cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Unsyiah
ISSN : -     EISSN : 26146053     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
JIMFP menerbitkan artikel ilmiah mahasiswa dari delapan Program Studi, yaitu Prodi Agribisnis, Prodi Agroteknologi, Prodi Peternakan, Prodi Teknologi Hasil Pertanian, Prodi Teknik Pertanian, Prodi Ilmu Tanah, Prodi Proteksi Tanaman dan Prodi Kehutanan. JIMFP terbit satu volume dan empat nomor dalam setahun, yaitu bulan Februari, Mei, Agustus dan November
Arjuna Subject : -
Articles 1,210 Documents
Performans Reproduksi Sapi Batina Aceh di Kota Subulussalam Novita, Cut Intan; Sari, Eka Meutia; Rahma, Erlisa
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.491 KB)

Abstract

Abstrak.  Dalam upaya meningkatkan populasi Sapi Aceh di Kota Subulussalam ini tentunya tidak semudah yang diharapkan. Banyak permasalahan yang sering dijumpai oleh peternak dalam mengembangkan populasi ternak Sapi Aceh. Salah satu permasalahan yang dihadapi oleh peternak adalah rendahnya efisiensi reproduksi pada ternak. Rendahnya efisiensi reproduksi ini dapat disebabkan oleh masih rendahnya pengetahuan peternak akan pentingnya pengaturan reproduksi dalam usaha peternakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Performans reproduksi sapi Aceh betina di Kota Subulussalam. Penelitian ini dilakukan di Kota Subulussalam Provinsi Aceh meliputi 5 kecamatan yaitu Simpang Kiri, Rundeng, Longkip, Penanggalan dan Sultan Daulat. Penelitian dilaksanakan selama 1 bulan dimulai dari tanggal 23 Januari-23 Februari 2017. Penelitian ini menggunakan metode survei. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan secara sengaja (Purposive Sampling) dengan pertimbangan kecamatan yang memiliki populasi ternak sapi betina Aceh terbanyak di Kota Subulussalam. Penentuan peternak responden adalah dengan menggunakan metode Purposive Sampling, yaitu mengambil sampel dengan ketentuan minimal peternak memelihara satu ekor sapi Aceh yang telah beranak 2 (dua) kali. Sebagai responden ditetapkan sebanyak 30 orang peternak yang tersebar dalam 5 kecamatan yaitu Kecamatan Simpang Kiri, Rundeng, Sultan Daulat, Penanggalan dan Longkip. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perormans reproduksi sapi betina Aceh di kota Subulussalam sudah baik dan sesuai standar yang diharapkan, dimana umur pubertas terbanyak dapat dicapai pada umur 1-2 tahun, rata-rata nilai Service Per Conception adalah 1,5 pada sistem perkawinan secara IB dan Calving Interval 12,97 bulanAceh Cow Reproduction Performance in Subulussalam the Province of AcehAbstract. In an effort to increase the population of Aceh Cattle in Subulussalam city certainly not as easy as expected many problems faced by breeders in developing the population Aceh cattle. One of the problems faces is low reproduction efficiency in livestock. This low reproducibility effisiency can be caused by still low knowledge of breeder of importance of reproduction arrangement in the livestock business. This study aims to know the performance of Aceh cattle reproduction in Subulussalam city the Province of Aceh consist of 5 districts of the district of Simpang Kiri, Rundeng, Longkip, Penanggalan, and Sultan Daulat. The study was conducted for 1 month starting from 23 January to 23 February 2017. This research uses survey method. The location of this research is purposive (purposive sampling) with the consideration of the district that has the largest population of Aceh cattle in Subulussalam. Determination of breeder of respondent is by using method of Purposive Sampling, Namely taking samples with the minimum requirement of breeders to keep one Aceh cow that has been littered 2 (two) times. As the respondents set as many as 30 farmers are spread in 5 districts of Simpang Kiri, Rundeng,  Sultan Daulat, Penanggalan and Longkip. From the results of this study can be concluded that the performans reproduction of Aceh female cow in Subulussalam city is good and according to expected standard, that the age of most puberty can be achieved at age 1-2 years, The average value of Service Per Conception is 1.5 in the artificial Insemination marriage system, and Calving Interval 12.97 months
