cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
ISSN : 14118033     EISSN : 26140101     DOI : 10.18196/mm
Core Subject : Health,
Jurnal Mutiara Medika Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (MMJKK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health.
Arjuna Subject : -
Articles 889 Documents
Efek Profilaksis Perasan Daun Paederia foetida L. terhadap Ulkus Lambung Tikus Putih Terinduksi Etanol Makiyah, Sri Nabawiyati Nurul; Fitra, Bayu Kurniawan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (s) (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gastric ulcer is an ulcer which is caused by acid and pepsin which is happened because imbalance between aggressive and defensive factors. There is some causes of gastric ulcer, for the examples non steroid anti-inflammatory drugs (NSAID), irritant factors, alcohol, foods and beverages and also helicobacter pylori. The purpose of this research is to prove prophylaxis effect of P. foetida L. leaves squeeze to gastric ulcer in the white rats which has been induced by ethanol. Research method which is used is laboratory experimental with post only control group research design. Thirty female Spraque Dawley white rats with 3 months in age and 145-250 grams in weight is divided into 6 groups (normal control, negative control, group with 2% squeeze, 4% squeeze, 8% squeeze and positive control). Sample grouping is done randomly. Ulcer induction with 1 ml of 80% ethanol is done after the rats given P foetida L. leaves squeeze for 3 days and fasted for 24 hours. Scoring the depth of the ulcer and distribution of inflammatory cells is done by microscopic observation according of Hadi, S (2002). Result of the depth of the ulcer is analyzed which kruskall-wallis and continued with mann whitney. Result of the distribution of inflammatory cells is analyzed which one way anova and continued with paired T-test. Statistic result shows depth in group of ulcer squeeze in leaves P. foetida L. 8% is less than from a group of negative control (p<0,05). In the other groups of squeeze that 2% and 4%, shows that the depth of ulcer is less than a group of negative control too, although in statistic it was not significant (p>0,05). In observation the spreading of inflammatory cell shows that group of leaves P. foetida L. squeeze 2%, 4% and 8% are less than group of negative control in the other hand in statistic was not significant (p>0,05). The conclution is squeeze of leaves P. foetida L. 8 % has prophylaxis effect with gastric ulcer of white rats induced by ethanol.Ulkus lambung adalah ulkus yang disebabkan oleh asam dan pepsin, yang terjadi akibat ketidakseimbangan antara faktor agresif dan faktor defensif. Ada banyak penyebab tukak lambung, seperti obat anti inflamasi non steroid (OAINS), beberapa faktor iritan seperti, alkohol makanan dan minuman serta kuman Helycobacter pylori. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium dengan rancangan penelitian post only control group. Sebanyak 30 ekor tikus putih betina Spraque Dawley 3 bulan, dibagi menjadi 6 kelompok (kontrol tanpa perlakuan, kontrol negatif, perlakuan perasan 2%, 4%, 8% dan kontrol positif). Pengelompokkan sampel dilakukan secara acak. Tikus diberi perasan daun PfoetidaL. selama 3 hari dan dipuasakan selama 24 jam kemudian induksi ulkus menggunakan 1 ml etanol 80%. Penilaian kedalaman ulkus dan penyebaran sel radang dilakukan melalui pengamatan mikroskopis menurut Hadi, S. (2002). Hasil pengamatan kedalaman ulkus dianalisis secara statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil pengamatan penyebaran sel radang dianalisis secara statistik menggunakan One Way Anova dilanjutkan dengan Paired T- Test. Hasil statistik menunjukkan kedalaman ulkus kelompok perasan daun P foetida L. 8% lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif (p<0,05). Pada kelompok perasan 2% dan 4%, juga menunjukkan kedalaman ulkus lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif meskipun secara statistik tidak signifikan (p>0,05). Pada pengamatan penyebaran sel radang menunjukkan kelompok perasan daun P. foetida L. 2%, 4% dan 8% lebih rendah daripada kelompok kontrol negatif meskipun secara statistik tidak signifikan (p>0,05). Dapat disimpulkan bahwa perasan daun P. foetida L. 8% memiliki efek profilaksis terhadap ulkus lambung tikus putih terinduksi etanol.
