Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Membangun Komunikasi dalam Sinergi Pelayanan Kesehatan di Kabupaten Bandung Prasanti, Ditha; Fuady, Ikhsan; Indriani, Sri Seti
KOMUNIKA: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Vol 14 No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Dakwah IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.775 KB) | DOI: 10.24090/komunika.v14i1.3033

Abstract

The "one data" policy driven by the government through the Ministry of Health is believed to be able to innovate and give a new face to health services. Of course, the improvement of health services starts from the smallest and lowest layers, namely Polindes. Starting from this policy and the finding of relatively low public health service problems, the authors see a health service in Polindes, which contributes positively to improving the quality of public health services. The health service is the author's view of the communication perspective through the study of Communication in the Synergy of Public Health Services Polindes (Village Maternity Post) in Tarumajaya Village, Kertasari District, Bandung Regency. The method used in this research is a case study. The results of the study revealed that public health services in Polindes are inseparable from the communication process that exists in the village. The verbal communication process includes positive synergy between the communicator and the communicant. In this case, the communicators are village midwives, village officials, namely the village head and his staff, the sub-district health center, and the active role of the village cadres involved. In contrast, the communicant that was targeted was the community in the village of Tarumajaya. This positive synergy results in a marked increase in public services, namely by providing new facilities in the village, RTK (Birth Waiting Home). Kebijakan “one data” yang dimotori oleh pemerintah melalui Kementerian kesehatan diyakini mampu membuat inovasi dan memberikan wajah baru terhadap layanan kesehatan. Tentunya, perbaikan layanan kesehatan tersebut dimulai dari lapisan terkecil dan terbawah yakni Polindes. Berawal dari kebijakan tersebut dan masih ditemukannya masalah pelayanan kesehatan publik yang relatif rendah, penulis melihat sebuah layanan kesehatan di Polindes, yang memberikan kontribusi positif dalam peningkatan kualitas layanan kesehatan masyarakat. Pelayanan kesahatan tersebut penulis lihat dari perpektif komunikasi melaui penelitian Komunikasi dalam Sinergi Pelayanan Kesehatan Publik Polindes (Pos Bersalin Desa) di Desa Tarumajaya, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung ini dilakukan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pelayanan kesehatan publik di Polindes, tidak terlepas dari adanya proses komunikasi yang terjalin di desa tersebut. Proses komunikasi verbal tersebut meliputi sinergitas positif antara pihak komunikator dan komunikan. Dalam hal ini, komunikator tersebut adalah Bidan Desa, Aparat Desa yakni Kepala Desa beserta staffnya, Puskesmas tingkat kecamatan, serta peran aktif dari para kader desa yang terlibat. Sedangkan komunikan yang menjadi target adalah masyarakat di desa Tarumajaya. Sinergitas positif tersebut menghasilkan peningkatan pelayanan publik yang nyata, yaitu dengan adanya penyediaan fasilitas baru di desa, RTK (Rumah Tunggu Kelahiran).
MAKNA GAMBAR 3 BIRI-BIRI DAN KOTAK PADA FILM ‘THE LITTLE PRINCE’ Indriani, Sri Seti; Prasanti, Ditha
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): ProTVF Volume 1, No.1, Maret 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.248 KB)

Abstract

Film mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, muatan pesan tersebut dibangun dengan banyak tanda Maka dengan anggapan tersebut film dapat memberi pengaruh yang banyak terhadap kehidupan masyarakat melalui tanda-tanda.Film ‘The Little Prince’ adalah film animas yang mengugah pemikiran orang dewasa yang menontonnya. Menggambarkan bagaimana kehidupan yang sedang terjadi masa kini, dimana banyaknya manusia yang hanya fokus pada masa depan, sehingga bersaing untuk mendapatkan prestasi nilai yang tinggi dan pekerjaan yang bagus, dan melupakan cara menikmati hidup pada masa sekarang, hal-hal yang esensial dalam hidup. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Biri-biri dan Kotak dari film tersebut yang berkaitan dengan hal yang esensial dalam hidup yang bermakna. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film ‘The Little Prince’ dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna yang tersirat dalam tiga Biri-biri dan Kotak menggambarkan bahwa apa yang tampak tidak dapat dipahami tanpa melihat makna konotasi dan mitos didalamnya, kotak yang berlubang, tidak hanya sekedar kotak berlubang namun adanya sebuah imajinasi sang pangeran yaitu seekor biri-biri yang hidup di dalamnya dengan rupa biri-biri sesuai dengan keinginannya.Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang terpenting biasanya tidak terlihat kasat mata.Kata-kata Kunci: Makna, Simbol, Biri-biri, Semiotika, Film
Analysis of The Filter Bubble Phenomenon in The Use of Online Media for Millennial Generation (An Ethnography Virtual Study about The Filter Bubble Phenomenon) Indriani, Sri Seti; Prasanti, Ditha; PERMANA, RANGGA SAPTYA MOHAMAD
Nyimak: Journal of Communication Vol 4, No 2 (2020): Nyimak: Journal of Communication
Publisher : Faculty of Social and Political Science, Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/nyimak.v4i2.2538