Identifikasi Sifat Kuantitatif Kuda Gayo Pacu di Kabupaten Aceh Tengah Kasange, Dhauan; Abdullah, Mohd Agus Nashri; Sari, Eka Meutia
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 2 (2017): Mei 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.491 KB)

Abstract

Ringkasan. Kuda (Equus caballus atau Equus ferus caballus) adalah salah satu spesies modern mamalia dari Genus equus. Hewan ini merupakan salah satu hewan peliharaan masyarakat sebagai hewan kesayangan. Meskipun di beberapa daerah kuda juga digunakan sebagai sumber makanan, dan untuk menarik sesuatu seperti kendaraan beroda atau digunakan sebagai pembajak. Peternak kuda juga di perkirakan telah dimulai sejak tahun 4500 S M, bukti-bukti penggunaan kuda untuk keperluan manusia baru ditemukan sejak 2000 S M (Anonim, 2008). Penelitian ini telah dilaksanakan di Aceh Tengah selama 27 hari dari tanggal 20 Juli sampai 15 Agustus 2016. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi karakter sifat kuantitatif kuda Gayo pacu di Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh. Penelitian ini menggunakan metode survei, teknik pengambilan sampel yaitu dengan cara menentukan wilayah penelitian, sedangkan untuk menentukan ternak yang digunakan sebagai sampel dilakukan dengan sampel random sampling (penarikan sampel acak sederhana), data yang peroleh diolah dengan menggunakan Analisis Statistik Deskriptif. Parameter dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang berasal dari pengukuran ukuran-ukuran tubuh kuda Gayo pacu. Data sifat kuantitatif  yang diambil adalah : panjang badan, tinggi badan, lingkar dada, lebar dada, tinggi pinggul, panjang kaki depan kanan dan kiri, panjang kaki belakang kanan dan kiri, dan jarak antara kaki depan dengan kaki belakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, rataan kuda Gayo pacu muda yang baik untuk di pacu dan cukup banyak yang mengikuti perlombaan pacuan kuda ialah dari Kecamatan Lut Tawar, dan rataan untuk kuda Gayo pacu tua yang baik untuk dipelombakan dan yang cukup banyak untuk mengikuti pelombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Bebesen. Rataan kuda Gayo pacu muda yang kurang baik untuk di pacu dan kuda yang sedikit  mengikuti perlombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Atu Lintang, sedangkan untuk rataan kuda Gayo pacu tua yang kurang baik untuk di pacu dan yang sedikit mengikuti perlombaan pacuan kuda yaitu dari Kecamatan Kebayakan.IDENTIFICATION OF THE NATURE OF QUANTITATIVE GAYO HORSE RACE IN THE MIDDLE DISTRICT OF ACEH
Karakteristik Reproduksi Kerbau Gayo Betina di Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah Abdullah, Mohammad Agus Nashri; Sari, Eka Meutia; Kautsar, Al
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 2, No 4 (2017): November 2017
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (35.491 KB)

Abstract

ABSTRAK. Sebuah penelitian pada evaluasi karakteristik reproduksi kerbau betina Gayo di Kecamatan Linge Kabupaten Aceh Tengah telah dilakukan.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengetahui kemampuan reproduksi kerbau betina Gayo di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan menggunakan data dari 40 peternak sebagai responden.Penentuan responden secara purposive sampling, dengan memelihara 2 ekor kerbau betina dan pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan peneliti, yaitu ternak yang telah beranak dua kali. