Robertus Wijanarko
Unknown Affiliation

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Memahami Medan Pelayanan Gereja Indonesia Dewasa Ini (Tantangan Menghadirkan Gereja Gembira Dan Berbelaskasih) Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 25 No. 24 (2015)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

etiap zaman mempunyai narasi besarnya sendiri. Narasi besar merupakan wacana-wacana atau fenomena mencolok yang mempunyai pengaruh luas dan mendalam bagi kehidupan manusia, di manapun manusia itu tinggal. Gereja menyebutnya dengan ungkapan “tanda-tanda zaman”. Dokumen seruan Apostolik Paus Fransiskus, Evangelii Gaudium, dan Bula Misericordiae Vultus juga mempunyai konteks tersendiri dan dimaksudkan untuk memberi wawasan dan semangat baru kepada Gereja untuk meng- hadirkan diri dengan mengindahkan narasi-narasi besar tersebut. Mengingat referensi dokumen Kepausan adalah konteks Gereja Universal, maka wacana-wacana besar yang dirujuk merupakan kondisi masyarakat Global. Untuk konteks Gereja Indonesia, kita masih perlu mengidentifikasi narasi- narasi besar yang mempunyai pengaruh luas dan mendalam terhadap kehidupan kita, karena disanalah kita menemukan wajah dan apa yang dibutuhkan oleh manusia-manusia Indonesia. Namun demikian perlulah kita menyimak terlebih dahulu fenomena zaman yang menjadi perhatian Gereja Universal, yang diidentifikasi dalam Anjuran Apostolik dan Bula Paus Fransiskus, baru kemudian kita mengidentifikasi narasi-narasi besar yang relevan dengan kehidupan bangsa Indonesia. Biarpun, di era Globalisasi dewasa ini, sebenarnya tidak mungkin bagi kita untuk memisahkan keduanya.
Membangun Identitas Inklusif - Krisis Identitas Dalam Lensa Kajian Poskolonialisme Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 30 No. 29 (2020)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v30i29.10

Abstract

Multidimentional crisis which became more visible in the Covid-19 pademic era, actually rooted in the crisis of identity of Indonesia. It occurs, especially when identitys is considered as essential caracters or inherent features of this nation, inherited from the previous generation. The understanding of such kind of identity causes defensive, exclusive attitudes at the level of individual, communal, or even as a nation. In this perspective life is simply considered as an arena of contestation and will end up in the subordination of the others. By utilizing the lens of Postcolonial Theory, I axhibit the roots of that crisis of identity, and also propose a new perspective, which is comprehending identity as a production or a continuous process in a making. This new understanding of identity, I believe, will enable Indonesia to cope with the crisis, and to find ethical foundations in preserving and cultivating their life inclusively.
Personal Branding dan Diri Otentik Menurut Sartre Andreas Trianto Soewandi; Robertus Wijanarko
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 4 No. 2 (2021)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v4i2.36064

Abstract

Penulis membahas mengenai Personal-Branding dan Diri Otentik Menurut Sartre. Sejak zaman dahulu, manusia sudah melakukan branding diri sendiri kepada publik. Dengan melakukan branding diri, manusia berusaha menampilkan keahlian dan kebaikan yang ia miliki, meskipun itu bertentangan dengan dirinya yang sebenarnya. Branding diri sangat berkaitan dengan dunia pekerjaan dan nama baik. Branding diri yang baik akan menaikkan nama baik seseorang dan memperoleh kepercayaan masyarakat. Dewasa ini, media sosial tidak lagi menjadi sekedar wadah bagi orang untuk berhubungan. Media sosial telah menjadi sebuah wadah di mana manusia mem-branding diri mereka. Orang menciptakan citra diri mereka sebagaimana mereka ingin dipandang oleh orang banyak. Sartre dalam etikanya menekankan mengenai pentingnya menjadi diri sendiri atau menjadi pribadi yang otentik. Dalam tulisan ini penulis menggunakan metode kajian kritis berdasarkan perspektif eksistensialisme Jean-Paul Sartre. Penulis menemukan bahwa etika Sartre menjadi sebuah kritikan sekaligus pandangan yang akan membebaskan manusia sehingga manusia dapat menjadi dirinya yang otentik dan juga mampu memperoleh kembali kebebasannya. Penulis menyimpulkan bahwa dewasa ini manusia mengalami kekhawatiran akan penilaian orang lain, sehingga mendorong mereka untuk menipu diri sendiri melalui personal branding. Pemikiran Sartre akan membawa manusia kepada kebebasan dan keotentikan diri.
Filsafat Harapan Ernst Bloch: Dimensi Sosial dan Politik dari Harapan Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 31 No. 30 (2021)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v31i30.158

Abstract

Hope is an important theme to reflect on, especially at the time of covid-19 pandemic. This study explores Ernst Bloch’s philosophy of hope. I utilize critical analysis method to investigate Bloch’s work, The Principle of Hope, which then is supported by other secondary resources concentrated on Bloch’ thoughts. I organize this study into several sections. After giving a short introduction, I illustrate his short biography that shaped the development of his thoughts. In the following section, I systematically explore his basic ideas on hope, and then try to synthesize his thoughts under title “Social and Political Dimension of Hope.” At the end I exhibit the implication and contribution of Bloch’s ideas to our situation today. The point that I found in this study is that hope is rooted in human drives for self-preservation, and carries social and political dimensions. Since this is only preliminary study, I found some difficulties in finding Indonesian terms to articulate Bloch’s thoughts.
POSKOLONIALISME1 DAN STUDI TEOLOGI Sebuah Pengantar Robertus Wijanarko
Studia Philosophica et Theologica Vol 8 No 2 (2008)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v8i2.102

