Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

PRIORITAS PENANGANAN JALAN DI KABUPATEN BENGKULU UTARA Widyasari, Inneke; Syafii, Syafii; Purwana, Yusep Muslih
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A B S T R A KKebijakan otonomi daerah di Indonesia yang memberikan tanggung jawab penyelenggaraandalam pemeliharaan jalan regional kepada pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten BengkuluUtara telah mengadakan berbagai usaha untuk melaksanakan otonomi daerah sebaik mungkin, salahsatunya adalah perbaikan prasarana transportasi jalan. Penentuan skala prioritas penanganan jalankabupaten berdasarkan SK.No.77, Dirjen Bina Marga, Tahun 1990, yaitu berdasarkan data LaluLintas Harian Rata (LHR) dan Nilai Net Present Value (NPV) saja. Hal ini kurang tepat karenakompleksnya permasalahan di lapangan yang dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti: kondisijalan, lalu lintas harian rata-rata, kebijakan, dana anggaran, dan aspek tata guna lahan. Sehinggadiperlukan metode yang dapat menampung semua aspek tersebut dan dapat mengantisipasiketimpangannya.Metode penentuan skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu Utaramenggunakan Metode SK. No. 77 Dirjen Bina Marga Tahun 1990 dan Metode AnalyticalHierarchy Process (AHP). Kemudian kedua metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkankelebihan dan kekurangan masing-masing metode.Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala prioritas penanganan jalan di KabupatenBengkulu Utara dengan Metode AHP menghasilkan prioritas utama untuk Jalan Karang Pulau –Bukit Berlian, Jalan Giri Kencana – D3 prioritas kedua, Jalan Lb. Durian – Padang Bertuah prioritasketiga. Sedangkan skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu dengan Metode SK. No.77 Tahun 1990 menghasilkan prioritas utama untuk Jalan Bundaran-Pasar Purwodadi, JalanSp.Bundaran-Kantor Camat prioritas kedua, Jalan Tugu Jadi-Karang Suci prioritas ketiga.Berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perolehan urutan prioritas yangmenggunakan perhitungan SK No. 77 Tahun 1990 akan berubah posisi bila dihitung denganmenggunakan bobot yang diperoleh pada perhitungan metode AHP. Perubahan yang terjadi adalahurutan menggunakan metode SK No. 77 Tahun 1990 berada di atas pada perhitungan pembobotankriteria, hal ini terjadi karena beberapa hal seperti: a)Jumlah penilaian pada kondisi jalan maksimal,b)Jumlah LHR tinggi, c)Nilai NPV tinggi, d)Perolehan kebijakan tinggi, dan e)Pemanfaatan tataguna lahan tinggi.Kata kunci : SK.No.77 Dirjen
Suction-Monitored Direct Shear Test on Unsaturated Sand and Sand-Kaolin Clay Mixture Purwana, Yusep Muslih; Nikraz, Hamid
Jurnal Geoteknik Vol 9, No 01 (2014)
Publisher : Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the common devices for unsaturated soil strength testing is suction-controlled direct shear. In this device, suction is adjusted by controlling water pressure and air pressure during the test. Suction was generated indirectly by adjusting the specimen’s water content to the desired value. During the test, suction was monitored using the attached tensiometer. Thus in this method, pore water and pore air pressure control is no longer required. The tests were carried out using sand and sand-kaolin clay mixtures in 95:5 and 90:10 proportions. The results indicates that shear strength with respect to matric suction exhibits a bilinear envelope with an initial value of fb is higher than the effective internal friction f¢. Despite the suction capacity of the tensiometer was relatively low, this device was effective for low air entry soils such as sand or sand with relatively small portion of fine grained material. Keywords: Sand-kaolin clay mixtures, suction-monitored direct shear test, unsaturated shear strength
PRIORITAS PENANGANAN JALAN DI KABUPATEN BENGKULU UTARA Widyasari, Inneke; Purwana, Yusep Muslih
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A B S T R A KKebijakan otonomi daerah di Indonesia yang memberikan tanggung jawab penyelenggaraan dalam pemeliharaan jalan regional kepada pemerintah daerah. Pemerintah Kabupaten Bengkulu Utara telah mengadakan berbagai usaha untuk melaksanakan otonomi daerah sebaik mungkin, salah satunya adalah perbaikan prasarana transportasi jalan. Penentuan skala prioritas penanganan jalan kabupaten berdasarkan SK.No.77, Dirjen Bina Marga, Tahun 1990, yaitu berdasarkan data Lalu Lintas Harian Rata (LHR) dan Nilai Net Present Value (NPV) saja. Hal ini kurang tepat karena kompleksnya permasalahan di lapangan yang dipengaruhi oleh berbagai aspek seperti: kondisi jalan, lalu lintas harian