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik reproduksi kerbau, faktor pendukung dan data sekunder yang diperoleh dari instansi terkait. Data yang terkumpul kemudian  dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan tabel frekuensi dan persentase. Lembar Excel digunakan untuk mengolah data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur pubertas kerbau di Kecamatan Linge adalah usia 27,9 bulan, dengan umur kawin pertama 32,6 bulan, rata-rata umur kerbau melahirkan anak pertama di Kecamatan Linge yaitu umur 3,7 Tahun, dengan lama bunting 316,5 hari (10,37 bulan), serta rata-rata jarak kelahirannya 19,5 bulan, rata-rata beranak sampai berahi kembali pada kerbau Gayo di Kecamatan Linge adalah 6,8 bulan, rata-rata angka kelahiran pada induk betina 64,75 dan anak 52,75, dengan perbandingan sex rasio anak kerbau jantan dan betina yaitu 1,2:1 dan persentase anak kerbau jantan 55,92 dan betina 44,07. Populasi kerbau Gayo di Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, Yang meliputi empat Desa yaitu, Desa Jamat, Kute Robel, Lumut, dan Owaq  yaitu 12,31% jantan, 48,32% betina,  anak jantan 22,01% dan anak betina 17,35.The Characteristics of the Reproduction in Female Buffaloes Gayo in the Linge Sub-District, Central Aceh RegencyABSTRACT. A study on the evaluation of characteristics of the reproduction in female Gayo Buffaloes in Linge sub-district, Central Aceh Regency, has been done. The purpose of this research was to identify and figure out the reproduction ability in female Gayo Buffaloes in Linge sub-district, Central Aceh Regency. This study used survey method by using data from 40 buffalo breeders as respondents. The sampling method used in this study was purposive sampling, the sample determination is taken for those who have at least two female buffaloes, and sampling was conducted based on the consideration of researchers, the female Gayo Buffaloes which had given birth twice. The data collected includes buffalo reproduction characteristics, supporting factors and secondary data obtained from related institutions. The data obtained were analyzed descriptively by using frequency tables and percentages with the help of Excel sheet. The results showed that Gayo buffaloes' puberty in Linge sub-district was  27.9 months old, the first mating age was 32.6 months old, and the average ageof the buffaloes giving birth to the first calf was 3.7 years old, with a duration of 316.5 days (10. 4 months), as well as an average birth spacing was 19.5 months. The average duration between giving birth and again was 6.8 months old, birth rate in female parent 64.75% and calf 52.75%, with the sex ratio of male and female buffaloeswas 1.2: 1, the percentage of male calves 55. 92% and female calves 44.07%. Gayo buffalo population in Linge sub-district, Central Aceh Regency, includes at Jamat Village, Kute Robel, Lumut, and Owaq which was 12,31% male buffaloes and 48.32% female buffaloes, 22.01% male calves and 17.35 female calves.
Indeks Kepuasan Petani Padi Terhadap Pemakaian Pupuk NPK Phonska PT. Petrokimia Di Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar Aulia Mirza; Irwan A. Kadir; Romano Romano
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kepuasan menjadi hal penting guna terciptanya keuntungan antar dua pihak atau lebih terhadap pemakaian suatu produk, dalam penelitian ini yang mejadi fokus peneliti adalah kepuasan petani padi terhadap pemakaian pupuk NPK Phonska PT Petrokimia, menjadi sangat penting apabila perusahaan mampu menciptakan brand-image kepada petani padi yang ada didaerah Kuta Malaka. Dalam penelitian terdapat 5 faktor yang menjadi pemicu kepuasan konsumen, 5 atribut kepausan konsumen diuraikan dalam bentuk instrumen pertanyaan, dimana instrument tersebut berdasarkan penilaian petani padi yang berada di Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan petani padi terhadap pemakaian pupuk NPK Phonska PT Petrokimia di Kecamatan Kuta Malaka Kabupaten Aceh Besar.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CSI (Costumer Satisfaction Index) pada range skala 0,51-0,56 % (Cukup Puas), yang artinya petani menginginkan peningkatan hasil panen, dan harga pupuk yang murah. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kepuasan konsumen adalah kualitas produk, kualitas pelayanan, emosi, harga dan kemudahan dalam mendapatkan pupuk PT Petrokimia. Nilai signifikan dari analisis Chi-Square pemakaian pupuk NPK Phonska PT Petrokimia terhadap faktor kepuasan petani.
