Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Rekontruksi Pendidikan Budaya “Rarangaken Sawah” Bagi Anak-anak Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Gumilar, Trisna; CMS, Samson; Kusnandar, Kusnandar
INSANIA : Jurnal Pemikiran Alternatif Kependidikan Vol 21 No 2 (2016)
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1259.89 KB) | DOI: 10.24090/insania.v21i2.1413

Abstract

Abstract: Rangraken Sawag is one manifestation of an agrarian culture in District Cipatujah, Tasikmalaya, West Java. This culture in unique because it contains a high aesthetic, in addition to its usefulness in helping farmers maintain the fields. The existence of this culture are now showing symptoms of decline. People are starting to forget this thing., especially the younger generation. Therefore, in a series of conservation activities organized by the food culture Community Service team Padjadjaran University and assisted by Sunda Pakidulan Dangiang community, local government officials and community leaders, the recontruction has been initiated especially for children. The Purpose of this implementation to reintroduce, instill a love, and fostering cultural creativity based society. Keyword: Reconstruction, Education, Children.
REKONSTRUKSI TRADISI RARANGKÉN PARÉ: UPAYA AWAL KONSERVASI BUDAYA PANGAN DI CIPATUJAH KABUPATEN TASIKMALAYA Gumilar, Trisna; CMS, Samson; Kusnandar, Kusnandar
Indonesian Journal of Conservation Vol 5, No 1 (2016)
Publisher : Badan Pengembang Konservasi UNNES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/ijc.v5i1.11760

Abstract

Reconstruction Rarangkén Paré is early conservation efforts undertaken in the food culture village Kecamatan Cipatujah Sindangkerta Tasikmalaya regency. Rarangkén Paré is a series of activities ranging from maintaining rice selecting and preparing a superior seeds, preserve, maintain, harvest, store, process until the rice into the rice, and cook it into food. Reconstruction is done with the stages of implementation procedures are structured based on a realistic and holistic involving researchers, partners, and society as well as support from the local village government. There are two main dimensions, namely cultural reconstruction Rarangkén Paré retrospective reading and reading perspective. Readings retrospective, ie digging up information in a way look 'backward' tradition rarangken paddy to find symbolic meanings. Prospective readings Rarangkén Paré is a new interpretation, that is, finding opportunities creativity and productivity. Rekonstruksi Rarangkén Paré adalah upaya awal konservasi budaya pangan yang dilakukan di desa Sindangkerta KecamatanCipatujah Kabupaten Tasikmalaya. Rarangkén Paré adalah rangkaian kegiatan memelihara padi mulai dari memilih dan menyiapkan benih yang unggul, memelihara, menjaga, memanen, menyimpan, mengolah padi hingga menjadi beras, dan memasaknya menjadi makanan. Rekonstruksi dilakukan dengan tahapan-tahapan terstruktur berdasarkan prosedur pelaksanaan yang realistik dan holistik yang melibatkan peneliti, mitra, dan masyarakat serta dukungan dari pemerintah desa setempat. Terdapat dua dimensi utama rekonstruksi budaya Rarangkén Paré yaitu pembacaan restropektif dan pembacaan perspektif . Pembacaan restropektif, yaitu menggali informasi dengan cara menengok ‘ke belakang’ tradisi rarangken sawah untuk menemukan makna-makna simbolik. pembacaan prospektif adalah tafsir baru Rarangkén Paré, yaitu menemukan berbagai peluang kreativitas dan produktivitas. 
PENINGKATAN KEMAMPUAN LITERASI INFORMASI BAGI PENGELOLA PERPUSTAKAAN/PUSTAKAWAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Yanto, Andri; CMS, Samson
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.32 KB)

