cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies)
ISSN : 2339191X     EISSN : 24069760     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Recently, the value of arts studies in higher education level is often phrased in enrichment terms- helping scholars find their voices, and tapping into their undiscovered talents. IJCAS focuses on the important efforts of input and output quality rising of art education today through the experiences exchange among educators, artists, and researchers with their very own background and specializations. Its primary goals is to promote pioneering research on creative and arts studies also to foster the sort of newest point of views from art field or non-art field to widely open to support each other. The journal aims to stimulate an interdisciplinary paradigm that embraces multiple perspectives and applies this paradigm to become an effective tool in art higher institution-wide reform and fixing some of biggest educational challenges to the urban imperative that defines this century. IJCAS will publish thoughtprovoking interdisciplinary articles, reviews, commentary, visual and multi-media works that engage critical issues, themes and debates related to the arts, humanities and social sciences. Topics of special interest to IJCAS include ethnomusicology, cultural creation, social inclusion, social change, cultural management, creative industry, arts education, performing arts, and visual arts.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020" : 6 Documents clear
Exploring Self-existence through RajutKejut Craftivism: A case study in Penjaringan Forest, Jakarta Sari Wulandari; Guntur Guntur; Martinus Dwi Marianto
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4653

Abstract

RajutKejut is a knitting community in Jakarta, Indonesia, that has been doing yarnbombing activities since 2014. In 2019, Jakarta Arts Council invited RajutKejut to collaborate with Kampung Air Baja residents in Penjaringan, North Jakarta, in a program called Young Curator Class: Titik Temu Gembira. The program combines forces between RajutKejut and urban village residents to explore life from a different perspective, specifically through art activism. This program’s spirit helps residents have joyful independent lives with dignity through art that encourages life’s passion. The RajutKejut Community shares its knowledge with residents on making necklaces from threads for their dance costumes. This research discusses how RajutKejut brings forward the passion of life through art activism. This research uses Alyce McGovern’s Craftivism method, which dissects craftivism in personal, community, and political aspects. It shows the relation of art to the residents, how art can influence and raise an individual’s potential. The community aspect shows the relation of art and the residents and how art can restore the spirit of togetherness and cooperation. On the political aspect, the art facilitates statements of empowerment from the residents. Through RajutKejut craftivism, the residents have the social capital to help them catch their breath for a while, stop their routines for a moment, and allow them to feel their existence as human beings who have expressions and feelings. Eksplorasi Eksistensi Diri melalui Kraftivisme RajutKejut: Studi Kasus di Hutan Penjaringan, Jakarta ABSTRAK RajutKejut adalah komunitas merajut di Jakarta, Indonesia yang telah melakukan kegiatan ‘bom-benang’ sejak tahun 2014. Pada tahun 2019, Dewan Kesenian Jakarta mengundang RajutKejut untuk berkolaborasi dengan warga Kampung Air Baja di Penjaringan, Jakarta Utara, dalam program Kelas Kurator Muda: Titik Temu Gembira. Program tersebut menggabungkan potensi komunitas RajutKejut dan warga kampung kota untuk mengeksplorasi kehidupan melalui perspektif yang berbeda, khususnya lewat aktivisme seni. Semangat program ini adalah membantu warga untuk memiliki kehidupan mandiri yang menyenangkan dan bermartabat, melalui seni yang mendorong gairah hidup. Komunitas RajutKejut berbagi pengetahuan kepada warga kampung kota, cara membuat kalung dari benang untuk kostum tari mereka. Penelitian ini membahas bagaimana RajutKejut mendorong gairah hidup melalui aktivisme seni. Penelitian ini menggunakan metode Craftivism Alyce McGovern, yang membedah craftivism dalam aspek personal, komunitas, dan politik. Penelitian menunjukkan relasi seni dengan warga kampung, bagaimana seni dapat mempengaruhi dan meningkatkan potensi individu. Dalam aspek komunitas, menunjukkan bagaimana seni berelasi dengan masyarakat dapat mengembalikan semangat kebersamaan dan kerjasama. Pada aspek politik, kesenian memfasilitasi pernyataan pemberdayaan dari warga kampung. Melalui kraftivisme RajutKejut, warga kampung memiliki modal sosial untuk membantu mereka mengatur napas sejenak, menghentikan rutinitas sejenak, dan memberi mereka kesempatan untuk merasakan keberadaannya sebagai manusia yang memiliki ekspresi dan perasaan.
Graffiti Virtual Exhibition “Pandemic Youth” Donna Carollina
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4655