rata-rata, kebijakan, dana anggaran, dan aspek tata guna lahan. Sehingga diperlukan metode yang dapat menampung semua aspek tersebut dan dapat mengantisipasi ketimpangannya.Metode penentuan skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu Utara menggunakan Metode SK. No. 77 Dirjen Bina Marga Tahun 1990 dan Metode Analytical Hierarchy Process (AHP). Kemudian kedua metode tersebut dibandingkan untuk mendapatkan kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu Utara dengan Metode AHP menghasilkan prioritas utama untuk Jalan Karang Pulau – Bukit Berlian, Jalan Giri Kencana – D3 prioritas kedua, Jalan Lb. Durian – Padang Bertuah prioritas ketiga. Sedangkan skala prioritas penanganan jalan di Kabupaten Bengkulu dengan Metode SK. No. 77 Tahun 1990 menghasilkan prioritas utama untuk Jalan Bundaran-Pasar Purwodadi, Jalan Sp.Bundaran-Kantor Camat prioritas kedua, Jalan Tugu Jadi-Karang Suci prioritas ketiga. Berdasarkan hasil tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa perolehan urutan prioritas yang menggunakan perhitungan SK No. 77 Tahun 1990 akan berubah posisi bila dihitung dengan menggunakan bobot yang diperoleh pada perhitungan metode AHP. Perubahan yang terjadi adalah urutan menggunakan metode SK No. 77 Tahun 1990 berada di atas pada perhitungan pembobotan kriteria, hal ini terjadi karena beberapa hal seperti: a)Jumlah penilaian pada kondisi jalan maksimal, b)Jumlah LHR tinggi, c)Nilai NPV tinggi, d)Perolehan kebijakan tinggi, dan e)Pemanfaatan tata guna lahan tinggi. Kata kunci : SK.No.77 Dirjen Bina Marga Tahun 1990, Analytical Hierarchy Process, Skala prioritan penanganan jalan
DESIGN AND PROPERTIES OF ASPHALT CONCRETE MODIFIED WITH CRUMB RUBBER AT HOT AND ARID REGION A. M. Hmade1, Mohmed Alshekh; Setyawan, Ary; Purwana, Yusep Muslih
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractMany researchers have been conducted in finding alternative materials in order to be used as a modifier in asphalt mixture for the purpose of improving its properties. This thesis presents a study of laboratory evaluation on the performance of hot-mixed asphalt (HMA) using crumb rubber as an additive. It is noted that crumb rubber was identified to have potency as a modifier in HMA due to the elastic behavior exposed by the rubber particles, especially in reducing the rutting potential. In this research, fine crumb rubber Shred (2.36-0.85 mm) obtained by ambient-temperature grinding process from discarded truck tires, was used to modify asphalt concert. The fine crumb rubber with different contents, i.e. 2.5%, 5%, 7.5% and 10%, was incorporated into the mixture by using dry process method. The Marshal properties, Unconfined Compressive Strength (UCS), Indirect Tensile Strength test (ITS) and Indirect Tensile Strength Modulus (ITSM), Permeability were conducted. The result showed that marshal stability, Marshal Quotient, Voids in Mix (VIM) and Voids in mineral aggregate (VMA) decreased with the increasing crumb rubber modifier. However, Marshal Flow and Void filled with asphalt (VFWA) increased when crumb rubber modifier was increased. All the values of unconfined compressive strength (UCS) y=-346.6x+5093at 30C?, Indirect Tensile Strength test (ITS) Y=-6.248x+404.9 with 0%CR, Y=-4.051x+254.8 with 2.5%CR, Y=-3.674x+223.5 with 5.0%and y=-2.820x+173.4 with 7.5%CRand Indirect Tensile Strength Modulus (ITSM) Y=-29000X²-4259+682.7 at 40C°, Permeability decreased with an increase in crumb rubber modifier. Therefore, Crumb rubber could not let commented as aggregate substitution for flexible asphalt concrete at hot and arid region.Keywords: Asphalt concrete Crumb Rubber modifier Marshall, ITS, ITSM, UCS, PermeabilityTest.
SHRINKAGE BEHAVIOR OF STEEL FIBER REINFORCED CONCRETE ON SANDWICH LAYER CONCRETE Al Mahdi Jibril, Ramadhan; Purwana, Yusep Muslih
Jurnal Teknik Sipil Vol 2, No 2 (2014): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractShrinkage of concrete causes a serious problem in concrete. If concrete is restrained from shrinking, tensile stresses develop and it may exceed the tensile strength of concrete which causes the concrete cracks. One possible method to control or reduce the adverse effects of cracking due to shrinkage in concrete structures is the addition of fiber in the concrete. Steel fiber can improve structural strength, ductility, reduce crack widths and control the crack. In sandwich layer where its material comprises of steel fiber reinforced concrete and some other by plain concrete. The shrinkage behavior has been considerably different compared to fiber reinforced concrete and plain concrete. Therefore