cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Spektra
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 14 Documents
Search results for , issue " Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya" : 14 Documents clear
PENGARUH VARIASI PENAMBAHAN ASAM PADA LARUTAN PENUMBUH UNTUK MENGHASILKAN PARTIKEL MnO2 Taslim, R.; Farma, R.; Sarah, D.N.; Taer, Erman
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenumbuhan Mangan Oksida (MnO2) menggunakan penambahan asam sulfat (H2SO4) dan asam nitrat (HNO3) pada larutan penumbuh KMnO4 di atas substrat karbon kayu karet telah berhasil dilakukan. Perbedaan penambahan kedua jenis asam pada larutan penumbuh menyebabkan perbedaan waktu penumbuhan. Warna larutan asal KMnO4 yang berwarna ungu perlahan-lahan berubah menuju warna cokelat yang stabil. Waktu penumbuhan larutan H2SO4 adalah 30 menit sedangkan untuk penambahan larutan HNO3 dengan waktu 120 menit. Scanning electron microscope, energi dispersif sinar-X dan difraksi sinar-X merupakan metode yang digunakan untuk melihat morfologi dan bentuk partikel, kandungan unsur dan derajat kristalin dari partikel  MnO2 yang dihasilkan. Partikel MnO2 yang dihasilkan menggunakan H2SO4 berbentuk pipih datar sedangkan bentuk partikel MnO2 yang dihasilkan menggunakan HNO3 adalah berbentuk bulat. Kandungan MnO2 yang terkandung pada sampel HNO3 lebih banyak dibandingkan pada sampel H2SO4. Keberadaan MnO2 ditunjukkan dengan adanya tambahan puncak pada sudut 2θ = 21,3770 dan 55,70.Kata Kunci : Subsrat Karbon Kayu Karet, Asam Sulfat, Asam Nitrat dan Mangan Oxida Abstract The growthing of Manganis Oxide (MnO2) using addition of sulfuric acid (H2SO4) and nitric acid (HNO3) in a solution of KMnO4 at surface of carbon substrate from rubber wood has been successfully carried out. Growth in the addition of two types of acid in the solution growth cause difference in growth time. Colored of origin KMnO4 was a violet and slowly changing towards a stable brown color. Time changes color from violet to brown is chosen as a time of growth. Growt time for addition of H2SO4 solution is 30 minutes while for the addition of HNO3 solution is 120 minutes. Scanning electron microscope, energy dispersive X-ray and X-ray diffraction method used to study the morphology and particle shape, element content and degree of crystalline of MnO2 particle wave produced. MnO2 particles produced using H2SO4 in shape of flattened while MnO2 particle from produced using HNO3 is spherical. The MnO2 content of the samples HNO3 contained more than the H2SO4 samples. The existence of MnO2 show by an additional peak at angle 2θ = 21,3770 and 55,70.Keywords : carbon substrate rubber wood, sulfuric acid, nitric acid and manganis oxide
SINTESIS NANOPARTIKEL ZINC FERRITE (ZnFe2O4) DENGAN METODE KOPRESIPITASI DAN KARAKTERISASI SIFAT KEMAGNETANNYA Suharyadi, Edi; Mutmainnah, -; Asmin, La Ode
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakNanopartikel Zinc Ferrite (ZnFe2O4) telah disintesis dengan metode kopresipitasi. Nanopartikel disintesis dengan variasi konsentrasi NaOH 1,5 M; 3 M; dan 6 M dan suhu sintesis pada suhu ruang, 60oC, dan 90oC. Karakterisasi struktur kristal dan morfologi sampel menggunakan X-ray Diffraction (XRD) dan Transmission Electron Microscopy (TEM) menunjukkan bahwa sampel merupakan fasa ZnFe2O4 berstruktur spinel campuran normal dan invers. Ukuran partikel dihitung dengan menggunakan persamaan Scherrer diperoleh bahwa ukuran partikel menurun dengan peningkatan konsentrasi NaOH dan menurunnya suhu sintesis. Ukuran partikel sampel dengan variasi konsentrasi NaOH yaitu 1,5 M; 3 M; dan 6 M berturut-turut adalah 8,4; 7,3 dan 5,6 sedangkan dengan variasi suhu sintesis yaitu pada suhu ruang, 60oC dan 90oC berturut-turut adalah 8,1; 8,4 dan 9,2 nm. Karakterisasi sifat magnetik menggunakan Vibrating Sample Magnetometer (VSM) menunjukkan bahwa sampel dengan variasi konsentrasi NaOH memiliki koersivitas meningkat dengan menurunnya ukuran partikel. Sementara sampel dengan variasi suhu, semakin tinggi ukuran partikel, koersivitasnya cenderung meningkat. Pada 15 kOe, ukuiran partikel 5,6 nm dengan rasio fasa α-Fe2O3 terendah memiliki nilai magnetisasi tertinggi yaitu 16,510 emu/g dan koersivitas tertinggi yaitu 47,06 Oe. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa ukuran partikel dan kehadiran fasa α-Fe2O3 mempengaruhi sifat kemagnetan nanopartikel ZnFe2O4.Kata kunci: nanopartikel, zink ferit (ZnFe2O4), kopresipitasi. AbstractZinc Ferrite Nanoparticles (ZnFe2O4) have been synthesized by co-precipitation method. The nanoparticles were synthesized with various concentration of NaOH 1,5 M; 3 M and 6 M and synthesis temperature at room temperature, 60oC and 90oC. The characterization of the crystal structure and morphology of samples by using X-ray Diffraction (XRD) and Transmission Electron Microscopy (TEM) showed that the samples were phase ZnFe2O4 with mixture of normal and inverse spinel structures. The particle size estimated using the Scherrer formula were found that the particle size decrease with increasing of NaOH concentrations and decreasing of synthesis temperature. The particle size samples with various concentration of NaOH of 1.5; 3 and 6 M are 8.4; 7.3 and 5.6 nm respectively, whereas with various synthesis temperature of room temperature, 60 and 90oC are 8.1; 8.4 and 9.2 nm, respectively. Characterization of magnetic properties by using Vibrating Sample Magnetometer (VSM) showed that the samples with various concentration of NaOH has a coercivity increases with decreasing particle size. Meanwhile for several of synthesis temperature, the increasing of particle size, than the coercivity tends to increase. At 15 kOe, the particle of size 5.6 nm with the lowest phase ratio of α-Fe2O3 has the highest magnetization of 16.510 emu/g and the highest coercivity of 47.06 Oe. Based on the results it can be concluded that the particle size and the appearance of α-Fe2O3 influence the magnetic properties of ZnFe2O4 nanoparticle.Keywords: nanoparticles, zinc ferrite (ZnFe2O4), co-precipitation.
EFEK MEDAN LISTRIK BINTANG NEUTRON Adam, Riza Ibnu; Sulaksono, Anto
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPada permukaan bintang neutron, perubahan kerapatan partikel yang signifikan dapat menghasilkan separasi muatan dalam bentuk lapisan dipol listrik. Pada penelitian ini dipelajari efek medan listrik akibat lapisan tersebut terhadap properti dari bintang neutron. Pada perhitungan kami gunakan dua model dengan asumsi berbeda, yakni: model dengan asumsi bahwa bintang neutron hanya tersusun atas p, n, e dan µ serta model dengan asumsi bintang neutron tersusun dari p, n, e, µ dan hiperon. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa massa maksimum tidak sensitif terhadap medan istrik dipermukaan, tetapi radius bintang dengan massa kanonik 1,4 Mʘ cukup sensitif terhadap medan listrik. Bintang neutron dengan hiperon bersifar lebih soft dibandingkan bintang neutron tanpa hiperon. AbstractOn the surface of a neutron star, a significant particle density changes can produce charge separation in the form electric dipole layer. This research studied electric field effect from dipole layer on the properties of neutron star. We use two models with different assumptions: namely a model assumes the neutron star only composed of p, n, e and µ and a model which assumes the neutron star is composed of p, n, e, µ dan hyperon. The result showes that the maximum mass is not sensitive to the electric field on the surface, but the radius of star with canonical mass 1,4 Mʘ is quite sensitive to the electric field . The neutron star with hyperon is softer than without hyperon.Keywords: Neutron Star, Electric Field, TOV Equation, RMF Model, Gaussian Function.
