Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Analisis Mineralogi dan Kandungan Kimia Endapan Lumpur Sidoarjo dan Arah Pemanfaatannya Winarno, Tri; Gunawan, Yeremia Billy Agustha; Marin, Jenian
TEKNIK Vol 40, No. 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.703 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v39i3.21742

Abstract

Semburan lumpur Sidoarjo mengeluarkan volume sebesar ±80.000 m3setiap hari dan hanya dapat diatasi ±60.000 m3 dengan cara mengalirkannya ke laut melalui Kali Porong. Surplus endapan lumpur tersebut meluap dan menggenangi daerah di sekitar pusat semburan lumpur sehingga menimbulkan masalah. Artikel ini memuat analisis mineralogi dan kandungan kimia dari endapan lumpur Sidoarjo sehingga dapat dimanfaatkan sesuai karakteristiknya. Sampel lumpur dinalisa menggunakan metode X-Ray Diffraction (XRD) dan X-Ray Fluorescence (XRF) untuk mengetahui mineralogi dan kandungan kimianya. Genesis dari endapan Lumpur Sidoarjo diinterpretasikan berasal dari batuan sedimen vulkaniklastik Formasi Kalibeng Atas yang bercampur dengan endapan Aluvial (Qa) karena mineral-mineral lempung yang dijumpai didominasi oleh mineral montmorillonit. Keberadaan Zona Sesar Watukosek yang memanjang dari Kompleks Gunungapi Arjuno-Welirang diinterpretasikan memberikan kontrol struktur terhadap pembentukan gunungapi lumpur Sidoarjo. Pemanfaatan endapan Lumpur Sidoarjo berdasarkan mineralogi dan kandungan kimianya dikelompokkan menjadi lima bidang, yaitu kesehatan, pertanian, perikanan, industri, dan kosmetik. Setiap bidang pemanfaatan membutuhkan mineral-mineral lempung khusus sehingga endapan Lumpur Sidoarjo harus diolah terlebih dahulu untuk menghilangkan unsur pengotor, mineral berat, pengecilan ukuran, peningkatan kemampuan absorpsi, dan kapasitas tukar kation.
Perbandingan Karakteristik Lempung Kasongan dan Godean Sebagai Bahan Baku Industri Gerabah Kasongan Winarno, Tri
TEKNIK Vol 37, No 1 (2016): (Juli 2016)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.462 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v37i1.10087

Abstract

Kasongan adalah salah satu sentra industri keramik dan gerabah di Yogyakarta yang terletak di Desa Bangunjiwo, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul. Pada saat ini industri keramik dan gerabah Kasongan mengalami kesulitan bahan baku lempung dikarenakan cadangan lempung di Desa Bangunjiwo yang selama ini digunakan semakin berkurang jumlahnya. Berdasarkan studi pustaka diketahui bahwa di Godean terdapat cadangan lempung, sehingga perlu diteliti apakah bisa digunakan sebagai bahan baku dalam industri keramik dan gerabah. Metode yang digunakan untuk menguji karakteristik lempung tersebut adalah dengan analisis XRD, XRF, analisis tingkat kecerahan, analisis ukuran butir dan pengujian pembuatan gerabah dari lempung tersebut. Hasil penelitian menunjukkan mineral lempung penyusun lempung Bangunjiwo adalah kaolinit dan haloisit, sedangkan di Godean terususun atas kaolinit, haloisit dan smektit. Dalam pengujian pembuatan gerabah dengan lempung dari kedua daerah tersebut menunjukkan perbedaan hasil, dimana lempung dari Godean menghasilkan gerabah yang tidak menyerupai ciri khas gerabah Kasongan yang berwarna merah terang. Dengan demikian lempung dari Godean tidak bisa digunakan sebagai pengganti bahan baku industri gerabah Kasongan. [Title: The Characteristic Comparison of Kasongan Clay and Godean Clay as Raw Material in Kasongan pottery Industry] Kasongan is the center of ceramics and pottery industry in Yogyakarta,located in Bangunjiwo village, Kasihan District, Bantul Regency. Nowadays, the ceramics and pottery industry is difficult to find the raw material because of the decrease of the Bangunjiwo clay deposit. Based on literature review, there are clay deposits found in Godean which can be observed their characteristics as basic commodity in the ceramics and pottery industry. The methods apllied in this research are XRD and XRF analysis,brightness analysis, grain size analysis and making pottery from those clays.The result of the research shows that the clay in Bangunjiwo consists of kaolinite and halloysite, while clay in Godean consists of kaolinite, halloysite and smectite. The pottery products made from those clays show different characteristics. The clay from Godean does not show bright red colour as the Kasongan clay. So the clay from Godean can not be used as the alternative raw material for the Kasongan pottery industry.  
Identifikasi Jenis dan Karakteristik Lempung di Perbukitan Jiwo, Bayat, Klaten dan Arahannya sebagai Bahan Galian Industri Winarno, Tri; Kurniasih, Anis; Marin, Jenian; Kusuma, Ari Istiqomah
TEKNIK Vol 38, No 2 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.956 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v38i2.12942

