Furqan Furqan
Universitas Serambi Mekkah Banda Aceh

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

STUDI KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT NELAYAN DALAM UPAYA PEMANFAATAN BERKELANJUTAN TERHADAP KONSERVASI LAUT DI KAWASAN LAMPULO KOTA BANDA ACEH Furqan Furqan; Yuli Khairani; Erdi Surya; Armi Armi; M. Ridhwan; Anita Noviyanti; Lukmanul Hakim; Muchsin Muchsin
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol 7, No 2 (2021): Jurnal AL-IJTIMAIYYAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v7i2.10124

Abstract

Abstract: Fisheries sector, where in Aceh is a considerable amount of natural resource, has become a significant economic contributor for fishermen in particular and people of the province of Aceh. More than 55% of Aceh’s population depends on it both directly and indirectly. Therefore, it should be a priority for development in the province of Aceh and develop a positive impact on the widespread economic development in the region. While recognizing its economic values, research on how lokal fishermen’s communities use marine conservation in TPI Lampulo Banda Aceh to improve their awareness of marine conservation and its use sustainably is still largely lacking. This study, hence, aims to shed lights what sort of lokal wisdom is employed by the community. The approach in the study was the whole fishing community at the surrounding of TPI Lampulo along with five seas and two village sets. The sample in this study was 20 people, 14 people were fishermen, 2 seamen, 1 sea marshal, 1 village secretary and 1 village chief. Data are gathered through interviews and observations. Research suggest that the lokal wisdom of the fishing community in TPI Lampulo on ocean conservation is among other things: firstly, Taking care of the coastal environment like the mangrove forest use. Next, Fishing techniques that do not damage the ecosystems around the ocean coast, and than, Rules enforcement. Finally, and customary witnesses for breaking those rules have been in place for a long time. All of those remains maintained by the people especially the fishing community in TPI Lampulo.Keywords: Lokal Culture; Sustainable Utilization; Marine Conservation.Abstrak: Provinsi Aceh merupakan salah satu provinsi yang memiliki potensi kekayaan sumber daya alam yang cukup besar terutama disektor perikanan. Sumber daya perikanan telah menjadi salah satu sektor andalan bagi nelayan dan masyarakat di provinsi Aceh. Lebih dari 55% penduduk Aceh tergantung pada sector ini baik langsung maupun tidak langsung, pengembangan sektor perikanan harus menjadi salah satu prioritas pembangunan di provinsi Aceh sehingga memberikan dampak positif bagi perkembangan ekonomi secara luas di kawasan ini. Permasalahan dasar dalam penelitian adalah’ bagaimana kearifan lokal masyarakat nelayan dalam upaya pemanfaatan konservasi laut di TPI Lampulo Banda Aceh dalam rangka meningkatkan bentuk kesadaran masyarakat nelayan terhadap menjaga konservasi laut dan pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk kearifan lokal. Pendekatan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriftif. Yaitu dengan menggunakan metode observasi dan wawancara terhadap responden, sedangkan populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat nelayan yang berada di TPI Lampulo beserta panglima laot dan dua perangkap Desa. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 20 orang yaitu 14 orang masyarakat nelayan, 2 orang pawang laut, 1 orang panglima laot, 1 orang sekretaris desa dan satu orang kepala desa. Data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat kearifan lokal masyarakat nelayan di TPI Lampulo terhadap konservasi laut antara lain. Pertama, mengatur berbagai hal seperti pemanfatan hutan mangrove, selanjutnya, penangkapan ikan yang tidak boleh menganggu ekosistem di sekitar pesisir laut, berikutnya, aturan-aturan yang boleh dikerjakan dan ada aturan yang tidak boleh dikerjakan. Dan terakhir sangsi adat apabila ada yang melanggar, aturan-aturan tersebut sudah ditetapkan sejak lama. dan hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat khususnya masyarakat nelayan yang berada di TPI Lampulo.Kata Kunci: Kearifan Lokal; Pemanfaatan Berkelanjutan; Konservasi Laut.
DAMPAK KEBERADAAN BUDI DAYA KERAMBA IKAN AIR TAWAR TERHADAP KESEJAHTERAAN MASYARAKAT DESA TOWEREN KECAMATAN LUT TAWAR KABUPATEN ACEH TENGAH Furqan Furqan; Fitria Rizki Maghfirah
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol 8, No 2 (2022): Jurnal AL-IJTIMAIYYAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v8i2.15545