ANALISIS KAJIAN PROSES PENGHANCURAN POLUTAN OKSIDA TOKSIK NOx MELALUI REKAYASA TEKNOLOGI PLASMA SEBAGAI GREEN TECHNOLOGY Guntoro, Nanang Arif
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini sangat urgen dilakukan di kota-kota besar di Indonesia, khususnya Jakarta, sebagai salah satu kota besar terpolusi di dunia. Emisi gas buang sarana transportasi menghasilkan polutan oksida toksik seperti NOx yang mengancam kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan. Penelitian ini dimaksudkan untuk menganalisis kajian proses penghancuran NOx melalui rekayasa teknologi plasma sebagai green technology. Penelitian dilakukan di Laboratorium Fisika Terapan, Jurusan Teknik Elektro, FT, UNJ. Gas yang ditinjau adalah aliran udara terdiri dari 80% N2 dan 20% O2 dengan kandungan 400ppm NOx pada tekanan atmosfir dan temperatur ruang. Model memperhitungkan reaksi-reaksi kimia terpilih yang dominan dalam penghancuran NOx. Metode M.U.S.C.L digunakan untuk menyelesaikan persamaan dinamika gas netral reaktif terhadap fluks transport difusif dengan kriteria kestabilan numerik CFL. Hasil penelitian yang diperoleh adalah: (1) radikal-radikal N, O, dan O3 tercipta melalui disosiasi molekul mayoritas gas sebagai hasil dampak ionik dan elektronik; (2) mekanisme penghancuran NOx berlangsung dalam waktu beberapa milisekon di mana penghancuran NOx akibat reaksi dengan radikal-radikal aktif untuk membentuk asam H2SO4 dan HNO3; dan (3) fenomena difusi berpengaruh signifikan terhadap kinetika kimia dalam mereduksi NOx pada kanal discharge. Pemahaman terhadap hasil penelitian memungkinkan dilakukannya optimasi reduksi NOx dalam upaya merancang desain penghancuran polutan NOx guna mewujudkan transportasi bebas polusi.Kata kunci: pollution control, reduction process, plasma technology
Pengaruh Jumlah Mol Zinc Asetat Dyhidrate Terhadap Struktur Kristal Lapisan Tipis ZnO (0,01; 0,02 dan 0,03 mol) Sari, Lara Permata; Handoko, Erfan; Sugihartono, Iwan
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penumbuhan lapisan tipis ZnO dengan serbuk Zn(CH3COO)2. 2H2O sebagai prekursor dan air de-ionisasi sebagai pelarut, ditumbuhkan di atas substrat Si (111) dengan menggunakan teknik Ultrasonic Spray Pyrolisis (USP). Penumbuhan  lapisan tipis ZnO tersebut menggunakan suhu tumbuh 450oC selama 10 menit, dan jarak nozzle dibuat konstan 30 cm, dengan variasi jumlah mol prekursor 0,01 mol; 0,02 mol dan 0,03 mol. Pengaruh dari jumlah mol tersebut  terhadap struktur, ukuran kristal dan parameter kisi lapisan tipis ZnO dikarakterisasi dengan X-ray diffraction (XRD). Hasil uji berdasarkan data XRD menunjukkan bahwa sampel lapisan tipis ZnO merupakan kristal dengan struktur wurtzite heksagonal. Pola puncak difraksi yang dominan yaitu (100), (002) dan (101), dan  pola puncak  lainnya yang teridentifikasi adalah(103), (201).Kata Kunci:  ZnO, molaritas, USP,  X-Ray Diffraction (XRD), Struktur Kristal. Abstract ZnO thin film with  Zn(CH3COO)2. 2H2O powder as precursor and deionized water as a solvent, ZnO films were grown on substrate Si (111) by using Ultrasonic Spray Pyrolisis (USP) technique has been carried out. The growth temperature 450oC for 10 minutes and the distance of nozzle 30 cm, with the variation of molarity of precursor are 0.01 mol; 0.02 mol and 0.03 mol. The effect of that molarity on structure, crystallite size, the lattice parameter on thin films ZnO were investigated by X-ray diffraction (XRD). The result based on XRD pattern indicated that the samples thin film ZnO are hexagonal wurtzite structure with the (100), (002) and (101) as preferential crystallographic orientation, and the other peak which identified were (103), (201).Keywords: ZnO, Molarity, USP, X-Ray Diffraction (XRD), Crystal structure. 
