cover
Contact Name
Livana PH
Contact Email
livana.ph@gmail.com
Phone
+6289667888978
Journal Mail Official
lppm@stikeskendal.ac.id
Editorial Address
Jl. Laut No. 31A Kendal Jawa Tengah 51311
Location
Kab. kendal,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Keperawatan
Published by STIKES Kendal
ISSN : 20851049     EISSN : 25498118     DOI : https://doi.org/10.32583/keperawatan
Core Subject : Health,
Jurnal keperawatan (JK) merupakan bagian integral dari jurnal yang diterbitkan oleh LPPM STIKES Kendal. JK merupakan sarana pengembangan dan publikasi karya ilmiah bagi para peneliti, dosen dan praktisi keperawatan. JK menerbitkan artikel-artikel yang merupakan hasil penelitian, studi kasus, hasil studi literatur, konsep keilmuan, pengetahuan dan teknologi yang inovatif dan terbaharu dalam lingkup keperawatan yang berfokus pada (10) pilar keperawatan, meliputi: keperawatan anak; keperawatan maternitas; keperawatan medikal-bedah; keperawatan kritis; keperawatan gawat darurat; keperawatan jiwa; keperawatan komunitas; keperawatan gerontik; keperawatan keluarga; dan kepemimpinan dan manajemen keperawatan.
Articles 671 Documents
PENINGKATAN TEKANAN DARAH PASIEN PASCA REHABILITASI JANTUNG MELALUI LATIHAN BERJALAN Harahap, Iksanuddin Ahmad; Jundapri, Kipa
Jurnal Keperawatan Vol 11 No 4 (2019): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.23 KB)

Abstract

Latihan berjalan merupakan latihan submaksimal yang dilakukan untuk mempertahankan fungsi jantung. Tujuan penelitian untuk mengetahui efek latihan berjalan terhadap tekanan darah sistol diastol pada pasien pasca heart attack yang telah menjalani rehabilitasi jantung. Metode penelitian menggunakan desain quasi experiment dengan pendekatan pre and post test dengan kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian dilakukan April 2019 sampai Juni 2019 di Pusat Jantung Terpadu Rumah Sakit H. Adam Malik Medan dengan 32 responden per kelompok. Karakteristik demografi dari kelompok intervensi kurang dari dua pertiga responden (62,5%) adalah lansia awal (Mean±SD=55,50 ± 4,47) dan (62,5%) berjenis kelamin laki-laki. Hasil penelitian menemukan setelah intervensi pada kedua kelompok terdapat perbedaan signifikan p<0,05 dengan nilai uji independent t-test (tekanan darah sistolik: t= -9,47, p= 0,35) dan (tekanan darah diastolik: t= -3,51, p= 0,00). Penelitian ini menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan terhadap tekanan darah diastolik, akan tetapi tidak terdapat perbedaan signifikan pada nilai tekanan darah sistolik.  Kata kunci: latihan berjalan, tekanan darah sistol, diastol, rehabilitasi jantung INCREASING BLOOD PRESSURE OF POST-HEART POST REHABILITATION PATIENTS THROUGH WALKING EXERCISE   ABSTRACT Walking exercise is a submaximal exercise was performed to maintain heart function. The purpose of this study  to determine the effect of walking exercise to improve  diastolic and sistolic blood pressure for patient post cardiac rehabilitation. The method in this study  used a quasi-experimental design with  pre and post test with intervention and control groups. The study was conducted from April 2019 to June 2019 at the Pusat Jantung Terpadu H. Adam Malik  at Medan with 32 respondents per groups. The characteristics samples of this study on intervention group  (62.5%) were elderly (Mean ± SD = 55.50 ± 4.47) and (62.5%) were male. The results in this study, between intervention and control groups was a significant difference in p <0.05 with the value of the independent t-test (systolic blood pressure: t = -9.47, p = 0.35), (diastolic blood pressure: t = - 3.51, p = 0.00). This study found that there were significant differences in diastolic blood pressure for patient post cardiac rehabilitation, however, there were no significant differences in systolic blood presure.  Keywords: walking exercise, diastolic and systolic blood pressure, cardiac rahabiitation  
HUBUNGAN TEKANAN CUFF ENDOTRACHEAL TUBE (ETT) DENGAN SATURASI OKSIGEN PADA PASIEN TERPASANG VENTILASI MEKANIK Setiyawan, Setiyawan; Sulisetyawati, S Dwi