this study investigates the behavioral of shrinkage on the steel fiber reinforced concrete on sandwich layer concept.The test specimens were made by steel fiber dosages of 10kg/m3, 30kg/m3, 50kg/m3, 80kg/m3 and 100kg/m3 and some others for sandwich layer specimen with similar fiber dosages combined with plain concrete. The specimen form was cylinder 5 cm in diameter and 27 cm in high for drying shrinkage test. All samples were placed in open air on ambient temperature environment. The shrinkage was recorded on 1 day to 56 days. The shrinkage prediction for three year or 1000 days was also calculated. Both recorded and predicted shrinkage were then compared..The test result showed that plain concrete experienced the highest drying shrinkage and the addition of steel fiber reduced the drying shrinkage that occurred at concrete. The greater amount of fiber contained in the concrete, the lower occurrence of drying shrinkage. The shrinkage on sandwich samples recorded moderate compared to plain concrete, however this shrinkage is higher compared to samples of fully fiber reinforced concrete at the same fiber dosage. The three group of samples; steel fiber reinforced concrete, sandwich concrete and plain concrete showed the same trend of shrinkage curves following the time of hydration. The presence of steel fiber in concrete can effectively hinder drying shrinkage and affected the crack that can reduce and control the shrinkage of concrete.      Keyword: Shrinkage behavior, shrinkage prediction, SFRC, sandwich concrete, plain concrete, steel fiber..
TINJAUAN GEOTEKNIK KERUSAKAN JALAN SUB GRADE TANAH LUNAK TERHADAP PENURUNAN RUAS JALAN AIR BARA - TOBOALI KM 110+500-111+010 Iqbal, Muhammad; Purwana, Yusep Muslih; Surjandari, Niken Silmi
Jurnal Teknik Sipil Vol 3, No 1 (2015): Jurnal Teknik Sipil
Publisher : Jurnal Teknik Sipil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Ruas jalan Air Bara - Toboali terletak di Kecamatan Toboali Kabupaten Bangka Selatan mengalami kerusakan berat sepanjang ± 1,00 Km.  Ruas jalan ini  terletak  dilokasi rawa-rawa dengan  karakteristik  sub grade lunak. Ruas jalan ini sebelumnya telah dilakukan dua kali peningkatan struktur yaitu pada tahun 2009 dan 2011 berupa peninggian (rising) lapis pondasi aggregat. Akan tetapi  rising memperparah kerusakan berupa penurunan (settlement), hal ini menyebabkan kondisi badan  jalan mengalami penurunan tidak seragam (differential settlement). Penurunan tanah dasar (sub grade) berakibat buruk terhadap struktur perkerasan jalan, sehingga perlu dilakukan analisis terhadap besar, derajat konsolidasi dan waktu penurunan. Penelitian di analisis  pada Km 110+500 - 111+500  dengan tiga titik tinjau pada Km 110+780 ,  110 +600 dan Km 111 +010.  Penelitian ini menggunakan data sekunder dan primer.  Parameter penelitian yaitu penampang melintang, tebal rising struktur perkerasan jalan.  Variabel penelitian ini  penurunan  segera dan penurunan konsolidasi guna mendapatkan penurunan total.   Analisis penurunan dimulai tahun 2009  dan 2011 pasca penanganan.  Penurunan konsolidasi akibat adanya rising lapis pondasi aggregat dan perkerasan aspal diatas  konstruksi jalan existing  tanah dasar yang lunak. Hasil yang diharapkan dalam penelitian ini mendapatkan besar penurunan, derajat konsolidasi dan waktu konsolidasi tanpa Prefabricated Vertical Drain (PVD) dan menggunakan  Prefabricated Vertical Drain (PVD).Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan konsolidasi akibat dari rising didapat besar penurunan total untuk tahun 2009  Km 110+780 ,  110 +600 dan Km 111 +010  secara berturut-turut adalah  sebesar 0,184 , 0,181 dan 0,172 m sedangkan  tahun 2011 adalah  0,185, 0,185 dan   0,171 m.  Sedangkan waktu konsolidasi  90 %  tanpa PVD  pada Km 110+780 ,  110 +600 dan Km 111 +010  secara berturut-turut  adalah  501,  549 dan 4600 hari. Untuk mempercepat proses penurunan konsolidasi  dihitung dengan menggunakan Prefabricated Vertical Drain (PVD) dengan pola segitiga jarak spasi 1, 2 m, 1,4 m, 1,6 m dan panjang aliran 10 m. Waktu konsolidasi 90 %, dengan  menggunakan PVD jarak yang paling efektif jarak spasi 1,2 meter secara berturut-turut adalah 15, 15, 110 hari. Kata Kunci:  Konsolidasi, sub grade tanah lunak, Penurunan, Prefabaricated Vertical Drain (PVD)  
KUAT TEKAN TANAH LEMPUNG PLASTISITAS TINGGI YANG DISTABILISASI PADA INDEKS LIKUIDITAS 0.5 DAN 0.75 MENGGUNAKAN SEMEN Purwana, Yusep Muslih; Dananjaya, Raden Harya
Jurnal Teknik Sipil Vol 14, No 2 (2017)
Publisher : Program Studi Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.379 KB) | DOI: 10.24002/jts.v14i2.1530