Kajian Stress Oksidatif Pada Bayi Prematur Suhartono, Eko; Setiawan, Bambang; Mashuri, Mashuri
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2005)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preterm babies can be considered as a disease with an oxidative stress compo-nent. Beside that, in preterm babies found any disease which have causal link with the action of reactive oxygen species. Damaged which mediated by reactive oxygen species caused bay decreased of endogenous antioxidant defense. In the hospital preterm babies can expose by some source o oxidative stress, such blood transfusion, high concentration oxygen therapy, and parenteral nutrition feeding.Bayi prematur dapat dipertimbangkan sebagai penyakit akibat komponen stress oksidatif. Kerusakan yang ditimbulkan oleh Senyawa Oksigen Reaktif tersebut diperantarai oleh rendahnya sistem antioksidan endogen. Di samping itu, dalam perawatan di rumah sakit, bayi prematur sering terpajan berbagai kondisi yang merupakan sumber stress oksidatif. Kondisi tersebut dapat berupa transfusi darah, terapi oksigen konsentrasi tinggi, dan pemberian makan dengan nutrisi parenteral.
Terapi Kognitif dan Perilaku pada Gangguan Obsesif Kompulsif Puspitosari, Warih Andan
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 9, No 2 (2009)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of Obsessive Compulsive Disorder about 2-3%, mostly happened on male teenagers. The causes are multifactors including biological, behavior and psychosocial factor, so the treatment needs farmacotherapy and psychotherapy. The combination of SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) and Cognitive Behavioral Therapy is the first choice to manage Obsessive Compulsive disorder. The aim of this case report is to reporting the treatment of Obsessive Compulsive disorder by using the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy. A patient, male, 18th years old was brought by his mother to the Psychiatry outpatient department for doing something repeatedly. It was annoyed him and other person. The mental status examination showed that he always thought repeatedly and did something, so that he will felt released. His neurological and psysical status were within normal limite. After he was treated with the combination of SRI and Cognitive Behavioral Therapy for 5 sessions, he is getting better.Prevalensi Gangguan ObsesifKompulsif berkisar antara 2-3% populasi, pada remaja lebih banyak terjadi pada laki-laki. Penyebabnya multifaktorial meliputi faktor biologi, perilaku dan psikososial, sehingga penatalaksanaannya memerlukan farmakoterapi dan psikoterapi. Kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku merupakan pilihan pertama. Terapi kognitif perilaku memerlukan sedikitnya 12 sesi pertemuan, berdasarkan pengalaman praktek yang terjadi di Indonesia, sulit dilakukan karena terlalu lama, rumit, dan faktor biaya. Dicoba modifikasi untuk menyingkat menjadi 5 sesi terapi. Tujuan penulisan laporan kasus ini adalah melaporkan hasil penatalaksanaan penderita Gangguan Obsesif Kompulsif dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi. Seorang pasien, laki-laki, berusia 18 tahun diantar oleh ibunya ke poliklinik jiwa karena sering mengulang-ulang suatu perbuatan, yang sudah mengganggu pasien dan orang lain. Pemeriksaan status mental didapatkan adanya pikiran berulang yang mengganggu dan harus dikerjakan agar merasa lega. Pada status internus dan status neurologikus belum ditemukan adanya kelainan. Setelah dilakukan penatalaksanaan dengan menggunakan kombinasi antara golongan SRI (Serotonin Reuptake Inhibitor) dan terapi kognitif perilaku modifikasi 5 sesi, pasien mengalami perbaikan gejala klinis.
