Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Pengaruh Vitamin D3 Terhadap Glukosa Darah Tikus Wistar Yang Dipapar Asap Rokok Lolita Putri Nanda Utami; Rusmini, Hetti; Nurmalasari, Yessi; Hermawan, Dessy
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 1 No 2 (2020): Februari
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.428 KB) | DOI: 10.37148/arteri.v1i2.52

Abstract

Cigarettes are the biggest health problem around the world. Nicotine in cigarettes has been proved insulin receptor resistance and can reduce insulin secretion in pancreatic β cells, which causes an increase in blood glucose levels. One of the efforts to reduce blood glucose levels is to consume vitamin D3. Vitamin D3 is a prohormone that plays a role in metabolic functions in cells and repair functions of cells. Purpose: to know the effect of vitamin D3 toward glucose blood level of male Rattus norvegicus Wistar exposed by cigarette smoke. Methods: This research conducted with pure experimental pre- and post-test with control group design. The samples used were 24 male rats. The sample divided into four groups, including K1, K2, K3, and P1. K1, which is not exposed by cigarette smoke and not given of vitamin D3. K2 is a group exposed by cigarette smoke but not given vitamin D3. K3 is a group that is not exposed by cigarette smoke but given vitamin D3 a dose of 0.2 µgr /head. P1 is a group exposed by cigarette smoke and given a vitamin D3 dose of 0.2 µgr /head. Results: Paired T-test showed increased blood glucose levels that are meaningful (p<0,05) In groups K2 (p=0,018) and P1 (p=0,035). One-way Anova showed there were differences in blood glucose levels that are meaningful between groups (p=0,001). Statistical analysis Post Hoc LSD showed significant differences in group K1 with K2 (p=0,004), group K1 with K3 (p=0,038), group K1 with P1 (p=0,038), group K2 with K3 (p=0,000), group K2 with P1 (p=0,004). Conclusion: Vitamin D3 can reduce fasting blood glucose levels of Rattus norvegicus exposed by cigarette smoke.
Pengaruh Vitamin D3 Terhadap Kadar Hemoglobin Tikus Wistar yang Dipapar Asap Rokok Rusmini, Hetti; Fitriani, Dita; Hermawan, Dessy; Emilda, Diah Adelia
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 1 No 1 (2019): November
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.211 KB) | DOI: 10.37148/arteri.v1i1.13

Abstract

Hemoglobin is a tetrametric erythrocyte protein that carries O2 to the tissues and returns CO2 and protons to the lungs. Cigarette smoke is proven that could reduce hemoglobin levels through oxidative stress which causes the erythrocyte membrane to be easily lysed. The lysis erythrocyte membrane causes hemoglobin levels to be low. Vitamin D is included in natural antioxidants which have a neuroprotective tendency through antioxidative mechanisms. To determine the effect of giving vitamin D3 on hemoglobin levels in white rats (Rattus norvegicus) male Wistar strain after being exposed by cigarette smoke. This type of pure experimental research (tue-experiment) used pre and post with control group design. Samples were white rats (Rattus norvegicus) male Wistar strain aged 10-12 weeks with the weight of around 150-200 grams in a total of 24 individuals. Samples were divided into four groups including K1 which is not exposed by cigarette smoke and not given of vitamin D3, K2 is a group exposed by cigarette smoke but not given of vitamin D3, K3 is a group that is not exposed by cigarette smoke but given of vitamin D3 a dose of 0.2 µgr /head, P1 is a group exposed by cigarette smoke and given a vitamin D3 dose of 0.2 µgr /head. The test of paired t-test showed a significant difference p <0.05 in the K2 group with p = 0.044, the K3 group with p = 0.013, and P1 group with p = 0.037. Whereas in group 1 there was no significant difference p = 0.932. The One-way Anova test obtained results with a value of p = 0.027 (p <0.05) which means that there were significant differences between groups. The Post Hoc LSD test showed a significant difference in group 1 whit group 2 p = 0.025 and in group 2 with group 3 p = 0.012.
Perbandingan Arus Puncak Ekspirasi Perokok Elektronik dan Perokok Konvensional pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Malahayati Tahun 2019 Rusmini, Hetti; Rafie, Rakhmi; Sinaga, Fransisca; Komara, Salman Alfarisi
JURNAL DUNIA KESMAS Vol 9, No 3 (2020): Volume 9 Nomor 3
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jdk.v9i3.2867