Abstract

Tanah lempung plastisitas tinggi diklasifikasikan sebagai tanah lunak dengan daya dukung dan kekuatan yang rendah. Stabilisasi tanah dibutuhkan untuk meningkatkan sifat tekniknya. Pencampuran tanah menggunakan semen telah dilakukan untuk menstabilisasi tanah ini. Pengaruh semen dan faktor air semen terhadap kuat tekan tanah dengan masa perawatan yang berbeda telah diinvestigasi. Uji kuat tekan bebas tanah (UCS) dilakukan pada tanah yang distabilisasi dengan kandungan semen 5%, 10%, dan 15% dari berat basah tanah dengan faktor air semen 20%, 25%, 30%, dan 35% dari berat semen. Masa perawatan sampel adalah 0, 3, 7, dan 14 hari. Tanah distabilisasi pada indeks likuidtias 0.50 dan 0.75. Hasil pengujian menunjukkan bahwa semakin tinggi proporsi semen yang digunakan, maka semakin besar peningkatan kuat tekan tanah, namun sebaliknya semakin tinggi faktor air semen yang digunakan, maka kuat tekan tanah semakin berkurang. Selain itu, tanan yang distabilisasi pada indeks likuiditas yang lebih rendah memberikan kuat tekan yang lebih tinggi. Kuat tekan tanah tertinggi dicapai pada campuran semen 15% dengan faktor air semen 20% yang distabilisasi pada indeks likuiditas 0.50, dimana kuat tekan tanah meningkat hingga 29.5 kali dari kuat tekan semula.
A Comparison between Drilling and Standard Penetration Test (SPT) Data to the Electrical Resistivity Sounding with Schlumberger Configuration in UNS Area Listanti, Sinta Nur Rizqi; Darsono, Darsono; Purwana, Yusep Muslih
INDONESIAN JOURNAL OF APPLIED PHYSICS Vol 8, No 02 (2018) : IJAP Volume 8 ISSUE 02 YEAR 2018
Publisher : Department of Physics, Sebelas Maret University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (866.569 KB) | DOI: 10.13057/ijap.v8i2.17962

