Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Pendampingan Ukm Tempe Mlanding Di Desa Pesido, Kecamatan Jatiroto, Wonogiri Dwi Ishartani; Ardhea Mustika Sari; Asri Nursiwi; M. Zukhrufuz Zaman
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 2 (2019): Peran Perguruan Tinggi dan Dunia Usaha dalam Mempersiapkan Masyarakat Menghadapi Era I
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (407.354 KB) | DOI: 10.37695/pkmcsr.v2i0.449

Abstract

Tempe mlanding merupakan makanan fermentasi tradisional dari biji lamtoro atau sering disebut mlanding oleh masyarakat Jawa Tengah. Produk pangan berbahan baku lokal ini berpotensi sebagai sumber protein selain kedelai. Di Desa Pesido, Jatiroto, Kabupaten Wonogiri, terdapat beberapa pengrajin tempe mlanding diantaranya adalah usaha tempe mlanding milik Ibu Lati Winarsih dan Ibu Tarti. Secara umum masalah yang terjadi pada proses pembuatan tempe mlanding adalah proses yang masih tradisional sehingga belum ada standar atau pengukuran parameter sehingga kualitas produk tidak konsisten. Sebagai upaya untuk menyelesaikan masalah tersebut, tim pengabdian UNS telah menyelenggarakan tiga program yaitu introduksi teknologi tepat guna proses pengolahan tempe mlanding standar industri pangan, pelatihan dan penyususnan Cara Pengolahan Pangan yang Baik (CPPB). Penggunaan rak fermentasi sebagai pengganti fermentasi yang biasa dilakukan di lantai beralaskan kain terpal merupakan teknologi tepat guna yang diaplikasikan pada UKM tempe mlanding sehingga suhu fermentasi lebih stabil. Pelatihan dan penyusunan konsep CPPB dilakukan kepada pemilik UKM melalui praktik langsung. Dengan ketiga program tersebut, pemilik UKM menjadi lebih paham tentang teknik fermentasi dan produksi pangan yang sesuai standar sehingga meningkatkan konsistensi produk.
IbM PENINGKATAN POTENSI EKOWISATA DI DESA JATIREJO KECAMATAN NGARGOYOSO KABUPATEN KARANGANYAR MELALUI PENGEMBANGAN OLAHAN JAMBU BIJI MERAH SEBAGAI OLEH-OLEH KHAS DESA WISATA JAMBU BIJI MERAH Rohula Utami; Dwi Ishartani; Lia Umi Khasanah
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v6i1.20892

Abstract

Ecotourism is currently growing rapidly. This type of tourism is environmentally friendly tourism that promotes the aspects of nature conservation, socio-cultural empowerment, and local community economy, as well as aspects of learning and education. Several local governments seized this opportunity, among them is Karanganyar. Jatirejo Village in Ngargoyoso Subdistrict is one of the villages in Karanganyar which developed as ecotourism destination by exploiting its local potency, that is red guava cultivation. To strengthen the image of Jatirejo Village as the Red Guava Tour Village, it needs several development strategies, among them creating a unique souvenir by utilizing local potency. In this activity is conducted red guava processed development as souvenir typical of Red Guava Tour Village. Partners coupled in this activity is SME (Small Medium Enterprise) Putra Jambu currently processing red guava fruit into ice cream and Kelompok Makmur Candi Tani who currently cultivate the red guava and process the red guava leaves into chips. Both SMEs have constraints in the form of limited production technology, resulting in inconsistent product quality, short shelf life, low production capacity and narrow marketing reach, and limited marketing. The first activities of IbM were accompanied the SMEs to prepare the Standard Operation Procedure (SOP). Introduction of packaging and improvement of labeling on red guava leaf chips also have revealed by this program. Several production equipments also introduced to the SMEs such as ice cream maker machine, automatic sealer, and ice cream distribution equipment (freezer). This program also conducted training and marketing assistance. With this activity, there is an improvement of product quality, performance efficiency improvement, and market expansion of SME Putra Jambu and Farmers Grup Candi Makmur.Keywords: ecotourism, red guava, Karanganyar, Ngargoyoso, Souvenirs
PENINGKATAN KINERJA UMKM JANGGELAN DI KABUPATEN PACITAN MELALUI INTRODUKSI TEKNOLOGI PRODUKSI DAN MANAJEMEN KEUANGAN Wiwit Rahayu; Dwi Ishartani; Nuning Setyowati
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v4i2.4564