Abstract

Rokok elektronik menjadi populer di kalangan individu yang kecanduan rokok konvensional, yang mulai mengerti bahwa menggunakan e-cigarette (vaping) lebih aman dibandingkan dengan merokok konvensional. Rokok dapat menyebabkan terganggunya faal paru. Salah satu cara untuk mengetahui fungsi faal paru adalah melalui pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE).Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan arus puncak ekspirasi perokok elektronik dan perokok konvensional pada mahasiswa kedokteran Universitas Malahayati di Kota Bandar Lampung tahun 2019. Penelitian ini berbentuk analitik kuantitatif dengan pendekatan pengambilan data cross sectional. Sampel penelitian ini adalah 66 mahasiswa dengan metode pengambilan metode Purposive Sampling. Analisis data menggunakan Uji Mann-Whitney Test. Perbandingan nilai arus puncak ekspirasi pada perokok elektronik dan perokok konvensional dilihat dari hasil rata-rata APE yaitu 88.39% dan 77.36%. Hasil uji bivariat dengan Uji Mann-Withney menunjukan p-value <0.001 yang artinya menyatakan bahwa terdapat perbandingan yang bermakna arus puncak ekspirasi perokok elektronik dan perokok konvensional pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Malahayati tahun 2019.
HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN BAHAYA MEROKOK DENGAN KEINGINAN BERHENTI MEROKOK PADA SISWA SMP DI KOTA BANDAR LAMPUNG Rusmini, Hetti
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 6, No 4 (2020): Volume 6 Nomor 4 Oktober 2020
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v6i4.3264

Abstract

ABSTRACT Background: The results of a survey in Indonesia in 2014 of 4,313 grade 7-9 students with an age range of 13-15 years (2029 boys and 2284 girls) at the selected schools, found that 18.3% were active smokers. Lampung is in the 13th position with a percentage of 12.1%. Objective: the research was to determine the relationship between knowledge of the dangers of smoking and the desire to quit smoking in junior high school students in Bandar Lampung. Methods: The research design used in this study is an analytic survey, by conducting a questionnaire about the dangers of smoking on 490 junior high school students in Bandar Lampung.  Results: the research showed that 287 students (58.5%) of junior high school students in Bandar Lampung were smokers. Where as many as 252 student smokers (87.8%) know the dangers of smoking. And as many as 273 student smokers (95.1%) have the desire to quit smoking. Conclusion is that there is a significant relationship between knowledge of the dangers of smoking and the desire to quit smoking in junior high school students in Bandar Lampung.Suggestion There needs to be an effort to strengthen smoking in every school so that students understand the dangers of smoking and are motivated to stop smoking Keywords: The danger of smoking, the desire to quit smoking, cigarettes, school students ABSTRAK Latar Belakang: Hasil survei di Indonesia tahun 2014 terhadap 4.313 siswa kelas 7-9 dengan rentang usia 13-15 tahun (laki-laki berjumlah 2029 dan perempuan berjumlah 2284) pada sekolah yang dipilih, ditemukan  bahwa terdapat 18,3% perokok aktif. Lampung terletak pada urutan ke-13 dengan persentase sebanyak 12,1 %.Tujuan Penelitian untuk mengetahui hubungan pengetahuan bahaya merokok terhadap keinginan berhenti merokok pada siswa SMP di Kota Bandar Lampung.Metode yang digunakan pada penelitian ini bersifat analitik survey, dengan  melakukan kuisioner tentang bahaya merokok  pada 490 siswa SMP di Bandar Lampung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa 287 siswa (58,5%) Siswa SMP di Kota Bandar Lampung merupakan perokok. Dimana sebanyak 252 siswa perokok (87,8%) mengetahui bahaya merokok. Dan sebanyak 273 siswa perokok (95,1%) memiliki keinginan untuk berhenti merokok.Kesimpulan yaitu terdapat Hubungan bermakna antara pengetahuan bahaya merokok terhadap keinginan berhenti merokok pada Siswa SMP di Kota Bandar Lampung.Saran perlu dilakukan upaya penyukuhan ttg bhy merokok ke setiap sekolah2 supaya para siswa memahami bahaya merokok dan termotivasi utk berhenti merokok Kata Kunci: Bahaya merokok, keinginan berhenti merokok, rokok, siswa sekolah
PERBANDINGAN STATUS GIZI PASIEN TB LULUH PARU DENGAN PASIEN TB TANPA LULUH PARU Rusmini, Hetti; Nurmalasari, Yesi; Soemarwoto, Retno Ariza
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 5, No 1 (2018): Volume 5 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.392 KB) | DOI: 10.33024/.v5i1.1319