Abstract

The geophysics test using electrical resistivity method has been conducted in the area of UNS Campus to indicate the lithological of subsurface. This method is categorized as a Non-Destructive Test (NDT) due to the data acquisition is done at the ground level and no destruction during the test, which is more advantageous than destructive method such as drilling and SPT test. This study was performed with Schlumberger configuration in three location by electrical resistivity sounding. The acquisition data uses Resistivity meter OYO 2119 McOHM-EL with the track length is 100 m, while the data processing use IPI2Win to get a logarithmic graph between distance and resistivity and Origin to obtain graphic of resistivity and SPT. The result of this study indicates that electrical resistivity has a good correlation with SPT data. The electrical resistivity graph shows a linear increase along with increment of the depth, which is similar to the SPT graph. The slope difference at the first location is 2.44±1,197, the second location is 2.028±0.822, and the third location is 0.622±0.735.
PENGGUNAAN BAMBU PETUNG SEBAGAI ALTERNATIF MATERIAL KONSTRUKSI DINDING PENAHAN GALIAN PADA KONDISI TANAH NON KOHESIF Wahyudianto, Kurniadi; Purwana, Yusep Muslih; Surjandari, Niken Silmi
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v1i1.428

Abstract

Pembangunan konstruksi di lokasi yang sempit dan lahan kerja yang terbatas seringkali menyebabkan galian struktur harus dilaksanakan secara tegak lurus, sehingga dibutuhkan dinding penahan untuk mengamankan galian agar tidak terjadi longsor. Bambu dipilih sebagai salah satu material kombinasi dinding penahan galian sementara karena memiliki sifat-sifat mekanika yang baik dan relatif murah.  Penelitian ini bertujuan memperoleh informasi keamanan dan kelayakan bambu petung sebagai material konstruksi dinding penahan galian pada kondisi tanah non kohesif, pada konstruksi dinding penahan galian tanah dengan menggunakan kombinasi baja IWF dan bambu petung, sebagai alternatif  desain dinding penahan tanah bagi pelaksana pekerjaan. Data yang diambil adalah data sekunder tanah non kohesif.  Analisis data yang dilakukan  meliputi analisis pembebanan, analisis tekanan tanah pada dinding penahan, dan analisis dimensi bambu (check kekuatan bahan). Hasil analisis menunjukkan  bahwa material bambu petung layak dan aman digunakan  sebagai alternatif material konstruksi dinding penahan galian pada kondisi tanah non kohesif. Diharapkan hasil penelitian ini dapat  menjadi referensi bagi proyek-proyek yang memerlukan pelindung galian tegak.Kata kunci: galian tegak,  konstruksi dinding penahan tanah, kombinasi baja IWF dengan bambu
ANALISIS LENDUTAN PERKERASAN KAKU PADA PEMBEBANAN SUDUT DENGAN METODE ELEMEN HINGGA Yasir, Farid; Surjandari, Niken Silmi; Purwana, Yusep Muslih
Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Vol 1, No 1 (2017): Jurnal Muara Sains, Teknologi, Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jmstkik.v1i1.426

Abstract

Perkerasan kaku adalah salah satu jenis perkerasan untuk menangani permasalahan akibat daya dukung tanah yang rendah. Tebal perkerasan merupakan salah satu yang diperhitungkan agar tidak terjadi lendutan yang melebihi lendutan yang diijinkan pada tanah dasarnya. Penggunaan koperan pada ujung pelat perkerasan kaku adalah alternatif solusi untuk mengatasi permasalahan lendutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui lendutan pada perkerasan kaku akibat beban pada posisi sudut dengan variasi ketebalan dan penambahan koperan. Besarnya lendutan akibat pembebanan sudut dianalisis dengan Metode Elemen Hingga. Model pelat berukuran 6x3 m dengan variasi tebal 15 cm, 20 cm, 25 cm, 30 cm dan 35 cm, nilai CBR 10%, mutu beton yang digunakan adalah K350, posisi pembebanan sudut dengan beban 8 ton dan koperan lebar 25 cm tinggi 50 cm. Penggunaan koperan dapat mereduksi lendutan hingga 42,36%  pada tebal 15 cm dan semakin turun dengan bertambahnya tebal pelat hingga sebesar 13,13% pada tebal 35 cm, sehingga dapat diperoleh tebal perkerasan yang lebih kecil, sebagaimana dalam hasil analisis pelat tebal 35 cm tanpa koperan diperoleh lendutan maksimum sebesar 10,659 mm atau lebih besar lendutannya dari pelat tebal 25 cm menggunakan koperan dengan lendutan maksimum sebesar 10,413 mm.Kata kunci: perkerasan kaku, koperan, lendutan, metode elemen hingga.