Abstract

In the middle of March 2020, Indonesia declared a Covid-19 emergency. This pandemic has an impact on art activities, including the artistic world of graffiti. During this time, the activities of graffiti artists in public spaces were increasingly limited. However, this limitation does not dampen their spirit, especially in terms of organizing exhibitions. Where on May 17, 2020, they held a virtual exhibition titled "Youth Pandemics." This topic is interesting to discuss since organizing a virtual exhibition is a new thing for graffiti artists, especially in Indonesia. This research uses the descriptive qualitative method. This study's results reveal that implementing a virtual exhibition gave new alternative space for graffiti artists during a pandemic. Also, a virtual exhibition is a place to gather for graffiti artists amid their social limitations. Pameran Virtual Graffiti “Pandemic Youth” ABSTRAK Medio Maret 2020 Indonesia dinyatakan darurat Covid-19. Pandemik ini berdampak pada aktivitas seni termasuk di dalamnya dunia artistik graffiti. Selama pandemik, aktivitas artistik pelaku graffiti di ruang publik semakin terbatas. Namun batasan ini tidak menyurutkan semangat berkesenian sebagian pelaku graffiti, terutama dalam hal penyelenggaraan pameran. Dimana pada 17 Mei 2020 lalu mereka menyelenggarakan pameran virtual bertajuk “Pandemic Youth”. Topik ini menarik untuk dibahas mengingat upaya penyelenggaraan pameran virtual ini merupakan hal yang baru bagi pelaku graffiti khususnya di Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Hasil dari penelitian ini mengungkap bahwa penyelenggaraan pameran virtual menambah alternatif baru bagi ruang berekspresi para pelaku graffiti di tengah pandemik. Selain itu pameran virtual sekaligus menjadi wadah berkumpul bagi para pelaku graffiti di tengah keterbatasan sosial mereka.
Art and Artist Movement in Banten Edi Bonetski X PengPeng Gisela Anindita
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4656

Abstract

Banten is one of the provinces in Indonesia. It is located in the westernmost of Java. Art Movement in Banten is not as famous as Jakarta, Yogyakarta, nor Bali. Being an Artist is not the most famous, not even an option for Banten's job or career. Being an artist in Banten is because the people are not familiar with the art, especially contemporary art. So being an artist in Banten means also being an educator for social change. Edi Bonetski and PengPeng, both are Banten born and raised artist, are trying to make an art movement in Banten. They are doing what I called "terror" in the two cities of Banten. Serang and Tangerang, through their artistic collaboration. The aim is to habituate people in Banten for seeing art. The more they make, the more people will get used to appreciate and live with art. They also made their artistic collaboration in the crowd area, so people can watch how art makes. This "terror" might be something common in Jakarta or Yogyakarta, but not in Banten. They change people's minds about art through their process demo and collaborate with anybody in the process. This practice is to engage people to learn art by doing an art activity. Pergerakan Seni dan Seniman di Banten Studi Kasus: Edi Bonetski X PengPeng ABSTRAK Banten adalah salah satu provinsi di Indonesia ysng terletak di paling barat Pulau Jawa. Gerakan Seni Rupa di Banten memang tidak terlalu terkenal dibanding Jakarta, Yogyakarta, atau Bali. Menjadi seniman bukanlah yang populerl, bahkan tidak menjadi pilihan pekerjaan atau karir di Banten. Perjuangan menjadi seniman di Banten disebabkan oleh masyarakat yang belum mengenal seni khususnya seni kontemporer. Menjadi seniman di Banten berarti juga sekaligus menjadi pendidik untuk perubahan sosial. Edi Bonetski dan PengPeng, merupakan dua seniman yang lahir dan besar di Banten, yang mencoba membuat gerakan seni di Banten. Mereka melakukan apa yang saya sebut dengan "teror" di dua kota Banten. Yakni Serang dan Tangerang, melalui kolaborasi seni mereka. Tujuannya adalah untuk membiasakan masyarakat Banten untuk melihat kesenian. Semakin banyak mereka membuat, semakin banyak orang yang terbiasa untuk mengapresiasi dan hidup dengan seni. Mereka juga berkolaborasi di area keramaian, sehingga masyarakat bisa menyaksikan bagaimana proses pembuatannya. "Teror" ini mungkin sudah biasa di Jakarta atau Yogyakarta, tapi tidak di Banten. Bagaimana mereka mengubah pikiran orang tentang seni melalui demo proses mereka, dan kolaborasi dengan siapa pun dalam prosesnya. Latihan ini mengajak masyarakat untuk belajar seni dengan melakukan aktivitas seni.
Teaching Film in New Normal Era at Film Department, Universitas Multimedia Nusantara Annita Annita
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4650

