p-Index From 2017 - 2022
1.037
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Tunas Agraria
Tanjung Nugroho, Tanjung
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) Partisipatif di Kabupaten Madiun Liliyani, Pertiwi; Nugroho, Tanjung; Titik Andari, Dwi Wulan
Tunas Agraria Vol. 3 No. 2 (2020): Mei-Tunas Agraria
Publisher : Program Studi Diploma IV Pertanahan-STPN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/jta.v3i2.114

Abstract

Abstract: The inventory of Land Tenure, Ownership, Use, and Utilization (IP4T) which is conducted by the City/Regency Land Office, often constrained by limited human resources and State Budget (APBN). For the solution to solve the limited human resources and APBN, in the IP4T implementation, then it needs to conduct an activity based on the participation of society. An activity based on the participation of society is called the Participatory IP4T, in the context of IP4T. This research aims to find out the stages of the Participatory IP4T activity which involves parties, as well as to find out the benefits of the Participatory IP4T results for the Complete Systematic Land Registration (PTSL) activity in Madiun Regency. This research used the descriptive method with the qualitative approach. The research results showed that the stages of Participatory IP4T consist of four stages namely: (1) Planning Stage, (2) Preparation, (3) Implementation, and (4) Supervision, Monitoring and Evaluation. The results of the Participatory IP4T activity was (1) Work Map which can be useful as the work map for the PTSL activity, (2) the textual and juridical data, can be utilized for the initial data of the PTSL data. The PTSL in Madiun Regency was supported by the existence of the Participatory IP4T activity.Keywords: participatory IP4T, APBN, PTSL. Intisari: Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah (IP4T) yang dilaksanakan oleh Kantor Pertanahan Kabupaten/Kota sering terkendala oleh sumberdaya manusia dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang terbatas. Solusi untuk mengatasi keterbatasan sumberdaya manusia dan APBN yang terbatas dalam pelaksanaan IP4T, maka perlu dilakukannya kegiatan berbasis partisipasi masyarakat. Kegiatan berbasis partisipasi masyarakat, yang dalam konteks IP4T disebut IP4T Partisipatif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tahapan kegiatan IP4T Partisipatif yang melibatkan para pihak serta mengetahui manfaat dari hasil IP4T Partisipatif untuk kegiatan Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) di Kabupaten Madiun. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan IP4T Partisipatif terdiri 4 tahapan yaitu: (1) Tahapan Perencanaan, (2) Persiapan, (3) Pelaksanaan, dan (4) Supervisi, Monitoring dan Evaluasi. Hasil kegiatan IP4T Partisipatif berupa: (1) Peta Kerja yang dapat berguna sebagai peta kerja kegiatan PTSL, (2) Data yuridis dan tekstual yang dapat dimanfaatkan untuk data awal data PTSL. PTSL di Kabupaten Madiun didukung oleh adanya kegiatan IP4T Partisipatif.Kata Kunci: IP4T partisipatif, APBN, PTSL.
Penggunaan Mobile Base Station South Galaxy G1 untuk Pengukuran Batas Bidang Tanah di Kawasan Padat Bangunan Wirapradeksa, Hanggas; Nugroho, Tanjung; Suhattanto, Muhammad Arif
Tunas Agraria Vol. 2 No. 2 (2019): Mei-Tunas Agraria
Publisher : Program Studi Diploma IV Pertanahan-STPN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/jta.v2i2.28

