cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota makassar,
Sulawesi selatan
INDONESIA
Jurnal Linears
ISSN : -     EISSN : 26143976     DOI : -
Core Subject : Engineering,
Jurnal LINEARS adalah sebuah media publikasi Jurnal yang diterbitkan oleh Program Studi Teknik Arsitektur Universitas Muhammadiyah Makassar (UNISMUH) bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Tujuannya adalah sebagai media komunikasi, desiminasi dan pertukaran informasi dunia arsitektur serta media publikasi hasil pengembangan penelitian,pengabdian maupun hasil karya arsitektur. Secara umum jurnal ini berisi tentang dunia arsitektur dan secara spesifik dapat berupa: - Ilmu dan teknologi arsitektur; - Teori, sejarah dan desain arsitektur; - Arsitektur kota dan perancangan kota; - - Arsitektur rumah dan perumahan; - Desain interior dan eksterior. Jurnal ini adalah Jurnal online yang berisi karya ilmiah bagi peneliti dan mahasiswa Arsitektur Fakultas Teknik Unismuh Makassar, sebagai bagian dari publikasi karya ilmiah penelitian ataupun tugas akhir. Jurnal ini terbit 2 kali dalam 1 tahun dengan kontent dari berbagai keminatan Arsitektur.
Arjuna Subject : -
Articles 52 Documents
EVALUASI KONDISI PENCAHAYAAN INTEGRASI MANUAL PADA RUANG KANTOR MENARA BALAIKOTA MAKASSAR Irnawaty Idrus
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1312

Abstract

Konsep bangunan dengan efisiensi energi sangat penting karena jika melihat penggunaan energi secara global, sektor bangunan sendiri menyerap 45% dari kebutuhan energi secara global. Salah satu metode dalam arsitektur hemat energi yaitu mengoptimasikan sistem  tata cahaya, integrasi antara sistem tata cahaya buatan-alamiah serta sinergi antara metode pasif dan aktif baik secara manual ataupun otomatis.Selain itu untuk memenuhi tuntutan fungsi sebagai tempat pelayanan kepada masyarakat  maka dibutuhkan perkantoran pemerintah yang nyaman, dimana kenyamanan bisa dicapai dengan memperhatikan factor pencahayaan pada ruang yang akan berpengaruh terhadap phisik dan psikis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pencahayaan alami dan buatan yang dikombinasikan secara manual sesuai dengan keadaan eksisting pada ruang kantor pada tiga kondisi langit yaitu cerah, berawan dan mendung. Lokasi penelitian di menara Balaikota Makassar. Sampel penelitian dipilih secara purposive sampling dan dipilih lantai lima sebagai lokasi penelitian. Pengumpulan data dilakukan bertahap, yaitu pengamatan awal, pengukuran dan pencatatan di lapangan, pengukuran pencahayaan eksisting, dan kemudian melakukan simulasi pencahayaan dengan software DiaLux 10.1. Hasil penelitian menunjukkan pada kondisi langit cerah dan berawan, rata-rata kualitas pencahayaan integrasi sudah hampir memenuhi standar ketentuan pencahayaan minimum. Pada kondisi langit mendung kualitas pencahayaan rata-rata masih dibawah standar.
STRATEGI PENGEMBANGAN WISATA NON-BAHARI DI KAWASAN WAHA, PULAU TOMIA, KABUPATEN WAKATOBI Fitrawan Umar
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1317

Abstract

Pariwisata menjadi sektor unggulan di Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Objek wisata yang terkenal di Wakatobi berkaitan erat dengan sektor bahari, terutama aktivitas penyelaman (diving). Guna meningkatkan kualitas kepariwisataan di masa mendatang, diperlukan variasi produk wisata selain bahari di Wakatobi. Penelitian ini menggunakan metode observasi, wawancara, dan focus group discussion (FGD). Data-data penelitian dianalisis melalui SWOT untuk menghasilkan strategi pengembangan. Hasil penelitian menunjukkan beberapa objek potensial pariwisata non-bahari, seperti puncak perbukitan Waha, mata air Patuha, Benteng Patuha, dan Pesta Adat Safara. Strategi pengembangan yang diusulkan di antaranya ialah perencanaan fisik kawasan, peningkatan infrastruktur, sarana dan prasarana, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
KOEKSISTENSI ANTARA ARSITEKTUR BUGIS MAKASSAR DENGAN ARSITEKTUR MODEREN PADA BANGUNAN KANTOR PEMERINTAHAN DI KOTA MAKASSAR Citra Amalia Amal; Andi Fitriyah Azsahrah
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1318