Abstract

COVID-19 has forced many people to adjust to the new situation. The Indonesian education system has been changed drastically because of this pandemic. Although online learning differs from traditional class meetings, most academic institutions switch directly to online without necessary adjustments. As a result, many students experience zoom fatigue. The same thing also happened in the writer's university. Thus, adjustment toward the teaching-learning strategies is needed to avoid this exhaustion. In this research, the writer applied asynchronous learning in one of the film courses. The asynchronous was applied in ten meetings uploaded on the university's online platform. At the end of the semester, a survey was conducted to evaluate the method. This research is aimed to explore other possible methods in teaching film. It is necessary because teaching film requires a lot of physical and social interaction, which is impossible during this era.Pengajaran Film Pada Era Kenormalan Baru di Prodi Film Universitas Multimedia Nusantara ABSTRAK COVID-19 telah membuat sistem pendidikan Indonesia berubah secara drastis. Sebagian besar institusi akademik beralih langsung ke pembelajaran daring, tanpa membuat penyesuaian dengan media daring yang memiliki karakteristik sangat berbeda dari pembelajaran tatap muka di kelas. Akibatnya, banyak siswa yang mengalami kelelahan karena tatap muka daring. Hal yang sama juga terjadi di universitas penulis. Oleh karena itu, penyesuaian terhadap strategi belajarmengajar diperlukan untuk menghindari kelelahan ini. Dalam penelitian ini penulis menerapkan pembelajaran asinkron di salah satu mata kuliah film. Pembelajaran asinkron diterapkan pada sepuluh pertemuan yang diunggah ke media daring milik universitas. Pada akhir semester dilakukan survei untuk mengevaluasi metode tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi metode lain yang mungkin digunakan dalam pengajaran film. Hal ini diperlukan karena pengajaran film membutuhkan banyak interaksi fisik dan sosial, yang tidak mungkin dilakukan pada era ini.
The Explanation of Life Experience Reflection as Ideas of Artistic Research Hery Budiawan; Yusup Sigit Martyastiadi
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4658

Abstract

In Indonesia's artistic research, especially for art creation research, many art creative ideas are born from personal experience; however, the artists' subjectivity often constrains them in expressing these experiences. This condition triggers a lack of scientific publications relating to explaining life experiences that underlie creating artwork. This article describes the process of explaining the life experience reflection into the idea of creating artworks. This method is needed to explain emotional triggers into objective knowledge as a scientific research manuscript. This artistic research employs a practice-led research approach. The analysis and discussion are carried out through reflection between ideas of creation, artworks, reviews of existing artworks, and related literature. Researchers convince that the practice-led research methodology is very strategic to boost the quality of writing artistic articles, dissemination, and presentation of arts. Also, this methodology is expected to overcome the gap between art creation and scientific publications. This study offers steps to uncover subjective experiences into objective research. This artistic research can be used to conquer the subjectivity in art creation and the imbalance between scientific publications and the writing of art creation practices. Penjelasan Refleksi Pengalaman Hidup sebagai Gagasan Penelitian Artistik ABSTRAK Dalam penelitian artistik di Indonesia, khususnya untuk penelitian penciptaan seni; banyak ide penciptaan seni yang lahir dari pengalaman pribadi, namun mereka sering terkendala oleh subjektivitas seniman dalam mengekspresikan pengalaman ini. Hal ini memicu kurangnya publikasi ilmiah yang berkaitan dengan penjelasan pengalaman hidup yang mendasari gagasan penciptaan karya seni. Artikel ini menjabarkan proses penjelasan refleksi pengalaman hidup ke dalam gagasan penciptaan karya seni. Metode ini diperlukan untuk menjelaskan hal yang subjektif ke dalam pengetahuan yang lebih objektif sebagai naskah penelitian ilmiah. Penelitian artistik ini menggunakan pendekatan penelitian yang didorong oleh praktik (PLR). Analisis dan diskusi dilakukan melalui refleksi antara ide-ide penciptaan, karya seni, ulasan karya seni yang ada, dan literatur terkait. Para peneliti yakin bahwa metodologi penelitian yang didorong oleh praktik sangat tepat guna dalam meningkatkan kualitas penulisan artikel, publikasi dan penyajian seni. Selain itu, metodologi ini diharapkan dapat mengatasi kesenjangan antara praktik penciptaan seni dan publikasi ilmiah. Penelitian ini menawarkan langkah-langkah untuk mengungkap pengalaman subjektif ke dalam penelitian ilmiah yang objektif. Penelitian artistik ini dapat digunakan untuk menjembatani antara subjektivitas dalam penciptaan seni dan ketidakseimbangan antara publikasi ilmiah dan penulisan praktik penciptaan seni.
Upcycle: As A New Preference in the Art of Climate Change Centaury Harjani
IJCAS (International Journal of Creative and Arts Studies) Vol 7, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Graduate School of Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/ijcas.v7i2.4651

