cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota jambi,
Jambi
INDONESIA
Jambi Medical Journal "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan"
Published by Universitas Jambi
ISSN : 2339269X     EISSN : 25806874     DOI : -
Core Subject : Health,
Jambi Medical Journal is a Journal for Medical And Health Issues, in Scope: Medical Education, Farmakology, Mikrobiology, PUblic Health, Clinical Patology, Medical Nutrition, Clinical Medicine, Pediatric, Immunology, Patology Anatomi, Orthopedy, Obstetri and Gynekology, Internal Medicine, Endocrine and Metabolic, Genetics & Molecular Biology.
Arjuna Subject : -
Articles 15 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan" : 15 Documents clear
KEMAMPUAN CLINICAL REASONING PADA UJIAN OSCE MAHASISWA KEDOKTERAN TAHUN KETIGA
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (127.918 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7057

Abstract

ABSTRACT Background : Clinical reasoning is one of the clinical skill competencies that must be owned by a doctor so it needs to be studied and tested. The OSCE is one method of assessment that can be used to assess the achievement of clinical reasoning. OSCE in the third year at Faculty of Medicine Islamic University of Indonesia (FM IUI) has been using clinical case OSCE so that can be used to assess clinical reasoning skill in addition to others clinical skills such as physical examination and clinical procedural skills. This study aimed to evaluate the clinical reasoning skills of students in the third year of the OSCE exam at FM IUI. Methods : The cross sectional study method was used in this study. OSCE test result semesters 5 and 6 of the academic year 2015/2016 collected. Clinical reasoning skills of students in OSCE obtained from the score of the diagnosis ability in clinical case OSCE station. The difference between clinical reasoning skill on each OSCE station and its correlation with the written test on the corresponding block were analyzed. Results: There is differences between clinical reasoning skill in OSCE stations semester 5 and 6. There was no relationship between the score clinical reasoning skills at the OSCE with written test achievement on the corresponding block. Conclusion: The clinical reasoning skills on the OSCE semesters 5 and 6 do not illustrate the clinical reasoning skills of third-year medical students in this study. This study supports the need for further development of the assessment of clinical reasoning skills on the OSCE for medical students. Keywords : clinical reasoning, OSCE, medical student ABSTRAK Latar Belakang: Penalaran klinis atau clinical reasoning merupakan salah satu kompetensi keterampilan klinis yang harus dimiliki oleh seorang dokter sehingga perlu dipelajari dan diujikan. OSCE merupakan salah satu metode assessment yang dapat digunakan untuk menilai pencapaian clinical reasoning. OSCE pada tahun ketiga di FK UII telah menggunakan kasus klinis untuk dapat juga menilai clinical reasoning disamping keterampilan klinis yang lain seperti pemeriksaan fisik dan tindakan prosedural. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kemampuan clinical reasoning mahasiswa kedokteran pada ujian OSCE tahun ketiga di FK UII. Metode : Metode yang digunakan adalah cross sectional dari hasil ujian OSCE semester 5 dan 6 tahun akademik 2015/2016. Kemampuan clinical reasoning mahasiswa pada ujian OSCE didapatkan dari nilai kemampuan menegakkan diagnosis pada stasion OSCE yang berupa manajemen kasus klinis. Nilai OSCE direkap pada semua mahasiswa yang mengikuti ujian pada periode tersebut. Analisis dilakukan dengan melihat perbedaan kemampuan clinical reasoning antar station OSCE dan menilai korelasinya dengan ujian tulis pada blok yang bersesuain . Hasil: Terdapat perbedaan kemampuan clinical reasoning antar stasion OSCE baik di semester ke 5 maupun ke 6. Tidak terdapat hubungan antara nilai kemampuan diagnosis pada ujian OSCE dengan pencapaian nilai ujian tulis blok yang berkaitan dengan konten OSCE yang diujikan. Kesimpulan: Kemampuan diagnosis pada ujian OSCE semester 5 dan 6 tidak menggambarkan kemampuan clinical reasoning mahasiswa tahun ketiga pada penelitian ini. Diperlukan evaluasi dan pengembangan lebih lanjut mengenai penilaian dan pencapaian kemampuan clinical reasoning pada ujian OSCE bagi mahasiswa kedokteran. Kata kunci : clinical reasoning, OSCE, mahasiswa kedokteran
Hubungan Imunoekspresi Annexin V (ANX V) dengan Histopatologi Jaringan Kuretase pada Abortus Berulang
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.13 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7058

