cover
Contact Name
Rangga Saptya Mohamad Permana
Contact Email
rangga.saptya@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalprotvfunpad@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sumedang,
Jawa barat
INDONESIA
ProTVF: Jurnal Kajian Televisi dan FIlm
ISSN : 2548687X     EISSN : 25490087     DOI : -
ProTVF is published twice a year (March and September) published by the Faculty of Communication Science, Universitas Padjadjaran. ProTVF provides open access to the public to read abstract and complete papers. ProTVF focuses on Television and Film studies.
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020" : 7 Documents clear
Strukturasi proses produksi film horor Pengabdi Setan: Perspektif ekonomi politik Umaimah Wahid; Shena Agustina
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.25601

Abstract

Film tidak hanya berfungsi sebagai media hiburan. Film juga berperan dalam menyampaikan pesan-pesan ideologi yang secara sadar atau tidak sadar menjadi bagian nilai yang diyakini oleh penonton. Di samping itu, alasan produksi film horor meningkat karena nilai ekonomi dan politik yang menjadi bagian dari struktur dan agen-agen sosial. Salah satu film horor fenomenal pada tahun 2017 adalah film Pengabdi Setan karya Joko Anwar yang meraih jumlah penonton 4,2 juta orang. Penelitian menggunakan teori strukturasi Anthony Gidden dan perspektif ekonomi politik Vincent Mosco. Objek penelitian adalah struktur sosial dan agen dalam proses pembuatan film. Subjek penelitian adalah para pihak yang terlibat dalam proses pembuatan film. Pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus digunakan dalam penelitian ini. Data dihasilkan melalui teknik pengumpulan data wawancara dan observasi. Hasil penelitian menjelaskan bahwa proses produksi film terdiri dari pra produksi, produksi dan pasca produksi. Semua proses melibatkan agen-agen sosial yang terikat dengan struktur sosial dan produksi film sangat tergantung pada nilai ideologi dan ekonomi politik. Nilai ekonomi menjadi tujuan utama film Pengabdi Setan diproduksi ulang dengan berbagai prubahan menyesuaikan struktur sosial penonton saat ini. Proses produksi terkooptasi oleh niai-nilai yang mengikat struktur perfilman Indonesia, khususnya dalam pembuatan film. Film Pengabdi Setan telah mampu menciptakan ketidaksadaran masyarakat terhadap realitas isi film sebagai representasi langsung masyarakat yang terikat oleh struktur dimana film diproduksi.
Analisis semiotika Roland Barthes mengenai pseudobulbar affect dalam film Joker Muhammad Alif Agisa; Fardiah Oktariani Lubis; Ana Fitriana Poerana
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29064

Abstract

Sebuah film pastilah mempunyai pesan-pesan serta makna yang akan disampaikan kepada penotonnya. Pesan dan makna tersebut tidak selalu terlihat secara langsung, dan berbeda penafsirannya. Tujuan dari penelitian ini adalah mencari makna denotasi, konotasi, dan mitos dari pseudobulbar affect (PBA) tokoh Arthur Fleck dalam film Joker. Film Joker mengisahkan seorang komedian bernama Arthur Fleck yang mengidap penyakit pseudobulbar affect (PBA), yaitu gangguan neurologis yang menyebabkan penderita kehilangan kontrol emosi secara sementara. Arthur Fleck adalah seorang pria dewasa dengan berbagai masalah yang menimpanya, sehingga membuat Arthur menjadi penjahat yang bernama Joker. Analisis semiotika Roland Barthes adalah teknik analisis yang peneliti gunakan. Peneliti menggunakan rekaman video film Joker sebagai sumber data, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan beberapa adegan yang berkaitan dengan pseudobulbar affect. Data tersebut kemudian dianalisis menggunakan semiotika Roland Barthes untuk mencari makna denotasi, konotasi, serta mitos yang ada pada adegan tersebut. Diperoleh hasil bahwa makna denotasi dalam film ini adalah mengisahkan seorang komedian bernama Arthur Fleck yang mengidap penyakit pseudobulbar affect (PBA) dengan berbagai masalah yang menimpanya sehingga membuat ia menjadi seorang penjahat yang bernama Joker. Makna konotasinya adalah tertawa Arthur Fleck yang tidak dapat ia kendalikan, diartikan oleh orang-orang sekitarnya sebagai cemoohan, gangguan, hingga ancaman. Mitosnya adalah stigma masyarakat yang negatif terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), membuat ODGJ kesulitan untuk berinteraksi secara sosial, dijauhi, dan diolok-olok.
Pencarian informasi melalui televisi dan film oleh tunarungu di Sumedang Azmah Tafwidli Rahmi; Santi Susanti; Herlina Agustin
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.30283