Pengaruh Penerapan Good Corporate Governance (GCG) Terhadap Kinerja Perusahaan (Studi Kasus pada PT Agro Sinergi Nusantara Unit Kebun Sawit Batee Puteh Kabupaten Aceh Barat dan Kabupaten Aceh Jaya) Fhatia Ramadani; Romano Romano; Teuku Fauzi
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 5, No 1 (2020): Februari 2020
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelapa sawit merupakan salah satu tanaman perkebunan yang hingga kini masih menjadi unggulan utama produk komoditas Indonesia. Di Indonesia umumnya perkebunan kelapa sawit dikelola dengan berpedoman pada kebijakan tata kelola perusahaan secara keseluruhan salah satunya melalui penilaian/sertifikasi Good Corporate Governance (GCG). Dalam hal ini, pemerintah menjadikan BUMN sebagai sasaran utama dalam penerapan GCG. PT Agro Sinergi Nusantara adalah salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit milik BUMN. Perusahaan ini menyatakan telah menerapkan GCG sejak awal mula berdirinya pada tahun 2011. Saat ini PT ASN dihadapkan kendala kurangnya hasil produksi kelapa sawit dan minimnya biaya operasional yang menjadi pemicu terhambatnya penerapan GCG secara efektif. Penelitian ini mengkaji tentang pengaruh dari penerapan prinsip-prinsip GCG yaitu transparansi, akuntabilitas, pertanggung jawaban, kemandirian serta kewajaran bagi kinerja perusahaan. Proses pengambilan data diperoleh dari survei pembagian kuesioner terhadap 40 karyawan (pimpinan dan pelaksana) di PT Agro Sinergi Nusantara Unit Kebun Sawit Batee Puteh. Dari hasil kuesioner yang diperoleh dari 40 orang narasumber dianalisis menggunakan metode analisis deskriptif dan analisis regresi logistik. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa penerapan prinsip-prinsip GCG meliputi transparansi, akuntabilitas, pertanggung jawaban, kemandirian dan kewajaran berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja perusahaan. Berdasarkan hasil Omnibus Tests pada uji regresi logistik diketahui bahwa nilai sig = 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 yang menjelaskan bahwa ada minimal satu variabel bebas (independent) yaitu penerapan dari prinsip-prinsip GCG yang berpengaruh secara simultan terhadap variabel terikat (dependent) yakni kinerja perusahaan. Nilai Nagelkerke R Square dari hasil uji regresi logistik juga diperoleh sebesar 0,802 yang berarti bahwa variabel bebas (independent) yaitu prinsip-prinsip GCG yang digunakan mampu mempengaruhi variabel terikat (dependent) yaitu kinerja sebesar 80,2% dan sisanya 19,8% dipengaruhi oleh variabel lain.
Pengaruh Faktor Produksi Terhadap Produksi Usahatani Cabai Merah (Capsicum Annuum L) di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar Dini Maulidia; Zulkarnain Zulkarnain; Anwar Deli
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 2 (2019): Mei 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cabai merah merupakan tanaman hortikultura yang banyak dibudidayakan di indonesia. Pada tahun 2015 luas panen di kecamatan Lembah Seulawah sebesar 21 Ha dan pada tahun 2016 luas panen sebesar 42 Ha, hal ini terjadi peningkatan di luas panen namun, dengan meningkatnya luas panen tidak serta dalam peningktan produktivitas cabai merah di Kecamatan Lembah Seulawah.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor produksi Luas lahan, modal dan tenaga kerja yang mempengaruhi produksi cabai merah di Kecamatan Lembah Seulawah, juga untuk menganalisis efisiensi dari penggunaan faktor produksi pada usahatani cabai merah di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode Cobb-Douglass, rumus efisiensi penggunaan faktor produksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara serempak (Uji F) faktor produksi luas lahan, modal dan tenaga kerja berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah, adapun hasil analisis secara parsial (Uji t) menyatakan bahwa faktor luas lahan(X1), modal (X2) dan tenaga kerja(X3) berpengaruh nyata terhadap produksi cabai merah di Kecamatan Lembah Seulawah Kabupaten Aceh Besar. Sedangkan hasil analisis efisiensi penggunaan faktor produksi pada usahatani cabai merah pada efisiensi teknis yaitu 0,8455 hal ini menjelaskan faktor produksi tidak efisien secara teknis, pada efisiensi harga luas lahan dan tenaga kerja tidak efisien namun pada modal hasil efisiensi harga tidak efisien, pada efisiesni ekonomis luas lahan dan tenga kerja tidak efisien dan untuk modal tidak efisien 