Abstract

Abstract: GNSS CORS as one of land and area measuring instrument has the weakness of limited range of base station and can only be used in open area. Nowadays, this weakness can be overcome by mobile base station technology. One GNSS tool that uses mobile base station technology is Galaxy G1, South type. Another advantage is that, it can capture the Beidou satellite signal so that the satellite configuration becomes better. Thus, the researcher conducted a study with the aims (1) to know the difference between accuracy of measurement MBS South Galaxy G1 with and without Beidou satellites; (2) to test the accuracy of the results of measurements using Mobile Base Station South Galaxy G1 type towards the results of measurements with Electronic Total Station (ETS) in the densely building area. This research used a comparison experimental research method with a quantitative approach. The results of the analysis show that (1) the coordinates of the observation with Beidou have an average horizontal accuracy of 0.025 m, while the results of the calculation of coordinates without Beidou have an average horizontal accuracy of 0.421 m. (2) The difference between the MBS South Galaxy G1 coordinate value and the terrestrial coordinate value is 0.132 m on average. The results of the t-test with a significance level of 5% found that the MBS South Galaxy G1 coordinate value has a significant difference to the terrestrial coordinate value. Keywords: mbs, south galaxy g1 Intisari: CORS sebagai salah satu alat ukur bidang tanah mempunyai kelemahan terbatasnya jangkauan base station dan hanya dapat digunakan di daerah terbuka. Kelemahan tersebut kini dapat diatasi dengan adanya teknologi MBS. Salah satu alat GNSS yang menggunakan teknologi MBS adalah South tipe Galaxy G1. Kelebihan lain adalah dapat menangkap sinyal satelit Beidou sehingga konstalasi satelitnya lebih baik. Berdasarkan hal tersebut peneliti ini bertujuan (1) mengetahui perbedaan ketelitian hasil pengukuran MBS South Galaxy G1 dengan dan tanpa satelit Beidou; (2) menguji ketelitian hasil pengukuran menggunakan MBS South Tipe Galaxy G1 terhadap hasil pengukuran dengan Electronik Total Station (ETS) pada kawasan padat bangunan. Metode yang digunakan adalah metode penelitian eksperimen perbandingan dengan pendekatan kuantitatif. Hasil analisis diketahui (1) Koordinat pengamatan dengan Beidou memiliki ketelitian horisontal rata-rata sebesar 0.025 m, sedangkan hasil perhitungan koordinat tanpa Beidou memiliki ketelitian horisontal rata-rata sebesar 0.421 m. (2) Perbedaan nilai koordinat MBS South Galaxy G1 terhadap nilai koordinat terestris rata-rata sebesar 0.132 m. Hasil uji t dengan taraf signifikansi 5% diperoleh bahwa nilai koordinat MBS South Galaxy G1 memiliki perbedaan yang signifikan terhadap nilai koordinat terestris. Kata Kunci: mbs, south galaxy g1.
Penggunaan Mobile Base Station South Tipe Galaxy G1 untuk Percepatan Pengukuran Bidang Tanah Fauzan, Raden Dani; Nugroho, Tanjung; Suhattanto, Muhammad Arif
Tunas Agraria Vol. 2 No. 1 (2019): Jan-Tunas Agraria
Publisher : Program Studi Diploma IV Pertanahan-STPN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/jta.v2i1.24