Perbedaan Tingkat Endurance antara Pria Bertipe Kepribadian A dan Pria Bertipe Kepribadian B Bastian, Lutfia Putri; Mahanggoro, Tri Pitara
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 3 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Endurance atau daya tahan menyatakan keadaan yang menekankan pada kapasitas kerja secara terus menerus. Diartikan sama dengan kebugaran jasmani yaitu kemampuan seseorang menyelesaikan tugas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berarti. Daya tahan kardiorespirasi merupakan faktor utama dalam kebugaran jasmani. Pengukuran daya tahan kardiorespirasi untuk kapasitas aerobik dapat dilakukan dengan cara mengukur konsumsi oksigen maksimal (VO2max) . Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Penelitian menggunakan metode Astrand 6 minutes cycle test pada nilai VO2max dengan subyek sebanyak 60 pria yang terdiri dari 30 pria bertipe kepribadian A dan 30 pria bertipe kepribadian B. Data dianalisis menggunakan independent sample t test. Hasil penelitian didapatkan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian A sebesar 31,8393 ± 2,14534 ml/ kg/ menit dan rerata nilai VO2max pada kelompok pria bertipe kepribadian B sebesar 36,3470 ± 3,15498 ml/ kg/ menit. Didapatkan perbedaan yang bermakna antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B (p=0,000). Disimpulkan terdapat perbedaan tingkat endurance antara pria bertipe kepribadian A dan pria bertipe kepribadian B. Pria bertipe kepribadian A memiliki tingkat endurance yang lebih rendah dibandingkan pria bertipe kepribadian B. Endurance  is a condition that is showed continuous work capacity. Interpreted same as physical fitness is the ability of someone to complete everyday tasks without experiencing significant fatigue. Cardiorespiratory endurance is a main factor in physical fitness. Measurement of cardiorespiratory endurance for aerobic capacity can be done by measuring the maximal oxygen uptake (VO2max). The research aims to see if there are differences of endurance level between personality type A male and personality type B male. Research using the Astrand 6 minutes cycle test on the value of VO2max by as many as 60 male subjects consist of 30 male with personality type A and 30 male with personality type B. Data were analyzed using independent sample t test. Results showed the mean value of VO2max in the group personality type A male is 31.8393 ± 2.14534 ml/ kg/ min and the mean value of VO2max in the group personality type B is 36.3470 ± 3.15498 ml/ kg /min. Found significant differences between personality type A male and personality type B male (p = 0.000). The conclusion there are different levels of endurance between personality type A male and personality type B male. Male with personality type A have lower levels of endurance than male with personality type B.
Perbedaan Angka Trombosit pada Pasien DHF Setelah Pemberian Transfusi PRP (Platelet Rich Plasma) dengan TC (Thrombocyte Concentrate) Sumantri, Triandari; Suryanto, -
Jurnal Mutiara Medika Vol 11, No 3 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) atau Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dengan manifestasi klinis demam, nyeri otot, dan/atau nyeri sendi yang disertai lekopenia, ruam, limfadenopati, trombositopenia dan diatesis hemoragik. Trombositopeni merupakan salah satu kriteria yang dikemukakan WHO sebagai diagnosis klinis DHF. Salah satu bentuk penanganan DBD adalah dengan cara pemberian transfusi trombosit. Sediaan transfusi trombosit ada dua macam yaitu PRP (Platelet Rich plasma) dan TC (Thrombocyte Concentrate) . Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan angka trombosit pada pasien DHF setelah pemberian transfusi Platelet Rich Plasma (PRP) dengan Thrombocyte Concentrate (TC) di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Desain penelitian ini adalah deskriptif analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Data diperoleh dari bagian Rekam Medik RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta periode 1 Januari 2009 – 31 Mei 2010. Data yaitu angka trombosit pada pasien DHF sebelum dan sesudah diberikan transfusi PRP ataupun TC. Didapatkan 97 pasien yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dari penelitian ini. Dari penelitian ini didapatkan hasil uji statistik dengan Mann-Whitney test didapatkan nilai p = 0,739. Nilai p > 0 ,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan angka trombosit antara pemberian transfusi PRP dengan TC pada pasien DHF.