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan hubungan koeksistensi antara arsitektur Bugis Makassar dengan arsitektur Moderen berkaitan identitas arsitektur lokal dan bentukan fisik pada kantor pemerintah, serta menemukenali unsur-unsur Bugis Makassar dan arsitektur moderen yang mengalami koeksistensi pada kantor pemerintahan di Kota Makassar. Penelitian bersifat deskriptif yang dianalisis secara kualitatif. Adapun bangunan kantor pemerintahan yang diteliti yaitu Kantor Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan, Kantor DPRD Kota Makassar, dan Kantor Bank BTN Cabang Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga bangunan pemerintahan tersebut mengadopsi prinsip arsitektur Bugis Makassar secara spasial vertikal (kepala, badan, dan kaki), sedangkan secara spasial horisontal tidak menerapkan prinsip arsitektur Bugis Makassar. Untuk struktur bangunan tidak menerapkan struktur arsitektur Bugis Makassar. Pemakaian material dan teknologi yang moderen menyebabkan terjadinya perubahan proporsi dan dimensi, tetapi secara bentuk tetap menerapkan bentuk arsitektur tradisional Bugis Makassar.
TERITORIALITAS RUANG PADA PERMUKIMAN KAMPUNG MELAYU KOTA MAKASSAR Andi Annisa Amalia; Citra Amalia Amal
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1319

Abstract

Pemanfaatan ruang permukiman di Kampung Melayu Kota Makassar khususnya pada hunian dengan tingkat kepadatan tinggi, secara tidak sadar mengarahkan penghuni mensetting ruang luar sebagai area yang dimilikinya (teritori). Latar belakang utama pembentuk teritori tersebut diantaranya legalitas, lama menghuni, aktivitas dan persepsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui batas teritori yang diterapkan dan karakteristiknya pada Kampung Melayu Kota Makassar. Metode  penelitian yang digunakan adalah rasionalistik. hasil penelitian membahas batas teritori fisik dan non fisik. Sedangkan karakteristik teritorialitas ruang adalah berbentuk persegi (square), memanjang (linear), berdasarkan waktu, aktivitas, dan latar belakang budaya masyarakat.
KONSEP PENGEMBANGAN LINGKUNGAN PEMUKIMAN BERBASIS KOMUNITAS DI KAWASAN LAKKANG KOTA MAKASSAR Rohana Rohana
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1320

Abstract

Konsep Pengembangan Pemukiman Berbasis Komunitas di Kawasan Lakkang menjadi salah satu tujuan untuk memacu perkembangan sosial masyarakat dan mengurangi kesenjangan tata guna lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya. Menurut Chaprin, perencanaan wilayah (regional planning) adalah upaya intervensi terhadap kekuatan-kekuatan pasar dalam konteks pengembangan wilayah yang memiliki tiga tujuan pokok yakni meminimalkan konflik kepentingan antar sektor, meningkatkan kemajuan sektoral dan membawa kemajuan bagi masyarakat secara keseluruhan. Pengembangan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas merupakan bentuk stimulan bagi keberhasilan masyarakat di Kelurahan Lakkang. Kegiatan tersebut secara substansi merupakan implementasi konsep bersama atau kemitraan dengan program skala yang kecil, seperti kelurahan. Melalui program tersebut, diharapkan terjadi proses pembelajaran, penataan dan kelembagaan mitra yang bersinergi antara masyarakat, pemerintah kelurahan dan kelompok sosial setempat. Dari beberapa penjelasan tersebut, terdapat beberapa masalah diantaranya: Bagaimana merencanakan pengembangan untuk membangun sarana dan prasarana yang baik, mewujudkan lingkungan fisik yang sehat, tertib, selaras dan mandiri serta nyaman? dan  Bagaimana konsep pengembangannya, ditinjau dari aspek perencanaan?. Dari permasalahan tersebut, digunakan metode penelitian secara pembahasan, tahap pelaksanaan dan tahap kawasan prioritas. Sehingga diperoleh hasil:  beberapa kondisi yang dilihat dari lokasi tersebut, secara umum struktur bangunan rumah di Kelurahan Lakkang adalah rumah tinggal yang bertipe bugis Makassar (panggung). Begitupun pada kawasan prioritas, mayoritas jenis rumah yang terdapat di kawasan prioritas ini adalah rumah panggung, namun sebagian masyarakat sudah merenovasi rumahnya dengan menambahkan ruang dibawah bangunan panggung sebagai bangunan tinggal permanen.  Konsep pengembangannya ditinjau dari aspek perencanaan yang dikaji berdasarkan hasil analisis diatas, menghasilkan konsep Pengembangan Wilayah Terpadu, Konsep ini menekankan kerjasama antar sektor untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan penanggulangan kemiskinan di daerah-daerah tertinggal. Untuk menentukan daerah-daerah yang tertinggal, terdapat berbagai indikator yang digunakan, antara lain Perekonomian masyarakat, Sumber daya manusia  Kemampuan finansial, Aksesibilitas; dan  Karakteristik geografis
ANALISIS PEMANFAATAN RUANG TERBUKA HIJAU PADA PEMUKIMAN PADAT DI KECAMATAN RAPPOCINI KOTA MAKASSAR Siti Fuadillah A. Amin
Jurnal Linears Vol 1, No 1 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i1.1321