Abstract

”Janggelan” (Mesona palustris BI) that known by the name of Black Cincau is one of the plant species in Indonesia are grown widely in Pacitan, especially in Bandar sub district. “Janggelan” in Bandar subdistrict has good prospects to be developed because a lot of production and marketing is widespread. This opportunity was captured by residents in the “Jeruk Village”, Mr. Suyanto who processing wet “janggelan” into dry “janggelan” with the business name "Suyatno Janggelan" and Mr. Haris Kuswanto who processing “dry janggelan” become Cincau with the business name "Cincau Lestari". Problems encountered in the development of “Janggelan Business” are limited means of production, the production process is not suitable to the standards of food processing and financial management is not well ordered. Activities were undertaken aim to improve the performance of both SMEs partners. Activities include training of the Good Manufacturing Process (GMP), practical bookkeeping training and the introduction of production technology in the form of janggelan chopper machine, stainless steel drum for cooking “janggelan”, and the generator as a power source for a mechanical stirrer. From this activity, SMEs partners can increase the production and quality of products that suitable to the standards of Good Manufacturing Process, and have the financial records. At the end, this activity can increase revenues of SMEs partner.Keywords: “janggelan”, the performance of SMEs, production technology, financial management
KAJIAN SIFAT SENSORIS, FISIK DAN KIMIA POUND CAKE SUBSTITUSI TEPUNG LABU KUNING (Cucurbita moschata) TERMODIFIKASI ASAM ASETAT Anastasia Mayasari; Dwi Ishartani; Siswanti Siswanti
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (578.201 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v10i1.19158

Abstract

This research aimed to find out sensory, physical and chemical characteristics of pound cake substituted by acetic acid modified pumpkin flour. In this research, sensory characteristics of pumpkin studied included color, taste, texture and overall parameters. Physical characteristics included water level, β-carotene level, and coarse fiber level.  The result of research showed that pound cake substituted by acetic acid modified pumpkin flour affected the sensory (color, taste, texture and overall) characteristics. Pound cake with acetic acid modified pumpkin flour substitution of 20% was preferred to the one with other substitution. The use of acetic acid modified pumpkin flour improved yellow color intensity, hardness (Fmax) but lowered expandability of pound cake, increased water level, β-carotene level and coarse fiber level of pound cake.
KINETIKA DEGRADASI L-ASAM ASKORBAT PADA PROSES PASTEURISASI PUREE JAMBU BIJI (Psidium guajava) VARIETAS GETAS MERAH Bambang Sigit Amanto; Dwi Ishartani; Asiyatu Nurulaini
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 9, No 1 (2016)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (373.174 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v9i2.12856