Abstract

ABSTRACT Background : Abortion the ending of pregnancy due to removing an embryo or fetus before it can survive outside the uterus. Examination on placental tissue currently does not provide much information. Annexin V (ANX V), formerly known as placenta anticoagulant protein and alpha coagulant vascular, is found in the placenta and vascular endothelium and several other tissues. This ANX V is found at the top of the placenta syncytiotrophoblast, and it is also found that this protein content freely decreases with the antiphospholipid syndrome (APS). This study aimed to assess the relationship between the description of ANX V expression and histopathology of curettage tissue in patients with recurrent abortion. Methods : This study was conducted using curettage tissue samples of patients with recurrent abortion in the Obstetrics and Gynecology section of Abdul Manap Hospital and Baiturahim Hospital in February to August 2018. The collected samples were diagnosed with HE preparations, to determine histopathological features in each group, villi infarction. hydrophic villi, sincytial knots, fibrin stroma and inter villi thrombus with the highest total score were 15. Then immunohistochemical assessment with Annexin V (ANX V) results compared with positive controls and negative controls with cut-off points 10%. Results: We have found a recurrent abortion sample with positive Annexin V immunoexpression, which is the most common histopathological score of 11-15 on recurrent abortion (p = 0.001 and r = -0.784) Conclusion: There is a relationship between immunohistochemistry ANX V with histopathological features of recurrent abortion curettage. Keywords: Annexin V, Histopathology, Recurrent abortion ABSTRAK Latar Belakang: Abortus adalah keadaan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Pemeriksaan pada jaringan plasenta saat ini tidak banyak memberikan informasi. Annexin V (ANX V), dulu dikenal dengan placental anticoagulant protein I dan vascular coagulant alfa, ditemukan di plasenta dan endotel vaskular dan beberapa jaringan yang lain. ANX V ini ditemukan di puncak permukaan sinsitiotrofoblas plasenta, dan ditemukan pula bahwa kadar protein ini secara bermakna menurun di villi plasenta penderita abortus dengan antiphospholipid syndrome (APS). Penelitian ini bertujuan melihat hubungan gambaran ekspresi ANX V dengan histopatologi jaringan kuretase pada penderita abortus berulang. Metode : Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan sampel jaringan kuretase pasien abortus berulang di bagian Obstetri dan Ginekologi RS Abdul manap dan RS Baiturahim periode februari sampai agustus 2018. Sampel yang terkumpul dilakukan diagnosis terhadap sediaan HE, untuk menetukan gambaran histopatologis pada masing-masing kelompok yaitu infark villi, hidrofik villi, sincytial knots, fibrin stroma serta trombus inter villi dengan skor total tertinggi adalah 15. Kemudian dilakukan pemulasan dan penilaian imunohistokimia dengan Annexin V (ANX V) Hasil pulasan imunohistokimia Anti ANX V dibandingkan dengan kontrol positif dan kontrol negative dengan cut-off point 10%. Hasil: Didapatkan 30 sampel abortus berulang dengan imunoekspresi Annexin V positif, didapatkan paling banyak dengan skor histopatologi 11- 15 pada abortus berulang (p = 0.001 and r = -0.784). Kesimpulan: Terdapat hubungan antara imunohistokimia ANX V dengan gambaran histopatologi pada kuretase abortus berulang. Kata Kunci: Annexin V, Histopatologi, Abortus berulang
THE HIGH DOSE TOXICITY OF BETEL NUT (Areca catechu L.) ON REPRODUCTION ORGAN OF RATS
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.797 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7059