Abstract

Latar belakang: Foto toraks yang menunjukkan penghancuran parenkim paru yang progresif, luas dan ireversibel akibat tuberkulosis (TB) paru disebut tuberkulosis luluh paru. Penyakit infeksi seperti TB dapat menyebabkan gangguan nutrisi dan penurunan berat badan, sehingga menurunkan status gizi. Salah satu indikator gizi yang digunakan untuk mengukur status gizi adalah Indeks Massa Tubuh (IMT).Metode: Penelitian ini menggunakan metode survey analitik dengan rancangan prospektif. Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang baru didiagnosis sebagai penderita tuberkulosis paru dan tuberkulosis luluh paru oleh dokter spesialis paru di Ruang Rawat Inap Paru RSUD Dr. H. Abdul Moeloek, Poli Paru RSUD Dr. A. Dadi Tjokrodipo dan Klinik Paru Harum Melati Kabupaten Pringsewu. Sampel diambil menggunakan metode purposive sampling.Hasil: Dari 68 sampel yang terdiri dari 34 sampel TB luluh paru dan 34 sampel TB paru, menunjukan bahwa baik pada sampel TB luluh paru maupun TB paru paling banyak terjadi pada usia produktif (18-59 tahun) (67,6%) dan laki-laki (>60%). Kebanyakan pasien memiliki riwayat pendidikan rendah (SD >50%) dan rerata pekerjaan adalah buruh, 35,5% pada pasien TB luluh paru dan 29,4% pada pasien TB paru. Sebanyak >50% pasien mengaku pernah menjadi perokok aktif sebelum menderita penyakit TB dan >70% pasien berstatus gizi rendah dan tidak ada yang berstatus gizi lebih. Hasil dari uji analitik Independent t-test menunjukkan rerata IMT sampel TB luluh paru adalah 16,4, lebih rendah 0,9 daripada rerata IMT sampel pasien TB paru, yaitu 17,3.
GAMBARAN PENGGUNAAN KORTIKOSTEROID SISTEMIK JANGKA PANJANG TERHADAP KEJADIAN KATARAK DI POLI MATA RUMAH SAKIT PERTAMINA BINTANG AMIN BANDAR LAMPUNG Rusmini, Hetti; Ma’rifah, Syamsiatul
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 4, No 2 (2017): Volume 4 Nomor 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (308.775 KB) | DOI: 10.33024/.v4i2.776

