Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Rekontruksi Pendidikan Budaya “Rarangaken Sawah” Bagi Anak-anak Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Gumilar, Trisna; CMS, Samson; Kusnandar, Kusnandar
INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan Vol 21 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1259.89 KB) | DOI: 10.24090/insania.v21i2.1413

Abstract

Abstract: Rangraken Sawag is one manifestation of an agrarian culture in District Cipatujah, Tasikmalaya, West Java. This culture in unique because it contains a high aesthetic, in addition to its usefulness in helping farmers maintain the fields. The existence of this culture are now showing symptoms of decline. People are starting to forget this thing., especially the younger generation. Therefore, in a series of conservation activities organized by the food culture Community Service team Padjadjaran University and assisted by Sunda Pakidulan Dangiang community, local government officials and community leaders, the recontruction has been initiated especially for children. The Purpose of this implementation to reintroduce, instill a love, and fostering cultural creativity based society. Keyword: Reconstruction, Education, Children.
PENINGKATAN KEMAMPUAN LITERASI INFORMASI BAGI PENGELOLA PERPUSTAKAAN/PUSTAKAWAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Yanto, Andri; CMS, Samson
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.32 KB)

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah guna meningkatkan Kemampuan Literasi Informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Sebagai kabupaten yang merupakan hasil pemekaran kabupaten, perlu upaya membantu peningkatan IPM Kabupaten Bandung Barat, maka diperlukan peningkatan kemampuan literasi informasi para pengelola perpustakaan/pustakawan yang ada di wilayah Bandung Barat mulai dari para Pengelola Perpustakaan Sekolah/Pesantren/Masjid, Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai kelompok sasaran. Adanya peningkatan kapasitas para pengelola lembaga informasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam peningkatan SDM serta memberikan kemampuan belajar sepanjang hayat kepada para pengguna (pemustaka) perpustakaan yang mereka layani. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kemampuan literasi informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Adapun tujuan dari PPM ini adalah memberikan bekal pengetahuan dan keahlian terkait literasi informasi. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari PPM ini adalah adanya peningkatan kemampuan literasi para pengelola perpustakaan/pustakawan pada TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat serta adanya penambahan keahlian para pengelola perpustakaan/pustakawan TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa dalam membuat program perpustakaan dan adanya sinkronisasi dengan program-program lembaga di mana perpustakaan itu bernaung.
Teknologi Tepat Guna Membangun Kecintaan dan Kebanggaan Pada Kearifan Lokal Bahasa Sunda Dewi, Evi Rosyani; Endrawan, Anggy; CMS, Samson; Machdalena, Susi; Purnomowulan, N. Rinaju
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.234

Abstract

ABSTRAKSebagai salah satu dari tujuh unsur budaya versi Koentjaraningrat bahasa merupakan unsur yang melekat pada diri setiap warga masyarakat dan menjadi salah satu pencirikelompoknya. Bahasa Sunda seyogyanya tampil dalam keseharian masyarakat Sunda, khususnya dalam pendidikan nonformal dan informal. Dengan demikian kearifan lokal tersebut akan terlindungi dari ancaman „pemarjinalan“.Penelitian yang dilakukan di kecamatan Pangalengan, Banjaran danCicalengka di kabupaten Bandungmembuahkan hasil yang cukup mengejutkan. Babasan, paribasa dan aksara Sunda (baca: Kaganga) nyaris tidak dikenal di kalangan masyarakatnya. Meskipun bahasa Sunda digunakan sebagai sarana komunikasi, namun nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak tereksplor dengan baik. Melalui teknologi tepat guna berupa kartu „Opat Kalima Pancer“ dan fesyen populer bernuansa kearifan lokal diharapkan kecintaan dan kebanggan warga terhadap nilai-nilai budaya Sunda berbasis bahasa dapat ditumbuhkan.Kata kunci: unsur budaya, penciri kelompok, nyaris hilang, teknologi tepat guna, kecintaan ABSTRACTAs one of seven cultures that according to Koentjaraningrat, language is an element which is inherent for every member of society. It also becomes one of the group identifier. Sundanese should appear in everyday life of Sundanese people, especially in non-formal and informal education. Therefore, the local knowledge will be protected from the threat of “marginality“.The research that located in the dictrict of Pangalengan, Banjaran, and Cicalengka, in Bandung regency obtained results that were quite startling. Babasan, paribasa and Sundanese script (read: Kaganga) are barely known among the people. Although Sundanese used as means of communication, but cultural values that contain in them does not discover properly. Through appropiate technology in the form of kartu opat kalima pancer and popular fashion that nuanced local knowledge are expected people’s devotion and pride towards Sundanese cultural values in the basis of language can be grown.Keywords: cultural element, group identifier, narrowly missing, appropiate technology, devotion
Perluasan notasi Dewey Decimal Classification (DDC) tentang bahasa dan susastra Sunda Prijana, Prijana; Rohman, Asep Saeful; CMS, Samson
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 5, No 2 (2017): 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.545 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v5i2.11014