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Ketidaktepatan pemberian tekanan cuff ETT dapat menimbulkan resiko komplikasi yaitu memperbesar risiko aspirasi dan trauma pada trakea. Tekanan cuff ETT akan mengalami perubahan seiring dengan lamanya pemasangan. Penurunan tekanan cuff ETT sampai berada dibawah normal akan menyebabkan terjadinya kebocoran (leak) sehingga terjadinya penurunan volume tidal dan volume semenit. Penurunan volume tidal dan volume semenit akan berpengaruh pada penurunan saturasi oksigen arteri (SaO2). Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui hubungan tekanan cuff endotracheal tube (ETT) dengan saturasi oksigen pasien yang terpasang ventilasi mekanik. Penelitian ini merupakan studi deskriptif pada 30 pasien terintubasi di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit Bagas Waras Klaten. Berdasarkan hasil uji korelasi diperoleh nilai probabilitas 0.240 (p value > 0.05. Simpulan, tidak ada hubungan bermakna antara tekanan cuff ETT dengan saturasi oksigen pada pasien terpasang ventilasi mekanik. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dengan mengamati lebih lama mengenai waktu terjadinya perubahan tekanan cuff endotracheal tube sampai menyebabkan terjadinya air leak atau kebocoran serta jumlah responden yang lebih besar.   Kata Kunci: Saturasi Oksigen, Tekanan Cuff ETT, Ventilasi Mekanik   RELATIONSHIP OF CUFF ENDOTRACHEAL TUBE (ETT) PRESSURE WITH OXYGEN SATURATION IN ATTACHED PATIENTS MECHANICAL VENTILATION   ABSTRACT The inaccuracy of cuff ETT pressure can pose a risk of complications, namely increasing the risk of aspiration and trauma to the trachea. Pressure cuff ETT will change with the length of installation. The decrease in ETT cuff pressure until it is below normal will cause leakage (leak) resulting in a decrease in tidal volume and volume a minute. A decrease in tidal volume and minute volume will affect the decrease in arterial oxygen saturation (SaO2). The aim of this study was to determine the relationship of pressure cuff endotracheal tube (ETT) with oxygen saturation of patients who were attached to mechanical ventilation. This research is a descriptive study in 30 patients intubated in the Intensive Care Unit (ICU) of Bagas Waras Hospital, Klaten. Based on the correlation test results obtained a probability value of 0.240 (p value> 0.05. Conclusion, there is no significant relationship between ETT cuff pressure and oxygen saturation in patients with mechanical ventilation. Further research needs to be done by observing longer about the time of changes in endotracheal tube cuff pressure to cause leakage or leakage and a greater number of respondents.   Keywords: Oxygen Saturation, Cuff ETT Pressure, Mechanical Ventilation
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PEMBERIAN ASI PADA IBU BEKERJA Setianingrum, Devi Rahmawati; Widiastuti, Yuni Puji; Istioningsih, Istioningsih
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Air Susu Ibu (ASI) merupakan makanan terbaik untuk bayi, karena ASI memiliki kandungan zat gizi yang lengkap. ASI mengandung antibodi seperti kolostrum, yang dapat melindungi bayi terhadap penyakit diare dan alergi, serta baik untuk pertumbuhan otak bayi dan perkembangan mental.Sehingga akan menciptakan generasi yang exelent.Ibu bekerja merupakan salah satu faktor ibu tidak memberikan ASI eksklusif, karena dengan bekerja ibu tidak mendapatkan banyak waktu untuk menyusui bayinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian ASI pada ibu bekerja Di wilayah Ringinarum Menggunakan desain deskriptif korelasi dengan sampel 44 responden .yang didapatkan dengan metode total sampling. Uji statistik dalam penelitian ini menggunakan uji chi square.Hasil penelitian diperoleh p value umur sebesar 0,023, pendidikan 0,016, pekerjaan 0,000, jarak tempuh tempat kerja 0,000, jumlah anak0,023, jarak kelahiran 0,027, tingkat pengetahuan 0,000, dukungan keluarga 0,000. Dapat disimpulkan bahwa ada hubungan signifikan antara umur, pendidikan, pekerjaan, jarak tempuh tempat kerja, jumlah anak, jarak kelahiran, pengetahuan dan dukungan keluarga dengan pemberian ASI pada ibu bekerja di Desa Ringinarum Kecamatan Ringinarum Kabupaten Kendal. Berdasarkan hasil penelitian, maka disarankan kepada petugas kesehatan untuk memberikan informasi tentang pemberian ASI eksklusif kepada ibu khususnya pada ibu hamil dan ibu menyusui. Bagi puskesmas Ringinarum meningkatkan upaya penyuluhan kesehatan tentang pemberian ASI eksklusif kepada masyarakat terutama pada ibu hamil dan ibu menyusui.   