Abstract

Kortikosteroid merupakan anti inflamasi yang identik dengan kortisol, hormon steroid alami pada manusia yang disintesin dan disekresi oleh korteks adrenal.Efek samping dari terapi kortikosteroid ini baik kortikosteroid topikal maupun sistemik dapat timbul akibat pemberian yang terus menerus terutama dalam dosis yang besar diantaranya seperti osteoporosis, katarak, gejala Cushingoid, dan gangguan kadar gula darah. Penelitian ini bertujuan mengetahui distribusi frekuensi pasien katarak yang memiliki riwayat penggunaan Kortikosteroid sistemik jangka panjang di Poli Mata Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin Bandar Lampung Februari 2016.Jenis penelitian ini menggunakan metode survey descriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 127 diambil menggunakan proportional random sampling.Hasil penelitian pada distribusi frekuensi karakteristik responden didapatkan (7,10%) responden mengalami jenis katarak Trauma, (18,9 %) responden mengalami jenis katarak yang disebabkan oleh Diabetes Melitus, (0,7 %) responden megalami katarak yang disebabkan oleh penggunaan obat-obatan jenis steroid, (73,3 %) responden mengalami jenis katarak yang lainnya. (31,5 %) responden menggunakan kortikosteroid, (68,5 %) responden tidak menggunakan kortikosteroid. (97,5 %). Kesimpulan: Walaupun hanya 31,5% yang menggunakan terapi kortikosteroid pada pasien katarak hal ini harus tetap diperhatikan oleh para klinisi dalam pengelolaan pasien pemakai terapi kortikosteroid jangkan panjang.
ANALISIS EFEKTIVITAS PENGGUNAAN KLORAMFENIKOL DAN SEFTRIAKSON DALAM PENGOBATAN DEMAM TIFOID ANAK DI RSUD Dr. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG TAHUN Rusmini, Hetti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 2, No 4 (2015): Volume 2 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (25.195 KB) | DOI: 10.33024/.v2i4.717

Abstract

Demam tifoid merupakan  penyakit  yang  disebabkan  oleh bakteri Salmonella typhi terutama menyerang bagian pencernaan. Kloramfenikol merupakan obat pilihan utama untuk pengobatan demam tifoid. Seftriakson merupakan obat yang efektif untuk pengobatan demam tifoid dalam jangka pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan kloramfenikol dan seftriakson pada pengobatan demam tifoid anak.Rancangan  penelitian ini menggunakan cross-sectional  dengan sampel adalah pasien demam  tifoid  anak  yang di  rawat  inap Rumah  Sakit  Umum  Daerah  Dr.  H.  Abdul Moeloek menggunakan  data  rekam medik periode tahun 2012-2014. Sebanyak 29  pasien  diberi  pengobatan kloramfenikol dan 29 pasien diberi pengobatan seftriakson. Analisa statistik menggunakan Mann Whitney Test.Berdasarkan  hasil  penelitian  diperoleh  lama perawatan pasien yang menggunakan kloramfenikol  adalah 4,18 ± 1,25 hari  sedangkan pasien     yang   menggunakan    seftriakson    adalah 2,38 ± 0,49 hari. Hilangnya demam pada pasien yang menggunakan kloramfenikol adalah pada hari ke 2,41 ± 0,68 dan pasien yang  menggunakan  seftriakson adalah pada hari ke  1,98 ± 0,28.Analisis  efektivitas  pengobatan  demam  tifoid  anak menunjukkan bahwa seftriakson mempunyai efektivitas pengobatan yang lebih baik   dibandingkan   dengan   pengobatan   demam   tifoid   anak   menggunakan kloramfenikol.
PREVALENSI DAN KARAKTERISTIK PENDERITA RHEUMATOID ARTHRITIS DI BAGIAN PENYAKIT DALAM RSUD Dr. H. ABDOEL MOELOEK BANDAR LAMPUNG Wijaya, Boby; Mahmud, Nurlis; Rusmini, Hetti
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 1, No 2 (2014): Vol 1 No 2
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.229 KB) | DOI: 10.33024/.v1i2.309

