Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KREDIBILITAS KOMUNIKATOR DALAM MENUMBUHKAN SIKAP KELOMPOK TANI HUTAN DI KABUPATEN SUMEDANG Iriana Bakti; Trie Damayanti; Aang Koswara
Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi Vol 2, No 01 (2016): BRICOLAGE: Jurnal Magister Ilmu Komunikasi
Publisher : Universitas Bunda Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (163.338 KB) | DOI: 10.30813/bricolage.v2i01.827

Abstract

The communicators in environment communication has a very important role in establishing effectivecommunication in the environment with their audience. A communicator tried to resuscitatecommunity to always care to the surrounding environment . The presence of a credible environmentalcommunicator can reduce the gaps in knowledge about environmental issues, and may even build apositive attitude towards the development of forestry. Studies on the credibility of communicator inenvironment communication is intended to determine the skills and increasing confidence ofcommunicators KTH members attitude towards forestry development. The research method isdescriptive survey using a questionnaire as a primary research instrument. The results showed that (1)the environmental communicators are people who have considerable expertise in explaining themessage, and answer questions about the message, so as to foster a positive attitude towards thedevelopment of forestry KTH members. (2) Communicators environment is a trustworthy person,being able to practice the material presented and able to encourage members of KTH to be able topractice it conveys, so as to foster a positive attitude towards the development of forestry KTHmembers. (3) Based on its expertise in explaining the message, and answer questions about about themessage, as well as its belief in practice the messages conveyed in, and encourage members of KTH tobe able to practice it conveys, the communicator environment has a high degree of credibility, so as tofoster a positive attitude member KTH on development of forestry. To optimize the implementation offorestry development, forestry should recruit young people so to become members of KTH, andforestry has to more concerned about environmental issues.Keywords: communicator, credibility, expertise, trustworthiness, attitude
KOMUNIKASI AGAMA DALAM IKLAN RAMADHAN 2017 VERSI PT. DJARUM Aat Ruchiat Nugraha; Priyo Subekti; Iriana Bakti
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 10, No 2 (2017): (Accredited Sinta 3)
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v10i2.2745

Abstract

Isu kebangsaan yang melanda Indonesia pada akhir-akhir ini telah memberikan peluang ke berbagai sendi kehidupan berbangsa, termasuk pada sajian iklan di televisi. Keberadaan iklan telah dimanfaatkan sebagai media persuasi dalam mempersatukan bangsa dan masyarakat Indonesia khususnya. Sajian sebuah iklan akan menjadi menarik perhatian apabila mengandung “ketidakbiasaan” dalam penyampaian tema atau ide cerita kepada penontonnya. Salah satu daya tarik ide cerita iklan yang dapat dimanfaatkan adalah situasi bulan puasa. Sebab bulan puasa dapat dianggap sebagai momentum untuk dapat meningkatkan kesholehan sosial melalui terpaan pesan-pesan yang mengandung nilai-nilai sentuhan emosional. Adapun sentuhan emosional tersebut berupa pesan-pesan keagamaan yang dikemas dalam bentuk jalan cerita perjalanan menyambut bulan puasa yang dilakukan dengan cara menginterasikan kegiatan kearifan lokal dari setiap daerah dengan nilai keagamaan. Adanya iklan yang bertemakan keanekaragaman tetapi satu tujuan yang ditampilkan dalam iklan spesial Ramadhan 2017 oleh PT. Djarum ini menandakan kepedulian perusahaan akan isu yang berkembang di masyarakat pada saat ini. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan studi dokumentasi. Hasil dan temuan dalam penelitian menunjukkan bahwa sajian iklan spesial Ramadhan 2017 yang dilakukan oleh PT. Djarum telah mencerminkan aktifitas nilai-nilai budaya lokal yang mengandung ritual keagamaan serta dikemas dalam bentuk komunikasi agama berupa iklan yang kreatif dalam upaya mereduksi isu kebangsaan yang kian pudar.
City Branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya Melalui Event Sawahlunto International Songket Carnival (Sisca) 2016 Nurkhalila Fajrini; Iriana Bakti; Evi Novianti
PRofesi Humas Vol 2, No 2 (2018): PRofesi Humas
Publisher : LP3 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.683 KB) | DOI: 10.24198/prh.v2i2.12861

Abstract

Songket Silungkang merupakan produk andalan hasil kerajinan masyarakat kota Sawahlunto. Sejarah songket dan sejarah tambang memperkuat city branding Sawahlunto dalam mewujudkan visi “Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya” yang tertuang dalam Peraturan Daerah No. 2 Tahun 2001 pada event SISCa. Pada SISCa 2016, transformasi Kota Wisata Tambang Yang Berbudaya direalisasikan melalui konsep dan desain penampilan peserta karnaval. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui alasan dan latar belakang penyelenggara menjadikan Sawahlunto International Songket Carnival (SISCa) 2016 dalam city branding Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya, pemahaman penyelenggara terkait SISCa 2016 dan tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara SISCa 2016 dalam rangka city branding Sawahlunto. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teori konstruksi sosial atas realitas dan konsep city branding menjadi landasan dalam membahas hasil penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alasan penyelenggara menjadikan SISCa 2016 dalam city branding Sawahlunto adalah adanya keterkaitan dampak yang ditimbulkan dari SISCa 2016 tersebut yakni, dampak ekonomi dan dampak pariwisata. Pemahaman penyelenggara SISCa 2016 terkait city branding kota Sawahlunto tertuang dalam Misi SISCa 2016 sebagai bentuk transformasi visi kota dengan mengangkat konsep wisata tambang. Tindakan komunikasi yang dilakukan penyelenggara melalui tiga tahapan komunikasi, yakni (1) komunikasi tahap awal SISCa antara pemerintah dengan pihak internal dan eksternal, (2) komunikasi saat berlangsungnya SISCa 2016 secara verbal dan non verbal, dan (3) komunikasi pasca SISCa 2016 dilakukan untuk menjalin hubungan baik dalam persiapan SISCa selanjutnya. Dengan demikian, penyelenggaraan SISCa 2016 dianggap sebagai salah satu bentuk promosi daerah sebagai perwujudan visi kota Sawahlunto.
BETWEEN MYTHS AND ETHOS: FRAMING MESSAGES FOR ENVIRONMENTAL COMMUNICATION OF KAMPUNG NAGA TASIKMALAYA WEST JAVA Suwandi Sumartias; Priyo Subekti; Susie Perbawasari; Iriana Bakti
Sosiohumaniora Vol 24, No 2 (2022): SOSIOHUMANIORA, JULY 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v24i2.38825

Abstract

Kampung Naga, also called Naga Village, is a customary community that still preserves the traditions of their ancestors, which in this case is the Sundanese culture. They live adjacent to nature, believe that it is a gift from God, and based on this concept, they consider natural disasters as causes of bad human behavior. This belief exists because the village does not only live in nature but with it as well, and as a customary community, they have their ways of managing it. Therefore, this research aims to determine the myths and ethos associated with environmental communication activities. It also tries to identify the role of traditional leaders in transmitting cultural values to the younger generation through these activities. The results showed that the Naga Village community uses myths and ethos for environmental communication through the Pamali concept and by living with nature. They are also good role models in inheriting values, which become tools to awaken the community and the young generation, and these are often conveyed at traditional events as manifestations of their beliefs in nature. The inheritance of values by the younger generation is performed through the enculturation process to develop customs that will later become social controls in the community.