Abstract

Setiap warga negara berhak mendapatkan informasi dan akses informasi termasuk disabilitas tunarungu, sebagaimana dijamin pasal 18 F UUD 1945, yang menyatakan bahwa setiap orang berhak berkomunikasi dan memperoleh informasi. Informasi dapat diperoleh dari beragam sumber, termasuk televisi dan film. Bagi disabilitas tunarungu, keterbatasan yang mereka miliki berpengaruh terhadap akses informasi di televisi dan film. Penelitian ini bertujuan mengungkapkan motif yang mendorong anggota Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) Kabupaten Sumedang membutuhkan informasi dari televisi dan film, serta upaya yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan informasi tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi serta dokumen yang relevan dengan penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan metode analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemenuhan kebutuhan informasi melalui televisi dan film pada disabilitas tunarungu di Gerkatin Sumedang digerakkan oleh motivasi internal dan eksternal berdasarkan sepuluh faktor kebutuhan berbeda pada setiap individu, antara lain kebutuhan akan hiburan, informasi dan pekerjaan. Film komedi dan aksi lebih mudah dipahami informasinya, karena penyampaiannya lebih menarik dan tidak berbelit. Pemenuhan kebutuhan informasi melalui film dilakukan dengan menonton di bioskop dan Youtube. Informasi di televisi dan film masih sulit diakses, karena kurangnya ketersediaan juru Bahasa isyarat serta teks di dalam setiap tayangan televisi dan film di bioskop. Oleh karena itu, teman tuli di Gerkatin Kabupaten Sumedang berharap adanya teks film dan Juru Bahasa Isyarat dalam setiap tayangan film, agar film Indonesia menjadi ramah bagi disabilitas turarungu.
Iklan mi instan di televisi pada saat pandemi Covid-19 Aceng Abdullah; Rangga Saptya Mohamad Permana
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.31326

Abstract

Covid-19 memasuki Indonesia sejak trimester pertama 2020 dan pemerintah menganjurkan masyarakat “di rumah saja” untuk meminimalisir penyebarannya. Salah satu kegiatan yang banyak dilakukan masyarakat ketika “di rumah saja” adalah menonton televisi. Salah satu produk yang sering diiklankan melalui televisi adalah mi instan. Tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Untuk mengetahui makna denotasi iklan mi instan di televisi pada saat pandemi Covid-19; (2) Untuk mengetahui makna konotasi iklan mi instan pada saat pandemi Covid-19; dan (3) Untuk mengetahui mitos pada tayangan iklan mi instan pada saat pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik analisis semiotika Roland Barthes. Tiga merk mi instan yang iklan televisinya diteliti adalah iklan-iklan Indomie (tiga iklan), Mie Sedaap (tiga iklan), dan Mie Sukses’s (satu iklan). Pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan teknik pendokumentasian pada bulan April 2020. Hasil menunjukkan bahwa secara denotatif, iklan Indomie mengandalkan visualisasi sederhana, hemat kata dan tidak terlalu bombastis, sedangkan iklan Mie Sedaap dan Mie Sukses’s mendandalkan deskripsi informasi produk dengan berbagai narasi yang panjang. Secara konotatif, iklan Indomie sesuai dengan kondisi ketika pandemi dengan fokus pada jargon “di rumah saja”, sedangkan iklan Mie Sedaap dan Mie Sukses’s sebaliknya, menyiratkan bahwa meskipun sedang dalam kondisi pandemi, aktivitas outdoor masih bisa dilakukan dan pandemi Covid-19 tidak perlu ditakuti. Sedangkan dalam tataran mitos, iklan Indomie menggambarkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi atas takut dengan Covid-19, iklan Mie Sedaap menggambarkan Korea Selatan berhasil mengatasi pandemi Covid-19, dan iklan Mie Sukses’s menunjukkan bahwa orang dengan tingkat ekonomi bawah tidak akan terjangkit Covid-19.
Menggali Minangkabau dalam film dengan mise-en-scene Herry Nur Hidayat; Bani Sudardi; Sahid Teguh Widodo; Sri Kusumo Habsari
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29433