Abstract

Rheumatoid arthritis merupakan salah satu penyakit sendi akibat gangguan autoimun sistemik, dan merupakan penyakit sendi kedua tersering setelahosteoarthritis. Prevalensi rheumatoid arthritis meningkat di usia pertengahan dekade 4 sampai 5. Rheumatoid arthritis lebih sering menyerang wanita dari pada pria.Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi dan karakteristik penderita rheumatoid arthritis di Bagian Penyakit Dalam RSUD Dr.H.Abdoel Moeloek Bandar Lampung Periode Juni – Desember 2010Jenis penelitian ini survei desktiptif secara retrospektif, penelitian ini dilakukan di Bagian Rekam Medik RSUD Dr. H. Abdoel Moeloek Bandar Lampung Periode Juni – Desember 2010 Sampel penelitian ini adalah semua pasien rheumatoid arthritis yang tercatat di rekam medik rawat jalan yang berjumlah 127 orangPrevalensi rheumatoid arthritis di Bagian Penyakit Dalam RSUD Dr.H.Abdoel Moeloek Bandar Lampung sebesar 12.5%. Karakteristik penderita rheumatoid arthritis mayoritas terdapat pada kelompok umur 44 – 50 tahun (29,1%), kebanyakan berjenis kelamin perempuan (72,4%) lebih banyak terkena dari pada laki-laki (27,6%). Nyeri sendi merupakan keluhan utama (63,0%).
HUBUNGAN HIPOALBUMIN DENGAN KEJADIAN TUBERCULOSIS LULUH PARU DI PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2017 Rusmini, Hetti; Rafie, Rakhmi; Soemarwoto, Retno Ariza; Rahman, Fahmi Fathul
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 1 (2019): Volume 6 Nomor 1
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (161.042 KB) | DOI: 10.33024/jikk.v6i1.2080

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan salah sat masalah kesehatan di republic Indonesia. Indonesia menempati urutan kedua setelah India untutk kasus TB dengan kematian 100,000 kaus di tahun 2015.Penyebab tersering kematian Tb adalah perkembangan dan pengobatan TB yang tidak adekuat sehingga menyebabkan komplikasi seperti TB luluh paru. Perburukan kondisi pasien TB disebabkan oleh buruknya status nutrisi (malnutrisi) yang dapat dinilai melalui kadar serum albumin.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara hipoalbuminemia dengan kejadian TB luluh paru. Desain penelitian adalah analitik observasi dengan pendekatan case control. Diman subjek peneltian berjumlah 60 orang yang dibagi menjadi 30 orang kelompok kontrol (TB Paru) dan 30 orang lainnya kelompok kasus (TB luluh Paru). Pengukuran kadar albumin dilakukan pada bulan Februari hingga Maret 2017. Analisa statistik menggunakan uji chi square.Distribusi frekuensi TB luluh paru berdasarkan usia didapatkan usia 18-55 tahun sebanyak 17 orang (56,7%), berdasarkan jenis kelamin didapatkan lebih banyak pasien laki-laki sebanyak 21 orang (70%), berdasarkan kadar albumin didapatkan sebanyak 20 orang mengalami hipoalbumnemia (66,7%). Hasil uji korelasi menunjukkan nilai p = 0,002 (OR = 5,5 r= 0,372).Terdapat hubungan bermakna antara Hipoalbuminemia dengan Kejadia TB Luluh Paru.
Pengaruh Gel Kulit Nanas Madu Terhadap Penyembuhan Luka Terbakar Derajat Dua Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Rusmini, Hetti; Djunishap, Asmia; Naufal, Muhammad Nuriy Nuha; Hanif, Muhammad Fikri
Sriwijaya Journal of Medicine Vol. 2 No. 3 (2019): Sriwijaya Journal of Medicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.019 KB)

Abstract

Kulit nanas (Ananas comosus. L) merupakan limbah dari olahan buah nanas yang populer dikonsumsi oleh masyarakat. Kulit nanas mengandung senyawa flavonoid yang mampu mempercepat rposes penyembuhan luka bakar derajat 2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penyembuhan luka bakar dari gel kulit nanas pada tikus yang telah diberikan luka bakar derajat 2. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan desain post test only control group. Ekstrak kulit nanas dibuat dengan menggunakan metode ekstraksi maserasi. Metode yang digunakan dalam uji efektifitas penyembuhan luka bakar derajat 2 ini menggunakan tikus putih (Rattus novergicus). Sampel terdiri dari 5 kelompok perlakuan yaitu gel kulit nanas dengan konsentrasi 10%, 20%, dan 30% dan kelompok kontrol bioplacenton disertai kontrol negatif. Analisis data menggunakan One Way ANOVA. Hasil penelitian ini adalah efektivitas gel kulit nanas dengan konsentrasi optimal 20% dengan efek penyembuhan mampu meyamai obat komersil bioplasenton.