Abstract

Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau khususnya pada wilayah perkotaan sangat penting mengingat besarnya manfaat yang diperoleh dari keberadaan RTH tersebut. Untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas Ruang Terbuka Hijau (RTH), khususnya pada kawasan permukiman padat, Pemanfaatan RTH menjadi hal yang menarik untuk diteliti karena kebanyakan RTH sudah bergeser dari fungsinya. Penelitian ini bertujuan mengetahuai apakah luas dan rencana pengembangan Ruang Terbuka Hijau sesuai aturan, dan mengetahui alternatif kebijakan yang digunakan dalam meningkatkan pengelolaan Ruang Terbuka Hijau. Penelitian ini juga dilakukan identifikasi Ruang Terbuka Hijau yang telah ada di wilayah pemukiman padat di Kecamatan Rappocini. Kecamatan Rappocini membutuhkan RTH adalah 30% dari luas wilayah yaitu 276.9 ha dan untuk Kelurahan Ballaparang dan Bonto Makkio yang berada di Kelurahan Rappocini yaitu sebesar 15,36 ha untuk Kelurahan Ballaparang dan 6 ha untuk Kelurahan Bontomakkio Pengembangan Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada permukiman padat di kedua Kelurahan yang ada di Kecamatan Rappocini Kota Makassar terdapat peningkatan dilihat dari jenis RTH yang sudah ada sekarang. Terdapat RTH public seperti taman lingkungan dan juga RTH privat seperti RTH pekarangan dan taman atap.
POLA TATA RUANG PERUMAHAN DAN PERKEMBANGANNYA DITINJAU DARI KEARIFAN LOKAL DESA CIKOANG Andi Teddy M.; Mimi Arifin; Ninik Dwi Resky; Aris Sakkar Dollah
Jurnal Linears Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i2.1808

Abstract

Desa adat merupakan sebuah permukiman tradisional yang memiliki tradisi yang masih dipertahankan sampai saat ini seperti Maudu Lompoa, yang dilakukan setahun sekali dan dijadikan sebagai wisata budaya di Sulawesi Selatan. Hal tersebut mendorong pertumbuhan permukiman di sekitar ruang kegiatan budaya yang dapat menurunkan daya dukung kawasan perumahan. Oleh sebab itu, perlu mengidentifikasi karakteristik fisik pola tata ruang perumahan dan perkembangannya ditinjau dari kearifan lokal. Adapun teknik pengumpulan data dengan cara observasi, wawancara, dokumentasi, studi pustaka, penyebaran kuesioner dan pendataan instansional. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif, komparatif, spasial dan grid index. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan perumahan mengikuti ruang yang tersedia di sekitar ruang kegiatan budaya. Pemakaian ruang kegiatan budaya yang tetap. Pola perumahan terikat dengan ruang kegiatan budaya.
KEBUTUHAN FASILITAS REKREASI DI KAWASAN TEPIAN SUNGAI CENRANAE PADDUPPA KOTA SENGKANG Andi Yusri; Sherly Wunas; Ria Wikantari
Jurnal Linears Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i2.1809