PROTON DRIPLINE PADA ISOTON N = 28 DALAM MODEL RELATIVISTIC MEAN FIELD (RMF) Diningrum, Jenny Primanita; Nugraha, A.M.; Liliani, Netta; Sulaksono, Anto
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPosisi dua dan satu proton dripline dipelajari dengan menggunakan model Relativistic Mean Field (RMF) termodifikasi. Kami menggunakan tujuh buah  parameter set dari model RMF untuk mempelajari pengaruh kopling isovektor-isoskalar, tensor dan electromagnetic exchange terhadap prediksi proton dripline. Untuk menentukan posisi satu dan dua proton dripline pada isoton N = 28 dilakukan dengan menggunakan metode energi separasi dan energi partikel tunggal. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa prediksi dua proton dripline dari isoton N = 28 dengan menggunakan energi separasi berada  pada Z = 30  untuk parameter set 0.04+T-E dan 0.055+T-E, serta pada Z = 32  untuk kelima parameter set yang lain dan eksperimen. Sedangkan, dari analisa energi partikel tunggal dan energi Fermi proton,  proton dripline diprediksi berada pada Z = 30.  Prediksi menggunakan metode energi separasi satu proton pada inti ganjil menunjukan dripline pada Z = 29 untuk parameter set 0.04+T-E dan 0.055+T-E, serta Z = 31  untuk kelima parameter set yang lain dan eksperimen. Sedangkan, berdasarkan analisa energi partikel tunggal dan energi Fermi proton, satu proton dripline berada pada Z = 31.  Kami juga mendapatkan bahwa kopling isovektor-isoskalar, tensor dan electromagnetic exchange tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prediksi posisi dari satu dan dua proton dripline. Kami juga mengamati bahwa satu dan dua proton dripline tidak memiliki korelasi terhadap sifat bulk inti, seperti skin, energi ikat, dan sebagainya. AbstractOne and two proton driplines are studied within modified Relativistic Mean Field (RMF) model. We use seven RMF parameter sets to study the effects of coupling isovector-isoscalar, tensors, and electromagnetic exchange on prediction of proton driplines. To determine the position of one and two proton driplines of the chain of N = 28 isotones, we use separation energies and single particle energy methods. Our calculation results have shown that prediction two proton dripline of N = 28 isotones using separation energy lies at Z = 30 for 0.04+T-E and 0.055+T-E parameter sets and it lies at Z = 32 for the one of other used parameter sets and the one from experiment. While based on single particle energy and the proton Fermi energy analysis, the proton dripline lies at Z = 30. We also obtain by using one proton separation energy,  the dripline lies at Z = 29 for 0.04+T-E and 0.055+T-E parameter sets and for the one of other used parameter sets and one from experiment lies at Z = 31 . While based on the single particle energy and proton Fermi energy analysis, it lies at Z = 31. We obtain that coupling isovector-isoscalar, tensors, and electromagnetic exchange couplings do not provide a significant effects on the prediction proton driplines. We also observe that one and two proton driplines do not have a strong correlation with bulk properties nuclei, such as skin, binding energy, and so on.Keywords: Relativistic Mean Field (RMF) model, proton driplines, separation energy, single particle energy.