Abstract

Perbukitan Jiwo di Bayat, Klaten, merupakan suatu inlier dari batuan Pra-Tersier dan Tersier di sekitar endapan Kuarter. Perbukitan Jiwo tersebut mempunyai kondisi geologi yang kompleks. Salah satu batuan yang menyusun Kompleks Perbukitan Jiwo adalah batuan metamorf   berupa sekis dan filit. Batuan metamorf  tersebut  telah  mengalami  pelapukan  yang  intensif,  ditandai  dengan  hadirnya  soil  yang berwarna merah. Hasil pelapukan batuan metamorf tersebut berupa lempung yang telah dimanfaatkan oleh  penduduk sekitar sebagai bahan pembuatan gerabah.  Tujuan dari penelitian ini  adalah untuk mengidentifikasi jenis mineral lempung di Perbukitan Jiwo dan juga karakteristik fisik dan kimia dari mineral lempung tersebut untuk melihat potensi lempung untuk bidang industri. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan metode analisis XRD untuk mengetahui karakteristik mineralogi lempung, analisis XRF untuk mengetahui kandungan kimia lempung dan metode analisis fisik untuk mengetahui karakteristik fisik dan megaskopis lempung. Berdasarkan hasil analisis, jenis mineral lempung yang dijumpai adalah  kaolinit, smektit  dan  serisit.  Lempung tersebut dapat  dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan gerabah. Lempung tersebut tidak dapat digunakan dalam industri lain seperti farmasi, kosmetik dan kertas karena tidak memenuhi persyaratan kadar kimia
MODEL DEFORMASI GETAS DI ZONA SESAR KALIGARANG (KGFZ) SEMARANG: STUDI AWAL PENGAMATAN MIKROSTRUKTUR MENGGUNAKAN METODE PETROGRAFI Fahrudin, Fahrudin; Winarno, Tri
TEKNIK Volume 33, Nomor 1, Tahun 2012
Publisher : Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (663.362 KB) | DOI: 10.14710/teknik.v33i1.3787

Abstract

Brittle deformation at Kaligarang fault zone result strain changes. That strain is microstructure.Microstructures can see closely petrography. That observation include grain form, microcrack can form atcontact point like Hertzian and diagonal intragranular microcracks. Grain forms over angular, straight, andconcoidal. Grain of crystal or lithic fragments floating at matrik or cements. Microcrack growth does not onlydepend on stress, but also on temperature and chemical environment, especially of the fluid in the crack.
MODEL DEFORMASI GETAS DI ZONA SESAR KALIGARANG, SEMARANG Fahrudin, Fahrudin; Winarno, Tri
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol 22, No 2 (2012): Jurnal Sumber Daya Geologi
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.085 KB)

Abstract

Tectonic activities in Semarang have resulted fault formations. A proper identification on faults and subsidiary structures will provide understanding on the kinematic and dynamic of the Kaligarang Fault. The Kaligarang Fault Zone has been formed since the Tertiary time with stress system orientation of σ1 = 37°, N158°E, σ2 =,45°, N12°E, σ3 = 30°, N244°E indicating left lateral displacement. Afterwards during Plio-Plestocene, the Kaligarang Fault Zone was reactivated with right lateral displacement as indicated by stress system orientation of σ1 = 51°, N185°E, σ2 = 30°, N205°E, σ3 = 8°, N275°E. Beside that, the linements at surroundings of the Kaligarang Fault have NEE-SWW until NWW-SEE directions. This structures were caused by the Unggaran activities.Keywords: Kaligarang Fault, stress system, reactivated, left lateral right lateral
Potensi Pembentukan Air Asam Tambang Pada PIT 3000, Blok Toraja, PT Trubaindo Coal Mining Berdasarkan Studi Karakteristik Geokimia dan Mineralogi Batuan Overburden dan Underburden Winarno, Tri; Ali, Rinal Khaidar; Langit, Wesly Rambu
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 17, No 1 (2020): Maret 2020
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1218.146 KB) | DOI: 10.14710/presipitasi.v17i1.52-61