Kata Kunci: ASI eksklusif, ibu bekerja.   FACTORS RELATED TO GIVING BREAST MILK (ASI) TO MOTHER WORK   ABSTRACT Breast Milk (ASI) is babies? best food because it contains complete nutrients. Breast milk contains antibody like colostrum which can protect the babies from diarrhoea and allergy, as well as good for baby's brain growth and mental. So it will create an exelent generation. Working mother is one of the factors mother does not give exclusive breastfeeding, because by working mother do not get much time to breastfeed her baby. This study aims to determine the factors associated with breastfeeding in working mothers In the Ringinarum region.  The research used descriptive correlation design with sample 44 respondents which have from total sampling method. The statistical test in this study used chi square test. The results obtained p value of age 0,023, education 0,016, work 0,000, workplace distance 0.000, children 0,023, birth distance 0,027, knowledge level 0,000, family support 0,000.It can be concluded that there was a significant correlation between age, education, the distance to the work place, the number of children, birth distance, knowledge and family support and the working mothers? breast feedings in Ringinarum Village, Ringinarum Sub-district, Kendal Regency. Based on the results of the research, it is suggested to healthcare providers to give information about exclusive breastfeeding mothers especially pregnant mother and breastfeeding mothers. Ringinarum Community Health Centre is expected to be able to improve the healthcare education about exclusive breastfeeding toward pregnant mothers and breastfeeding mothers.  Keywords: Exclusive breastfeeding, working mothers.
HUBUNGAN PERSEPSI DENGAN MOTIVASI BEROBAT PASIEN TB PARU Khasanah, Daruti Uswatun; Darwati, Lestari Eko; Setianingsih, Setianingsih
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Prevalensi penyakit TB paru di masyarakat masih tinggi, dengan keberhasilan pengobatan mencapai 62% dari target nasional 85%. Keberhasilan pengobatan TB paru dipengaruhi oleh faktor intrinsik penderita yaitu persepsi dan motivasi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan persepsi dengan motivasi berobat pasien TB paru. Penelitian ini menggunakan desain korelasi Cross Sectional deskripstif non eksperimen. Sampel penelitian ini diambil secara Random Sampling sebanyak 95 responden. Alat penelitian terdiri dari kuesioner persepsi dan kuesioner motivasi berobat TB. Data dianalis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Rank spearman. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan persepsi dengan motivasi berobat pasien TB paru di Desa Ringinarum dibuktikan dengan Pvalue = 0,000 dengan nilai korelasi positif sangat kuat (0,955). Peneliti selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih lanjut terkait faktor lain yang mempengaruhi persepsi pasien TB paru, karena semakin baik persepsi yang dimiliki maka semakin baik motivasi berobat seseorang sehingga keberhasilan pengobatan dapat meningkat.   