Abstract

This article describes about phenomenon of Filter Bubble for Millennial Generation in online media.  Nowadays, we know that people in searching information are likely to be unaware that their search has been chosen. What is most interesting is how people which are aware on how a filter bubble works but seemed to forget when they search on some information. Researchers and critics are worried because these filters isolate people from getting the information on what they want not on what they need. People might not realize that they are led to partial information blindness. This research is acknowledge their awareness on the filter bubble phenomena especially on Y generation who are believed to be a group of people that adapt fast from the analogue era to the digital era. How they search information nowadays, how bubble filters add their self-value on things and how they prevent themselves from being in a bubble. The research was conducted using a qualitative method with an ethnography virtual approach through LINE group of millennial generation. This approach was to gain more information on the virtual culture, and this case the filter bubble phenomena. Results shows that most informants were not aware on the term of ‘Filter Bubble’, but have been assuming it for quite a while. When they were more informed of this term, they realized that they should be more critical on what they read, and being literated is a significant competence in this era. Though, in addition whether or not this filter bubble could construct their identity, some denied that it didn’t have any relevation while others seemed to think that it did give some additional values on it.Keywords: Filter Bubble, Computer-mediated Communication, ethnography virtual, millennials, and self valueABSTRAKPenelitian ini menjelaskan tentang fenomena bubble filter untuk Generasi Milenial di media online. Sekarang ini, orang-orang dalam mencari informasi cenderung tidak menyadari bahwa pencarian mereka telah dipilih. Hal paling menarik adalah bagaimana orang-orang yang menyadari cara kerja bubble filter namun menjadi lupa ketika mereka mencari informasi. Para peneliti dan kritikus khawatir bubble filter ini mengisolasi orang dari mendapatkan informasi tentang apa yang mereka inginkan, bukan tentang apa yang mereka butuhkan. Orang mungkin tidak menyadari bahwa mereka dituntun pada kebutaan informasi parsial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kesadaran generasi Y terhadap fenomena bubble filter: cara mereka mencari informasi saat ini, bagaimana bubble filter menambahkan harga diri mereka pada sesuatu, dan bagaimana mereka mencegah diri mereka dari berada dalam bubble. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode etnografi virtual untuk mendapatkan lebih banyak informasi tentang budaya virtual, terutama fenomena bubble filter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar informan tidak mengetahui istilah "Filter Bubble", namun mereka sudah mengasumsikannya cukup lama. Ketika mereka menjadi lebih tahu tentang istilah ini, mereka menyadari bahwa mereka harus lebih kritis terhadap apa yang mereka baca, dan menjadi literated adalah kompetensi yang signifikan di era sekarang ini. Selain apakah bubble filter dapat membentuk identitas mereka atau tidak, beberapa menyangkal bahwa bubble filter tidak memiliki relevansi apa pun, sementara yang lain tampaknya berpikir bahwa bubble filter memberikan beberapa nilai tambahan.Kata Kunci: Filter Bubble, computer-mediated communication, etnografi virtual, generasi milenial, nilai diri
GAYA KOMUNIKASI DALAM BINGKAI KEPEMIMPINAN BAGI FIGUR PEREMPUAN Indriani, Sri Seti; Prasanti, Dhita
Jurnal Nomosleca Vol 4, No 1 (2018): April 2018
Publisher : Universitas Merdeka Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26905/nomosleca.v4i1.1987