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kinetika degradasiL-asam askorbat pada proses pasteurisasi puree jambu biji. Penelitian dilakukan dengan variasi suhu (65, 75 dan 85oC) dan waktu (0, 5, 10, 15, 20, 25 dan 30 menit) pasteurisasi dengan dua kali pengulangan sampel dan dua kali pengulangan analisa L-asam askorbat. Analisa L-asam askorbat menggunakan metode titrasi iodometri. Data analisa L-asam askorbat diolah untuk menentukan kinetika degradasi yang terdiri dari nilai D, nilai z, nilai k dan nilai Ea. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai D sebagai waktu yang dibutuhkan untuk mengurangi 90% konsentrasi L-asam askorbat pada suhu 65, 75 dan 85oC berturut-turut sebesar 317,218 menit, 166,884 menit dan 157,416 menit. Nilai z yang menunjukkan kenaikan suhu yang menyebabkan pengurangan 90% nilai D sebesar 65,703oC. Nilai k yang menunjukkan konstanta kecepatan reaksi pada suhu 65, 75 dan 85oC berturut-turut sebesar 0,00726 menit-1, 0,0138 menit-1 dan 0,01463 menit-1. Nilai Ea yang menunjukkan energi minimum yang dibutuhkan untuk memulai reaksi sebesar35,517 kJ/gmol atau 8,489 kcal/gmol.Kata kunci: Puree jambu biji, kinetika degradasi, pasteurisasi, L-asam askorbat
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA TEPUNG KACANG TURI BERBUNGA PUTIH (Sesbania grandiflora) DENGAN BEBERAPA PERLAKUAN PENDAHULUAN Dwi Ishartani; Dian Rachmawanti Affandi; Dessy Cahya Purnamasari
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (64.926 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13010

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mempelajari pengaruh perlakuan pendahuluan terhadap sifat kimia (abu, lemak, protein, asam fitat, dan asam sianida) serta sifat fisik (derajat putih, densitas kamba, dan kelarutan) tepung kacang turi berbunga putih. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan satu faktor,yaitu perlakuan pendahuluan yang meliputi: kontrol (F1), perebusan 90 menit dengan kulit (F2), perendaman 24 jam dengan kulit (F3), pengupasan kulit (F4), perebusan 90 menit kupas kulit (F5) dan perendaman 24 jam kupas kulit (F6). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan pendahuluan menghasilkan tepung dengan kadar abu, asam fitat dan asam sianida (HCN) yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Perlakuan pendahuluan pengupasan baik dengan maupun tanpa perebusan 90 menit dan perendaman 24 jam (F4, F5, F6) menghasilkan tepung dengan kadar lemak dan kadar protein lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perebusan 90 menit dan perendaman 24 jam menghasilkan tepung dengan kadar lemak dan protein lebih rendah dibandingkan kotrol baik yang dikupas maupun yang tidak dikupas kulitnya (F2, F3, F5, F6). Tepung dengan kadar lemak danprotein tertinggi yaitu tepung dengan perlakuan pendahuluan pengupasan kulit (F4) dan tepung dengan kadar lemak dan protein terendah yaitu tepung dengan perlakuan pendahuluan perendaman 24 jam tanpa pengupasan kulit (F2). Penurunan kadar asam fitat dan asam sianida terbesar terjadi pada perlakuan pendahuluan perebusan 90 menit disertai pengupasan kulit (F5) sedangkan yang terkecil pada perlakuan pendahuluan pengupasan kulit (F4). Secara umum, perlakuan pendahuluan menurunkan densitas kamba dan kelarutan tepung yang dihasilkan, kecuali tepung dengan perlakuan pendahuluan 24 jam tanpa pengupasan kulit (F2) yang memiliki densitas kamba yang tidak berbeda nyata dengan kontrol. Derajat putih tepung dengan berbagai perlakuan pendahuluancukup variatif, yang paling tinggi derajat putihnya adalah tepung dengan perlakuan pendahuluan pengupasan kulit (F4) dan yang paling rendah adalah tepung dengan perlakuan pendahuluan perendaman 24 jam tanpa pengupasan kulit (F2). Kata kunci : pengupasan kulit, perebusan, perendaman, sifat kimia, tepung kacang turi berbunga putih
OLAHAN PANGSIT JAMBU BIJI MERAH UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN DESA WISATA BUAH JAMBU MERAH DI KECAMATAN NGARGOYOSO, KABUPATEN KARANGANYAR Dwi Ishartani
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v5i1.16290

