Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PENGGUNAAN POLA KALIMAT KAGIRI DAN KAGIRI DA DALAM BAHASA JEPANG (ANALISIS STRUKTUR DAN MAKNA) Mellati Riandi Putri; Wagiati Wagiati
Prosodi Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Vol 15, No 1: (2021): Prosodi
Publisher : Program Studi Bahasa Inggris Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.604 KB) | DOI: 10.21107/prosodi.v15i1.10489

Abstract

The purpose of this research is to find the way of using kagiri and kagiri da as sentence patterns in Japanese. The type of this research is qualitative research with descriptive method. The data was taken from Japanese online news website, Asahi Shinbun which published on early December 2020 that contain sentences that using kagiri and kagiri da sentence pattern. There are 21 data gathered from Asahi Shinbun, and based on the part of speech that formed with kagiri and kagiri da sentence pattern, there are ten data were classified as noun, nine data were classified as verb, and 2 data classified as adjective. The kagiri sentence pattern used as conjunction when formed with noun and verd with semantic meaning as “while” with certain condition or terms, and used as suffix when formed with noun which containing number or time with semantic meaning of limitation of something. While the kagiri da sentence pattern only formed with adjectives and always in the end of the sentence with semantic meaning of describing a certain level of the speaker feelings. The kagiri sentence pattern have a lot of variations such as formed with joshi in ni kagiri pattern, ni kagitte pattern, and ni kagiru pattern. The further research through another data source such as corpus may needed to find another purpose of this sentence pattern. Keywords: syntax, semantic, verb, kagiri, kagiri da
KOMPETISI ANTARA PETUNJUK SINTAKTIS DAN SEMANTIS DALAM PEMAHAMAN BAHASA INGGRIS: STUDI EKSPERIMENTAL BERTEKNOLOGI SEMIDARING Sugeng Riyanto; Wagiati Wagiati; Elly Sutawikara
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 2 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.2.3

Abstract

Penelitian tentang pemahaman kalimat ini merupakan salah satu bidang kajian dalam psikolinguistik. Pengguna bahasa memiliki berbagai petunjuk (cue) untuk memahami kalimat, yakni urutan (nomina pertama sebagai pelaku/subjek), kebernyawaan (nomina bernyawa sebagai pelaku/subjek), dan kongruensi (nomina sebagai pelaku/subjek adalah nomina yang bersesuaian dengan verba dalam kalimat). Penelitian berancangan kuantitatif dengan peubah bebas dua kelompok pembahan, lima tipe kalimat (setiap tipe terdiri atas empat kalimat). Peubah terikatnya dalah pilihan nomina pertama atau kedua dan waktu yang digunakan untuk menentukan pilihan. Hasilnya dianalisis menggunakan statistik berkaitan dengan rerata dan simpangan baku. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa pemahaman kalimat tidak bersifat semesta. Setiap kelompok penutur memiliki cara yang berbeda dalam memahami kalimat. Bobot relatif perangkat semantis (kebernyawaan) merupakan petunjuk terpenting pada kedua pembahan untuk menentukan pelaku perbuatan atau subjek kalimat, disusul urutan sebagai perangkat sintaktis, dan akhirnya kongruensi yang juga merupakan perangkat sintaktis.Kata kunci: pemahaman kalimat, pelaku/subjek, perangkat sintaktis, perangkat semantis.
BAHASA GAUL KAUM MUDA SEBAGAI KREATIVITAS LINGUISTIS PENUTURNYA PADA MEDIA SOSIAL DI ERA TEKNOLOGI KOMUNIKASI DAN INFORMASI Duddy Zein; Wagiati Wagiati
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 2 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.2.6