Abstract

Penambangan batubara di Indonesia kebanyakan dilakukan dengan sistem tambang terbuka, yang menyebabkan batuan yang ada pada lokasi penambangan tersingkap ke permukaan, sehingga mudah bereaksi dengan udara dan air. Tingginya kandungan mineral sulfida seperti pirit dan markasit pada lokasi pertambangan batubara, berpotensi menghasilkan asam tambang. Air asam tambang dapat menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan yang menjadi ancaman bagi ekosistem air dan tanah dengan meningkatkan konsentrasi logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan mineral pada lapisan batuan overburden dan untuk mendeterminasi jenis mineral sulfida pembentuk asam tambang. Metode yang digunakan adalah penyelidikan lapangan, analisis mineralogi, geokimia dan pengukuran stratigrafi terukur untuk mengevaluasi kandungan mineralogi dan karakteristik geokimia pada batuan overburden dan underburden lapisan batubara Pit 3000. Hasil penelitian menunjukkan bahwa batuan overburden tersusun oleh batulempung dengan ketebalan berkisar 1,60 m – 5,15 m, sedangkan batuan underburden dicirikan oleh litologi yang beragam seperti batulempung, batulanau dan batupasir dengan ketebalan berkisar 0,20 m – 4,50 m. Berdasarkan analisis geokimia pada 18 sampel batuan overburden, diketahui bahwa lapisan overburden memiliki karakteristik yang didominasi oleh batuan Non Acid Forming (NAF) dengan 83% NAF, 11% Potential Acid Forming (PAF) dan 6% uncertain. Karakteristik lapisan underburden didominasi oleh batuan PAF dengan 45% PAF, 19% NAF dan 36% uncertain.
HUBUNGAN KETERDAPATAN BATUAN KALK SILIKAT PADA ENDAPAN PORFIRI CU-AU BATU HIJAU, SUMBAWA, NUSA TENGGARA BARAT Widiarso, Dian Agus; Suprapto, Rachdian Eko; Winarno, Tri; Rakhman, Arie Noor
Jurnal Teknologi Vol 12 No 2 (2019): Jurnal Teknologi
Publisher : Jurnal Teknologi, Fakultas Teknologi Industri, Institut Sains & Teknologi AKPRIND Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Potensi sumber daya tembaga (Cu) dan Emas (Au) di Area Batu Hijau, Nusa Tenggara barat sangat melimpah. Batuan di Batu Hijau memiliki sistem endapan mineral berjenis porfiri Cu-Au dan potensi endapan penyerta berjenis skarn. Keterdapatan skarn ditunjukkan oleh interval batuan kalk silikat pada hasil pemboran batuan inti di Batu Hijau. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah deskripsi batuan kalk silikat (pendataan megaskopis batuan inti dan analisis petrografi) dan analisis data sekunder fisikokimia. Batuan kalk silikat area penelitian terdiri dari variasi hornfels dan skarn dengan komposisi mineral kalk silikat, mineral sulfida dan mineral oksida. Secara spasial, batuan kalk silikat berada di zona proksimal endapan porfiri, persebaran setempat akibat kontrol struktur geologi, variasi kedalaman terdangkal batuan kalk silikat di area Barat 147,93 m dan di area Timur 205 m dengan interval terdalam di area barat -540,4 m dan area Timur -571,84 m. Secara genetik, skarnifikasi progradasi dan retrogradasi ekuivalen dengan zona alterasi potasik-filik (320° -280°C) dan fase awal profilitik (~280°C) dari zona alterasi endapan porfiri. Batuan kalk silikat memiliki korelasi spasial dan genetik dengan endapan porfiri Cu-Au.