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah guna meningkatkan Kemampuan Literasi Informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Sebagai kabupaten yang merupakan hasil pemekaran kabupaten, perlu upaya membantu peningkatan IPM Kabupaten Bandung Barat, maka diperlukan peningkatan kemampuan literasi informasi para pengelola perpustakaan/pustakawan yang ada di wilayah Bandung Barat mulai dari para Pengelola Perpustakaan Sekolah/Pesantren/Masjid, Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai kelompok sasaran. Adanya peningkatan kapasitas para pengelola lembaga informasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam peningkatan SDM serta memberikan kemampuan belajar sepanjang hayat kepada para pengguna (pemustaka) perpustakaan yang mereka layani. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kemampuan literasi informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Adapun tujuan dari PPM ini adalah memberikan bekal pengetahuan dan keahlian terkait literasi informasi. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari PPM ini adalah adanya peningkatan kemampuan literasi para pengelola perpustakaan/pustakawan pada TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat serta adanya penambahan keahlian para pengelola perpustakaan/pustakawan TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa dalam membuat program perpustakaan dan adanya sinkronisasi dengan program-program lembaga di mana perpustakaan itu bernaung.
Teknologi Tepat Guna Membangun Kecintaan dan Kebanggaan Pada Kearifan Lokal Bahasa Sunda Dewi, Evi Rosyani; Endrawan, Anggy; CMS, Samson; Machdalena, Susi; Purnomowulan, N. Rinaju
PANGGUNG Vol 27, No 1 (2017): Pergeseran Dimensi Estetik dalam Teknik, Pragmatik, Filsafat, dan Imagi
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/panggung.v27i1.234

Abstract

ABSTRAKSebagai salah satu dari tujuh unsur budaya versi Koentjaraningrat bahasa merupakan unsur yang melekat pada diri setiap warga masyarakat dan menjadi salah satu pencirikelompoknya. Bahasa Sunda seyogyanya tampil dalam keseharian masyarakat Sunda, khususnya dalam pendidikan nonformal dan informal. Dengan demikian kearifan lokal tersebut akan terlindungi dari ancaman „pemarjinalan“.Penelitian yang dilakukan di kecamatan Pangalengan, Banjaran danCicalengka di kabupaten Bandungmembuahkan hasil yang cukup mengejutkan. Babasan, paribasa dan aksara Sunda (baca: Kaganga) nyaris tidak dikenal di kalangan masyarakatnya. Meskipun bahasa Sunda digunakan sebagai sarana komunikasi, namun nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya tidak tereksplor dengan baik. Melalui teknologi tepat guna berupa kartu „Opat Kalima Pancer“ dan fesyen populer bernuansa kearifan lokal diharapkan kecintaan dan kebanggan warga terhadap nilai-nilai budaya Sunda berbasis bahasa dapat ditumbuhkan.Kata kunci: unsur budaya, penciri kelompok, nyaris hilang, teknologi tepat guna, kecintaan ABSTRACTAs one of seven cultures that according to Koentjaraningrat, language is an element which is inherent for every member of society. It also becomes one of the group identifier. Sundanese should appear in everyday life of Sundanese people, especially in non-formal and informal education. Therefore, the local knowledge will be protected from the threat of “marginality“.The research that located in the dictrict of Pangalengan, Banjaran, and Cicalengka, in Bandung regency obtained results that were quite startling. Babasan, paribasa and Sundanese script (read: Kaganga) are barely known among the people. Although Sundanese used as means of communication, but cultural values that contain in them does not discover properly. Through appropiate technology in the form of kartu opat kalima pancer and popular fashion that nuanced local knowledge are expected people’s devotion and pride towards Sundanese cultural values in the basis of language can be grown.Keywords: cultural element, group identifier, narrowly missing, appropiate technology, devotion
Perluasan notasi Dewey Decimal Classification (DDC) tentang bahasa dan susastra Sunda Prijana, Prijana; Rohman, Asep Saeful; CMS, Samson
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 5, No 2 (2017): 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.545 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v5i2.11014