Abstract

Good leadership requires competence in communicating with members, how to communicate the leadership of an organization or institution to achieve its goals. In this modern society, more and more women become leaders in their organization which in some parts of society in Indonesia, It is still rare to find women responsible. This study aims to find out more about responsible women in an institution / organization that focuses on how they communicate with their members to achieve goals, so that the title that emerges in this research is "Communication Style in the Frame of Leadership for Women". The focus of this research is to know the style of leadership communication on the female figure. The research used qualitative approach with case study method. Data collection techniques used were in-depth interviews, documentation studies and observation. The fourth informants were chosen by purposive sampling technique. The results showed that leadership style of communication in this female figure include informative style; directing; confirm; participate; granting delegations; remind; and evaluation. Keywords: Communication Style, Leadership, Women, Institute of Language StudiesDOI : https://doi.org/10.26905/nomosleca.v4i1.1987
Pelatihan literasi media digital bagi murid-murid armidale english college (AEC) di Soreang Kabupaten Bandung Selatan Prasanti, Ditha; Indriani, Sri Seti
JPPM (Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat) Vol 4, No 2 (2017): November 2017
Publisher : Departement of Nonformal Education, Graduate Scholl of Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (501.111 KB) | DOI: 10.21831/jppm.v4i2.15364

Abstract

Kegiatan ini memiliki tujuan dapat menghasilkan luaran yaitu: (1) Memberikan pengetahuan dan wawasan yang konkret mengenai pelatihan literasi media digital; (2) Memberikan kemampuan dasar mengenai pelatihan literasi media digital bagi murid-murid AEC di Soreang Kab.Bandung Selatan. Metode pelaksanaan PKM yang dilakukan dalam kegiatan penyuluhan ini adalah metode ceramah; metode diskusi; dan metode kaji tindak. Kesimpulan dari pelatihan literasi media digital ini adalah: (1) Sebagai tolak ukur seberapa jauh murid-murid AEC mengetahui literasi media digital; (2) Meningkatkan kesadaran mereka akan pentingnya melek media digital berkaitan dengan segala informasi yang dianggap penting dalam media untuk generasi digital berikutnya; (3) Meningkatkan kemampuan dasar murid AEC tentang literasi media digital. Digital Media Literacy Training for Students Armidale English College (AEC) in Soreang, District of South Bandung AbstractThe activity is aimed at producing the following outputs: (1) Providing concrete knowledge and insight into digital media literacy training; (2) Providing basic skills on digital media literacy training for AEC students in Soreang Kab.Bandung Selatan. The method of PKM implementation conducted in this extension activity is the lecture method; Method of discussion; and action research method. The conclusions of this digital media literacy training are: (1) As a measure of how far AEC students know the digital media literacy; (2) Increasing their awareness of the importance of digital media literacy in relation to any information deemed important in the media for the next digital generation; (3) Improving the basic skills of AEC students about digital media literacy.
PROSES KOMUNIKASI VERBAL PEREMPUAN INDONESIA DI AUSTRALIA Indriani, Sri Seti; Prasanti, Ditha
LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 5, No 1 (2017): LONTAR JURNAL ILMU KOMUNIKASI
Publisher : Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.331 KB) | DOI: 10.30656/lontar.v5i1.484