Analisis Kelayakan Lokasi Pembangunan Pabrik Pengering Jagung Pipil PT. Golden Daru Utama Lastri Andayani; Rahmaddiansyah Rahmaddiansyah; Anwar Deli
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lokasi suatu usaha sangat penting karena menyangkut efisiensi dan efektivitas suatu usaha. Suatu perusahaan produksi sangat membutuhkan bahan baku, tenaga kerja, dan berbagai faktor input lainnya dengan cepat, tepat dan mudah. Sedangkan bagi perusahaan dagang, memerlukan lokasi dekat dengan pasar agar dapat dijangkau oleh konsumen. Dengan memilih lokasi usaha yang tepat, perusahaan Akan mampu bersaing dengan perusahaan lain karena dapat beroperasi secara efisien dan efektif. Lokasi usaha adalah tempat perusahaan beroperasi atau tempat perusahaan melakukan kegiatan untuk menghasilkan barang dan jasa yang mementingkan segi ekonominya. PT. GOLDEN DARU UTAMA atau disingkat PT. GDU merupakan perusahaan yang bergerak di bidang Industri Pengeringan Jagung Pipil dan Ransum Makanan Hewan. Pabrik ini didirikan karena Presiden Direktur Shim Kyung Hee berasal dari Korea tertarik melihat luasnya lahan yang sangat produktif untuk sektor pertanian di kabupaten Aceh Besar dan menawarkan produksi jagung dengan dukungan alat/mesin besar yang lebih canggih. Penelitian ini dilakukan di kecamatan Blang Bintang kabupaten Aceh Besar dengan menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode faktor rating dengan menentukan faktor-faktor penentu kelayakan lokasi dan metode pusat gravitasi. Faktor-faktor penentu kelayakan lokasi adalah: lokasi pasar, lokasi sumber bahan baku, transportasi, sumber energi, tenaga kerja, air dan limbah, serta respon masyarakat. Berdasarkan faktor lokasi sumber bahan baku lokasi pembangunan pabrik pengering jagung pipil di kecamatan Blang Bintang dinyatakan tidak layak karena mendapatkan nilai rendah apabila dibandingkan dengan kecamatan Lembah Seulawah hal ini dikarenakan Lembah Seulawah adalah penghasil jagung terbesar di kabupaten Aceh Besar.  Berdasarkan hasil penjumlahan nilai keseluruhan lokasi pembangunan pabrik pengering jagung pipil di kecamatan Blang Bintang dinyatakan sudah layak.
Analisis Kelayakan Usaha Budidaya Ikan kuwe Menggunakan Keramba Jaring Apung di Desa Layeun Kecamatan Leupung Kabupaten Aceh Besar Nadiatul Assyifa; Agustina Arida; Irwan A. Kadir
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Sumber daya perikanan yang ada di Aceh dapat diklasifikasikan menjadi perikanan tangkap dan perikanan budidaya. Masyarakat pesisir Aceh, umumnya menggantungkan hidupnya pada hasil perikanan tangkap. Hasil produksi perikanan tangkap lebih tinggi  dibandingkan dengan hasil produksi perikanan budidaya. Namun hasil perikanan tangkap terkadang tidak maksimal karena terkendala oleh beberapa faktor. Sedangkan hasil perikanan budidaya mulai menunjukkan peningkatan produksi selama beberapa tahun terakhir. Perikanan budidaya terdapat berbagai macam jenis, salah satu nya keramba jaring apung (KJA) yang merupakan budidaya dengan menggunakan wadah berupa jaring  yang mengapung yang ditempatkan diperairan laut, waduk, dan danau. Kondisi alam sangat berpotensi untuk dijadikan tempat pembudidayaan ikan dengan sistem KJA, namun kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan potensi tersebut masih sangat rendah. Tujuan dilaksanakan penelitian ini adalah menganalisis kelayakan usaha Budidaya Ikan Kuwe dengan Keramba Jaring Apung yang terdapat di Desa Layeun, Kecamatan Leupung, kabupaten Aceh Besar secara aspek aspek teknis dan aspek finansial dengan kriteria investasi seperti Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) Net benefit cost ratio Payback Period (PP). Analisis sensitivitas dihitung dengan menaikkan benefit dan menurunkan biaya dari usaha budidaya KJA sebanyak 10%. Hasil dari analisis kelayakan usaha pada aspek teknis , usaha ikan kuwe menggunakan keramba jaring apung layak untuk dijalankan. Secara finansial usaha tersebut juga layak untuk dijalankan. Berdasarkan analisis sensitivitas dengan menggunakan asumsi I dan asumsi II  didapatkan hasil bahwa usaha tersebut tidak layak.
