cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF: Jurnal Kajian Televisi dan FIlm
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019" : 7 Documents clear
Kultur pop dan diskursus ideologi kecantikan pada iklan di televisi Imam Nuraryo
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.286 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.21488

Abstract

Saat ini televisi telah menjadi saluran untuk membangun gambaran ideal mengenai dunia. Salah satunya adalah citra kecantikan seorang wanita. Iklan di televisi telah merekayasa hal tersebut dalam penyampaian pesannya. Kebanyakan mereka menampilkan fisik wanita secara ideal adalah memiliki kulit bersih (putih), tubuh yang yang langsing, dan memiliki rambut hitam yang panjang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi pada tiga buah iklan televisi yakni iklan Pond’s versi fotografer, iklan WRP Lose Weight dan iklan shampo Pantene Hair Fall pro Vitamin versi Maudy Ayunda. Hasil penelitian ini adalah bahwa ketiga iklan tersebut memberikan gambaran yang ideal adalah dengan menampilkan tubuh yang langsing, rambut kuat adalah rambut yang hitam dan dan kulit yang cantik adalah kulit yang putih. Ketiga hal tersebut menjelma menjadi diskursus dominan fisik perempuan yang ideal di benak khalayak. Diskursus ini mampu meminggirkan diskursus alternatif yakni bagi para perempuan yang tidak berkulit bening, berambut hitam berkilau dan bertubuh tidak langsing. Konsekuensinya adalah bagi para perempuan yang tak mendapatkan “status” sebagaimana yang telah justifikasi iklan, akan kehilangan kepercayaan pada diri kuasa atas fisiknya serta seiring berjalannya waktu memudarnya identitas ciri akan fisiknya.
Di balik Branded Web Series kategori drama fiksi karya Yandy Laurens Safina Zora Hassanah; Dian Wardiana Sjuchro; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (682.641 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.23657

Abstract

Penelitian ini berusaha mengungkap bagaimana strategi yang dimiliki oleh filmmaker dalam kapasitasnya mengolah cerita naskah branded web series kategori drama fiksi yang memilih beriklan pada media digital. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan brand mau menggunakan konsep filmmaker dengan pendekatan soft-selling, memahami strategi filmmakers dalam menyampaikan pesan brand dengan cara soft-selling, serta memahami peluang branded web series pada masa yang akan datang. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, yaitu studi kasus eksplanatoris. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sedari awal pihak brand menginginkan untuk tidak melakukan hard-selling pada serial web. Filmmakers dibukakan kebebasan sebesar mungkin dengan tetap mengemban tanggung jawab serta kedewasaan yang telah disepakati, yaitu mengutamakan visi dari market yang diinginkan. Penting bagi filmmakers untuk membuat sebuah ekosistem yang sehat dalam bekerja. Peluang branded web series di ranah digital dalam lima tahun kedepan diproyeksikan masih sangat cerah. Penelitian ini memberikan saran praktis kepada pihak-pihak lain yang menginginkan untuk membuat branded web series dengan pendekatan soft-selling layaknya karya dari Yandy Laurens berdasarkan dari hasil penelitian yang telah dilakukan ini. Tiap-tiap filmmakers agar dapat mendiskusikan dengan pihak brand ataupun agensi untuk dapat menemukan selling point dari tiap produk, mencatat hal-hal apa saja yang dapat mengungguli produk dari competitor lainnya, serta jelas menyasar market mana yang akan dituju. Selain itu, filmmakers diharapkan tidak menempatkan produk sebagai pahlawan yang menuntaskan semua permasalahan dari protagonis cerita. Produk harus diceritakan dengan natural dan tiap product placement yang ingin dibubuhkan agar diatur dalam rangkaian drama adegan sehingga masuk ke dalam cerita.
Industri film Indonesia dalam perspektif sineas Komunitas Film Sumatera Utara Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.547 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.23667