Abstract

Salah satu praktik berbahasa yang menjadi dampak perkembangan teknologi komunikasi dan informasi adalah munculnya kreativitas linguistis, khususnya di kalangan kaum muda. Kreativitas linguistis pada praktiknya telah menimbulkan adanya divergensi bahasa sehingga menimbulkan disparitas komunikasi antara kaum muda dengan kaum tua di tengah masyarakat. Tulisan ini mengangkat tiga hal utama, yaitu (1) bagaimanakah gejala lingual di kalangan kaum muda yang disebut sebagai bahasa gaul, (2) bagaimana bentuk-bentuk kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, dan (3) faktor apa saja yang mendorong terjadinya proses kreativitas linguistis. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiolinguistik . Data penelitian diambil dari jejaring media sosial twitter pada tahun 2018. Hasil kajian memperlihatkan beberapa hal yaitu, (1) bahasa gaul di kalangan kaum muda pada dasarnya dipahami sebagai subragam informal bahasa Indonesia; (2) bahasa gaul di kalangan kaum muda memiliki identitas leksikal yang menjadi ciri utamanya, yaitu adanya reduksionisme, penyingkatan kata, dan akronimisasi; (3) faktor yang melatarbelakangi munculnya kreativitas linguistis di kalangan kaum muda, yaitu efisiensi berbahasa, sosialpsikologis, anutan berbahasa, kemajuan teknologi, dan keinginan untuk menciptakan varian (bahasa Indonesia) baru.
INFLEKSI VERBA DALAM ALBUM OVEREXPOSED MAROON 5: KAJIAN MORFOSINTAKSIS (INFLECTION OF VERBS IN MAROON 5’S OVEREXPOSED ALBUM: A MORPHOSYNTAX STUDY) Ilham Munandar; Wagiati Wagiati
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 19, No 1 (2021): METALINGUA EDISI JUNI 2021
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v19i1.541

Abstract

AbstractAs one of a class of lexical units, verbs can be identified by morphosyntax, which is the relation between morphology and syntax. Inflection is often used by writers or linguists to get a more specific meaning tailored to the circumstances of a sentence. Inflection of verbs or conjugation are influenced by several factors that cause the verb form and meaning to change. This writing discusses the inflection of verbs in Maroon 5’s Overexposed album song lyrics as a morphosyntax study. using qualitative descriptive method. The theory about inflections by O’Grady &Archibald and Herring are used as references to analyze the data. The result showsthat there are three types of inflection of verbs in Overexposed album, namely (1) suffix –s, functions as the third-person singular pronoun, (2) suffix –ing, functions as the progressive form, and (3) suffix –ed, functions as the past tense.AbstrakSebagai salah satu kategori unit leksikal, verba dapat diidentifikasi secara morfosintaksis, yaitu persinggungan antara kajian morfologi dan sintaksis. Infleksi sering digunakan oleh para penulis atau ahli bahasa untuk mendapatkan makna yang lebih spesifik yang disesuaikan dengan keadaan dalam suatu kalimat. Infleksi verba atau konjugasi terjadi karena dipengaruhi oleh beberapa faktor yang menyebabkan suatu verba berubah bentuk dan juga maknanya. Penelitian ini membahas infleksiverba dalam kajian morfosintaksis yang menjelaskan bentuk infleksi verba yang terdapat pada lirik lagu Maroon 5 dalam album Overexposed. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Teori mengenai infleksi oleh O’Grady & Archibald serta Herring digunakan sebagai acuan untuk menganalisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga jenis infleksi verba yang terdapat dalam album Overexposed di antaranya (1) sufiks –s yang berfungsi sebagai penanda pronomina persona ketiga tunggal, (2) sufiks –ing yang berfungsi sebagai penanda progressive, dan (3) sufiks –ed yang menunjukkan bentuk past tense.
Attitudinal Meaning in COVID-19 Local Language Guidelines of Indonesia: A Systemic Functional Linguistic Study Dini Sri Istiningdias; Lia Maulia Indrayani; Eva Tuckyta Sari Sujatna; Wagiati Wagiati
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 10, No 2 (2021): Ranah: Jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v10i2.4050

