 1.068 m menjadi 0.371 m. Penggunaan kombinasi satelit GPS + GLONASS + BeiDou dan GPS + GLONASS rata – rata menghasilkan ketelitian yang paling kecil dengan nilai RMS error yang tetap berada diangka millimeter, sedangkan penggunaan satelit GLONASS saja menghasilkan ketelitian yang paling besar diantara stategi yang digunakan terlihat dari nilai RMS error yang mencapai 0.585 m pada baseline C2
DENTIFIKASI PULAU DI KEPULAUAN PADAIDO PROVINSI PAPUA BERDASARKAN KAIDAH TOPONIMI (ISLAND TOPONYM STUDY OF PADAIDO ARCHIPELAGO, PAPUA PROVINCE) Yulius Yulius
Geoid Vol 5, No 1 (2009)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v5i1.7323

Abstract

Pengelolaan sumberdaya kelautan telah menjadi perhatian dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Dilain pihak informasi mengenai data unsur-unsur laut menjadi sangat penting artinya dalam pengelolaan sumberdaya sekaligus dapat mendukung terciptanya tertib administrasi wilayah. Guna mendukung pengelolaan wilayah laut dan unsur-unsur geografi laut di wilayah kedaulatan Indonesia, diperlukan pengidentifikasian unsur-unsur geografi laut, yang selanjutnya disusun sebagai pangkalan data unsur-unsur geografi laut (Pulau) secara terintegrasi dan sistematis berdasarkan kaidah toponimi. Penelitian toponim pulau yang dilakukan di Kepulauan Padaido, Provinsi Papua, telah mengidentifikasi unsur pulau, serta penamaannya.
ANALISA KRONOLOGIS PERMASALAHAN BATAS WILAYAH ADMINISTRASI KABUPATEN DONGGALA DAN KABUPATEN MAMUJU UTARA DENGAN MENGGUNAKAN METODE KARTOMETRIK DAN GEOSPASIAL Yuwono .; Yanto Budisusanto; Zahratu Firdaus
Geoid Vol 15, No 1 (2019)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v15i1.3882

Abstract

Sejak implementasi otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang kemudian diganti Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 dan yang paling terbaru UU No. 23 Tahun 2014, batas antar daerah menjadi perhatian yang sangat penting. Dalam era otonomi daerah, banyak sekali perkembangan daerah baik desa, kabupaten/kota maupun provinsi yang mengadakan pemekaran. Akibat dari adanya pemekaran yaitu adaya perebutan lahan atau sengketa lahan. Satu diantaranya yaitu batas wilayah antara Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara. Konflik batas daerah Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara ini muncul sebagai akibat dari adanya kebijakan penataan batas daerah berdasarkan Kepmendagri No. 52 Tahun 1991 terutama setelah pemasangan Tugu / Patok Batas pada kawasan perbatasan antara Kabupaten Donggala dengan Kabupaten Mamuju Utara yang kurang melibatkan masyarakat setempat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa permasalahan batas wilayah yang terjadi pada Kabupaten Donggala dan Kabupaten Mamuju Utara berdasarkan data historis kedua Kabupaten tersebut serta mengimplementasikan Permendagri No. 76 Tahun 2012 tentang Penegasan Batas Daerah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kartometrik serta kajian literatur terkait berbagai aspek menggunakan perangkat lunak SIG. Hasil analisa diketahui bahwa daerah yang diklaim atau Desa Ngovi lebih memilih untuk berada pada Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah, namun jika dilihat dari segi hukum yang berlaku, daerah klaim tersebut tetap berada pada wilayah Kabupaten Mamuju Utara Provinsi Sulawesi Barat. Luas wilayah yang diperebutkan sebesar 4696.469 ha, dimana wilayah tersebut terdapat penduduk dan bangunan pemerintah.
ANALISA PROSES PENYAJIAN SURAT GAMBAR UKUR UNTUK PERSIL DI BAWAH PERMUKAAN TANAH Candra W.; Chatarina Nurjati S.; Roedy Rudianto
Geoid Vol 4, No 1 (2008)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j24423998.v4i1.7297

Abstract

Kebutuhan akan lahan bermukim semakin meningkat, namun ketersediaan akan lahan sangatlah terbatas. Oleh karena itu, pemerintah mulai memanfaatkan ketersediaan lahan yang ada untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat yang terus bertambah. Telah banyak didirikan bangunan rumah susun sebagai solusi memenuhi kebutuhan akan lahan bermukim. Selain untuk tempat bermukim, rumah susun juga dapat digunakan sebagai tempat usaha seperti mall atau supermarket. Seiring tingginya tingkat ekonomi masyarakat maka terciptalah suatu terobosan baru dengan memanfaatkan lahan yang berada di bawah permukaan tanah. Hal ini memunculkan ide untuk mengikatkan koordinat persil yang berada di bawah permukaan tanah dan juga bagaimana proses penyajiannya dalam bentuk sertifikat. Ide ini dapat dijadikan sebagai masukan kepada pihak berwenang untuk menciptakan peraturan dan kebijakan baru untuk mengatur persil di bawah permukaan tanah tersebut.Data simulasi penelitian diperoleh dari Kantor Pertanahan Kota Surabaya berupa salinan gambar denah dan gambar ukur gedung Darmo Trade Center yang berada di Kelurahan Jagir, Kecamatan Wonokromo, Surabaya. Pengolahan data meliputi usulan penggambaran penetapan titik ikat persil serta penggambaran gambar denah dan gambar ukur untuk persil di bawah permukaan tanah.
PEMETAAN PARTISIPATIF POTENSI DESA (STUDI KASUS: DESA SELOPATAK, KECAMATAN TRAWAS, KABUPATEN MOJOKERTO Hepi Hapsari Handayani; Agung Budi Cahyono
Geoid Vol 10, No 1 (2014)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (719.612 KB) | DOI: 10.12962/j24423998.v10i1.705