Abstract

Indonesian women that live in Australia have a different way in the verbal communication process than the citizens in Australia. They also are involved in many activities related to the culture tradition of Indonesia, like going to ?asrisan? or ?pengajian? group activities. Looking back on the background culture on where they live which is Australia, they tend to make new cultures. The research focused on how is the verbal communication process that applies within these Indonesian women in activity groups in Australia? The study uses a qualitative approach with a descriptive method. The data collecting technique used are depth interview, documentation study and observation. The result shows that the verbal communication that applies within the Indonesian women in activities group in Australia includes: (1) A new pattern of communication among the Indonesian women. (2) Topics discussed among them are Indonesia food; problems that occur in Indonesia and gossiping about other people.                                                                                                  Keywords: Verbal Communication, Indonesian Women, Australia
MAKNA FILM BAGI MASYARAKAT ACEH Permana, Rangga Mohamad; Puspitasari, Lilis; Indriani, Sri Seti
JIPSI Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Vol 9 No 1 (2019): Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Komputer Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Films in Aceh didn’t seem to have any future ahead, especially after the armed conflict and the values and norms that were applied in Aceh. Most people in Aceh viewed films negatively because it was considered to have a negative influence towards the people and would also jeopardize the Islamic culture. Even cinemas were thought to be a place to do immoral things. Those statements made people in the film industry reluctant to build the business there. But after the great tsunami hit Aceh in 2004, documentary films arose. First, it was to inform the nation about the tsunami and its victims, but then it blossomed well throughout the years. This research is to describe the meanings of films for Aceh society, despite on its culture and its history. Data were collected based on qualitative research with a descriptive method. Data collection techniques are observation, depth interview, and documentation study. This research was conducted in Aceh, April 2018. Research result shows that there were two meanings of films for the people of Aceh, they are (1) as a ‘reflection’, which was shown in documentary films, and (2) as an ‘entertainment’, which was shown in comedy genre films.
MAKNA SIMBOL VISUAL PIYAMA DALAM FILM "THE BOY WITH THE STRIPPED PAJAMAS" Prasanti, Ditha; Indriani, Sri Seti
ATRAT: Jurnal Seni Rupa Vol 4, No 3 (2016): KEARIFAN LOKAL DALAM TRANSFORMASI VISUAL
Publisher : Jurusan Seni Rupa STSI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Film is an audiovisual tool that departs from visual mass communication. Movies can also influence attitudes, behavior, and expectations of the people who watch it in all over the world. 'The boy with the striped pajamas' is a sad film that tells how pride oneself on one’s own race could be a deadly boomerang. The film recalls what happened to the Jews in the second world war in Germany under the rule of 'the Führer' Adolf Hitler. This study intends to look at the meaning of pajamas as visual symbols in the film relating to racism. The study used qualitative approach and semiotic analysis method of Roland Barthes. The semiotic method is employed to analyze the phenomenon in terms of signs and meanings. The results of this study indicate that the meaning of signs and markers in the movie The Boy with the Stripped Pajamas can be studied from the meaning of denotation, connotation, and myth. Denotation meaning of Pajamas as visual symbols in the film is the emphasized clothes symbol because they are always worn by the child. Connotation meaning of pajamas as visual symbols in this film is not limited to clothes, but rather a symbol of racism arising from the difference between the two tribes. Myth meaning of pajamas as visual symbols in this film is being barred in a prison, the child who wears this is considered a criminal who has no freedom and must be punished.Keywords: Meanings, symbols, Pajamas, Semiotics, Film________________________________________________________________ Film merupakan sebuah alat audiovisual yang bergerak dari komunikasi massa visual. Film juga dapat  mempengaruhi sikap, perilaku, dan harapan orang-orang yang menontonnya di belahan dunia. Film ‘The boy with the stripped pajamas’ adalah film yang sangat memilukan, diceritakan bagaimana ‘kebanggaan’ terhadap ras sendiri bisa menjadi bumerang tajam yang mematikan. Film ini mengangkat kembali apa yang terjadi dengan kaum yahudi pada perang dunia kedua di Jerman di bawah kekuasaan ‘the Furrer’ Adoilf Hitler. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Piyama dari film tersebut yang berkaitan dengan rasisme. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film The Boy with the Stripped Pajamas dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna denotasi dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah simbol pakaian yang selalu ditonjolkan karena digunakan oleh anak tersebut. Makna konotasi dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah tidak sebatas pakaian, melainkan sebuah simbol rasisme yang dimunculkan dari perbedaan kedua suku yang ada. Makna mitos dari simbol visual Piyama dalam film ini adalah terkurung dalam penjara, anak yang memakainya dianggap penjahat, tidak memiliki kebebasan, dan harus dihukum.Kata Kunci: Makna, Simbol, Piyama, Semiotika, Film
Analisis Faktor yang mempengaruhi Intensi Pola Hidup Bersih dan Sehat pada Masyarakat di Bantaran Sungai Citarum Fuady, Ikhsan; Prasanti, Ditha; Indriani, Sri Seti
Jurnal Kesehatan Vol 13, No 2 (2020): Jurnal Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/jk.v13i2.10805

Abstract

Permasalahan pola hidup sehat yang buruk memiliki peran yang besar terhadap permasalahan kesehatan pada masyarakat di hulu bantaran Sungai Citarum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor faktor yang mempengaruhi intensi masyarakat dalam berperilaku pola hidup sehat. Metode penelitian ini kuantitatif dengan pendekatan survey. Penelitian ini dilakukan pada Bulan Februari 2018 -Juli 2018, di Bantaran Hulu sungai Citarum Desa tarumjaya Kecamatan Kertasari Kabupaten Bandung . Penelitian ini menggunakan kerangka teori Planned behavior. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa intensi perilaku masyarakat dalam perilaku hidup bersih dan sehat terkategori sedang. Adapun faktor faktor yang mempengaruhi intensi perilaku pola hidup sehat adalah faktor sikap masyarakat terhadap kesehatan itu sendiri dan norma subjektif Sikap yang positif pada pola hidup sehat sebagai faktor dominan yang mempengaruhi intensi untuk berperilaku hidup sehat. Norma subjektif yang memiliki peran signifikan terhadap intensi adalah dukungan lingkungan sekitar dan tokoh masyarakat.