Abstract

KecamatanNgargoyoso is one of the favourite tourism destination in KabupatenKaranganyar. There are many established tourism destination that have been popular among domestic and international tourists, such as Cetho Temple, Sukuh Temple, and Jumog Waterfall. A right development strategy is needed to strengthen KecamatanNgargoyoso as a tourism destination that is positively correlated to the area development policy of Local Government of KabupatenKaranganyar. At this time, tourist villages is intensively developed into cluster management and one of those village is DesaWisataJambuMerah (Guava Tourist Village). Food products based on guava as raw material should be developed to strengthen the image of this Guava Tourist Village. A series of training and mentoring about guava processing in order to produce marketable ‘pangsit’ product was conduct througt this program. The IbM Program gave positive effects to the group of farmers‘CandiMakmur’ that involved in this program as partner. The partner got production capacity increase, product quality increase, product packaging and labelling innovation, and also practiced Good Manufacturing Process throughout the guava processing.Keywords :tourist village, guava food product, pangsit, Ngargoyoso
KARAKTERISTIK FISIK, KIMIA DAN ORGANOLEPTIK VEGETABLE LEATHER CABAI HIJAU (Capsicum annuum var. annuum) DENGAN PENAMBAHAN BERBAGAI KONSENTRASI PEKTIN Putri Devi Permatasari; Nur Her Riyadi Parnanto; Dwi Ishartani
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 10, No 1 (2017)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (579.374 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v10i1.17488

Abstract

Vegetable leather is a thin sheet-shaped product made of vegetables (puree) are processed by drying method. Green chilli contains high vitamin C, low calories value 23 cal/100 gr and contain fibers which is quite high as 1.3 g/100 g. In this study, pectin hydrocolloid was added to improve less plastic texture in vegetable leather. The purpose of this research is to identify the influence of the variation concentration of pectin against physical characteristics (tensile strength), chemical (water activity, moisture content, ash contain, vitamin C, fiber and calories value) and organoleptic (colour, flavour, taste, texture, and overall) vegetable leather green chilies as well as knowing the best concentration of pectin that based on physical, chemical and organoleptic characteristics of vegetable leather green chilies. Experimental design used in this research was Completely Randomized Design (CRD) based upon one factor which was the effects of pectin concentration addition. Research data were analyzed by one way ANOVA method and continued using DMRT analysis on the significance level α = 0.05,  if there were significant differences between the means. The result showed that variations in the concentration of pectin have significant effect on water activity, moisture content, ash contain, and fiber. However, the variations of pectin concentration does not affect the value of tensile strength, vitamin C and calories value. Based on the analysis of physical, chemical, and organoleptic shows the vegetable leather green chili with the addition of 0.3% pectin is the best formula. Vegetable leather green chilies with 0.3% pectin concentration has tensile strength 4.6866 N, water activity 0.55, moisture content (wb) 14.959%, ash contain (db) 19.209%, food fiber (db) 15.795%, calories value 3.015,551 cal/g.  
KARAKTERISTIK FISIKO-KIMIA DAN SENSORI VELVA PEPAYA (Carica papaya L.) DENGAN PEMANIS MADU Suci Rahmawati; Edhi Nurhartadi; Dwi Ishartani
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 7, No 2 (2014)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (641.853 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13006