Abstract

ABSTRACT Background : The use of long-term herbal medicines and high doses can damage organs, including the reproductive organs. Betel nut (Areca catechu L.) is one of the herbal ingredients that is consumed as a stamina enhancing beverage. The purpose of this study was to determine the effect of longterm treatment of raw betel nut at a dose of 10,000 mg/kg on testicular and ovary tissue of rats. Rats were Rattus norvegicus, Sprague Dawley strain, 2-3 months. Methods : Tweenty rats divided into 2 groups, each groups were 5 male and 5 female. Control group was given aquades and the treatment group was given raw betel nut with a dose of 10,000 mg/kgBW for 45 days with a gastrictube. Histopathological examination with Haematoxylin-Eosin staining was used to assses testicular and ovary tissues. Results: The ovaries of treatment groups had significantly lower de graff follicle compared to the control group (p < 0,05). The testis of treatment groups had significantly smaller diameter of tubulus seminifery, significantly higher necrosis of spermatogonia and spermatosit (p<0,05). Conclusion: Treatment of raw betel nut dose 10,000 mg /kgBW along 45 days causes damage of testicular and ovary tissues of rats.Keywords: Betel Nut, Areca Catechu L., Histopathology, Testicular, Ovary, Herbal Toxicity ABSTRAK Latar Belakang: Pemakaian obat herbal jangka panjang dan dosis tinggi dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh, termasuk organ reproduksi. Biji pinang (Areca catechu L.) merupakan salah satu bahan herbal yang dikonsumsi sebagai minuman penambah stamina.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian biji pinang muda dosis 10.000 mg/ kgBB selama 45 hari terhadap gambaran histopatologis testis dan ovarium tikus. Metode : Tikus yang digunakan adalah Rattus norvegicus galur Spague Dawley, usia 2-3 bulan, sebanyak 10 ekor jantan dan 10 ekor betina yang dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol diberikan aquades dan kelompok perlakuan diberikan biji pinang dosis 10.000 mg/ kgBB dengan sonde. Pemeriksaan histopatologi dengan pewarnaan Haematoxylin-Eosin untuk organ testis dan organ ovarium. Hasil: Jumlah folikel de draf pada kelompok perlakuan lebih sedikit dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Persentase nekrosis spermatogonia dan spermatosit pada kelompok perlakuan lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05), diameter tubulus seminifeus pada kelompok perlakuan juga lebih kecil dibandingkan kelompok kontrol (p<0,05). Kesimpulan: Pemberian biji pinang 10.000 mg/kgBB selama 45 hari menyebabkan kerusakan pada jaringan testis dan ovarium pada tikus. Kata Kunci : Biji Pinang, Areca Catechu L, Histopatologi, Ovarium, Testis, Toksisitas herbal
Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS)
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (155.952 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7060

Abstract

ABSTRACK Introduction: The Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) is rare case and the most serious acute hyperglycemic emergency in patients with type 2 diabetes, are characterized by severe hyperglycemia, hyperosmolality, and dehydration in the absence of ketoacidosis. Immediately treatment is necessary to reinstate hemodynamic stability, as mortality rates for HHS are exceptionally high and can have multiple complications. Case Presentation: In this case report, a 63-year-old man with a chiefly complaint from the body became weaker. Patients present with compos mentis, blood pressure 100/70 mmHg, regular pulse rate 110 times per minute with sufficient content and respiration 20 times per minute, and temperature 37,90C. Physical examination shows signs of dehydration. Investigation found white blood cell 12.580 103/mm3, plasma glucose 741 mg / dL, and a negative urine ketone. Conclusion: Case has been reported, a 63-year-old man with a diagnosis of HHS, the trigger factor for HHS in these patient are the discovery of infections as bronchopneumonia, elderly, and irregular diabetes treatment. The importance of treatment in this case is because the patient is elderly, treatment must be right because where too rapid rehydration may precipitate heart failure but insufficient may fail to reverse acute kidney injury. Keywords: Diabetes Mellitus, Hyperosmolar Hyperglycemic State, Hyperglycemia ABSTRAK Latar Belakang : Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) merupakan kasus yang jarang dan komplikasi emergensi akut dari pasien diabetes melitus tipe 2, dengan karakteristik hiperglikemi, hiperosmolar dan dehidrasi atau tidak adanya ketoasidosis. Tatalaksana segera penting dilakukan untuk menstabilkan hemodinamik, mortalitas dari HHS tinggi dan dapat menyebabkan banyak komplikasi. Presentasi Klinis : Pada laporan kasus ini, seorang laki-laki berusia 63 tahun dengan keluhan utama badan semakin lemas. Pasien datang dengan kesadaran kompos mentis, tekanan darah 100/70 mmHg, nadi teraba 110 kali per menit kuat regular dengan isi cukup dan respirasi 20 kali per menit, dan suhu 37,90C . Pemeriksaan fisik didapatkan tanda-tanda dehidrasi. Pemeriksaan penunjang dijumpai sel darah putih 12.580, glukosa plasma 741 mg/dL, dan keton urine negatif. Kesimpulan : Telah dilaporkan kasus, laki-laki usia 63 tahun dengan diagnosa HHS, faktor pencetus terjadinya HHS pada pasien ini yaitu ditemukannya infeksi berupa bronkopneumonia, usia lanjut, pengobatan diabetes yang tidak teratur. Pentingnya perawatan dalam kasus ini adalah karena pasien berusia lanjut, pengobatan harus benar karena ketika rehidrasi yang terlalu cepat dapat memicu gagal jantung tetapi tidak cukup dapat gagal untuk membalikkan cedera ginjal akut. Kata Kunci : Diabetes Melitus, Hyperglycemic Hyperosmolar State, Hiperglikemi
STUDI KASUS: OBSERVASI PENERAPAN METODE BEDSIDE PADA PROSES BEDSIDE TEACHING DI BANGSAL PENYAKIT DALAM RUMAH SAKIT SARDJITO YOGYAKARTA
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.405 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7061