Pengaruh Pendedahan Pengharum Ruangan Gel dan Spray terhadap Diameter Tubulus Seminiferus dan Konsentrasi Sperma pada Tikus (Rattus norvegicus) Yuningtyaswari, -; Muhammad, Krisna; Noor, Zulkhah
Jurnal Mutiara Medika Vol 13, No 1 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengharum ruangan mengandung subtansi berbahaya seperti phtalate dan formaldehid yang dapat mengganggu sistem reproduksi. Pthalate dan formaldehid sebagai radikal bebas berpengaruh terhadap ekspresi gen, produksi steroid hormon, gangguan sel Leydig, penurunan fungsi sel Sertoli, dan berkurangmya ekspresi reseptor pada sel-sel sistem reproduksi. Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratorium dengan post-test only group design. Subjek penelitian adalah 18 tikus (Rattus norvegicus) yang dibagi menjadi tiga kelompok (gel (G), spray (S) dan kontrol (K)). Perlakuan dilakukan selama 30 hari. Hari ke-31 dilakukan pembedahan untuk pengambilan organ testis dan perhitungan konsentrasi sperma. Organ dibuat preparat dengan pengecatan Hematoxilin Eosin, dilanjutkan dengan pengukuran diameter tubulus seminiferus di bawah mikroskop, lalu data diuji statistik dengan One-Way ANOVA. Hasil uji statistik dengan One-Way ANOVA menunjukkan perbedaan diameter tubulus seminiferus yang bermakna pada setiap kelompok uji (p<0,05) dengan hasil kelompok gel berdiameter paling kecil. Hasil uji One-Way ANOVA konsentrasi sperma tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna (p>0,05) akan tetapi kelompok gel menunjukkan konsentrasi sperma yang paling kecil. Disimpulkan bahwa pendedahan pengharum ruangan dapat mempengaruhi diameter tubulus seminiferus. Air Freshener contains harmful substances witch can disrupt the reproductive system such as formaldehyde and phthalate. Phthalate and formaldehyde as free radicals influence the gene expression, the production of steroid hormones, disturb Leydig cell, degeneration of Sertoli cell fuctions, and the expression of receptors on cells of the reproductive system is reduced. The aims of this study is to determined the effects of air freshener gels and spay exposure to the seminiferous tubules diameter and the concentration of sperm in rat. This research   is pure experimental laboratory approach with post-test only group design. Objects of this study were 18 white rats and it was divided into three groups (gel group (G), spray (S) and control (K)). The treatment carried out for 30 days with controled feed and condition of experimentals animals. We conduct surgery to got the diameter of the seminiferous tubules and sperm concentration in 31th day, and the data were formulate statistically by One-Way ANOVA. Statistical tests resulted significant comparison of seminiferous tubules diameter on each test group (p <0.05). In the statistical test of sperm concentration it hadn’t showed differences significanly (p> 0.05). It can be concluded that exposure to fragrances can affect indoor diameter of the seminiferous tubules.
Peroksidasi Lipid dan Aktivitas Enzim Pembersih pada Diabetes yang Diinduksi Streptozotocin Astuti, Yoni
Jurnal Mutiara Medika Vol 2, No 1 (2002)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji peroksidasi lipid dan aktivitas ensim pembersih pada diabetes yang diinduksi Streptozotocin. Penelitian ini juga dilakukan untuk menetapkan apakah dosis sedang vitamin E sebagai antioksidan nonensimatik berperan utama dalam sistem pertahanan tubuh oleh antioksidan pada tikus hamil dan bayinya. Subyek yang terlibat pada penelitian ini terdiri dari 30 ekor tikus galur Wistar betina normal, yang diberi dosis tunggal Streptozotocin (40 mg/Kg BB) dan dikawinkan 7 hari kemudian. Selanjutnya tikus yang diabetikdibagi dalam 2 kelompok yang sesuai yaitu,kelompok I diberi suplemen vitamin E dengan dosis (30 mg/100 g pakan), dan kelompok II diberi pakan dengan diet standart rendah vitamin E Kelompok kontrol terdiri dari 15 ekor tikus hamil. Pada hari pertama setelah kelahiran tikus di dekapitasi dan