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi madu sebagai pengganti sukrosa terhadap karakteristik fisik, kimia, dan sensori velva pepaya. Penelitian ini menggunakan pola Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi pemanis madu. Konsentrasi pemanis madu yang digunakan 5-15%. Dilakukan pengulangan sampel sebanyak dua kali dan tiga kali pengulangan analisa. Data yang diperoleh pada pengujian fisik, kimia, sensori dianalisis menggunakan one way ANOVA pada tingkat α = 0,05. Jika terdapat perbedaan nyata, maka dilanjutkan dengan uji Duncan Multiple Range Test(DMRT) pada α= 0,05. Untuk data yang diperoleh dari uji Intensitas Tingkat Kemanisan, jika ada perbedaan nyata dilanjutkan dengan uji Tukey. Hasil penelitian yang diperoleh penggunaan pemanis madu meningkatkanserat pangan, vitamin C, β-karoten, aktivitas antioksidan, daya leleh, dan total padatan terlarut, serta menurunkan kadar air dan overrun velva pepaya yang dihasilkan. Penggunaan pemanis madu berpengaruh nyata terhadapkarakteristik sensori yaitu menurunkan tingkat kesukaan panelis pada parameter warna, rasa, aroma, tekstur, dan overall velva pepaya. Uji intensitas tingkat kemanisan diketahui bahwa velva pepaya dengan 5% pemanis madumemiliki tingkat kemanisan lebih rendah dari velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa, velva pepaya dengan 10% pemanis madu memiliki tingkat kemanisan sama dengan velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa dan velva pepaya dengan 15% pemanis madu memiliki tingkat kemanisan lebih tinggi dari velva pepaya dengan 20% pemanis sukrosa.Kata kunci: madu, sukrosa, velva papaya
PRODUKSI BIR PLETOK KAYA ANTIOKSIDAN Dwi Ishartani; Kawiji Kawiji; Lia Umi Khasanah
Jurnal Teknologi Hasil Pertanian Vol 5, No 1 (2012)
Publisher : Universitas Sebelas Maret (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.345 KB) | DOI: 10.20961/jthp.v0i0.13540

Abstract

Penelitian ini bertujuan memformulasikan bir pletok yang dapat diterima konsumen. Bir pletokdiformulasikan dalam bentuk instan (dua formula) dan sirup (enam formula), dengan bahan dasar jahe, kayumanis, cengkeh, dan serai. Variasi dilakukan pada bahan pewarna alami, yaitu menggunakan secang (merah)dan pandan (hijau), serta pemanis, yaitu gula merah, gula pasir, serta kombinasi keduanya. Bir pletok padapenelitian ini diteliti kadar total fenol (metode Folin Ciocalteau) dan aktivitas penangkapan radikal bebasnya(metode DPPH). Selain itu juga dilakukan analisis sensori untuk mengetahui penerimaan panelis terhadapwarna, aroma, rasa, dan penerimaan keseluruhan bir pletok yang dihasilkan. Total fenol tertinggi terdapat padasirup bir pletok formula 4 (2.72 mg/g berat basah), diikuti sirup bir pletok formula 5 (1.98 mg/g berat basah),sirup bir pletok formula 7 (1.85 mg/g berat basah), sirup bir pletok formula 3 (1.71 mg/g berat basah), sirup birpletok formula 8 (1.38 mg/g berat basah), bir pletok instan formula 1 (1.09 mg/g berat basah), sirup bir pletokformula 6 (0.81 mg/g berat basah), dan bir pletok instan formula 2 (0.49 mg/g berat basah). Aktivitaspenangkapan radikal bebas terbesar juga terdapat pada formula 4 (25.25 %DPPH/mg berat basah), diikutiformula 3 (17.70 %DPPH/mg berat basah), formula 5 (11.42 %DPPH/mg berat basah), formula 2 (8.86%DPPH/mg berat basah), formula 7 (7.95 %DPPH/mg berat basah), formula 8 (7.42 %DPPH/mg berat basah),formula 6 (5.28 %DPPH/mg berat basah), dan formula 1 (3.95 %DPPH/mg berat basah). Formula bir pletokinstan dengan pewarna berbeda memberikan nilai warna, rasa, dan keseluruhan yang tidak berbeda nyata,masing-masing dengan nilai cenderung netral. Penambahan pandan menghasilkan bir pletok instan dengan nilaipenerimaan aroma lebih tinggi daripada penambahan secang. Sirup bir pletok instan yang nilai penerimaanwarna, aroma, rasa, dan keseluruhan paling tinggi adalah formula 7, formula 4, dan formula 3, yaitu dengannilai antara netral dan agak suka.