Abstract

ABSTRACT Bedside teaching is an excellent opportunitiy for spontaneuous interaction between student, clinical supervisor, and patient. In bedside teaching sessions there are possibilities for appropriate and inappropriate encounter. Clinical supervisor observes and gives feedback in order to create a useful bedside teaching session for student. Bedside teaching session observed in Internal Ward of Sardjito Hospitol has applied Briefing, Expectation, Demonstration, Specific feedback, Inclusion of microskill teaching, Debriefing and Education accordingly. Student has obtained optimal learning opportunity from the event. Keywords: Bedside teaching, clinical, feedback ABSTRAK Bedside teaching adalah suatu kondisi yang baik untuk interaksi yang spontan antara mahasiswa, pembimbing klinik, dan pasien. Dalam sesi Bedside teaching terdapat kemungkinan terjadi prosedur yang sesuai ataupun yang kurang sesuai. Seseorang pembimbing klinik berperan untuk mengamati dan memberi umpan balik sehingga dapat menjadi sesi bedside teaching yang berguna bagi mahasiswa. Pelaksanaan Bedside teaching di Bangsal Penyakit Dalam RS Sardjito menerapkan tahapan Briefing, Ekspektasi, Demonstrasi, Umpan balik spesifik, Penerapan pengajaran microskill, Debriefing, dan Edukasi telah diterapkan dengan baik. Mahasiswa memperoleh manfaat yang optimal dari proses tersebut. Kata kunci: Bedside teaching, klinik, umpan balik
KADAR INTERFERON GAMMA (IFNγ) PADA PASIEN TOKSOPLASMOSIS YANG ASIMPTOMATIK
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.372 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7062