Abstract

The Sundanese language becomes one of the regional languages in the Indonesian Dewey Decimal Classification (DDC)’s notation 499.2232. The knowledge of Sunda has become a representation of the language used by the Sunda ethnicity in ancient and present times, thus it is necessary to record the development of language science and Sundanese literature into the DDC system in the library. This study aimed to extend the Dewey’s Classification notation in the field of the Sundanese language and literature. The scope of this study was to review the Indonesian and Sundanese language and literature notations in the 23rd edition of DDC Classification System, the development of knowledge about the Sundanese language and Sundanese literature, as well as the extension of the notation on the subjects. The research used a qualitative method using a descriptive. The result of this study was the extension of the Sundanese language and literature subject notation to complete the DDC classification scheme, which then would be submitted to the Library Material Development and Information Services in the National Library of Indonesia. Furthermore, the development of knowledge of the Sundanese language and literature that have been published in various forms of publication, to date can be represented by some more specific classification notation under the notation 499.223 2 for the Sundanese language and under notation 899.223 2 for the Sundanese literature. The notation will also provide benefits in the management of library materials as a representation of information contained in various publications on the Sundanese language and literature.
BARON DAUD DI MENARA LOJI (Analisis Wacana Mengenai Kehidupan Sosial Orang Cilayung dan Cileles Jatinangor Sumedang Jawa Barat) CMS, Samson; Prijana, Prijana; Perdana, Fitri
PROSIDING KOMUNIKASI PROSIDING : AKSELERSI PEMBANGUNAN MASYARAKAT LOKAL MELALUI KOMUNIKASI DAN TEKNOLOGI INFORMASI (BUKU
Publisher : PROSIDING KOMUNIKASI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.816 KB)

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui kondisi sosial ekonomi dan pendidikan orang Cilayung dan Cileles, dan semangat Baron Daud di menara Loji. Metode penelitian: analisis wacana (discourse analysis). Hasil penelitian: Interaksi sosial orang Cilayung dan Cileles dengan pihak kampus masih belum optimal. Faktor pendidikan dan kondisi ekonomi orang Cilayung dan Cileles masih menjadi kendala dalam melangsungkan interaksinya. Kesimpulan: Baron Daud di menara Loji Jatinangor merupakan saksi adanya interaksi sosial antara penguasa tanah perkebunan karet di zaman Belanda dengan orang-orang Cilayung dan Cileles sebagai pekerja perkebunan. Interaksi sosial mereka berlangsung dengan baik. Kata Kunci: Baron Daud, Discourse Analysis, Interaksi Sosial, Menara Loji, Penguasa, Perkebunan Karet.
KOHKOL DI TATAR KARANG KOMANDO INFORMASI LEMBUR ANTARA BIHARI DAN KIWARI Samson CMS; Pawit M. Yusup; Yunus Winoto
Metakom Vol 1 No 2 (2017): 2nd Edition
Publisher : Metakom

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/metakom.v1i2.15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang bagaimana pengaruh globalisai berdampak pada media komunikasi di lingkungan masyarakat desa Sindangkerta Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya, sebagai etalase kebudayaan masyarakat berbudaya Tatar Karang. Untuk mendapatkan data yang lengkap, menggunakan studi etnografi, pengamatan berperan serta, wawancara mendalam dan studi pustaka di pusat informasi budaya Tatar Karang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa; 1) kohkol di Bihari merupakan media komunikasi efektif, menjadi komando kendali informasi formal dan nonformal di masyarakat Tatar Karang; 2) kohkol di Kiwari tidak lagi menjadi media komunikasi lingkungan yang efektif, ditinggalkan, tetapi menjadi nostalgik dan asset budaya. Kesimpulan;kohkol di bihari sangat memiliki peranan penting dan berdayaguna dalam kehidupan masyarakat Tatar Karang; dan di kiwari kohkol hanya menjadi cerita (folklore) yang menjadi kebanggaan dan asset pariwista. Kata Kunci : kohkol, tatar karang, media tradisional, informasi budaya
PENINGKATAN KEMAMPUAN LITERASI INFORMASI BAGI PENGELOLA PERPUSTAKAAN/PUSTAKAWAN DI KABUPATEN BANDUNG BARAT Andri Yanto; Samson CMS
Dharmakarya Vol 6, No 2 (2017): Juni
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (173.32 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i2.14823

