Kodrat Permana, Aramdhan
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Nuansa Tasawuf dalam Surah al-Fatihah: Analisis Mafâtîh al-Ghaib Karya Fakhruddîn al-Râzî Kodrat Permana, Aramdhan
Jurnal At-Tadbir : Media Hukum dan Pendidikan Vol 30 No 1 (2020): Tinjauan Masalah Hukum, Tafsir dan Pendidikan
Publisher : STAI Syamsul 'Ulum Gunungpuyuh Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (816.415 KB) | DOI: 10.52030/attadbir.v30i01.32

Abstract

Mafâtîh al-Ghaib karya Fakhr al-Dîn al-Râzî seringkali dipahami sebagai tafsir yang bercorak ilmi dan falsafi an sich sehingga pemikiran tasawuf Fakhr al-Dîn al-Râzî dalam tafsir tersebut tidak banyak dikaji. Padahal data historis biografisnya menjelaskan pergumulannya dengan tasawuf. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan nuansa tasawuf surah al-Fâtihah dalam Mafâtîh al-Ghaib. Surah ini tidak hanya diperlakukan khusus oleh al-Râzî dengan penafsirannya dalam satu jilid penuh, surah tersebut juga dalam pandangan al-Râzî memiliki probabilitas penafsiran sampai alf alf nuktah. Dengan menggunakan library research dan pendekatan idealis dan reduktionis serta metode komparatif hasil dari penelitian ini; 1) nuansa tafsir al-Râzî terhadap surah al-Fâtihah sangat kental; 2) tafsirnya berpusat pada metode munasabah dakhiliyyah (antar ayat dalam surah al-Fatihah)-kharijiyyah (antar ayat al-Qur’an dan hadis) dan metode ramzî (simbolik) yang sering digunakan oleh para sufi dalam menafsirkan al-Qur’ân.
Diferensiasi Sunnah dan Hadis dalam Pandangan Ignaz Goldziher Kodrat Permana, Aramdhan
Jurnal At-Tadbir : Media Hukum dan Pendidikan Vol 29 No 2 (2019): Kaidah-Kaidah dan Implementasi Syari'at Islam
Publisher : STAI Syamsul 'Ulum Gunungpuyuh Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (628.803 KB) | DOI: 10.52030/attadbir.v29i02.13

Abstract

adis dan sunnah dipahami memiliki esensi yang sama. Namun fakta leksikal, terminologi dan historisnya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk membahas tentang diferensiasi tersebut dari perspektif Ignaz Goldziher dengan menggunakan metode penelitian kualitatif yang didasarkan pada library research dan perspektif hermeneutik. Alhasil, Goldziher memahami bahwa hadis adalah ‘komunikasi’ yang tidak terikat pada aspek keagamaan apa pun, tapi melihatnya sebagai refleksi umat Islam terhadap perkembangan keagaamannya, walaupun ia tidak menolak keberadaan matan dan sanad. Sedangkan sunnah didefinisikan sebagai sebuah pengulangan dari pandangan Arab kuno terhadap tradisi nenek moyang mereka yang kemudian diadopsi oleh Islam. Jadi perbedaan antara keduanya yaitu hadis pada dasarnya merupakan sebuah bentuk ‘komunikasi’ atau ‘pembicaraan’ yang disandarkan pada Rasulullah SAW, sedangkan sunnah hanya sebagai sebuah sikap aktual Nabi Muhammad SAW. Implikasinya, pemahaman Goldziher ini membawa dirinya pada skeptisisme hadis sebagai sumber kedua hukum Islam.
Analisis Pemikiran al-Tafsir al-Maudlu’i al-Tauhidi Baqir Al-Shadr Kodrat Permana, Aramdhan
Jurnal At-Tadbir : Media Hukum dan Pendidikan Vol 31 No 1 (2021): Mutu Layanan Pembelajaran, Tela'ah Tafsir dan Hukum
Publisher : STAI Syamsul 'Ulum Gunungpuyuh Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.338 KB) | DOI: 10.52030/attadbir.v31i1.73

Abstract

Tafsir al-Maudlu’i al-Tauhidi dikenalkan oleh Baqir al-Shadr. Kajian ini bertujuan untuk menganalisis pemikiran al-Al-Tafsir al-Maudlu’i-AlTauhidi Baqir Al-Shadr. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berdasarkan pada kajian kepustakaan dan bersumber dari prime resource karya Baqir al-Shadr, al-Madrasat al-Qur’aniyyah, dengan bahan sekundernya dari pemikiran al-Farmawi dan bahan lain yang relevan. Penyajian kajian ini bersifat deskriptif-analitik yang digabungkan dengan teori korespondensi terutama ketika menguji secara kritis teori dan aplikasi konsep Baqir al-Shadr. Berdasarkan kajian, dengan dasar min al-Waqi ila al-Nash, Baqir al-Shadr menyatakan bahwa tafsir maudlu’i harus mampu berdialektika dengan fakta serta teori yang berkembang saat ini tanpa melepaskan langkah-langkah metodologis tafsir maudlu’i yang telah dirumuskan sebelumnya, seperti memerhatikan bahts al-Mufradat, asbab al-Nuzul dan makkiyyah-madaniyyah. Dengan teori korespondensi yang diaplikasikan pada kajian kritis teori dan aplikasinya, Baqir al-Shadr nampak belum melakukan secara konsisten dan komprehensif teori yang ia bangun.