Abstract

ABSTRACT Background: Toxoplasma gondii is a species that is able to modulate its host immune system. T.gondii infection causes an increased Th1 response to produce IFNγ, TNFα and IL-12 secreted by T. IFNγ lymphocytes which are activated and cause increased production of Nitric Oxide (NO) which can cause cell apoptosis and IFNγ can destroy T.gondii with several mechanisms. The aim of this study was to determine IFN levels in patients with positive IgG and asymptomatic IgG toxoplasmosis.Methods: Case control research with experimental laboratories that use human blood as the object of research. The subjects were initially checked for blood with IgG Rapid Test to determine the positive or negative Toxoplasma infection. IFNγ levels are checked by the ELISA method. To analyze the average comparison of IFNγ levels using computer software. Test the data normality with Saphiro-wilk and comparison of IFNγ levels with Wilcoxon test.Results: IFNγ levels in the negative IgG group (4.69) were slightly lower on average compared to the positive IgG group (4.79). Wilcoxon test results of p> 0.05 (0.399) means that the hypothesis is rejected.Conclusion: There was no difference between IFNγ levels in the positive IgG group and the negative IgG group.Keywords: Toxoplasmosis, IFNγ level, IgG toxoplasmosis. ABSTRAK Latar belakang: Toksoplasma gondii merupakan spesies yang mampu memodulasi sistem imun inangnya. Infeksi T.gondii menyebabkan respon Th1 meningkat untuk memproduksi IFNγ, TNFα dan IL-12 yang disekresi oleh sel limfosit T. IFNγ diaaktifkan dan menyebabkan meningkatnya produksi Nitric Oxide (NO) yang bisa menyebabkan apoptosis sel dan IFNγ bisa memusnahkan T.gondii dengan beberapa mekanisme. Tujuan penelitian ini untuk menentukan kadar IFNγ pada pasien IgG positif dan IgG Toksoplasmosis yang asimptomatik. Metode: Penelitian case control dengan eksperimental laboratorik yang mengunakan darah manusia sebagai objek penelitian. Subjek awalnya di cek darahnya dengan Rapid Test IgG untuk menentukan positif atau negatif infeksi toksoplasma. Kadar IFNγ dicek dengan metode ELISA. Untuk menganalisa perbandingan rerata kadar IFNγ menggunakan perangkat lunak komputer. Uji normalitas data dengan Saphiro-wilk dan perbandingan kadar IFNγ dengan uji Wilcoxon. Hasil: Kadar IFNγ pada kelompok IgG negatif (4,69) rata-rata lebih rendah sedikit dibandingkan dengan kelompok IgG positif (4,79). Uji Wilcoxon hasil p>0,05 (0,399) artinya hipotesis ditolak. Kesimpulan: Tidak ada perbedaan antara kadar IFNγ pada kelompok IgG positif dengan kelompok IgG negatif. Kata Kunci : Toksoplasmosis, Kadar IFNγ, IgG Toksoplasmosis
HUBUNGAN ANTARA KADAR TGF-Β1 DENGAN KADAR ALBUMIN DALAM URIN PASIEN DM TIPE-2 DENGAN NEFROPATI DIABETIK
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.912 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7070

Abstract

ABSTRACT Background: Diabetic nephropathy (DN) is a complication of diabetes in the kidney that frequently causes terminal kidney disease. This kidney disease caused by diabetes is a syndrome characterized by albumin in urine (albuminuria). Growth factor-β1 (TGF- β1) is a multifunctional cytokine that controls many biological processes, including immunity, differentiation, tumor suppression, tumor metastasis, aging, migration, wound healing, apoptosis, adipogenesis, and osteogenesis. Previous studies had showed that TGF-β1 plays a role in albuminuria, where TGF-β1 expression in the kidney increases in diabetes patients. Elevation of cytokine level, especially transforming growth factor beta-1 (TGF-β1) that induces the increase of several extra cellular matrices (ECM), i.e. fibronectin, integrin-linked kinase (ILK) and type IV collagen. This TGF-β1 activity causes the accumulation of ECM, which leads to thickened glomerular basement membrane (GBM). Thickening of GBM and changes in kidney structure in the form of hypertrophy and reduced glomerular podocytes caused by apoptosis and attachment in GBM causes protein components to exit through urine (albuminuria). This study aimed to prove the correlation between transforming growth factor-β1 and albumin level in urine of diabetic nephropathy. Metode : This study a observasional with desain Cross-sectional comparative study. Results: Mean TGF-β1 level in type 2 DM patients with diabetic nephropathy in this study was 47.30 ± 14.70 ng/ml, with similar value between men and women with 43.1 ng/ml and 44.7 ng/ml, respectively. Out of 60 type 2 DM participants with ND, the mean albuminuria level according to ACR was 722.53 ± 1854.96 mg/g. The result of male participants was lower compared to female participants, with 667.8 mg/mg and 777.2 mg/g, respectively. Conclusion: There was insignificant correlation between TGF-β1 in diabetic nephropathy (DN) and albumin level in urine measured using albumin and urine creatinine ratio (ACR) (p = 0.066). Keywords: Diabetic Nephropathy, Albuminuria, TGF-β1 ABSTRAK Latar Belakang : Nefropati diabetik (ND) merupakan komplikasi diabetes pada ginjal yang paling sering menyebabkan terjadinya penyakit ginjal terminal. Penyakit ginjal akibat diabetes ini merupakan sindroma dengan karakteristik terdapatnya albumin dalam urine (albuminuria). Faktor pertumbuhan-β1 (TGF-β1) adalah sebuah sitokin multifungsi yang mengendalikan banyak proses biologis termasuk kekebalan, diferensiasi, tumor supresi, tumor metastasis, penuaan, migrasi, penyembuhan luka, apoptosis, adipogenesis, dan osteogenesis. Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa TGF-β1 berperan terhadap terjadinya albuminuria, dimana pasien diabetes didapatkan ekspresi TGF-β1 di ginjal meningkat. Peningkatan kadar cytokine terutama Transforming Growth Factor Beta-1 (TGF-β1) yang menginduksi peningkatan beberapa Extra Cellular Matrix (ECM) antara lain fibronectin, integrin-linked kinase (ILK) dan collagen tipe-IV. Aktifitas TGF-β1 ini menyebabkan akumulasi ECM sehingga terjadi penebalan Glomerular Basement Membrane (GBM). Penebalan dari GBM dan terjadinya perubahan struktur ginjal berupa hipertrofi dan berkurangnya sel-sel podocyte glomerulus akibat kerusakan (apoptosis) dan perlengketan di GBM menyebabkan komponen protein keluar melalui urin (albuminuria). Tujuan penelitian ini untuk membuktikan hubungan antara kadar transforming growth factor-β1 dengan kadar albumin dalam urin pada Nefropati Diabetik. Metode : Penelitian ini merupakan penelitian Observasional dengan desain Cross-sectional comparative study. Hasil : Kadar rata-rata TGF-β1 pasien DM tipe-2 dengan Nefropati Diabetik pada penelitian ini adalah 47,30 ± 14,70 ng/ml, tidak jauh berbeda antara laki-laki yaitu 43,1 ng/ml dengan perempuan 44,7 ng/ml. Dari 60 orang responden DM tipe-2 dengan ND pada penelitian ini didapatkan kadar albuminuria rata-rata berdasarkan ACR adalah 722,53 ± 1854,96 mg/g. Responden laki-laki lebih rendah dibanding perempuan yaitu 667,8 mg/g berbanding 777,2 mg/g. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara TGF-β1 pada Nefropati Diabetik (ND) dengan kadar albumin dalam urin yang dihitung berdasarkan rasio albumin dan creatinin urin (ACR) (p=0,066). Kata Kunci : Nefropati Diabetik, Albuminuria, TGF-β1
Supervisi Klinik Stase Mayor Pada Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.554 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7112