Abstract

Tujuan dari kegiatan ini adalah guna meningkatkan Kemampuan Literasi Informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Sebagai kabupaten yang merupakan hasil pemekaran kabupaten, perlu upaya membantu peningkatan IPM Kabupaten Bandung Barat, maka diperlukan peningkatan kemampuan literasi informasi para pengelola perpustakaan/pustakawan yang ada di wilayah Bandung Barat mulai dari para Pengelola Perpustakaan Sekolah/Pesantren/Masjid, Perpustakaan Desa dan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) sebagai kelompok sasaran. Adanya peningkatan kapasitas para pengelola lembaga informasi tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi besar dalam peningkatan SDM serta memberikan kemampuan belajar sepanjang hayat kepada para pengguna (pemustaka) perpustakaan yang mereka layani. Untuk itu dibutuhkan peningkatan kemampuan literasi informasi Bagi Pengelola Perpustakaan/Pustakawan Di Kabupaten Bandung Barat. Adapun tujuan dari PPM ini adalah memberikan bekal pengetahuan dan keahlian terkait literasi informasi. Kegiatan ini dilaksanakan atas kerjasama dengan Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah Kabupaten Bandung Barat. Hasil dari PPM ini adalah adanya peningkatan kemampuan literasi para pengelola perpustakaan/pustakawan pada TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa yang ada di wilayah Kabupaten Bandung Barat serta adanya penambahan keahlian para pengelola perpustakaan/pustakawan TBM, Perpustakaan Sekolah dan Perpustkaan Desa dalam membuat program perpustakaan dan adanya sinkronisasi dengan program-program lembaga di mana perpustakaan itu bernaung.
The Preservation of the Asian-African Conference Museum Library Collections Nurul Oktavia; Samson CMS
Khizanah al-Hikmah : Jurnal Ilmu Perpustakaan, Informasi, dan Kearsipan Vol 9 No 1 (2021): June
Publisher : Program Studi Ilmu Perpustakaan UIN Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/v9i1a7

Abstract

The Asian African Conference Museum owns a special library that has stored a variety of rare collections, especially collections on the holding of the 1955 Asian African Conference. This study aims to describe the preservation carried out by the library for those rare collections. The research used a descriptive qualitative method. The data were obtained through interviews with the staff of the Asian African Conference Museum Library, and literature studies. The result showed that the Asian African Conference Museum Library had preserved the collection by limiting visitors to the collection room, cleaning the dust using a vacuum cleaner, using shelves according to standards, cooperating with the National Library of the Republic of Indonesia in restoration, and implementing a ban on visitors carrying food/drink to the library. However, there were still many efforts that need to be implemented and optimized such as temperature and humidity control, lighting, pollution, prevention of insects and fungi, and anticipate natural disasters. The role of the librarian is needed to optimize the preservation of collection efforts in the Asian African Conference Museum Library.
PEMETAAN PROFIL KONSTELASI POLITIK DESA CINTARATU, KABUPATEN PANGANDARAN, JAWA BARAT, INDONESIA Al-Banjari, Husin M.; CMS., Samson; Natari, Sari Usih
Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2020): Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jppm.v7i1.27535

Abstract

Desa Cintaratu yang terletak di Kabupaten Pangandaran dikenal sebagai daerah yang baru dimekarkan sejak tahun 2013, di bawah kepemimpinan pasangan H. Jeje Wiriadinata – H. Adang Hadari. Hal ini disebabkan oleh fenomena power struggle di kalangan masyarakat Kabutapen Pangandaran. Suasana power struggle seperti itu tentu saja sedang menyelimuti pikiran sebagian masyarakat khususnya Desa Cintaratu, apalagi mengingat beberapa tokoh yang dulu terlibat aktif dalam presidium pemerakan berasal dari Desa Cintaratu. Sehubungan masyarakat Desa Cintaratu yang masih percaya kepada tradisi tutur Sunda yang disebut uga. Dimana  uga dapat diartikan sebagai “ramalan”. Tujuan dari penelitian ini memperoleh gambaran yang sistematis dan detail tentang rivalitas politik antara tokoh-tokoh presidium yang berada di luar kekuasaan versus tokoh-tokoh incumbent di Kabupaten Pangandaran yang terus berlanjut. Selain itu fenomena politik di Desa Cintaratu dikaitkan dengan fenomena sosial lain, khususnya menyangkut fenomena bsnis atau wirausaha masyarakat setempat. Metode penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Dimana data primer diperoleh dengan melakukan pengamatan (observasi) dan wawancara kepada DPC Partai Politik daerah Pangandaran sebagai koalisi partai pendukung incumbent Jeje Wiriadinata versus contender Supratman dalam mengikuti Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Pangandaran untuk tahun 2020. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini adalah model pembangunan daerah berbasis politik dan kewirausahaan yang dapat diterapkan di wilayah Desa Cintaratu.