Abstract

The most common inspiration used in the art of climate change is global warming. Indeed, the greenhouse effect that leads to a global temperature rise is the cause of global warming. This effect occurs due to increasing levels of carbon released into the air. Upon this, an artist needs to reduce carbon emissions for the sake of a better environment. One of the effective ways is by using the principles of environmentally friendly (low-carbon emissions) artwork. The way that can be chosen is upcycling in the making of an artwork. Upcycled is the upgraded version of Recycling. Upcycle will help reduce carbon emissions by utilizing old goods as materials to create an artwork. Upcycle does not use new materials, and it uses the method of material processing with a short phase compared to recycling. The contemporary art of climate change raises many issues on global warming as its inspiration. Therefore, it should pay attention to the material used in the making of environmentally friendly artwork. This paper will discuss the upcycle as a preference to produce that artwork. Practice-based research methods and literature studies are used in this study. This research will also discuss creative strategies in upcycling deadstock to become part of climate change contemporary artwork. The preliminary result from this study is that the upcycle will be optimal when combined with the principle of zero-waste. Upcycle: Preferensi Baru dalam Seni Perubahan Iklim ABSTRAK Inspirasi yang paling banyak digunakan pada seni perubahan iklim adalah pemanasan global. Sesungguhnya, efek rumah kaca adalah penyebab utama adanya peningkatan suhu secara global sehingga terjadi pemanasan global. Efek ini terjadi disebabkan oleh peningkatan jumlah karbon yang dilepaskan ke udara. Karena itu, seniman perlu berpartisipasi mengurangi jumlah gas buang karbon demi lingkungan yang lebih baik. Satu cara efektif yang dapat dilakukan adalah menggunakan prinsip karya seni ramah lingkungan yang tingkat gas buang karbonnya rendah. Cara yang dapat dipilih adalah melakukan upcycle dalam pembuatan karya seni. Upcylce ini adalah peningkatan versi dari Recycle. Upcycle akan membantu mengurangi gas buang karbon dengan memanfaatkan barang-barang lama sebagai bahan baku pada proses pembuatan karya seni. Upcycle tidak menggunakan material baru dan memiliki proses pengolahan material yang lebih pendek jika dibandingkan dengan metode recycle. Seni kontemporer terkait perubahan iklim mengangkat banyak isu mengenai pemanasan global. Karena itu, seni ini perlu memperhatikan bahan baku yang digunakan untuk memperoleh karya seni yang ramah lingkungan. Makalah ini akan membahas upcycle sebagai preferensi untuk menghasilkan karya seni tersebut. Metode penelitian berbasis praktik dan studi literatur digunakan dalam penelitian ini. Penelitian ini juga akan membahas strategi kreatif dalam melakukan upcycling bahan baku deadstock karya seni kontemporer perubahan iklim. Kesimpulan awal dari penelitian ini, penggunaan upcycle akan lebih optimal jika dipadukan dengan prinsip zero-waste.

Page 1 of 1 | Total Record : 6