Abstract

Abstract: A prosperous society is a society that has a good and sufficient economy so that it can provide a decent enough life. To meet the necessities of life and also a decent life, of course the community must try, as the people of Toweren Village who started fish cage cultivation in order to achieve a prosperous family. The research problem is formulated into two: First, what is the impact of freshwater fish cage cultivation on the welfare of the people of Toweren Village. Second, what is the response of the Toweren Village Community regarding the Existence of Freshwater Fish Cage Cultivation. The purpose of this study was to determine the impact of fish cage cultivation and the public's response to fish cage cultivation. This research is a field research using a qualitative descriptive approach. Data collection techniques by way of observation and interviews. The results of the study show that fish cage cultivation can improve the economy and can meet the needs of the community and can reduce the unemployment rate of the people of Toweren Village so that the people of Toweren Village can be said to be a prosperous society. In addition, fish cage cultivation has a negative impact, namely, environmental pollution and becomes an obstacle to community activities such as fishermen and anglers.Keywords: Aquaculture; Fish Cage; Welfare; Community.   Abstrak: Masyarakat yang sejahtera merupakan masyarakat yang memiliki ekonomi bagus dan mencukupi sehingga dapat memberikan kehidupan yang cukup layak. Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga kehidupan yang layak tentunya masyarakat harus berusaha, sebagaimana masyarakat Desa Toweren yang memulai budi daya keramba ikan agar mencapai keluarga yang sejahtera. Masalah penelitian dirumuskan menjadi dua: Pertama, Bagaimana dampak usaha budi daya keramba ikan air tawar terhadap kesejahteraan masyarakat Desa Toweren. Kedua, Bagaimana tanggapan Masyarakat Desa Toweren mengenai Keberadaan Budi Daya Keramba Ikan air tawar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dampak budi daya keramba ikan dan tanggapan masyarakat terhadap budi daya keramba ikan. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan melalui pendekatan Deskriptif kualitatatif. Teknik pengumpulan data dengan cara observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budi daya keramba ikan dapat meningkatkan ekonomi dan dapat memenuhi kebutuhan hidup masyarakat serta dapat mengurangi tingkat pengangguran masyarakat Desa Toweren sehingga masyarakat Desa Toweren dapat dikatakan ke dalam masyarakat yang sejahtera. Selain itu budi daya keramba ikan memiliki dampak negatif yaitu, pencemaran lingkungan serta menjadi penghambat aktivitas masyarakat seperti nelayan dan pemancing.Kata Kunci: Budi Daya; Keramba Ikan; Kesejahteraan; Masyarakat.
MAQASHID AL-SYARIAH KESEPAKATAN PASANGAN SUAMI ISTERI TIDAK MEMILIKI ANAK (CHILDFREE) DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Muhammad Syarif; Furqan Furqan
JURNAL AL-IJTIMAIYYAH Vol 9, No 1 (2023): Jurnal AL-IJTIMAIYYAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/al-ijtimaiyyah.v9i1.17545

Abstract

Abstract: Childfree reaps many pros and cons, then what is the law in Islam if a husband and wife decide not to have children. This library research study aims to explain the position of childfree (unwillingness to have children) within the framework of Islamic law by using the maqashid al-shari'ah theories. The results of this study indicate that deciding to be childfree is due to financial reasons and academic education. Having a child is not just about giving birth but also having to be prepared to create quality children so that it costs quite a lot to get a proper education. In Islamic law, marriage has several purposes, one of which is to get offspring (hifẓ an-nasl). Therefore, if a husband and wife marry and deliberately decide not to have children, then this decision is contrary to Islamic law.Keywords:  Husband and wife; Childfree; Islamic Law.Abstrak: Childfree menuai banyak pro dan kontra, lalu bagaimana hukumnya dalam Islam apabila pasangan suami istri memutuskan untuk tidak memiliki anak. Penelitian studi kepustakaan (library research) ini bertujuan untuk menjelaskan kedudukan childfree (keengganan untuk memiliki keturunan) dalam kerangka hukum Islam dengan menggunakan teori maqashid al-syariah. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa memutuskan childfree karena alasan finansial dan pendidikan akademik. Memiliki anak tidak hanya sekedar melahirkan tetapi juga harus dipersiapkan untuk menciptakan anak yang berkualitas sehingga membutuhkan biaya yang cukup banyak untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam hukum Islam perkawinan memiliki beberapa tujuan, salah satunya adalah untuk mendapatkan keturunan (hifẓ an-nasl). Oleh sebab itu, apabila pasangan suami istri menikah dan memutuskan dengan sengaja untuk tidak memiliki anak maka keputusan ini bertentangan dengan hukum Islam.Kata Kunci: Suami Istri; Childfree; Hukum Islam.