Abstract

The Sundanese language becomes one of the regional languages in the Indonesian Dewey Decimal Classification (DDC)’s notation 499.2232. The knowledge of Sunda has become a representation of the language used by the Sunda ethnicity in ancient and present times, thus it is necessary to record the development of language science and Sundanese literature into the DDC system in the library. This study aimed to extend the Dewey’s Classification notation in the field of the Sundanese language and literature. The scope of this study was to review the Indonesian and Sundanese language and literature notations in the 23rd edition of DDC Classification System, the development of knowledge about the Sundanese language and Sundanese literature, as well as the extension of the notation on the subjects. The research used a qualitative method using a descriptive. The result of this study was the extension of the Sundanese language and literature subject notation to complete the DDC classification scheme, which then would be submitted to the Library Material Development and Information Services in the National Library of Indonesia. Furthermore, the development of knowledge of the Sundanese language and literature that have been published in various forms of publication, to date can be represented by some more specific classification notation under the notation 499.223 2 for the Sundanese language and under notation 899.223 2 for the Sundanese literature. The notation will also provide benefits in the management of library materials as a representation of information contained in various publications on the Sundanese language and literature.
BARON DAUD DI MENARA LOJI (Analisis Wacana Mengenai Kehidupan Sosial Orang Cilayung dan Cileles Jatinangor Sumedang Jawa Barat) CMS, Samson; Prijana, Prijana; Perdana, Fitri
PROSIDING KOMUNIKASI PROSIDING : AKSELERSI PEMBANGUNAN MASYARAKAT LOKAL MELALUI KOMUNIKASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI (BUKU
Publisher : PROSIDING KOMUNIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.816 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan pendidikan orang Cilayung dan Cileles, dan semangat Baron Daud di menara Loji. Metode penelitian: analisis wacana (discourse analysis). Hasil penelitian: Interaksi sosial orang Cilayung dan Cileles dengan pihak kampus masih belum optimal. Faktor pendidikan dan kondisi ekonomi orang Cilayung dan Cileles masih menjadi kendala dalam melangsungkan interaksinya. Kesimpulan: Baron Daud di menara Loji Jatinangor merupakan saksi adanya interaksi sosial antara penguasa tanah perkebunan karet di zaman Belanda dengan orang-orang Cilayung dan Cileles sebagai pekerja perkebunan. Interaksi sosial mereka berlangsung dengan baik. Kata Kunci: Baron Daud, Discourse Analysis, Interaksi Sosial, Menara Loji, Penguasa, Perkebunan Karet.
Aseuk Hatong Antara Seni Berkomunikasi dan Teknologi: Studi Fenomenologi tentang Budaya Bertani Ladang Masyarakat Tatar Karang Priangan Kabupaten Tasikmalaya CMS, Samson
Metahumaniora Vol 7, No 3 (2017): METAHUMANIORA, DESEMBER 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v7i3.18850

Abstract

ABSTRAKTidak mampunya kita mendalami pengetahuan asli kita sendiri mengakibatkanterjadinya disharmoni teknologi dengan kebutuhan di lapangan, tidak terkecuali TeknologiTepat Guna (TTG) dalam pertanian ladang. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuiperanan Aseuk Hatong dalam tradisi pertanian ladang di masyarakat Tatar Karang PrianganKabupaten Tasikmalaya yang religius Islami, tapi masih mempertahankan tradisi tersebut.Metode penelitian ini menggunakan studi fenomenologi Schutz. Hasil penelitian menunjukkanbahwa 1) Seni berkomunikasi: (kakawihan) dalam tradisi Aseuk Hatong adalah upayaharmonisasi antara petani dengan alam yang sedang kemarau melalui senandung ringan yangkontekstual. 2) Teknologi Tani: (Aseuk Hatong) adalah suatu alat untuk mengolah untuk tanahladang pada musim kemarau yang dibalut dengan estetika musikal sederhana khas petaniladang, hasil pengembangan teknologi yang tepat guna, menyenangkan, inovatif, fungsional,terjangkau, murah, dan ramah lingkungan. Dengan demikian, dapat dirumuskan bahwa TradisiAseuk Hatong di Tatar Karang Priangan merupakan media persuasif bertani di kala ngahuma(berladang) tidak dibarengi musim penghujan. Tradisi Aseuk Hatong juga merupakanpengembangan teknologi yang sangat memperhitungkan kearifan lokal yang berlaku.Kata kunci: aseuk hatong, kawih, komunikasi seni, teknologi tani, pertanian ladangABST RACTOur inability to deepen our own original knowledge results in disharmony of technologywith the needs in the field, including the Appropriate Technology (TTG) in agriculture. It istherefore that in any development it is often not harmonious with the needs of society. Theobjective of the research is to know the role of Aseuk Hatong in the agricultural tradition in theTatar Karang Priangan community of Tasikmalaya Regency whicht is religiously Islamic yetstill maintains the tradition. The research method is Schutz phenomenology study. The resultsof research show that (1) the art of communicating (kakawihan) in Aseuk Hatong tradition isa harmonious effort between farmers and the dry nature through mild, contextual humming.(2) Farm technology (Aseuk Hatong)is a tool to cultivate the soil, plowing the fields during thedry season by wrapping with simple typical musical aesthetics of field farmers as the resultsof appropriate technology development, fun, innovative, functional, affordable, cheap, andenvironmentally friendly. As the conclusion, it can be said that Aseuk Hatong Tradition in TatarKarang Priangan as a persuasive media farming during ngahuma (farming) not accompaniedby rainy season is a technology development that takes into account local wisdom occur.Keywords: aseuk hatong, kawih, art communication, farming technology