Kata Kunci: Persepsi, Motivasi, TB Paru   RELATIONSHIP OF PERCEPTION WITH MOTIVATION TREATMENT OF PULMONARY TB PATIENTS   ABSTRACT The prevalence of pulmonary TB disease in the community is still high, with treatment success reahing 62% of the national target of 85%. The success of pulmonary tuberculosis treatment is influenced by intrinsic factor of patient that is perception and  motivation. The purpose of this study to determine the relationship of perceptionof treatmentof pulmonary tuberculosis patient. This research used Cross Sectional  descriptive correlation design non experiment. The sample of this  study using Random Sampling counted 95 respondents. The tool of study consisted of a secretionary perception and motivation questionnaires TB treatment. Data were analyzed univariat and bivariat using Spearman Rank test. The results showed that there was a perception correlation with the motivation of treatment of pulmonary tuberculosis  patient in Ringinarum village  was proved by Pvalue = 0,000 with a very strong positive correlation value (0,955). The next researcher is expected to investigate further related other factors that influence the perception of pulmonary tuberculosis patients, because the better the perception possessed the better the motivastion of one?s treatment so that the success of treatment can increase.   Keywords: Persepction, Motivation, Pulmonary Tuberculosis
PENDEKATAN “CARING” WATSON PADA LATIHAN KETERAMPILAN SOSIAL TERHADAP KEMAMPUAN BERSOSIALISASI KLIEN ISOLASI SOSIAL Natalya, Ni Komang Trisna Maha; Sulistiowati, Ni Made Dian; Astuti, Ika Widi
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Isolasi sosial adalah gangguan hubungan interpersonal yang mengganggu fungsi seseorang dalam berkomunikasi dengan orang lain. Latihan keterampilan sosial menggunakan pendekatan caring watson merupakan salah satu intervensi yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sosial dan melalui caring watson dalam keperawatan dapat mempengaruhi kesembuhan klien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh aplikasi caring watson pada latihan keterampilan sosial terhadap kemampuan bersosialisasi klien isolasi sosial. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experiment yaitu pre-test and post-test with control group design yang dilakukan terhadap 30 sampel yang dipilih secara purposive sampling dibedakan berdasarkan kelompok perlakuan 15 orang dan kelompok kontrol 15 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara memberikan kuesioner kemampuan bersosialisasi klien sebelum diberikan intervensi dan setelah intervensi dan dilihat juga ciri-ciri isolasi sosial yang dimiliki klien. Berdasarkan uji Independent T-Test pada analisis perbedaan kemampuan bersosialisasi pre-test dan post-test pada kelompok perlakuan dan kelompok kontrol didapatkan nilai p=0,000 (p<0,05), artinya ada pengaruh aplikasi caring watson pada latihan keterampilan sosial terhadap kemampuan bersosialisasi klien isolasi sosial. Berdasarkan hasil temuan di atas, disarankan kepada perawat untuk menerapkan penggunaan aplikasi caring pada latihan keterampilan sosial dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi pada klien isolasi sosial.   Kata Kunci: caring, isolasi sosial, kemampuan bersosialisasi   "CARING" WATSON APPROACH TO SOCIAL SKILLS TRAINING ON SOCIALIZATION SKILLS OF SOCIAL INSULATION CLIENTS   ABSTRACT Social isolation is interpersonal relationship disorder that interferes with the function of a person in communicating with others. Social skills training using caring watson approach is one of intervention that aims to improve social skills and also may affect healing client in nursery. This research aims to determine the effect of caring watson application on social skills training toward client's ability to socialize social isolation. This study uses a quasi-experimental design with pre-test and post-test with control group design conducted on 30 samples were selected by purposive sampling differentiated by the intervention group 15 people and the control group 15 people. The data collection conducted by giving questionnaire about client?s socialization ability before and after intervention also analyze through characteristics of client?s social isolation. Based on Independent T-Test on analysis of differences in social skills pre-test and post-test to the treatment group and the control group p value = 0.000 (p <0.05), means that there is an influence of caring watson application in social skills training toward social skills clients of social isolation. Based on the findings above, it is suggested to the nurse for implementing the usage of application on social skills training in order to improve social skills in client social isolation.   Keywords: caring, social isolation, social skills