Abstract

ABSTRACT Background: Clinical phase in medical education is education that carried out through the teaching and learning process in the form of clinical and community learning that employs various forms and levels of health services. At clinical phase learning , students are given the opportunity to be involved in health services with the guidance and supervision of clinical supervisors. Clinical supervision has a positive impact on patient health and the knowledge development of medical students. Research Objective: This study aims to determine the clinical supervision overview in the major stage at Teaching Hospital of Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi University based on student perceptions. Method: This research is a combination of quantitative research and qualitative research. Quantitative research conducted was a cross sectional study using the Clinical Teaching Effectiveness Instrument (CTEI) questionnaire. The usage of the CTEI questionnaire in this study was to find out the clinical supervision overview in the major stage at Teaching Hospital based on student perceptions. Furthermore, qualitative research was conducted with focus group discussions (FGD) to confirm and explore the perceptions of the students based on the results of questionnaire analysis. Results: Overall, for every 15 items of clinical supervision in each major stage had a mean CTEI score > 3 with a score range of 3.6- 4.1. Range of scores on the Internal Medicine Department 3.2 - 4.7; Pediatric Department 3.4 - 3.8; Surgery Department 3.6 - 4 and Obgyn Department 3.7- 4. Conclusion: Based on the results, it can be concluded that the clinical supervision of the major stages at Teaching Hospital of Faculty of Medicine and Health Sciences Jambi University has been run well. Keywords: clinical supervision, CTEI, medical students ABSTRAK Latar Belakang: Pendidikan kedokteran fase klinik adalah pendidikan kedokteran yang dilaksanakan melalui proses belajar mengajar dalam bentuk pembelajaran klinik dan pembelajaran komunitas yang menggunakan berbagai bentuk dan tingkat pelayanan kesehatan nyata. Pada pembelajaran fase klinik mahasiswa diberi kesempatan terlibat dalam pelayanan kesehatan dengan bimbingan dan pengawasan supervisor klinik . Supervisi klinik memiliki dampak yang positif terhadap kesehatan pasien dan perkembangan pengetahuan mahasiswa kedokteran. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran supervisi klinik di stase mayor Rumah Sakit pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi berdasarkan persepsi mahasiswa Metode: Penelitian ini merupakan gabungan antara penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif. Penelitian kuantitatif yang dilakukan merupakan, studi cross sectional dengan menggunakan kuesioner Clinical Teaching Effectiveness Instrument (CTEI). Penggunaan kuesioner CTEI pada penelitian ini untuk mengetahui gambaran supervisi klinik di stase mayor Rumah Sakit pendidikan berdasarkan persepsi mahasiswa. Selanjutnya dilakukan penelitian kualitatif dengan diskusi kelompok terfokus (DKT) untuk mengkonfirmasi dan mengeksplorasi persepsi mahasiswa tersebut berdasarkan hasil analisis kuesioner Hasil: Secara keseluruhan untuk setiap 15 item supervisi klinik di setiap bagian mayor memiliki rerata skor CTEI > 3 dengan rentang skor 3.6- 4.1. Rentang skor pada Bagian Ilmu penyakit Dalam 3.2 – 4.7; Bagian Ilmu kesehatan anak 3.4 – 3.8; Bagian Ilmu Bedah 3.6 – 4 dan Bagian Obgyn 3.7- 4. Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa supervisi klinis stase mayor di Rumah Sakit Pendidikan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi telah berjalan dengan baik. Kata kunci: supervisi klinik, CTEI, mahasiswa kedokteran
Studi Fenomenologi tentang Faktor Risiko Penularan Tuberculosis Paru di Perumnas Way Kandis Lampung
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.655 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7117