PENGARUH NANOPARTIKEL EMAS TERHADAP PENINGKATAN EMISI CAHAYA KUANTUM DOT Isnaeni, -; Yulianto, Nursidik
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTelah dilakukan penelitian terhadap peningkatan emisi kuantum dot dengan lapisan silika sebesar 90% akibat pengaruh nanopartikel emas. Dalam penelitian ini, kami menggunakan kuantum dot komersial yang memiliki panjang gelombang emisi pada 560 nm. Pelapisan silika pada kuantum dot dilakukan dengan teknik emulsi mikro. Tebal lapisan silika sekitar 10 nm, digunakan sebagai pengisi jarak antara kuantum dot dengan nanopartikel emas. Struktur hidrid kuantum dot dan nanopartikel emas dibuat dengan menggunakan interaksi ionik. Dari gambar SEM kami menemukan bahwa nanopartikel emas tersebar merata dipermukaan kuantum dot yang telah dilapisi oleh silika. Pengukuran emisi kuantum dot dilakukan dengan teknik fotoluminesensi mikro sehingga emisi dari setiap kuantum dot dapat terdeteksi. Dari hasil pengujian didapatkan peningkatan emisi kuantum dot dipengaruhi oleh konsentrasi nanopartikel emas disekitar kuantum dot dan konsentrasi kuantum dot dalam lapisan silika. Kami juga mengamati bahwa pelapisan silika dapat mengurangi efisiensi kuantum dari kuantum dot, namun struktur hibrid kuantum dot dan nanopartikel emas dapat digunakan untuk aplikasi seperti lampu LED.Kata kunci: kuantum dot, nanopartikel emas, pelapisan silika, fotoluminesensi AbstractWe have observed an enhancement of silica-coated quantum dots emission by 90 % due to the present of gold nanoparticles. In this work, we used commercial toluene soluble CdSe/ZnS quantum dots that has emission peak wavelength at 560 nm. The coating of silica was done using reversed micro emulsion method. The thickness of silica, which was about 10 nm, is acting as spacer between quantum dots and gold nanoparticles. The conjugation of gold nanoparticles and silica-coated quantum dots was done using ionic interaction. From SEM image, we found that gold nanoparticles were situating at the surface of silica-coated quantum dots. The measurement of quantum dots emission was done using micro photoluminescence, so that individual silica-coated quantum dots sphere can be monitored. Furthermore, the enhancement depends not only on gold nanoparticles concentration surrounding the quantum dots, but also quantum dot concentration inside silica spheres. However, we noticed that silica coating process has reduced quantum yield of quantum dots. This conjugation structure is useful for optical devices application such as light emitting diodes.Keywords: quantum dot, gold nanoparticles, silica encapsulation, photoluminecence 
FOTOMETRI PLEIADES MENGGUNAKAN KAMERA DSLR Firmansyah, Iman; Priyatikanto, Rhorom; Utama, Judhistira Aria
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSalah satu cabang penelitian dalam bidang astronomi adalah pekerjaan fotometri, yakni pengukuran secara akurat kecerahan dari suatu objek langit pada panjang gelombang tertentu. Dengan semakin populernya kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) sebagai alat perekam citra, maka sangat memungkinkan melakukan pekerjaan fotometri berbasis kamera DSLR dengan sensor CMOS sebagai instrumen alternatif selain kamera Charge Coupled Device (CCD). Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah gugus terbuka M45 (Pleiades Cluster), salah satu gugus terbuka yang paling populer yang ada di rasi Taurus. Citra DSLR medan luas diolah menggunakan perangkat lunak IRIS guna mendapatkan citra pita B, G dan R. Fitur fotometri bukaan IRIS juga digunakan untuk memperoleh nilai magnitudo instrumen bintang-bintang yang ada dalam citra. Transformasi dari sistem Bayer BGR menjadi sistem Johnson-Cousins BVR dilakukan menggunakan persamaan polinom dengan koefisien yang ditentukan melalui regresi linear multivariat. Diagram warna magnitudo yang dikonstruksi dari magnitudo hasil transformasi menunjukkan profil deret utama yang jelas. Dari hasil ini, dapat dideduksi bahwa fotometri DSLR dapat digunakan untuk keperluan ilmiah setelah melalui transformasi yang tepat. Kata-kata kunci: kamera DSLR, gugus terbuka M45, fotometri bukaan, transformasi magnitudo  Abstract One branch of research in the field of astronomy is photometry, that is the measurements of the brightness of astronomical object in specific wavelength. With the growing popularity of Digital Single Lens Reflex (DSLR) cameras as instrument for image recording, it’s possible to do photometrical works using DSLR cameras with CMOS sensors as the alternative instruments to Charge Coupled