Abstract

Industri film nasional kini bangkit kembali setelah kejatuhan pada tahun 1990-an. Restrukturisasi industri film nasional dimulai dari film Petualangan Sherina dan diikuti oleh Ada Apa Dengan Cinta yang meraih 2,7 juta penonton. Film-film non-komersial juga muncul seperti Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, dan lainnya. Antusiasme film-film indie muncul dan melahirkan para sineas dari luar Pulau Jawa, terutama dari Sumatera Utara (Sumut). Sineas Sumut lahir dan terpacu untuk membuat film indie mereka sendiri. Padahal, itu juga menjadi perhatian bagi para pembuat film ini tentang bagaimana mereka dapat menembus pasar industri film nasional. Kekhawatiran ini menjadi menarik untuk diketahui mengapa mereka ragu-ragu untuk mempromosikan film mereka ke arena nasional. Penelitian ini difokuskan pada perspektif sineas Komunitas Film Sumatera Utara tentang bagaimana mereka melihat industri film nasional. Penelitian ini dilakukan di kota Medan dan Berastagi, Sumatera Utara, di mana sebagian besar sineas yang menjadi anggota Komunitas Film Sumatera Utara aktif melakukan proyek film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembuat film yang tergabung dalam komunitas film di Sumatera Utara memandang industri film nasional. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kategori, yakni: 1) Jakarta-sentris; 2) Kemitraan dengan rumah-rumah produksi besar; 3) Konten film harus lebih bernuansa Indonesia; dan 4) Aturan penyiaran belum diterapkan dengan baik.
Implikasi standar program siaran pada tayangan edukasi dan artistik TVRI Jawa Barat Lia Kurniawati
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.652 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.23008

Abstract

Penelitian Komisi Penyiaran Indonesia membuat Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS). Tujuan penelitian adalah untuk melihat implikasi dan dampak yang ditimbulkan oleh tayangan televisi dua program acra Sapa Mania Legend dan Dunia Anak yang tayang di TVRI Jawa Barat yang terkait dengan kesesuaian P3SPS. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan observasi, wawancara, dan studi dokumentasi di lapangan. Program acara Sapa Mania Legend merupakan program musik dimana 6 lagu tahun 90-an diputarkan live dan disajikan host. List judul lagu yang akan diputarkan satu minggu sebelumnya dimunculkan di-Facebook, dan saat live, pemirsa memilih lagu yang ingin diputarkan melalui telepon interaktif. Implikasi P3SPS program Sapa Mania Legend secara dampak sosial menggunakan model komunikasi stimulus respons membawa pengaruh signifikan terhadap masyarakat melalui distribusi sosial dari pengetahuan yang didapat. Pada program Dunia Anak salah satu program artistik yang diproduksi dan ditayangkan secara live-recording atau rekaman mempunyai efek menguntungkan. Tayangan ini sebagai persyaratan basis untuk interaksi sosial dan sosialisasi awal anak-anak dalam jangka panjang; mempelajari dunia, sikap dan perilaku lebih luas; mempelajari perilaku prososial; efek pendidikan; membantu membentuk identitas; membangun imajinasi. Implikasi kedua program acara ini dapat mengajarkan norma dan nilai melalui imbalan dan hukuman simbolik untuk berbagai jenis perilaku yang disajikan. Rekomendasi untuk kedua program ini pada proses pembuatan program harus lebih jeli dalam penerapannya agar layak konsumsi masyarakat ketika ditayangkan yang dapat mempengaruhi pola pikir khalayak ramai. Selain itu TVRI Jawa Barat diharapkan mampu mensosialisasikan literasi media dan juga berperan sebagai pedoman penyiaran bagi lembaga-lembaga penyiaran lainnya serta masyarakat.
Sikap penonton terhadap film nasionalisme (Jenderal Soedirman) Bramedia Ridho Satria; Rizky Rinaldy
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.755 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.21613

Abstract

Artikel ini membahas sikap penonton terhadap Film Nasionalisme Jenderal Soedirman. Adapun tujuan dari penelitian ini, untuk mengetahui sikap Mahasiswa Universitas Moestopo mengenai Film Jenderal Soedirman. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori sikap, kegunaan dan gratifikasi, dan efek komunikasi massa. Teori efek komunikasi massa terbagi menjadi dua dimensi yakni dimensi kognitif dan dimensi afektif, yang setelahnya dioperasionalisasikan menjadi 18 pernyataan kuisioner penelitian. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif deskriptif untuk mendapatkan gambaran detail mengenai suatu gejala atau fenomena. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner terhadap responden. Angket yang digunakan dalam penelitian ini merupakan angket tertutup yang telah disediakan jawabannya sehingga responden tinggal memilih satu jawaban yang sesuai dengan pilihan mereka. Subjek penelitian melibatkan mahasiswa fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) yang dijadikan responden penelitian. Populasi penelitian ini sebesar 362 orang dan diperoleh sampel sebanyak 78 orang dan teknik yang digunakan adalah teknik nonprobability sampling dan purposive sampling, artinya peneliti mengambil sampel dengan kriteria tertentu yang sudah menonton film Jenderal Soedirman. Dapat disimpulkan, bahwa Hasil dari dimensi kognitif sebesar 3.89 dan dimensi afektif sebesar 3.88 dapat dilihat dari penjelasan deskriptif statistik per dimensi dan dapat di simpulkan bahwa mayoritas responden setuju bahwa film Jenderal Soedirman mampu memberikan informasi, pemahaman baru dan memberikan perasaan emosional tentang sikap nasionalisme.
Nilai-nilai kearifan lokal pada unsur naratif dan sinematik film Jelita Sejuba Dasrun Hidayat; Zainur Rosidah; Maya Retnasary; Mahardiansyah Suhadi
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (522.416 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.21264

