Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

INTUISI: Pendalaman Gagasan Hans-George Gadamer tentang Intuisi sebagai Supralogika Rannu Sanderan
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 2 No 2 (2020): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v2i2.39

Abstract

This article explains about digging deeper of Hans-Georg Gadamer's ideas, in term of intuition as a supralogic. This study aim is to find out how the role of intuition develops a view of the goodness and the general truth. In this case, intuition allows someone to act wisely, also could live harmoniously in their community base. Research design: This research aims to describe Gadamer's view of intuition from the point of view of hermeneutic philosophy. The concept of humans is discussed more clearly by Gadamer in his own four ideas, that is: (1) bildung or culture, (2) sensus communis or conscience or heart, (3) consideration, and (4) taste. In this study, can be drawn that the idea of a communist census enables one to act almost intuitively. Implication and the result: Intuition or heart, heart or conscience has a social aspect, that is the sense of community, and by which we can gain knowledge and carry out interpretations. The Intuition approach as a supralogic is an openness to others, whatever its form, be it text, musical sounds or works of art, whose truth cannot be achieved by scientific methods. It is hoped that this study will bring benefit for cultural practitioners and education observers. Pendalaman gagasan Hans-Georg Gadamer tentang intuisi sebagai supralogika. Tujuan penelitian ini adalah hendak mengetahui bagaimanakah peran intuisi memperkembangkan suatu pandangan kebaikan yang benar dan umum? Dalam hal ini, intuisi memungkinkan seseorang bertindak bijak, hidup serasi di dalam komunitas. Penelitian ini hendak menguraikan pandangan Gadamer tentang intuisi dari sudut pandang filsafat hermeneutik. Konsep tentang manusia dibahas lebih luas oleh Gadamer dalam empat konsep, yakni bildung atau kebudayaan, sensus communis atau suara hati atau kalbu, pertimbangan dan taste atau selera. Dalam kajian ini, gagasansensus communis-lah yang memungkinkan seseorang bertindak hampir-hampir secara intuitif. Hasilnya, intuisi atau hati, kalbu atau suara hati mempunyai aspek sosial yaitu rasa komunitas, dan olehnya kita dapat mengetahui dan menginterpretasi. Pendekatan Intuisi sebagai supralogi adalah keterbukaan terhadap yang lain, apapun bentuknya, baik teks, bunyi musik atau karya seni, yang kebenarannya tak dapat dicapai dengan metode ilmiah. Kajian ini diharap memberi manfaat bagi pelaku budaya dan pemerhati pendidikan.
Heuristika dalam Pendidikan Karakter Manusia Toraja Tradisional Rannu Sanderan
BIA': Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual Vol 3, No 2 (2020): Desember 2020
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34307/b.v3i2.213

Abstract

Abstract: Along this article, some reflection shall be presented, the social and cultural education that shaped the traditional character of Torajan people. The aim of this study is going to show that education is not just a formal institution or merely an intellectual exercise but also requires a good deal with heuristic effort. Education is not worthy of the name if it is not supported by by character building. This research is the Torajan depiction of wisdom, which is pointed to show how they treat their quality of thinking and to keep growing their quality of life by using culture as a medium of heuristic. Keyword: education, heuristics, toraja, traditional,  Abstrak: Kajian dalam tulisan ini hendak memaparkan beberapa refleksi sebagai hasil riset yang meneliti kearifan sosial dan pendidikan melalui budaya yang telah membentuk karakter masyarakat Toraja tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bahwa pendidikan bukan sekadar institusi pendidikan belaka atau tidak hanya sekedar latihan intelektual saja tetapi juga membutuhkan upaya heuristik yang baik. Pendidikan belum pantas disebut pendidikan apabila mengabaikan pembentukan karakter. Penelitian ini adalah penggambaran kebijaksanaan orang Toraja tradisional, yang menunjukkan bagaimana mereka merawat kualitas berpikir serta pertumbuhan kualitas hidup mereka dengan mendayagunakan kultur sebagai medium heuristika. Kata kunci: heuristika, pendidikan, toraja, tradisional,
Pemahaman Tentang Sayap Dalam Kitab Rut: Studi Kritik Naratif Rannu Sanderan; Yohanes Krismantyo Susanta
KAMASEAN: Jurnal Teologi Kristen Vol. 2 No. 1 (2021): Kamasean : Jurnal Teologi Kristen
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Toraja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (948.262 KB) | DOI: 10.34307/kamasean.v2i1.33

Abstract

Abstract; This article discusses the meaning of wings according to the book of Ruth in an authentic purpose.  By using the narrative methods, in more deeply, this research is intend to examine the basic motive why Ruth uses the word of wings in order to ask Boaz to spread his wings on Ruth. On the other hand, Ruth did not belong to God’s covenant nation. The perspective of the theory of narrative criticism used in this research is to look at the biblical narrative by referring to the analysis of the book of Ruth and its parts of the book as a complete literary work. The aim of this method is focusing on the storyteller or narrator, plot and scene, as well as repetition and keywords, characters, atmosphere, and point of view. The narrative analysis in the results of this paper not based on the author but merely on the text. So that readers can find out the values ​​and theological views conveyed through the text. The result of research on the meaning of wings in this text is Yahweh's own wing (2:12) as a place for Ruth to take refuge. In fact, Ruth was already under God's wing, because she had previously had a strong belief in becoming the covenant people of Yahweh.  Hoped that this study can make a theological contribution in studying the God’s sovereignty towards all nations. Abstrak; Artikel ini membahas tentang makna sayap dalam dalam kitab Rut sesuai konteks yang otentik. Dengan metode naratif, riset ini hendak mengkaji secara lebih dalam motif dasariah, mengapa Rut memakai kata sayap dalam rangka meminta kesudian Boas agar mau mengembangkan sayapnya atas Rut. Padahal Rut tidak tergolong bangsa perjanjian Allah. Perspektif teori kritik naratif yang digunakan dalam penelitian ini hendak melihat narasi Alkitab dengan mengacu pada analisa terhadap kitab Rut dan bagian-bagian kitab sebagai sebuah karya sastera yang utuh. Metode ini hendak mengarahkan fokus pada pencerita atau narrator, alur/plot serta adegan, juga pengulangan dan kata kunci, tokoh, suasana, dan sudut pandang. Setelah dikerucutkan lebih tajam, maka analisa naratif dalam hasil tulisan ini bukan pada penggubahnya tetapi ada teks. Sehingga pembaca dapat mengetahui nilai-nilai dan pandangan teologi yang disampaikan melalui teks yang diselidiki. Hasil penelitian tentang makna sayap dalam teks ini adalah sayap Yahweh sendiri (2:12) sebagai tempat bagi Rut untuk berlindung. Sejatinya, Rut sudah berada di bawah sayap Tuhan, karenya ia sebelumnya telah memiliki keyakinan kuat akan masuk menjadi umat perjanjian Yahweh. Diharapkan agar studi kepustakaan ini memberi sumbangsih teologis dalam mengkaji kedaulatan Allah bagi seluruh bangsa.