hepar induknya dihomogenat dan uterus maupun paru - paru bayi tikus dan hepar di preparasi. Kemudian dilakukan pengukuran untuk parameter - parameter berikut: konsentrasi Malondialdehid (MDA) pada homogenat dan serum darah, kadar Glutathione(GSH), aktivitas superoksida-CuZn dismutase dan Glu¬tathione peroksidase (G-Px) dan Glikemia. Dari hasil yang diperoleh ternyata bayi tikus diabetik lebih kecil dari pada bayi tikus normal,dan kadar gula serumnya jauh lebih tinggi pada bayi tikus diabetik. Kadar MDA meningkat bermakna sedangkan GSH, SOD,dan GPx jauh berkurang pada tikus dewasa diabetik dan bayinya dibandingkan dengan kelompok kontrol. Pada tikus yang diberi suplemen vitamin E, kadar MDA lebih rendah bermakna, Kadar GSH dan aktivitas SOD sangat meningkat pada jaringan-jaringan yang diamati sedangkan aktivitas GPx tetap tidak berubah. Penelitian ini berkesimpulan bahwa dengan mengamati aktivitas ensim - ensim pembersih tertentu, informasi adanya stress oksidatif secara biologi yang terjadi terus menerus serta status janin/bayi dapat diamati. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tikus hamil diabetik dan anaknya terpapar stress oksidatif yang meningkat, dan suplemen vitamin E mampu menurunkan pengaruh yang menggangu dari stress tersebut
Hubungan Angka Neutrofil dengan Mortalitas Infark Miokard Akut Utami, Mugi Restiana; Gugun, Adang Muhammad
Jurnal Mutiara Medika Vol 12, No 1 (2012)
Publisher : Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Infark Miokard Akut (IMA) adalah kondisi otot jantung yang tidak mendapatkan cukup darah dan oksigen. Jaringan yang mengalami infark dapat menimbulkan reaksi peradangan pada daerah perbatasan antara infark dengan jaringan hidup. Neutrofil dengan cepat memasuki daerah yang mati dan mulai melakukan penghancuran. Neutrofilia merupakan petanda inflamasi pada kejadian koroner akut dan mempunyai nilai prognostik. Belum ada penelitian yang spesifik pada angka neutrofil sebagai prediktor mortalitas infark miokard akut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan angka neutrofil dengan mortalitas IMA. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain studi kasus kontrol dengan menggunakan rekam medis di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Subjek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dikelompokkan menjadi kelompok meninggal dan kelompok yang masih hidup. Didapatkan 146 sampel yang dibagi menjadi 2 kelompok, 38 orang dalam kelompok yang meninggal dan 108 orang untuk kelompok yang masih hidup. Hasil analisis dengan chi square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara kelompok yang meninggal maupun yang masih hidup dengan nilai OR 1,476 (95% CI 0,65-3,22; p=0,368), sehingga dapat disimpulkan bahwa angka netrofil tidak berhubungan dengan mortalitas IMA.Acute Myocardial Infarction (AMI) is an insufficiency of oxygen and blood in myocard. Infarction can induce inflammation reaction in borderline area of infarct and health tissue. Neutrophil enter to infarct area immediately and destroy. Neutrophilia is inflammation marker in acute coroner syndrome and have prognostic value. There is no a specific research about neutrophil as predictor of mortality of acute myocardial infarction. The objective research is to ascertain the relationship between neutrophil counts following acute myocardial infarction during hospitalization. An observational analytical research was done on AMI patients were hospitalized in the PKU Muhammadiyah Yogyakarta Hospital with case control design using medical records. Subject who fulfilled inclusion and exclusion criteria were divided into 2 groups, death group and live group. There were 146 samples which were divided into 2 groups, 38 patients in death group and 108 patients in live group. Chi square test showed that there is no significance statistically between death group and live group with OR 1,44 (95% CI 0,65-3,22; p=0,368). Neutrophil count does not related with mortality of AMI.