Abstract

Abstract: The problem of the cadastral measurement utilize the Continuosly Operating Reference Stations/Jaringan Referensi Satelit Pertanahan (CORS/JRSP) is the uneven distribution of the base stations that are installed in several land offices which causes The Rover needs to take a long time to achieve The Fixed Solution. The use of Mobile base station can be used as a solution to the prob-lem because by using Mobile base station the base station can be installed at the measurement lo-cation. The objectives of this research are (1) to tested the accuraccy of the difference aspect of co-ordinate and the land area, (2) to tested the efficiency of cadastral measurement times using Mo-bile Base Station South Type Galaxy G1. The research method used is comparative experiment with quantitative approach. The selected samples are 30 plots of agricultural land in 1 (one) block, and Total Station as the comparison data. The data were analyzed by using fT test with signifi-cance level (?) 5%. The results showed no significant differences between the coordinates of the land area measurement using Mobile Base Station South Type Galaxy G1 and the measurement using Total Station. The land area of the measurement results has met tolerance based on PMNA / KBPN number 3 of 1997. Compared with Total Station, the cadastral measurement using Mobile Base Station is more efficient in terms of times needed.Keywords: the measurement of land, mobile base station, south galaxy G1Intisari: Permasalahan yang muncul pada pengukuran bidang tanah dengan memanfaatkan Jarin-gan Referensi Satelit Pertanahan (JRSP) adalah tidak meratanya persebaran base station yang dipasang di beberapa kantor pertanahan yang menyebabkan baseline yang terbentuk akan se-makin panjang dan rover memerlukan waktu lama mencapai solusi fixed. Penggunaan Mobile base station merupakan solusi masalah tersebut karena dengan menggunakan Mobile base station maka base station dapat dipasang pada lokasi pengukuran. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ketelitian dari aspek perbedaan koordinat, perbedaan luas bidang tanah dan mengetahui efisiensi waktu pengukuran bidang tanah menggunakan mobile base station Receiver GNSS South Galaxy G1. Metode penelitian yang digunakan adalah perbandingan dengan pendekatan kuantitatif. Sampel yang dipilih adalah 30 bidang tanah pertanian yang berbatasan dan pengukuran dengan Total Station sebagai data pembanding. Analisis data adalah uji t dengan taraf signifikansi (?) 5%. Hasil penelitian menunjukan tidak ada perbedaan koordinat yang signifikan hasil pengukuran mobile base station dengan pengukuran Total Station. Luas bidang tanah hasil pengukuran memenuhi toleransi berdasarkan PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997. Pengukuran menggunakan mobile base station lebih efisien dari segi waktu yang dibutuhkan.Kata Kunci: pengukuran bidang tanah, mobile base station, south galaxy G1
Pemanfaatan Receiver Gnss Berbiaya Rendah “Expandable-Gnss” dengan Metode Post-Processing Kinematic dalam Pengukuran Kadastral Chodiq, Rizka Dita Samsudin Al; Nugroho, Tanjung; Suyudi, Bambang
Tunas Agraria Vol. 1 No. 1 (2018): Sept-Tunas Agraria
Publisher : Program Studi Diploma IV Pertanahan-STPN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/jta.v1i1.9

