Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Aktivitas antioksidan dan antibakteri dari ekstrak bee pollen lebah kelulut (Tetragonula sarawaknensis) Sari, Ayu Mitha; Rosamah, Enih; Suwinarti, Wiwin; Kusuma, Irawan W; Arung, Ph.D., Enos Tangke
Jurnal Riset Industri Hasil Hutan Vol 13, No 2 (2021)
Publisher : Kementerian Perindustrian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24111/jrihh.v13i2.7050

Abstract

Pemanfaatan produk propolis dan bee pollen madu tanpa sengat atau Kelulut masih sangat terbatas, demikian juga penelitiannya belum banyak dilakukan bahkan bisa dikatakan masih sangat terbatas termasuk kandungan zat ekstraktif pada bee pollen tersebut. Oleh karena itu tujuan penelitian ini adalah untuk skirining manfaat bee pollen sebagai produk kecantikan dan produk yang mengandung bahan yang dapat menangkal radikal bebas. Kemajuan teknologi dan gaya hidup manusia dimasa sekarang cenderung mudah menimbulkan banyak penyakit baru. Hal ini menimbulkan rasa penasaran akan bee pollen sebagai produk dari alam yang memiliki kemampuan sebagai antioksidan dan menghambat pertumbuhan Propionibacterium acnes. Metode ekstraksi yang digunakan dalam penelitian ini adalah ekstraksi dingin etanol 98% selama 3 x 24 jam, dilanjutkan dengan uji fitokimia, dan analisis antioksidan dengan uji DPPH dan penghambatan Propionibacterium acnes dengan metode difusi agar. Ekstrak bee pollen T. sarawakensis mengandung senyawa alkaloid, flavonoid, kumarin dan tanin. Ekstrak T. sarawakensis memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai konsentrasi hambatan 39% pada 100 mg/mL. Ekstrak memiliki penghambatan terkuat dari Propionibacterium acnes (42% pada 500 µg/well). Hasil ini menunjukkan adanya potensi ekstrak etanol T. sarawakensis untuk dikembangkan sebagai bahan kosmetik dan jamu, namun diperlukan percobaan lebih lanjut untuk membuktikan fungsinya.
KARAKTERISTIK TANIN DARI EKSTRAK KULIT KAYU LEDA (Eucalyptus deglupta Blume.) H. M. Rakhmat Awaliyan; Enih Rosamah; Edi Sukaton
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (203.776 KB) | DOI: 10.32522/ujht.v1i1.859

Abstract

 Kulit kayu yang mulanya merupakan limbah industri perkayuan mulai menjadi pusat perhatian. Hal ini dikarenakan kulit kayu banyak memiliki potensi yang dapat dimanfaatkan, selain jumlahnya yang kian meningkat juga ketersediaannya berkesinambungan. Ekstraktif merupakan salah satu potensi yang terkandung dalam kulit kayu yang dapat diperoleh dengan cara ekstraksi. Tanin dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti bahan pengawet, bahan penyamak, bahan perekat, bahan pewarna, bahan farmasi atau bahan industri kimia lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan ekstrak yang terdapat pada kulit kayu Eucalyptus deglupta Blume dan untuk mengetahui sifat fisik dan kimia serta kereaktifan tanin yang dihasilkan.Penelitian ini menggunakan 4 macam pelarut yang berbeda  untuk menghasilkan ekstrak. Serbuk kulit E. deglupta diekstrak dengan menggunakan pelarut air, pelarut Na2CO3 0,5%, pelarut Urea 0,5% dan pelarut lindi hitam dimana perbandingan pelarut dan serbuk kulit 1 : 5. Hasil ekstraksi menghasilkan nilai rataan rendemen bervariasi yang nilainya berturut-turut sebesar 9,650%, 16,543%, 9,675% dan 28,137% dengan nilai rataan kadar padat berturut-turut sebesar 2,975%, 5,642%, 3,399% dan 9,869%.
KARAKTERISTIK EKSTRAK DARI KULIT KAYU BAKAU DENGAN PELARUT YANG BERBEDA Suhendry Suhendry; Enih Rosamah; Edi Sukaton
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 1, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (305.459 KB) | DOI: 10.32522/ujht.v1i2.1021

Abstract

Tanin dari ekstrak tumbuhan memiliki beragam kegunaan, yang paling populer adalah sebagai bahan substitusi perekat dalam industri pengolahan kayu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik ekstrak dari kulit kayu bakau dari jenis Rhizophora mucronata, R. apiculata dan Avicennia officinalis dan untuk menganalisa sifat-sifat taninnya secara fisik. Data dianalisis dengan menggunakan rancangan faktorial acak lengkap 3 X 3 dengan 3 kali ulangan. Respon yang diukur adalah pengaruh jenis kayu dan bahan pemasaknya terhadap kadar padat dan rendemen. Pengujian viskositas dan waktu gelatinasi hanya dicari nilai rataannya dan dibahas secara deskriptif analitik.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa jenis kayu dan bahan pemasak memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap kadar padat dan rendemen,  dimana untuk kadar padat tertinggi diperoleh pada jenis kayu A. officinalis dengan bahan pemasak Na2CO3 1% sebesar 7,866 %. Rendemen tertinggi diperoleh  pada jenis kayu R. apiculata dengan bahan pemasak Na2CO3 1% sebesar 31,003%. Waktu gelatinasi tercepat diperoleh pada jenis kayu R. apiculata dengan bahan pemasak Na2CO3 1% pada taraf konsentrasi formaldehid 15%. Viskositas tertinggi diperoleh pada jenis kayu R. apiculata dengan bahan pemasak Na2CO3 1%.
Karakteristik Minyak Atsiri Daun Melaleuca leucadendra L. dari Empat Lokasi yang Berbeda Di Kabupaten Paser Kalimantan Timur Agmi Bagus Kartiko; Harlinda Kuspradini; Enih Rosamah
ULIN: Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.261 KB) | DOI: 10.32522/ujht.v5i2.5489