SELF-CARE AKTIFITAS FISIK DAN PENGGUNAAN FASILITAS KESEHATAN SEBAGAI UPAYA PENGENDALIAN KADAR GLUKOSA DARAH OLEH PENYANDANG DIABETES MELITUS Asyrofi, Ahmad; Arisdiani, Triana; Widiastuti, Yuni Puji
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) adalah salah satu penyakit yang tidak disadari oleh penyandangnya, dan jumlahnya mengalami peningkatan akibat perubahan gaya hidup, termasuk kurangnya aktifitas fisik dan pola makan yang tidak tepat. Komplikasi lanjut DM dipengaruhi oleh status hiperglikemi. Aktifitas self-care diperlukan untuk pengelolaan DM, antara lain aktifitas fisik dan penggunaan fasilitas kesehatan. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan self-care aktifitas fisik dan penggunaan fasilitas kesehatan antara kelompok glukosa tidak terkendali (HbA1c >7%) dan glukosa terkendali (HbA1c ? 7%). Desain penelitian case control, sampelnya penyandang DM dewasa dan lansia sebanyak 104 responden, terdiri: 52 kelompok tidak terkendali dan 52 kelompok terkendali, dengan teknik convinience.Alat penelitian menggunakan Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ)subscale physical activity dan health care use. Rerata kadar HbA1c pada kelompok tidak terkendali adalah 10,6% ? 2,3%,aktifitas fisik nilai median 9, penggunaan fasilitas kesehatan nilai median9, sedangkan pada kelompokterkendalirerata HbA1c 6,4% ? 0,6%, aktifitas fisik nilai median 10, penggunaan fasilitas kesehatan nilai median 10. Terdapat perbedaanaktifitas fisik (p=0,028), dan penggunaan fasilitas kesehatan (p=0,001) antara kedua kelompok. Aktifitas fisik dan penggunaan fasilitas kesehatan yang baik berpotensi mengendalikan kadar glukosa darah, maka penyandang DM perlu meningkatkan self-care tersebut untuk menghasilkan kadar glukosa darah yang terkendali (HbA1c ? 7).   Kata Kunci: Self-care, aktifitas fisik, penggunaan fasilitas kesehatan, pengendalian glukosa darah, diabetes melitus   SELF-CARE PHYSICAL ACTIVITIES AND USE OF HEALTH FACILITIES AS AN EFFORT TO CONTROL BLOOD GLUCOSE LEVEL BY DIABETES MELITUS   ABSTRACT Diabetes mellitus (DM) is a disease that is not recognized by the person, and the number has increased due to lifestyle changes, including lack of physical activity and improper eating patterns. Advanced complications of DM are affected by hyperglycemic status. Self-care activities are needed for the management of DM, including physical activity and use of health facilities. The aim of the study was to analyze differences in self-care physical activity and use of health facilities between uncontrolled glucose groups (HbA1c> 7%) and controlled glucose (HbA1c ? 7%). The study design was casecontrol, samples of adult and elderly DM people were 104 respondents, consisting of 52 uncontrolled groups and 52 controlled groups, with convinience techniques. The research tool uses the Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ) subscale physical activity and health care use. The mean HbA1c level in the uncontrolled group was 10.6% ? 2.3%, the median activity was median 9, the use of health facilities was a median value of 9, while in the controlled group the mean HbA1c was 6.4% ? 0.6%, activity physical median value of 10, use of health facilities median value 10. There were differences in physical activity (p = 0.028), and use of health facilities (p = 0.001) between the two groups. The proper of physical activity andhealth facilities have the potential to control blood glucose levels, so people with DM need to improve self-care to produce controlled blood glucose levels (HbA1c ? 7).  Keywords: self-care, physical activity,health care use, glycemic control, diabetes mellitus 
BURNOUT DAN PERILAKU CARING PERAWAT ONKOLOGI Talenta, Claudia; Wardani, Ice Yulia
Jurnal Keperawatan Vol 10 No 3 (2018): Desember