Abstract

Abstract Pulmonary tuberculosis (TB) is a contagious disease caused by Mycobacterium tuberculosis with the highest mortality rate in worldwide. Indonesia is one of big five country with the highest incidency. Based on distribution per province, Lampung was in the tenth with 7,627 new TB cases in 2017. The purpose of this research was to determine the risk factors of pulmonary tuberculosis in Perumnas Way Kandis Subdistrict. Methods:This is a qualitative research with phenomenological approach. Samples was determined purposively based on appropriateness and adequateness. This research involved 5 people with BTA (+) who are undergoing treatment and 5 people who are the patients’ close family as informant. Data was collected by observation and interview. Data validity was maintained with triangulation and analysed with Milles and Huberman Model. Results: Based on indepth interview, understanding of the informants of TB was good; most of informants did not know the ways and the sources of TB transmission; informants had a habit of not using masks; most of informants with TB do a routine treatment; the close family of informants with TB support and remind them taking medication; distance of the houses between informants with TB is close enough, do not have good sun lighting and air circullation. Conclusion: The priority cause of TB is the low compliance in using masks so the priority solution is to distribute masks for TB patients. Keywords: Indepth interview, mask, tuberculosis Abstrak Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan angka kematian tertinggi di dunia. Indonesia termasuk dalam lima besar negara dengan insiden tertinggi. Berdasarkan sebaran per provinsi, Lampung berada di posisi kesepuluh dengan 7.627 kasus TB baru pada tahun 2017. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor risiko penularan TB paru di Kelurahan Perumnas Way Kandis. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pemilihan sampel ditetapkan secara langsung (purposive) dengan prinsip kesesuaian (appropriateness) dan kecukupan (adequateness). Jumlah sampel terdiri dari 5 orang pasien BTA (+) yang sedang menjalani pengobatan dan 5 orang keluarga terdekat pasien sebagai informan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Validitas data dijaga dengan triangulasi dan analisis data menggunakan model Milles dan Huberman. Hasil: Berdasarkan indepth interview, pengetahuan informan mengenai TB sudah baik; sebagian informan tidak mengetahui cara dan sumber penularan TB; informan memiliki kebiasaan tidak menggunakan masker; sebagian besar informan dengan penyakit TB melakukan pengobatan secara rutin; keluarga besar informan dengan penyakit TB mendukung dan mengingatkan untuk minum obat; jarak rumah antarpenderita TB berdekatan serta tidak memiliki pencahayaan matahari dan sirkulasi udara yang baik. Kesimpulan: Prioritas penyebab TB adalah rendahnya kepatuhan menggunakan masker sehingga jalan keluar yang diprioritaskan adalah dengan kegiatan pembagian masker bagi para penderita TB. Kata kunci: Indepth interview, masker, tuberkulosis
EFEK SALEP EKSTRAK PINANG TERHADAP LEVEL FIBROBLAST DAN KOLAGEN PADA PROSES PENYEMBUHAN LUKA
JAMBI MEDICAL JOURNAL "Jurnal Kedokteran dan Kesehatan" Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan
Publisher : FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (216.422 KB) | DOI: 10.22437/jmj.v7i1.7121