Abstract

This article is an endeavor to exhibit the significance of Postcolonial Theory for the works of the contextual theology in Indonesia. The author suggests, postcolonial approach facilitates theologians to create their project to be an engaged and enganging theology. Postcolonial Theory, the author believes, offers the possibility to decolonize “Western” method of theology. Following Homi Bhabha’s terms, this approach is expected to enable Indonesian Theology “to break the continuity and the consensus of (hegemonic) common sense.” Taking R.S. Sugirtharajah’s biblical study as an example, the author shows that postcolonial approach offers critical attitudes and framework to identify and redefine any “colonizing” theological assumptions
Revolusi Industri Keempat, Perubahan Sosial, Dan Strategi Kebudayaan Robertus Wijanarko
Seri Filsafat Teologi Vol. 29 No. 28 (2019)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perbincangan tentang datangnya era baru yang disebut Revolusi Industri keempat mulai marak dilakukan di banyak lingkup komunitas yang berbeda. Fenomena ini diperbincangkan dari perbagai sudut dan bidang kehidupan. Mulai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, industri dan perdagangan, hukum, sosial dan politik, agama, filsafat, pendidikan, sampai bidang kebudayaan. Perubahan yang terjadi ditengarai tidak hanya menyangkut cara bagaimana teknologi membantu manusia dalam mengerjakan pekerjaan dan menjalani hidupnya, tetapi juga bagaimana perubahan tersebut menyebabkan adanya proses-proses disurpsi dalam berbagai bidang kehidupan, dan bahkan, sebagaimana Klaus Schwab sendiri tengarai, akan mengubah cara kita memahami diri kita sendiri sebagai manusia.1 Dengan kata lain Revolusi Industri keempat, sebagaimana yang terjadi menyusul revolusi industri sebelumnya, tidak hanya memicu perubahan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga mengakibatkan proses- proses perubahan sosial, dan juga mengubah pandangan tentang unsur-unsur hakiki tentang manusia. Tulisan ini dimaksudkan untuk mengajukan kemungkinan desain strategi kebudayaan yang bisa dilakukan untuk menjawab perubahan- perubahan sosial yang terjadi, sebagai akibat berkembangnya revolusi industri keempat. Karena itu panulis akan berangkat dari pemetaan korelasi antara revolusi industri dan perubahan sosial, mulai dari revolusi industri pertama, kedua, ketiga, dan akhirnya keempat. Tentu saja korelasi revolusi industri tahap-tahap sebelumnya beserta perubahan sosial yang terjadi, disajikan di sini sejauh membantu pembaca untuk memberi gambaran tentang apa yang terjadi. Sementara korelasi antara Revolusi Industri keempat beserta konsekuensinya akan diurai sedikit lebih luas. Selanjutnya penulis akan menyajikan beberapa pemikiran untuk menyusun strategi kebudayaan sebagai jawaban adanya transformasi sosial yang terjadi.
RETHINKING NATIONALISM Robertus Wijanarko
Studia Philosophica et Theologica Vol 3 No 1 (2003)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v3i1.149

Abstract

Maraknya globalisasi menyembulkan pertanyaan “masihkah perlu nasionalisme?” Sebuah pertanyaan yang bukan dimaksudkan untuk menggugat, melainkan untuk mengkonsep ulang makna nasionalisme. Artikel ini menyimak ulang nasionalisme dalam terang ide Benedict Anderson yang memandang “nation” sebagai “imagined political community”. Aktualitasnya untuk Indonesia diulas mengingat Indonesia juga sedang bergolak dalam merajut kembali integritasnya sebagai bangsa.
RECONSTRUCTING NATIONALISM Learn from the failed Robertus Wijanarko
Studia Philosophica et Theologica Vol 4 No 1 (2004)
Publisher : Litbang STFT Widya Sasana Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/spet.v4i1.134

Abstract

Nasionalisme, dalam konteks Indonesia, memiliki sejarah panjang yang menarik. Salah satu periode di mana nasionalisme dikonstruksi terjadi dalam kesempatan sidang Badan Penyelidik untuk Persiapan Kemerdekaan Indonesia tahun 1945. Artikel ini mengajukan penelaahan seputar diskusi pertama para Pendiri Negara Indonesia dan upaya mereka untuk mengimplementasikan makna nasionalisme. Diawali dengan kesadaran akan pluralisme sebagai realitas paling jelas dari bangsa Indonesia, telaah bergerak menuju uraian tantangan kesadaran nasionalisme di masa depan. Umumnya, pada periode sebelum munculnya Orde Baru (1966) realitas politik Indonesia diringkas dalam tiga kelompok: nasionalisme, komunisme, dan Islam. Tetapi, pluralisme dalam tiga golongan tersebut lebih merupakan simplifikasi ideologis. Semasa Orde Baru dan sesudahnya, plurilitas Indonesia tidak bisa diringkas dalam terminologi-terminologi ideologis, melainkan kultural dan opsi pemikiran yang sangat beragam.