Abstract

Mengingat potensi serta kecenderungan pertumbuhan fisik secara cepat sering terjadi di kawasan ini, namun belum diiringi dengan ketersediaan fasilitas rekreasi yang memadai dan menarik sehingga kawasan tersebut menjadi kurang produktif. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kebutuhan jenis fasilitas rekreasi, dan sarana prasarana pendukungnya berdasarkan karakteristik responden. Data diperoleh melalui survei lapangan dengan mewawancarai seratus responden yang terdiri dari pengunjung, pedagang kaki lima, dan masyarakat disekitar kawasan. Analisis secara deskriptif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa 1) kondisi permukaan air tergenang dengan elevasi mencapai 6 meter dipermukaan air dengan luas area genangan 14,32 km2. Elevasi banjir besar mencapai 9 meter diatas muka air dengan luas genangan 195.00 km2. Kedalaman sungai 5 meter dalam kondisi normal. Ketersediaan fasilitas rekreasi belum. 2) Kebutuhan jenis fasilitas berdasarkan karakteristik responden mencakup ruang terbuka hijau publik (RTH Publik), ruang terbuka hijau privat (RTH Privat), fasilitas rekreasi, sarana pendukung, water catchment area, dan prasarana penunjang transportasi. 3) Arahan pengembangan adalah penambahan dan perbaikan fasilitas rekreasi baik dari segi kualitas dan kuantitasnya agar dapat meningkatkan ekonomi warga serta meningkatkan pendapatan asli daerah.
ANALISIS RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) DARI ASPEK KETERLAKSANAAN FUNGSI SOSIAL DI KOTA MAKASSAR Aris Sakkar Dollah; Rasmawarni Rasmawarni; Andi Teddy M.
Jurnal Linears Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i2.1810

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis jenis dan keterlaksanaan fungsi sosial Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Makassar. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan analisis deskriptif. Data dikumpulkan dengan teknik observasi, wawancara terstruktur dan kuisioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis RTH yang ada di Kota Makassar mayoritas dalam bentuk lapangan, sedangkan keterlaksanaan fungsi sosial RTH lebih didominasi oleh aktivitas olah raga. Unit RTH dengan keterlaksanaan fungsi sosial tertinggi terdapat di RTH Kompleks Lapangan Karebosi sedangkan yang terendah terdapat di RTH Taman Pattimura. Tingkat keterlaksanaan fungsi berdasarkan analisis skalogram berada pada angka 35 persen, tergolong masih rendah.
PENATAAN ESTETIKA PERMUKIMAN KUMUH PERKOTAAN BERBASIS PENATAAN FASAD BANGUNAN STUDI KASUS: JALAN INSPEKSI KANAL, MARICAYA BARU KEC. MAKASSAR KOTA MAKASSAR Armi Indrayuni
Jurnal Linears Vol 1, No 2 (2018): Jurnal Linears
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/j-linears.v1i2.1811

Abstract

Tingginya tingkat pertumbuhan permukiman kumuh khususnya di Kota Makassar merupakan masalah tersendiri bagi kehidupan kota. Mempengaruhi secara tidak langsung berbagai aspek ekonomi, kesehatan, keamanan dan keindahan yang ditimbulkan dari permukiman dan masyarakat yang tinggal di permukiman kumuh. Penataan estetika permukiman kumuh di lakukan untuk menghilangkan citra kekumuhan demi terciptanya sebuah kota baru yang menuju kota dunia dengan melibatkan berbagai sektor pemerintah, swasta dan masyarakat. Tulisan ini bersifat deskriptif, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terhadap masyarakat yang bermukim di permukiman kumuh, dilakukan pada permukiman kumuh sepanjang jalan inspeksi kanal dari Pasar Pabaeng-Baeng hingga jalan Pelita. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa penataan estetika permukiman kumuh membutuhkan penataan desain sederhana sehingga mudah diterapkan diantaranya penataan keteraturan bangunan, permainan warna pada bangunan dan penggunaan material yang tepat guna. Di perlukan pula pendekatan sosial, ekonomi dan politik secara personal karena tingkat kepekaan masyarakat khususnya tingat bawah sangat rentan dan sensitivitas tinggi. Keberadaan mereka untuk dihargai dan diakui tinggal di kota sebagai masyarakat  “berguna” membutuhkan perhatian khusus dari berbagai sektor khususnya pemerintah. Dibutuhkan pemberdayaan ekonomi yang kreatif guna meningkatkan kesejahteraan dan keberadaan permukiman kumuh yang lebih berestetika sehingga dapat digunakan sebagai aset, daya tarik dan ciri khas Kota Makassar.