Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Adulticide Efficacy of Artemisia vulgaris L. against Aedes aegypti L. Ninditya, Vika Ichsania; Purwati, Endah; Utami, Ajeng Tyas; Marwaningtyaz, Aprillyani Sofa; Fairuz, Nadia Khairunnisa; Hamid, Penny Humaidah
Jurnal ILMU DASAR Vol 20 No 2 (2019)
Publisher : Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (550.32 KB) | DOI: 10.19184/jid.v20i2.8174

Abstract

Aedes aegypti is the vector of various arthropod-borne diseases such as dengue fever, chikungunya and currently, zika. This study aimed to evaluate Artemisia vulgarisas other adulticides for controlling Ae. aegypti. Indonesian ministry of health hasbeen reported that more than 70.000 dengue fever human cases have occurred in 2015 covering 34 provinces which mean that dengue fever has spread now into all national territories. Eradication of Aedes still largely depends on insecticides, which is the most cost-effective strategy, and often inefficient due to resistance development in exposed Aedes population This study was designed to use of Centers for Disease Control and Prevention (CDC) bioassay standard. CDC bottles were coated with the ethanolic solution of extract with a concentration of 10, 50, 100, 500, 1000, 5000, 10000, 50000, and 100000 g per bottle. F0 mosquitoes were used for all experiments. Death and surviving mosquitoes were evaluated based on CDC standard assay. The test was performed with 10-25 adult mosquitoes every bottle and each concentration was repeated in triplicates. The results showed that LC50 and LC90 were 5790 g and 52110 g respectively after 120 minutes exposure to the extract. There was no mortality in ethanol control group. A. vulgaris significantly (P < 0.05) have adulticidal activity against Ae. aegypti. However, A. vulgaris have been reported to have larvacidal activity against Ae. Aegypti. These results indicated clearly that A. Vulgaris might act as the candidate of bioinsecticides for controlling Ae. aegypti. Keywords: Aedes aegypti, Artemisia vulgaris, adulticide,bio insecticide.
Analisis kadar fibrinogen sebagai biomarker diabetik pada tikus wistar yang diinduksi streptozotocin Rosyadi, Imron; Romadhona, Ella; Utami, Ajeng Tyas; Hijrati, Yayik Nur; Santosa, Christin Marganingsih
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 1 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.709 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.1.3-4

Abstract

Penyakit diabetes mellitus adalah serangkaian proses penyakit yang bermula dari kerusakan jaringan terutama di pankreas dimana awalnya ditandai dengan munculnya protein fase akut. Pada mamalia, konsentrasi protein fase akut yang dominan adalah serum amyloid A protein, C-reaktive protein dan fibrinogen. Penelitian ini bertujuan untuk mencari korelasi protein fase akut fibrinogen untuk digunakan sebagai biomarker pada tikus diabetes yang diinduksi streptozotocin. Tikus yang digunakan adalah tikus Wistar jantan sebanyak 20 ekor, umur sekitar 2 bulan dengan berat badan 180-250 gram. Tikus dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 10 ekor tikus sebagai kelompok perlakuan (I) dan kelompok kontrol (II). Kelompok I dipuasakan selama 24 jam kemudian diinjeksi streptozotocin 1 kali dengan dosis 40 mg/kg bb yang dilarutkan dalam bufer sodium sitrat 0,1 M pH 4,0. Tikus diambil darahnya pada jam ke-0, 6, 12, 24, 48, 60, 72, 84 dan 96  post induksi diabetes untuk diperiksa kadar konsentrasi protein fase akut fibrinogen Hasil penelitian rata-rata kadar fibrinogen pada jam ke-0 dan ke-6 yaitu sebesar 0,57±0,06 mg/mL dan 0,60±0,35 mg/mL masih dalam range normal, kemudian mulai meningkat terus berturut-turut di jam ke-12 sebesar 0,6±0,4 mg/mL, jam ke-24 0.93±0,46 mg/mL, jam ke-36 1,1±0,1 mg/mL, jam ke-48 1,13±0,81 mg/mL, jam ke-60 1,17±0.40 mg/mL, jam ke-72 1,47±0,06 mg/mL, jam ke-84 1,6±0,1 mg/mL dan jam ke-96 1,8±0,1 mg/mL. Hasil dari penelitian ini menunjukkan protein fase akut fibrinogen dapat dijadikan sebagai salah satu marker pada tikus yang diinduksi diabetes mellitus.
Gambaran kadar gula darah tikus wistar diabetes hasil induksi streptozotocin dosis tunggal Rosyadi, Imron; Romadhona, Ella; Utami, Ajeng Tyas; Hijrati, Yayik Nur; Santosa, Christin Marganingsih
ARSHI Veterinary Letters Vol. 2 No. 3 (2018): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.254 KB) | DOI: 10.29244/avl.2.3.41-42

Abstract

Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan kadar gula dalam darah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kadar gula darah tikus wistar yang diinduksi diabetes dengan streptozotocin. Tikus yang digunakan adalah tikus Wistar jantan sebanyak 20 ekor, umur sekitar 2 bulan dengan berat badan 180-250 gram. Tikus dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing kelompok 10 ekor tikus sebagai kelompok perlakuan (I) dan kelompok kontrol (II). Kelompok I dipuasakan selama 24 jam kemudian diinjeksi streptozotocin 1 kali dengan dosis 40 mg/kg bb yang dilarutkan dalam bufer sodium sitrat 0,1 M pH 4,0. Tikus diambil darah pada jam ke-0, 6, 12, 24, 48, 60, 72, 84 dan 96  post induksi diabetes untuk diperiksa kadar gula darah. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar gula darah tikus masih dalam keadaan normal pada jam ke-0 sebesar 90,6±15,88 gr/dL dan jam ke-6 126±11,73 gr/dl lalu menurun pada jam ke-12 sebesar 48,4±6,26 gr/dL dan meningkat tajam sebesar 348,3±33,17  gr/dL pada jam ke-24 sampai akhir penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan streptozotocin dapat menginduksi tikus menjadi diabetes mellitus.