Device (CCD) cameras. The object of this research is open cluster M45 (Pleiades Cluster), one of the most popular open cluster in Taurus constelation. Wide field image taken using DSLR camera was processed using IRIS software in order to get B, G and R frames. IRIS aperture photometry tool was also used to obtain instrumental magnitude of stars in the image. Transformation from Bayer BGR to standard Johnson-Cousins BVR system has been done using polinomial equation with coefficients determined through multivariate linear regression. Color magnitude diagram constructed using the transformed magnitudes shows a clear main sequence profile. From this result, it can be deduced that DSLR photometry can be used for scientific purpose after going through proper transformation. Keywords: DSLR camera, M45 open cluster, aperture photometry, magnitude transformation  AbstrakSalah satu cabang penelitian dalam bidang astronomi adalah pekerjaan fotometri, yakni pengukuran secara akurat kecerahan dari suatu objek langit pada panjang gelombang tertentu. Dengan semakin populernya kamera Digital Single Lens Reflex (DSLR) sebagai alat perekam citra, maka sangat memungkinkan melakukan pekerjaan fotometri berbasis kamera DSLR dengan sensor CMOS sebagai instrumen alternatif selain kamera Charge Coupled Device (CCD). Objek yang diamati dalam penelitian ini adalah gugus terbuka M45 (Pleiades Cluster), salah satu gugus terbuka yang paling populer yang ada di rasi Taurus. Citra DSLR medan luas diolah menggunakan perangkat lunak IRIS guna mendapatkan citra pita B, G dan R. Fitur fotometri bukaan IRIS juga digunakan untuk memperoleh nilai magnitudo instrumen bintang-bintang yang ada dalam citra. Transformasi dari sistem Bayer BGR menjadi sistem Johnson-CousinsBVR dilakukan menggunakan persamaan polinom dengan koefisien yang ditentukan melalui regresi linear multivariat. Diagram warna magnitudo yang dikonstruksi dari magnitudo hasil transformasi menunjukkan profil deret utama yang jelas. Dari hasil ini, dapat dideduksi bahwa fotometri DSLR dapat digunakan untuk keperluan ilmiah setelah melalui transformasi yang tepat.  Kata kunci : kamera DSLR, gugus terbuka M45, fotometri bukaan, transformasi magnitudo Abstract One branch of research in the field of astronomy is photometry, that is the measurements of the brightness of astronomical object in specific wavelength. With the growing popularity of Digital Single Lens Reflex (DSLR) cameras as instrument for image recording, it’s possible to do photometrical works using DSLR cameras with CMOS sensors as the alternative instruments to Charge Coupled Device (CCD) cameras. The object of this research is open cluster M45 (Pleiades Cluster), one of the most popular open cluster in Taurus constelation. Wide field image taken using DSLR camera was processed using IRIS software in order to get B, G and R frames. IRIS aperture photometry tool was also used to obtain instrumental magnitude of stars in the image. Transformation from Bayer BGR to standard Johnson-Cousins BVR system has been done using polinomial equation with coefficients determined through multivariate linear regression. Color magnitude diagram constructed using the transformed magnitudes shows a clear main sequence profile. From this result, it can be deduced that DSLR photometry can be used for scientific purpose after going through proper transformation. Keywords: DSLR camera, M45 open cluster, aperture photometry, magnitude transformation
SIFAT OPTIK DAN ELEKTRONIK MATERIAL ORGANIK SPIRO-TAD SEBAGAI LAPISAN TRANSPORT HOLE DALAM SEL SURYA ORGANIK Safriani, Lusi; Aprilia, Annisa; Mulyana, Cukup; Susilawati, Tuti
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSemikonduktor berbasis material organik memiliki berbagai keuntungan dibandingkan dengan semikonduktor berbasis material anorganik yang selama ini dipergunakan dalam berbagai divais optik dan elektronik. Diantara berbagai macam semikonduktor organik, material organik terkonjugasi spiro menarik perhatian karena memiliki sifat optik dan sifat elektronik yang unik yang dihasilkan dari ikatan spiro. Material spiro terdiri dari dua atau lebih molekul yang memiliki sistem-p dengan fungsi yang sama ataupun berbeda melalui hibridisasi atom sp3. Salah satu contoh material spiro adalah 2,2′,7,7′-tetrakis(diphenylamino)-9,9′-spirobifluorene (spiro-TAD) yang digunakan sebagai lapisan transport hole dalam divais elektronik organic light emitting diode (OLED). Dalam makalah ini dilakukan kajian untuk menentukan sifat optik dari material spiro-TAD melalui