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (18.362 KB)

Abstract

Burnout merupakan kondisi seseorang yang mengalami stres kerja sehingga berakibat kepada kelelahan fisik, emosional, perubahan perilaku, dan penurunan pencapaian kerja. Sedangkan, perilaku caring merupakan inti dari praktik keperawatan sebagai fenomenal universal yang berpengaruh terhadap komunikasi, cara berpikir, berperasaan, dan berperilaku satu sama lain. Hasil penelitian pada 87 perawat di RS Kanker menunjukkan tidak adanya hubungan bermakna antara tingkat burnout dengan perilaku caring perawat onkologi di RS Kanker Jakarta dikarenakan hasil uji normalitas data yang tidak normal. Sekitar 50,7% perawat yang memiliki tingkat burnout tinggi tergolong berperilaku caring rendah dan 49,3% tergolong berperilaku caring rendah. Berdasarkan hasil analisis data, rumah sakit sebaiknya meningkatkan pelatihan mengenai excellent service dan patient safety, gathering antar perawat dan tenaga kesehatan, serta rotasi ruangan kerja perawat sesuai kompetensi agar dapat menurunkan tingkat burnout dan meningkatkan perilaku caring yang berdampak pada pelayanan kesehatan optimal kepada klien Kanker.   Kata Kunci: burnout, perawat, perilaku caring   BURNOUT AND CARING BEHAVIOR OF ONCOLOGY   ABSTRACT Burnout is a condition when a person experiencing stress over work, resulting in physical and emotional exhaustion, as well behavioral changes and declining employment achievement. Caring behavior is the core of nursing practice, as the universal phenomenon which has implications on communication, ways of thinking, feelings, and behavior to each other. The results from a study on 87 nursing staffs at Hospital of Cancer in Jakarta showed that there was no significant relationship between the levels of burnout and caring behavior among oncology nurse in Hospital of Cancer, since the normality test results of the variables were abnormal. Based on the data analysis, the hospital need to develop training programs for nurses and other health care professionals, also arranging job rotations which fit the nurses competencies, in order to reduce levels of burnout, while upgrading nurses caring behavior, which improve the optimality of the health care service for oncology clients.   Keywords: burnout, caring behavior, nurses
PEMENUHAN KEBUTUHAN SPIRITUAL PASIEN TERPASANG ALAT MEDIS: PERSEPSI PASIEN Haris, Fahni; Auliyantika, Yanti; Putra, Fajar Bagus; Aliyah, Wahyuni Jannatin; Afandi, Muhammad
Jurnal Keperawatan Vol 12 No 1 (2020): Maret
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (69.199 KB)

Abstract

Peran perawat dalam merawat pasien di rumah sakit mencakup bio ? psiko ? sosio ? kultural dan spiritual. Perawat dituntut untuk memberikan pelayanan yang prima disamping beban kerja yang tinggi. Pelayanan prima bisa dilakukan oleh perawat terkait kebutuhan dasar pasien agar terpenuhi, tidak terkecuali pada aspek spiritual. Aspek spiritual sering menjadi sisi yang terlupakan, walaupun hal ini sudah menjadi landasan dalam sejarah konsep keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana gambaran pasien terkait tugas perawat dalam pemenuhan kebutuhan spiritual pasien terkait ibadah praktis yang terpasang alat medis. Penelitian ini menggunakan kuesioner 8 pertanyaan untuk mengetahui karakteristik dan persepsi responden tentang pemenuhan spiritual oleh perawat serta 15 pertanyaan untuk pengetahuan pasien. Analisa univariat dengan menggunakan deskripsi frekuensi. Responden pada penelitian ini yaitu pasien yang dirawat di bangsal Medikal Bedah Rumah Sakit PKU 2 Yogyakarta yang berjumlah 65 pasien pada rentang waktu November 2019. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki - laki (55,45%), rata-rata usia 50 tahun, tidak bekerja (36,9%), berpendidikan D3/D4/S1 (46,1%), menikah (51,9%), persepsi pasien mengatakan perawat tidak membantu dalam pelaksaan ibadah (61,5%), responden rutin dalam melaksanakan ibadah selama sakit (46,2%), responden terpasang alat medis: infus dan kateter (66,2%). Kebutuhan spiritual pasien dalam pemenuhan kebutuhan spiritual selama di rawat di rumah sakit belum terpenuhi.  