Abstract

Indonesia merupakan negeri yang besar baik dari segi luas wilayah, jumlah penduduk, sumberdaya alam dan budaya. Untuk membangun negeri Indonesia yang besar dan strategis tersebut, diperlukan perencanaan yang didukung data dan informasi spasial yang lengkap, up to date, andal serta dapat dipertanggungjawabkan. Undang-Undang Informasi Geospasial (UU IG)  bertujuan untuk menjamin ketersediaan dan akses IG yang dapat dipertanggungjawabkan serta mewujudkan kebergunaan dan keberhasilgunaan IG melalui kerjasama, koordinasi, integrasi, dan sinkronisasi. UU ini mendorong penggunaan IG dalam pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat dengan menggunakan referensi tunggal (single reference) yang mencakup Informasi Geospasial Dasar (IGD) dan Informasi Geospasial Tematik (IGT). Pemetaan partsipatif adalah publik bersama-sama atau terlibat dalam proses pengumpulan data dan analisis terkait problem dan isu di sekitar mereka melalui identifikasi dan penggambaran fitur geospasial dengan menggunakan piranti dan teknologi pemetaan. Pemetaan partisipatif semakin memberi ruang yang lebar terhadap komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat, dan juga antarpemangku kepentingan pada daerah pengembangan. Pemetaan   partisipatif  adalah   pemetaan   yang  dilakukan oleh  kelompok masyarakat  mengenai tempat / wilayah di mana mereka hidup. Karena masyarakat yang hidup dan bekerja di tempat itulah yang memiliki  pengetahuan mendalam mengenai wilayahnya. Jadi,  hanya mereka yang bisa  membuat peta secara lengkap dan akurat mengenai sejarah, tata guna lahan, pandangan hidup, dan harapan masa depan. Manfaat pemetaan partisipatif bagi masyarakat adalah untuk meningkatkan kesadaran seluruh anggota masyarakat mengenai hak-hak mereka atas tanah dan sumber daya alam.Peta bisa  digunakan sebagai media negosiasi dengan pihak lain,   karena dengan peta tersebut menjadi jelaslah bagaimana wilayah itu dimanfaatkan oleh  masyarakat dan siapa saja yang berhak atas wilayah itu.Proses pemetaan partisipatif menumbuhkan semangat untuk  menggali pengetahuan lokal, sejarah asal-usul, sistem kelembagaan setempat, pranata hukum setempat, identifikasi sumber daya alam yang dimiliki, dan sebagainya. Tujuan dalam kegiatan pengabdian masyarakat di Desa Selotapak, Mojokerto ini adalah sebagai pembuatan peta partisipatif Desa Selotapak, Mojokerto yang dijadikan sebagai dasar penataan ruang berdasarkan potensi yang ada. Masyarakat Desa Selotapak, Mojokerto dapat berperan serta dalam proses perencanaan, pemanfaatan, dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah desanya berdasarkan potensi yang ada.
PERBANDINGAN AKURASI PREDIKSI PASANG SURUT ANTARA METODE ADMIRALTY DAN METODE LEAST SQUARE Miftakhul Ulum; Khomsin Khomsin
Geoid Vol 9, No 1 (2013)
Publisher : Department of Geomatics Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.546 KB) | DOI: 10.12962/j24423998.v9i1.746

Abstract

Analisis maupun peramalan pasut pada daerah survei dapat dipakai untuk berbagai keperluan rekayasa, antara lain perencanaan alur pelabuhan, navigasi, pengembangan wilayah pantai, penentuan batas wilayah dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan konstanta harmonik pasang surut selama periode tertentu diantaranya adalah metode admiralty dan metode least square. Dalam penelitian  ini dilakukan analisa prediksi pasang surut di stasiun Surabaya dengan menggunakan data pasut 29 hari. Metode yang digunakan adalah metode admiralty dan metode least square dengan panjang data 15 dan 29 hari. Dari ke-empat metode tersebut dilakukan perhitungan tiap komponen pasutnya sehingga dapat dilakukan prediksi pasut dan dibandingkan hasilnya. Selisih nilai amplitudo terbesar terdapat pada komponen P1 untuk perbandingan antara admiralty dan least square 15 hari yakni sebesar -36,49 cm. Sedangkan untuk selisih beda fase terbesar terdapat pada komponen S2 pada perbandingan antara least square dengan panjang data 15 dan 29 hari yakni sebesar -332,89⁰.  Nilai RMS error yang dihasilkan oleh metode least square lebih kecil daripada yang dihasilkan oleh metode admiralty yakni sebesar 12,360 cm untuk panjang data 15 hari dan 5,972 cm untuk panjang data 29 hari pada prediksi pasut bulan pertama.

Page 1 of 43 | Total Record : 425