Abstract

Jelita Sejuba merupakan film layar lebar yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal di Pulau Natuna. Dengan kreativitas yang tinggi, sutradara film mengemas dialog melalui narasi percintaan gaya anak muda Natuna. Hal yang menjadi filosofi film ini diproduksi dengan maksud memperkenalkan Natuna melalui unsur naratif dan sinematik film. Tujuannya adalah untuk mengetahui nilai-nilai kearifan lokal yang terdapat pada tiap simbol budaya pada film tersebut. Penelitian ini menggunakan studi kuasi-kualitatif deskriptif dengan paradigma post-positivistik. Melibatkan beberapa sineas, kritikus, dan penikmat film sebagai sumber data untuk memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan wawancara. Hasil yang diperoleh bahwa nama Jelita merepresentasikan kecantikan dan keluhuran budi anak gadis Natuna. Kecantikan tersebut dianalogikan seperti kecantikan pulau Natuna yang disebut Sejuba. Analisis data penelitian juga memaparkan nilai-nilai kearifan lokal melalui unsur sinematik film, antara lain set lokasi dengan menggunakan latar belakang pulau Natuna meliputi rumah khas masyarakat Natuna yang terletak di pinggir pulau, keindahan bebatuan yang menjulang tinggi, dan pohon kelapa yang tumbuh di sepanjang pulau Natuna. Temuan nilai kearifan lokal lainnya yakni terkait dengan penggunaan bahasa Melayu di beberapa adegan film Jelita Sejuba. Nilai kearifan lokal juga dapat dirasakan ketika penonton dimanjakan dengan tata musik Melayu serta tata artistik daerah Natuna. Film Jelita Sejuba juga menampilkan makanan khas daerah Natuna yang digambarkan pada unsur naratif dan sinematik film.
Pemberitaan film A Man Called Ahok dan film 212 di media online Safira Pratiwi Maulany; Aceng Abdullah
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): Accredited by Kemenristekdikti RI SK No. 28/E/KPT/2019
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.526 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.22940

Abstract

Film A Man Called Ahok dan film 212: The Power of Love terinspirasi dari fenomena besar di masyarakat dan saling berhubungan di kehidupan nyata serta menarik perhatian media massa untuk memuat pemberitaannya, termasuk media online Republika dan CNN Indonesia yang diketahui memiliki perbedaan perspektif. Pemberitaan media dapat mempengaruhi eksistensi sebuah film, tetapi perbedaan perpektif media menyebabkan perbedaan sudut pandang dalam berita yang ditampilkan. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan untuk melihat sejauh mana perbedaan dua media dalam membingkai pemberitaan mengenai film A Man Called Ahok dan film 212: The Power Of Love dengan menggunakan gunakan metode framing dari Robert N. Entman yang melihat framing dalam dua dimensi yakni seleksi isu dan penonjolan aspek tertentu, dan unsur analisis media yang terdiri dari pendefinisian masalah; memperkirakan penyebab masalah; nilai moral yang ditampilkan; dan penyelesaian masalah yang dimunculkan dalam pemberitaan oleh masing-masing media. Hasil penelitian menunjukan bahwa Republika mendefinisikan film 212: The Power of Love sebagai film Islam yang sangat bagus dan patut ditonton karena mencerminkan nilai kemanusiaan dan nilai Islam sesungguhnya yang cinta damai, dan dalam memberitakan film 212: The Power of Love Republika cenderung mengarah pada promosi. CNN Indonesia membingkai kegagalan film 212: The Power of Love untuk mencapai 1 juta penonton dan kedua media sama-sama mendefinisikan film A Man Called Ahok sebagai film biografi yang apik baik dari segi cerita maupun teknis film, mengaitkan film dengan isu politik juga dibingkai oleh CNN Indonesia sebagai cerminan polarisasi bangsa.

Page 1 of 1 | Total Record : 7