Kata kunci : perawat, ibadah praktis, tindakan invasif, spiritual  FULFILLMENT OF SPIRITUAL NEEDS FOR PATIENTS ATTACHED MEDICAL EQUIPMENT: PATIENTS? PERCEPTION  ABSTRACT The role of nurses includes bio-psycho-socio-cultural and spiritual. Nurses are required to provide excellent service in addition to high workloads. Excellent service can be done by nurses related to the basic needs of patients to be met, including the spiritual aspects. The spiritual aspect is often the forgotten side, although this has been the foundation in the history of the concept of nursing. This study aims to find out how the description of nurses in fulfillment of the spiritual needs for patients attached medical equipment. This descriptive study consists of 8 questions and 15 questions for demographic factor and respondent?s perception respectively. Respondents in this study were patients treated in the Surgical Medical Ward of PKU 2 Yogyakarta Hospital, total 65 patients enrolled in November 2019. The results of this study indicate that the majority of respondents were male (55.45%), unemployment (36.9%), 50 years old in average, has high education level (46.1%), married (51.9%), patient perception was nurses did not help in the spiritual needs: praying (61.5%), respondents did pray routinely during illness (46.2%), respondents installed medical devices: infusion and catheters (66.2%). Patients? spiritual needs, especially praying have not been done.   Keywords:  nurse, spiritual needs, invasive procedure, spiritual
HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PEMBERIAN MP¬-ASI DINI PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 0-6 BULAN Wulandari, Priharyanti; Retnaningsih, Dwi; Winarti, Rahayu
Jurnal Keperawatan Vol 12 No 2 (2020): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (495.795 KB)

Abstract

Berdasarkan studi pendahuluan dengan  wawancara pada 4 ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan, ibu mengatakan mulai memberikan MP-ASI pada bayinya sejak umur 1 bulan. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan pemberian MP-ASI Dini di Kelurahan Ghisikdrono Semarang. Jenis penelitian ini adalah desain deskriptif korelatif dengan rancangan cross sectional. Populasi sebanyak 81 ibu yang memiliki bayi usia < 6 bulan. Sampel dalam penelitian ini adalah 78 ibu dengan teknik Accidental Sampling dan analisisnya menggunakan chi square dengan ? = 0,05%. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai pvalue ? 0,05  pvalue =0,020. Ada hubungan yang signifikan antara pengetahuan dengan pemberian MP-ASI dini pada ibu yang mempunyai bayi usia 0-6 bulan di Kelurahan Ghisikdrono Semarang.   Kata Kunci : Pengetahuan, pemberian MP-ASI Dini.
THE RELATIONSHIP OF THE LEVEL OF KNOWLEDGE OF HIV/AIDS WITH SEXUAL BEHAVIOR FOR EMPLOYEES Kusumaningsih, Iga; Arisdiani, Triana; Prasetya, Hendra Adi
Jurnal Keperawatan Vol 12 No 2 (2020): Juni
Publisher : LPPM STIKES KENDAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.045 KB)

Abstract

Pengetahuan merupakan salah satu faktor penyebab penyimpangan perilaku seksual, salah satu penyebab perilaku seksual yang sering terjadi pada karyawan adalah kondisi tempat tinggal, pengetahuan kurang, pendapatan tinggi dan jauh dari keluarga. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan HIV/AIDS dengan perilaku seksual (domain tindakan) pada karyawan di Kabupaten Kendal. Penelitian ini menggunakan desain penelitian Deskriptive Correlation dengan pendekatan Cross Sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 karyawan laki-laki dengan tekhnik pengambilan sampel purposive sampling. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara tingkat pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan perilaku seksual dengan nilai p-value 0,037 < (0,05). Diharapkan bagi petugas medis mampu meningkatkan pengetahuan dan pelayanan informasi mengenai pengetahuan perilaku seksual dan HIV/AIDS.

Page 1 of 68 | Total Record : 671