Abstract

Abstract: Utilization of GNSS receiver by RTK method is expected to accelerate the land parcels measurement in the Ministry of Agrarian Affairs and Spatial Planning/National Land Agency. However, due to the expensive price, the number of current GNSS receivers is not yet comparable with the existing targets and work loads. Utilization of low-cost GNSS receiver can be a solution to the situation. One of the low-cost GNSS receivers is Expandable-GNSS (E-GNSS). The limitation of RTK method, related to the dependence of data communication during observation can be solved by the Post-Processing Kinematic (PPK) method. This research aims to test the accuracy of observations using E-GNSS with PPK method. The comparator in this research is the result of observation using GNSS receiver with static method. Data were analyzed by comparing the differences of coordinates between the three sample groups based on the baseline length classification, and also compared the coordinate differences between the two methods and the tolerance test based on the provisions of the PMNA / KBPN Technical Guidelines Number 3 of 1997. Based on the analysis indicates an increase in coordinate difference proportional to the length of the baseline. Statistical analysis also shows that there are significant differences between the coordinates of both methods, but still meet the fault tolerance point of 0.250 m. The length of the measured land parcels also meets the tolerance based on the provisions of the PMNA / KBPN Technical Guidelines Number 3 of 1997.Keywords: Cadastral, Low-Cost GNSS Receiver, Post-Processing Kinematic Intisari: Pemanfaatan receiver GNSS dengan metode RTK diharapkan dapat mempercepat kegiatan pengukuran bidang tanah di Kementerian ATR/BPN. Akan tetapi, karena harga receiver GNSS yang relatif mahal menyebabkan jumlahnya belum sebanding dengan target dan beban pekerjaan yang ada. Pemanfaatan receiver GNSS berbiaya rendah dapat menjadi solusi keadaan tersebut. Salah satu receiver GNSS berbiaya rendah adalah Expandable-GNSS (E-GNSS). Sedangkan keterbatasan metode RTK, terkait ketergantungan akan komunikasi data selama pengamatan dapat di atasi dengan penggunaan metode Post-Processing Kinematic (PPK). Pada penelitian ini, dilakukan pengujian ketelitian hasil pengamatan menggunakan E-GNSS dengan metode PPK. Sebagai pembanding dalam penelitian ini adalah hasil pengamatan menggunakan receiver GNSS dengan metode statik. Analisis dilakukan dengan membandingkan perbedaan koordinat kedua metode antar kelompok sampel berdasarkan klasifikasi panjang baseline, selain itu juga dibandingkan perbedaan koordinat hasil pengamatan antara kedua metode serta uji toleransi berdasarkan ketentuan pada Petunjuk Teknis PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997. Berdasarkan analisis hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan perbedaan koordinat sebanding dengan semakin panjang baseline. Analisis statistik juga menunjukkan terdapat perbedaan signifikan koordinat yang dihasilkan kedua metode, akan tetapi masih memenuhi toleransi kesalahan titik sebesar 0,250 m. Panjang sisi bidang tanah hasil pengukuran juga memenuhi toleransi berdasarkan ketentuan Petunjuk Teknis PMNA/KBPN Nomor 3 Tahun 1997.Kata kunci: Kadastral, Receiver GNSS Berbiaya Rendah, Post-Processing Kinematic
Analisis Perubahan Bidang Tanah Terdaftar Akibat Gempabumi dan Likuifaksi Palu Tahun 2018 Ratode, Hartato Kurniawan; Nugroho, Tanjung; Sufyandi, Yendi
Tunas Agraria Vol. 4 No. 1 (2021): Jan-Tunas Agraria
Publisher : Program Studi Diploma IV Pertanahan-STPN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31292/jta.v4i1.136

Abstract

Deformation, due to the earthquake and liquefaction, in Palu at 2018 has resulted the changes of the shape of land parcels that were registered and unregistered. Quantitative methods that supplemented with data interview were used to answer the research questions: 1) how many land movement occurred in the areas affected by liquefaction ?; and (2) what is the strategy carried out by the Palu City Land Office for those areas?. The results showed that the majority of land parcels in the liquefaction area could not be identified cadastrally, with an average lateral position difference of 7.016 m in Balaroa and 4.273 m in Petobo. Based on these conditions, the possibilities that can be done are reconstruction or re-measurement in areas that are not too severe and relocation of dwellings to areas of high severity. The conclusion of this study is there are several types in a liquefaction zone that require different land policy. Deformasi akibat gempabumi maupun likuifaksi di Palu pada tahun 2018 berdampak pada perubahan bentuk bidang-bidang tanah yang sudah terdaftar maupun belum terdaftar. Metode kuantitatif yang dilengkapi dengan data hasil wawancara digunakan untuk menjawab pertanyaan penelitian: 1) berapa besar pergerakan tanah yang terjadi di kedua wilayah terdampak likuifaksi?; dan (2) bagaimana strategi yang dilakukan oleh Kantor Pertanahan Kota Palu terhadap kawasan terdampak?. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas bidang tanah di area likuifaksi tidak bisa diidentifikasi batas bidang tanahnya secara kadastral, dengan nilai rata-rata perbedaan posisi secara lateral 7,016 m di Balaroa dan  4,273 m di Petobo. Berdasarkan kondisi tersebut, kemungkinan yang bisa dilakukan adalah rekonstruksi atau pengukuran ulang di wilayah yang tidak terlalu parah dan relokasi hunian terhadap area dengan tingkat keparahan tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat beberapa tipe dalam sebuah area zona likuifaksi yang membutuhkan penanganan pertanahan yang berbeda.Kata Kunci: Deformasi, Posisi Bidang Tanah, dan Kebijakan Pertanahan