Abstract

The Ministry of Education and Culture has published 3M's health protocol behavior change guidelines regarding the campaign to prevent COVID-19 transmission in 77 local languages of Indonesia. However, this research only focused on guidelines that used Sundanese as a local language in West Java. This research aimed to identify the types of attitudes and analyze the meanings that appear in these guidelines. The author used the theory of Martin and White (2005), namely the attitude subsystem as part of the appraisal system with Systemic Functional Linguistic approach which showed the author's evaluative attitude towards various things written to lead the readers. The result of this research showed that some information contained judgement both positive and negative side such as the authors found 15 clauses included in the affective indicator of the attitude subsystem in security meaning and four clauses satisfaction meaning. In addition, the authors found 16 clauses included in the attitude subsystem of judgment indicator referring to social esteem and three clauses referring to social sanction. The author also found 12 clauses included in the attitude subsystem of appreciation indicator referring to composition, five clauses referring to valuation, and two clauses referring to reaction. Based on the results of the analysis of each clause listed in the 3M health protocol behavioral change guidelines then the authors conclude that the message conveyed is positive attitude for the society. AbstrakKementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah menerbitkan pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan 3M terkait kampanye pencegahan penularan COVID-19 dalam 77 bahasa daerah di Indonesia. Namun, penelitian ini hanya berfokus pada pedoman yang menggunakan Bahasa Sunda sebagai bahasa daerah di Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis-jenis sikap dan menganalisis makna yang muncul dalam pedoman tersebut. Penulis menggunakan teori Martin and White (2005) yaitu subsistem sikap sebagai bagian dari sistem penilaian dengan pendekatan Linguistik Sistemik Fungsional yang menunjukkan sikap evaluatif penulis terhadap berbagai hal yang ditulis untuk mengarahkan pembaca. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa informasi mengandung penilaian baik sisi positif maupun negatif seperti, penulis menemukan 15 klausa yang termasuk dalam indikator afektif subsistem sikap bermakna keamanan dan 4 klausa bermakna kepuasan. Selain itu, penulis menemukan 16 klausa yang termasuk dalam subsistem sikap indikator penilaian yang mengacu pada penghargaan sosial dan 3 klausa yang mengacu pada sanksi sosial. Penulis juga menemukan 12 klausa yang termasuk dalam subsistem sikap indikator apresiasi mengacu pada komposisi, 5 klausa mengacu pada penilaian, dan 2 klausa mengacu pada reaksi. Berdasarkan hasil analisis dari setiap klausa yang tercantum dalam pedoman perubahan perilaku protokol kesehatan 3M maka penulis menyimpulkan bahwa pesan yang disampaikan bermakna sikap positif bagi masyarakat.
Kanji Continuum Structure in I Meito Kouryuu no Tanoshimi Magazine Volume 17 Fahri Delfariyadi; Puspa Mirani Kadir; Ypsi Soeria Soemantri; Wagiati Wagiati
Japanese Research on Linguistics, Literature, and Culture Vol 4, No 2 (2022): May
Publisher : Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33633/jr.v4i2.5592

Abstract

This research aims to describe the structure of the kanji continuum within I Meito Kouryuu no Tanoshimi magazine Volume 17. The data source used in this research is I Meito Kouryuu no Tanoshimi Magazine Volume 17 and data form are kanji continuum or kanji sequence. The data is obtained by data recording technique, and the data are classified based on the number of constituent elements in every data, which is 3 and 4 constituent elements. Based on the results of this research, it shows that the kanji continuum is consists of six to nine kanjis, has three or four constituent elements, the three-forming constituent element category is composed of six to seven kanjis, the four-forming constituent element is composed of eight to nine kanjis, it is structured in a head-modifier relationship and the meaning is lexical, and the structure and relation of meaning becomes more complex as the number of letters on the kanji continuum increases.
KONSEPTUALISASI METAFORA DALAM AL-QUR’AN JUZ 30: KAJIAN SEMANTIK KOGNITIF (THE CONCEPTUALIZATION OF METAPHOR IN THE QURAN JUZ 30: A COGNITIVE SEMANTICS STUDY) Rifa Rafkahanun; Tajudin Nur; Wagiati Wagiati
Metalingua: Jurnal Penelitian Bahasa Vol 20, No 1 (2022): METALINGUA EDISI JUNI 2022
Publisher : Balai Bahasa Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/metalingua.v20i1.651

Abstract

Penelitian ini berjudul “Konseptualisasi Metafora dalam Al-Qur’an Juz 30: Kajian Semantik Kognitif”. Pembahasannya diorientasikan pada kajian semantik kognitif dengan tujuan mendeskripsikan makna konseptual, jenis metafora dan skema citra yang terdapat pada Al-Qur’an Juz 30. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Adapun teori yang diacu adalah semantik kognitif, berkaitan dengan jenis-jenis metafora menurut Lakoff dan Johnson serta teori mengenai skema citra menurut Croft dan Cruse. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an Juz 30 ditemukan 35 data metafora yang terbagi kepada 3 jenis metafora, yaitu 15 data metafora struktural, 10 data metafora orientasional dan 10 data metafora ontologis. Dari ketiga tipe metafora tersebut, terdapat 25 makna konseptual dan 6 macam skema citra, yaitu 9 data skema citra ruang (space), 1 data skema citra skala (scale), 7 data skema citra wadah (container), 6 data skema citra kekuatan (force), 4 data skema citra bagian/keseluruhan (unity/multiplicity) dan 8 data skema citra keberadaan (existence).