Abstract

Cajuput oil, which comes from the Melaleuca, is one of the NTFPs that is widely used for various health or pharmaceutical products so that it is a product that is in great demand. This study aimed to measure the yield and analyze the physical properties of M. leucadendra L. essential oil which comes from Paser, East Kalimantan. Samples were taken from 4 different locations, namely Rantau Panjang, Jone, Padang Pangrapat and Pondong Baru. Essential oils were obtained from distillation process using the water and steam method. The physical characteristics of essential oils were analyzed including visual color and refractive index using a hand refractometer. The results of M. leucadendra L. oil distillation from 4 locations, namely Rantau Panjang, Jone, Padang Pangrapat and Pondong Baru. showed the various yields, among others, 0.030%, 0.066%, 0.104% and 0.031%. The color of the essential oil observed also varied from yellow to orange and the refractive index range obtained was 1,429-1,450. The results of this study have the potential as a new source of cajuput oil originating from East Kalimantan, however further research is needed to find out about the appropriate distillation technique in order to increase the yield of M. leucadendra essential oil.
Chemical content in Two Teak Woods (Tectona grandis Linn.F.) that has been used for 2 years and 60 years Enih Rosamah; Fera Ferliyanti; Harlinda Kuspradini; Rudi Dungani; Pingkan Aditiawati
3BIO: Journal of Biological Science, Technology and Management Vol. 2 No. 1 (2020)
Publisher : School of Life Sciences and Technology, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/3bio.2020.2.1.3

Abstract

Teak (Tectona grandis Linn F.) is classified as luxury wood and belongs to the durable wood, resistant to termite and fungal attacks. The purposes of this study were to analyze and compare the chemical content and bioactive compound of teak (T. grandis Linn F.) from Sumedang, West Java based on age of use. This study used teak woods of 2 and 60 years of use. The chemical components analyzed by determination of lignin, extractives, and ash content. Phytochemical compounds were analyzed by color changing of crude acetone extracts. The results showed that the teak wood with 2 years of use possessed lignin of 28.41%; cold water soluble extractives of 4.26%; hot water soluble extract of 5.12%; NaOH 1% soluble extractives of 19, 40; and alcohol:benzene (1:2) soluble extract of 6.21%; while ash content of  0.85%. Meanwhile teak wood after use of 60 years showed the lignin content of 29.82%; cold water  extract of 1.56%; hot water  extract of 2.56%; 1% NaOH soluble extract of 12.30%;  alcohol:benzene (1:2) extract of 4.62%; ash content of 1.36%. The qualitative phytochemical test demonstrated both of teak wood after use of 2 years and use of 60 years contained flavonoids, tannins, triterpenoids, cumarins, and carbohydrates.
Aktivitas Anti Jamur Ekstrak Kulit Kayu Laban (Vitex pubescens Vahl) (Antifungal Activity of Laban (Vitex pubescens) Bark Extracts) Enih Rosamah; Irawan W. Kusuma; Deny Kurniawan
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis Vol 8, No 1 (2010): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kayu Tropis
Publisher : Masyarakat Peneliti Kayu Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51850/jitkt.v8i1.507

Abstract

The most of antifungi used in preservatives for wood, food, fungicides, dyestuff, etc. come from synthetical substances, that poisoned not only for fungi but also for environment. In recent, antifungi have been taken from plants. Laban (Vitex pubescens Vahl) is one of high quality wood has been used in Kalimantan (Borneo). Isolation of active compounds will provide scientific validation for the use of laban in another purposes. The object of this research was to evaluate the antifungi activity of bark extract of Laban wood. Extractives solubility of laban bark in methanol was 6.03%. Soluble fractions in n-hexane, diethyl ether, and ethyl acetate yielded 0.27%, 0.39%, and 0.47% respectively. Fractions of n- hexane and diethyl ether contained steroid, flavonoid and carbohydrates. While, ethyl acetate fraction contained triterpeoids, flavonoids, and carbohydrates. Thin layer chromatography (TLC) test of laban bark extracts showed the active compounds of aldehide, keton, and flavonoids. The n-hexane-, diethyl ether-, and ethyl acetate extracts showed the significant anti fungal activities by air-borne method. Antifungal activity of o- hexane extract against Candida albicans was detected by a bioautography assay on TLC plate. The results showed that bark of laban possess potential antifungal activity to be developed as natural antifungal substances.