Abstract

Sejarah perkembangan industri perfilman Indonesia tidak bisa melepaskan diri dari muatan lokalitas sebagai sumber penciptaan. Sebagai salah satu etnik di Indonesia, Minangkabau diketahui telah menjadi sumber penciptaan film, bahkan sejak awal pertumbuhan industri film di Indonesia. Oleh karena beragamnya unsur keminangkabauan, tidak mudah menampilkan unsur-unsur keminangkabauan yang telah dikenal khalayak penonton. Akan tetapi, kajian sebelumnya terhadap muatan keminangkabauan dalam film seolah mengabaikan citraan visual (visual image) ini. Melalui pendekatan mise-en-scene, artikel ini menguraikan unsur-unsur keminangkabauan yang ditampilkan dalam film, baik visual maupun unsur naratifnya. Di samping itu, artikel ini juga mencoba menjawab beragam kritik etnisitas atas film bermuatan Minangkabau. Analisis difokuskan pada citraan visual unsur keminangkabauan yang berhubungan dengan tokoh dan latar sebagai pembangun aspek naratif dalam tujuh film terpilih. Hasil analisis menunjukkan bahwa citraan visual ikon-ikon Minangkabau tampak mendominasi unsur keminangkabauan dalam film, yaitu rumah gadang, rangkiang, dan pakaian. Ikon visual tersebut muncul dalam bentuk desain pelataran dan propertinya. Beberapa adegan yang menampilkan rumah gadang menunjukkan pula peran dan kedudukan mamak rumah dalam sistem kekerabatan serta representasi demokrasi di Minangkabau. Tampaknya, aspek visual unsur keminangkabauan tersebut ditampilkan untuk memperkuat latar tempat dan sosial sebagai sarana penceritaan. Di samping itu, dapat pula disampaikan bahwa tampilnya unsur keminangkabauan tidak secara mutlak menggambarkan Minangkabau.
Analisis resepsi audiens remaja terhadap romantisme film Dilan 1990 Rivga Agusta
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.28808

Abstract

Film Dilan 1990 dengan segmentasi remaja ini menimbulkan euforia di kalangan remaja Indonesia. Tema romantisme film Dilan 1990 yang mengangkat tentang kehidupan romantis remaja yang hidup di tahun 1990 mendapat respons yang beranekaragam dari penonton remaja di Indonesia. Di antaranya banyak yang menggunakan potongan adegan dalam film tersebut untuk dijadikan meme di media sosial dan bahkan menggunakan potongan dialog tokoh di dalamnya untuk berkomunikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis resepsi audiens remaja yang hidup di era milenial sekarang ini terhadap romantisme remaja pada tahun 1990 yang diusung pada film Dilan 1990. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis resepsi yang dilakukan kepada lima orang informan remaja. Hasil penelitian menunjukkan terdapat beberapa pemaknaan audiens remaja terhadap romantisisme dalam film Dilan 1990.Hal-hal yang dimaknai sebagai romantisisme yang ada dalam film Dilan 1990 antara lain yaitu ‘Bandung Sebagai Kota Romantis’, ‘Tangisan Tokoh Sebagai Wujud Kemurungan’, ‘Rindu itu Berat’, ‘Rasa Suka yang Meluap’, dan ‘Romantisme Unik dalam Kata-kata Tokoh’. Posisi pembacaan audiens remaja yang dominan adalah dominant-hegemonic position dan negotiated position. Pemaknaan romantisme oleh audiens remaja berdasar kedua posisi tersebut dipengaruhi faktor sosiologis dari setiap informan yang memiliki latar belakang era yang cukup berbeda dengan tema yang diangkat pada film Dilan 1990.
Representasi penyandang disabilitas pada film “Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta” Ivany Hanifa Rahmi; Ilham Gemiharto; Putri Limilia
ProTVF Vol 5, No 1 (2021): Accredited by Kemenristek/BRIN RI SK No. B/ 1225/E5/E5.2.1/2020
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v5i1.29673

Abstract

Film ‘Yang Tidak Dibicarakan Ketika Membicarakan Cinta’ merupakan film Indonesia pertama yang diputar dalam ‘Sundance Film Festival’. Berlatar belakang sebuah sekolah netra, film ini mengangkat isu disabilitas yang saat ini di seluruh dunia masih dihadapkan pada isu under representation dan miss representation. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan representasi penyandang disabilitas pada film tersebut menggunakan metode analisis isi dengan menguji konten yang terdapat pada diegesis film terhadap prinsip-prinsip penggambaran penyandang disabilitas pada ‘Disabling Imagery and The Media’ oleh Collin Barnes, yaitu: ‘bahasa dan terminologi disabilitas’, ‘cara penggambaran disabilitas’, dan ‘penggambaran penyandang disabilitas pada iklan’. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Penggunaan bahasa dan istilah yang dalam film ini telah mencerminkan kebudayaan masyarakat dalam konteks sosial secara tepat tanpa melakukan labelling; (2) Penyandang disabilitas dalam film ini telah digambarkan secara akurat dan ‘multifaceted’ menggunakan progressive framing. Terdapat tiga stereotip penyandang disabilitas di media yang digambarkan pada film ini yaitu; the disabled as normal, the disabled as their own worst enemy, dan the disabled as atmospheric or curio. Dalam tahap pembuatan media, komunitas disabilitas telah dilibatkan tetapi dalam pemilihan peran masih terjadi tradisi mixed bag’ dan; (3) Dalam konteks periklanan, film ini telah menggunakan penyandang disabilitas pada product placement dan brand integration dengan menggambarkan keterpaksaan penyandang disabilitas dalam menggunakan alat bantu, membantu komunitas disabilitas, dan secara jelas mencantumkan keterlibatan abled bodied dalam pembuatan konten.

Page 1 of 1 | Total Record : 7