Whorl Pattern and Total Ridge Count on Patient with Essential Hypertension at Ulin Hospital Banjarmasin Rosida, Lena; Khatimah, Husnul
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dermatoglypics can used to predicted a disease such as essential hypertension. The aim of this research is to know of summary of whorl pattern and total ridge count on patient with essential hypertension in department of internal medicine of Ulin hospital Banjarmasin period Juli – August 2007. Sample of research from patient with essential hypertension that diagnosed by doctor in department of internal medicine of Ulin hospital Banjarmasin (32 samples), control samples are from normotension person (32 samples). The variables that observed are summary of whorl pattern and total ridge count. The result show that patient with essential hypertension with whorl pattern > 6 is 81,25 %, normotension is 25%. Summary of average of total ridge count in patient with essential hypertension is 147,38, normotension is 129,38. It can be concluded there is difference from patient with whorl pattern > 6 and total ridge count between essential hypertension with control (p<0,05). Dermatoglifi dapat digunakan untuk memprediksi penyakit seperti hipertensi esensial. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola sidik jari whorl  dan total jumlah rigi sidik jari pada pasien dengan hipertensi esensial di bagian penyakit dalam rumah sakit Ulin Banjarmasin periode Juli – Agustus 2007. Sampel penelitian adalah pasien dengan hipertensi esensial yang didiagnosis oleh dokter di bagian penyaki dalam rumah sakit Ulin Banjarmasin sebanyak 32 sampel, kontrol dari pasien dengan normotensi sebanyak 32. Variabel penelitian adalah pola sidik jari whorl dan total jumlah rigi sidik jari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien hipertensi esensial dengan pola whorl > 6 adalah 81,25%, normotensi adalah 25%. Rata-rata jumlah rigi sidik jari pada pasien dengan hipertensi esensial adalah 147,38, normotension adalah 129,38. Disimpulkan bahwa ada perbedaan dari pasien dengan pola whorl > 6 dan total jumlah rigi sidik jari antara hipertensi esensial dengan kontrol (p <0,05).
Kajian terhadap Pemeriksaan Haemoglobin (Hb) Indriawati, Ratna
Mutiara Medika: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 2 (2002)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The prevalence of anemia among pregnant women and under-five-year- old children in Indonesia is still very high. Hemoglobin (Hb) estimation assists in detecting anemia. There are two methods on measuring Hb by colorimetries i.e. Sahli and Talquist. The objective of this study was to compare the value of Sahli and Talquist methods by using the agreement test. This study was conducted in Physiology Laboratory, Faculty of Medicine, Muhammadiyah University of Yogyakarta. A total number of 39 students who took Physiology were enrolled to this study. The Hb level measurement was conducted by trained students. Two students conducted the Hb level measure-ment using Sahli and Talquist methods randomly. Subjects of the study were 39 students consisted of 18 men and 21 women. The age mean was 20 ± 2,2. Using Talquist method, the Hb levels among men were significantly higher than women (p-0.02). Kappa coeffisient was calcu-lated to know the agreement between Sahli and Talquist methods. The Hb levels were catagorized into two groups using cut-off point 12 mg/dl, 10 mg/dl and 8 mg/dl, respectively. The agreement based on those three cut-off point was low, kappa coefficient were 0.24, 0.20 and 0.22, respectively. There were differences on the Hb level measurement between Sahli and Talquist methods (the agreement test with K=0,24; K=0,22 and K=0,20 were low).Prevalensi anemia pada wanita hamil dan anak-anak di bawah lima tahun di Indonesia masih sangat tinggi. Untuk menentukan adanya anemia perlu pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb). Pemeriksaan kadar Hb secara kolorimetris ada 2 cara yaitu, metode Sahli dan Talquist Tujuan dari penelitian ini adalah membandingkan hasil pengukuran kadar Hb menggunakan metode Sahli dan Talquist dengan uji kesepakatan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Fisiologi, Fakultas Kedokteran Univer-sitas Muhammadiyah Yogyakarta. Jumlah subyek 39 orang mahasiswa yang mengambil matakuliah fisiologi. Mahasiswa sebelumnya dilatih dahulu. Dua orang mahasiswa melakukan pemeriksaan Hb dengan metode Sahli dan Talquist, secara acak. Subyek penelitian ini adalah 39 mahasiswa, terdiri dari 18 laki-laki dan 21 perempuan, yang berusia rata-rata 20 +2,2 tahun. Pemeriksaan kadar Hb metode Talquist didapatkan perbedaan bermakna antara kadar Hb laki-laki dan perempuan (p=0,02). Perhitungan dengan koefisien Kappa untuk mengetahui kesepakatan antara metode Sahli dengan Talquist. Kadar Hb dikategorikan diam 2 kelompok menggunakan cut-off point 12 g/dl, 10 g/dl dan 8 g/dl. Uji kesepakatan pada 3 cut¬off point tersebut rendah, koefisien Kappa 0,24,0,20 dan 0,22. Terdapat perbedaan hasil pemeriksaan kadar Hb metode Sahli dan Talquist (uji kesepakatan dengan K=0,24, K=0,22 dan K=0,20 rendah).