Abstract

ABSTRACT Background: Some plants, such as betel nuts (Areca catechu), is used as traditional antiseptic. Betel nut mash is applied on ulcus wound. Fibroblast and collagen are important factor in wound healing. Research objective : this study is to determine the effect of betel nuts extract on fibroblast and collagen level in full thickness wound healing processs. Methodology: this study used male rats Sprague dawney that randomly divided into 3 groups. Groups I received no treatment, groups II and III received areca catechu extracts with concentration 15% and 30% respectively. There are 12 rats in each groups. The treatment is given every day without wound’s debridement. Incision were made full thickness with diameter size 1,5 cm, on right back skin was made by lidocain anesthesia subcutaneously. Wound area were measured every days. Termination of rats were done in day 7 and day 16 to histopathology assessment with Haematoxylin-Eosin stain for fibroblast and collagen level by semiqualitative score. Results: level of collagen were higher in group that received extract but level of fibroblast were lower than control group in histopathology of day 7th. Conclusion: Extract of betel nut increased level of collagen. Keyword : areca catechu, betel nuts, wound, fibroblast, collagen, histopathology ABSTRAK Latar belakang : Beberapa tanaman digunakan sebagai antiseptik luka, salah satunya biji pinang untuk penyembuhan luka ulkus. Fibroblast dan kolagen merupakan salah satu faktor penting dalam penyembuhan luka. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengetahui efek ekstrak biji pinang terhadap level fibroblast dan kolagen pada proses penyembuhan luka full thickness Metode : Penelitian ini menggunakan tikus galur Sprague dawney jantan berusia 2-3 bulan dan telah mendapatkan persetujuan etik. Setelah aklimatisasi, tikus dibagi secara acak masing-masing 12 ekor dalam 3 kelompok, yaitu kelompok I tanpa perlakuan, kelompok II diberikan salep ekstrak biji pinang 15%, kelompok III diberikan salep ekstrak biji pinang 30%. Luka full thickness dibuat dengan diameter 1,5 cm di daerah punggung belakang bagian kanan dengan anestesi lidokain subkutan. Perlakuan dilakukan setiap hari tanpa debridemen luka. Luas luka diukur setiap hari. Terminasi dilakukan pada hari ke 7 dan 16 untuk pemeriksaan histopatologi jaringan luka dengan pengecatan Haematoxylin-Eosin. Skoring secara semikualitatif untuk menilai fibroblast dan kolagen. Hasil : Pada kelompok ekstrak pinang terdapat peningkatan level kolagen, akan tetapi tidak terjadi peningkatan level fibroblast pada hasil histopatologi luka kulit hari ke-7. Kesimpulan : terjadi peningkatan level kolagen pada pemberian ekstrak biji pinang. Kata kunci : biji pinang, luka, histopatologi, fibroblast, kolagen

Page 1 of 2 | Total Record : 15


Filter by Year

2019 2019


Filter By Issues
All Issue Vol. 11 No. 4 (2023): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 11 No. 3 (2023): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Special Issues: Jambi M Vol. 11 No. 2 (2023): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Special Issues: Jambi M Vol. 11 No. 1 (2023): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 10 No. 4 (2022): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 10 No. 3 (2022): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 10 No. 2 (2022): Special Issues: Jambi Medical And Health Sciences International Conference (JA Vol. 10 No. 1 (2022): Jambi Medical Journal: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 9 No. 1 (2021): Special Issues: JAMHESIC 2020 Vol. 9 No. 3 (2021): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 9 No. 2 (2021): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 8 No. 2 (2020): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 8 No. 1 (2020): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 7 No. 2 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 7 No. 1 (2019): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 6 No. 2 (2018): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 6 No. 1 (2018): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran Dan Kesehatan Vol. 5 No. 2 (2017): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2017): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2016): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2016): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 3 No. 2 (2015): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2015): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2014): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 2 No. 1 (2014): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2013): THE JAMBI MEDICAL JOURNAL Vol. 1 No. 1 (2013): JAMBI MEDICAL JOURNAL Jurnal Kedokteran dan Kesehatan More Issue