pengukuran transparansi/absorbsi pada daerah UV-Vis dan sifat elektronik melalui pengukuran emisi untuk menentukan celah energi dari spiro-TAD. Hasil pengukuran absorbsi menunjukkan bahwa spiro-TAD memiliki puncak absorbsi pada panjang gelombang 415 nm, sedangkan dari hasil pengukuran emisi diperoleh celah energi spiro-TAD adalah 2.98 eV. AbstractSemiconductor-based organic material has various advantages compared to semiconductor-based inorganic material that has been used in optoelectronic devices. One of organic semiconductors, that is spiro conjugated material attracted much attention because it has an optical and unique electronic properties resulting from spiro bond. Spiro material consists of two or more molecules that have system-p with the same or different functions through atomic sp3 hybridization. One example of spiro material is 2,2 , 7,7-tetrakis (diphenylamino) -9,9-spirobifluorene (spiro-TAD) which is used as hole transport layer in organic light emitting diode (OLED). This paper discussed the optical property of spiro-TAD by measuring transparency/absorption in UV-Vis region and electronic property by measuring emission spectra to determine bandgap of spiro-TAD. Absorbtion spectrum of spiro-TAD shows a maximum peak at 415 nm, while from emission spectra it was found that spiro-TAD has bandgap 2.98 eV.Keywords: OLED, spiro-TAD, hole transport layer
Kajian Sifat Dielektrik pada Nanopartikel Magnetite (Fe3O4) yang Dienkapsulasi Polimer Polyethylene Glycol (PEG-4000) Heriansyah, -; Mustawarman, -; Suharyadi, Edi
Jurnal Spektra Vol 16, No 3 (2015): Spektra: Jurnal Fisika dan Aplikasinya
Publisher : Jurnal Spektra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKajian sifat dielektrik telah dipelajari pada nanopartikel magnetite (Fe3O4)  yang dienkapsulasi polimer Polyethylene Glycol (PEG-4000) dengan variasi konsentrasi 0%, 33%, 50% dan 75%  pada jangkauan frekuensi 10-120 kHz. Sifat dielektrik diukur menggunakan spektroskopi impedansi, dengan hasil berupa konstanta dielektrik riil (εr’), dielektrik imajiner (εr”), dan rugi tangen  (tan δ). Konstanta dielektrik mengalami penurunan dengan meningkatnya frekuensi yang disebabkan polarisasi interfacial, hal ini sesuai  dengan  model dua lapisan dari  Maxwell-Wagner. Selain itu Konstanta dielektrik menurun dengan meningkatnya konsentrasi PEG-4000. Terlihat pada frekuensi 10 kHz konstanta dielektrik sampel dengan konsentrasi PEG 33% dan 50%  masing-masing bernilai 252,5 dan 208,6.Hal ini terjadi karena ukuran yang besar lebih konduktif dari ukuran yang kecil. Selain itu terdapat pengaruh fase lain yang muncul pada sintesis nanopartikel magnetite (Fe3O4)  yang dienkapsulasi PEG terhadap sifat dielektrik. Rugi tangen  mengecil dengan meningkatnya frekuensi dan meningkat dengan bertambahnya konsentrasi PEG. Hasil pengukuran sifat dielektrik menunjukkan keoptimalan pada sampel yang dienkapsulasi dengan konsentrasi PEG yang rendah, dikarenakan memiliki kehilangan energi yang kecil, dan sifat dielektrik menurun tidak begitu signifikan.Kata kunci: Dielektrik riil, Dielektrik imajiner, Fe3O4 , Polyethylene Glycol (PEG). AbstractDielectric properties of Fe3O4 nanoparticles encapsulated with polymer Polyethylene Glycol (PEG-4000) have been studied under various concentration 0%, 33%, 50% and 75% in the  frequency range 10-120 kHz. Dielectric properties measured by impedance spectroscopy, and obtained real dielectric constant (εr’), imaginary dielectric (εr”), and loss tangent. Dielectric constant decreased rapidly with increasing frequency because of the interfacial polarization, this phenomena corresponding to the two-layer model as predicted Maxwell-Wagner. Moreover, the higher PEG concentration, the lower the value of dielectric constant. At the frequency 10 kHz, dielectric constant of the sample with 33% and 50% concentration of PEG is 252.5 and 208.6 respectively. This occurred because the bigger grain size more conductive than the small one. Besides that, found the influence of the other phases that appear on the synthesis of Fe3O4 nanoparticles encapsulated with PEG to the dielectric properties. The loss tangent decreases as the increase of frequency, and it increases as the increase PEG concentration.  The results show that the dielectric properties of the sample, reach the optimal value with the low PEG concentration, since it has a low dissipation and the decrease of dielectric properties is not significant.Keywords: Real Dielectric, Imaginayr Dielectric, Fe3O4 , Polyethylene Glycol (PEG).

Page 1 of 2 | Total Record : 14