Page 1 of 89 | Total Record : 889


Filter by Year

2001 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 22, No 2 (2022): July Vol 22, No 1 (2022): January Vol 21, No 2 (2021): July Vol 21, No 1: January 2021 Vol 21, No 1 (2021): January Vol 20, No 2: July 2020 Vol 20, No 2 (2020): July Vol 20, No 1: January 2020 Vol 20, No 1 (2020): January Vol 20 No 1: January 2020 Vol 19, No 2: July 2019 Vol 19, No 2 (2019): July Vol 19, No 1: January 2019 Vol 19, No 1 (2019): January Vol 19 No 2: July 2019 Vol 19 No 1: January 2019 Vol 18, No 2: July 2018 Vol 18, No 2 (2018): July Vol 18, No 1: January 2018 Vol 18, No 1 (2018): January Vol 18 No 2: July 2018 Vol 18 No 1: January 2018 Vol 17, No 2: July 2017 Vol 17, No 2 (2017): July Vol 17, No 1: January 2017 Vol 17, No 1 (2017): January Vol 17 No 2: July 2017 Vol 17 No 1: January 2017 Vol 16, No 2: July 2016 Vol 16, No 2 (2016): July Vol 16, No 1: January 2016 Vol 16, No 1 (2016): January Vol 16 No 2: July 2016 Vol 16 No 1: January 2016 Vol 15, No 2 (2015): July Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015): January Vol 15, No 1 (2015) Vol 15, No 2 (2015) Vol 15, No 1 (2015) Vol 14, No 2 (2014): July Vol 14, No 2 (2014) Vol 14, No 1 (2014): January Vol 14, No 1 (2014) Vol 14, No 1 (2014) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 13, No 3 (2013) Vol 13, No 2 (2013) Vol 13, No 1 (2013) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 12, No 3 (2012) Vol 12, No 2 (2012) Vol 12, No 1 (2012) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 11, No 3 (2011) Vol 11, No 2 (2011) Vol 11, No 1 (2011) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 10, No 2 (2010) Vol 10, No 1 (2010) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 9, No 2 (s) (2009) Vol 9, No 2 (2009) Vol 9, No 1 (s) (2009) Vol 9, No 1 (2009) Vol 8, No 2 (s) (2008): Oktober Vol 8, No 2 (s) (2008): Juli Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (S) (2008): Januari Vol 8, No 1 (s) (2008): April Vol 8, No 1 (2008) Vol 8, No 2 (s) (2008) Vol 8, No 2 (2008) Vol 8, No 1 (s) (2008) Vol 8, No 1 (2008) Vol 7, No 2 (s) (2007): Oktober Vol 7, No 2 (s) (2007): Juli Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 7, No 2 (s) (2007) Vol 7, No 2 (2007) Vol 7, No 1 (s) (2007) Vol 7, No 1 (2007) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 6, No 2 (2006) Vol 6, No 1 (2006) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 5, No 2 (2005) Vol 5, No 1 (2005) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 4, No 2 (2004) Vol 4, No 1 (2004) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 3, No 2 (2003) Vol 3, No 1 (2003) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 2, No 2 (2002) Vol 2, No 1 (2002) Vol 1, No 2 (2001) Vol 1, No 2 (2001) More Issue