Kerentanan Sosial Ekonomi Petambak Udang Sistem Tradisional Di Pantai Timur Aceh Pasca Tsunami Tahun 2004 Ayulia Yunara; Agus Nugroho; Elly Susanti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 4 (2019): November 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wilayah pesisir merupakan wilayah yang rentan terhadap ancaman perubahan iklim dan bencana alam.Aceh merupakan salah satu wilayah pesisir di Indonesia yang memiliki tingkat kerentanan terhadap perubahan lingkungan yang disebabkan oleh perubahan iklim global sekaligus dampak bencana alam seperti kekeringan, kenaikan muka air laut, banjir bandang, gempa bumi dan tsunami.Pada tahun 2004, tsunami yang terjadi di Aceh telah mengakibatkan ekosistem kawasan pesisir rusak dan berkurangnya lahan tambak di Aceh.Hal tersebut mengakibatkan masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai petambak udang di Aceh kehilangan mata pencahariannya sehingga mempengaruhi status ekonomi sosial mereka.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerentanan sosial ekonomi petambak udang sistemtradisionaldi pantaiTimur Aceh pasca tsunami 2004. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nilai LVI atau nilai indeks kerentanan pada rumah tangga petambak udang dengan sistem budidaya tradisional di pantai timur Aceh yang didapat dari hasil penelitian pada setiap kabupaten adalah 0,4. Keempat kabupaten tersebut memiliki nilai kerentanan yang sama walaupun memiliki selisih yang sedikit. Nilai LVI yang paling rentan adalah 0,46 pada Kabupaten Pidie Jaya, diikuti dengan Kabupaten Pidie dengan nilai LVI sebesar 0,45, selanjutnya Kabupaten Aceh Utara dengan Nilai LVI sebesar 0,44 dan yang terakhir adalah pada Kabupaten Bireuen dengan nilai LVI sebesar 0,43.
Analisis Posisi Basis Sub Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Wilayah Kabupaten Aceh Utara Dengan Pendekatan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Nur Indriana; Widyawati Widyawati; Lukman Hakim
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pertanian Vol 4, No 1 (2019): Februari 2019
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Salah satu upaya untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi ialah dengan mengembangkan sektor ekonomi yang diprioritaskan Dalam perkembangan sektor yang diprioritaskan tersebut diharapkan mampu memenuhi dorongan pasar terutama dalam menyanggupi permintaan ekspor ataupun mengirimkan barang dan jasa ke luar daerah. Sektor yang dapat dipertimbangkan menjadi basis perekonomian didasarkan pada pertimbangan besarnya pangsa atau kontribusinya terhadap PDRB dan pertumbuhannya serta keberlanjutannya di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi basis pada masing-masing sub sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang ada di Kabupaten Aceh Utara serta untuk mengetahui perubahan posisi basis masing-masing sub sektor tersebut dimasa mendatang. Data penelitian yang digunkana adalah data sekunder kurun waktu 2007-2016. Model analisis yang digunakan adalah Location Quotient, Dynamic Location Quotient, dan Shift Share. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sub sektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian merupakan sub sektor non basis dengan nilai rata-rata LQ sebesar 0,89. Masing-masing sub sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan akan berada pada posisi basis dimasa yang akan datang. Dimana nilai DLQ sub sektor pertanian, peternakan, perburuan dan jasa pertanian sebesar 5,25. Nilai DLQ sub sektor kehutanan dan penebangan kayu sebesar 7,83. Nilai DLQ sub sektor perikanan sebesar 4,89.

Page 1 of 121 | Total Record : 1210